IMG-LOGO
Internasional

Kereta Cepat Haramain Siap Layani Jamaah Haji Tahun Ini

Sabtu 10 Agustus 2019 13:0 WIB
Bagikan:
Kereta Cepat Haramain Siap Layani Jamaah Haji Tahun Ini
Kereta Cepat Haramain. (CNN)
Makkah, NU Online
Kereta Cepat Haramain (Haramain High Speed Rail) siap digunakan untuk mengangkut jamaah dari Makkah –melalui Jeddah- ke Madinah pada musim haji tahun ini. Dengan menggunakan layanan ini, perjalanan Makkah-Madinah atau sebaliknya yang jaraknya 449 kilometer bisa ditempuh dalam waktu dua jam saja. Padahal sebelumnya, selama musim haji, waktu perjalanan Makkah-Madinah bisa sampai 10 jam.

Kecepatan Kereta Cepat Haramain mencapai 300 kilometer per jam. Kereta ini akan menghubungkan Makkah dan Madinah dengan melewati tiga stasiu, yaitu Jeddah, Bandara Internasional King Abdul Aziz dan Kota Ekonomi King Abdullah, Rabigh.

Dilaporkan CNN, Jumat (9/8), teknologi yang dikembangkan pada kereta ini didisain untuk menangani suhu hingga 50 derajat Celsius, suhu maksimum Arab Saudi,

Kereta cepat Haramain ini memiliki dua tipe; tipe tunggal dan ini mampu mengangkut 417 orang, sementara tipe bertingkat bisa menampung hingga 834 orang. Kereta cepat ini digerakkan listrik dengan kekuatan 25 ribu volt. Dengan 35 kereta, layanan transportasi ini mampu mengangkut 60 juta penumpang setiap tahunnya.

Dikutip dari laman Saudi Gazette, harga tiket Kereta Haramain akan dibagi menjadi dua kategori;  turis dan kelas bisnis. Harga tiket kategori turis satu arah dari Stasiun Sulaimaniyah di Jeddah ke Makkah adalah SR20 (sekitar 79.200 rupiah). Sementara dari Makkah ke Madinah harganya SR75 (sekitar 296.800 rupiah). Untuk ruter perjalanan dari Jeddah ke Madinah dikenakan biaya SR63 (249.400 rupiah)

Adapun untuk kelas bisnis, harga tiket dari Jeddah ke Makkah adalah SR25 (98.950 rupiah).  Sedangkan dari Makkah ke Madinah harganya SR125 (494.700 rupiah) dan rute perjalanan dari Jeddah ke Madinah dikenakan biaya SR105 (415.600 rupiah).

Kereta Cepat Haramain diharapkan bisa mempermudah mobilitas jamaah haji, yang menurut Otoritas Jenderal Statistik Saudi jumlahnya 2 juta orang lebih per hari ini, Sabtu (10/8). (Red: Muchlishon)
Bagikan:

Baca Juga

Sabtu 10 Agustus 2019 23:0 WIB
Menikmati Sensasi Tradisi Hari Raya Idul Adha di Sudan
Menikmati Sensasi Tradisi Hari Raya Idul Adha di Sudan
Kondisi angkutan umum jelang hari raya Idul Adha di Sudan.
Khartum, NU Online
Tradisi memperingati hari raya Idul Adha di berbagai kawasan demikian beragam. Meskipun tidak seramai Idul Fitri, namun hari raya kurban juga demikian semarak. Bagaimana dengan warga Timur Tengah terkhusus Sudan? Berikut catatan dari Muhammad Wildan Habibi.
 
“Jika di Indonesia melaksanakan ibadah mudik untuk menyambut hari raya idul fitri, lain halnya di negara Sudan,” katanya, Sabtu (10/8). 
 
Tradisi di Sudan bahwa tiga hari sebelum hari raya Idul Adha aktivitas sekolah, kampus, pegawai negeri dan juga pekerja pabrik biasanya sudah banyak yang diliburkan.
 
Hal itu dilakukan pemerintah agar masyarakat dapat merayakan hari raya Idul Adha di kampung halaman bersama sanak famili. “Seperti suatu hal yang wajib bagi masyarakat Sudan untuk pulang kampung dan merayakan hari raya bersama keluarga,” ungkapnya. 
 
Kalau kebetulan mempunyai mobil, mereka membawa kendaraan roda empat tersebut dengan bagasi penuh berupa oleh-oleh dari kota untuk keluarga di desa. 
 
“Ada juga yang membawa kendaraan pick up untuk membawa barang bawaan. Bahkan bukan hanya barang yang bersifat pokok, akan tetapi mereka juga membawa kambing yang dibeli di kota untuk diletakkan di atas mobil pick up agar disembelih di desa,” jelasnya.
 
Maka tidak heran jika tiket pesawat ataupun tiket bus antar kota atar provinsi sudah banyak yang terjual habis sebelum hari raya Idul Adha. Bahkan ada juga yang rela duduk di atap bus karena kehabisan tiket.
 
“Kata mereka, maa musykilah. Dalam artian, tidak apa-apa yang penting bisa beridul Adha di kampung halaman,” selorohnya.
 
Malam takbiran di Sudan juga tidak kalah spesial dengan di Indonesia. Banyak juga masayikh yang menggelar acara majelis taklim setelah itu dilanjutkan dengan makan bersama.
 
“Ada juga yang merayakan malam takbiran dengan dzikir bersama dan juga takbiran bersama di kediaman masayikh,” ungkapnya. Ada juga yang membersihkan masjid dan mempersiapkannyauntuk melaksanakan shalat id, lanjutnya.
 
Untuk takbir keliling jarang dijumpai di jalanan kota Khartoum Sudan. “Yang ada hanya suara takbir dari toa masjid dengan langgam yang berat,” jelasnya.
 
Setelah melaksanakan shalat id, mereka biasanya membawa makanan ringan berupa permen atau jajan manisan (halawiyat). Demikian pula ada yang membawa roti goreng, kurma, teh panas untuk disajikan kepada para jamaah setelah shalat Idul Adha. 
 
“Bahkan disuruh untuk mampir ke rumah masyarakat untuk dijamu dengan makanan ringan,” kata mahasiswa Universitas Al-Quran Karem Omdurman Sudan ini.
 
Dirinya yang juga pernah tinggal di masjid sebagai marbot juga kerap mendapat berkah. “Ahamdulillah setiap Idul Adha saya, dan teman-teman selalu diberi jatah satu kambing untuk disembelih sendiri dan dikonsumsi sendiri,” kenangnya. 
 
Salah satu yang dikagumi dari perayaan Idul Adha di Sudan adalah kebanyakan dari mereka menyembelih hewan kurban satu rumah satu kambing. 
 
“Jadi, mereka menyembelih kambing sendiri di depan rumah masing-masing dan membagikan sebagian dagingnya kepada tetangganya yang tidak menyembelih ataupun yang sudah menyembelih dengan bertukar daging kurban,” jelasnya.
 
Kendati kondisi ekonomi masyarakat Sudan cukup memprihatinkan, tetapi hal tersebut bukan sebagai penghalang untuk tidak berkurban. 
 
“Bagi masyarakat Sudan, tradisi menyembelih bukan hanya saat kurban. Mereka biasa menyembelih kambing layakya menyembelih ayam dan dagingnya dibagikan kepada tetangga tanpa ada hajat apapanun kecuali untuk bersedekah,” jelasnya.  
 
Bukan hanya tradisi mudik saja, mereka juga mengenal tradisi reuni keluarga. Setiap hari raya Idul Adha mengadakan acara reuni keluarga, mengenakan baju baru dan mengundang seluruh keluarga untuk berkumpul di salah satu rumah keluarga.   
 
Saat seperti itu semua sanak famili berkumpul di satu rumah dari anggota keluarga. “Dan tradisi ini setiap tahun bergiliran dari rumah yang satu ke rumah anggota keluarga lainnya,” pungkasnya. (Ibnu Nawawi)

 
Jumat 9 Agustus 2019 21:41 WIB
Mesin Pembangkit Listrik Maktab 21 Padang Arafah Terbakar
Mesin Pembangkit Listrik Maktab 21 Padang Arafah Terbakar
Pemadam Kebakaran Memadamkan Api (Foto: Faizin/NUO)
Makkah, NU Online
Terjadi insiden di hari pertama para jemaah haji berada di Padang Arafah untuk melaksanakan wukuf, Jumat (9/8). Mesin pembangkit listrik di maktab 21 yang ditempati jemaah Pringsewu dan Surabaya terbakar sekitar pukul 16.00 WAS. Akibatnya, beberapa tenda yang ada di maktab tersebut tidak teraliri listrik sehingga mesin pendingin ruangan mati.

Diawali oleh percikan api, lambat laun mesin pembangkit listrik tersebut terbakar. Sempat terjadi ledakan yang mengakibatkan api membesar dan asap membumbung tinggi ke udara.

"Awalnya lampu dan AC tenda mati, setelah saya keluar saya lihat mesin pembangkit listriknya berasap dan mengeluarkan api," kata Burhan, salah satu jemaah dari JKG 51Pringsewu yang tendanya hanya berjarak beberapa meter dari tempat kejadian.

Beberapa menit setelah api membakar mesin, petugas pemadam kebakaran berhasil mengatasi amukan si jago merah. Empat kendaraan pemadam kebakaran dikerahkan dan berhasil menjinakkan api dengan segera dan tidak merembet ke tenda jemaah.

Tidak ada korban dalam insiden tersebut. Belum diketahui pasti penyebab dari kebakaran tersebut. Sejumlah jemaah nampak keluar tenda berkerumun melihat kejadian tersebut.

"Asap sempat masuk ke dalam tenda kami," kata Burhan kepada jurnalis NU Online, yang berada di maktab tersebut.

Beberapa saat setelah kejadian para teknisi terlihat segera berkoordinasi untuk langkah selanjutnya. Sampai dengan berita ini diturunkan, listrik tenda jemaah belum hidup sehingga sebagian jemaah keluar tenda akibat suhu panas dalam ruangan.

Mesin tersebut merupakan sumber alat pendingin udara yang pada tahun ini disediakan oleh pemerintah Arab Saudi untuk kenyamanan jemaah selama wukuf di Arafah. Beberapa fasilitas lain yang diberikan untuk jemaah antara lain konsumsi 3 kali sehari dan penyediaan batu kerikil untuk lempar jumrah.

Para jemaah akan berada di Padang Arafah sampai dengan Sabtu (10/8) petang dan melanjutkan perjalanan menuju Muzdalifah untuk mabit. Pada keesokan harinya, jemaah melaksanakan lempar jumrah Aqabah di Mina. (Muhammad Faizin)
Jumat 9 Agustus 2019 17:30 WIB
Gus Yasin Ungkap Wasiat Mbah Moen: Jaga NU
Gus Yasin Ungkap Wasiat Mbah Moen: Jaga NU
KH Maimoen Zubair.
Makkah, NU Online
Salah seorang putra KH Maimoen Zubair, Taj Yasin Maimoen (Gus Yasin) mengungkapkan, salah satu wasiat Mbah Moen adalah Nahdlatul Ulama (NU) harus dijaga dan program-program yang dirancang harus bisa dirasakan masyarakat. 
 
“Salah satu wasiat KH Maimoeun Zubair adalah menjaga Nahdlatul Ulama yang program-programnya harus menyentuh dan dirasakan masyarakat,” kata Gus Yasin dalam acara Silaturahmi NU se-Dunia XVII di Hotel Taisir Makkah, Kamis (8/8).
 
Menurutnya, jika NU bisa memberikan manfaat yang besar kepada masyarakat maka organisasi berlambang bola dunia itu akan menjadi pemimpin yang memiliki kekuatan yang besar. “Saat kehadiran NU mampu dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, maka saat itulah NU Akan menjadi pemimpin dengan kekuatan besar,” lanjutnya.
 
Sementara itu, Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi Agus Maftuh –yang juga menjadi pembicara dalam acara tersebut- mengatakan, santri-santri NU harus mampu membawa kebangkitan NU di masa depan. 
 
“Mereka harus mampu meneruskan perjuangan para ulama, khususnya estafet keilmuan dan perjuangan KH Maimoen Zubair yang baru saja meninggalkan Kita,” katanya.
 
Agus mengatakan, Mbah Moen merupakan inspirasi bagi kader-kader muda NU dalam menuntut ilmu dan membumikan Islam rahmatan lil alamin. Tidak hanya itu, Mbah Moen adalah ulama yang loyal berjuang di NU sampai akhir hayat.
“Beliau mengajar para santri sebagai kader-kader penerus NU masa depan dengan gigih dan istiqamah,” imbuhnya.

Salah satu tinggalan Mbah Moen ialah Pondok Pesantren al-Anwar yang didirikan pada tahun 1967 silam. Saat ini, ada 10 ribu santri yang sedang menuntut ilmu di sana. Mereka terbagi dalam 4 pesantren yang dikelola putra-putranya. 
 
Untuk Pesantren Al-Anwar satu berlokasi di Desa Karangmangu Kecamatan Sarang. Sedangkan ketiga pondok lainnya berada di Desa Kalipang Kecamatan Sarang. Jaraknya kurang lebih 5 KM dari pondok Al Anwar satu. Lokasinya sama-sama berada di tepi jalan Pantura Rembang.
 
Sejak berdiri, Pesantren Al-Anwar merupakan pondok salaf. Seiring dengan perkembangan dan tuntutan zaman, Mbah Moen bersama dengan putra-putranya mengembangkan pesantren dengan fasilitas pendidikan formal, namun tidak meninggalkan salaf.
 
Al-Anwar satu merupakan pesantren yang murni menjaga kesalafannya sampai dengan saat ini. Sedangkan 3 pondok pesantren lainnya terdiri dari sekolah MI, MTs, SMK, dan Sekolah Tinggi Agama Islam. Namun demikian ketiha pondok ini tidak meninggalkan pelajaran salaf sebagai ciri khas pesantren di Kabupaten Rembang. (Muhammad Faizin/Muchlishon)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG