IMG-LOGO
Daerah

Enggan Pulang, Santri Tebuireng Lebih Memilih Bakar Sate

Senin 12 Agustus 2019 1:0 WIB
Bagikan:
Enggan Pulang, Santri Tebuireng Lebih Memilih Bakar Sate
Para santri Pesantren Tebuireng Jombang membakar sate.
Jombang, NU Online
Seperti tahun-tahun sebelumnya, santri Pesantren Tebuireng selalu menjadikan Idul Adha sebagai kesempatan berpesta sate. Hal tersebut karena pesantren yang berada di Jombang, Jawa Timur ini membagikan sebagian daging kurban kepada ribuan santri yang tidak pulang.
 
“Sebenarnya ada kesempatan pulang karena pihak pesantren memberikan waktu libur,” kata Ahmad Nabil Mubarak, Ahad (11/8). 
 
Namun santri yang baru masuk tahun ajaran baru tersebut lebih memilih tidak pulang. “Lebih baik di sini saja lantaran ada pesta sate,” kata santri Muallimin dari Jombang ini. 
 
Kabar tersebut didengarnya dari para ustadz dan santri senior. “Juga solidaritas kepada teman yang rumahnya di luar kota bahkan luar Jawa,” ungkapnya.
 
Memang benar, hari raya Idul Adha demikian semarak di pesantren yang sekarang diasuh KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah tersebut. Ribuan santri secara bergantian membakar daging hewan kurban di sebuah tempat di kawasan pondok. 
Kawasan itu memang dipersiapkan khusus untuk lokasi membakar sate. Saat bakar sate massal, para santri membentuk kelompok dan mengelilingi tungku pembakaran. 
 
“Daging dikirim dari pondok, demikian pula dengan kebutuhan bumbu dan sejeniosnya,” kata Ahmad Shofi, santri yang lain. 
 
Di kesempatan berbeda, Mudzir Pesantren Tebuireng H Lukman Hakim menjelaskan, para santri Tebuireng diberikan kesempatan untuk mengolah daging hewan kurban sesuai keinginannya. Jika ingin menikmati dalam bentuk sate, pihak pesantren menyiapkan segala alat dan kebutuhan, termasuk bumbu yang diperlukan oleh santri. 
 
Menurut H Lukman, dengan mengolah sendiri daging kurban yang diterima melalui kamar masing-masing, para santri diajak untuk saling memperkuat kebersamaan dan solidaritas di antara mereka. 
 
"Penguatan solidaritas, itu salah satu tujuannya. Tapi tujuan yang paling utama adalah untuk meningkatkan kepekaan sosial para santri," katanya kepada sejumlah insan media. 
 
H Lukman juga menjelaskan bahwa acara bakar sate massal untuk santri agar mereka bisa merasakan kebahagiaan atas datangnya hari raya Idul Adha. "Ini sekaligus untuk menghibur para santri,” tegasnya.
 
Tahun ini Pesantren Tebuireng menyembelih 37 ekor sapi, serta ratusan ekor kambing. Hewan kurban tersebut berasal dari wali, santri, serta warga sekitar. Daging dari hewan kurban yang disembelih tersebut juga dibagikan untuk kalangan kurang mampu, panti asuhan, serta para santri. (Ibnu Nawawi)
Bagikan:

Baca Juga

Senin 12 Agustus 2019 23:55 WIB
Rentang Sepekan, PWNU Maluku Tahlilan untuk Mbah Maimoen
Rentang Sepekan, PWNU Maluku Tahlilan untuk Mbah Maimoen
Tahlilan hari ketujuh untuk Mbah Maimoen oleh PWNU Maluku di Negeri Liang, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku.
Jakarta, NU Online
Sejak hari pertama wafatnya Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Maimoen Zubair atau Mbah Moen, Pengurus Wilayah NU (PWNU) Maluku melaksanakan tahlilan dan doa bersama dalam rentang waktu sepekan. Doa bersama diikuti pengurus lembaga, banom, termasuk para aktivis PMII.

Menurut Ketua PWNU Maluku H Karnusa Serang, dalam rentang waktu sepekan tersebut, tahlil dan doa bersama dilakukan pada hari pertama, hari ketiga, dan hari ketujuh. Hal itu untuk mengingatkan kepada warga NU di Maluku akan seorang tokoh yang patut diteladani, baik ilmu, akhlak, dan perilakunya.

“Saya kira Nahdliyin dan bangsa Indonesia merasa kehilangan atas keperdian beliau (Mbah Maimoen), termasuk seluruh warga NU di Provinsi Maluku,” ujar Karnusa kepada NU Online, Senin (12/8) malam.

Dia menerangkan bahwa tahlilan dilakukan di Kantor PWNU Maluku Jalan Jenderal Soedirman No. 25 Batumerah, Kota Ambon di hari pertama dan hari ketiga. Sedangkan tahlilan di hari ketujuh dilaksanakan di rumah Bendahara PWNU Maluku, Soleman Lessy di Negari Liang, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah. Tahlil dan doa bersama itu dipimpin langsung oleh H Karnusa Serang dan Rais Syuriyah PWNU Maluku KH Josan Bugis.

Dalam kesempatan tahlilan hari ketiga, Karnusa menegaskan bahwa Mbah Maimoen adalah ulama besar sekaligus politisi yang memiliki rekam jejak membanggakan dan patut dicontoh oleh para pemangku kebijakan di negeri ini.

Di bidang keulamaan, sambungnya, Kiai Maimoen Zubair memiliki segudang ilmu agama yang mambawa dirinya menjadi Musytasar PBNU sedangkan karir dibidang politik menjadikan dirinya sebagai tokoh berpengaruh bagi perpolitikan bangsa ini.

“Kewibawaannya sebagai ulama mampu membawa PPP tetap lolos ke Senayan meskipun dalam goncangan politik yang luar biasa,” ucap Karnusa.

Dia juga menyebut bahwa Mbah Maimoen memiliki integritas yang luar biasa baik, karena posisi beliau yang juga sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang, Jawa Tengah.

“Karaketernya yang kuat dalam memprakitikan nilai-nilai ke-Islaman-an dalam berpolitik menjadikan beliau sebagai kiai dan sekaligus politisi karismatik. Penampilan inilah yang membuat kita semua mengenang akan masa hidup beliau,” ungkapnya.

Memang kita di Maluku tidak secara langsung betrsentuhan dengan Mbah Maimoen, namun jasa-jasa dan teladannya mampu menembus ruang dan waktu sehingga seluruh warga NU dapat merasakan kharisma Mbah Maimoen.

“Sebagai ulama dan juga politisi, pemikirannya sangat bijak dalam menjaga keberlangsungan NKRI,” terang Karnusa.

“Pikiran dan perilakuknya senantisa selalu menjadi renungan dan suri tauladan bagi kami warga Nahdliyin di Maluku. Doa kita untuk kedua tokoh ini semoga Allah menempatkan keduannya ditempat yang terbaik di sisi Allah,” pungkasnya yang juga turut mendoakan almarhum HM. Sulton Fatoni, Ketua PBNU yang wafat pada Kamis (8/8/2019) lalu. (Fathoni)
Senin 12 Agustus 2019 23:30 WIB
Keluarga Khofifah Serahkan Kurban Sapi ke NU Jatim
Keluarga Khofifah Serahkan Kurban Sapi ke NU Jatim
KH Marzuki Mustamar bersama istri dan PWNU Jatim menerima sapi dari keluarga Khofifah Indar Parawansa.
Surabaya, NU Online
Gubernur Jawa Timur beserta keluarga tahun ini berkurban dan mempercayakan penyembelihan kepada Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jatim. Dan pada Ahad (11/8) hewan berupa sapi diserahkan untuk kemudian disembelih yang dagingnya dibagikan kepada warga sekitar.
 
Penyerahan hewan kurban tersebut dilaksanakan di Masjid Nasional Al- Akbar Surabaya selepas shalat Idul Adha 1440 H. “Ada dua sapi yang diserahkan. Yang pertama untuk masjid di sini, sapi kedua atas nama keluarga Khofifah untuk PWNU Jatim,” kata H Helmy M Noor.
 
Menurut Sekretaris Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya tersebut, hewan kurban yang diamanahkan ke PWNU Jatim diniatkan untuk tujuh keluarganya. Yaitu almagfurlah H Indar Parawansa bin Jalaluddin, Hj Khofifah Indar Parawansa binti Matrai, Fatimahsang binti Indar Parawansa, Jalaluddin Mannagalli bin Indar Parawansa, Yusuf Mannagalli bin Indar Parawansa, Ali Mannagalli bin Indar Parawansa, dan Fadil Wirawan bin Priyanto Hadi Sasono.
 
KH Marzuki Mustamar mengucapkan terima kasih kepada Gubernur Jatim atas kepercayaan tersebut.
 
Ketua PWNU Jawa Timur yang juga langsung memimpin penyembelihan hewan kurban di kantor setempat berharap agar amal yang dipercayakan dapat diterima.
 
"Semoga kurban keluarga Ibu Khofifah diterima oleh Allah SWT. Semoga keluarga diampuni segala kesalahan dan kekhilafannya dan semoga Jawa Timur aman, damai dan sejahtera," kata Kiai Marzuki Mustamar sebelum menyembelih hewan kurban, Senin (12/8).
 
Seperti disampaikan pihak Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya bahwa semua hewan kurban yang ada di masjid tersebut disembelih Senin (12/8) pagi. Pemotongan dan pengemasan daging hewan kurban menerapkan prinsip syari, higienis, dan ramah lingkungan.
 
Untuk pembagian, masjid tidak menyediakan kupon dan langsung dibagikan ke rumah warga di wilayah Pagesangan dan Gayungan.
 
"Distribusi daging kurban langsung ke sasaran melibatkan RT-RW di wilayah Kelurahan Pagesangan dan Kelurahan Gayungan. Tidak ada pembagian daging di Masjid Al-Akbar," ujar H Helmy.
 
Dia mengatakan, penyembelihan dilakukan pada hari kedua Idul Adha agar tidak ada penumpukan daging kurban. Sebab, semua masjid rata-rata menyembelih pada Ahad. Terkait pembagian daging ke masyarakat, Masjid Al Akbar Surabaya tidak menggunakan sistem kupon atau datang langsung ke masjid.
 
Daging kurban akan dibagikan langsung ke rumah-rumah warga bekerja sama dengan RT dan RW di lingkungan sekitar masjid tersebut.
 
Hewan kurban keluarga Khofifah Indar Pawansa berjenis sapi simental dengan berat 1,2 ton. (Rof Maulana/Ibnu Nawawi)
 
Senin 12 Agustus 2019 23:0 WIB
Gelar Kaderisasi, Pelajar NU Lampung Usung Semangat Aktif, Kreatif, dan Inovatif
Gelar Kaderisasi, Pelajar NU Lampung Usung Semangat Aktif, Kreatif, dan  Inovatif
foto: ilustrasi
Lampung Tengah, NU Online
Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlattul Ulama (IPPNU) Kecamatan Bandar Mataram, Kabupaten Lampung Tengah, akan menggelar Masa Kesetiaan Anggota (Makesta), di TPA Nahdlotus Syubban Kampung Uman Agung, Selasa - Kamis (13-15/8). 
 
"Dengan mengusung tema besar IPNU-IPPNU Aktif, Kreatif, dan Inovatif diharapkan Makesta dapat menghasilan generasi unggul di kalangan pelajar NU," ujar Ketua PAC IPPNU Bandar Matara, Deviana Sari.
 
Hal tersebut disampaikan di sela–sela persiapan Makesta di TPA Nahdlotus Syubban Kampung Uman Agung, Kecamatan Bandar Mataram, Senin (12/8) siang.  
 
"Ini adalah agenda proses kaderisasi perdana di kepengursan kami bersama Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPNU Bandar Mataram Agusng Satrio sekaligus kaderisasi momentum menghormati bulan Dzulhijjah 1440 H," tambahnya.
 
Deviana Sari menambahkan, sebagai pelajar NU yang menjadi harapan estafet kepimpinan di masa mendatang, dalam kegiatan ini diharapkan menghasilkan output kader-kader yang memiliki mindset dinamis sekaligus memperkuat akidah Ahlussunnah Waljamaah an-Nahdliyah.
 
Ketua PAC IPNU, Bandar Mataram, Agung Satrio menambahkan, pelajar NU hari ini, selain aktif di bangku madrasah atau pesantren, di zaman modern era 4.0 saat ini dibutuhkan proses pola fikir yang kreatif, maupun inovatif adalah menjadi keharusan dan konsumsi masyarakat yang sangat dibutuhkan untuk selalu berkembang dalam arus globalisasi tanpa harus melupakan tradisi warisan ajaran para ulama dan kiai.
 
"Apalagi, bagi generasi milenial bahkan generasi Z, sudah barang tentu harus lebih berperan aktif dalam segala bidang kehidup sosial budaya di masyarakat," tegasnya. 
 
Harapan besar kami, kader–kader IPNU-IPPNU di wilayah Kecamatan Bandar Mataram, dan sekitarnya,  pascakegiatan ini nantinya dapat menjadi sebuah motor penggerak para pelajar dalam pembangunan bangsa serta agama, terlebih di NU pada saatnya nanti," imbuhnya.
 
Peserta Makesta terdiri dari utusan Pimpinan Komisariat (PK) IPNU–IPPNU se Kecamatan Bandar Mataram. Adapun para pemateri Makesta antara lain PCNU Lampung Tengah, MWCNU Bandar Mataram, PC IPNU-IPPNU Lampung Tengah, dan para alumni IPNU-IPPNU. (Akhmad Syarief Kurniawan/Muiz)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG