IMG-LOGO
Nasional

Sampaikan Belasungkawa, Habib Umar bin Hafidz Jelaskan Kemuliaan Mbah Maimoen

Kamis 8 Agustus 2019 1:0 WIB
Bagikan:
Sampaikan Belasungkawa, Habib Umar bin Hafidz Jelaskan Kemuliaan Mbah Maimoen
Foto Ilustrasi. Youtube. Aswaja Tv
Jakarta, NU Online
Habib Umar bin Hafidz mengungkapkan duka cita yang mendalam atas wafatnya KH Maimoen Zubair pada Selasa (6/8) kemarin di Makkah al-Mukarramah, Arab Saudi. Hal itu ia sampaikan sebelum memulai kajian rutin pengajian kitab Risalah Ahli al-Sunnah wa al-Jama’ah karya Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari pada Rabu (7/8) melalui teleconference.
 
“Dalam permulaan pengajian ini, kami menyampaikan belasungkawa untuk diri kami sendiri dan bagi warga NU atas wafatnya orang yang Allah swt pilih, orang yang beralih ke sisi-Nya, al-Syekh al-Kiyahi al-Allamah al-Mu’ammar Maimoen Zubair, Sarangi. Mudah-mudahan Allah meninggikan derajatnya dan mendudukkan kita bersamanya di surga tertinggi-Nya,” ucapnya.
 
Pengasuh Pondok Pesantren Darul Mustofa, Hadramaut, Yaman itu juga menyampaikan takziyahnya kepada keluarga almarhum, kerabat, termasuk santri-santrinya, juga seluruh penduduk Indonesia. “Kami juga berbela sungkawa kepada seluruh Muslim atas wafatnya guru mulia,” ujarnya.
 
Lebih lanjut, Habib Umar juga mengungkapkan bahwa kematian ulama merupakan lobang dalam agama. "Kita wajib mengetahui bahwa kematian ulama adalah celah dalam agama, celah dalam Islam,” katanya mengutip sebuah hadits Rasulullah saw.
 
Ia juga menjelaskan bahwa kematian satu suku lebih ringan ketimbang wafatnya seorang yang alim.
 
Di samping itu, guru Habib Munzir bin Fuad Almusawa itu juga menerangkan bahwa yang mahal dari KH Maimoen Zubair adalah kebenarannya dalam mengambil ilmu dari orang-orang yang mulia. Dalam hal ini, Habib Umar menyebut salah satu sosok guru Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang, Jawa Tengah itu yang berada di Makkah, yakni seperti Sayid Alawi bin Abbas al-Maliki. Sanad keilmuan itu terus bersambung kepada para sahabat, hingga ke sumber ilmu, yakni Rasulullah saw. 
 
“Beliau mendapatkan ilmu dengan cara yang benar. Beliau mengambil ilmu dengan sanad yang sahih, sanad yang kuat, sanad yang mulia yang bersambung kepada sumber daripada ilmu, yaitu Baginda Nabi Besar Muhammad saw sehingga ilmunya adalah ilmu yang otentik, ilmu yang jernih, ilmu yang bersih,” jelasnya.
 
Dengan cara yang mulia itulah, metode sanad Mbah Moen mendapat kemuliaan dari Allah swt., metode yang diwarisi dari para nabi, para sahabat, dari masa ke masa sampai kepada ulama kelahiran 28 Oktober 1928 itu.
 
Menurutnya, ada perbedaan besar orang yang mendapatkan ilmu melalui metode sanad dengan orang yang memperoleh ilmu yang didapat dari pemikirannya sendiri, meskipun keduanya merupakan ilmu. “Ilmu yang ini (didapat dari sanad) lebih suci, lebih berkah, lebih bercahaya, karena bersambung dengan cahaya yang begitu terang benderang,” jelasnya.
 
Tak ayal, Habib Umar menyebut ulama seperti Mbah Moen dan lainnya yang sanad keilmuannya bersambung hingga Rasulullah merupakan benteng, perhiasan, dan kekuatan bagi umat ini.
 
“Bilamana ada yang meninggal di antara mereka, kita mestinya harus introspeksi dan harus bersegera mencari dan memperbaiki diri untuk menjadi penerus dari ulama yang telah meninggalkan kita,” tegasnya.
 
“Bersungguh-sungguh di dalam menuntut ilmu dan memperbaharui tazkiyah sehingga bisa mendapatkan apa yang telah didapatkan oleh syekh tersebut,” imbuhnya.
 
Karenanya, mengutip Imam Malik, ilmu itu bukan dengan banyaknya riwayat, akan tetapi ilmu merupakan cahaya yang Allah letakkan di dalam hati seseorang. (Syakir NF/Zunus)
 
Bagikan:

Baca Juga

Kamis 8 Agustus 2019 23:9 WIB
KH Mujib Qulyubi Kenang Sulton Fatoni: Produktif dalam Menulis
KH Mujib Qulyubi Kenang Sulton Fatoni: Produktif dalam Menulis
Katib Syuriyah PBNU KH Mujib Qulyubi. (Foto: istimewa)
Jakarta, NU Online
Kabar wafatnya salah satu Ketua PBNU, H Muhammad Sulton Fatoni menimbulkan duka yang mendalam bagi orang-orang terdekatnya, termasuk bagi Katib Syuriyah PBNU, KH Mujib Qulyubi.

Kiai Mujib mengenang Sulton sebagai sosok yang komplit. Menurutnya, Sulton selalu semangat, enerjik, produktif dalam menulis, tegas, tegar dalam menghadapi ujian, pencinta ilmu, dan pencinta ulama.

“Itu kesan saya yang mendalam dan sekaligus kesaksian saya selama bergaul selama ini, baik di PBNU atau di Unusia Jakarta,” kata Kiai Mujib kepada NU Online, Kamis (8/8).

Ia misalnya mengemukakan satu contoh, yakni dalam hal ketegarannya. Sulton, katanya, sekalipun telah lama mengidap penyakit tumor dengan kondisi stadium 4, tapi sebagai sahabat, ia tidak pernah mendengarnya mengeluh.

“Tidak pernah satu kata pun, saya mendengarnya mengeluh. Perhatian, pikiran, dan tindakannya masih saja tertuju pada pengembangan kampus Unusia dan NU. Mulai dari tentang pembangunan fisik, intelektualitas, hingga dan jaringan kampus,” ucapnya.

Menurutnya, Sulton tipe orang yang senang berdiskusi, tapi jauh lebih senang eksekusi; Sulton senang dikunjungi, tapi lebih senang mengunjungi. Usia Sulton muda, tapi cara berpikirnya dewasa; Sulton suka bercanda, tapi sering membaca dan menulis; Sulton gemar berpikir, tapi juga sering hadir di majlis dzikir.

“Kita ngumpul dirumahnya. Kadang saling tukar pikiran dan kadang manaqiban. Pak atau Mas atau Cak Sulton Fatoni, umurnya tidak terlalu panjang, tapi jasa dan amalnya akan terus memanjang. Pengaruh dan warisan amal perbuatanya akan selalu menjadi penyejuk dan pendingin dalam alam barzahnya,” terangnya.

Ia berharap, segala amal Sulton selama hidupnya dapat menjadi pengaruh dan warisan bagi penerusnya. Hal itu sebagaimana yang difirmankan Allah dalam Surat Yasin ayat 12:

انانحن نحي الموتى ونكتب ما قدموا و اثارهم : Sungguh, Kamilah yang menghidupkan orang-orang yang mati, dan Kamilah yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan jejak-jejak yang mereka tinggalkan.

“Selagi buku-buku Cak Sulton masih dibaca orang, selagi LAZISNU masih eksis, selagi Unusia Jakarta masih menjadi tempat belajar, selagi gagasan-gagasan baiknya masih dilaksanakan orang, maka selama itu pula akan mendapatkan واثارهم (pengaruh atau jejak yang ditinggalkan),” jelasnya. (Husni Sahal/Fathoni)
Kamis 8 Agustus 2019 22:45 WIB
Atasi Radikalisme di Kampus Negeri, Unusia Jakarta Rekomendasikan Empat Hal
Atasi Radikalisme di Kampus Negeri, Unusia Jakarta Rekomendasikan Empat Hal
Ilustrasi radikalisme. (fotolia)
Jakarta, NU Online
Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta melakukan kajian mendalam guna untuk mengatasi persoalan maraknya radikalisme di kampus-kampus negeri.

Penelitian di bulan Desember 2018 itu dilakukan di delapan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Mereka adalah Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Purwokerto, Universitas Negeri Semarang (Unnes), Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Negeri Surakarta (UNS), IAIN Surakarta, Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

Hasil penelitian tersebut dibahas secara mendalam pada sebuah forum pertemuan tingkat tinggi dengan tema ‘Mendorong Pandangan dan Gerakan Keagamaan Moderat ke Gelanggang Kampus’ di gedung Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Lantai 5, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, pada Rabu (7/8).

Ketua LPPM Unusia Muhammad Nurul Huda mengungkapkan, forum itu sengaja dibuat terbatas bagi para pemangku kebijakan guna menghasilkan rekomendasi yang langsung terarah.

“Forum ini adalah pertemuan tingkat tinggi, antarpejabat yang punya wewenang dalam kebijakan di bidangnya masing-masing. Kita ingin mengomunikasikan hasil riset kami dan merumuskan rekomendasi,” katanya saat memberikan pengantar diskusi.

Naeni Amanullah, Ketua Tim peneliti LPPM, mengungkapkan bahwa perkembangan dakwah hari ini di kampus-kampus menyebarkan materi eksklusif transnasional sehingga mengancam pluralitas dan netralitas PTN sebagai institusi pendidikan akademik. 
 
“Model dakwah berpotensi prakondisi bagi gerakan Islam yang lebih ekstrem,” katanya.

Oleh karena itu, ia menyampaikan rekomendasi hasil penelitian tersebut kepada para pemangku kebijakan agar mereka mengedepankan moderasi beragama di PTN. Ada empat rekomendasi yang dihasilkan dari penelitian mengatasi persoalan radikalisme di kampus-kampus negeri tersebut. Pertama, PTN harus dalam koridor tridharma peguruan tinggi. Kedua, prinsip demokrasi harus tetap dikedepankan. Ketiga, inklusifitas yang terjaga. Keempat, merawat kebangsaan dan kebinekaan.

Pertemuan itu dihadiri Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Wakil Ketua Umum PBNU sekaligus Rektor Unusia Jakarta H Muhammad Makshum Machfoedz, Kepala Kemahasiswaan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Didin Wahidin, Badan Nasional Penanggulangan Terorime (BNPT) Moch Khairil Anwar, dan Staf Kepresidenan Munajat. (Syakir NF/Muchlishon)
Kamis 8 Agustus 2019 22:30 WIB
Alasan KH Maimoen Zubair Tetap di PPP
Alasan KH Maimoen Zubair Tetap di PPP
Almarhum KH Maimoen Zubair.
Jakarta, NU Online
Wakil Pemimpin Redaksi (Pemred) Harian Kompas, Mohammad Bakir, menilai, KH Maimoen Zubair (Mbah Moen) adalah tokoh yang konsisten dan taat pada asas. Hal itu terbukti ketika Mbah Moen tetap berada di Partai Persatuan Pembangunan (PPP) meski kiai-kiai Nahdlatul Ulama (NU) saat itu mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). 
 
Ada alasan ‘khusus’ mengapa Mbah Moen tidak pindah ke PKB dan memilih tetap berkiprah di PPP. Menurut Bakir, Mbah Moen tetap di PPP karena ingin menjaga partai tersebut. Jika Mbah Moen meninggalkan PPP, maka tidak ada yang mengawal partai berlambang Ka'bah itu.
 
 "Itu (Mbah Maimoen) ngomong langsung kepada saya saat bertemu di sebuah tempat di Semarang. 'Kalau saya meninggalkan PPP, saya sangat bisa masuk ke PKB, tetapi siapa yang mengawal di sini (PPP)?” kata Bakir pada acara Rosi bertemakan 'Mengenang Mbah Moen' yang ditayangkan di Kompas TV pada Kamis (8/8) malam.
 
Setelah mengucapkan itu, Bakir sempat berhenti sejenak. Ia terisak dan tak kuasa melanjutkan ceritanya tentang Mbah Moen untuk beberapa saat. Kemudian ia melanjutkan pembicaraannya tentang alasan Mbah Moen tetap di PPP adalah karena ingin menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
 
“Saya melihat beliau konsisten untuk menjaga NKRI. Kenapa beliau tidak meninggalkan PPP? Karena beliau tahu di PPP itu banyak faksi yang tidak semuanya mendukung NKRI," ucapnya diiringi isak tangis. 
 
Sebagaimana diketahui, Mbah Moen wafat di sela menunaikan ibadah haji di Makkah, Arab Saudi, pada Selasa (6/8) lalu. Pada hari itu juga, jenazah Mbah Moen dikuburkan di di Ma’la, Makkah, Arab Saudi. Sebuah kompleks kuburan dimana istri Nabi Muhammad, Sayyidah Khadijah, juga dimakamkan.
 
Wafatnya Pengasuh Pesantren al-Anwar Sarang, Rembang, itu menyisakan duka yang mendalam bagi semua kalangan, tak terkecuali Ulama Tafsir Indonesia Prof Quraish Shihab.
 
“Kita semua merasa kehilangan. Kita bukan hanya kehilangan sosok, tapi kita kehilangan ilmu karena Mbah Maimoen seorang alim seorang berakhlak sangat luhur,” kata Prof Quraish melalui akun Facebook putrinya, Najelaa Shihab, Selasa (6/8). (Husni Sahal/Muchlishon)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG