Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download
TWEET TASAWUF

Yang Dicintai dan Tidak Dicintai Allah

Yang Dicintai dan Tidak Dicintai Allah
Direktur Sufi Center KH M. Luqman Hakim. (Foto: istimewa)
Direktur Sufi Center KH M. Luqman Hakim. (Foto: istimewa)
Jakarta, NU Online
Pengasuh Pondok Pesantren Raudhatul Muhibbin Caringin, Bogor, Jawa Barat KH M. Luqman Hakim menegaskan bahwa Allah Maha Mencintai hamba-hambanya. Namun, sikap negatif yang merugikan orang lain dan diri sendiri perlu dihindari sehingga tidak memunculkan ketidakcintaan Allah.

Terkait dengan cinta dan tidak cintanya Allah, Direktur Sufi Center itu menjelaskan sifat orang-orang di mana Allah mencintai dan tidak mencintainya.

Berikut sifat orang-orang yang dicintai dan tidak dicintai Allah yang disebut KH Luqman Hakim dalam unggahan twitternya:

Ingat, kata Kiai Luqman, Allah mencintai:

1. Orang yang tawakal
2. Orang  yang sabar
3. Orang yang tobat
4. Orang yang menyucikan badan
5. Orang yang menyucikan hati
6. Orang yang berbuat adil
7. Orang yang berjuang di JalanNya dg struktur kokoh
8. Orang yang berbuat Ihsan
9. Orang yang bertakwa

Allah tidak mecintai (laa yuhibbu) orang:

1. Orang kafir
2. Kafir pendosa
3. Melampaui batas
4. Sombong dan membanggakan diri
5. Pengkhianat dan pendosa
6. Pengkhianat dan kufur
7. Para pengkhianat
8. Pembuat kerusakan
9. Berlebihan
10. Membanggakan diri
11. Zalim
12. Sombong

Dalam kesempatan lain, Kiai Luqman juga menjelaskan bahwa merasa hina-dina di hadapan Allah penting agar manusia tidak merasa paling baik dan paling mulia dalam kehidupan nyata.

“Manusia modern terlempar pada kehinaan maniak nafsu, namun menyangka dirinya mulia, hanya karena tidak pernah menjaga rasa hina-dinanya di hadapan Allah SWT,” ujar Kiai Luqman.

Padahal menurutnya, semakin manusia merasa hina-dina di hadapan Allah, semakin terbuka pintu kemuliaan-Nya. Di sini ia menegaskan bahwa kesombongan yang mengiringi sifat manusia tak ubahnya seperti sampah yang terbuang, hanya dipungut orang-orang hina.

Berupaya mendapatkan Rahmat Allah merupakan sesuatu yang diharapkan oleh semua orang. Namun, Rahmat tersebut tidak akan mampir bagi orang-orang yang selalu menghina-hina orang lain. Namun menurut Kiai Luqman, ciri orang yang sedang dihinakan Allah SWT ialah sering menghina-hina orang lain.

“Orang yang sedang dihinakan oleh Allah SWT biasanya selalu menghina-hina orang lain,” tutur penulis buku Filosofi Dzikir ini.

Menurut Praktisi Tasawuf ini, kebenaran itu tidak tumbuh dari ladang kesombongan dan merendahkan orang lain agar disebut lebih benar.

“Orang yang bungkam tidak menjawab pernyataan anda bukan berarti ia salah dan anda benar,” tegas Kiai Luqman.

Ia menyatakan bahwa agama Islam diturunkan bukan untuk mencela orang. Tetapi justru menyelamatkan karena ia merupakan jalan kehidupan yang penuh dengan nilai-nilai kebajikan universal.

“Islam, ada salam, ada silm (perdamaian) ada sulam (tangga menuju kepada-Nya) ada salim (sehat dan selamat) ada taslim, kesamuanya menggambarkan cita-cita peradaban manusia,” terang Kiai Luqman. (Fathoni)
BNI Mobile