IMG-LOGO
Nasional

Bappenas Nilai Program Mentan Amran Picu Pertumbuhan Daerah

Senin 12 Agustus 2019 17:45 WIB
Bagikan:
Bappenas Nilai Program Mentan Amran Picu Pertumbuhan Daerah
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman saat menunjukkan alat modern pertanian.
Jakarta, NU Online
Direktur Keuangan Negara dan Analisis Moneter Bappenas, Boediastoeti Ontowirjo menyatakan Bappenas telah melakukan riset terhadap efektivitas belanja kementerian dan lembaga pemerintah terhadap pertumbuhan ekonomi. Dari riset yang dipublikasikan itu hasilnya menyebutkan program Menteri Amran Sulaiman dan Susi Pudjiastuti memacu pertumbuhan daerah.
 
Peningkatan pada belanja barang di kementerian pertanian dinilai  memiliki elastisitas atau daya dongkrak yang lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi, ketimbang belanja modal.
 
"Belanja barang yang dilakukan Kementerian Pertanian yang dipimpin Menteri Amran, merupakan contoh salah satu belanja barang produktif yang memacu pertumbuhan ekonomi, termasuk ekonomi di daerah adalah belanja alat mesin pertanian dan input produksi," kata Boediastoeti. 
 
Menurutnya, setiap peningkatan 1 persen belanja alsintan, akan mendorong 0,33 persen peningkatan subsektor pertanian, peternakan, perburuan, dan jasa pertanian di daerah.
 
"Saya kira, dalam perencanaan ke depan, belanja barang yang produktif dapat menjadi terobosan untuk diterapkan pada banyak kementerian lainnya," katanya. 
 
Dengan demikian, belanja kementerian bisa menjadi lebih berkualitas.
Riset ini menunjukkan bagaimana efektivitas belanja barang terhadap pertumbuhan ekonomi. Salah satunya lewat peningkatan alokasi anggaran pada 2016 hingga 2017, disebutkan belanja modal mengalami peningkatan paling tinggi yaitu sebesar Rp 39,1 triliun, kemudian belanja barang sebesar Rp 31,8 triliun dan belanja pegawai Rp 7,5 triliun. Namun, komponen yang mendorong pertumbuhan ekonomi paling tinggi adalah belanja barang.
Belanja barang mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 0,08 persen, sementara belanja modal hanya mendorong 0,03 persen dan belanja pegawai hanya 0,01 persen. 
 
"Masalahnya, belum semua belanja barang dari pemerintah ini menjadi belanja barang yang produktif," lanjutnya. 
 
Beberapa waktu lalu, Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro turut mengapresiasi upaya Kementerian Pertanian (Kementan) dalam memacu produksi nasional. Bahkan, kata dia, capaian itu mampu melampaui target-target yang telah ditetapkan.
 
"Karena itu, program yang ada harus didukung dan dibuat secara berkelanjutan. Saya melihat banyak sekali capaian pembangunan pertanian yang dilakukan Kementan selama empat setengah tahun terakhir," ujar Bambang. 
 
Bambang mengatakan, capaian itu diantaranya berhasil melakukan pencetakan lahan baru, penambahan lahan pertanian produktif, peningkatan produksi produk pertanian dan pemanfaatan mekanisasi yang terus dijalankan.
 
Maka itu, kata dia, Bappenas akan mempererat kerja sama dan sinergitas berkelanjutan dengan Kementerian Pertanian. Langkah ini perlu dilakukan untuk meningkatkan nilai ekspor bahan mentah maupun olahan makanan.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menjelaskan bahwa pembangunan pertanian yang dilakukan merupakan arahan langsung Presiden Jokowi-Jusuf Kalla.
 
"Capaian ini juga sudah berdasarkan validasi BPS dan BKPM. Kemudian kami juga berhasil menekan inflasi menjadi 1,26 persen. Dan ini adalah sejarah terbaik bangsa kita," katanya.
 
Di samping itu, Amran juga menyampaikan bahwa tingkat kemiskinan pedesaan terus menurun menjadi 13,2 persen di 2018. Nilai Tukar Petani NTP dan nilai usaha tingkat petani NTUP naik menjadi 0,42 persen dan 5,45 persen pada 2018.
 
"NTP dan NTUP meningkat merupakan bukti meningkatnya kesejahteraan petani. Kemudian terkait ekspor, volumenya naik, PDB pertanian juga meningkat dan nilai investasi kita naik hingga 110 persen," katanya.
Untuk diketahui, beberapa program Kementan yang sudah berjalan dengan baik di antaranya program Bekerja, Serasi, Siwab, Rain Harvesting System, Belgian Blue, Integrasi Jagung Sawit, Integrasi Sapi Sawit, serta penggunaan Biodiesel B100 berbahan dasar sawit. (Red-Zunus Muhammad)
Bagikan:

Baca Juga

Senin 12 Agustus 2019 21:30 WIB
Idul Adha, IKA PMII dan Fatayat NU Lebak Kurban Kerbau
Idul Adha, IKA PMII dan Fatayat NU Lebak Kurban Kerbau
Distribusi daging kurban
Lebak, NU Online
Keluarga Besar Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Lebak dan Pimpinan Fatayat NU Kabupaten Lebak menyumbangkan 1 ekor kerbau untuk kurban. Kerbau tersebut telah dipotong pada Idul Adha 1940 H Ahad (11/8) kemarin. Daging kurban itu untuk dikirim ke berbagai tempat terutama kalangan masyarakat yang tidak mampu.
 
Ketua Fatayat Kabupaten lebak, Banten, Siti Nurasiah mengatakan, Fatayat NU dan IKA PMII bekerjasama ikut menyumbangkan berupa seekor kerbau seberat 300 kg dan dagingnya dibagikan kepada warga di sekitar Kalanganyar.
 
"Ada sebanyak 120 kantong daging untuk warga sekitar," ucapnya kepada NU Online, Senin (12/8) siang.
 
Menurutnya, alasan memilih kerbau untuk dipotong pada Idul Adha sebagai wujud kecintaan warga NU terhadap hewan lokal. Sekaligus mempromosikan daging kerbau bahwa kerbau memiliki cita rasa yang tinggi dan mudah ditemui di Kabupaten Lebak.
"Tentu kami berharap keluarga besar NU tetap berada bersama masyarakat dalam segala kondisi," ujarnya.
 
Sebelumnya, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui Lembaga Amil Zakat Infaq Sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) menditribusikan 590 hewan kurban yang terdiri dari 90 sapi dan 500 kambing ke ratusan lokasi mulai dari dalam hingga luar negeri.
 
Wakil Direktur LAZISNU sekaligus Ketua Panitia Kurban, Hafidz Ismail menyatakan, pendistribusian hewan kurban jenis sapi disitribusikan di dalam negeri meliputi sejumlah daerah hingga daerah terluar dan terjauh seperti Papua, Sorong, Wamena, Pontianak, Lombok, Konawe, sejumlah daerah di Sulawesi Selatan, Banyuwangi, Sukabumi dan Cianjur.
 
Sedangkan pendistribusian ke luar negeri dilakukan ke sejumlah negara berbasis negara Islam seperti Mesir, Sudan, Bosnia, Maroko, dan Tunisia. 
 
"Selain didistribusikan oleh LAZISNU dari Jakarta, ada pula beberapa Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama sejumlah negara yang mengelola sendiri hewan kurbannya antara lain Taiwan, Belanda, Hongkong, Korea Selatan, dan Malaysia," tandasnya.
 
Hewan kurban jenis kambing yang berjumlah sekitar 500 ekor dibagikan berbagai pesantren, majelis ta'lim dan Pengurus NU level provinsi, kota hingga ranting.
 
"Donatur hewan qurban terdiri dari beberapa unsur, mulai dari pemerintah hingga pengusaha. Kalau untuk kurban sapi itu total sekitar 90. Dari jumlah itu, cuma yang disembelih di PBNU itu ada 6 ekor. Sapi berasal dari Presiden Jokowi, Menteri Kelautan Susi Pudjiastuti, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Kapolri Tito Karnavian, H Djan Faridz, dan Bintang Toedjoh," kata Hafidz Ismail, di kantor PBNU, Jakarta, Ahad (11/8) kemarin.
 
Hafidz Ismail juga menyampaikan bahwa masyarakat semakin mempercayai LAZISNU sebagai lembaga yang menyalurkan hewan kurban. Hal itu tampak dari meningkatnya jumlah hewan kurban yang disalurkan oleh LAZISNU yang mencapai tiga kali lipat dari tahun sebelumnya yang berjumlah sekitar 213 hewan kurban.
 
Daging kurban di PBNU dibagikan pada seribu mustahik melalui seribu kupon yang telah dibagikan. "Harapannya mudah-mudahan menjadi satu manfaat yang dirasakan saudara-saudara kita yang kurang mampu, dan menjadi amal baik buat para donatur semuanya," katanya. (Abdul Rahman Ahdori/Muiz)
Senin 12 Agustus 2019 21:0 WIB
Gus Rozin: Saatnya Pesantren Jadi Mitra Strategis Pemerintah
Gus Rozin: Saatnya Pesantren Jadi Mitra Strategis Pemerintah
Ketua RMI PBNU, Gus Rozin (tengah)
Pati, NU Online
Pengelolaan pondok pesantren (ponpes) harus diupayakan untuk ditingkatkan kualitas manajemennya agar supaya bisa tertib administrasi. 
 
"Data-data pesantren itu penting untuk digarap agar bisa dijadikan rujukan oleh publik ataupun lembaga dan pemerintah, jika sewatu-waktu pemerintah membutuhkan untuk pengembangan pesantren," ujarnya.
 
Hal itu disampaikan dalam acara Silaturrahim Pengasuh Pondok Pesantren se-Kabupaten Pati, Jawa Tengah di Pesantren Roudloh Ath-Thohiriyah, Kajen, Pati, Sabtu (10/08).
 
Gus Rozin menekankan kepada para pengasuh pesantren untuk mulai mematangkan data yang meliputi luas tanah dan bangunan, jumlah santri dan ustadz hingga aset yang dimiliki pesantren. 
 
Menurutnya, hal itu harus dilakukan tanpa harus mengenyampingkan kewajiban mendidik santri mengenai agama. “Pentingnya data dan akuntabilitasnya dan harus diperbaharui secara berkala dan perlu terus dimatangkan dengan tidak mengenyampingkan tafaqquh fiddin,” ujarnya.
 
Selanjutnya, Gus Rozin juga menyampaikan regulasi yang berkembang saat ini harus dimanfaatkan oleh pesantren dengan sebaik mungkin. Keberpihakan pemerintah RI terhadap pesantren yang kian nyata harus diimbangi oleh kesiapan pesantren dalam hal pertanggungjawaban dan administrasi.
 
“Ini saatnya bagi pesantren untuk bisa menjadi partnership dari pemerintah. Bukan lagi lembaga yang sekadar mendompleng pemerintah. Untuk itu harus matang secara data dan administrasinya,” papar Gus Rozin.
 
Kasi PD Pontren Kemenag Kabupaten Pati Muhammad Muhadi mengatakan bahwa selain administrasi, pesantren juga harus menyiapkan santrinya untuk bisa memilah dan memilih informasi. 
 
Ia menganjurkan kepada para pengasuh pesantren di forum tersebut agar turut memanfaatkan media sosial sebagai ladang dakwah. “Sebab jika itu tidak digarap apalagi ditinggalkan, maka kemungkinan pesantren itu akan tergilas sebab semuanya sudah melalui sistem komputasi dan database,” jelas Muhadi.
 
Pengasuh Pesantren Mansajul Ulum Cebolek Margoyoso, Pati Kiai Liwa’uddin Najib menyambut baik paparan dari RMI PBNU ini. Menurutnya, RMI memang sudah semestinya menjadi jembatan antara pesantren dan pemerintah agar bisa sinergi dalam mencetak generasi santri yang unggul.
 
“RMI memang harus menjadi wadah yang menyediakan update informasi mengenai regulasi dan program pemerintah mengenai pesantren. Ini penting agar pesantren bisa semakin maju dan tidak tergilas zaman,” tuturnya.
 
Hadir dalam acara ini Ketua Rabithah Ma’had al-Islamiyah (RMI) PBNU KH. Abdul Ghofar Rozin (Gus Rozin), Rais PCNU Pati KH. M. Aniq Muhammadun, Kasi PD Pontren Kemenag Kabupaten Pati Muhammad Muhadi dan para pengasuh ponpes se-Kabupaten Pati. (Farid/Muiz)
Senin 12 Agustus 2019 19:0 WIB
NU Care-LAZISNU Terima Kurban dari Presiden hingga Artis
NU Care-LAZISNU Terima Kurban dari Presiden hingga Artis
Panitia Kurban PP NU Care-LAZISNU di depan PBNU.
Jakarta, NU Online
Ketua NU Care-Lembaga Amil Zakat, Infak dan Sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU), Achmad Sudrajat melaporkan pendistribusian hewan kurban tahun 2019 menyasar 16 provinsi di Indonesia, khususnya daerah terdampak bencana dan kebeberapa negara berbasis Islam yang memiliki hubungan dekat dengan Nahdlatul Ulama.
 
“Alhamdulillah tahun ini kita bersama bisa mendistribusikan hewan kurban ke beberapa wilayah, yakni 16 provinsi Indonesia, khususnya ke daerah terdampak bencana seperti di Konawe Sulawesi Tenggara, Lombok NTB. Selain itu didistribusikan juga ke beberapa negara yang memiliki hubungan dekat dengan NU seperti Mesir, Sudan, Maroko, Tunisia, dan Bosnia,” papar Sudrajat, di sela pelaksanaan penyembelihan hewan kurban di PBNU, Jakarta Pusat, Ahad (11/08).
 
Pria yang karib disapa Ajat ini juga menyampaikan jumlah sementara penerimaan hewan kurban di Pengurus Pusat (PP) NU Care-LAZISNU yakni 500 kambing dan 90 sapi.
 
Ada sekitar 500 kambing yang diterima, serta lebih dari 90 sapi, yang dalam hal ini masih jumlah sementara. Karena masih ada hari tasyrik. Secara nasional hewan kurban yang diterima NU Care-LAZISNU se-Indonesia sekitar 3526 hewan kurban, baik kambing maupun sapi.
 
"Seperti yang saya sampaikan tadi, disalurkan keluar negeri dan daerah terdampak bencana, juga pesantren, majelis taklim, dan ranting-ranting NU. Target nasional kami menyentuh angka 15 juta penerima manfaat,” jelas Ajat.
 
Dirinya menyampaikan terima kasih kepada para pekurban atas dukungan dan kontribusinya pada program kurban tahun 2019, dengan tema Nusantara Berqurban.
 
“Terima kasih kepada bapak-bapak dan ibu-ibu, para pekurban yang menyalurkan kurbannya melalui NU Care-LAZISNU, untuk kami hantarkan amanahnya kepada saudara-saudara yang berhak menerimanya. Insyaallah, ibadah kurbannya diterima Allah SWT dan memberikan keberkahan pada semuanya,” ucapnya
 
Sementara itu Ketua Panitia Kurban PP NU Care-LAZISNU, Hafidz Ismail, mengatakan penerimaan hewan kurban datang dari berbagai elemen masyarakat, mulai dari Presiden RI Joko Widodo, Panglima TNI, Kapolri, kementerian, BUMN, instansi media, perusahan, partai politik, artis, dan masyarakat umum.
 
PP NU Care-LAZISNU alhamdulillah mendapatkan amanah dari Presiden RI Bapak Joko Widodo, Panglima TNI HadiTjahjanto, Kapolri Tito Karnavian, Kemendikbud, Menteri Susi Pudjiastuti, Mendagri Tjahjo Kumolo, Menhub Budi Karya, BUMN Hutama Karya, MNC Group, BintangToedjoe, Telkomsel, partai politik, artis Deddy Corbuzier, pengurus PBNU sendiri dan masyarakat umum.
 
Pada pelaksanaan penyembelihan hewan kurban di PBNU, kata Wakil Ketua PP NU Care-LAZISNU ini, hadir petugas kesehatan dari Kementan untuk mengecek kesehatan hewan dan daging kurban.
 
“Panitia kurban, alhamdulillah, kedatangan petugas kesehatan dari Kementan, untuk melihat daging yang layak konsumsi dan tidak layak konsumsi. Yang tidak layak tentu saja kita apkir, tidak kita salurkan ke masyarakat. Tujuannya tentu untuk kesehatan masyarakat, penerima daging kurban,” ujarnya.
 
Hafidz menambahkan, bahwa pembagian daging kurban kepada masyarakat tidak menggunakan kantong plastik melainkan menggunakan kantong ramah lingkungan yaitu telo bag.
 
“Kita tidak pakai plastik. Kita gunakan telo bag. Kantong ramah lingkungan yang terbuat dari paduan tepung singkong dan minyak nabati, yang tentunya lebih cepat terurai,” pungkasnya. (Wahyu Noerhadi/Ibnu Nawawi)
 
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG