IMG-LOGO
Internasional

Gema Islam Nusantara di Universitas Flinders Kota Adelaide Australia

Senin 12 Agustus 2019 8:30 WIB
Bagikan:
Gema Islam Nusantara di Universitas Flinders Kota Adelaide Australia
Kiai M Noor Harisudin (mengenakan surban) di auditorium Oasis Filnders University Adelaide, Australia.
Adelaide, NU Online
Model keberagamaan Islam di satu kawasan harus melihat kondisi masyarakat setempat, termasuk di Australia. Tidak serta merta sama persis dengan Islam di Indonesia atau Arab Saudi. 
 
Demikian disampaikan Kiai M Noor Harisudin saat menjadi narasumber pada seminar Membincang Islam Nusantara. Kegiatan dipusatkan di auditorium Oasis Filnders University Adelaide, Australia, Sabtu (10/8).
 
Kegiatan diselenggarakan Pengurus Cabang Istemewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Australia-New Zealand (ANZ) bekerja sama dengan Kajian Islam Adelaide (KIA) dan Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia (PPIA).
 
Seminar yang dihadiri ratusan warga dan pelajar Indonesia di kawasan tersebut menghadirkan sejumlah narasumber. Di samping M Noor Harisudin, ada Tufel N Musyadad sebagai Ketua PCINU ANZ, Sabilil Muttaqin selaku Katib PCINU ANZ dan Ustadz Rahman al-Makassari (Ketua KIA). 
 
“Kalau saya ditanya bagaimana hukum fikihnya sesuatu di Adelaide, maka saya akan jawab setelah tahu keadaan dan adat istiadat di Adelaide,” kata M Noor Harisuddin.  
 
Urf atau tradisi setempat dalam pandangan  guru besar ushul fiqih di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember, Jawa Timur tersebut sangatlah penting sehingga dijadikan acuan dalam penetapan hukum. 
 
“Kalau tidak, maka seperti kata Ibnu Abidin yang bermadzhab Hanafi, fatwa hukum akan tercerabut dari akar kemaslahatan dan malah bisa membawa kemadlaratan,“ kata kiai muda yang juga Dekan Fakultas Syariah IAIN Jember tersebut.
 
Sebelumnya, Kiai M Noor Harisudin yang juga Ketua Umum Asosiasi Penulis dan Peneliti Islam Nusantara membeberkan pentingnya Islam Nusantara dengan empat argumentasi: 
 
Pertama, bahwa irsalu rasulillah rahmatan lil alamin sesuai dengan QS. Al-Anbiya: 107). “Aspek rahmatan lil alamin menegaskan bahwa Islam adalah agama paripurna yang disebar ke seluruh dunia,” ungkapnya.
 
Sedangkan yang kedua, shalahiyatus syari’ah li kulli zaman wa makan. “Bahwa syariah hendaknya selalu compatable dengan waktu kapan pun dan tempat manapun. Termasuk sesuai dengan Indonesia dan Australia,” ujar Pengasuh Pondok Pesantren Darul Hikam Mangli Kaliwates Jember ini. 
 
Ketiga adalah ijtihaad lihuduutsi al-waqaa’i. “Maksudnya, ijtihad untuk menghadapi berbagai problematika kontemporer,” ungkapnya. 
 
Demikian ini karena seperti kata Ibnu Rusyd yang mengemukakan bahwa an-nushuus mutanaahiyatun wal waqaai’u ghairu mutanaahiyatin. Sehingga setelah Nabi Muhammad SAW wafat, maka keberadaan nash berhenti. Sementara problematika kehidupan terus berjalan dengan dinamis. 
 
“Dalam keadaan ini, ijtihad harus dilakukan. Namun demikian yang berijitihad tidak boleh sembarang orang,” tukas Wakil Ketua Pengurus Wilayah Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama Jawa Timur tersebut.   
 
Untuk aspek keempat adalah ad-dakwah bil hikmah wal mauidlatil hasanah wal mujaadalah bil husna. Yakni dakwah Islam yang mengajak dengan hikmah, pelajaran yang baik dan adu argumentasi sebagaimana pesan QS. An-Nahl: 25. 
 
“Hal ini berbeda dengan hukum yang rigid dan kaku. Kalau dakwah lebih mengutamakan mengajak untuk kebaikan dengan senantiasa memahami keadaan objek dakwah,” urainya.          
 
Bagaimana dengan praktik Islam Australia? Menurut Sekretaris Forum Dekan Fakultas Syariah dan Hukum Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) se-Indonesia ini, bahwa secara subtansi, Islam Australia yang dipraktikkan tidak berbeda dengan Islam Nusantara. 
 
Untuk ibadah mahdhah seperti shalat, puasa, haji, zakat dan ibadah mahdlah lainnya sama. “Hanya karena adanya kesulitan dalam praktik ibadah di sini, maka kita bisa menggunakan pendapat madzhab. Sementara, dalam hal ihwal muamalah, maka hukum Islam sangat fleksibel dan berpotensi menerima perubahan,” pungkasnya. 
 
Filnders University merupakan tiga universitas terbesar di state (propinsi) South Australia selain UniSA (University of  South Australia) dan University of Adelaide. Adelaide sendiri adalah ibu kota state (propinsi) South Australia. (Ibnu Nawawi)
Bagikan:

Baca Juga

Senin 12 Agustus 2019 20:0 WIB
Serangan Israel ke Masjid Al-Aqsha Dinilai Bisa Sulut Ketegangan Agama
Serangan Israel ke Masjid Al-Aqsha Dinilai Bisa Sulut Ketegangan Agama
Bentrokan antara polisi Israel dan jamaah Masjid Al-Aqsha. (Ammar Awad/Reuters)
Yerusalem, NU Online
Pasukan keamanan Israel menyerbu Masjid Al-Aqsha dan menyerang jamaah yang tengah menjalankan Shalat Idul Adha pada Ahad (11/8). Dilaporkan 14 orang mengalami luka-luka akibat dari insiden itu.

Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas mengutuk aksi yang dilakukan pasukan Israel tersebut. Menurut Presiden Palestina, Israel harus bertanggung jawab atas serangan tersebut. Insiden itu dinilai bisa meningkatkan ketegangan di antara dua negara.

“Kita mesti menjadikan pemerintah Israel bertanggung jawab karena polisinya menerobos ke dalam halaman Masjid Al-Aqsha dan menyerang jamaah, yang merupakan provokasi terhadap perasaan umat Muslim dan menjadi bahan bakar buat situasi dan meningkatkan ketegangan yang akan menyeret wilayah ini ke lingkaran kekerasan,” kata juru bicara Presiden Palestina, Nabil Abu Rudeinah, dikutip WAFA, Ahad (11/8).

Presiden Palestina juga mendesak negara-negara Arab dan internasional untuk mencegah dan menghentikan tindakan sewenang-wenang Israel di wilayah Yerusalem, terutama Masjid Al-Aqsha. 

Sementara itu, Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) menyebut, penyerangan Masjid Al-Aqsha oleh pasukan Israel pada Idul Adha merupakan bentuk agresi kejam. Menurut PLO, insiden itu sengaja dirancang untuk menyulut ketegangan politik dan agama di Palestina.

“Serangan Israel ini dan dukungan politis terhadap ekstremisme menyulut sentiment keagamaan dan berpotensi menjerumuskan wilayah ini ke dalam perang sektarian. Tindakan-tindakan itu mencerminkan agenda berbahaya dan tidak bertanggung jawab yang harus dihadapi dengan pengutukan internasional yang tegas dan menyeluruh,” kata pejabat PLO.

Diketahui, polisi Israel menyerang puluhan ribu umat Islam yang sedang menjalankan Shalat Idul Adha di Masjid Al-Aqsha, Kota Tua Yerusalem. Serangan itu terjadi setelah Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu dan pejabat ekstremis sayap-kanan Israel mendesak agar kaum Yahudi fanatik diizinkan tempat suci umat Muslim itu pada hari raya Idul Adha. Untuk itu, polisi Israel menyerang dan mengeluarkan umat Muslim dari Masjid Al-Aqsha. (Red: Muchlishon)
Senin 12 Agustus 2019 18:30 WIB
Delapan Bayi Lahir di Tanah Suci Selama Musim Haji 2019
Delapan Bayi Lahir di Tanah Suci Selama Musim Haji 2019
Ilustrasi bayi (pinterest)
Makkah, NU Online
Kementerian Kesehatan Arab Saudi melaporkan, ada delapan bayi lahir di Tanah Suci selama musim haji tahun ini. Rumah Sakit Ibu dan Anak Makkah mencatat, ada lima kelahiran, dua di Arafah dan satu di Mina.

Bayi-bayi yang dilahirkan di Arafah dilahirkan oleh para jamaah haji yang tengah melaksanakan wukuf pada Sabtu (10/8), hari kedua haji. Namun, tidak diketahui apakah ibu bayi-bayi lainnya juga seorang jamaah haji.

Diberitakan Arab News, Senin (12/8), seorang jamaah haji asal Libya, Suad Mohammed Barbush (40), melahirkan seorang bayi laki-laki di Rumah Sakit Jabal Rahmah. Suad menamai anaknya itu Arafah. Biasanya orang tua setuju anak mereka yang lahir di Gunung Arafah diberi nama Arafah atau Arafat. 

Jamaah haji lain yang juga melahirkan, Maimunah Ali (23), melahirkan di Rumah Sakit Arafat Timur pada Sabtu (10/8) sore waktu setempat. Dia bersalin beberapa jam setelah naik ke Gunung Arafat pada pagi harinya sebagai bagian dari ritual haji. Maimunah dan suaminya, Abu Bakr, menamai anak mereka Mohammed bin Salman. Kondisi ibu dan bayi dinyatakan dalam keadaan stabil. 

Dilaporkan, lebih dari 2,4 juta orang melaksanakan ibadah haji pada tahun ini. Ada lima rukun haji yang harus dilakukan mereka selama menunainakn haji. Pertama, ihram atau berniat ihram. Kedua, wukuf di Padang Arafah. Wukuf dimulai dari waktu Shalat Dzuhur 9 Dzul Hijjah hingga shubuh tanggal 10 Dzul Hijjah. Jamaah memiliki dua pilihan untuk melaksanakan wukuf di Arafah; mereka bisa mengambil waktu siang sampai setelah maghrib, ataupun malam harinya sampai jelang subuh.

Ketiga, Thawaf Ifadhah. Setelah selesai melaksanakan wukuf di Arafah, jamaah haji kemudian menuju Masjidil Haram untuk thawaf ifadhah, mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali. Keempat, berlari-lari kecil (sa’i) dari bukit Shafa dan Marwah, dimulai dari bukit Shafa dan berakhir di bukit Marwah. Kelima, mencukur rambut (tahallul). Rukun haji kelima ini dilaksanakan setelah seluruh rangkaian ibadah haji selesai. Adapun waktunya, sekurang-kurangnya adalah setelah lewat tanggal 10 Dzulhijjah. (Red: Muchlishon)
Senin 12 Agustus 2019 14:0 WIB
Lumpuhkan Tersangka, Seorang Lansia Berhasil Gagalkan Penembakan di Masjid Norwegia
Lumpuhkan Tersangka, Seorang Lansia Berhasil Gagalkan Penembakan di Masjid Norwegia
Masjid Al-Noor Norwegia. (Lefteris Karagiannopoulos/Reuters)
Oslo, NU Online
Penembakan terjadi di Masjid Pusat Dakwah Islam Al-Noor Berum, Nowegia, pada Sabtu (10/8) kemarin. Penembakan bermula ketika seorang laki-laki tidak dikenal membawa senjata dan masuk ke masjid yang terletak di dekat Oslo, ibu kota Norwegia, tersebut. Dia kemudian menembakkan sejumlah tembakan ke arah jamaah.
 
Namun, aksi pria bersenjata tersebut segera berhasil dilumpuhkan Mohamed Rafiq (65). Seorang saksi mata mengungkapkan, Rafiq menyerang pria bersenjata tersebut dan melumpuhkannya –bersama jamaah lainnya- ke lantai sebelum polisi sampai di tempat lokasi. Atas aksi heroiknya itu, Rafiq mengalami luka-luka.  
 
"Saya berterima kasih atas semua bantuan dan dukungan yang telah saya terima," kata Rafiq, dikutip dari Independent, Ahad (11/8).
 
Ia kemudian menceritakan bagaimana dirinya melumpuhkan pria bersenjata tersebut dan jamaah lainnya, Mohamed Iqbal, memukul kepalanya. 
 
“Dia meletakkan jari di mataku, seluruh jari,” kata Rafiq dengan wajahnya masih menunjukkan tanda-tanda bekas perkelahian, kepada Reuters. 
 
Pihak kepolisian Oslo memuji aksi heroik Rafiq yang berani menyerang pelaku penembakan Masjid Al-Noor. Pihak kepolisian mengkonfirmasi bahwa satu-satunya orang yang terluka dalam insiden penembakan di Masjid Al-Noor adalah Rafiq.
 
“Jelas bahwa upaya mereka berhasil mencegah kejadian ini memiliki konsekuensi yang lebih parah,” kata juru bicara kepolisian Oslo, Rune Skjold, seperti dilansir dari Buzzfeed News. 

Dilansir laman Reuters, Ahad (11/8, tersangka penembakan adalah pria muda berkulit putih. Asisten kepala polisi Rune Skjold mengatakan, tersangka membawa beberapa senjata api dan telah mengekspresikan pandangannya yang anti-imigran dan politik kanan.
 
"Kami sedang menyelidiki ini sebagai upaya melakukan aksi terorisme," katanya.
 
Dilaporkan, tersangka diduga telah membunuh salah satu keluarganya. Polisi menyebut, seorang perempuan ditemukan tewas di rumah tersangka.
 
Diketahui, pada saat kejadian penembakan itu hanya ada tiga orang yang berada di Masjid Al-Noor. Juru bicara masjid Waheed Ahmed menejaskan, ketiga orang tersebut tengah mempersiapkan perayaan Hari Raya Idul Adha. (Red: Muchlishon)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG