IMG-LOGO
Trending Now:
Fragmen

Tragedi Haji Ketujuh Subchan ZE

Selasa 13 Agustus 2019 3:0 WIB
Bagikan:
Tragedi Haji Ketujuh Subchan ZE
H Subchan ZE
Hari itu tanggal 21 Januari 1973. Tanah Suci Makkah sedang sibuk-sibuknnya menyambut kedatangan jamaah haji dari seluruh dunia, termasuk Indonesia. Sekitar pukul 14.00 waktu setempat, di sebuah mobil, tokoh NU yang top di masa itu bersama rombongannya, bertolak dari Makkah menuju Madinah. Mereka waktu itu sudah selesai menunaikan ibadah haji dan tinggal beziarah ke makam Nabi Muhammad di Madinah.

Di mobil itu, tokoh NU tidak sendirian. Ia bersama keluarga tercinta. Mereka adalah H M. Faesal Rochlan (adik kandung), H Dahlan (saudara sepupu), H. M. Rochlan lsmail (ayah kandung), Ny. Masronah (ibu angkat), Ny. Kemalis (adik kandung), Kemalis (ipar) dan H. Zainuri Echsan. Sementara Achmad Sjauqi Tahir, seorang mahasiswa Indonesia di sana, merupakan sopir mereka. 

Perjalanan ziarah rombongan itu ternyata berakhir tragis ketika berada di kilometer 70-100, di luar kota Makkah arah Madinah. Tiba-tiba mobil yang dikemudikan Achmad Sjauqi meluncur keluar aspal, ke arah padang pasir sebelah kanan jalan. Sopir berusaha mengembalikan mobil pada posisi semula, tetapi malah terlalu tajam dan terempas ke padang pasir sebelah kiri jalan. Mujur tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak oleh rombongan itu. Karena, tiba-tiba ban mobil sebelah kanan pecah dan mobil jungkir balik tiga kali. 

Akibatnya, sebagian penumpang luka berat, sedangkan pengemudi hanya luka-luka ringan dan beberapa orang meninggal di tempat. Tokoh NU yang top itu tak sadarkan diri. Namun sejam kemudian, napasnya berhenti, dipanggil Ilahi. Perjalanan hidup dan segala perjuangannya pun terhenti pula. Dialah Subchan ZE, yang sedang menunaikan ibadah hajinya yang ketujuh kali dalam hidupnya. Dan rupanya itu haji terakhir.
 
Ahmad Sjauqi Tahir, sopir mobil itu, yang merupakan putra dari tokoh NU Jakarta, KH Tohir Rohili, sempat ditahan pihak berwajib setempat. Namun, atas permintaan keluarga Subchan ZE di Jakarta, ia dibebaskan. 
 
Kesaksian Pribadi Subchan ZE
Muzammil Basyuni, Duta Bes RI untuk Republik Arab dan Suriah 2006-2010 pada tahun kewafatan Subchan sedang berada di Arab Saudi. Tentu saja waktu itu ia masih muda dan berstatus mahasiswa. Di hari wafatnya Subchan, Muzammil sempat bercakap-cakap dengannya, mengklarifikasi beberapa hal isu yang beredar terkait dengan Subchan.
 
Berikut percakapan Muzammil dengan Subchan pada tulisan yang dimuat NU Online pada 2015.

"Di koran, Pak Subchan diberitakan akan kawin. Dengan siapa, Pak?" tanya Muzammil.

"Betul, tapi yang mau kawin itu pikiran Subchan dengan pikiran Soeharto," jawabnya.

Subchan ZE, dianggap tokoh NU yang nyeleneh. Ia sering keluar masuk dunia hiburan malam. Sehingga ia banyak dikritik di dalam NU sendiri.  Pada tahun 1972 Subchan ZE dipecat dari Ketua I PBNU. Namun, ada dua kiai besar yang membelanya di wilayah Jawa Timur dan Yogyakarta. Pengurus wilayah dan cabang NU juga tak sedikit yang membelanya. Tahun itu terjadi polemik besar di NU karena pemecatan itu menimbulkan pro dan kontra di dalam. 
 
Hal itu tak luput menjadi pertanyaan Muzammil kepada Subchan.  

"Bagaimana dengan isu miring bahwa Pak Subchan punya hobi ke 'dumang', dunia remang-remang, klub malam. Kan Bapak seorang tokoh NU?"

"Subchan ZE Wakil, Ketua MPRS-RI itu selalu berada di tempat tidak jauh dari mobil B 4 parkir. Termasuk di night club itu betul, tetapi ingat, sebagai Wakil Ketua MPRS, petinggi NU, dan seorang Muslim pada dasarnya adalah muballigh, yang harus menyampaikan pesan Rasul walau hanya seayat. Coba siapa dari para kiai dan atau dai yang berani tanpa sembunyi-sembunyi nyambang tempat remang-remang untuk antarkan nasihat, 'nanting' kembali ke jalan yang benar. Bukankah dakwah justru lebih dibutuhkan di tempat seperti itu daripada di mesjid dan surau?” jelas Subchan

“Harus diingat,” sambungnya, “bahwa apa pun yang kita lakukan, niat adalah hal pokok. Maka bulatkan tekad bahwa segalanya diniatkan untuk ibadah pada Allah dalam berkhidmah melayani kepentingan umat. Serahkan diri artinya niatkan semuanya hanya untuk memperoleh ridlo Allah sehingga kelak bisa menemui-Nya dengan hati yang damai.”

Walau bagaimanapun, Subchan adalah seorang santri. Ia dibesarkan dan hidup di lingkungan santri di kota Kudus, Jawa Tengah. Ia sebetulnya dilahirkan di Kepanjen, Malang, Jawa Timur, 22 Mei 1931. Namun, pengusaha rokok asal Kudus mengambilnya sebagai anak angkat. Nah, tempat tinggal pengusaha itu terletak di Kudus barat yang dikenal dengan suasana kesantriannya. Makanya tak heran jika Subchan paham ajaran-ajaran Islam. 

Ketika bercakap-cakap dengan Muzammil itu pun, meluncur ayat Al-Qura’an dari mulut Subchan: laa yanfa'u maalun wa laa banuuna illaa man ata-llaaha bi-qalbin saliim. Artinya: tidak akan berguna harta dan anak keturunan kecuali siapa yang datang menemui Allah dengan hati yang damai. 

Subchan juga mengutip sebuah hadits Ad-diinu nashiihah. Agama adalah nasihat.

“Maka nasihatku, jika nanti kamu berniat terjun kiprah di politik, tebalkan terlebih dahulu bantalanmu. Jangan heran dan jangan gamang, jika datang menerpamu isu masuk partai untuk memperkaya diri, lihatlah nanti setelah saya istirahat panjang, apakah saya masuk NU untuk memperkaya diri ataukah benar untuk berkhidmah bagi kepentingan umat?” papar Subchan. 

"Kenapa Pak Subchan tidak membalas balik serangan pihak yang mendiskreditkan?" tanya Muzammil.

"Man satara musliman satarahulLaahu fid-dunyaa wal-aakhirah. Siapa menutupi (cela/aib/keburukan) seseorang Muslim maka Allah menutupi (cela/aib/keburukan)-nya di dunia dan akhirat.”

Yang aneh, sebelum kalimat itu, Subchan mengatakan, “Kini saatnya, kuingin bangun hotel di Makkah. Kumau istirahat panjang."

Dan ternyata benar, ia istirahat panjang di sana, di haji ketujuhnya. Ia, mengutip judul tulisan Arif Mudatsir Mandan tentang Subchan, buku menarik yang belum selesai. Di akhir tulisannya itu, Arif mengatakan, Sampai akhir hayatnya, tokoh yang kemudian banyak menghadirkan berbagai pertanyaan kemungkinan -seandainya ....maka akan...-ini masih tetap membujang. (Abdullah Alawi)

Diolah dari tulisan Arif Mudatsir Mandan, Subchan ZE: Buku Menarik yang Belum Selesai yang dimuat di jurnal Prisma edisi 10 Oktober 1983 dan Muzammil Basyuni Detik-detik Wafatnya Tokoh NU Subchan ZE 2015

 
Bagikan:

Baca Juga

Sabtu 10 Agustus 2019 7:0 WIB
Hari Arafah 67 Tahun Lalu, NU Bentuk Liga Muslimin Indonesia
Hari Arafah 67 Tahun Lalu, NU Bentuk Liga Muslimin Indonesia
Lambang NU
Di hari Arafah atau 9 Dzulhijjah, jutaan umat Islam yang melaksanakan ibadah haji bersatu melaksanakan wukuf. Peristiwa itu menjadi lambang persatuan umat Islam yang menjadi inspirasi umat Islam Indonesia pada tahun 1952 M atau 1371 H.  
 
Akhir Agustus tahun itu, NU yang waktu itu berstatus partai, bersama Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) dan Partai Sarekat Islm Indonesia (PSII) membentuk Liga Muslimin Indonesia. belakangan, Darud Dakwah wal Irsyad (DDI), sebuah ormas Islam di Sulawesi, bergabung dengan liga tersebut. 

Beberapa bulan sebelumnya, yakni 1 Mei 1952, NU keluar dari Masyumi karena keberadaannya tidak dihargai. Menurut sejarawan NU, KH Abdul Mun’im DZ, di Masyumi, NU hanya digunakan sebagai pendulang suara. Lalu, ketika keluar dari Masyumi, NU dituduh sebagai pemecah-belah ukhuwah Islamiyah, padahal sebelumnya, PSII sudah keluar lebih dahulu. Tak hanya itu, Perti dan beberapa partai kecil lainnya, yang tidak mau gabung dengan Masyumi. Jadi, terbantahkan sudah tuduhan itu.

Sementara, menurut KH Saifuddin Zuhri, NU terpaksa keluar dari Masyumi, dan dilakukan dengan secara demokratis. Dalam bukunya, Secercah Dakwah (1983), Kiai Saifuddin Zuhri mengatakan, NU memutuskan berpisah dengan partai yang turut didirikannya itu karena ketidakcocokan mengenai sturktur organisasi dan praktik demokrasi yang, menurut keyakinan NU, sangat merugikan perjuangan Islam dan umum. Lalu, NU menjelma menjadi partai politik dari tahun itu hingga 1984. 

Kiai Saifuddin Zuhri memberikan catatan bahwa NU keluar dari Masyumi adalah pilihan paling terakhir setelah berunding berulang-ulang, mengirimkan delegasi berkali-kali. Namun tanpa hasil. Hal ini jalan yang belum pernah terjadi sebelumnya yang dilakukan partai lain waktu itu ketika melakukan pisah jalan. 

Bersatu dengan seluruh elemen umat Islam adalah cita-cita NU. Terpaksa keluar dari sebuah perkumpulan mana kala hal prinsipil tidak terpenuhi. “Bagi umat Islam, menyatukan diri dalam satu partai ataukah berdiri sendiri-sendiri bukanlah masalah, karena itu tidak mutlak. Umat Islam selamanya satu, dan sanggup memperlihatkan kesatuannya lebih kompak dan homogen jika keadaan memanggil. Hal itu telah dibuktikan dalam sejarah berulang-ulang,” tulis Kiai Saifuddin di buku yang sama.

KH Abu Bakar Aceh dalam buku Sejarah Hidup KH A. Wahid Hasyim menceritakan proses berdirinya Liga Muslimin Indonesia pada tanggal 30 Agustus 1952. KH A. Wahid Hasyim dari NU terlebih dahulu mendapatkan kesempatan pertama untuk berpidato. Ia menekankan pentingnya persatuan bangsa, khususnya di kalangan umat Islam yang kala itu terkotak-kotak karena perbedaan pemahaman dan bahkan pilihan politik.

“... Pada hari Arafah seperti pada hari Arafah sekarang, 1360 tahun yang lalu, junjungan besar kita, Nabi Muhammad SAW, berdiri di Padang Arafah, di dalam pertemuan sedunia oleh umat Islam kala itu. Maka sesungguhnya, merupakan nikmat dan rahmat dari Allah SWT yang besar sekali bagi kita, bahwa pada hari yang bersejarah seperti hari Arafah ini, kita sekalian berkumpul di sini mengeratkan persaudaraan Islam yang telah ada dalam jiwa kita, dengan ikatan lahir berupa organisasi, ialah Liga Muslimin Indonesia!” tegas Kiai Wahid.

“Dalam keadaan hidup perseorangan yang tidak mempunyai ikatan sesama jamaahnya demikian itu, tidaklah heran apabila tiap-tiap orang Islam lalu tenggelam dan terseret oleh aliran-aliran dan golongan-golongan lain dengan tidak sadar dan insaf. Dan bukanlah pada suatu hal yang tidak masuk di akal, kalau propaganda penjajahan yang pada suatu masa pernah dijalankan oleh golongan yang berkepentingan, kadang-kadang masih mendapatkan telinga yang suka mendengarkannya, disebabkan hilangnya ikatan sesama jamaah itu.” lanjut Kiai Wahid.

Setelah Kiai Wahid, pidato selanjutnya disampaikan perwakilan dari Perti, yakni Tuan Guru KH Sirajuddin Abbas dan PSII Abikusno Tjokrosuroso, yang keduanya juga kembali menegaskan pentingnya untuk mempererat persatuan antarumat Islam. 

Kehendak NU membangun persatuan umat Islam Indonesia dibuktikan sepanjang zaman. Pada masa kolonial Belanda, yakni tahun 1937, NU membidani Majelis Islam A'la Indonesa (MIAI). Kemudian turut serta di Masyumi. Ketika partai NU dipaksa melebur oleh Orde Baru, NU turut serta di Partai Persatuan Pembangunan. NU juga turut serta di Majelis Ulama Indonesia. Pada tahun 2012, NU turut membentuk Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI), KH Said Aqil Siroj hingga sekarang menjadi ketua umumnya. (Abdullah Alawi
Rabu 7 Agustus 2019 19:16 WIB
Tokoh-tokoh NU yang Wafat di Tanah Suci
Tokoh-tokoh NU yang Wafat di Tanah Suci
Mama Ajengan KH Ahmad Syuja'i Ciharashas (bertongkat) hendak berhaji tahun 1983
Kematian adalah makhluk yang misterius. Ia datang kepada siapa pun tak mengenal waktu, dan tempat. Karena misterius itulah ajaran Islam mengingatkan agar selalu ingat mati berdoa agar  meninggal dalam keadaan iman terjaga atau husnul khatimah. Umat Islam merapal harapan itu setidaknya lima kali dalam sehari, selepasa shalat fardhu melalui doa allahuma ini asaluka husnal khatimah wa ‘audzubika min su’il khatimah yang diiringi doa lain, rabbana atina fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah. 

Namun, ada sebagian orang yang berharap meninggal di tempat yang paling istimewa, bahkan di hari yang menurutnya istimewa. Namun, namanya doa, tak lantas terkabul sesuai kenyataan. KH Maimoen Zubair adalah pengecualian. Ia ingin meninggal di Tanah Suci makkah dan sedang melaksanakan ibadah haji. Terpenuhi sudah doanya itu. 

Berikut ini ada beberapa tokoh NU yang meninggal di Tanah Suci yang berhasil dihimpun NU Online. Sangat mungkin ada kiai lain yang tidak tercatat.  

1. KH Abdul Karim Hasyim (putra Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari, tahun 1972)
Kiai Abdul Karim Hasyim merupakan salah seorang putra dari Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari. Ketika ayahnya wafat pada tahun 1947, Kiai Abdul Wahid Wahid (kakak dari Kiai Karim) melanjutkan kepemimpinan pesantren Tebuireng. Namun, waktu itu, Kiai Wahid Hasyim sudah menjadi tokoh populer di tingkat nasional, keberadaannya sangat sering di Jakarta. Sehingga kepemimpinan dipercayakan kepada Kiai Karim. 

Ketika diangkat manjadi menteri agama, Kiai Wahid semakin sibuk sehingga kepemimpinan pesantren Tebuireng manjadi kosong sehingga keluarga besar Bani Hasyim memilih Kiai Karim sebagai penggantinya.

Pada tahun 1972, Kiai Karim menunaikan ibadah haji bersama Kiai Idris Kamali. Saat menjalankan rukun Islam kelima itu, Kiai Karim menderita sakit yang diakibatkan oleh perubahan cuaca. Setelah beberapa hari dirawat, Kiai Karim meninggal dunia dan jenazahnya dimakamkan di Makkah.

2. H Subchan ZE (Ketua Empat PBNU, tahun 1973)
Nama lengkap tokoh NU yang satu ini adalah Subchan Zaenuri Echsan. Namun, dua nama belakangnya lebih populer disingkat ZE, jadi Subchan ZE. Ia merupakan tokoh muda NU yang populer di zamannya. Watak kempimpinanya mampu menggerakkan organisasi pemuda di luar NU seperti HMI, GMNI, PMKRI, setelah terjadinya G 30 S PKI melalui Komando Aksi Pengganyangan (KAP) Gestapu yang dipimpinnya. 

Tahun 1966 Subchan diangkat sebagai Wakil Ketua MPRS. Saat menjabat itu, Soeharto dikukuhkan sebagai Presiden oleh tahun 1968. Namun, Subchan kemudian menjadi salah seorang pengkritik paling tajam terhadap kebijakan-kebijakan presiden yang berkuasa selama 32 tahun itu. Salah satu kritik yang dilontarkannya adalah ketika pemerintah menunda-nunda pemilu. 
 
Sejarawan NU, Choirul Anam, di dalam bukunya Pertumbuhan dan Perkembangan NU mengemukakan pendapat Subchan tentang Orde Baru yang intinya: 1) penegakan tata kehidupan demokrasi; 2) penegakan tata kehidupan hukum dan keadilan dalam kehidupan sehari-hari; 3) pengusahaan adanya pendemokrasian di dalam pelaksanaan kebijaksanaan ekonomi, dan; 4) penegakkan hak asasi manusia.
 
Subchan meninggal pada 21 Januari 1973 di Arab Saudi saat menjalankan ibadah haji dalam perjalanan ziarah ke makam Nabi Muhammad SAW. Ia dimakamkan di sana. 

3. KH Ahmad Syuja’i Ciharashas (tokoh NU Cianjur, tahun 1983)
Mama Ajengan KH Ahmad Syuja’i menjadi aktivis NU tidak sembarangan. Ia dianjurkan memperkuat NU di Priangan Barat, tepatnya Cianjur oleh tiga habib dan satu kiai. Tak heran, sejak masih santri KH Ahmad Syatibi Gentur (Mama Kaler), Mama Ciharashas sudah memiliki Kartanu.  
 
Menurut santri mama Ciharashas, KH Abdul Aziz Hidayatullah, pada buku Riwayat Hidup KH Muhammad Syuja’i (Mama Ciharashas) bin Haji Ghojali Singapraja, Mama Ciharashas dianjurkan masuk dan aktif di NU oleh KH Mansur Jembatan Lima, Jakarta (Guru Mansur). Bahkan Guru Mansur menganjurkan harus punya KARTANO (sekarang Kartanu). 

Begitu pula setelah Mama Ciharashas mendirikan Pesantren Asy-Syuja’i, banyak dukungan dari masyayikh agar menjadi pengurus Nahdlatul Ulama. Anjuran itu didukung Habib Muhammad Al-Haddad, Tegal, Jawa Tengah, Habib Syekh bin Salim Al-Attas, Sukabumi, dan Al-Habib Utsman Al-Idrus, Bandung. 

Kemudian Mama Ciharashas diangkat sebagai Wakil Rais Syuriah PWNU Provinsi Jawa Barat, hingga akhir hayatnya 28 Agustus 1983 M. Ia meninggal dan dimakamkan di Tanah Suci Makkah saat menunaikan ibadah haji tahun itu. 
 
4. KH Maimoen Zubair (Mustasyar PBNU, tahun 2019)
Selasa 6 Agustus 2019, salah seorang kiai sepuh NU, KH Maimoen Zubair tutup usia. Dalam waktu singkat, kabar tersebut menyebar dari satu akun ke akun lain melalui media sosial. Rakyat biasa hingga presiden mengungkapkan kehilangannya. 

Kiai yang akrab disapa Mbah Moen ini tutup usia  di Tanah Suci Makkah saat melaksanakan ibadah haji pada usia 91 tahun. Menurut riwayat mutawatir, ia kerap meminta didoakan agar Allah memanggilnya di hari Selasa pada saat menjalankan ibadah haji. Dan, doanya itu telah terkabulkan.   

KH Saifuddin Zuhri dalam sebuah artikelnya yang dikumpulkan dalam Secercah Dakwah mengatakan, para pejuang (NU) angkatan sebelumnya, telah merintis jalan dan berbuat, mereka memperoleh pahalanya. Tetapi segi-segi kekurangannya harus berani diakui meskipun pahit untuk disempurnakan bagi taraf-taraf perjuangan seterusnya. (Abdullah Alawi)
 
Senin 5 Agustus 2019 2:0 WIB
Jamaah Haji di Awal Indonesia Merdeka
Jamaah Haji di Awal Indonesia Merdeka
Jemaah haji asal Martapura Kalimantan (dok KITLV -Tropenmuseum)
Beberapa tahun Indonesia merdeka, terjadi kekosongan umat Islam yang melaksanakan ibadah haji. Menurut data yang disampaikan majalah Tempo edisi 24 april 2011, yang mengutip data dari Departemen Agama RI, salah satu penyebab kekosongan tersebut adalah keadaan yang masih sulit dan genting. 

Setelah merdeka, Indonesia tidak serta-merta mendapatkan keamanan dan pengakuan kedaulatan, apalagi kemakmuran. Penjajah Belanda yang membonceng tentara Sekutu berusaha kembali ke Indonesia. Situasi semacam itu dihadapi bangsa Indonesia dengan perjuangan fisik seperti pertempuran hingga dan diplomasi. Di antara gangguan keamanan yang terjadi setelah Indonesia merdeka adalah agresi militer Belanda I dan II.  

Tokoh utama NU, Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari pernah mengeluarkan fatwa tidak wajib beribadah haji ketika negara dalam keadaan perang. Fatwa tersebut kemudian menjadi Maklumat Menteri Agama Nomor 4 tahun 1947, yang menyatakan ibadah haji dihentikan selama negara dalam keadaan genting.  

Pada tahun 1952, jamaah calon haji Indonesia membludak dalam ukuran masa itu. Dalam laporan Kementerian Agama yang dikutip Tempo, tahun Indonesia mengantongi calon jamaah haji sebanyak 14 ribu orang. 

“Suatu jumlah yang lebih tinggi dari tahun-tahun yang sudah, yaitu untuk mengurangi rasa kecewa di kalangan kaum muslimin, agar tiada timbullah kemungkinan bahwa mereka itu digunakan oleh mereka yang tidak mengingikan keteguhan Negara RI,” ungkap KH Wahid pada laporan saat ia mengakhiri jabatan Menteri Agama Indonesia tahun 1953.  

Tahun-tahun sebelumnya, seperti tahun 1949 jumlah jamaah haji Indonesia adalah 9.892 orang. Tahun 1950 jumlahnya meningkat menjadi 10.000 orang ditambah 1.843 orang yang berangkat secara mandiri (Tempo edisi 24 april 2011).

Indonesia merupakan negara yang selalu memiliki calon jamaah haji yang sangat besar. Bahkan sejak masa penjajahan Belanda. Martin van Bruinessen dalam artikelnya berjudul Mencari Ilmu dan Pahala di Tanah Suci: Orang Nusantara Naik Haji mengatakan pada akhir abad 19 dan awal abad 20 jamaah haji Indonesia sebanyak 10-20 persen dari seluruh jamaah haji dunia. Malah pada tahun 1920-an, jumlahnya sekitar 40 persen dari seluruh jamaah haji dunia. 

Namun, minat berhaji yang sedemikian banyak itu, tidak diimbangi dengan pelayanannya. Jamaah calon haji yang meninggal dalam keberangkatan maupun pulang sering terjadi karena kurangnya tenaga medis. Pada masa itu, perjalanan haji bisa berbulan-bulan sebab menggunakan kapal laut. 

Hal itu menjadi keprihatinan KH Wahid Hasyim saat menjadi menteri agama. Dalam artikelnya, Perbaikan Perjalanan Haji, yang dimuat di Mimbar Agama edisi 17 Agustus seperti yang dikutip Tempo edisi sama, Kiai Wahid mengurai persoalan haji Indonesia. 

Anggota jamaah haji Indonesia, menurut Kiai Wahid, orang dari lapisan bawah yang agak mampu, tapi kurang pengetahuan agama dan pengetahuan umum. Mereka mengeluarkan semua biaya berhajinya dengan keyakinan untuk ibadah, sehingga mereka tak peduli besarnya biaya yang dikeluarkan. Hal ini menyebabkan mereka menjadi mangsa empuk orang-orang yang tega mengambil kesempatan. (Abdullah Alawi)  
   
 
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG