IMG-LOGO
Nasional

Kuburan Mbah Maimoen Berjarak 500 Meter dari Makam Siti Khadijah

Kamis 8 Agustus 2019 11:15 WIB
Bagikan:
Kuburan Mbah Maimoen Berjarak 500 Meter dari Makam Siti Khadijah
Maqbarah Jannatul Ma'la di Makkah. (via flickr.com)
Jakarta, NU Online
Sebuah keistimewaan jika jenazah dimakamkan di Ma’la, Makkah. Hal itu dinilai banyak umat Islam karena di pemakaman yang bernama Maqbarah Jannatul Ma’la tersebut bersemayam istri pertama Nabi Muhammad, Siti Khadijah.

Selain Khadijah radhiyallahu ‘anha, beberapa keluarga Rasulullah Muhammad SAW dan tokoh penting dalam sejarah Islam juga dikuburkan di Ma'la. Mereka di antaranya, dua putra Nabi Muhammad, Al-Qosim bin Muhammad dan Abdullah bin Muhammad.

Selain itu, kakek Nabi Muhammad, Abdul Muttalib bin Hasyim dan pamannya Abu Thalib juga dikuburkan di Ma'la. Dua anak sahabat Rasul, Abu Bakar bin Shiddiq yakni Abdurrahman dan Asma juga menghuni Ma'la. Ma'la memang menjadi tempat pemakaman pilihan masyarakat Makkah.

Media Center Haji (MCH) Kementerian Agama RI yang melakukan peliputan di Makkah melaporkan bahwa Almaghfurlah KH Maimoen Zubair yang wafat pada Selasa (6/8/2019) di Makkah dikuburkan sekitar 500 meter dari makam Siti Khadijah.

Dalam laporan tersebut, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin yang terus mendampingi jenazah Mbah Maimoen mengungkapkan bahwa Ma’la merupakan tempat pemakaman khusus warga setempat. Sehingga sebelum itu, Menag Lukman tetap berusaha agar Mbah Moen bisa dimakamkan di Ma’la.

“Di Ma’la biasanya hanya sebagai tempat pemakaman khusus orang-orang Makkah. Kami terus memastikan agar Mbah Moen bisa dimakamkan di sana,” ujar Menag Lukman, Selasa (6/8) di Daker Makkah sebelum Mbah Moen dibawa ke Masjidil Haram untuk dishalatkan.

Pada akhirnya, Kementerian Agama dan pihak KBRI berhasil memastikan pemakaman ulama kharismatik NU berusia 91 itu untuk dimakamkan di Maqbarah Jannatul Ma’la. Tak hanya Mbah Moen, ulama besar asal Indonesia Syekh Muhammad Nawawi Al-Bantani juga tercatat diistirahatkan di makam Ma'la.

Bentuk makam Ma'la tidak terlalu besar, bahkan lebih kecil dari makam yang ada di Madinah. Ddahulu, Ma'la dipenuhi dengan marmer yang indah dan batu putih, serta tempat-tempat suci yang menandai makam Khadijah, Abu Talib, dan lainnya.

Namun sejak Raja Abdul Aziz Al-Su’ud berkuasa di Saudi, pada tahun 1925 bangunan dan nisan besar tersebut dihancurkan dan hanya menyisakan tanah setinggi satu jengkal dan batu-batu kecil sebagai penanda makam.

Dulu, di pemakaman ini ada kubah besar yang menaungi makam Siti Khadijah. Para peziarah jadi lebih mudah menemukan pemakaman ini. Tetapi oleh pemerintah Arab Saudi, kubah itu diratakan karena alasan tertentu.

Ma'la terbentang di dataran tinggi bukit Jabal As-Sayyidah, perkampungan Al-Hujun, yang letaknya tidak jauh dari Masjidil Haram. Kira-kira jaraknya hanya sekitar 1,1 km arah utara dari Masjidil Haram dan dibutuhkan kira-kira 25 menit bagi peziarah yang ingin berjalan kaki. (Fathoni)
Bagikan:

Baca Juga

Kamis 8 Agustus 2019 23:9 WIB
KH Mujib Qulyubi Kenang Sulton Fatoni: Produktif dalam Menulis
KH Mujib Qulyubi Kenang Sulton Fatoni: Produktif dalam Menulis
Katib Syuriyah PBNU KH Mujib Qulyubi. (Foto: istimewa)
Jakarta, NU Online
Kabar wafatnya salah satu Ketua PBNU, H Muhammad Sulton Fatoni menimbulkan duka yang mendalam bagi orang-orang terdekatnya, termasuk bagi Katib Syuriyah PBNU, KH Mujib Qulyubi.

Kiai Mujib mengenang Sulton sebagai sosok yang komplit. Menurutnya, Sulton selalu semangat, enerjik, produktif dalam menulis, tegas, tegar dalam menghadapi ujian, pencinta ilmu, dan pencinta ulama.

“Itu kesan saya yang mendalam dan sekaligus kesaksian saya selama bergaul selama ini, baik di PBNU atau di Unusia Jakarta,” kata Kiai Mujib kepada NU Online, Kamis (8/8).

Ia misalnya mengemukakan satu contoh, yakni dalam hal ketegarannya. Sulton, katanya, sekalipun telah lama mengidap penyakit tumor dengan kondisi stadium 4, tapi sebagai sahabat, ia tidak pernah mendengarnya mengeluh.

“Tidak pernah satu kata pun, saya mendengarnya mengeluh. Perhatian, pikiran, dan tindakannya masih saja tertuju pada pengembangan kampus Unusia dan NU. Mulai dari tentang pembangunan fisik, intelektualitas, hingga dan jaringan kampus,” ucapnya.

Menurutnya, Sulton tipe orang yang senang berdiskusi, tapi jauh lebih senang eksekusi; Sulton senang dikunjungi, tapi lebih senang mengunjungi. Usia Sulton muda, tapi cara berpikirnya dewasa; Sulton suka bercanda, tapi sering membaca dan menulis; Sulton gemar berpikir, tapi juga sering hadir di majlis dzikir.

“Kita ngumpul dirumahnya. Kadang saling tukar pikiran dan kadang manaqiban. Pak atau Mas atau Cak Sulton Fatoni, umurnya tidak terlalu panjang, tapi jasa dan amalnya akan terus memanjang. Pengaruh dan warisan amal perbuatanya akan selalu menjadi penyejuk dan pendingin dalam alam barzahnya,” terangnya.

Ia berharap, segala amal Sulton selama hidupnya dapat menjadi pengaruh dan warisan bagi penerusnya. Hal itu sebagaimana yang difirmankan Allah dalam Surat Yasin ayat 12:

انانحن نحي الموتى ونكتب ما قدموا و اثارهم : Sungguh, Kamilah yang menghidupkan orang-orang yang mati, dan Kamilah yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan jejak-jejak yang mereka tinggalkan.

“Selagi buku-buku Cak Sulton masih dibaca orang, selagi LAZISNU masih eksis, selagi Unusia Jakarta masih menjadi tempat belajar, selagi gagasan-gagasan baiknya masih dilaksanakan orang, maka selama itu pula akan mendapatkan واثارهم (pengaruh atau jejak yang ditinggalkan),” jelasnya. (Husni Sahal/Fathoni)
Kamis 8 Agustus 2019 22:45 WIB
Atasi Radikalisme di Kampus Negeri, Unusia Jakarta Rekomendasikan Empat Hal
Atasi Radikalisme di Kampus Negeri, Unusia Jakarta Rekomendasikan Empat Hal
Ilustrasi radikalisme. (fotolia)
Jakarta, NU Online
Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta melakukan kajian mendalam guna untuk mengatasi persoalan maraknya radikalisme di kampus-kampus negeri.

Penelitian di bulan Desember 2018 itu dilakukan di delapan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Mereka adalah Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Purwokerto, Universitas Negeri Semarang (Unnes), Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Negeri Surakarta (UNS), IAIN Surakarta, Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

Hasil penelitian tersebut dibahas secara mendalam pada sebuah forum pertemuan tingkat tinggi dengan tema ‘Mendorong Pandangan dan Gerakan Keagamaan Moderat ke Gelanggang Kampus’ di gedung Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Lantai 5, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, pada Rabu (7/8).

Ketua LPPM Unusia Muhammad Nurul Huda mengungkapkan, forum itu sengaja dibuat terbatas bagi para pemangku kebijakan guna menghasilkan rekomendasi yang langsung terarah.

“Forum ini adalah pertemuan tingkat tinggi, antarpejabat yang punya wewenang dalam kebijakan di bidangnya masing-masing. Kita ingin mengomunikasikan hasil riset kami dan merumuskan rekomendasi,” katanya saat memberikan pengantar diskusi.

Naeni Amanullah, Ketua Tim peneliti LPPM, mengungkapkan bahwa perkembangan dakwah hari ini di kampus-kampus menyebarkan materi eksklusif transnasional sehingga mengancam pluralitas dan netralitas PTN sebagai institusi pendidikan akademik. 
 
“Model dakwah berpotensi prakondisi bagi gerakan Islam yang lebih ekstrem,” katanya.

Oleh karena itu, ia menyampaikan rekomendasi hasil penelitian tersebut kepada para pemangku kebijakan agar mereka mengedepankan moderasi beragama di PTN. Ada empat rekomendasi yang dihasilkan dari penelitian mengatasi persoalan radikalisme di kampus-kampus negeri tersebut. Pertama, PTN harus dalam koridor tridharma peguruan tinggi. Kedua, prinsip demokrasi harus tetap dikedepankan. Ketiga, inklusifitas yang terjaga. Keempat, merawat kebangsaan dan kebinekaan.

Pertemuan itu dihadiri Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Wakil Ketua Umum PBNU sekaligus Rektor Unusia Jakarta H Muhammad Makshum Machfoedz, Kepala Kemahasiswaan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Didin Wahidin, Badan Nasional Penanggulangan Terorime (BNPT) Moch Khairil Anwar, dan Staf Kepresidenan Munajat. (Syakir NF/Muchlishon)
Kamis 8 Agustus 2019 22:30 WIB
Alasan KH Maimoen Zubair Tetap di PPP
Alasan KH Maimoen Zubair Tetap di PPP
Almarhum KH Maimoen Zubair.
Jakarta, NU Online
Wakil Pemimpin Redaksi (Pemred) Harian Kompas, Mohammad Bakir, menilai, KH Maimoen Zubair (Mbah Moen) adalah tokoh yang konsisten dan taat pada asas. Hal itu terbukti ketika Mbah Moen tetap berada di Partai Persatuan Pembangunan (PPP) meski kiai-kiai Nahdlatul Ulama (NU) saat itu mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). 
 
Ada alasan ‘khusus’ mengapa Mbah Moen tidak pindah ke PKB dan memilih tetap berkiprah di PPP. Menurut Bakir, Mbah Moen tetap di PPP karena ingin menjaga partai tersebut. Jika Mbah Moen meninggalkan PPP, maka tidak ada yang mengawal partai berlambang Ka'bah itu.
 
 "Itu (Mbah Maimoen) ngomong langsung kepada saya saat bertemu di sebuah tempat di Semarang. 'Kalau saya meninggalkan PPP, saya sangat bisa masuk ke PKB, tetapi siapa yang mengawal di sini (PPP)?” kata Bakir pada acara Rosi bertemakan 'Mengenang Mbah Moen' yang ditayangkan di Kompas TV pada Kamis (8/8) malam.
 
Setelah mengucapkan itu, Bakir sempat berhenti sejenak. Ia terisak dan tak kuasa melanjutkan ceritanya tentang Mbah Moen untuk beberapa saat. Kemudian ia melanjutkan pembicaraannya tentang alasan Mbah Moen tetap di PPP adalah karena ingin menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
 
“Saya melihat beliau konsisten untuk menjaga NKRI. Kenapa beliau tidak meninggalkan PPP? Karena beliau tahu di PPP itu banyak faksi yang tidak semuanya mendukung NKRI," ucapnya diiringi isak tangis. 
 
Sebagaimana diketahui, Mbah Moen wafat di sela menunaikan ibadah haji di Makkah, Arab Saudi, pada Selasa (6/8) lalu. Pada hari itu juga, jenazah Mbah Moen dikuburkan di di Ma’la, Makkah, Arab Saudi. Sebuah kompleks kuburan dimana istri Nabi Muhammad, Sayyidah Khadijah, juga dimakamkan.
 
Wafatnya Pengasuh Pesantren al-Anwar Sarang, Rembang, itu menyisakan duka yang mendalam bagi semua kalangan, tak terkecuali Ulama Tafsir Indonesia Prof Quraish Shihab.
 
“Kita semua merasa kehilangan. Kita bukan hanya kehilangan sosok, tapi kita kehilangan ilmu karena Mbah Maimoen seorang alim seorang berakhlak sangat luhur,” kata Prof Quraish melalui akun Facebook putrinya, Najelaa Shihab, Selasa (6/8). (Husni Sahal/Muchlishon)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG