Nasionalisme Pesantren Cukup Tinggi namun Perlu Terus Dipupuk

Nasionalisme Pesantren Cukup Tinggi namun Perlu Terus Dipupuk
Pembina Penggerak Budaya Nusantara, KH Ahmad Sugeng Utomo (baju putih pegang mic) saat menjadi narasumber dalam dialog Harmoni Indonesia, Pancasila: Jiwa & Kepribadian Bangsa Indonesia di Pondok Pesantren Al-Qodiri Jember
Pembina Penggerak Budaya Nusantara, KH Ahmad Sugeng Utomo (baju putih pegang mic) saat menjadi narasumber dalam dialog Harmoni Indonesia, Pancasila: Jiwa & Kepribadian Bangsa Indonesia di Pondok Pesantren Al-Qodiri Jember

Jember, NU Online

Era ini adalah era daring. Transaksi jual beli hingga taksi banyak yang memanfaatkan fasilitas daring. Tidak hanya itu, transfer ilmu juga tak jarang menggunakan daring. Dengan kata lain, saat ini dan kedepan masyarakat dalam kegiatannya cenderung beralih ke daring .

 

Demikian diungkapkan Pembina Penggerak Budaya Nusantara, KH Ahmad Sugeng Utomo saat menjadi narasumber dalam dialog Harmoni Indonesia, Pancasila: Jiwa & Kepribadian Bangsa Indonesia di Pondok Pesantren Al-Qodiri Jember, Jawa Timur, Selasa (13/8) malam.

 

Menurutnya, arah angin dunia saat ini cenderung beralih ke sistem daring dalam beragam aktifitasnya. Salah satu alasannya adalah karena praktis, cepat dan biaya murah.

 

“Ini harus dimanfaatkan betul oleh pesantren. Pesantren tak perlu menutup diri terhadap era ini. Ini banyak sisi positif juga,” tukasnya.

 

Ia mengakui bahwa era daring memang tak begitu mudah bagi pesantren. Persoalannya adalah fasilitas daring tidak mempunyai saringan otomatis untuk menghadang munculnya informasi yang buruk (hoaks). Karena itu, perlu dicarikan jalan keluar agar santri tidak buta daring tapi terhindar dari pengaruh buruk yang ditimbulkan.

 

“Kalau itu tergantung kebijakan pesantren. Saya yakin para kiai punya jalan keluarnya,” tegasnya.

 

Di bagian lain, Kiai Sugeng menegaskan keyakinannya bahwa pesantren mempunyai komitmen yang kuat untuk memegang teguh Pancasila sebagai dasar negara. Sebab yang ikut meramu Pancasila juga para ulama, termasuk KH Wahid Hasyim, ayahanda Gus Dur. Lebih dari itu, sosok yang mempelopori penerimaan azas tunggal (Pancasila) adalah NU melalui kepiawaian KH Achmad Siddiq dalam berargumen meyakinkan umat.

 

“Terus terang saya kagum dan kita semua kagum kepada beliau (KH Achmad Siddiq). Untuk meyakinkan muktamirin (di hadapan peserta Muktamar NU di Situbondo), Kiai Achmad Siddiq hanya bermodalkan catatan yang sangat tipis sekali, hanya beberapa lembar mungkin, tapi dengan kemampuan argumentasinya yang tinggi, beliau mampu ‘menaklukkan’ hati muktamirin yang semula banyak yang tidak setuju dengan penerapan azas tunggal. Dan kemudian itu menjadi keputusan Muktamar NU,” urainya.

 

Dengan fakta itu, Kiai Sugeng meyakini bahwa nasionalisme pesantren sangat tinggi. Namun jika tidak ada revitalisasi semangat, sementara di sisi lain gempuran untuk mendelegitimasi Pancasila dengan memanfaatkan era daring dan digital terus berkobar, tidak ada jaminan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) akan bisa bertahan dan Pancasila tetap kokoh.

 

“Karena itu, revitaliasi semangat itu penting. Semangat untuk tetap cinta Pancasila dan tanah air, perlu terus dipupuk,” pungkasnya.

 

Pewarta : Aryudi AR

 

BNI Mobile