IMG-LOGO
Nasional

Khutbah Idul Adha, Kiai Said Ungkap Tantangan Nabi Ibrahim Menjaga Tauhid


Ahad 11 Agustus 2019 13:00 WIB
Bagikan:
Khutbah Idul Adha, Kiai Said Ungkap Tantangan Nabi Ibrahim Menjaga Tauhid
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siroj, saat menyampaikan pidato Harlah NU di Jakarta, 31/1/2018.
Jakarta, NU Online
Nabi Ibrahim meyakini keesaan Allah swt setelah perjalanan panjang mencari Tuhan yang sesungguhnya. Perjalanan tersebut terasa berat mengingat masyarakat di lingkungan hidupnya menempatkan berhala sebagai sesembahan. Namun, itulah keyakinan. Sebagai seorang hamba yang taat, ia pun mendapatkan tantangan, baik dari luar, maupun dari dalam dirinya.
 
“Orang kalau mendapatkan prinsip kebenaran pasti ada cobaan dan tantangan. Tantangan ada dua, tantangan eksternal dari luar dan tantangan internal dari dalam,” jelas KH Said Aqil Siroj, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), saat menyampaikan khutbah Idul Adha di masjid lingkungan Pesantren Al-Tsaqafah, Ciganjur, Jakarta Selatan, Ahad (11/8).
 
Dari luar, tantangan yang dihadapi adalah pencekalan dan penangkapan oleh raja. Meskipun demikian, ia tetap dalam keyakinannya. Sebelumnya, ia pernah menghancurkan berhala-berhala, kecuali berhala yang besar. Setelah masyarakat mengetahui peristiwa tersebut, mereka mencari pelakunya dan ditemukanlah seorang anak muda yang tidak pernah menyembah berhala dan membenci berhala. Dialah bernama Ibrahim.
Ia pun dimasukkan ke dalam api. Dengan begitu, harapannya Ibrahim terbunuh, mati terpanggang. Nyatanya, Allah menjaganya dengan membuat api itu menjadi dingin dan menyelamatkannya.
 
Kiai Said menegaskan bahwa api itu tidak hanya sekadar dingin, tetapi juga menyelamatkan. Sebab, dalam firman-Nya, Allah memerintahkan api itu untuk dingin dan menyelamatkan. “Bahkan kalau tidak ada kata wasalama, niscaya Nabi Ibrahim mati kedinginan,” jelas alumnus Universitas Umm al-Qura, Arab Saudi itu.
 
Lalu, Nabi Ibrahim pun hijrah bersama keluarganya, termasuk keponakannya, yakni Nabi Luth. Mereka melewati sungai Yordan.
Nabi Ibrahim juga menikah lagi atas izin Allah dengan Siti Hajar. Tidak lama, sembilan bulan punya anak yang diberi nama Ismail. Dalam bahasa Ibrani, Ismail adalah Yismail (dengan pelafalan hamzah pada lafal il). Yisma, katanya, berarti mendengar, sedang il berarti Tuhan. Secara bahasa, Ismail berarti mendengar Tuhan.
 
“Nabi Ibrahim membawa istrinya itu ke arah timur sangat jauh. Sekarang saja, dua jam dari Jeddah ke Tel Aviv naik pesawat,” ujarnya.
 
Baru sebentar tiba, Nabi Ibrahim disuruh meninggalkan Siti Hajar dan Ismail. Tidak lama, lahir pula Nabi Ishaq dari Siti Sarah.
 
Tantangan dari dalam pun tiba. Saat usia Ismail menginjak sembilan tahun, Nabi Ibrahim diminta untuk mengorbankan anaknya itu. Padahal, ia baru saja tiba setelah perjalanan jauh dari Palestina menuju jurang yang kini menjadi Masjidil Haram itu guna melepaskan kerinduannya kepada istri dan anaknya tersebut.
 
“Itu Nabi Ibrahim datang dari Palestin jauh sampailah ke jurang itu menjumpai istri dan anak harus jumpa, sudah, eh di tengah malam tidur, mimpi agar Ibrahim kamu harus berkorban. ‘Korban apa ya Allah?’ ‘Anak kamu disembelih. Korbankan!” katanya.
 
Saat menyampaikan perintah dalam mimpi tersebut, Nabi Ismail dengan tulus dan ikhlas mempersilakan ayahnya untuk menyembelihnya. Tetapi, ia berpesan agar darahnya jangan sampai terkena pakaian ayahnya karena khawatir ibunya mengetahui dan bersedih karenanya.
 
“Laksanakan perintah Allah. Saya akan menjadi orang yang sabar menerima kenyataan,” kata Kiai Said mengungkapkan ucapan Nabi Ismail kepada ayahnya, Nabi Ibrahim.
 
Namun berulang kali dicoba, ternyata alat yang digunakannya terbalik terus-menerus, yang tajam di atas, yang tumpul di bawah. Setelah itu, datanglah Malaikat Jibril as membawa kambing menggantikan Nabi Ismail. “Sekarang Allah menggantinya korban bukan Ismail, anakmu, tetapi dengan kambing gibas. Nabi Ibrahim bertakbir di situ bersyukur kepada Allah yang telah mengganti anaknya dengan kambing,” katanya.
 
Cerita tersebut hanyalah sekelumit perjalanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail mendapatkan ujian. Dari situ, Nabi Ibrahim mendapatkan balasan istri bangsa yang besar. Dari istri pertama, lahir Bani Israil. Zakaria, Isa, Daud alaihimussalam, semuanya merupakan anak cucu Nabi Ibrahim yang menjadi orang besar. Sementara dari istri kedua, lahir bangsa besar, bangsa Arab, Nabi Muhammad saw. (Syakir NF/Zunus)
Bagikan:
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Maulid Akbar dan Doa untuk Keselamatan Bangsa
Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
IMG
IMG