IMG-LOGO
Daerah

Ma'had Aly Babussalam Aceh Utara Lahir untuk Ciptakan Ulama Tangguh

Rabu 14 Agustus 2019 10:30 WIB
Bagikan:
Ma'had Aly Babussalam Aceh Utara Lahir untuk Ciptakan Ulama Tangguh
Peresmian Ma'had Aly Babsussalam di Aceh Utara
Aceh Utara, NU Online
Ma'had Aly Babussalam Al Hanafiyah resmi diluncurkan pada hari Selasa tanggal 6 Agustus 2019 dengan Takhassus Tafsir dan Ilmu Tafsir (Tafsir wa 'Ulumuhu). Ma'had aly ini merupakan jenjang pendidikan tinggi yang berada di bawah naungan dayah (pondok pesantren) Babussalam Al-Hanafiyyah di Kecamatan Matangkuli, Kabupaten Aceh Utara. Sebelumnya, di Dayah Babussalam Al-Hanafiyyah telah berdiri jenjang Pendidikan Diniyah Formal (PDF) tingkat 'ulya (setara 'aliyah) dan wustha (setara tsanawiyah).
 
Peresmian Ma'had Aly Babussalam Al Hanafiyah yang dimeriahkan dengan seratusan ucapan selamat di papan bunga ini, dilakukan oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh H M Daud Pakeh dihadiri para tamu undangan yang terdiri dari praktisi pendidikan pesantren, alim ulama, sejumlah pejabat dan tokoh masyarakat. Serta, tentu saja dimeriahkan oleh lebih dari seribu santriwan dan santriwati Dayah Babussalam yang telah menunggu acara ini jauh-jauh hari.
 
Terlihat memenuhi undangan yaitu Rektor IAIN Malikussaleh Hafifuddin, kepala Dinas Pendidikan Dayah Kabupaten Aceh Utara Hasbullah, dari Dinas Pendidikan Dayah Provinsi Aceh Badaruddin, Mudir Ma'had Aly Dayah Malikussaleh Tgk. Mannan Ismail, Mudir Ma'had Aly Dayah Raudhatul Ma'arif Tgk. Safriadi. Sementara dari Kemenag RI dihadiri oleh Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren yaitu Ainurrafiq dan Kasi Ketenagaan Subdit Diniyah Agus Umar.
 
Mudir Ma'had Aly Babussalam Teuku Zulkhairi dalam sambutannya sebagai ketua panitia menerangkan, harapan pihaknya dengan diresmikannya Ma'had Aly Babussalam, akan dapat berpartisipasi secara penuh dalam mengembalikan kembali kejayaan Islam seperti yang pernah diraih di era Kerajaan Islam Samudera Pasee.
 
Bupati Aceh Utara, H. Muhammad Thaib diwakili oleh Kadis Pendidikan Dayah Aceh Utara Abdullah Hasbullah, dalam sambutannya mengungkapkan bahwa pihaknya sangat menyambut baik dengan adanya ma'had aly di Kabupaten Aceh Utara. Ia sangat berharap dengan keberadaan ma'had aly akan melahirkan generasi-generasi muda dengan SDM keagamaan yang tangguh, dimana generasi tersebut dapat menjadi penuntun di masyarakat.
 
"Pemerintah Kabupaten Aceh Utara sangat menyambut baik dengan diselenggarakannya jenjang pendidikan ma'had aly ini di Dayah Babussalam. Dan diharapkan dapat memperkokoh dan menumbuhkan sendi-sendi keagamaan dan pemahaman serta penghafalan Al-Qur’an bagi generasi muda dan masyarakat sehingga dapat mencetak kader-kader ulama yang tangguh di Kabupaten Aceh Utara, " harapnya.
 
Kasi Ketenagaan Subdit Diniyah dan Ma'had Aly Kemenag RI Agus Umar dalam sambutannya mengharapkan semoga ma'had aly ini bisa meningkatkan kualitas generasi muda pesantren di setiap tahunnya dan bisa memajukan dayah.
 
"Kehadiran ma' had aly menjadi penting yang merupakan suatu terobosan yang nantinya diharapkan akan mengasilkan para ulama yang mampu menjadi tonggak di tengah masyarakat. Semoga melalui pendidikan tinggi ma'had aly mampu melahirkan kader-kader yang bersaing tinggi di berbagai level," harapnya.
 
Kakanwil Kemenag Provinsi Aceh, M. Daud Pakeh dalam sambutannya menyampaikan bahwa pendidikan pondok pesantren sudah ada sebelum negara merdeka, maka berbicara pondok pesantren (dayah)  berarti berbicara tentang pendidikan asli Indonesia yang meliputi pendidikan di meunasah meunasah dan rangkang.
 
"Kita melihat Dayah Tengku Chiek sampai pendidikan al-jami'ah seperti masjid raya Baiturrahman Banda Aceh," ujar Kakanwil.
 
Adanya lembaga pendidikan ini, katanya, dapat dilihat melalui berbagai situs sejarah lembaga tersebut, seperti dayah Tgk Awe Geutah di peusangan, Dayah Tgk Syik Di Tiro, Dayah Tgk Chik Tanoh Abee, Dayah Krueng Kalee dan lainnya.
 
"Sepenggal kisah sejarah tersebut cukup membuktikan bahwa dayah atau pondok pesantren telah berperan jauh sebelum Republik ini mengenal sistem pendidikan, dari dulu pesantren sudah memiliki kualitas dan ini harus kita pertahankan," ucapnya.
 
Daud Pakeh juga mengatakan ma'had aly adalah solusi yang telah dicetuskan untuk meningkatkan kualitas pendidikan pesantren. Lulusan ma'had aly nantinya adalah ilmuan pesantren yang siap berdiri didepan memberikan solusi (problem solving) terhadap permasalahan yang timbul dan berkembang dalam masyarakat.
 
"Kami sangat bersyukur bahwa dari 48 ma'had aly di Indonesia, dua di antaranya ada di kabupaten Aceh Utara, keempat mahad aly di Aceh, yaitu MUDI MESRA Samalanga, Darul Munawwarah Ulee Glee, Ma'had Aly Malikussaleh di Panton Labu dan Babussalam AlHanafiyyah ini," sebutnya.
 
Kehadiran ma'had aly sebagai perguruan tinggi keagamaan Islam milik pesantren diharapkan akan melahirkan para alim di berbagai bidang agama, seperti Fakutas kedokteran melahirkan para dokter, teknik dan fakultas lainnya. Begitu juga, tambahnya, dengan kehadiran ma'had aly mampu mencetak orang-orang yang memiliki keahlian ilmu agama, karena negara saat ini membutuhkannya, bukannya lulusan yang siap bekerja saja.
 
"Mudah-mudahan menjadi titik awal bangkitnya pendidikan mahad aly di Indonesia, bermula di Aceh untuk Indonesia," harapnya.
 
Karena itulah, kata M. Daud Pakeh, pihaknya selaku Kakanwil Kementerian Agama berusaha semaksimal mungkin untuk provinsi Aceh, harus mampu melahirkan legalitas pondok pesantren sebanyak mungkin pada program ma'had aly.
 
Pada kesempatan tersebut, Kasi Ketenagaan Subdit Diniyah pada dari Direktorat Pondok Pesantren Kemenag RI, Agus Umar menyerahkan SK Ma'had 'Aly Babussalam Al-Hanafiyyah yang diterima langsung Oleh Kakanwil. Selanjutnya Kakanwil Kemenag Aceh menyerahkan SK tersebut kepada pimpinan Dayah Babussalam Al Hanafiyah, Tgk. H. Sirajuddin Hanafi.
 
Tgk. H Sirajuddin Hanafi mengharapkan kepada seluruh pihak untuk membimbing dan membantu pengurus mahad aly supaya menjadikan ma'had aly ini bisa menciptakan generasi yang berilmu pengetahuan tinggi tidak kalahnya dengan sarjana Luar.
 
Secara terpisah, menyambut peresmian Ma'had Aly Babussalam Al-Hanafiyyah, Kepala Dinas Pendidikan Dayah Provinsi Aceh, Usamah El Madny mengatakan bahwa pendirian ma'had aly pada dayah di Aceh merupakan wujud usaha keras dan kemandirian dari kalangan dayah itu sendiri dalam rangka menghadirkan institusi dayah sebagai bagian dari perkembangan zaman.
 
Hal itu dikatakannya dengan alasan bahwa ma'had aly pada dasarnya adalah lembaga pendidikan tinggi yang sepenuhnya dirancang dan dikelola oleh dayah.
 
"Ma'had aly selama ini diberi peluang untuk berkembang atas dasar kemauan dan kesanggupan para pengelolanya. Di satu sisi, hal ini menunjukkan kemandirian dayah yang luar biasa dalam memenuhi kebutuhannya sendiri untuk mencetak ulama intelektual yang mempunyai sikap profesionalisme yang tinggi dengan kesanggupan mengerjakan tugas-tugas kepemimpinan dan administrasi secara modern," ujarnya.
 
Usamah melanjutkan, cikal bakal pembentukan ma'had aly dilatarbelakangi oleh kebutuhan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dayah tingkat tinggi yang mampu melahirkan ulama ditengah-tengah kemajuan dunia ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini.
 
Dalam usaha meningkatkan partisipasi dan mutu pendidikan tinggi merupakan kewajiban semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat. Pemerintah berkewajiban mendorong dan membuka peluang yang seluas-luasnya bagi partisipasi masyarakat dalam bidang pendidikan tinggi sesuai dengan minat, perhatian dan kemampuan yang dimilikinya.
 
Untuk itu, kata Usamah, mewakili Pemerintah Aceh melalui Dinas Pendidikan Dayah Aceh, pihaknya akan terus mendukung dan memberikan Konstribusi positif untuk pengembangan dayah dan SDM-SDM di Dayah, tegas Usamah. (Kiamuddin/Abdullah Alawi)
Bagikan:

Baca Juga

Rabu 14 Agustus 2019 22:30 WIB
Dilantik, LPNU Kota Bandung Komitmen Bangkitkan Peran UKM
Dilantik, LPNU Kota Bandung Komitmen Bangkitkan Peran UKM
Pelantikan Pengurus LPNU Kota Bandung.
Bandung, NU Online
Pengurus Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) Kota Bandung, Jawa Barat resmi dilantik, prosesi pelantikan dilangsungkan di Gedung Kadin Kota Bandung  di Jalan Talaga Bodas, Kota Bandung, Jawa Barat, Rabu (14/8).  

Dalam sambutannya, Ketua LPNU PCNU Kota Bandung, Rahmat Andi berkomitmen membangkitkan peran Usaha Kecil Menengah (UKM) bagi kader-kader NU di Kota Bandung.  

"Potensi pasar di Kota Bandung, terutama dari UKM sangat besar. Ini yang harus kita kembangkan dengan berbagai inovasi dari masyarakat," katanya saat dikonfirmasi NU Online.

Ia menjelaskan, kehadiran UKM saat ini berkontibusi penuh terhadap peningkatan laju perekonomian di Kota Bandung. Persentasenya cukup baik yakni 4 persen, angka itu kata Rahmat, menggambarkan potensi ekonomi di Kota Bandung yang sangat bagus.

Untuk sampai pada tujuannya itu, Rahmat menilai pelaku usaha kecil dan menengah haus bersinergi dengan pemerintah. Sebab permasalahannya semua sama yakni pada persoalan modal UKM yang dianggap tidak naik kelas sehingga tidak bisa menjadi usaha besar.

"Gotong royong yang dibutuhkan, yakni sinergi pemerintah, lembaga stakeholder dan UKM. Bukan hanya pelatihan, tapi menghasilkan sesuatu yang produktif lebih lanjut," ucapnya.

Setelah vakum beberapa tahun, LPNU PCNU Kota Bandung dibawah komandonya berkomitmen penuh terhadap majunya UKM di Kota Bandung terutama untuk internal NU. Misalnya dengan memunculkan kreativitas dan inovasi dari para kaum milenial yang ada di LPNU PCNU Kota Bandung.

"Dengan para pengurus LPNU yang kini berjiwa muda, maka akan muncul inovasi akan perekonomian di Kota Bandung," ujarnya.

Sementara itu, Ketua PCNU Kota Bandung, Agus Syarif, berharap anak muda dapat mencurahkan pikiran, tenaga dan kreasinya untuk kemajuan ekonomi Kota Bandung. Terutama menginventarisir berbagai kelebihan ekonomi di masyarakat.

Ia meminta jangan terjebak dengan kendala seperti persoalan modal dan akses, perkuat kemauan terlebih dahulu agar secara bertahap semua masalah bisa dilewati. Namun, ia juga meminta kepada pemerintah untuk memperhatikan UKM tersebut sebab akan sangat mempengaruhi perekonomian di Kota Bandung.

"Pelaku usaha kecil dan menengah merupakan garda terdepan perekonomian di Kota Bandung. Ini yang harus didukung oleh semua pihak dan stakeholder, terutama pemerintah," ucapnya. (Abdul Rahman Ahdori/Fathoni)
Rabu 14 Agustus 2019 21:15 WIB
RMINU Jabar Bakal Gelar Perlombaan Pembacaan Kitab Kuning
RMINU Jabar Bakal Gelar Perlombaan Pembacaan Kitab Kuning
Ilustrasi kitab (via islamrf.org)
Cirebon, NU Online
Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Barat akan menggelar Musabaqah Qiroatul Kutub (MQK) atau Perlombaan Membaca Kitab Kuning bagi santriawan dan santriawati. Kegiatan yang dipastikan dihelat Ahad 1 September 2019 mendatang tersebut digelar dalam rangka memperingati tahun baru Islam 1441 H.

Ketua Panitia Kegiatan, Ustadz Hamdani mengatakan kegiatan direncanakan dilaksanakan di Pesantren Assalfie Babakan Ciwaringin Cirebon, Jawa Barat. Jenis kitab yang diperlombakan antara lain Ushul Fiqih, Matan Al-Imrity, Fathul Qorib, Matan Alfiyah Ibnu Malik, Bulughul Maram, dan Ihya Ulumiddin.

“Ushul Fiqih, Matan Al-Imrity untuk usia maksimal 20 tahun, Fathul Qorib, Matan Alfiyah Ibnu Maliki, untuk usia 22 tahun, Bulughul Maram untuk usia 24 tahun dan Ihya Ulumiddin untuk usia 26 tahun,” katanya kepada NU Online, Rabu (14/8) sore.

Pendaftaran dibuka dua jalur, pertama online melalui aplikasi WA kepada panitia menyertakan nama, marhalah, kitab, dan asal pesantren. Sementara jalur offline bisa langsung mendatangi Sekretariat Panitia di Pesantren Assalafie di Gondang Manis Ciwaringin Cirebon, Jawa Barat.

“Tujuan kegiatan ini yakni untuk mengembangkan kreativitas santri terutama dalam hal membaca kitab kuning. Kedua, meningkatkan kemampuan santri dalam melakukan kajian dan pendalaman ilmu agama islam dari sumber kitab-kitab berbahasa arab  dan Ketiga, menjalinkan silaturahim antar Pesantren se-Jawa Barat,” ujarnya.

Kegiatan perlombaan, kata Hamdani, setiap tahun digelar, namun tahun sebelumnya cakupannya hanya Pesantren yang ada di Cirebon saja. Sedangkan yang jangkauannya se-Jawa Barat baru kali ini.

“Alhamdulillah sudah berjalan sudah 5 tahun dengan sebelumnya hanya wilayah 3 Cirebon. Dan alhamdulillah untuk tahun sekarang itu se Jawa Barat,” ungkapnya. (Abdul Rahman Ahdori/Fathoni)
Rabu 14 Agustus 2019 20:30 WIB
Non Muslim: Sumbang Kurban untuk Berbagi Bersama Muslim
Non Muslim: Sumbang Kurban untuk Berbagi Bersama Muslim
Para pengurus Muslimat NU Jember dan seorang non Muslim tengah memasukkan daging-daging kurban kedalam tas kresek

Jember, NU Online

Sikap elegan NU yang menjunjung tinggi toleransi dan mengayomi penganut agama minoritas menuai simpati dari kalangan non Muslim. Paling tidak, hal itu dialami oleh Pimpinan Cabang Muslimat NU Jember ketika menggelar penyembelihan hewan kurban di hari tasyrik pertama, Senin (12/8) . Simpati itu ditunjukkan dengan menyumbang seekor kambing untuk disembelih bersama dengan sapi dan beberapa ekor kambing lain di halaman kantor PC Muslimat NU Jember, Jalan KH Shidiq, Talangsari Jember, Jawa Timur.

 

Valeria Grossatudinis Castitas, namanya. Menurut pengakuan wanita dari Gereja Katolik Santo Yusuf ini, pemberian kambing kurban tersebut dimaksudkan untuk berbagi kebahagiaan bersama Muslimat NU di perayaan Idul Adha 1440 Hijriyah.

 

“Saya ingin berbagi dengan saudara-saudara Muslim. Yang mendasari saya ingin bergabung kurban dengan Muslimat NU, saya ingin memberikan yang saya punya dengan berbagi terhadap sesama yang merupakan saudara saya juga,” urainya kepada NU Online.

 

Di tempat yang sama, Ketua PC Muslimat NU Jember, Hj. Emi Kusminarni menegaskan bahwa sumbangan kurban dari non Muslim itu menunjukkan bahwa dakwah damai yang dilakukan Muslimat NU menembus relung hati lintas iman.
 

“Bukan soal berapa yang disumbangkan, tapi ini menjadi tanda bahwa kerukunan antar umat beragama di Jember, jalan. Hubungan kami dengan non Muslim cair,” tambahnya.

 

Dikatakan Emi, dalam moment-moment kegiatan sosial, PC Muslimat NU Jember kadang melibatkan non Muslim. Tujuannya adalah untuk merajut kebersamaan dan kerukunan antar umat beragama. Kebersamaan harus terus dijalin untuk memastikan kerukunan tetap berlanjut. Sebab, jika kerukunan ternoda setitik saja, bisa jadi akan mengundang kekecewaan, atau bahkan kemarahan saudara seagamanya di daerah lain.

 

“Oleh karena itu betapa pentingnya kita mengokohkan kerukunan dengan sesama Muslim, dan jangan lupa kita merajut kebersaman dengan non Muslim,” ungkapnya.

 

Setelah dipotong, daging-daging yang sudah dibungkus kresek itu diberikan kepada pemulung, tukang becak an warga sekitar.

 

Pewarta : Aryudi AR

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG