IMG-LOGO
Risalah Redaksi

Menahan Diri dari Keserakahan Mengeksploitasi Alam

Ahad 11 Agustus 2019 11:0 WIB
Bagikan:
Menahan Diri dari Keserakahan Mengeksploitasi Alam
Ilustrasi
Betapa manusia hari ini sedemikian rakusnya mengeksploitasi alam. Banyak hewan dan tumbuhan punah karena hutan-hutan ditebangi untuk memenuhi nafsu keserakahannya yang tidak ada habis-habisnya. Sesungguhnya, alam telah banyak berkorban untuk manusia. Kini saatnya manusia menahan diri dengan mencukupkan apa yang ada dan melestarikan alam untuk generasi selanjutnya. Itulah pengorbanan penting yang layak kita lakukan saat ini.
 
Umat Islam selama ini terlalu menekankan ibadah yang sifatnya individual seperti menjalankan beragam shalat dan puasa sunnah, membaca Al-Qur’an, doa-doa dalam berbagai aktivitas, dan lainnya. Tetapi ibadah sosial atau dosa sosial kurang mendapatkan penekanan. Betapa kita melihat orang yang rajin beribadah mahdhah, ternyata tanpa merasa bersalah melanggar norma-norma masyarakat. Menyerobot antrean, membuang sampah sembarangan, menerobos lampu lalu lintas, dan lainnya. Dan termasuk di antaranya mengeksploitasi alam. 
 
Ibadah sosial adalah ibadah yang memiliki dampak kebaikan secara langsung kepada masyarakat luas. Demikian pula dosa sosial.  Menjalankan ibadah sosial dan menghindari dosa sosial inilah yang tampaknya perlu ada peningkatan kesadaran. Hal ini mengingat semakin kompleksnya kehidupan masyarakat akibat perkembangan teknologi. Kejadian di satu negara dengan mudah dikabarkan ke seluruh dunia dan mendapat respon dengan cepat dari wilayah lainnya. Perilaku satu orang atau sekelompok manusia bisa dengan cepat ditiru, yang bisa menghasilkan kebaikan atau keburukan.
 
Ibadah kurban setiap bulan Dzulhijjah merupakan salah satu ibadah sosial. Daging kurban yang dibagikan kepada masyarakat akan memberikan kebahagiaan kepada mereka yang selama ini jarang makan daging dan meningkatkan kualitas gizi yang selama ini mereka konsumsi. Tentu saja, ini merupakan hal yang baik, tetapi tidak lagi cukup. Yang perlu mendapatkan perhatian bersama karena memiliki dampak luas dan berpengaruh jangka panjang kepada seluruh kehidupan salah satunya adalah eksploitasi alam. Dampaknya telah kita rasakan sekarang berupa perubahan iklim. Berbagai bencana telah timbul karena hal ini seperti banjir di satu wilayah dan kekeringan berkepanjangan di wilayah lainnya. 
 
Pembukaan lahan-lahan baru yang sebelumnya menjadi habitat hewan liar menyebabkan terancamnya kepunahan hewan dan tumbuhan endemik di daerah tersebut. Macan tutul di Jawa kini menghadapi kepunahan. Gajah berkonflik dengan manusia yang menyerbu daerah yang sebelumnya menjadi tempatnya mencari makan. Kisah-kisah tentang hewan tertentu yang di ambang kepunahan atau yang sudah punah tak ada habisnya. Beberapa mungkin bisa diselamatkan, tetapi sebagian lainnya mungkin hanya soal waktu saja untuk benar-benar musnah dari muka bumi. 
 
Para pemimpin negara berulang kali berunding untuk menyepakati pembatasan emisi karbon. Namun negara-negara besar saling ngotot untuk mempertahankan posisinya demi berjalannya industri dalam negeri mereka. Para politisi ingin tetap berkuasa dengan tetap menjaga pertumbuhan ekonomi negaranya, sekalipun hal tersebut harus mengorbankan udara bersih karena industri yang polutif.
 
Iklim di dunia merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dibatasi oleh teritori politik. Udara bergerak bebas dari satu kawasan ke kawasan lainnya menurut hukum alam. Air laut bergerak dari satu samudera ke samudera lainnya mengikuti sebuah mekanisme yang telah berjalan. Dibutuhkan kerja sama semua pihak untuk saling menjaga alam ini. Pelanggaran yang dilakukan di satu wilayah demi keuntungannya sendiri akan menimbulkan efek kerusakan di seluruh permukaan bumi. 
 
Bahkan, perilaku individual kita patut untuk direfleksikan. Betapa jalanan di Jakarta dan kota-kota besar lainnya dipenuhi oleh mobil-mobil pribadi yang hanya ditumpangi oleh satu atau dua orang, sementara kapasitasnya empat sampai enam orang. Betapa pula banyaknya sampah makanan yang tidak dihabiskan dari pesta-pesta yang diselenggarakan oleh orang-orang kaya, sementara di sisi lain, pemerintah juga kesulitan menyediakan tempat pembuangan dan pemrosesan sampah. 
 
Kelas menengah dengan uang yang dimilikinya merasa berhak membeli apa saja dan memperlakukan sumber daya alam ini sekehendak hatinya. Merasa telah membayar dan kemudian boleh sekehendak hatinya atas barang yang dibelinya. Toh, uang-uangnya sendiri untuk membeli. Dan dengan kekuatan politiknya, menekan para politisi untuk menyediakan dan mempertahankan kenyamanan-kenyamanan yang selama ini mereka nikmati, atau tidak memilihnya lagi. 
 
Ancaman kelestarian alam baru muncul belakangan ini. Penguasaan teknologi mengakibatkan manusia mampu menguasai alam dan mengekploitasinya. Kondisi inilah yang belum ada pada abad ke-6 Masehi ketika Rasulullah hidup. Saat di mana manusia masih sangat tergantung pada alam. Tetapi nafsu dan keserakahan yang menyertai perilaku manusia terhadap alam bisa menghancurkan manusia itu sendiri. Berbagai bencana alam akibat perubahan iklim menjadi salah satu buktinya. Di sinilah ajaran agama memiliki peran menjaga perilaku manusia.
 
Idul Adha, sudah saatnya dimaknai bukan hanya momen berbagi kepada orang-orang yang selama ini terpinggirkan. Berkurban bagi kelompok elit adalah bukan hanya menyembelih hewan kurban, tetapi juga mencukupkan diri atas apa yang mereka nikmati saat ini dengan tidak mengekploitasi alam. Sesungguhnya banyak di antara mereka yang terpinggirkan dan menderita karena keserakahan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok yang menguasai sumber daya ekonomi, politik, pengetahuan atau lainnya membuat mereka tidak berdaya. (Achmad Mukafi Niam)
 
Bagikan:

Baca Juga

Sabtu 3 Agustus 2019 20:45 WIB
Memberi Ruang Kelompok Disabilitas untuk Mengabdi dan Berkreasi
Memberi Ruang Kelompok Disabilitas untuk Mengabdi dan Berkreasi
Ilustrasi dari sampul buku "Fiqih Penguatan Penyandang Disabilitas" terbitan LBM PBNU
Kegagalan drg Romi Syofpa Ismael menjadi PNS di Kabupaten Solok Selatan menjadi perhatian publik dikarenakan kondisinya sebagai penyandang disabilitas, sekalipun ia lulus dengan nilai terbaik dalam ujian tersebut. Kemauannya untuk bersuara mampu menarik perhatian publik sampai akhirnya pemerintah mengembalikan haknya sebagai PNS, tetapi banyak orang dengan kondisi yang sama dengannya tak mampu bersuara. Mereka hanya bisa pasrah menjalani nasib.

Menjadi penyandang disabilitas merupakan tantangan yang berat karena banyaknya tekanan yang harus dihadapi, serta kebijakan dan fasilitas yang kurang mendukung. Apa yang dialami oleh drg Romi hanya sebagian dari masalah yang dialami oleh para penyandang disabilitas. Dengan segala keterbatasannya, mereka harus bersaing dengan orang-orang yang memiliki fisik sempurna. Sementara jumlah ketersediaan pekerjaan yang ada jauh lebih kecil dibandingkan dengan jumlah pelamar. Dengan demikian, jika tidak diberlakukan afirmasi khusus, akan susah bagi para penyandang disabilitas untuk mengakses pekerjaan sesuai dengan keahlian atau ketrampilan yang mereka miliki. Sayangnya, belum banyak yang menyediakan jalur afirmasi ini. 
    
Ketidaksempurnaan fisik pada sebagian orang merupakan bawaan lahir. Namun, ketidaksempurnaan tersebut bisa menjadi pendorong untuk mengukir prestasi dan memberi kontribusi kepada kemajuan ilmu pengetahuan dan perbaikan kehidupan manusia. Banyak kisah inspiratif yang dilakukan oleh mereka, salah satunya adalah kreativitas dari Anjas Pranomo, mahasiswa penyandang disabilitas di Universitas Brawijaya Malang yang mampu menciptakan sejumlah aplikasi yang diperuntukkan bagi kelompok disabilitas. 

Keberadaan penyandang disabilitas sudah ada sejak zaman dahulu. Abdullah ibn Ummi Maktum merupakan sahabat Rasulullah yang sejak lahir mengalami kebutaan. Ia menjadi salah satu muadzin bersama Bilal. Bahkan surat Abasa ayat pertama hingga enam belas diturunkan terkait dengannya. Hal ini menunjukkan adanya perintah untuk memperlakukan mereka dengan sebaik-baiknya.

Nahdlatul Ulama telah membahas masalah disabilitas dalam munas yang berlangsung di Lombok pada tahun 2017. Dalam keputusan tersebut, Islam memandang bahwa semua manusia memiliki kedudukan setara, termasuk para penyandang disabilitas. Yang membedakan manusia satu dengan lainnya adalah tingkat ketakwaannya. 

Dalam Islam, disabilitas dipandang sebagai sebuah ujian, tinggal bagaimana mereka memandang kondisinya. Penyandang disabilitas juga memiliki kewajiban untuk menjalankan ibadah dan memiliki hak atas fasilitas publik, karena itu NU mendorong fasilitas ibadah dan dan fasilitas publik ramah terhadap kebutuhan kelompok disabilitas. 

Kelompok disabilitas menghadapi banyak tantangan berat di Indonesia mengingat banyak fasilitas publik belum memberikan dukungan agar mereka dapat mengakses dengan mudah tanpa bantuan orang lain. Susah sekali bagi mereka untuk pergi dengan transportasi publik seperti bus umum atau kereta. Fasilitas untuk mereka belum tersedia secara komprehensif. Di stasiun atau terminal sudah tersedia kursi khusus untuk kelompok disabilitas tetapi akses untuk menuju tempat ini bukan hal yang mudah. 

Tempat ibadah juga belum ramah bagi penyandang disabilitas. Sebagian besar masjid tampaknya belum menyediakan jalur khusus bagi pengguna kursi roda. Bahkan dikabarkan beberapa masjid menolak pengguna kursi roda masuk di dalamnya karena kekhawatiran lantai masjid terkena najis dari roda-roda yang memutari beragam benda di jalanan.

Akibatnya, banyak penyandang disabilitas yang hanya terdiam di rumah karena lingkungan yang kurang mendukung akses mereka. Mereka menjadi orang yang terlupakan dari masyarakat. Bahkan banyak keluarga yang menganggapnya sebagai sebuah beban. Hal ini tentu saja semakin menambah tekanan psikologis. Mereka adalah makhluk yang membutuhkan dukungan sosial dan mental seperti manusia biasa lainnya. 

Saat ini sudah terdapat kebijakan sekolah inklusi, yaitu menyatukan tempat pendidikan bagi siswa normal dan siswa yang memiliki kebutuhan khusus. Hal ini merupakan sebuah kemajuan yang layak diapresiasi. Namun, masih banyak tantangan yang harus dihadapi seperti ketersediaan guru yang mampu memahami dan mengajar siswa dengan kebutuhan khusus tersebut. Pola pendidikan dengan mengarahkan mereka untuk mandiri sangat penting. Menanamkan nilai bahwa mereka juga mampu mandiri dan melakukan sesuatu yang bermakna. Bukan dengan membuat mereka selalu tergantung kepada pihak lainnya. 

Perilaku masyarakat juga cukup beragam. Ada yang bersedia membantu dengan sukarela tetapi tak jarang, banyak yang cuek atau bahkan menyerobot fasilitas umum yang seharusnya diperuntukkan bagi mereka. Dalam budaya tertentu, perlakuan buruk terhadap disabilitas bisa mengakibatkan kualat. Karena itu, mereka memperlakukan penyandang disabilitas dengan baik. Orang takut keluarga atau keturunannya mengalami hal yang sama. Tetapi keyakinan ini didasarkan pada ketakutan, bukan upaya untuk memberdayakan mereka. 

Menumbuhkan kesadaran bahwa kelompok disabilitas merupakan bagian dari masyarakat kita dan kemudian mendorong serta memfasilitasi mereka untuk berkembang sesuai dengan bakat dan minatnya akan mampu menumbuhkan kepercayaan diri sekaligus membuat mereka mampu mandiri dan berkembang. Sejarah membuktikan, keterbatasan fisik tidak menghalangi mereka untuk berprestasi dan memberi kontribusi yang besar kepada masyarakat dan peradaban dunia. Dengan adanya perkembangan pendidikan, infrastruktur, dan teknologi tentu semakin besar peluang mereka untuk berkreasi. (Achmad Mukafi Niam)
 
Sabtu 27 Juli 2019 17:15 WIB
Sudahkah Masjid Menyumbang Kesejahteraan Umat?
Sudahkah Masjid Menyumbang Kesejahteraan Umat?
Apa pentingnya masjid megah ketika masyarakat di sekitarnya tetap susah? Ilustrasi (Wikipedia)
Seiring dengan peningkatan kemampuan ekonomi dan ghirah beragama umat Islam Indonesia, pembangunan fisik masjid marak di mana-mana. Masjid-masjid lama direnovasi atau diperluas dengan kondisi yang lebih bagus. Pembangunan masjid baru pun berjalan di berbagai lokasi, terutama di daerah-daerah pengembangan pemukiman baru. Bentuk masjid baru juga tidak konvensional berbentuk kubah dan lengkung-lengkung ala tradisi Timur Tengah, tetapi telah berkembang dengan memadukan berbagai unsur budaya yang diolah oleh para arsitek. 

Masyarakat pun sangat bersemangat untuk memberikan sumbangan renovasi atau pendirian masjid ini. Islam mengajarkan bahwa mewakafkan sesuatu untuk kepentingan agama, maka pahalanya akan terus mengalir selama harta wakaf tersebut masih dimanfaatkan. Ongkos pembangunan yang mencapai ratusan juta atau bahkan miliaran rupiah bukan masalah yang terlalu besar.

Sekalipun dibangun dengan megah, sayangnya di banyak masjid jamaah shalatnya sepi. Hanya ramai ketika shalat Jumat atau momen-momen tertentu seperti Idul Fitri atau Idul Adha. Di luar aktivitas ibadah tersebut, masjid layaknya seperti monumen yang dibanggakan karena keindahan dan kemegahannya, tetapi kurang pemanfaatannya. Ratusan juta atau miliaran rupiah yang sudah dikeluarkan oleh para donatur kurang memberikan nilai tambah karena pemanfaatanya yang kurang maksimal karena sehari-hari hanya diisi oleh jamaah yang jumlahnya hanya beberapa shaf.

Pada zaman Rasulullah, masjid menjadi pusat segala aktivitas, dari ibadah, pendidikan, sampai dengan pemerintahan. Seiring perkembangan zaman, masing-masing fungsi memisahkan diri. Pendidikan madrasah membangun gedung sendiri, pemerintahan memiliki kantor sendiri, berbagai ruang pertemuan dan rapat dibangun untuk mengakomodasi beragam kepentingan. Yang tersisa di masjid adalah fungsi sebagai tempat ibadah. Pandangan ini yang diyakini oleh sebagian pengurus masjid. Karena itu, ketika membangun masjid, yang dipikirkan hanyalah sebagai fasilitas untuk ibadah.

Ketika membangun masjid, dari awal penting untuk dipikirkan bagaimana menghidupkan aktivitasnya. Ketika bangunan fisik sudah selesai, maka hal tersebut barulah awal dari beragam aktivitas yang sesungguhnya. Ketika pembangunan masjid selesai, maka donasi bukan berarti selesai. Banyak orang bersemangat untuk membantu pembangunan masjid dengan menyumbangkan semen, bata, besi, dan kebutuhan pembangunan lainnya. Ketika diminta untuk membantu aktivitas dakwah, banyak yang enggan membantu karena tidak ada fisik yang terlihat. Edukasi kepada masyarakat juga penting untuk meningkatkan pemahaman soal pentingnya dukungan untuk menghidupkan aktivitas masjid dalam beragam bentuk, bukan hanya pembangunan fisik saja. 

Ada banyak fungsi yang sebenarnya bisa dikembangkan untuk memaksimalkan keberadaan masjid. Pusat pendidikan masih merupakan hal yang paling memungkinkan. Pengajian rutin yang diselenggarakan dalam waktu tertentu, majelis taklim, raudhatul athfal, dan lainnya akan membuat masjid menjadi hidup dan ramai dengan beragam aktivitas. Pengetahuan keagamaan muslim Indonesia masih dalam taraf dasar. Kunjungan-kunjungan ke situs internet yang mengambil segmen keislaman, termasuk NU Online, menunjukkan bahwa artikel-artikel yang paling sering dibaca adalah artikel dasar-dasar keislaman. Dengan demikian, pengajaran dan pemberian bimbingan materi-materi dasar keislaman merupakan hal yang penting diselenggarakan di masjid.

Anak-anak perlu dikenalkan di masjid. Kenangan indah selama masa kecil di masjid akan menjadi memori kuat untuk terus merasa dekat dengan masjid sampai kapanpun.  Namanya anak-anak, semua hal adalah permainan. Karena itu, mereka tetap perlu diawasi dan diarahkan agar tidak menganggu ibadah. Melarang anak-anak untuk berada di masjid demi alasan ketenangan bukanlah tindakan yang tepat. Memberikan ruang bagi mereka untuk beraktivitas yang edukatif dan menyenangkan merupakan salah satu strategi yang bisa digunakan. Bentuknya bisa disesuaikan dengan lingkungan masing-masing masyarakat.

Dakwah efektif ketika mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. Jangan sampai masjidnya megah, sementara di sekeliling masjid, masyarakat kesulitan memenuhi kebutuhan dasarnya. Jika takmir masjid mampu menjadi pengelola ZIS untuk disalurkan kepada masyarakat sekitarnya, maka keberadaan masjid akan sangat bermakna bagi masyarakat. Konsep masjid hanya meminta sumbangan kepada masyarakat untuk pembangunan saja layak untuk dipikirkan ulang. Buat apa masjid bagus-bagus sementara penduduk sekitarnya miskin. Yang lebih utama adalah bagaimana masyarakat sekitar masjid merasakan keberadaan masjid mampu membantu mengatasi sebagian persoalan kehidupan mereka, baik spiritual, sosial, atau ekonomi.

Agar masjid bisa menjalankan banyak fungsi, tentu saja desain masjid harus tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan ibadah, tetapi juga memberi ruang untuk melaksanakan beragam aktivitas. Ruang-ruang multifungsi yang bisa digunakan untuk banyak aktivitas akan membuat prosesi ibadah tidak terganggu sementara aktivitas lainnya bisa berjalan dengan baik. Pendirian sebuah masjid, tidak lagi hanya memikirkan bahwa ke depannya, masjid hanya difungsikan untuk keperluan shalat, tetapi konsep layanan keislaman yang lebih luas. Untuk masjid yang sudah berdiri lama, maka perlu pengelolanya merancang visi ke depan layanan seperti apa yang akan diberikan kepada jamaah. Harus dipikirkan, bagaimana masjid ini pada 20-30 tahun ke depan, apakah tetap saja seperti sekarang atau sudah mampu memberi layanan yang lebih baik kepada masyarakat dalam berbagai bentuk. 

Potensi-potensi tersebut bisa berjalan dengan baik jika takmir masjid kreatif dalam mengelola masjid. Untuk itu, mereka tidak cukup hanya memahami persoalan-persoalan keagamaan saja, tetapi juga soal manajemen dan pengembangan masjid. Sejumlah masjid berada di lokasi strategis, tetapi kurang maksimal karena takmirnya hanya menjalankan apa yang sudah berlaku sebelum-sebelumnya, padahal inovasi pelayangan sangat penting untuk menarik. Sejumlah masjid menjadi ramai dan hidup sementara lainnya tetap menjalankan aktivitas standard karena perbedaan peran pengelola.

Di sinilah peran strategis asosiasi pengelola masjid seperti Lembaga Takmir Masjid Nahdlatul Ulama (LTMNU), Dewan Masjid Indonesia, atau organisasi ketakmiran masjid yang berada di bawah naungan ormas lainnya. Asosiasi ini dapat menjadi ruang belajar bersama tentang praktik-praktik terbaik pengelolaan masjid, tempat belajar dan berbagi pengalaman, serta membicarakan berbagai hal bagaimana mengembangkan peran masjid. Kini saatnya mengembangkan konsep masjid sebagai pusat kehidupan umat yang melayani beragam kebutuhan keagamaan. (Achmad Mukafi Niam)
 
 
Ahad 21 Juli 2019 15:30 WIB
Pentingnya Posisi Oposisi dalam Pemerintahan
Pentingnya Posisi Oposisi dalam Pemerintahan
Joko Widodo dan Prabowo bersaing sekaligus bersahabat sejak sebelum Pilpres. Ilustrasi: Antara
Proses pembentukan pemerintahan baru terus mengalami kemajuan. Keputusan MK memberi kepastian siapa presiden yang terpilih. Selanjutnya, diikuti pertemuan Jokowi dan Prabowo Subianto. Hal ini membawa angin segar terhadap kondisi perpolitikan nasional yang sempat terbelah akibat pilpres. Dengan pertemuan ini dan pemberian ucapan selamat oleh Prabowo, maka legitimasi presiden terpilih di hadapan rakyat semakin kuat.  

Opini yang beredar di publik adalah soal koalisi pemerintahan yang akan dibentuk. Dalam koalisi ini, maka partai-partai politik akan berbagi peran dalam pemerintahan seperti posisi-posisi kabinet yang akan diisi oleh mereka dan jabatan lainnya. Isu-isu tentang siapa dapat apa dalam pemerintahan berkembang luas. Daftar nama-nama menteri yang akan mengisi kabinet beredar dalam berbagai susunan nama.

Sesungguhnya ada peran lain yang tak kalah pentingnya dalam sebuah pemerintahan, yaitu peran pengawas atau oposisi untuk mengontrol jalannya pemerintahan agar tetap sesuai dengan koridor hukum dan nilai-nilai kebangsaan. Dalam sistem demokrasi, maka ada yang memposisikan sebagai pihak oposisi.

Terdapat adagium yang cukup terkenal terkait dengan kekuasaan, yaitu power tend to corrupt. Yaitu adanya potensi penyalahgunaan kekuasaan. Potensi inilah yang harus diminimalisasi. Dalam banyak hal Indonesia masih menghadapi pekerjaan rumah yang kompleks, salah satunya terkait dengan korupsi. Indeks korupsi Indonesia, sekalipun dari tahun ke tahun menunjukkan perbaikan, tetapi masih dalam posisi yang rendah. Persoalan lain seperti ketimpangan sosial, kualitas pendidikan, HAM, dan lainnya perlu mendapatkan perhatian serius. Kebijakan yang tepat dari pemerintah dalam mengatasi persoalan-persoalan yang sudah berpuluh-puluh tahun ini perlu mendapat masukan dan pengawasan dari pihak oposisi.

Dengan berada dalam jalur kekuasaan, maka terdapat akses kebijakan dan ekonomi yang dinikmati oleh mereka yang duduk di dalamnya. Tetapi di situlah letak ketangguhannya, dengan berani berada dalam posisi pemerintahan. Ini memang berat karena sumber daya untuk menjalankan roda partai berasal dari kekuasaan yang dilakukan dalam berbagai mekanisme.  

Menarik dikaji dengan menengok posisi koalisi dan oposisi dalam pemerintahan. Dalam pemerintahan yang sudah mapan, rata-rata presiden menjabat selama dua kali selama kinerja mereka baik-baik saja. Tetapi pada periode selanjutnya, maka yang terpilih adalah pihak dari oposisi. Hal ini bisa dilihat dari pergantian posisi menjadi pemerintah di Amerika Serikat antara partai Demokrat dan partai Republik. Di Indonesia, ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berkuasa, PDIP memposisikan diri sebagai oposisi. Ketika masa jabatan SBY berakhir, maka calon presiden yang diusung oleh PDIP berhasil memenangkan pertarungan. 

Menjadi oposisi menarik karena menjadi saluran bagi suara-suara yang tidak mendapat ruang dalam pemerintahan. Atau memberi perspektif yang berbeda terkait dengan sebuah kebijakan. Menjadi posisi akhirnya tampak populer di hadapan rakyat sehingga meningkatkan peluang untuk meraih kekuasaan di periode selanjutnya. 

Oposisi menjadi buruk ketika bersikap asal berbeda dengan pemerintah. Mengkritik apa saja kebijakan pemerintah tanpa pandang bulu atau memanfaatkan isu-isu sensitive seperti SARA untuk meningkatkan popularitasnya. Yang cukup berat dihadapi pemerintah terkait dengan oposisi ketika mengeluarkan kebijakan yang tidak populer. Ada hal-hal tertentu di mana kebijakan yang dalam jangka pendek menyengsarakan rakyat tetapi sesungguhnya dalam jangka penjang memberi kebaikan. Hal-hal seperti ini yang menjadi amunisi oposisi untuk menyerang pemerintah dan tampak menjadi pembela rakyat yang militan.

Karena itu, sistem demokrasi yang baik juga tidak dapat hanya mengandalkan keberadaan partai yang menjadi oposisi, tetapi juga tidak pihak lain seperti media yang juga menjadi salah satu pilar demokrasi. Media menjadi saluran suara masyarakat untuk menilai sebuah kebijakan pemerintah. Para ahli dalam bidang tertentu dapat menyuarakan opininya terkait dengan sebuah kebijakan.

Kini, muncul saluran baru untuk menyuarakan aspirasi rakyat, yaitu media sosial. Rakyat dapat menyampaikan suaranya secara langsung melalui media sosial tanpa melalui pihak lain yang memiliki potensi reduksi pesan. Peran ini terbukti cukup vital dalam mempengaruhi kebijakan pemerintah dalam hal tertentu. 

Berbagai saluran yang tersedia ini penting untuk mengatasi kelemahan yang ada di masing-masing saluran. Partai oposisi mungkin saja bertindak subyektif, hanya mengkritik kebijakan pemerintah tetapi diam saja ketika ada keberhasilan pemerintah yang perlu diapresiasi. Media, lebih mungkin untuk menilai secara lebih seimbang antara keberhasilan dan kegagalan, tetapi mereka tidak dapat secara langsung bertindak karena keputusan di parlemen hanya ada di tangan partai politik. Media sosial, mampu mengatasi menyaringan informasi yang dilakukan media tetapi juga menjadi saluran penyebaran hoaks. 

Dalam sebuah negara, masing-masing dari kita adalah aktor dengan berbagai peran dengan tujuan utama untuk mencapai kedamaian dan kesejahteraan rakyat. Masing-masing peran memberikan makna penting bagi kemajuan negara Indonesia. Tak perlu berebut menjadi bagian dari koalisi. Menjadi oposisi merupakan peran yang tak kalah terhormatnya dengan peluang besar untuk  menjadi pemegang kekuasaan di periode selanjutnya. Ini merupakan pelajaran bagi kita semua untuk menjadi sebuah negara yang lebih matang, yang lebih dewasa. (Achmad Mukafi Niam)

 
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG