IMG-LOGO
Nasional

Khutbah Idul Adha, Kiai Said: Al-Qur’an Lestarikan Sejarah Nabi Ibrahim

Ahad 11 Agustus 2019 11:30 WIB
Bagikan:
Khutbah Idul Adha, Kiai Said: Al-Qur’an Lestarikan Sejarah Nabi Ibrahim
KH Said Aqil Siroj, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) saat menyampaikan khutbah Idul Adha di Masjid lingkungan Pondok Pesantren Al-Tsaqafah, Ciganjur, Jakarta Selatan, Ahad (11/8).
Jakarta, NU Online
Nabi Ibrahim adalah sosok Nabi yang dikenal sebagai bapaknya para Nabi. Hal ini bukan tanpa sebab mengingat saking banyaknya Nabi yang merupakan anak cucunya. Sebagai seorang keturunannya dari Nabi Ismail, Nabi Muhammad saw dengan kakeknya itu terpaut jarak ribuan tahun. Tetapi, ia paham akan sejarah kakeknya, meski tidak memiliki kemampuan baca tulis, belajar, apalagi sekolah.
 
“Akan tetapi mendapatkan wahyu Al-Qur’an, beliau mengerti tentang kisah-kisah para nabi,” jelas KH Said Aqil Siroj, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) saat menyampaikan khutbah Idul Adha di Masjid lingkungan Pondok Pesantren Al-Tsaqafah, Ciganjur, Jakarta Selatan, Ahad (11/8).
 
Kiai Said menegaskan bahwa kehadiran Al-Qur’an menginventarisasi berbagai peristiwa penting di zaman dulu sehingga bisa lestari. “Dengan Al-Qur’an, sejarah dunia sejak lahirnya, sejak diciptakannya Adam sampai Nabi Muhammad lahir, sejarah lestari abadi dengan mukjizat Al-Qur'an,” katanya.
 
Secara bahasa, menurutnya, nama Ibrahim terdiri dari dua kata, yakni Ib yang berarti bapak dan Rahim yang berarti umat. Nabi bapaknya umat itu mulanya memiliki seorang istri, yakni Sarah, sepupunya sendiri. Mereka hidup di daerah Babilonia atau saat ini berada di sebelah selatan Baghdad sejauh 10 km.
 
Ketika itu, jelasnya, rajanya diktator dengan mengajak rakyatnya agar menyembah berhala. Bahkan berhala menjadi bisnis dan menghasilkan uang, termasuk ayahandanya Ibrahim yang namanya Azar juga orang yang berbisnis berhala. “Bikin berhala kemudian dijual,” katanya.
 
Akan tetapi, Nabi Ibrahim melalui akalnya yang cerdas, pikiran yang bening nan jernih tidak pernah menyembah berhala. Justru, Nabi Ibrahim menemui aqidah tauhid setelah melalui perjalanan teologi yang penuh keadilan rasional mantiq.
 
“Walaupun lahir di tengah-tengah keluarga masyarakat musyrikin, tapi Nabi Ibrahim dengan akal yang cerdas pikiran yang jernih, hatinya yang bening dan bersih tidak pernah menjadi manusia yang menyembah berhala,” jelas kiai asal Cirebon itu.
 
Nabi Ibrahim pun mencari Tuhan yang sesungguhnya, bukan sekadar batu yang diukir oleh ayahnya. Saat melihat bintang, bulan, hingga matahari, mulanya ia merasa itu secara satu persatu adalah Tuhan sebagaimana yang ia bayangkan. Namun, setelah mereka semua lenyap, ia sadar bahwa Tuhan tidak mungkin menghilang.
 
“Demikian pula seperti bulan dan bintang, matahari pun hilang matahari pun berubah. Maka beliau mengatakan tidak mungkin ini Tuhan dan saya menemukan Tuhan adalah Yang Maha Satu, Yang Esa, Yang Tunggal, yang tidak punya sekutu, dan tidak mungkin berubah,” katanya.
 
Sebab, dalam pemikiran Nabi Ibrahim, yang berubah berarti alam, berarti diciptakan. Jika diciptakan, berarti baru. Jika baru, berarti membutuhkan yang menciptakan. Sementara yang menciptakan tidak boleh berubah, tidak boleh baru, harus tetap langgeng dan lestari.
 
“Alam ini berubah. Setiap yang berubah itu mempunyai sifat baru. Setiap yang baru pasti membutuhkan yang menciptakan. Yang menciptakan tidak boleh berubah, yaitu Allah,” kata Kiai Said.
 
Dari situlah, Nabi Ibrahim as baru menemukan Tuhan sesungguhnya yang menciptakan langit bumi, bintang, bulan, dan matahari. (Syakir NF/Zunus)
 
Bagikan:

Baca Juga

Ahad 11 Agustus 2019 23:30 WIB
Hewan Kurban dari LAZISNU Jangkau Hingga Luar Negeri
Hewan Kurban dari LAZISNU Jangkau Hingga Luar Negeri
Penerimaan hewan kurban oleh PP NU Care-LAZISNU.
Jakarta, NU Online
Ketua Panitia Kurban Pengurus Pusat (PP) NU Care-Lembaga Amil Zakat, Infak dan Sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) tahun ini, Hafidz Ismail, mengatakan pendistribusian program kurban makin meluas. Yakni 15 juta penerima manfaat yang tersebar di 16 provinsi di Indonesia dan di beberapa negara seperti Sudan, Mesir, Tunisia, dan Bosnia.
 
“Alhamdulillah, pendistribusian program kurban tahun ini makin meluas, 15 juta orang di 16 provinsi di Indonesia, yang tidak saja terfokus di Jawa melainkan juga di luarJawa,” katanya, Sabtu (10/8). 
 
Yang menjadi prioritas adalah daerah terdampak bencana seperti di Konawe, Sulawesi Tenggara. Kemudian juga di Wamena. “Bahkan sampai ke Sudan, Mesir, Tunisia dan Bosnia,” jelasHafidz di kantor NU Care-LAZISNU, lantai 2 Gedung PBNU, Jakarta Pusat.
 
Selain itu, lanjutnya, distribusi kurban juga sinergi dengan beberapa lembaga, badan otonom NU dan pesantren yang langsung menyentuh masyarakat.
 
Hafidz juga menyampaikan, penerimaan hewan kurban dating dari berbagai elemen masyarakat. “Mulai dari Presiden RI Joko Widodo, Panglima TNI, Kapolri, kementerian, BUMN, instansi media, perusahan, partai politik, artis, dan masyarakat umum,” jelasnya.
 
PP NU Care-LAZISNU mendapatkan amanah dari Presiden RI Joko Widodo, Panglima TNI Hadi Tjahjanto, Kapolri Tito Karnavian, Kemendikbud, Kemendagri, Menteri Susi Pudjiastuti, BUMN Hutama Karya, MNC Group, Bintang Toedjoe, Telkomsel, partai politik, artis, pengurus PBNU sendiri dan masyarakat umum. 
 
“Kemudian untuk jumlah hewan kurban, sampai saat ini masih kita rekap, karena masih ada hari tasyrik,” papar Wakil Ketua PP NU Care-LAZISNU ini.
 
Masyarakat umum, ungkap Hafidz, mayoritas berkurban di NU Care-LAZISNU dengan mengirimkan dana kurban lewat transfer ke rekening kurban dan juga via market place seperti Tokopedia dan BukaLapak.
 
“Namun ada juga yang langsung dating dan mengisi formulir kurban yang disediakan NU Care-LAZISNU,” terangnya. Kalau presiden, Panglima TNI, Kapolri dan kementerian itu langsung mengirimkan hewan kurbannya untuk didistribusikan kepada yang berhak, lanjutnya.
 
Kemudian untuk teknis pemotongan hewan kurban di PBNU sendiri, kata Hafidz, dilaksanakan Ahad (11/8) seusai shalat Idul Adha.
 
Dirinya mewakili segenap jajaran pengurus dan manajemen PP NU Care-LAZISNU, menyampaikan terima kasih kepada para pekurban atas dukungan dan kontribusinya pada program kurban tahun 2019, dengan tema Nusantara Berqurban.
 
“Kami sampaikan terima kasih kepada  para pekurban. Mudah-mudahan ibadah kurbannya diterima Allah dan memberikan keberkahan pada semuanya,” pungkasnya. (WahyuNoerhadi/Ibnu Nawawi)
 
Ahad 11 Agustus 2019 22:30 WIB
Hikmah di Balik Ibadah Kurban Bagi Umat Islam
Hikmah di Balik Ibadah Kurban Bagi Umat Islam
Pedagang hewan kurban (Independent.co.uk)

Jakarta, NU Online

Pada setiap tanggal 10 Dzulhijjah, umat Islam di seluruh dunia memperingati Hari Raya Idul Adha untuk mengenang kisah teladan Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS. Saat itu, Nabi Ibrahim menerima perintah Allah SWT untuk menyembelih Nabi Ismail sebagai bentuk pengorbanan dan keikhlasan dia menjalankan perintah. Namun itu ternyata hanya ujian karena saat disembelih Nabi Ismail telah diganti dengan seekor kambing.

 

Kini, setiap Idul Adha atau Idul Kurban, setiap Muslim yang mampu wajib berkurban dengan menyembelih hewan. Namun tidak hanya itu, hikmah dari Idul Adha sendiri tidak hanya mengorbankan harta berupa hewan, tetapi hendaknya dijadikan semangat berkorban membuang sifat-sifat jelek dalam diri manusia yaitu kedengkian, fanatisme, egoisme, dan radikalisme untuk mencapai kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik.

 

“Teladan Nabi Ibrahim AS adalah contoh nyata bahwa kita harus berkorban untuk menciptakan negeri yang aman dan sentosa. Juga istri Nabi Ibrahim, Siti Hajar yang rela berkoban bolak-balik dari Safa dan Marwa sehingga ditemukan kenyamanan berupa air zamzam yang sampai sekarang masih bermanfaat. Teladan itu harus kita praktikkan bersama di era sekarang untuk menciptakan kedamaian, ketentreman, dan kesatuan Indonesia,” papar Ketua Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) Prof Ahmad Satori Ismail, di Jakarta.

 

Menurut Satori, pengorbanan itu adalah keharusan untuk mencapai kebahagiaan. Dengan berkurban dan berkorban ini diharapkan bangsa Indonesia bisa menjadi negara yang besar, bersatu padu di tengah perbedaan dan keragaman yang ada.

 

Untuk itulah, lanjut Satori, umat Muslim harus rela berkorban. Pertama harus memberi perhatian serta membantu keluarga, saudara, tetangga yang hidupnya berada di garis kemiskinan. Kemudian yang kedua bagaimana berkorban dengan tujuan mencari ridho Allah demi keutuhan, perdamaian, dan kebangkitan bangsa Indonesia.

 

Satori menjelaskan bahwa menyembelih kambing adalah berkurban sebagai bentuk kepedulian kepada yang tidak punya agar mendapatkan makanan dan gizi yang baik. Tapi berkorban tidak cukup hanya berkorban dengan harta, tapi ada hal-hal dalam jiwa manusia yang harus dikorbankan untuk kebaikan bersama yaitu rasa ego, suka marah, kedengkian, sehingga bisa menjadi orang yang bersih.

 

“Jadi yang dikorbankan itu hal-hal yang jelek dari diri kita, juga hal-hal yang terlalu kita cintai seperti harta. itu wajib dikurbankan untuk saudara kita yang kekurangan kena bencana, tertindas, fakir miskin, dan lain-lain, dalam rangka menciptakan negara yang adil dan makmur,” ungkap Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah itu.

 

Untuk negara dan bangsa, lanjut Satori, berkorban itu dengan menghilangkan fanatisme yang membuat permusuhan, tadabur, juga radikalisme serta keinginan untuk menjahati orang lain seperti yang terjadi pada Pemilu 2019 kemarin.

 

“Hilangkan segala macam perbedaan. Itu sudah berlalu mari kita kembali hidup bersama dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika. Artinya perbedaan dan keragaman bangsa kita, jangan diartikan untuk melemahkan. Justru perbedaan dan keragaman harus bisa mengokohkan sehingga membuat semua menjadi indah dan damai,” tuturnya. (Red: Ahmad Rozali)

 

Ahad 11 Agustus 2019 21:30 WIB
Pemuda yang Menghina Mbah Moen Telah Minta Maaf
Pemuda yang Menghina Mbah Moen Telah Minta Maaf
Penghina Mbah Moen saat menyampaikan permintaan maaf di Kota Malang

Jakarta, NU Online

 

Seorang pemuda bernama Fulvian Daffa Umarela Wafi yang melontarkan kalimat hinaan pada Almarhum KH Maimun Zubair atau Mbah Moen, menyampaikan permintaan maafnya di Kantor PCNU Kota Malang pada Jumat (9/8) malam.

 

Permohonan maafnya secara khurus ia sampaikan pada keluarga besar Mbah Moen, warga NU, dan umat Islam secara umum. Ia meminta maaf atas pernyataannya di facebook beberapa waktu lalu atas kalimatnya yang merendahkan Mbah Moen.

 

“Sehubungan dengan komentar saya pada media sosial Facebook, Rabu (7/8), yang mana komentar saya tidak berkenan pada saat wafatnya KH Maimoen Zubair. Saya menyatakan bukan anggota Muhammadiyah dan organisasi manapun. Demikian ini saya mohon maaf dan sungguh menyesal pada organisasi Muhammadiyah dan NU, keluarga KH Maimin Zubair, keluarga saya dan seluruh umat Islam. Saya bersungguh-sungguh tidak akan mengulanginya lagi," kata Fulvian Daffa Umarela Wafi saat membacakan surat permohonan maafnya, seperti dikutip dari KompasTV  Jumat (9/8).

 

KH Maimoen Zubair merupakan ulama kharismatik yang juga Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Mbah Moen diberitakan wafat saat menunaikan ibadah haji di Makkah, Arab Saudi, Selasa (6/8).

 

Kiai Haji Maimoen Zubair merupakan seorang alim, faqih sekaligus muharrik (penggerak). Selama ini, Kiai Maimoen merupakan rujukan ulama Indonesia, dalam bidang fiqih. Hal ini, karena Kiai Maimoen menguasai secara mendalam ilmu fiqih dan ushul fiqih. Ia merupakan kawan dekat dari Kiai Sahal Mahfudh, yang sama-sama santri kelana di pesantren-pesantren Jawa, sekaligus mendalami ilmu di tanah Hijaz. (Ahmad Rozali)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG