IMG-LOGO
Trending Now:
Esai

Kenangan Memfoto Kaligrafi di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi

Rabu 14 Agustus 2019 20:45 WIB
Bagikan:
Kenangan Memfoto Kaligrafi di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi
Foto: pixabay
Oleh Didin Sirojuddin Ar
Kerajaan Arab Saudi mulai  tegas melarang kegiatan foto-fotoan di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Dari dulu pun, sebetulnya, aksi berfoto-foto atau pun selfy tidak diperkenankan. Saat berhaji tahun 1994, saya jarang  melihat jamaah terang-terangan pegang kamera apalagi  berfoto-foto di lingkungan Ka’bah. Bila ketahuan, askar langsung merampasnya tanpa ampun. Waktu itu, saya pun sengaja tidak membawa kamera karena tidak ingin terganggu saat ibadah.
Teknologi digital maju sedemikian pesat dan ledakannya menyeruak ke seluruh ufuk bumi. Sekarang, hampir seluruh jamaah haji memegang kamera digital. Nge-WA di mana-mana dan jepretan kamera membidik semua ruang di dua masjid. Bahkan jadi obyek jepretan yang paling dicari.

Saya menduga askar Haromain sudah tidak mampu menahan-nahan "aksi paparazzi" jamaah haji. Bagaimana melarang mereka jika semua memegang kamera? Dalam tiga kali umrah tahun-tahun terakhir, akhirnya,  saya juga  tidak mau ketinggalan.

Tangan rasanya  gatal tanpa jeprat-jepret di interna Masjid Nabawi dan Masjidil Haram, lebih-lebih Ka’bah yang indah. Tapi, tidak hanya foto-fotoan dengan background Ka’bah. Dengan sedikit "action", saya justru banyak menjepret kaligrafi interior masjid agung di Tanah Haram Makkah dan Madinah ini. Ternyata, ada catatan menarik dan sejarah  kaligrafi yang unik di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi yang menambah ilmu saya tapi penting pula diketahui jamaah haji dan umrah.

Adalah Abdullah Zuhdi dari Asitanah, Turki, yang berjasa menulis kaligrafi di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram. Pengajar khat di kampus Nur Usmaniyah ini diutus Sultan Abdul Majid ke Hijaz untuk menulisi kaligrafi dinding Masjid Nabawi.

Ketika bersafari ke Mesir, Pemerintah Mesir mengangkatnya menjadi guru khat di Madrasah Khudeiwiyah sampai wafatnya tahun 1296 H. Karena kerjanya bagus, ia ditugaskan menulis ayat-ayat Al-Qur’an dan lainnya di Ka’bah. Profesinya dilanjutkan oleh murid-murid dan generasi kaligrafer sesudahnya sampai sekarang.

Menarik sekali, kaligrafi yang terjepret di Masjid Nabawi didominasi khat Tsulus. Beberapa menggunakan Naskhi dan Kufi. Tapi yang paling menarik perhatian dan jadi "sasaran tembak" kamera saya adalah hadits Nabi SAW yang terletak berhadapan dengan Raudhah, tempat yang paling diperebutkan:

مابين بيتي ومنبري روضة من رياض الجنة

Artinya, "Yang berada di antara rumahku dan mimbarku adalah sebuah taman dari taman-taman surga."

Di Masjidil Haram, kaligrafi gaya Tsulus bertebaran menghiasi dinding. Tapi semuanya kalah pamor oleh kaligrafi di kiswah Ka’bah. Kiswah sendiri dan jamaah yang bergemuruh thawaf mengelilingi Ka’bah jadi sasaran tembak kamera yang paling menarik.

Sejak proses pembuatannya, Kiswah memang menarik: dibuat saban tahun dengan biaya sekitar 5 juta real selama 9 bulan sampai setahun penuh dengan bahan-bahan: kain sutra, benang emas, dan materi campuran lainnya. Pembuatannya melibatkan 200 perancang dan pekerja ahli dengan menghabiskan 9.600 pintal benang khusus hanya untuk tulisan segi tiga:

سبحان الله وبحمده، سبحان الله العظيم، ياحنان، يامنان، ياالله.

Kiswah, yang beberapa abad lamanya dibikin atas tanggungan pemerintah Mesir (sebelum akhirnya jatuh ke tangan pemerintahan Ibnu Saud),  adalah kelambu Ka’bah dari sutra yang dihias pertama kali oleh bangsa Himyar 2 abad sebelum hijrah. Tepatnya yang mula-mula mengelambui Ka’bah dengan kulit yang disamak adalah Abu Karbin As'ad, Raja Himyar, tatkala baginda kembali dari berperang (220 SH) dan kebetulan lewat di depan Ka’bah.

Sejak Islam lahir sampai Fathu Makkah, Rasulullah belum sempat mengiswahi Ka’bah karena belum ada kebebasan ibadah akibat konfrontasi dengan musyrikin Quraisy. Setelah seorang wanita membakarnya, barulah Rasulullah menggantinya dengan kain baru dari Yaman. Kecuali Abu Bakar, Umar, dan Usman, Ali tidak disebut-sebut pernah membikin kiswah, barang kali tidak sempat akibat pertentangan politik dengan Muawiyah dan fitnah di dalam negeri yang merajalela. Sebaliknya, Muawiyah sendiri mengiswahi Ka’bah dua kali setahun, Makmun tiga kali. Khalifah Makmunlah yang mula-mula membikin kiswah dari sutra putih bergambar.

Di zaman Fatimiyah diganti lagi dengan sutra putih, kemudian kuning, kemudian hijau, kemudian hitam, warna yang berlaku sampai sekarang.

Asyiiik... dah.  Tidak terasa kamera hape saya terus membidik huruf-huruf kaligrafi hitam “La ilaha illallah, Muhammadur Rasulullah” berulang-ulang  yang samar-samar  memenuhi body kiswah yang hitam anggun. Sambil mengklik tombol kamera, terbayang ingatan ke pabrik kiswah super modern yang dilengkapi peralatan dan komputer serba up to date.

Tahap pembuatan kiswah tersebut diawali dengan pencucian kain sutra putih yang didatangkan khusus dari Italia. Digosok berkali-kali dengan air mendidih dan sabun untuk mengikis debu dan zat kimia yang melekat. Dibeberkan hingga kering, lalu dicelup dengan warna biru nila dengan sedikit bumbu kimia untuk menguatkan warna. Dicelup lagi dengan warna hitam pekat. Sesudah kering dilipat dengan gelondongan kayu besar-besar ratusan batang. Pintalan benang yang ditargetkan berjumlah 9.870 gulung dibentangkan pada 8 buah sisir besi.

Kamera saya seakan diarahkan ke proses pembuatan kaligrafinya. Dimulai dari tahap penjahitan pada lengkung garis-garis ukur yang diguratkan sang direktur seniman. Apabila para pekerja menginjak pedal dengan telapak kakinya, maka bermunculanlah benang-benang sulam yang berkilauan. Nah, itulah kalimat-kalimat kaligrafi penghias kiswah. Indah sekali bukan?

Ka’bah memang dahsyat. Amalan untuk memuliakannya juga dahsyat. Satu kiswah, yang diolah oleh 200 seniman spesialisasi tenun, bordir dan pengisian, jahit dan seterusnya,  menghabiskan 875 m kain sutra. Untuk sabuk Ka’bah saja diperlukan 16 potong kain dengan panjang 61 m dan lebar 94 cm, berjarak 9 m dari permukaan tanah. Sepanjang sabuk itu bertuliskan, “bismillahir rahmanir rahim” disusul dengan ayat 197-199 Surat Al-Baqarah. Tulisan itu tampak dari arah Hijir Ismail.

Di sebelah barat antara Rukun Yamanisyah dan Hijir Ismail, kamera yang lengkeeet terus di tangan  membidik kaligrafi “bismillahir rahmanir rahim” disusul dengan ayat 96-97 Surat Ali Imran.

Di sebelah timur pada pintu Ka’bah tertulis “bismillahir rahmanir rahim” disusul dengan ayat 125-127 dan 128 surat Al-Baqarah. Juga terdapat sepotong kain sutera besar bertuliskan kata sanjungan:

صنعت هذه الكسوة فى مكة المكرمة وأهداهاإلى الكعبة المشرفة خادم الحرمين الشريفين (nama Raja) تقبل الله منه.
       
Kamera membidik juga 4 potong kain bersegi empat bertuliskan surat Al-Ikhlas yang digantungkan di setiap sudut Ka’bah. Sedangkan cadar pintu panjangnya 7 ½ m dan lebar 3 ½ m tampak anggun dengan ayat-ayat Al-Qur’an dalam pelbagai corak kaligrafi yang artistik.

Subhanallah, semuanya sangat memesona. Kamera juga serasa disorotkan kepada kaligrafer Abdullah Zuhdi yang berjasa merintis penulisan kaligrafi di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Duh sayang, yang terbidik hanya kata kenangan yang dikumandangkan para penyair:
 
مات رب الخط والأقلام قد #
نكست أعلامهاحزناعليه
وانثنت من حسرة قامتها # 
 بعد ما كانت تباهى فى يديه
ولذا قد قلت فى تاريخه #
 مات زهدى رحمة الله عليه

"Raja kaligrafi  meninggal dunia
Pena-pena 'lah menurunkan benderanya
Bersedih karena kepergiannya
Dan membungkuk layu meratapi  sosoknya yang tegap
Setelah dulu kejayaan di tangannya.
Karena itu, telah kukatakan dalam tarikhnya:
Zuhdi meninggal dunia
Semoga rahmat Allah terlimpah kepadanya."

Penulis adalah pendiri Lembaga Kaligrafi (Lemka) dan pengajar pada Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah.
Tags:
Bagikan:

Baca Juga

Selasa 13 Agustus 2019 14:0 WIB
Sudahkah Masjid Memenuhi Hak Beribadah Kelompok Difabel?
Sudahkah Masjid Memenuhi Hak Beribadah Kelompok Difabel?
Saatnya fiqih berorientasi pada perwujudan kesetaraan dan pemberdayaan kelompok yang selama ini dikucilkan. Ilustrasi (news.de)
Oleh Bahrul Fuad 

“Saya shalat (Idhul Adha) benar-benar nangis, teringat (selama) 11 tahun saya shalat di rumah mengikuti TV di Istiqlal, dan hari ini saya berada di dalamnya…haru banget.”

Ini adalah salah satu kesan yang disampaikan oleh teman-teman difabel usai menjalankan ibadah shalat Idul Adha 1440 H di Masjid Istiqlal kemarin. Perasaan gembira, haru, dan penuh semangat mewarnai raut wajah sebagian jamaah difabel yang datang dari berbagai wilayah di Jabodetabek. Beberapa teman difabel dari Bogor bahkan rela patungan menyewa bus dan berangkat jam 03.00 pagi untuk menuju Masjid Istiqlal.

Salah seorang teman difabel pengguna kursi roda menyampaikan dia sangat terharu bisa masuk ke dalam Masjid Istiqlal karena selama ini dia hanya melihat masjid kebanggaan rakyat Indonesia itu dari luar pagar. Saat itu dia juga merasa sangat dimanusiakan bahwa dia bisa shalat berjamaah duduk di kursi rodanya di shaf depan sejajar dengan shaf jamaah lainnya. Selama ini jika dia shalat di masjid dekat rumahnya selalu meninggalkan kursi rodanya di luar kemudian merangkak masuk ke dalam masjid. 

Seorang sahabat tuli juga menyampaikan bahwa shalat Idul Adha minggu lalu sangat mengesankan baginya karena pertama kali dia bisa mengikuti isi ceramah Ustadz Yusuf Mansur dengan lengkap. Selama ini jika shalat Jumat atau shalat Id dia tidak pernah tahu isi khutbahnya. Bahkan jika dia bertanya pada orang di sampingnya tentang isi khutbah Jumat seringkali tidak mendapatkan informasi yang lengkap.

Pada kegiatan shalat Idul Adha 1440 H di Masjid Istiqlal kemarin adalah pengalaman pertama bagi pengurus masjid terbesar di Asia Tenggara ini. Badan Pelaksanaan Pengelolaan Masjid Istiqlal dengan didukung Bimas Islam Kementerian Agama berusaha semaksimal mungkin untuk memfasilitasi para jamaah difabel. Pintu Masuk Ar Rahman merupakan pintu yang ramah bagi difabel dibuka kembali dan dimanfaatkan secara maksimal. Pada pintu ini sudah tersedia tempat parkir khusus bagi difabel, tempat wudhu ramah difabel, ubin penuntun bagi difabel netra, dan juga lift khusus bagi difabel.

Selain itu pihak Istiqlal juga menyediakan dua layar berukuran besar dan beberapa layar TV monitor yang tersebar di beberapa sudut ruang Masjid Istiqlal yang menayangkan gambar Juru Bahasa Isyarat bagi saudara-saudara tuli pada saat khutbah berlangsung. Tak cukup itu, pihak Masjid Istiqlal juga mengerahkan para relawan dari Remaja Masjid Istiqlal dan Komunitas Pemuda Lintas Iman yang sudah bersiap sejak pukul 03.00 pagi untuk membantu teman-teman difabel yang akan menjalankan shalat Idul Adha.

Kegiatan Shalat Idul Adha 1440 H di Masjid Istiqlal yang ramah bagi difabel ini merupakan hasil dari proses advokasi yang cukup panjang sejak diterbitkannya buku Fiqih Penguatan Penyandang Disabilitas. Sosialaisasi dan diskusi tentang buku Fiqih Penguatan Penyandang Disabilitas tersebut intensif dilakukan dalam berbagai kesempatan. Begitu juga pendekatan dengan berbagai pihak yang berkepentingan juga dilakukan guna memastikan terwujudnya kesadaran atas hak dan kebutuhan khusus para difabel di bidang peribadatan. Banyak pihak terlibat dalam hal ini seperti TAF, PBNU, Lakpesdam NU, P3M, Yakkum, Bimas Islam Kementerian Agama, dan tentu BPP Masjid Istiqlal sebagai pelaksana.
Kami para difabel berharap pemenuhan hak dan kebutuhan khusus difabel dalam rangka menjalankan peribadatan terus dilakukan oleh Masjid Istiqlal dan seluruh masjid di Indonesia.

Praktik ajaran agama yang selama ini banyak dimanfaatkan untuk ibadah yang berorientasi pada keshalihan individual sudah saatnya kini bergeser pada keshalihan sosial yang berorientasi pada kemaslahatan umat. Akhir-akhir ini wacana keagamaan khususnya Islam di Indonesia banyak didominasi oleh diskusi tentang bagaimana berpakaian, takfir (saling menuduh kafir), dan perebutan kekuasaan. Padahal banyak persoalan yang membebani masyarakat kita belum banyak terselesaikan dengan baik, seperti akses pendidikan, akses kesehatan, akses ekonomi, dan termasuk akses menjalankan peribadatan bagi kelompok minoritas seperti difabel.

Oleh karena itu sudah saatnya kajian fiqih yang merupakan sarana untuk memahami syariat Islam dan sekaligus mengatur berbagai aspek kehidupan manusia mulai diarahkan pada hal-hal yang berorientasi pada perwujudan kesetaraan dan pemberdayaan kelompok masyarakat yang selama ini ditinggalkan dan dikucilkan.


Penulis adalah aktivis difabel; anggota tim penulis buku "Fiqih Penguatan Penyandang Disabilitas" terbitan LBM PBNU, P3M, PSLD Unibraw (2018)
Kamis 8 Agustus 2019 2:0 WIB
Bahaya Hoaks, Lemahnya Jurnalisme dan Ancaman pada Demokrasi Kita
Bahaya Hoaks, Lemahnya Jurnalisme dan Ancaman pada Demokrasi Kita
Andreas Harsono (barisan depan berkacamata) berfoto bersama awardee short course AAI

Oleh Ahmad Rozali

 

Ada kesimpulan yang sangat menarik dari presentasi Andreas Harsono peneliti senior Hak Asasi Manusia Rabu (7/8) siang tadi, tentang hubungan berita palsu atau hoaks dengan sejumlah konflik besar di Indonesia. Menurutnya; konflik-konflik di Indonesia selalu dibarengi, kalau tidak diawali, oleh berita palsu yang dialamatkan pada kelompok lain.

 

Kesimpulan ini disampaikan dalam forum diskusi yang diselenggarakan pemerintah Australia di Jakarta. Mewaili NU Online sebagai penerima program ‘short course’ di antara 24 peserta lain, saya beruntung mendapat kesempatan mengikuti ‘kuliahnya’ tentang konflik-konflik di sejumlah tempat di Indonesia, hubungannya dengan berita bohong yang berkelindan di seputarnya serta kaitannya dengan lemahnya jurnalisme di tanah air.

 

Andreas secara lugas memulai presentasinya dengan tiga kesimpulan yang jernih. Pertama, semua kekerasan besar di Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Rote, selalu diiringi, bila tak dimulai, dengan berita palsu, baik soal ras atau agama.

 

Kesimpulan kedua yang diungkapkannya adalah; semakin bermutu kualitas jurnalisme, makin bermutu informasi yang diterima masyarakat, sehingga semakin meningkatkan mutu opini publik, dan terakhir akan menyebabkan meningkatkan mutu demokrasi. Sebaliknya juga demikian, makin buruk kualitas jurnalistik di Indonesia, akan berdampak pada buruknya kualitas demokarasi.

 

Kesimpulan ketiga; kekerasan besar rawan terjadi apabila polarisasi berkembang akibat berita palsu yang disebabkan ketidakmampuan jurnalisme dalam mengatasinya.

 

Tiga kesimpulan itu ditarik dari hasil penelitian panjang yang diinisiasi sejak mundurnya Presiden Soeharto pada Mei 1998 ketika berbagai kekerasan meledak di Indonesia. Sejak itu, Andreas menenggelamkan diri dalam penelitian yang mengharuskannya mengunjungi lebih dari 90 lokasi, kuburan massal, daerah tsunami, lokasi kekerasan etnik, kekerasan sektarian, mengunjungi konflik antara penduduk asli melawan militer modern, mendatangi sejumlah makam presiden mulai Soekarno, Suharto, hingga Gus Dur.

 

Secara lebih intensif pada periode 2003 hingga 2008, ia mewawancara lebih dari 800 sumber, riset dan penulisan, serta melakukan wawancara tambahan sebagai peneliti Human Rights Watch. Rangakaian liputan panjang itu berakhir pada 2017 dengan pengadilan “penodaan agama” terhadap mantan Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.

 

Andreas melakukan penelitian dengan menggabungkan dua keterampilannya yaitu ketrampilan jurnalistik dan riset di bidang Hak Asasi Manusia. Penelitian itu pada akhirnya ditebitkan oleh perguruan tinggi ternama di Australia, Monash University Publishing pada Mei 2019 dengan total 280 halaman dalam sebuah buku berbahasa Inggris berjudul “Race, Islam and Power: Ethnic and Religious Violence in Post-Suharto Indonesia”.

 

Salah satu catatan menarik yang saya garisbawahi dari presentasi Andreas siang tadi, adalah catatannya mengenai suku mayoritas dan suku minoritas yang ada di Indonesia. Menurut Andreas, kelompok kecil dalam lanskap Indonesia, tidak berarti minoritas di sebuah wilayah berbeda terutama di wilayah asalnya, contohnya suku Dayak di Kalimantan.

 

Catatan ini menarik, mengingat kekerasan umumnya dilakukan oleh kelompok mayoritas terhadap minoritas. Sehingga tidak melulu kelompok suku atau agama yang kecil dari pada yang lain tak melakukan kekerasan. Bisa jadi, kelompok kecil ini melakukan kekerasan pada kelompok yang lebih kecil di tempat lain.

 

Contoh misalnya, umat Islam yang perupakan pemeluk agama terbesar di Indonesia dengan prosentase sekitar 80 persen, dan menjadi kelompok yang mendapat intimidasi di pulau-pulau lain di luar Jawa karena menjadi minoritas. Sementara di pulau Jawa, kelompok masyarakat beragama Kristen kerap menjadi korban perilaku intimidatif dari kelompok agama yang lebih besar.

 

Pola ini ditemukan sepanjang perjalanannya. Seperti ‘ngonce'i kacang’, ia membedah konflik-konflik di tanah air satu demi satu. Ia memulai dari cerita konflik di Aceh tahun 1998 yang menyebabkan 10 ribu korban jiwa. Konflik serupa juga terjadi di Kalimantan dalam kasus pembantaian etnis Madura yang menyebabkan 6.500 etnis Madura terbunuh pada 1997-2001. Lalu ketegangan Kristen dan Muslim di Sulawesi termasuk Kekerasan sektarian di Poso dengan korban sebanyak 600 korban jiwa.

 

Kekerasan lain yang diangkat Andreas adalah konflik sektarian yang meledak di Ambon pada 1999 antara golongan Kristen dan Islam, yang menyebabkan sekitar 10,000 korban jiwa dalam lima tahun. Kala itu, kelompok Muslim Conspiracy Theorists menuduh Republik Maluku Selatan, sebuah kelompok turunan dari gerakan 1950, mencoba memisahkan diri dari Indonesia. Kekerasan menjalan ke Maluku Utara antara milisi “kuning” dan “putih” yang tergolong pada kesultanan Ternate dan Tidore, dan menyebabkan sekitar 25,000 terbunuh.

 

Di Indonesia bagian timur, Andreas mengangkat kasus pelanggaran HAM di Papua, termasuk dengan pelarangan jurnalis independen untuk masuk ke Papua yang menyebabkan minimnya informasi objektif tentang wilayah tersebut.

 

Tentu saja Andreas menggarisbawahi pembantaian yang sangat besar yang terjadi di Pulau Jawa dengan jumlah korban yang sangat fantastis yang diprediksi mencapai satu juta orang dalam kasus 1965.

 

Dari kesemua konflik tersebut, Andreas menggaris bawahi adanya kesamaan; bahwa dalam setiap peristiwa tersebut, terdapat, kalau tidak diawali, dengan berita palsu. Penekanan ini sangat penting diulang, mengingat dalam era digital seperti saat ini, internet dapat menyebarkan kabar palsu lebih cepat dalam jumlah yang lebih besar dari sebelumnya.

 

Di akhir presentasinya, ia menyimpulkan bahwa disinformasi dan berita palsu diproduksi dan digunakan berbagai golongan etnik dan agama mencari kuasa di Indonesia untuk mobilisasi sentimen kesukuan dan agama yang kerap berujung pada kekerasan antar kelompok masyarakat.

 

Presentasi tersebut menunjukkan dua hal setidaknya, pertama betapa berbahayanya berita palsu yang dapat menggiring pada konflik besar, dan yang kedua, betapa pentingnya mengembangkan jurnalisme yang berkualitas untuk membentengi masyarakat dari derasnya informasi palsu di era digital.

 

*) Redaktur NU Online

Rabu 7 Agustus 2019 19:31 WIB
Catatan Mbah Moen, Pesan untuk Pagar Nusa dan Indonesia
Catatan Mbah Moen, Pesan untuk Pagar Nusa dan Indonesia
Mustasyar PBNU KH Maimoen Zubair
Oleh Muchamad Nabil Haroen
 
Selama mengemban amanah Ketua Umum Pagar Nusa, saya sering sowan KH Maimoen Zubair. Beliau adalah seorang sesepuhnya para kiai yang tidak hanya menguasai bermacam disiplin keilmuan, tetapi juga kiai yang nasionalis dan jernih dalam memberikan solusi atas bermacam persoalan bangsa.

Banyak sekali dhawuh-dhawuh beliau yang saya ingat dan amalkan. Salah satunya saat saya sowan beliau ketika Pagar Nusa akan menggelar hajat besar Ijazah Kubro di lapangan Puser Bumi, Cirebon, 2018 silam. Beliau dhawuh, “yang disebut ijazah kubro. Artinya ijazah itu memberikan izin untuk mengamalkan sesuatu amalan guna kepentingan pribadi maupun umat. Pagar Nusa,  pagar berarti tameng, pagar atau menjadi suatu pembelaan kepada nusa. Nusa itu tidak dapat dipisahkan dengan bangsa. Satu nusa, satu bangsa. Ini sesuai dengan cita-cita ulama terdahulu.

Saya mengharapkan Pagar Nusa sukses dan kembali sebagaimana arti Pagar Nusa bahwa Nahdlatul Ulama berasal dari organisasi Nahdlatul Wathan dan Nahdlatut Tujjar. Keduanya tidak dapat dipisahkan adalah kemerdekaan disertai keadilan dan kemakmuran. Sebagaimana pada penutup asas negara kita, Pancasila, yaitu padi dan kapas. Makmur dalam keadilan, adil dalam kemakmuran. Semoga ini menjadi apa yang kita cita-citakan. Nahdlatul Ulama sebagai milik bangsa dan menyatukan bangsa, sehingga negara ini tidak terpisah dan terkoyak-koyak,” begitu dhawuh Mbah Moen kala itu.

Pada kesempatan yang lain, tatkala pengajian kitab Tanbihul Mughtarin pada Ramadhan 1440H, beliau bercerita soal kenapa para ulama meninggal di hari Selasa. Menurut Mbah Moen, pada 1800-an tepat di hari Selasa pondok pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang, didirikan. Setiap hari Selasa pula dijadikan hari libur santri lantaran wafatnya orang alim pada hari Selasa. “Wafatnya bapakku (Kh Zubair Dahlan) Seloso, mbahku dino Seloso, buyutku dhino Seloso, maka dari itu kenapa orang-orang dahulu ngaji prei hari Selasa. Karna wafatnya orang alim biasanya hari Selasa,” dhawuh Mbah Moen.

Mbah Moen sering sekali mengulang dhawuh soal hari penciptaan bumi. Allah menciptakan bumi dalam waktu 4 hari yaitu, Minggu, Senin Selasa, Rabu. Pada hari Selasa itulah Allah menurunkan segala ilmu ke dunia ini.

Kemarin, duka menyelimuti Nusantara. Sesepuh para kiai itu berpulang ke rahmatulLaah tepat di hari Selasa di Tanah Suci Makkah, seperti yang sering beliau ceritakan. Harum semerbak kasturi bangsa kembali diambil Sang Hyang Esa. 

Selamat jalan, Mbah Moen. Harum nama Panjenengan selalu kami kenang. Dhawuh Panjenengan soal hidup dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia akan selalu kami amalkan dan dawamkan. Sejarah hidup Penjenengan akan kami ceritakan kepada generasi mendatang, bahwa pernah ada ulama sepuh yang alim dan tak pernah alpa mencintai Indonesia.

Jakarta, 7 Agustus 2019

Penulis adalah Ketua Umum Pimpinan Pusat Pagar Nusa
 
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG