IMG-LOGO
Daerah

Atasi Sampah, Wali Kota Pekalongan Gandeng Ulama

Senin 12 Agustus 2019 20:30 WIB
Bagikan:
Atasi Sampah, Wali Kota Pekalongan Gandeng Ulama
Wali ota Pekalongan, HM Saelany Mahfudz (berdiri)
Pekalongan, NU Online
Permasalahan sampah di Kota Pekalongan, Jawa Tengah menjadi salah satu fokus penyelesaian oleh Pemkot Pekalongan. Sebab menurut estimasi data sampah oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH), masih ada sebanyak 17,5 ton sampah per hari yang belum tertangani karena dibuang tidak pada tempatnya tapi dibuang di sungai, saluran, maupun di lahan kosong.
 
Atas kondisi tersebut, Wali Kota Pekalongan, HM Saelany Machfudz menyatakan bahwa kondisi sampah sudah dalam kategori gawat. Sehingga pihaknya kemudian menggelar FGD terkait sampah dan limbah cair. 
 
“Kami sangat prihatin terhadap sampah di Kota Pekalongan. Saya melihat masih banyak masyarakat buang sampah sembarangan, di sungai dan tepi jalan yang bukan pada tempatnya," ujarnya.
 
Hal tersebut disampaikan di hadapan  tokoh masyarakat, ulama yakni kiai dan ustadz, serta FKUB, sebagai salah satu upaya mengajak mereka untuk turut memberikan sosialisasi kepada masyarakat agar turut memperhatikan permasalahan tersebut pada Jumat (9/8) malam di Guest House Wali Kota.
 
"Mudah-mudahan atas dakwahnya ke masyarakat juga dapat menyertakan misi kebersihan ini dapat mnyadarkan masyarakat agar tidak buang sampah sembarangan,” tutur Walikota.
 
Wali Kota berharap, para ulama dapat terus menyuarakan gotong royong dalam penanganan sampah dalam setiap pesan dakwahnya. Diharapkan melalui gotong royong masalah sampah dapat ditangani bersama.
 
Untuk sampah di sungai, Wali Kota menyatakan juga telah merencanakan untuk menambah jumlah perahu dan petugas pembersih sampah di sungai. Dengan perahu-perahu kecil, maka petugas dapat terus bergantian mengambil sampah dan melakukan pengawasan secara rutin mulai dari muara pantai hingga ke Kuripan.
 
“Selanjutnya, ketika sungai sudah diawasi secara baik dan bersih maka kami akan awasi pembuang sampah di sungai. Bahkan kami juga akan siapkan sanksi bagi mereka yang melanggar. Ini sudah kami minta buat Perwalnya sebagai implementasi aturan yang sudah ada sebelumnya yakni Perda. Semoga bisa direalisasikan sesegera mungkin,” jelas Wali Kota.
 
Pemkot juga akan kembali menggerakkan kegiatan kebersihan di tingkat RW secara serentak pada hari tertentu. Bahkan dia menegaskan akan turun secara langsung memantau kegiatan tersebut. 
 
“Saya akan keliling pakai kendaraan ke RW-RW. Akan kami sambangi semua untuk melihat bagaimana pergerakan penanganan sampah. Paling tidak pada Desember nanti Kota Pekalongan benar-benar sudah bersih,” katanya.
 
Wali Kota berpesan dan meminta kepada ulama dan tokoh agama untuk terus menyampaikan permasalahan penanganan sampah dan kebersihan kepada masyarakat. 
 
“Kami berpesan kepada para ulama dan tokoh masyarakat, tolong dalam menyampaikan pengajian di semua lini untuk terus menyertakan sosialisasi masalah penanganan sampah dan masalah narkoba sebagai salah satu materi,” pesannya.
 
Selain sampah rumah tangga, permasalahan limbah cair di lima sungai di Kota Pekalongan juga masih terjadi. Hal itu dikarenakan dua hal yakni limbah kiriman dan perilaku masyarakat sendiri yang masih membuang limbah tanpa diolah ke sungai. 
 
"Posisi Kota Pekalongan yang ada di hilir, membuat sungai di sini menjadi tempat kiriman limbah maupun sampah dari daerah di hulu. Terkait masalah itu, Pemkot Pekalongan sudah melakukan MoU dengan dua daerah yakni Kabupaten Pekalongan dan Batang untuk menyelesaikan permasalahan tersebut,” katanya.
 
Menanggapi masalah yang sudah dipaparkan, salah satu pesert FGD, H Ahmad Suyuti dari Tegalrejo mengaku terenyuh dan ingin segera menunjukkan pastisipasi dan kepeduliannya dalam menangani permasalah sampah.
 
“Saya apresiasi cara Pak Wali untuk menangai masalah sampah di sungai. Saya juga punya ide itu, karena di pikiran saya sederhana saja, rekrut petugas dan lengkapi alatnya sehingga bisa jadi solusi,” tuturnya.
 
Ketua Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Kota Pekalongan, H Ahmad Marzuki kepada NU Online, Senin (12/8) mengatakan, secara khusus melihat kebersihan keluarga sebagai salah satu upaya yang bisa didorong. 
 
Marzuki yang juga mantan Ketua PCNU Kota Pekalongan menyarankan, agar armada sampah dapat diperbanyak dan mengakses hingga ke dalam kampung. 
 
“Sebab saya lihat di gang 3 Kradenan, tempat saya tinggal, masyarakat bingung harus buang kemana. Armada nantinya bisa koordinasi dengan RT RW atau kalau perlu mereka punya data masyarakat buang sampah ke mana. Saya juga akan minta betul-betul agar RT dan RW bisa bergerak,” pungkasnya.(Muiz)
Bagikan:

Baca Juga

Senin 12 Agustus 2019 23:55 WIB
Rentang Sepekan, PWNU Maluku Tahlilan untuk Mbah Maimoen
Rentang Sepekan, PWNU Maluku Tahlilan untuk Mbah Maimoen
Tahlilan hari ketujuh untuk Mbah Maimoen oleh PWNU Maluku di Negeri Liang, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku.
Jakarta, NU Online
Sejak hari pertama wafatnya Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Maimoen Zubair atau Mbah Moen, Pengurus Wilayah NU (PWNU) Maluku melaksanakan tahlilan dan doa bersama dalam rentang waktu sepekan. Doa bersama diikuti pengurus lembaga, banom, termasuk para aktivis PMII.

Menurut Ketua PWNU Maluku H Karnusa Serang, dalam rentang waktu sepekan tersebut, tahlil dan doa bersama dilakukan pada hari pertama, hari ketiga, dan hari ketujuh. Hal itu untuk mengingatkan kepada warga NU di Maluku akan seorang tokoh yang patut diteladani, baik ilmu, akhlak, dan perilakunya.

“Saya kira Nahdliyin dan bangsa Indonesia merasa kehilangan atas keperdian beliau (Mbah Maimoen), termasuk seluruh warga NU di Provinsi Maluku,” ujar Karnusa kepada NU Online, Senin (12/8) malam.

Dia menerangkan bahwa tahlilan dilakukan di Kantor PWNU Maluku Jalan Jenderal Soedirman No. 25 Batumerah, Kota Ambon di hari pertama dan hari ketiga. Sedangkan tahlilan di hari ketujuh dilaksanakan di rumah Bendahara PWNU Maluku, Soleman Lessy di Negari Liang, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah. Tahlil dan doa bersama itu dipimpin langsung oleh H Karnusa Serang dan Rais Syuriyah PWNU Maluku KH Josan Bugis.

Dalam kesempatan tahlilan hari ketiga, Karnusa menegaskan bahwa Mbah Maimoen adalah ulama besar sekaligus politisi yang memiliki rekam jejak membanggakan dan patut dicontoh oleh para pemangku kebijakan di negeri ini.

Di bidang keulamaan, sambungnya, Kiai Maimoen Zubair memiliki segudang ilmu agama yang mambawa dirinya menjadi Musytasar PBNU sedangkan karir dibidang politik menjadikan dirinya sebagai tokoh berpengaruh bagi perpolitikan bangsa ini.

“Kewibawaannya sebagai ulama mampu membawa PPP tetap lolos ke Senayan meskipun dalam goncangan politik yang luar biasa,” ucap Karnusa.

Dia juga menyebut bahwa Mbah Maimoen memiliki integritas yang luar biasa baik, karena posisi beliau yang juga sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang, Jawa Tengah.

“Karaketernya yang kuat dalam memprakitikan nilai-nilai ke-Islaman-an dalam berpolitik menjadikan beliau sebagai kiai dan sekaligus politisi karismatik. Penampilan inilah yang membuat kita semua mengenang akan masa hidup beliau,” ungkapnya.

Memang kita di Maluku tidak secara langsung betrsentuhan dengan Mbah Maimoen, namun jasa-jasa dan teladannya mampu menembus ruang dan waktu sehingga seluruh warga NU dapat merasakan kharisma Mbah Maimoen.

“Sebagai ulama dan juga politisi, pemikirannya sangat bijak dalam menjaga keberlangsungan NKRI,” terang Karnusa.

“Pikiran dan perilakuknya senantisa selalu menjadi renungan dan suri tauladan bagi kami warga Nahdliyin di Maluku. Doa kita untuk kedua tokoh ini semoga Allah menempatkan keduannya ditempat yang terbaik di sisi Allah,” pungkasnya yang juga turut mendoakan almarhum HM. Sulton Fatoni, Ketua PBNU yang wafat pada Kamis (8/8/2019) lalu. (Fathoni)
Senin 12 Agustus 2019 23:30 WIB
Keluarga Khofifah Serahkan Kurban Sapi ke NU Jatim
Keluarga Khofifah Serahkan Kurban Sapi ke NU Jatim
KH Marzuki Mustamar bersama istri dan PWNU Jatim menerima sapi dari keluarga Khofifah Indar Parawansa.
Surabaya, NU Online
Gubernur Jawa Timur beserta keluarga tahun ini berkurban dan mempercayakan penyembelihan kepada Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jatim. Dan pada Ahad (11/8) hewan berupa sapi diserahkan untuk kemudian disembelih yang dagingnya dibagikan kepada warga sekitar.
 
Penyerahan hewan kurban tersebut dilaksanakan di Masjid Nasional Al- Akbar Surabaya selepas shalat Idul Adha 1440 H. “Ada dua sapi yang diserahkan. Yang pertama untuk masjid di sini, sapi kedua atas nama keluarga Khofifah untuk PWNU Jatim,” kata H Helmy M Noor.
 
Menurut Sekretaris Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya tersebut, hewan kurban yang diamanahkan ke PWNU Jatim diniatkan untuk tujuh keluarganya. Yaitu almagfurlah H Indar Parawansa bin Jalaluddin, Hj Khofifah Indar Parawansa binti Matrai, Fatimahsang binti Indar Parawansa, Jalaluddin Mannagalli bin Indar Parawansa, Yusuf Mannagalli bin Indar Parawansa, Ali Mannagalli bin Indar Parawansa, dan Fadil Wirawan bin Priyanto Hadi Sasono.
 
KH Marzuki Mustamar mengucapkan terima kasih kepada Gubernur Jatim atas kepercayaan tersebut.
 
Ketua PWNU Jawa Timur yang juga langsung memimpin penyembelihan hewan kurban di kantor setempat berharap agar amal yang dipercayakan dapat diterima.
 
"Semoga kurban keluarga Ibu Khofifah diterima oleh Allah SWT. Semoga keluarga diampuni segala kesalahan dan kekhilafannya dan semoga Jawa Timur aman, damai dan sejahtera," kata Kiai Marzuki Mustamar sebelum menyembelih hewan kurban, Senin (12/8).
 
Seperti disampaikan pihak Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya bahwa semua hewan kurban yang ada di masjid tersebut disembelih Senin (12/8) pagi. Pemotongan dan pengemasan daging hewan kurban menerapkan prinsip syari, higienis, dan ramah lingkungan.
 
Untuk pembagian, masjid tidak menyediakan kupon dan langsung dibagikan ke rumah warga di wilayah Pagesangan dan Gayungan.
 
"Distribusi daging kurban langsung ke sasaran melibatkan RT-RW di wilayah Kelurahan Pagesangan dan Kelurahan Gayungan. Tidak ada pembagian daging di Masjid Al-Akbar," ujar H Helmy.
 
Dia mengatakan, penyembelihan dilakukan pada hari kedua Idul Adha agar tidak ada penumpukan daging kurban. Sebab, semua masjid rata-rata menyembelih pada Ahad. Terkait pembagian daging ke masyarakat, Masjid Al Akbar Surabaya tidak menggunakan sistem kupon atau datang langsung ke masjid.
 
Daging kurban akan dibagikan langsung ke rumah-rumah warga bekerja sama dengan RT dan RW di lingkungan sekitar masjid tersebut.
 
Hewan kurban keluarga Khofifah Indar Pawansa berjenis sapi simental dengan berat 1,2 ton. (Rof Maulana/Ibnu Nawawi)
 
Senin 12 Agustus 2019 23:0 WIB
Gelar Kaderisasi, Pelajar NU Lampung Usung Semangat Aktif, Kreatif, dan Inovatif
Gelar Kaderisasi, Pelajar NU Lampung Usung Semangat Aktif, Kreatif, dan  Inovatif
foto: ilustrasi
Lampung Tengah, NU Online
Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlattul Ulama (IPPNU) Kecamatan Bandar Mataram, Kabupaten Lampung Tengah, akan menggelar Masa Kesetiaan Anggota (Makesta), di TPA Nahdlotus Syubban Kampung Uman Agung, Selasa - Kamis (13-15/8). 
 
"Dengan mengusung tema besar IPNU-IPPNU Aktif, Kreatif, dan Inovatif diharapkan Makesta dapat menghasilan generasi unggul di kalangan pelajar NU," ujar Ketua PAC IPPNU Bandar Matara, Deviana Sari.
 
Hal tersebut disampaikan di sela–sela persiapan Makesta di TPA Nahdlotus Syubban Kampung Uman Agung, Kecamatan Bandar Mataram, Senin (12/8) siang.  
 
"Ini adalah agenda proses kaderisasi perdana di kepengursan kami bersama Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPNU Bandar Mataram Agusng Satrio sekaligus kaderisasi momentum menghormati bulan Dzulhijjah 1440 H," tambahnya.
 
Deviana Sari menambahkan, sebagai pelajar NU yang menjadi harapan estafet kepimpinan di masa mendatang, dalam kegiatan ini diharapkan menghasilkan output kader-kader yang memiliki mindset dinamis sekaligus memperkuat akidah Ahlussunnah Waljamaah an-Nahdliyah.
 
Ketua PAC IPNU, Bandar Mataram, Agung Satrio menambahkan, pelajar NU hari ini, selain aktif di bangku madrasah atau pesantren, di zaman modern era 4.0 saat ini dibutuhkan proses pola fikir yang kreatif, maupun inovatif adalah menjadi keharusan dan konsumsi masyarakat yang sangat dibutuhkan untuk selalu berkembang dalam arus globalisasi tanpa harus melupakan tradisi warisan ajaran para ulama dan kiai.
 
"Apalagi, bagi generasi milenial bahkan generasi Z, sudah barang tentu harus lebih berperan aktif dalam segala bidang kehidup sosial budaya di masyarakat," tegasnya. 
 
Harapan besar kami, kader–kader IPNU-IPPNU di wilayah Kecamatan Bandar Mataram, dan sekitarnya,  pascakegiatan ini nantinya dapat menjadi sebuah motor penggerak para pelajar dalam pembangunan bangsa serta agama, terlebih di NU pada saatnya nanti," imbuhnya.
 
Peserta Makesta terdiri dari utusan Pimpinan Komisariat (PK) IPNU–IPPNU se Kecamatan Bandar Mataram. Adapun para pemateri Makesta antara lain PCNU Lampung Tengah, MWCNU Bandar Mataram, PC IPNU-IPPNU Lampung Tengah, dan para alumni IPNU-IPPNU. (Akhmad Syarief Kurniawan/Muiz)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG