IMG-LOGO
Daerah

Kader IPPNU Dukuhwaru Tegal Raih Juara Duta Wisata Tingkat Kabupaten 

Ahad 11 Agustus 2019 6:0 WIB
Bagikan:
Kader IPPNU Dukuhwaru Tegal Raih Juara Duta Wisata Tingkat Kabupaten 
Elok Maulidah (tengah)
Tegal, NU Online
Kader Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecamatan Dukuhwaru Kabupaten Tegal, Jawa Tengah Elok Maulidah berhasil meraih Juara Harapan 1 dalam ajang Pemilihan Duta Wisata Kabupaten Tegal tahun 2019. 
 
Grand Final Pemilihan Mas dan Mbak Duta Wisata Kabupaten Tegal dihelat Jumat (9/8) di Gedung KORPRI Kabupaten Tegal.
 
Elok sapaan akrabnya, kepada NU Online, Sabtu (10/8) mengaku sangat senang dan bangga bisa memperoleh prestasi tersebut. Sebelumnya, dirinya tidak pernah menargetkan untuk mendapatkan juara maupun menjadi Finalis Duta Wisata.
 
"Senang dan bangga bisa menjadi wakil dari IPPNU. Ini menjadi pengalaman yang berharga untuk terus dan semangat dalam belajar," katanya.
 
Mahasiswa Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu tercatat sebagai Wakil Ketua Pimpinan Anak Cabang IPPNU Kecamatan Dukuhwaru Kabupaten Tegal. Keberhasilan Elok diharapkan mampu memberikan pengaruh terhadap kader IPPNU untuk mengukir prestasi.
 
"Kami ucapkan selamat kepada rekanita Elok yang berhasil meraih Juara Harapan 1 pada ajang Pemilihan Mbak Duta Wisata Kabupaten Tegal 2019," ujar Ketua PAC IPPNU Kecamatan Dukuhwaru Ulul Fitria.
 
Ulum yang turut mensuport kadernya itu mengatakan, prestasi ini akan memberikan pandangan kepada masyarakat bahwa IPPNU dan IPNU tidak hanya konsen terhadap ilmu agama, namun juga pengetahuan umum lainnya sesuai dengan tuntutan zaman.
 
"Semoga semangat dan perjuangan Elok bisa menjadi contoh dan inspirasi kader muda NU lain bahwa kader IPPNU bisa melangkah progresif," ungkapnya.
 
Menurut Bupati Tegal Hj Umi Azizah, era digital internet of things 3.0 telah menggeser banyak peran di kehidupan sosial, tak terkecuali duta wisata. 
 
"Untuk itu, dengan smart personality-nya, duta wisata harus mampu berperan sebagai influencer atau pribadi yang  mampu mempengaruhi minat banyak orang untuk datang berkunjung, berwisata ke Kabupaten Tegal," ujarnya.

Hj Umi yang juga Ketua PC Muslimat NU Tegal mengungkapkan, penilaian kandidat duta wisata tidak hanya soal keanggunan fisik ataupun prestasinya semata, tapi juga mengukur kemampuannya sebagai influencer, sebagai public relation yang mampu menepis isu negatif kepariwisataan.
 
"Isi beranda media sosial kalian dengan unggahan foto, video dan ulasan naratif yang membangkitkan minat publik untuk berwisata ke sini", ujarnya.
 
Umi juga mencontohkan kiprah youtuber newbie di bidang kebudayaan yang sedang naik daun, yaitu putra almarhum Ki Enthus Susmono, Haryo. "Meski terbilang baru, subscriber-nya di kanal putra satria laras tembus angka 15 ribu", katanya.
 
Dan duta wisata, imbuh Umi, tidak jauh perannya sebagai content creator, bedanya yang diunggah adalah ajakan untuk berwisata.
 
Untuk diketahui, Pemilihan Mas dan Mbak Duta Wisata Kabupaten Tegal merupakan sebuah kegiatan di bagian kepariwisataan dan kepemudaan yang mengemban misi dalam usaha promosi segala aspek kepemerintahan, tidak terkecuali dalam bidang pariwisata dan kebudayaan di Kabupaten Tegal yang menjadi segmen utama dalam pergerakan langkahnya. (Nurkhasan/Muiz)
Bagikan:

Baca Juga

Ahad 11 Agustus 2019 23:0 WIB
Ikuti Arahan PBNU, NU Maron Purworejo Bungkus Daging Kurban dengan Kertas
Ikuti Arahan PBNU, NU Maron Purworejo Bungkus Daging Kurban dengan Kertas
Daging kurban dibungkus kertas
Purworejo, NU Online
Seperti momen Idul Adha pada ghalibnya, pengurus Mushala Al-Busyro yang berada di Dusun Maron Rt 03/01, Loano, Purworejo, juga melaksanakan penyembelihan dan pembagian kurban dari masyarakat sekitar.
 
Namun, berbeda dari tahun sebelumnya yang membagikan daging kurban menggunakan kantong plastik, kali ini panitia lebih memilih memakai kertas.
 
Pengurus Mushala Al-Busyro yang juga Ketua Ranting NU Maron Kiai Muhammad Faisol Reza mengungkapkan bahwa hal ini dilakukan untuk menindaklanjuti arahan dari PBNU yang mengkampanyekan Kurban Tanpa Kantong Plastik.
 
"Kampanye ini membuktikan bahwa NU tidak hanya peduli pada masalah-masalah ubudiyah-keagamaan seperti shalat, puasa, dan llain-lain. Tetapi NU juga sangat berkomitmen mengusahakan kemaslahatan di tengah-tengah umat lewat berbagai gerakan. Dan salah satunya adalah gerakan peduli lingkungan," terang Kiai muda ini, kepada NU Online, Ahad (11/8).
 
"Kalau kita mau teliti, upaya menjaga lingkungan ini juga bagian dari agama. Mencintai lingkungan adalah sebagian dari iman. Sebagai kader NU saya sangat bangga bisa melaksanakan arahan ini di tingkat terbawah," ungkap Pegawai Negeri Sipil ini menambahkan.
 
Sebelum melaksanakan pembagian daging kurban ke masyarakat, kiai muda yang juga pegiat nubackpacker ini memberikan pemahaman kepada masyarakat terlebih dahulu mengenai bahaya sampah plastik.
 
"Sampah plastik menjadi salah satu penyumbang terbesar pencemaran lingkungan. Jika masih bisa mengusahakan media yang lain dan diniati untuk menjaga lingkungan, hal sederhana ini bisa bernilai ibadah," jelasnya.
 
Maswan, salah satu warga setempat turut mengapresiasi perubahan ini. "Kantong plastik memang jauh lebih mudah dan instan. Tapi beralih pada kertas juga tidak terlalu memberatkan, apalagi tujuannya memang baik," tuturnya.
 
Sebelumnya, seperti diberitakan NU Online (22/7), LPBI PBNU mengampanyekan urban tanpa plastik sebagai bentuk kepedulian terhadap bahaya sampah plastik yang kian hari kian parah.
 
"Kami imbau para penyelenggara kurban untuk tidak perlu lagi mempergunakan kantong plastik atau kresek sebagai wadah daging, tapi menggunakan kemasan-kemasan yang ramah lingkungan. Jadikan Idul Adha sebagai satu momen kebangkitan untuk peduli lingkungan," kata Direktur Bank Sampah Nusantara LPBI PBNU Fitri Aryani di Gedung PBNU, Jakarta Pusat. (Ahmad Naufa/Muiz)
Ahad 11 Agustus 2019 22:0 WIB
Mahasiswa Harus Aktif Membangun Peradaban Bangsa
Mahasiswa Harus Aktif Membangun Peradaban Bangsa
Pelatihan jurnalistik siap pakai PMII Padang Pariaman, Sumbar
Pariaman, NU Online
Aktivitas menulis dan membaca turut membangun peradaban bangsa Indonesia. Karena dengan aktivitas menulis dan membaca dapat melahirkan bahan bacaan yang dapat membangun peradaban bangsa. 

"Mahasiswa sebagai kaum intelektual di kampus harus mampu berperan aktif dalam membangun peradaban bangsa tersebut," ujar Pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Perwakilan Padang Pariaman, Armaidi Tanjung.
 
Demikian diungkapkan Sabtu (10/8) pada Pelatihan Jurnalistik Siap Pakai, di Sekretariat Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Pariaman, Simpang Jagung, Pariaman Selatan, Kota Pariaman. 
 
Menurut Armaidi, aktivitas membaca sesungguhnya merupakan perintah ayat pertama turun yang diterima Nabi Muhammad SAW. dari Malaikat Jibril. "Bacalah", begitu ayat pertama dari surat Al-Alaq turun.
 
"Banyak orang yang menulis sesuatu pada mulanya bertujuan sebagai catatan harian seusai melakukan sesuatu. Seperti menulis pada buku diary. Pada saat menulisnya hanya merupakan keluh kesah yang dihadapi dalam kehidupan keseharian," ungkapnya. 
 
Namun di kemudian hari, catatan harian tersebut menjadi sumber sejarah penting  dan peradaban dari sesuatu komunitas," imbuh Armaidi Tanjung yang juga Kontributor NU Online Sumatera Barat ini.
 
Ditambahkan, bahkan ada sebuah komunitas (suku) yang tidak pernah ditemukan tulisan yang ditinggalkan oleh generasi pendahulunya, sehingga sulit mengetahui sejarah dan peradaban dari suku tersebut.
 
"Jika ingin menghancurkan peradaban sebuah bangsa, maka hancurkan perpustakaannya yang menyimpan banyak buku, dokumen dan bahan bacaan lainnya tentang bangsa tersebut," kata Armaidi.
 
Armaidi juga menyebutkan, kemampuan menulis harus didahului dengan minat baca. Mereka yang tidak berminat membaca, maka akan sulit menulis. Untuk itu, mereka yang ingin menulis harus memaksa dirinya agar mulai rajin membaca. Sediakan waktu untuk membaca setiap hari. Hanya dengan banyak membaca seseorang akan mudah menulis.
 
"Tak ada alasan lagi menumbuhkan minat baca sulit karena susah mendapatkan buku bacaan. Soal buku sekarang sudah banyak terdapat di perpustakaan. Ada perpustakaan di sekolah, kampus, milik Pemerintah Kota Pariaman di pantai Gandoriah, di kantor desa, bahkan perpustakaan keliling. Masalahnya, masih belum banyak yang memanfaatkan secara maksimal," tuturnya.
 
Koordinator Pelatihan Ridho Setia Putra mengatakan, pelatihan  diikuti kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Pariaman, Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kota Pariaman, dan Gerakan Pemuda Ansor Sumbar.
 
Materi yang disampaikan adalah apa alasan menulis, teknik menulis berita, teknik wawancara, dan teknik menulis profil. Pelatihan juga disertai dengan praktek menulis berita sehingga peserta langsung memahami bagaimana menulis sebuah berita.
 
Dikatakan Ridho, pelatihan diharapkan mampu memberikan bekal keterampilan menulis kepada peserta yang mayoritas mahasiswa. "Dengan bekal pengetahuan dari pelatihan Jurnalistik Siap Pakai ini, mudah-mudahan sudah ada peserta yang mampu menulis di media massa nantinya," pungkas Ridho Setia Putra. (Red: Muiz
Ahad 11 Agustus 2019 19:0 WIB
Ketua MWCNU Ledokombo: Makanan Bergizi Tidak Harus Mahal
Ketua MWCNU Ledokombo: Makanan Bergizi Tidak Harus Mahal
Ketua MWCNU Ledokombo Kabupaten Jember, Gus Miftahul Arifin Hasan

Jember, NU Online

Kecerdasan dan kesehatan adalah impian setiap orang. Namun tidak semua orang bisa mendapatkannya. Sebab bagi sebagian orang, untuk mendapatkan hal tersebut dianggap susah. Padahal tidak demikian.

Hal tersebut diungkapkan Ketua MWCNU Ledokombo Kabupaten Jember, Gus Miftahul Arifin Hasan saat memberikan sambutan dalam Workshop dengan tema Kesadaran Pangan Bergizi untuk Anak Muda di aula Laboratorium Otomotif Pondok Pesantren Miftahul Ulum, Desa Suren, Kecamatan Ledokombo, Sabtu (10/8).

Menurutnya, salah satu cara untuk cerdas dan sehat adalah dengan memperhatikan asupan makanan. Dikatakannya, makanan bergizi membuat badan sehat. Jika badan sehat maka secara logika jiwa juga sehat.

Al ’aqlus salim fil jismis salim. Jiwa yang sehat terletak dalam badan yang sehat,” tuturnya seraya menukil Hadits Nabi Muhammad SAW tersebut.

Ia mengingatkan bahwa makanan bergizi tidak harus mahal. Sebab makanan yang murah dan terjangkau juga banyak yang bergizi dan sehat. Sebaliknya, makanan yang mahal terkadang justru tidak sehat, dan bahkan membahayakan kesehatan. Katanya, dalam Islam istilah yang dipakai adalah makanan yang halal dan baik.

“Halal belum tentu baik. Baik belum tentu halal. Jadi kedua-duanya harus dipenuhi untuk dikonsumsi. Dan itulah masuk kategori makanan bergizi,” urainya.

Sementara itu, ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPNU Ledokombo yang sekaligus panitia Workshop, Ustadz Hikam menyatakan bahwa latar belakang digelarnya acara tersebut adalah karena dipicu oleh semakin berkurangnya kesadaran para pelajar terhadap pentingnya mengkonsumsi makanan sehat dan bergizi.

Dikatakan, kecenderungan remaja untuk menghindar dari makanan bergizi, selain disebabkan praduga mahalnya biaya untuk itu, juga karena tidak punya motivasi untuk mencari makanan bergizi dengan biaya murah.

“Maka dari itu sangat penting untuk meningkatkan kesadaran mereka akan arti pentingnya mengkonsumsi makanan bergizi. Lebih dari itu, dalam jangka panjang, kita perlu merangkul forum atau organisasi-organisasi yang mempelopori gerakan-gerakan solutif untuk mengentaskan permasalahan ini,” harapnya.

Acara yang digelar oleh PAC IPNU-IPNU Ledokombo tersebut diikuti oleh 50 peserta, yang merupakan perwakilan pengurus sejumlah pesantren dan para ketua Komisariat IPNU-IPPNU dan lembaga pendidikan di Kecamatan Ledokombo. (Aryudi AR)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG