IMG-LOGO
Fragmen

Hari Arafah 67 Tahun Lalu, NU Bentuk Liga Muslimin Indonesia

Sabtu 10 Agustus 2019 7:0 WIB
Bagikan:
Hari Arafah 67 Tahun Lalu, NU Bentuk Liga Muslimin Indonesia
Lambang NU
Di hari Arafah atau 9 Dzulhijjah, jutaan umat Islam yang melaksanakan ibadah haji bersatu melaksanakan wukuf. Peristiwa itu menjadi lambang persatuan umat Islam yang menjadi inspirasi umat Islam Indonesia pada tahun 1952 M atau 1371 H.  
 
Akhir Agustus tahun itu, NU yang waktu itu berstatus partai, bersama Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) dan Partai Sarekat Islm Indonesia (PSII) membentuk Liga Muslimin Indonesia. belakangan, Darud Dakwah wal Irsyad (DDI), sebuah ormas Islam di Sulawesi, bergabung dengan liga tersebut. 

Beberapa bulan sebelumnya, yakni 1 Mei 1952, NU keluar dari Masyumi karena keberadaannya tidak dihargai. Menurut sejarawan NU, KH Abdul Mun’im DZ, di Masyumi, NU hanya digunakan sebagai pendulang suara. Lalu, ketika keluar dari Masyumi, NU dituduh sebagai pemecah-belah ukhuwah Islamiyah, padahal sebelumnya, PSII sudah keluar lebih dahulu. Tak hanya itu, Perti dan beberapa partai kecil lainnya, yang tidak mau gabung dengan Masyumi. Jadi, terbantahkan sudah tuduhan itu.

Sementara, menurut KH Saifuddin Zuhri, NU terpaksa keluar dari Masyumi, dan dilakukan dengan secara demokratis. Dalam bukunya, Secercah Dakwah (1983), Kiai Saifuddin Zuhri mengatakan, NU memutuskan berpisah dengan partai yang turut didirikannya itu karena ketidakcocokan mengenai sturktur organisasi dan praktik demokrasi yang, menurut keyakinan NU, sangat merugikan perjuangan Islam dan umum. Lalu, NU menjelma menjadi partai politik dari tahun itu hingga 1984. 

Kiai Saifuddin Zuhri memberikan catatan bahwa NU keluar dari Masyumi adalah pilihan paling terakhir setelah berunding berulang-ulang, mengirimkan delegasi berkali-kali. Namun tanpa hasil. Hal ini jalan yang belum pernah terjadi sebelumnya yang dilakukan partai lain waktu itu ketika melakukan pisah jalan. 

Bersatu dengan seluruh elemen umat Islam adalah cita-cita NU. Terpaksa keluar dari sebuah perkumpulan mana kala hal prinsipil tidak terpenuhi. “Bagi umat Islam, menyatukan diri dalam satu partai ataukah berdiri sendiri-sendiri bukanlah masalah, karena itu tidak mutlak. Umat Islam selamanya satu, dan sanggup memperlihatkan kesatuannya lebih kompak dan homogen jika keadaan memanggil. Hal itu telah dibuktikan dalam sejarah berulang-ulang,” tulis Kiai Saifuddin di buku yang sama.

KH Abu Bakar Aceh dalam buku Sejarah Hidup KH A. Wahid Hasyim menceritakan proses berdirinya Liga Muslimin Indonesia pada tanggal 30 Agustus 1952. KH A. Wahid Hasyim dari NU terlebih dahulu mendapatkan kesempatan pertama untuk berpidato. Ia menekankan pentingnya persatuan bangsa, khususnya di kalangan umat Islam yang kala itu terkotak-kotak karena perbedaan pemahaman dan bahkan pilihan politik.

“... Pada hari Arafah seperti pada hari Arafah sekarang, 1360 tahun yang lalu, junjungan besar kita, Nabi Muhammad SAW, berdiri di Padang Arafah, di dalam pertemuan sedunia oleh umat Islam kala itu. Maka sesungguhnya, merupakan nikmat dan rahmat dari Allah SWT yang besar sekali bagi kita, bahwa pada hari yang bersejarah seperti hari Arafah ini, kita sekalian berkumpul di sini mengeratkan persaudaraan Islam yang telah ada dalam jiwa kita, dengan ikatan lahir berupa organisasi, ialah Liga Muslimin Indonesia!” tegas Kiai Wahid.

“Dalam keadaan hidup perseorangan yang tidak mempunyai ikatan sesama jamaahnya demikian itu, tidaklah heran apabila tiap-tiap orang Islam lalu tenggelam dan terseret oleh aliran-aliran dan golongan-golongan lain dengan tidak sadar dan insaf. Dan bukanlah pada suatu hal yang tidak masuk di akal, kalau propaganda penjajahan yang pada suatu masa pernah dijalankan oleh golongan yang berkepentingan, kadang-kadang masih mendapatkan telinga yang suka mendengarkannya, disebabkan hilangnya ikatan sesama jamaah itu.” lanjut Kiai Wahid.

Setelah Kiai Wahid, pidato selanjutnya disampaikan perwakilan dari Perti, yakni Tuan Guru KH Sirajuddin Abbas dan PSII Abikusno Tjokrosuroso, yang keduanya juga kembali menegaskan pentingnya untuk mempererat persatuan antarumat Islam. 

Kehendak NU membangun persatuan umat Islam Indonesia dibuktikan sepanjang zaman. Pada masa kolonial Belanda, yakni tahun 1937, NU membidani Majelis Islam A'la Indonesa (MIAI). Kemudian turut serta di Masyumi. Ketika partai NU dipaksa melebur oleh Orde Baru, NU turut serta di Partai Persatuan Pembangunan. NU juga turut serta di Majelis Ulama Indonesia. Pada tahun 2012, NU turut membentuk Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI), KH Said Aqil Siroj hingga sekarang menjadi ketua umumnya. (Abdullah Alawi
Bagikan:

Baca Juga

Rabu 7 Agustus 2019 19:16 WIB
Tokoh-tokoh NU yang Wafat di Tanah Suci
Tokoh-tokoh NU yang Wafat di Tanah Suci
Mama Ajengan KH Ahmad Syuja'i Ciharashas (bertongkat) hendak berhaji tahun 1983
Kematian adalah makhluk yang misterius. Ia datang kepada siapa pun tak mengenal waktu, dan tempat. Karena misterius itulah ajaran Islam mengingatkan agar selalu ingat mati berdoa agar  meninggal dalam keadaan iman terjaga atau husnul khatimah. Umat Islam merapal harapan itu setidaknya lima kali dalam sehari, selepasa shalat fardhu melalui doa allahuma ini asaluka husnal khatimah wa ‘audzubika min su’il khatimah yang diiringi doa lain, rabbana atina fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah. 

Namun, ada sebagian orang yang berharap meninggal di tempat yang paling istimewa, bahkan di hari yang menurutnya istimewa. Namun, namanya doa, tak lantas terkabul sesuai kenyataan. KH Maimoen Zubair adalah pengecualian. Ia ingin meninggal di Tanah Suci makkah dan sedang melaksanakan ibadah haji. Terpenuhi sudah doanya itu. 

Berikut ini ada beberapa tokoh NU yang meninggal di Tanah Suci yang berhasil dihimpun NU Online. Sangat mungkin ada kiai lain yang tidak tercatat.  

1. KH Abdul Karim Hasyim (putra Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari, tahun 1972)
Kiai Abdul Karim Hasyim merupakan salah seorang putra dari Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari. Ketika ayahnya wafat pada tahun 1947, Kiai Abdul Wahid Wahid (kakak dari Kiai Karim) melanjutkan kepemimpinan pesantren Tebuireng. Namun, waktu itu, Kiai Wahid Hasyim sudah menjadi tokoh populer di tingkat nasional, keberadaannya sangat sering di Jakarta. Sehingga kepemimpinan dipercayakan kepada Kiai Karim. 

Ketika diangkat manjadi menteri agama, Kiai Wahid semakin sibuk sehingga kepemimpinan pesantren Tebuireng manjadi kosong sehingga keluarga besar Bani Hasyim memilih Kiai Karim sebagai penggantinya.

Pada tahun 1972, Kiai Karim menunaikan ibadah haji bersama Kiai Idris Kamali. Saat menjalankan rukun Islam kelima itu, Kiai Karim menderita sakit yang diakibatkan oleh perubahan cuaca. Setelah beberapa hari dirawat, Kiai Karim meninggal dunia dan jenazahnya dimakamkan di Makkah.

2. H Subchan ZE (Ketua Empat PBNU, tahun 1973)
Nama lengkap tokoh NU yang satu ini adalah Subchan Zaenuri Echsan. Namun, dua nama belakangnya lebih populer disingkat ZE, jadi Subchan ZE. Ia merupakan tokoh muda NU yang populer di zamannya. Watak kempimpinanya mampu menggerakkan organisasi pemuda di luar NU seperti HMI, GMNI, PMKRI, setelah terjadinya G 30 S PKI melalui Komando Aksi Pengganyangan (KAP) Gestapu yang dipimpinnya. 

Tahun 1966 Subchan diangkat sebagai Wakil Ketua MPRS. Saat menjabat itu, Soeharto dikukuhkan sebagai Presiden oleh tahun 1968. Namun, Subchan kemudian menjadi salah seorang pengkritik paling tajam terhadap kebijakan-kebijakan presiden yang berkuasa selama 32 tahun itu. Salah satu kritik yang dilontarkannya adalah ketika pemerintah menunda-nunda pemilu. 
 
Sejarawan NU, Choirul Anam, di dalam bukunya Pertumbuhan dan Perkembangan NU mengemukakan pendapat Subchan tentang Orde Baru yang intinya: 1) penegakan tata kehidupan demokrasi; 2) penegakan tata kehidupan hukum dan keadilan dalam kehidupan sehari-hari; 3) pengusahaan adanya pendemokrasian di dalam pelaksanaan kebijaksanaan ekonomi, dan; 4) penegakkan hak asasi manusia.
 
Subchan meninggal pada 21 Januari 1973 di Arab Saudi saat menjalankan ibadah haji dalam perjalanan ziarah ke makam Nabi Muhammad SAW. Ia dimakamkan di sana. 

3. KH Ahmad Syuja’i Ciharashas (tokoh NU Cianjur, tahun 1983)
Mama Ajengan KH Ahmad Syuja’i menjadi aktivis NU tidak sembarangan. Ia dianjurkan memperkuat NU di Priangan Barat, tepatnya Cianjur oleh tiga habib dan satu kiai. Tak heran, sejak masih santri KH Ahmad Syatibi Gentur (Mama Kaler), Mama Ciharashas sudah memiliki Kartanu.  
 
Menurut santri mama Ciharashas, KH Abdul Aziz Hidayatullah, pada buku Riwayat Hidup KH Muhammad Syuja’i (Mama Ciharashas) bin Haji Ghojali Singapraja, Mama Ciharashas dianjurkan masuk dan aktif di NU oleh KH Mansur Jembatan Lima, Jakarta (Guru Mansur). Bahkan Guru Mansur menganjurkan harus punya KARTANO (sekarang Kartanu). 

Begitu pula setelah Mama Ciharashas mendirikan Pesantren Asy-Syuja’i, banyak dukungan dari masyayikh agar menjadi pengurus Nahdlatul Ulama. Anjuran itu didukung Habib Muhammad Al-Haddad, Tegal, Jawa Tengah, Habib Syekh bin Salim Al-Attas, Sukabumi, dan Al-Habib Utsman Al-Idrus, Bandung. 

Kemudian Mama Ciharashas diangkat sebagai Wakil Rais Syuriah PWNU Provinsi Jawa Barat, hingga akhir hayatnya 28 Agustus 1983 M. Ia meninggal dan dimakamkan di Tanah Suci Makkah saat menunaikan ibadah haji tahun itu. 
 
4. KH Maimoen Zubair (Mustasyar PBNU, tahun 2019)
Selasa 6 Agustus 2019, salah seorang kiai sepuh NU, KH Maimoen Zubair tutup usia. Dalam waktu singkat, kabar tersebut menyebar dari satu akun ke akun lain melalui media sosial. Rakyat biasa hingga presiden mengungkapkan kehilangannya. 

Kiai yang akrab disapa Mbah Moen ini tutup usia  di Tanah Suci Makkah saat melaksanakan ibadah haji pada usia 91 tahun. Menurut riwayat mutawatir, ia kerap meminta didoakan agar Allah memanggilnya di hari Selasa pada saat menjalankan ibadah haji. Dan, doanya itu telah terkabulkan.   

KH Saifuddin Zuhri dalam sebuah artikelnya yang dikumpulkan dalam Secercah Dakwah mengatakan, para pejuang (NU) angkatan sebelumnya, telah merintis jalan dan berbuat, mereka memperoleh pahalanya. Tetapi segi-segi kekurangannya harus berani diakui meskipun pahit untuk disempurnakan bagi taraf-taraf perjuangan seterusnya. (Abdullah Alawi)
 
Senin 5 Agustus 2019 2:0 WIB
Jamaah Haji di Awal Indonesia Merdeka
Jamaah Haji di Awal Indonesia Merdeka
Jemaah haji asal Martapura Kalimantan (dok KITLV -Tropenmuseum)
Beberapa tahun Indonesia merdeka, terjadi kekosongan umat Islam yang melaksanakan ibadah haji. Menurut data yang disampaikan majalah Tempo edisi 24 april 2011, yang mengutip data dari Departemen Agama RI, salah satu penyebab kekosongan tersebut adalah keadaan yang masih sulit dan genting. 

Setelah merdeka, Indonesia tidak serta-merta mendapatkan keamanan dan pengakuan kedaulatan, apalagi kemakmuran. Penjajah Belanda yang membonceng tentara Sekutu berusaha kembali ke Indonesia. Situasi semacam itu dihadapi bangsa Indonesia dengan perjuangan fisik seperti pertempuran hingga dan diplomasi. Di antara gangguan keamanan yang terjadi setelah Indonesia merdeka adalah agresi militer Belanda I dan II.  

Tokoh utama NU, Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari pernah mengeluarkan fatwa tidak wajib beribadah haji ketika negara dalam keadaan perang. Fatwa tersebut kemudian menjadi Maklumat Menteri Agama Nomor 4 tahun 1947, yang menyatakan ibadah haji dihentikan selama negara dalam keadaan genting.  

Pada tahun 1952, jamaah calon haji Indonesia membludak dalam ukuran masa itu. Dalam laporan Kementerian Agama yang dikutip Tempo, tahun Indonesia mengantongi calon jamaah haji sebanyak 14 ribu orang. 

“Suatu jumlah yang lebih tinggi dari tahun-tahun yang sudah, yaitu untuk mengurangi rasa kecewa di kalangan kaum muslimin, agar tiada timbullah kemungkinan bahwa mereka itu digunakan oleh mereka yang tidak mengingikan keteguhan Negara RI,” ungkap KH Wahid pada laporan saat ia mengakhiri jabatan Menteri Agama Indonesia tahun 1953.  

Tahun-tahun sebelumnya, seperti tahun 1949 jumlah jamaah haji Indonesia adalah 9.892 orang. Tahun 1950 jumlahnya meningkat menjadi 10.000 orang ditambah 1.843 orang yang berangkat secara mandiri (Tempo edisi 24 april 2011).

Indonesia merupakan negara yang selalu memiliki calon jamaah haji yang sangat besar. Bahkan sejak masa penjajahan Belanda. Martin van Bruinessen dalam artikelnya berjudul Mencari Ilmu dan Pahala di Tanah Suci: Orang Nusantara Naik Haji mengatakan pada akhir abad 19 dan awal abad 20 jamaah haji Indonesia sebanyak 10-20 persen dari seluruh jamaah haji dunia. Malah pada tahun 1920-an, jumlahnya sekitar 40 persen dari seluruh jamaah haji dunia. 

Namun, minat berhaji yang sedemikian banyak itu, tidak diimbangi dengan pelayanannya. Jamaah calon haji yang meninggal dalam keberangkatan maupun pulang sering terjadi karena kurangnya tenaga medis. Pada masa itu, perjalanan haji bisa berbulan-bulan sebab menggunakan kapal laut. 

Hal itu menjadi keprihatinan KH Wahid Hasyim saat menjadi menteri agama. Dalam artikelnya, Perbaikan Perjalanan Haji, yang dimuat di Mimbar Agama edisi 17 Agustus seperti yang dikutip Tempo edisi sama, Kiai Wahid mengurai persoalan haji Indonesia. 

Anggota jamaah haji Indonesia, menurut Kiai Wahid, orang dari lapisan bawah yang agak mampu, tapi kurang pengetahuan agama dan pengetahuan umum. Mereka mengeluarkan semua biaya berhajinya dengan keyakinan untuk ibadah, sehingga mereka tak peduli besarnya biaya yang dikeluarkan. Hal ini menyebabkan mereka menjadi mangsa empuk orang-orang yang tega mengambil kesempatan. (Abdullah Alawi)  
   
 
Jumat 2 Agustus 2019 15:30 WIB
Saat Belanda Geram oleh Fatwa Haram Haji KH Hasyim Asy’ari
Saat Belanda Geram oleh Fatwa Haram Haji KH Hasyim Asy’ari
Hadhratussyekh KH Hasyim Asy'ari (istimewa)
Menghadapi penjajah tidak cukup hanya mengandalkan perlawan fisik dan bersenjata, tetapi upaya batin melalui sejumlah wirid serta perlawanan kultural juga menjadi strategi penting yang perlu dilakukan rakyat Indonesia. Perlawanan kultural yang cukup ampuh menghadang penjajah Belanda kerap dilakukan oleh kalangan pesantren.

Keberhasilan perlawanan kultural oleh kaum santri karena mampu menggerakkan sekaligus memompa nasionalisme bangsa Indonesia dalam melawan kolonial. Salah satu strategi kultural yang dilakukan oleh pesantren ialah mengeluarkan fatwa dan menjadi wadah pergerakan nasional secara umum.

Sejumlah fatwa yang dikeluarkan oleh KH Hasyim Asy’ari, pemimpin besar NU dan pemimpin besar bangsa Indonesia ialah ketika mengharamkan santri memakai pakaian yang menyerupai Belanda yang terbukti efektif menggerakkan perlawanan secara luas terhadap kolonial. Namun, fatwa tersebut hanya berlaku pada konteks saat itu, bagaimana Kiai Hasyim Asy’ari melihat propaganda Belanda melalui borjuisme kolonial lewat busana.

Fatwa penting juga dikeluarkan oleh KH Hasyim Asy’ari bersama ulama se-Jawa dan Madura ketika mengeluarkan Fatwa Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945. Saat itu Belanda (NICA) yang membonceng pasukan sekutu (Inggris) hendak kembali menduduki wilayah Indonesia dalam Agresi Militer Belanda II.

Fatwa Jihad tersebut seketika menggelorakan semangat juang rakyat Indonesia dari seluruh penjuru tanah air untuk mempertahankan kemerdekaan yang telah diproklamasikan pada 17 Agustus 1945. Resolusi Jihad KH Hasyim Asy’ari mempunyai esensi bahwa berjuang mempertahankan kemerdekaan merupakan kewajiban agama.

Pada masa-masa revolusi antara tahun 1946-1948, Belanda tidak juga surut untuk terus berupaya kembali menduduki Indonesia. Menurut catatan Sejarawan NU, Abdul Mun’im DZ dalam Fragmen Sejarah NU (2017), gejolak revolusi tersebut dirasakan sebagai penderitaan luar biasa karena semua kegiatan sosial ekonomi terganggu termasuk aktivitas menjalankan ibadah haji bagi umat Islam.

Umat Islam risau karena perjalanan haji terhenti akibat perang sehingga  tidak menjamin keamanan para jemaah alon haji. Melihat situasi itu, Gubernur Hindia-Belanda, Van der Plaas segera mengambil tindakan untuk menolong umat Islam. Belanda mengumumkan bagi yang  hendak melaksanakan ibadah haji disediakan fasilitas selengkapnya dan dijamin keamanannya.

Tentu saja tawaran itu menggoda umat Islam yang kebetulan selama beberapa tahun dalam gelora revolusi itu perjalanan ibadah haji terganggu, saat ini Belanda menjamin fasilitas untuk mereka, maka banyak yang mendaftar untuk menunaikan ibadah haji. Sekilas kebijakan tersebut nampak populis, tapi mengandung intrik politik untuk meraup simpati umat Islam Indonesia.

Belanda mengumumkan bagi yang ingin melaksanakan ibadah haji disediakan fasilitas lengkap dan dijamin keamanannya. Karuan saja tawaran tersebut menarik umat Islam Indonesia untuk mendaftar haji mengingat beberapa tahun terkahir pemberangkatan haji terganggu oleh perang.

Masih dalam catatan Mun’im DZ, di tengah kegairahan umat Islam untuk berhaji, tiba-tiba Rais Akbar NU, Hadhratussyekh KH Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa bahwa melakukan ibadah haji saat ini hukumnya haram. Ibadah haji memang sebuah kewajiban bila syarat rukunnya terlengkapi. Sementara saat ini Indonesia dalam keadaan perang, kapal sebagai sarana transportasi haji belum dimiliki oleh bangsa Indonesia. Karena itu bila pergi haji naik kapal milik orang kafir (Belanda), maka hukumnya haram dan hajinya tidak sah.

Fatwa itu  membuat umat Islam tertegun, tetapi bagaimana pun dengan hujjah-nya yang kuat dan sesuai nalar, maka seberat apapun fatwa itu mesti ditaati, umat Islam banyak yang membatalkan perjalanan hajinya. Tentu saja hal itu dan membuaat Belanda geram, bukan karena usaha pelayarannya tidak laku, tetapi lebih penting lagi usahanya gagal dalam mempengaruhi hati umat Islam agar tidak memihak pada republik pimpinan Soekarno-Hatta.

Sekali lagi, kepekaan KH Hasyim Asy’ari mampu menggerakkan perlawanan dan propaganda Belanda yang melakukan segala cara untuk menarik simpati umat Islam. Kiai Hasyim Asy’ari tahu bahwa tujuan Van der Plaas membantu umat Islam dalam menjalankan rukun Islam itu bukan untuk menolong, tetapi sebuah tipu muslihat untuk mengalihkan kesetiaan pada bangsa sendiri. Haji politis semacam itu tentu saja ditolak mentah-mentah oleh Kiai Hasyim Asy’ari. Sebagai seorang imam yang berpengaruh, maka fatwanya yang kontroversial itu tetap diikuti. (Fathoni)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG