IMG-LOGO
Opini

KH Maimoen Zubair dan 'Al-‘Ulama’ Al-Mujaddidun'

Rabu 14 Agustus 2019 9:30 WIB
Bagikan:
KH Maimoen Zubair dan 'Al-‘Ulama’ Al-Mujaddidun'
Mustasyar PBNU KH Maimoen Zubair (via Radar Kudus)
Oleh Sahal Japara
 
Simbah KH Maimoen Zubair (28 Oktober 1928 - 06 Agustus 2019) merupakan kiainya para kiai di zamannya. Begitu banyak ulama, habaib dan kiai Nusantara yang menjadi santri Mbah Maimoen. Selain menitiskan banyak ulama, habaib dan kiai, menghabiskan waktu untuk mengaji dan berkhidmah kepada umat, Mbah Maimoen juga meluangkan waktu untuk menulis kitab-kitab, antara lain, seperti: Tarajim Masyayikh al-Ma’had ad-Diniyyah bi Saranj al-Qudama’, Maslak at-Tanassuk al-Makky fi al-Ittishalat bi as-Sayyid Muhammad bin Alawy al-Makky, Tsunami fi Biladina Indonesia Ahuwa ‘Adzab am Mushibah?, dan al-‘Ulama’ al-Mujaddidun.

Kitab al-‘Ulama’ al-Mujaddidun (para ulama pembaharu), merupakan kitab karya Mbah Maimoen yang membahas tentang dinamika pembaharuan-pembaharuan yang dilakukan oleh para ulama di dalam sejarah perkembangan Islam. Syari’at Islam tetap, akan tetapi kondisi zaman selalu berubah, sehingga keadaan ini menuntut lahirnya para ulama pembaharu yang mampu memberikan solusi atas berbagai problematika umat yang bersifat kekinian dengan tetap berlandaskan kepada Syari’at Islam. Hal ini selaras dengan Sabda Rasulullah SAW tentang adanya para ulama pembaharu di setiap abad:

إِنَّ اللهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الْأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِيْنَهَا

Artinya: “Sesungguhnya Allah akan mengutus bagi umat ini orang yang akan memperbaharui (urusan) agama mereka pada setiap akhir seratus tahun.”

Mbah Maimoen menyitir hadits tersebut di awal-awal pembahasan kitab al-‘Ulama’ al-Mujaddidun dengan memberikan penjelasan, bahwa yang dimaksud ulama pembaharu di dalam Islam adalah: Pertama, mampu menjelaskan perkara sunnah dan memisahkannya dari bid’ah (yubayyin as-sunnah min al-bid’ah). Kedua, senantiasa memperbanyak ilmu dengan belajar dan mengajar (yuktsir al-‘ilma). Ketiga, selalu berkenan untuk memberikan pertolongan kepada umat (yanshuru ahlahu). Keempat, berani menentang para ahli bid’ah (yuqmi’u ahlal bid’ah).

Sudah menjadi sunnatullah, bahwa peradaban manusia selalu berkembang dan berubah seiring perkembangan zaman. Akan tetapi di setiap masa, Allah akan selalu menghadirkan para ulama pembaharu yang mampu menjawab persoalan umat dan tantangan zaman. Sebagai contoh, pada periode awal, saat Al-Qur’an pertama kali diturunkan kepada Rasulullah SAW, tidak dalam keadaan tertulis di kertas atau pun di mushaf. Kemudian Rasulullah Saw membacakannya di hadapan para sahabat, sementara para sahabat hanya mendengarkan lalu menghafalkan ayat-ayat Al-Qur’an tersebut hingga menancap kokoh di dalam hati. Al-Qur’an pada periode Sahabat belum berbentuk Mushaf. Huruf-hurufnya sama sekali tidak ada titik dan syakal, sehingga sangat sulit bagi orang-orang non-Arab (baca: ‘ajam) untuk membaca Al-Qur’an.

Pasca periode Sahabat, Allah SWT mengirimkan sekelompok ulama yang mampu menjawab tantangan di zamannya, seperti: Imam Ahmad al-Farahidi, Imam Abu Aswad ad-Du’ali dan para ulama lain. Mereka mampu menjawab persoalan umat dalam hal kesulitan membaca Al-Qur’an, dengan menemukan titik dan syakal. Titik dan syakal inilah yang mampu membedakan antarhuruf maupun antarharakat bahasa Arab di dalam Al-Qur’an. Tujuannya adalah untuk menghilangkan kesalahaan membaca Al-Qur’an yang dapat menimbulkan kesalahan pemahaman dan pemaknaan. Pada periode-periode berikutnya, lahir beberapa ulama besar Islam, seperti: Syekh Abu Bakar al-Baqilaniy, Syekh Abu Hamid al-Ghazali, Syekh Yahya an-Nawawi, Syekh Ibnu Daqiq al-‘Ied, Syekh Jalaluddin al-Bulqini, Syekh Jalaluddin al-Mahalli, Syekh Jalaluddin as-Suyuthi dan lain-lain.

Para ulama pembaharu ini merupakan pewaris Nabi yang mampu menerjemahkan Al-Qur’an dan Sunnah Nabawiyyah untuk menjawab persoalan umat yang hadir di setiap zaman. Di tangan-tangan para ulam mujaddidun inilah Al-Qur’an dan Sunnah Nabawiyyah bisa benar-benar hidup. Mereka sama sekali tidak ragu dan tidak pula khawatir dalam menyampaikan kebenaran ajaran Islam. Keteguhan mereka dalam berdakwah dan menyampaikan risalah Nabi Muhammad SAW pernah disinggung oleh Rasulullah SAW dalam salah satu sabdanya:

لَا تَزَالُ طَائِفَة ٌمِنْ أُمَّتِيْ ظَاهِرِيْنَ عَلَى الْحَقِّ، لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ كَذَلِكَ

Artinya: “Tidak henti-hentinya ada segolongan dari umatku yang selalu menampakkan kebenaran, yang tidak akan goyah oleh orang-orang yang merendahkannya, sampai-sampai hingga datang keputusan Allah pun, mereka masih tetap seperti itu (memperjuangkan kebenaran).”

Di dalam kitab al-‘Ulama’ al-Mujaddidun ini, Mbah Maimoen berpesan kepada generasi sekarang, ---sebuah generasi yang lahir di era tumbuh suburnya teknologi---, supaya selalu mendasarkan pendapat dan perilaku kepada ucapan dan teladan perilaku ulama, mengkaji kitab-kitab mereka dan selalu berjalan di atas manhaj mereka. Sebab merekalah para pewaris Nabi yang sesungguhnya, yang hatinya selalu mendebar-detakkan dzikrullah setiap saat, dan kehadirannya selalu dinanti-rindukan oleh umat.
 
وَلَمْ تَزَلِ الظُّرُوْفُ الْحَالِيَةُ تُبَرْهِنُ عَلَى وُجُوْبِ الْإِلْتِحَاقِ وَالْإِنْتِسَابِ عَلَى نَاشِئِيْ هَذَا الْعَصْرِ إِلَى الْعُلَمَاءِ وَكُتُبِهِمْ وَمَنَاهِجِهِمْ، فَكُلَّمَا ازْدَادَتِ الْأَيَّامُ وَالْأَعْوَامُ، اِزْدَادَتَ القِلَّةُ وَالْغَرَابَةُ عَلَى مَنْ فِيْ هَذِهِ الْمَثَابَةِ

Artinya: “Kondisi-kondisi saat ini tiada henti membuktikan atas kewajiban para generasi era sekarang untukselalu mengikuti dan mendasarkan diri kepada para ulama, kitab-kitab dan manhaj mereka. Karena setiap kali bertambah hari dan bertambah tahun, bertambah pula kekurangan dan keterasingan atas penghuni dunia (lantaran banyaknya ulama-ulama besar yang telah wafat dan meninggalkan ummat dalam kekurangan dan keterasingan).”

Kitab al-‘Ulama’ al-Mujaddidun ini selesai ditulis oleh beliau wallahu yarham Simbah KH Maimoen Zubair pada Hari Ahad 7 Shafar 1428 H/25 Februari 2007 M. Setelah membacanya, saya haqqul yaqin percaya dan merasakan bahwa Mbah Maimoen merupakan salah satu Ulama’ Mujaddidun yang diutus Allah SWT untuk umat abad ini. Semoga kita semua mendapatkan limpahan berkah beliau dunia akhirat, lahu al-Fatihah....
 
 
Penulis adalah pengagum berat Mbah Kiai Maimoen Zubair, abdi ndalem Pondok Tahfidh Yanbu’ul Qur’an 1 Pati
 
Bagikan:

Baca Juga

Rabu 14 Agustus 2019 11:15 WIB
Pramuka dan Gerakan Kepemudaan di Tubuh NU
Pramuka dan Gerakan Kepemudaan di Tubuh NU
Gerakan Pramuka (ist)
Oleh Fathoni Ahmad

Gerakan kepanduan yang kini kita kenal dengan Gerakan Praja Muda Karana (Pramuka) tidak lepas dari peran para kiai pesantren sebagai inisiator gerakan pemuda di Indonesia. Para kiai, terutama KH Abdul Wahab Chasbullah (1888-1971) menyadari bahwa perjuangan melawan penjajah membutuhkan peran para pemuda sebagai generasi penerus bangsa. Bahkan, para pemuda merupakan investasi berharga sebuah bangsa dalam meneruskan perjuangan memakmurkan seluruh rakyat dan menyatukannya dalam bingkai keindonesiaan.

Di sini Kiai Wahab Chasbullah menginisiasi gerakan para pemuda dalam sebuah wadah perkumpulan atau organisasi yang dinamainya Nahdlatul Wathan. Dalam catatan Choirul Anam (2010), Nahdlatul Wathan yang didirikan Kiai Wahab pada 1916 itu merupakan sebuah perguruan atau madrasah. Di dalamnya ada kurikulum pembelajaran berbasis keilmuan pesantren dan penanaman cinta tanah air dalam jiwa para pemuda. Prinsip cinta tanah air (hubbul wathan) ini ditekankan Kiai Wahab sebagai visi jangka panjang perjuangan dan gerakan para pemuda.

Dalam proses pembelajaran tersebut, Kiai Wahab menahbiskan Syubbanul Wathan (pemuda cinta tanah air). Konsep cinta tanah air melalui pendidikan ini menyadarkan para generasi muda agar bersatu melawan penjajah demi kemerdekaan bangsa Indonesia. KH Wahab Chasbullah berhasil mendirikan perguruan Nahdlatul Wathan atas bantuan beberapa kiai lain dengan dirinya menjabat sebagai Pimpinan Dewan Guru (keulamaan). Sejak saat itulah Nahdlatul Wathan dijadikan markas penggemblengan para pemuda. Mereka dididik menjadi pemuda yang berilmu dan cinta tanah air.

Bahkan setiap hendak dimulai kegiatan belajar, para murid diharuskan terlebih dahulu menyanyikan lagu perjuangan dalam bahasa Arab ciptaan Mbah Wahab sendiri. Kini lagu tersebut sangat populer di kalangan pesantren dan setiap kegiatan Nahdlatul Ulama (NU), yakni Yaa Lal Wathan yang juga dikenal dengan Mars Syubbanul Wathan. Benih-benih cinta tanah air ini akhirnya bisa menjadi energi positif bagi rakyat Indonesia secara luas sehingga perjuangan tidak berhenti pada tataran wacana, tetapi pergerakan sebuah bangsa yang cinta tanah airnya untuk merdeka dari segala bentuk penjajahan.

Selain itu, terlibatnya Kiai Wahab di berbagai organisasi pemuda seperti Indonesische studie club, Syubbanul Wathan, dan kursus Masail Diniyyah bagi para ulama muda pembela madzhab tidak lepas dari kerangka tujuan utamanya, membangun semangat nasionalisme bangsa Indonesia yang sedang terjajah. Bahkan pada 1924, Kiai Wahab membentuk Ahlul Wathan (Pandu Tanah Air) yang merupakan salah satu cikal bakal berdirinya Gerakan Pemuda Ansor. Setelah resmi berdiri pada 1934, GP Ansor mendirikan sayap organisasi bernama Pandu Ansor yang pernah mewakili Indonesia dalam Djambore Pandu Dunia ke-10 di Makiling, Los Banos (Laguna) Filipina pada 17-26 Juli 1959.

Dalam mengembangkan Madrasah Nahdlatul Wathan ini, Kiai Wahab berupaya menyebarkan 'virus' cinta tanah air secara luas di tengah masyarakat dengan membawa misi tradisi keilmuan pesantren. Perjuangan mulia ini tentu harus digerakkan secara terus-menerus melalui setiap lembaga pendidikan yang ada saat ini sehingga cita-cita luhur pendiri bangsa untuk memperkokoh Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) semakin kuat dan tak pernah surut. Termasuk melalui Gerakan Pramuka yang mempunyai anugerah sebagai ‘Manusia Pancasila’ dalam mars-nya.

Tidak bisa dipungkiri, semangat cinta tanah air dari Kiai Wahab Chasbullah inilah yang sedikit banyak menginspirasi dan menggerakaan para pemuda sesudahnya dalam forum sumpah pemuda pada 1928, dua tahun setelah NU berdiri pada 1926 di Surabaya. Berdirinya NU sendiri merupakan puncak pergerakan Kiai Wahab yang sebelumnya mendirikan sejumlah perkumpulan sebagai embrio lahirnya Nahdlatul Ulama.

Satu tahun sebelum deklarasi Sumpah Pemuda, tepatnya pada 9 Oktober 1927, para kiai dalam forum tertinggi NU memutuskan untuk menabuh genderang perang kebudayaan. Dalam perang kebudayaan ini, para kiai NU di antaranya melakukan pelarangan budaya Belanda yang tersimbol dalam ornamen mode pakaian.

Keputusan NU tahun 1927 tersebut bentuk perlawanan budaya para kiai terhadap penjajah. Perang kebudayaan yang digelorakan para kiai NU itu dalam implementasinya berwujud boikot dan delegitimasi atas budaya yang bersumber dari penjajah. Perang kebudayaan tersebut secara ekstrem juga berwujud legitimasi para kiai NU untuk berperang melawan penjajah.

Keputusan NU tentang perang kebudayaan tersebut secara langsung melahirkan hukum kewajiban muslim Nusantara untuk berperang mengangkat senjata. Sebab untuk kali pertama, NU menggolongkan penjajah saat itu sebagai kaum kafir yang harus diperangi dan ditundukkan. Keputusan NU untuk perang kebudayaan itu menyebar ke tengah masyarakat. Muslim Nusantara merespon cepat dengan melakukan pergerakan melawan penjajah. Segala macam asesoris, ornamen, simbol yang berbau penjajah mendapat penolakan keras dari masyarakat desa.

Selama satu tahun NU melakukan perang kebudayaan dengan berbagai konsekuensinya. Babak selanjutnya terjadi pada tanggal 9 September 1928 saat NU menggelar Muktamar sebulan sebelum deklarasi Sumpah Pemuda. Saat Muktamar NU 1928 tersebut para kiai memutuskan untuk melanjutkan perang kebudayaan menghadapi penjajah. Para kiai pun menambah agenda baru konfrontasi dengan Belanda dengan memasukkan isu ekonomi dan politik.

Pada isu ekonomi para kiai melakukan delegitimasi mata uang penjajah. Sedangkan isu politik digulirkan dengan mempertanyakan keabsahan kekuasaan penjajah di bidang keagamaan. Maka menjelang Sumpah Pemuda, perlawanan para kiai NU maju dua langkah. Pertama, menyisir dari kelemahan mata uang penjajah. Kedua, menyisir dari kelemahan kekuasaan penjajah di bidang keagamaan.

Satu bulan pasca Muktamar NU ke-3, tepatnya pada tanggal 28 Oktober 1928, Sumpah Pemuda dideklarasikan dengan digawangi oleh Sugondo Djojopuspito, RM. Djoko Marsaid, Muhammad Yamin, dan Amir Sjarifuddin. Tema besar Sumpah Pemuda cepat direspon masyarakat mengingat Sumpah Pemuda adalah bagian dari babak perjuangan anak bangsa, termasuk NU yang sejak awal sudah melakukan sejumlah perjuangan. Inilah yang dimaksud bahwa NU adalah bagian dari gerakan sistematik kebangkitan nasional. Termasuk membangun kesadaran berbangsa para pemuda sejak dini.

Pijakan perjuangan dalam menanamkan benih-benih cinta tanah air kepada para pemuda yang dilakukan oleh KH Wahab Chasbullah ialah dawuh gurunya sekaligus kawan seperjuangannya, KH Muhammad Hasyim Asy’ari (1841-1947). Berangkat dari prinsip keilmuan pesantren dan kondisi bangsa, Kiai Hasyim Asy’ari mencetuskan hubbul wathan minal iman (cinta tanah air adalah bagian dari iman). Sebab itu, perjuangan dan perlawanan melepaskan diri dari setiap penjajahan ialah kewajiban agama.

Seluruh gerakan kepanduan pemuda di Indonesia disatukan oleh Presiden Soekarno pada 1961 ke dalam Gerakan Praja Muda Karana, tepatnya 14 Agustus 1961. Tirto mencatat, sebelumnya pada 1928, Persaudaraan Antara Pandu Indonesia (PAPI) dibentuk lalu berkembang menjadi Badan Pusat Persaudaraan Kepanduan Indonesia (BPPKI). Kemudian pada 1945 dilaksanakan Kongres Kepanduan Indonesia di Solo, Jawa Tengah yang melahirkan Gerakan Pandu Rakyat Indonesia. Lalu pada 1951, Ikatan Pandu Indonesia (IPINDO). Dan pada 1953, IPINDO menjadi anggota kepanduan sedunia.

Berangkat dari sejarah perjuangan para kiai pesantren dalam menumbuhkan cinta tanah air di dada para pemuda di awal-awal pergerakan nasional melawan penjajah, Gerakan Pramuka yang pada 2019 telah berumur 58 tahun harus terus menegaskan diri sebagai wadah ‘Manusia Pancasila’. Pramuka yang terintegrasi dengan anak didik di setiap jenjang pendidikan juga harus konsisten menjadi corong dalam menjaga persatuan, keberagaman, tradisi, dan budaya dalam bingkai keindonesiaan yang hakiki berdasarkan nilai-nilai Pancasila. Salam Pramuka!
 
 
Penulis adalah anggota LAKSANA Gerakan Pramuka 2006-2007, Redaktur NU Online
Senin 12 Agustus 2019 17:15 WIB
Dimensi Sosial dalam Ibadah Kurban: Belajar Sifat Asih Nabi Ibrahim
Dimensi Sosial dalam Ibadah Kurban: Belajar Sifat Asih Nabi Ibrahim
Ilustrasi ibadah kurban (ist)
Oleh Fathoni Ahmad

Tingkat spiritualitas seseorang dapat terlihat ketika dia hidup berdampingan dengan orang lain. Di sini ajaran agama mewujud dalam kehidupan sosial dengan mendasarkan diri pada akhlak sesuai ajaran Nabi Muhammad SAW. Dimensi sosial tidak hanya terdapat pada ibadah seperti shalat, zakat, puasa, dan lain-lain, tetapi juga ibadah kurban pada hari raya idul adha. Bahkan di hampir semua ibadah, mengandung aspek kehidupan sosial. Hal ini menunjukkan bahwa ajaran agama kembali kepada manusia dan untuk manusia.

Aspek sosial dalam ibadah kurban jelas terlihat ketika seorang hamba berbagi kebahagiaan terutama dengan masyarakat kurang mampu untuk dapat menikmati daging kurban, baik berupa sapi maupun kambing. Dimensi ini akan menyadarkan individu bahwa kepedulian terhadap sesama manusia mempunyai peran yang sangat penting untuk menumbuhkan keshalehan sosial pada diri pribadi maupun orang lain. Jadi dampak ibadah kurban bukan satu arah, melainkan saling timbal balik memunculkan kebaikan.

Tentu sempit jika kepedulian kepada sesama manusia dimaknai melalui kurban. Ibadah kurban hanya salah satu amal shaleh yang dianjurkan oleh Allah untuk mengambil pelajaran berharga dari historisitas luar biasa Nabi Ibrahim, Ismail, dan Siti Hajar. Ketiga orang mulia ini bahkan menjadi penuntun umat muslim dalam menjalankan tahap-tahapan ibadah haji selama ini. Sebagaimana diketahui, rukun haji seperti Sa’i dan lempar jumroh berasal dari riwayat sejarah Nabi Ibrahim dan Siti Hajar. Namun, hendaknya dipahami secara substantif meskipun terwujud dalam bentuk simbol-simbol dalam ibadah haji.

Dalam momen Idul Adha ini, Nabi Ibrahim dan keluarganya merupakan teladan penghambaan terbaik manusia kepada Tuhannya. Sebab itu, ibadah haji dan kurban tidak hanya sebatas ritual saja, tetapi bagaimana menjadikan peristiwa Nabi Ibrahim dan hal-hal yang melingkupinya dijadikan instrumen berharga untuk menghamba kepada Allah, bukan justru menghamba pada ritual-ritual tersebut. Sehingga tak jarang ditemui orang yang berkali-kali menunaikan ibadah haji, tetapi justru tetangga sekitarnya mengalami kekurangan dalam memenuhi kebutuhan hidup.
 
Begitu juga dengan kurban, ibadah yang seharusnya mampu menjadi sebuah kebaikan alam bawah sadar manusia agar kepedulian terhadap sesama terus dipupuk di hari-hari berikutnya, namun lewat begitu saja sebagai sebuah ritus tahunan. Di titik inilah kurban benar-benar harus dijadikan penghambaan kepada Allah sehingga ibadah kurban menjadi sebuah energi pendorong masyarakat untuk menghamba kepada Tuhan. Artinya, penerima daging kurban juga harus memiliki semangat berkurban di tahun berikutnya agar selamanya tidak menjadi penerima, tetapi pemberi.

Tuntunan kurban juga terdapat dalam Al-Qur’an Surat Al-Kautsar ayat 2 yang menyatakan, Fashalli lirabbika wan har, “Maka laksanakanlah sholat karena Tuhanmu dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah)".

Makna kurban dalam ayat tersebut mempunyai beberapa dimensi karena muaranya adalah taqwa kepada Allah. Untuk mencapai derajat tersebut, manusia tidak mungkin hanya bermodal keshalehan vertikal kepada Tuhannya, melainkan mampu menumbuhkan keshalehan sosial kepada sesama manusia sebagai basis kekhalifahan di muka bumi. Dimensi yang dimkasud yaitu dimensi sosial dan spiritual.

Menurut Ahli Tafsir Muhammad Quraish Shihab (2011), dalam bahasa Al-Qur’an, pengertian kurban bukan dalam arti yang disakiti, tapi kurban lebih banyak diartikan sebagai persembahan. Qurb itu artinya dekat, sesuatu yang berharga kita persembahkan dalam rangka mendekatkan diri pada Allah, itulah kurban. Dalam Idul Adha, memang ada kata yang juga diartikan korban terambil dalam kata adha ini. Karena itu tadi, seorang atau sesuatu yang terlukai itu mestinya menimbulkan rasa iba kepadanya dan pada akhirnya anda akan merasakan sakit sebagaimana sakitnya yang dikurbankan, itu pengertian kebahasaan dari kurban.

Dalam momen ibadah kurban, dimensi sosial juga dapat umat Islam ambil dari Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim dikenal sangat mengasihi sesama manusia. Kalau ada tamu berkunjung, selalu disambut dengan luar biasa. Dengan sembunyi-sembunyi, Nabi Ibrahim memberi tahu keluarganya untuk membuatkan makanan dan minuman untuk tamu yang sedang berkunjung. Kenapa sembunyi-sembunyi? Karena ia khawatir, kalau tamunya tahu akan merasa sungkan dan menolak jamuan. Kalau sang tamu pamit pulang, Nabi Ibrahim tidak mengantarnya sampai ke pintu keluar, tapi diantar sampai jauh ke luar rumah, begitu hormatnya dia pada tamu.

Dari aspek sosial yang dapat diambil ibrah atau pelajaran dari Nabi Ibrahim, menurut Quraish Shihab, Idul Adha dapat dijelaskan beberapa aspek. Pertama, Idul Adha atau hari Raya Kurban, tujuannya mengingatkan manusia tentang perlunya berkorban, karena manusia, sebagai masyarakat tidak dapat tegak tanpa kesediaan berkorban.
 
Kedua, korban Idul Adha itu dinamai demikian karena kelembutan hati orang yang berkorban, dan kelembutan hati itu dibuktikan oleh ketulusan yang memberi. Korban adalah manifestasi dari rasa iba anda melihat orang lain. Atau dalam bahasa yang lebih umum “Rahmat”, yang bermakna kasih, dan Agama ini intinya adalah Rahmatan lil Alamin, rahmat atau kasih bagi seluruh alam.

Rahmat itu keperihan hati, yang mendorong orang yang perih itu untuk mengurangi ketidakberdayaan orang lain itu setelah melihat ketidakberdayaan orang lain. Dan jika dorongan itu semakin besar, semakin banyak pengorbanan yang diberikan, atau pemberiannya pada orang lain. Tanpa kesediaan berkorban tidak ada akhlak, tanpa akhlak manusia runtuh. Karena krisis yang dihadapi masyarakat yang tidak berakhlak, menjadikan mereka menggunakan krisis itu menjauh dari pengorbanan, tapi untuk keuntungan diri sendiri, lahirlah budaya mumpung, mencari kesempatan dari krisis.

Disyariatkannya kurban ini merujuk pada Nabi Ibrahim, yang bersedia menuruti perintah Tuhan untuk mengorbankan anaknya sendiri, tapi kemudian Tuhan melarang mengorbankan manusia, walaupun di saat yang sama, manusia harus sadar bahwa tidak ada yang mahal untuk Allah. Ibrahim adalah tokoh yang menghimpun sekian banyak keistimewaan, karena itu ada ibadah haji yang digunakan untuk kita meneladani Nabi Ibrahim.
 

Penulis adalah Redaktur NU Online
Kamis 8 Agustus 2019 14:0 WIB
Sisi Kemanusiaan Ibadah Haji
Sisi Kemanusiaan Ibadah Haji
Foto Haji Kemenag
Oleh Warsa Suwarsa
 
Tidak semua Muslim bisa menunaikan ibadah haji. Bukan hanya orang Indonesia, kaum Muslimin yang tinggal di Saudia Arabia saja belum tentu dapat menunaikan ibadah haji secara keseluruhan.
 
Ada orang yang memandang, itulah alasan kenapa ibadah haji merupakan panggilangan langsung dari Allah, yang lain lagi menyebutkan sebagai undangan dari Tuhan. Bisa saja orang biasa, secara kasat mata dia tidak mungkin dapat memenuhi biaya pelaksanaan ibadah haji namun toh dia berangkat ke Mekah juga. Sebaliknya, tidak sedikit orang kaya dan mampu membayar biaya haji namun sama sekali sampai tahun ini belum berangkat ke Mekahjuga, bahkan mendaftar dan menabung ONH saja tidak terpikir sama sekali. 
 
Pandangan orang tentang hal di atas dapat saja benar. Namun yang paling hakiki dari kenyataan dan realitas kehidupan ini, saya tetap berpegang tegung pada pandangan bahwa hidup memang selalu diliputi oleh misteri. Pada sisi lain, hidup memang absurd, dan manusia hebat adalah manusia yang dapat larut dan melawan abrusditas dalam kehidupan tersebut. 
 
Islam memandang –bahkan jika kita telaah ayat-ayat di dalam al-Quran- ibadah haji merupakan salah satu ibadah yang melintasi dimensi-dimensi realitas. Haji merupakan jenis ubudiyah dengan corak multi dimensi, dipenuhi oleh berbagai simbol yang dapat saja ditafsirkan melalui pendekatan syariat, tarekat, dan hakikat. Ayat-ayat al-Quran tentangnya juga dapat saja ditakwilkan dengan berbagai sudut pandang.
 
Adanya alternatif dalam menakwilkan dan banyaknya simbol dalam haji mengunguhkan betapa mudahnya Islam ini diterapkan oleh umat dengan pendekatan-pendekatan yang tidak kaku. Banyak sekali hadits yang menjelaskan varian kebaikan jika dilakukan oleh kita ekses yang ditimbulkannya memiliki makna dan kebaikan yang sebanding dengan pelaksanaan ibadah haji. Orang-orang yang tinggal di Indonesia dan belum memiliki kekuatan –terutama finansial – tetapi dia bersikap baik dan menolong tetangga, teman, lebih hebat lagi berbakti kepada kedua orangtua, kebaikan-kebaikan tersebut sebanding dengan kita menunaikan ibadah haji.
 
Haji dalam perspektif ahli syariat dapat saja hanya sebatas penyelenggaraan ritual-ritual yang telah dipraktikkan selama proses manasik sebelum para jamaah berangkat ke Mekah. Sementara itu, menurut Nasarudin Umar, Imam Besar Masjid Istiqlal, haji dalam perspektif ahli hakikat lebih dalam lagi. Dalam perspektif hakikat, haji tidak sekadar mengamalkan rukun-syarat disertai penghayatan mendalam. Namun, mereka memaknai ritualitas haji dan umrah sarat dengan peristiwa simbolis. Karena itu, kelompok ini mungkin tidak berbeda dengan cara pengamalan Jamaah haji lain, tetapi pemaknaan terhadap simbol-simbol hajinya yang berbeda (Nasarudin Umar: 2019).
 
Di antara kita mungkin pernah mendengat kisah-kisah orang hebat, para wali, para ajengan yang dapat pergi dan menunaikan shalat Jum’at langsung ke Mekah. Dapat dibayangkan, untuk berangkat ke Mekah pada awal abad ke 20 saja orang Indonesia memerlukan waktu selama enam bulan dalam satu kali keberangkatan. Lantas ada orang yang mengatakan, dia menunaikan shalat Jum’at langsung di Mekah pada hari dia menceritakan pengalamannya tersebut. Narasi seperti ini tentu saja merupakan takwil yang harus dibuka secara rasional. 
 
Dalam pandangan para ahli hakikat hal tersebut merupakan fenomena yang dapat saja terjadi, karena secara hakikat Kabah dan Masjidil Haram ini terletak pada hati sanubari manusia, rumah Tuhan merupakan simbol tempat terpancarnya kebaikan, yaitu hati. Dalam hati inilah seluruh nilai kebaikan mengendap, ia merupakan sebongkah batu yang dapat dicium aroma kebaikannya, sumber kejujuran sejati yang tidak akan pernah berdusta. Oleh para ahli hakikat, ibadah haji diartikan hadirnya kebaikan dalam setiap aktivitas, itulah arti haji mabrur, haji yang memancarkan segala kebaikan.
 
Simbol lain dan sangat penting dalam pelaksanaan haji adalah kemanusiaan. Manusia diharuskan melepaskan segala atribut yang menempel dalam diri, secara syariat tentu saja pakaian yang kita kenakan sehari-hari harus diganti dengan kain ihrom, tanpa jahitan, cukup dibalutkan. Kaum perempuan pun harus melakukan hal yang sama mengenakan kain ihrom yang dapat saja tiba-tiba terbuka, atau jika terlalu ketat akan memperlihatkan lekuk tubuh, dengan kata lain mengundang birahi. Dalam ibadah haji itulah angkara, egoisme, dan birahi dileburkan. 
 
Secara hakikat, bagi umat Islam yang belum dapat menunaikan ibadah haji ke Mekah, simbol-simbol tersebut dapat ditakwilkan dengan menghilangkan ashobiyyah, kesukuan, dan merasa identitas entis atau chauvisnisme kita lebih unggul dari entis dan ras lain. Mengedepatkan kemanusian dalam keseharian, memandang setiap orang meskipun berbeda keyakinan, etnis, bahasa, buda, dan suku bangsa tetap merupakan manusia, sama dengan kita. Dalam konsep kemanusian tidak lagi dikenal aku dan dia, atau kita dan mereka, ia telah melebur menjadi kami sebagai manusia.
 
Fasisme yang pernah meradang di era Kekaisaran Romawi dan dibangkitkan kembali oleh Nazi sebetulnya bukan hendak menempatkan manusia pada landasan kemanusian melainkan untuk menempatkan manusia pada ketuhanan. Manusia yang tetap lemah, memiliki varian berbeda, ras berbeda, dan kemampuan berbeda dipaksa oleh fasisme, naziisme menjadi tuhan yang serba sempurna. Hitler tentu saja memiliki pandangan tentang manusia sempurna ini atas ide ubermench-nya Nietzsche, ras manusia super, ras Aria. Ras yang pernah tampil sebagai penguasa sejarah di muka bumi, sapiens yang telah berhasil melakukan evolusi ke tingkat manusia unggul dibandingkan ras-ras lainnya. Ras yang telah melahirkan Julius Caesar di Romawi, Rostam Farrokhzād atau Rustum di Persia, Vikramanditya di India, dan Hitler di Jerman. Pandangan ini tentu saja tidak sejalan dengan kenyataan hidup yang plural, multi etnis, dan heterogen. 
 
Manusia haji tidak akan penah bercengkerama dengan rasisme seperti di atas, bahkan untuk mengakui dirinya sebagai manusia super atau unggul pun akan dibatasi oleh ketawadluan, sikap rendah hati. Perang dan pertumpahan darah lebih banyak terjadi baik dilandasi oleh motivasi harta atau keagamaan ketika sekelompok manusia lebih memunculkan identitas SARA kepada pihak lain. 
 
Masih banyak simbol lain dalam haji  yang memerlukan penakwilan secara komprehensif agar ritual-ritual dan setiap ubudiyah dalam Islam ini dapat dilakukan oleh umat Islam secara utuh dan berbagai sudut pandang. Itulah makna yang tersirat bahwa Islam merupakan agama yang mudah dan tidak memberatkan. Sebab pengabdian kepada Allah bukan perlombaan angkat berat atau beban yang hanya dapat dilakukan oleh orang-orang mampu dan kuat secara fisik. Pengabdian kepada Allah merupakan kewajiban asasi setiap manusia.
 
 
Penulis adalah guru di MTs-MA Riyadlul Jannah, Staf Wakil Wali Kota Sukabumi
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG