IMG-LOGO
Nasional

Tradisi Ritual, Media Penanaman Nilai-nilai Agama dan Budaya di Masyarakat

Selasa 13 Agustus 2019 11:30 WIB
Bagikan:
Tradisi Ritual, Media Penanaman Nilai-nilai Agama dan Budaya di Masyarakat
Tradisi melemang di Muara Enim Sumatera Selatan. (foto: Medi Indonesia)
Meningkatkan pemahaman keagamaan dan kerukunan antarumat beragama merupakan salah satu isu penting dalam rencana strategis pembangunan agama di Kementerian Agama. Dalam khazanah kebudayaan Melayu, nilai agama merupakan bagian penting tiga simpul perekat kesamaan sebagai jati diri, yakni adat istiadat, bahasa dan agama. Melalui ketiga ciri tersebut kita dapat bicara tentang orang dalam dan orang luar, orang kita dan orang lain, dan lain-lain.
 
Di samping itu, tradisi ritual mengandung beberapa pesan tertentu, baik nilai budaya dan agama yang berguna bagi pemilik dan pelaku tradisi maupun bagi masyarakat luas. Tradisi ritual tersebut juga dimaknai sebagai simbol komunikasi, sekaligus penghormatan manusia secara kolektif terhadap Tuhan dan makhluk-makhluk gaib yang dipandang memiliki kekuatan luar biasa dan dapat menjamin keberlangsungan dan keharmonisan hidup masyarakat.
 
Dengan kata lain ritual-ritual tradisi dimaknai sebagai ‘bujukan’ atau rayuan manusia kepada Tuhan atau makhluk-makhluk gaib agar dapat memberikan perlindungan, keselamatan, sekaligus juga berkah kepada masyarakat setempat.
 
Tradisi merupakan warisan budaya dan peristiwa sosial kemasyarakatan. Sebagai sebuah warisan maka tidak mungkin hal-hal buruk yang diwarisi oleh para orang tua. Dan, sebagai peristiwa sosial kemasyarakatan, tradisi mengikat dan mempererat ikatan sosial di mana tradisi itu tumbuh, hidup, dan berkembang.
 
Selain itu, tradisi ritual tidak bisa dilepaskan dari dua hal. Pertama, konteks lingkungan di mana tradisi itu hidup dan berkembang karena tradisi juga dapat dipandang sebagai bentuk sistem pedagogi masa lalu. Kedua, masyarakat di sekitar tradisi tersebut ada, baik yang aktif maupun yang pasif. Karenanya tradisi dapat memperkuat simpul sosial masyarakat yang menaunginya. Kedua hal ini tidak bisa dilepaskan dari sebuah tradisi yang ada di banyak tempat di Indonesia, sebab ada kode-kode budaya dan bahasa yang melekat dalam tradisi-tradisi tersebut. Atas dasar ini pula, jika ingin melestarikan sebuah bahasa, harus diiringi juga dengan melestarikan tradisi. Keragaman tradisi-tradisi ini yang membuat Indonesia unik.
 
Pudentia, Ketua Asosiasi Tradisi Lisan sekaligus pengajar pada Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, berpendapat, apa yang tidak bernilai baik menurut budaya (tradisi ritual contohnya), pasti tidak bernilai baik juga menurut agama.
 
Hal itu dikuatkan dalam hasil penelitian yang dilakukan Bidang Lektur Agama dan Keagamaan Balai Litbang Agama Jakarta tahun 2018. Penelitian dilakukan di delapan wilayah provinsi yang ada di Sumatera, Jawa Barat, dan DKI Jakarta. Pemilihan wilayah tersebut bukan hanya karena wilayah penelitian dari Balai Litbang Agama Jakarta, namun juga menggambarkan bentuk atau ungkapan kebudayaan dari beberapa etnis atau suku yang ada di Indonesia.
 
Fokus tradisi ritual dalam penelitian ini menekankan kepada tradisi yang hidup di masyarakat baik dilihat dari segi teks dan konteks masyarakat yang menjadi fokus penelitian, dalam hal ini adalah nilai-nilai agama dan budaya dalam upacara Seren Taun masyarakat Adat Sunda Wiwitan Cigugur Kabupaten Kuningan, Jawa Barat; Ratib Tegak (Ratib Seman) di Desa Bungo Tanjung, Kecamatan Sitinjau Laut dan Desa Pulau Tengah, Kecamatan Keliling Danau, Kabupaten Kerinci, Jambi; Wuku Taun masyarakat Kampung Cikondang, Desa Lamajang, Kecamatan Pengalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
 
Kemudian, tradisi Melemang di Desa Karang Raja dan Kepur, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan; tradisi Sakura pada Kepaksian Skala Brak di Lampung Barat, Seren Taun di Kasepuhan Cisungsang, Lebak Banten, tradisi Baritan di DKI Jakarta dan tradisi Besaman di desa Kelumu, Lingga-Kepulauan Riau.
 
Tradisi yang ditemukan dalam penelitian ini, menunjukkan bahwa Indonesia banyak sekali memiliki keragaman kebudayaan yang sarat akan nilai-nilai agama dan budaya yang menjadi identitas masyarakatnya. Nilai-nilai keagamaan yang terefleksikan dalam tradisi yang telah dipaparkan tersebut sangat beragam, masing-masing mempunyai keistimewaan sesuai dengan masyarakat pendukungnya baik yang heterogen maupun homogen.
 
Dalam hal ini, kebanyakan dari tradisi ritual tersebut mengandung nilai etika, ketuhanan (tauhid) dan ibadah yang menjadi inti nilai agama Islam seperti yang termuat dalam tradisi Ratib Tegak (Ratib Seman), Wuku Taun, tradisi 'melemang', tradisi Sakura, tradisi Baritan dan tradisi Besaman. Dua tradisi memadukan beberapa kepercayaan dalam ritualnya, yakni upacara Seren Taun masyarakat Adat Sunda Wiwitan Cigugur Kabupaten Kuningan dan Seren Taun di Kasepuhan Cisungsang, Lebak Banten.
 
Nilai etika terlihat dari rasa hormat menghormati, sopan santun, rendah hati, rasa syukur dan adil, sedangkan nilai ketuhanan (tauhid) terlihat dari penyebutan simbol-simbol agama dalam tahapan-tahapan sebuah tradisi, yakni kata penghormatan kepada Tuhan dan Nabi Muhammad Saw, media menanamkan nilai-nilai ketuhanan (ketauhidan) dan media meningkatkan dan menumbuhkan nilai spiritualitas masyarakat, serta media mengajarkan hakekat diri.
 
Sebagian besar nilai budaya yang teraktualisasi dalam beberapa tradisi ritual yang telah dipaparkan sebelumnya berfungsi sebagai media perekat di masyarakat. Beberapa bentuk tradisi digunakan sebagai media menyampaikan pesan-pesan yang berupa nilai-nilai agama dan budaya untuk memperkuat kohesi sosial seperti yang terlihat dalam tradisi yang disebutkan di atas. Beberapa tradisi tersebut juga biasanya berhubungan dengan identitas komunal masyarakatnya seperti yang terdapat dalam tradisi upacara Seren Taun masyarakat Adat Sunda Wiwitan Cigugur Kabupaten Kuningan, Seren Taun di Kasepuhan Cisungsang, Lebak Banten dan tradisi Sakura pada Kepaksian Skala Brak di Lampung Barat.
 
Beberapa nilai-nilai budaya yang teraktualisasi dari beberapa tradisi tersebut adalah, kerja sama atau gotong royong (cooperation), keterbukaan (openess), dan penghargaaan (respect), musyawarah untuk mufakat, hormat menghormati antar suku, bertimbang rasa (empaty, solidarity, dan tolerance), mengedepankan perdamaian dan tenggang rasa, nilai ekonomi dan keselarasan sosial.  

Hasil-hasil kajian ini juga membuktikan bahwa agama dan tradisi dapat berjalan seiring dan tidak saling berbenturan. Seperti dikemukakan oleh Angga Marzuki, peneliti yang mengkaji Ratib Saman di Lingga, tradisi Ratib Saman di Lingga ini menunjukkan bagaimana warga Lingga menghayati dan mempraktikkan keislaman mereka yang dipadukan dengan tradisi yang sudah mereka jalani jauh sebelum Islam datang.
 
Selain itu, penelitian ini menemukan bahwa berkembangnya berbagai tradisi ritual di Indonesia, menunjukkan bahwa nenek moyang Bangsa Indonesia merupakan orang-orang yang mengedepankan keselarasan dan keseimbangan hidup dengan lingkungan di mana mereka hidup.
 
Tradisi ritual yang berkembang merupakan wujud rasa syukur atas berbagai karunia Tuhan yang disediakan di lingkungan mereka. Masuknya agama-agama baru kemudian tidak lantas menghapus tradisi-tradisi tersebut, justru malah memperkaya tradisi ritual dengan masuknya berbagai unsur-unsur agama ini. Tradisi-tradisi ritual yang berbaur dengan unsur-unsur agama ini seperti hendak menguatkan filosofi; siapa menyayangi yang di bumi, maka akan disayang Yang Di Langit.  
 
Rekomendasi Kebijakan
Upaya menjaga tradisi ritual di masyarakat merupakan bentuk kepedulian dan penghargaan masyarakat akademis dan pemerintah pada warisan budayanya, serta juga memberikan banyak temuan dan masukan yang berguna bagi banyak pihak terkait.
 
Beberapa hal yang perlu dilakukan oleh pemangku kepentingan adalah mengembangkan program-program pembangunan yang bersifat multidimensi dan berjangka menengah dan panjang, yang bertujuan untuk memperkuat ketahanan budaya dalam masyarakat agar sanggup menghadapi tekanan terhadap nilai budayanya.
 
Selain itu, perlu dilakukan pemberdayaan masyarakat secara sosial, ekonomi, dan budaya lewat tradisi ritual agar setiap masyarakat memiliki ketahanan secara budaya dalam menghadapai perubahan di era modern ini. (Kendi Setiawan)
Bagikan:

Baca Juga

Selasa 13 Agustus 2019 23:0 WIB
PB PMII: Kualitas Kader Jadi Prioritas PMII
PB PMII: Kualitas Kader Jadi Prioritas PMII
PC PMII Kota Mataram, NTB
Mataram, NU Online
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Pengurus Besar (PB) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Sabolah Al Kalamby mengungkapkan bahwa PMII secara nasional sudah menjelma menjadi organisasi paling besar di Indonesia.
 
"Saat ini PMII memiliki 230 Cabang. 17 cabang persiapan, cabang istimewa di luar negeri dan jutaan kader seluruh Indonesia," kata Mantan Ketum Cabang PMII Mataram 2012-2013 ini.
 
Hal itu diungkapan Sekjen PMII saat melantik Pengurus Cabang (PC) PMII Kota Mataram di Hotel Graha Ayu Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), Selasa (13/08).
 
Dikatakan, PMII harus menata diri untuk membangun keseimbangan antara kuantitas dan kualitas. "Mari kita tingkatkan kualitas SDM kader PMII melalui kaderisasi yang sudah diatur dalam organisasi kita," kata Sabolah sapaan akrabnya.
 
Lebih jauh dia menjelaskan, berdasarkan hasil penelitian Pimpinan Pusat (PP) GP Ansor menyebutkan bahwa sebanyak 25 persen mahasiswa setuju dengan sistem khilafah.
 
"Bagi kita di PMII, itu adalah ancaman. Maka PMII bersama Cipayung untuk terus memastikan bahwa generasi kita terbebas dari paham radikalisme," katanya.
 
Ketua PKC PMII Bali Nusra Aziz Muslim meminta agar PC PMII Mataram fokus kaderisasi. "Mataram adalah contoh kaderisasi bagi cabang lain yang ada di NTB, apabila PMII Mataram lemah, maka cabang lain pun akan lemah," tandasnya.
 
Ketua Cabang PMII Kota Mataram Herman Jayadi mengajak Kader PMII Mataram terus mengembangkan potensi diri. Melalui potensi yang dimiliki oleh kader, PMII Mataram siap bersinergi dengan Pemkot Mataram.
 
"Kami PMII Mataram bersama OKP Cipayung Plus siap bersinergi untuk kemajuan Kota Mataram," kata Herman usai dilantik.
 
Kesiapan PMII Mataram untuk bersinergi dengan Pemkot Mataram bukan berarti PMII tidak akan memberikan kritik kepada Pemkot. "PMII bersama OKP akan tetap konsisten memberikan kritik yang konstruktif kepada Pemerintah Kota Mataram," tegasnya.
 
Hadir Asisten I Wali Kota Mataram, Lalu Martawang, Sekjen PB PMII Sabolah Al Kalamby, Ketua PCNU Fairuz Zabadi, Kopri PB PMII, Aisya Husna, Ketua Ikatan Alumni (IKA PMII) Kota Mataram sekaligus Sekretaris PPP NTB dan juga DPRD NTB terpilih Muhammad Akri.
 
Selian itu, hadir juga Ketua LTNNU NTB Suaeb Qury, Ketua Bawaslu Kota Mataram, Hasan Basri, Ketua KPU Kota Mataram, Husni Abidin.  Ketua Majelis Pembina Cabang PMII Mataram sekaligus Ketua IKADIN Kota Mataram, Irfan Suryadinata, Ketua PKC Bali Nusra, Aziz Muslim, serta Ratusan alumni dan kader PMII Mataram dan Ketua OKP Cipayung Plus  yang ada di lingkungan Kota Mataram. (Hadi/Muiz)
Selasa 13 Agustus 2019 22:30 WIB
Pengalaman Santri Tambakberas Saat di Jerman
Pengalaman Santri Tambakberas Saat di Jerman
Aikon Madda Arrafi (kanan)
Jombang, NU Online
Seorang santri asal Tambakberas, Kabupaten Jombang, Jawa Timur bernama Aikon Madda Arrafi (16) mendapat kesempatan belajar di Jerman selama satu tahun setelah mengikuti sekolah tamu atau student college.
 
Santri yang juga masih duduk di bangku madrasah, tepatnya di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Jombang ini mengaku memiliki banyak pengalaman selama belajar di sana (Jerman, red). Salah satunya ia hampir tidak mendengar suara adzan sama sekali.
 
Kondisi ini tidak sempat kebayang sebelumnya. "Alhamdulillah shock culture saya terbantu saat mondok, waktu di sana keadaan tak pernah dibayangkan, karena tidak ada suara adzan," ujarnya, Selasa (13/8).
 
Islam di tempat ia belajar masih terbilang minoritas. Tempat-tempat ibadah umat muslim juga masih minim. "Sebab Islam di sana minoritas," terang Aikon sapaan akrabnya.
 
Ia menambahkan, persepsi masyarakat di Jerman tentang Islam masih terpengaruh dengan pemahaman Islam yang ekstrim. Banyak masyarakat yang memandang Islam sebagai agama yang keras atau radikal. "Ada masjid yang dekat dengan tempat tinggal saya, tapi masih ada persepsi publik tentang bahaya ekstrimis," ungkapnya.
 
Meski begitu, nilai-niai dan sejumlah ajaran Islam yang didapat selama di Pesantren tetap ia terapkan sepanjang ia di Jerman. Ia mencoba 'melawan' pemahaman masyarakat Jerman terkait Islam selama ini.
 
"Meski di Jerman tak jarang masyarakat phobia dengan Islam yang berhaluan ekstrimis. Saya tetap menjalaninya dengan pola santri seperti sewaktu di Pondok," ucapnya. 
 
Aikon cukup senang akan kultur, budaya, serta ajaran Islam yang ada di Indonesia. Ia menilai Islam di Indonesia adalah Islam yang benar-benar tepat. Sesama umat, baik muslim atau non muslim tetap saling menghormati. Mereka berinteraksi dengan lepas tanpa dihantui rasa takut.
 
Pengasuh Pesantren Muhajirin 3, KH Abdul Latif berharap, Aikon bisa menceritakan pengalaman yang utuh dan dibagikan kepada para santri-santrinya, agar mereka para santri siap menghadapi segala tantangan di luar. 
 
Menurut pria yang kerap disapa Gus Latif ini, seorang santri memang harus siap berada di berbagai zona. Baik zona nyaman maupun zona tidak nyaman. 
 
"Santri-santri agar lebih giat dalam mengaji serta belajar agar menyiapkan bekal menghadapi tantangan ke depan. Insyaallah Aikon nanti bisa mengajak santri-santri untuk belajar tentang bahasa asing, agar santri bisa menghadapi tantangan," pungkasnya.
 
Untuk diketahui, Aikon adalah santri berasal dari Bogor. Ia merupakan anak dari Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Bogor, Jawa Barat, Ifan Haryanto. (Syamsul Arifin/Muiz
Selasa 13 Agustus 2019 21:30 WIB
Gus Sholah: Tidak Perlu Istilah NKRI Bersyariah
Gus Sholah: Tidak Perlu Istilah NKRI Bersyariah
Gus Salahuddin Wahid
Jakarta, NU Online
Akhir-akhir ini masyarakat Indonesia kembali dihebohkan dengan istilah NKRI Bersyariah yang muncul dalam kegiatan Ijtima Ulama IV di Hotel Lor Inn Sentul Hotel, Bogor, Jawa Barat beberapa waktu lalu.
 
Menanggapi istilah tersebut, Pengasuh Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur KH Salahuddin Wahid atau yang akrab disapa Gus Sholah punya pandangan sendiri. Menurutnya, di Indonesia tidak ada lagi istilah NKRI Syariah.
 
"NKRI bersyariah itu tidak ada," katanya dalam acara 'Pancasila Perekat Kita, Satu Nusa Satu Bangsa', di kawasan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Senin (12/8).
 
Bagi Gus Sholah, istilah syariat dulu memang pernah dicatat dalam sejarah pada poin pertama dari Pancasila. Namun saat itu timbul gejolak dari beberapa kalangan dan akhirnya dihapus.
 
Saat itu, beberapa tokoh Islam ikut dalam musyawarah penghapusan ini. Di antaranya yaitu ayahnya sendiri KH A Wahid Hasyim. Keputusan tersebut diambil karena melihat kepentingan yang lebih besar yaitu persatuan Indonesia.
 
"Dahulu sila pertama 'Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya.' Tujuh kata itu kemudian dicoret, menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa," tegasnya.
 
Adik kandung KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini menegaskan bahwa pernyataannya ini bukan berarti ia anti syariah Islam. Hanya saja, inti dari ajaran syariah diambil dan dijadikan undang-undang sehingga bisa digunakan secara umum.
 
"Jadi tidak ada juga istilah NKRI bersyariah. Bukan berarti kami juga anti syariah Islam, tidak. Di tataran Undang-Undang Dasar tidak ada syariah. Tapi di tataran Undang-Undang boleh, tidak ada masalah," ujar Gus Sholah.
 
Lebih lanjut ia menjelaskan, inti dari ajaran syariah Islam banyak yang sudah diserap ke undang-undang. Seperti undang-undang perkawinan dan wakaf. Sehingga tak perlu lagi ada istilah NKRI syariah. Hal ini sudah berlangsung cukup lama hingga saat ini.
Hal ini melihat fakta bahwa tidak semua warga Indonesia beragama Islam.
 
Kemajemukan Indoensia menjadi suatu berkah yang harus dijaga oleh semua orang yang hidup di Indonesia.
 
"Syariah Islam jalan di Indonesia tanpa rumusan NKRI syariah. Jadi tidak perlu ada istilah itu," tandasnya. (Syarif Abdurrahman/Muiz
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG