IMG-LOGO
Daerah

Gus Yasin: Kamar Pribadi Mbah Maimoen Diserahkan ke Kiai Ubab

Ahad 18 Agustus 2019 5:0 WIB
Bagikan:
Gus Yasin: Kamar Pribadi Mbah Maimoen Diserahkan ke Kiai Ubab
Gus Yasinn (kanan) usai ikuti upacara HUT RI di Rembang, Jateng
Rembang, NU Online
Usai berziarah ke makam ayahandanya KH Maimoen Zubair sekaligus menunaikan ibadah haji tahun 2019, KH Taj Yasin (Gus Yasin) langsung bertolak ke Rembang kembali ke Pesantren Al Anwar Sarang Rembang. Gus Yasin tiba di Rembang pada Jumat (16/8) sekitar pukul 21.00 wib.
 
Usai mengikuti upacara di Alun-alun kota Rembang Gus Yasin menjelaskan mengenai pesan Mbah Moen kepada dirinya mengenai wasiat tentang kamar pribadi Mbah Moen tidak boleh dibuka sebelum almarhum mangkat.
 
"Mbah Moen telah mewasiatkan kamar pribadinya untuk putra tertua Mbah Moen yaitu KH Abdulah Ubab (Gus Ubab). Ketika di hotel Jakarat sudah menyampaikan kepada saya secara khusus, bukan hanya sekali tetapi juga beberapa kali menyampaikan kepada saya," jelasnya, Sabtu (17/8).
 
Dikataan, Mbah Moen menyampaikan ke dirinya bahwa kamar pribadinya sudah diberikan kepada kakak tertua dan Mbah Moen mengingatkan agar jangan dibuka terlebih dahulu sebelum dirinya wafat.
 
"Ini pesan saya, kalau saya sudah gak ada (wafat, red) kamar itu baru boleh dibuka," kata Gus Yasin.

Dijelaskan Gus Yasin yang juga Wakil Gubernur Jawa Tengah itu, kamar tersebut sudah dibuka oleh pihak keluarga, utamanya penerima wasiat yakni Gus Ubab, setelah mendapatkan kabar duka wafatnya sang ayah.
 
"Usai menerima kabar duka dari Makkah Mbah Moen wafat, maka sesuai pesannya kamar pribadi Abah terus dibuka oleh penerima wasiat dengan disaksikan oleh seluruh keluarga yang ada di Sarang Rembang," ungkapnya.
 
Lebih lanjut Gus Yasin menjelaskan, jika kamar pribadi Mbah Moen yang ditinggalkan tersebut sudah tersusun secara rapi, berisi kitab-kitab ilmu agama. Selain itu, terdapat wasiat Mbah Moen berupa nasehat untuk keluarga dan bangsa Indonesia.
 
Namun, Gus Yasin enggan menyebutkan secara rinci apa saja yang diwasiatkan ulama karismatik yang dimiliki bangsa Indonesia itu. 
 
“Sudah saya buka, kemarin pas Mbah Moen gak ada langsung kita buka, banyak tertulis wasiat beliau yang sudah ditata rapi. Kalau wasiat Abah banyak, kalau wasiat untuk masyarakat Indonesia itu menjadi negara yang maju, negara panutan," bebernya.
 
"Mbah Moen berkeinginan Indonesia menjadi negara yang damai. Karena, para nenek moyang bangsa Indonesia adalah pemilik simbol-simbol perdamaian. Sehingga banyak yang ingin singgah," imbuh Gus Yasin.  

Dirinya pernah mendengar dari Mbah Moen, Negara Indonesia ini sebenarnya islam, kalau dulu sebelum nabi itu tidak islam tauhid itu sudah ada di Indonesia. Karena dulu Indonesia diduduki oleh orang-orang tauhid dahulu sebelum islam. Dan orang di Indonesia adalah bangsa tidak ingin konflik, maka mereka hijrah di Indonesia. 
 
"Ayo, orang nenek moyang kita yang memiliki simbol yang tidak ingin berkonfilk sudah mendiaminya Indonesia, maka konflik itu harus dihentikan, itu pesan Mbah Moen,” pungkasnya. (Ahmad Asmui/Muiz)
Bagikan:

Baca Juga

Ahad 18 Agustus 2019 23:30 WIB
Di Pesantren Ini, Upacara Kemerdekaan Digelar Malam Hari
Di Pesantren Ini, Upacara Kemerdekaan Digelar Malam Hari
Santri Ribath Al-Hamidiyyah, Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras, Jombang, Jawa Timur, menggelar upacara malam hari. (Foto: Rachmi/NUO)
Jombang, NU Online
Perasaan gundah gulana sempat bergelayut di benak para santri Ribath Al-Hamidiyyah, Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras, Jombang, Jawa Timur. Pasalnya, Jumat (16/8) malam sebelum hari kemerdekaan, para pengurus pondok dan asatidz hampir menggagalkan pengibaran bendera.
 
Hal ini dikarenakan terdengar wacana bahwa pengibaran bendera tidak boleh dilaksanakan pada malam hari.
 
“Akhirnya asatidz dan pengurus pondok bergegas menggelar perkara atas permasalahan tersebut,” tutur Lum’atul Af’ida, salah satu santri yang mengikuti musyawarah kepada NU Online, Sabtu (17/8) malam.
 
Menurut Iid, sapaan akrabnya, setelah melakukan penelusuran dari sumber hukum yang termaktub dalam perundang-undangan, persoalan tersebut langsung terjawab. Pasal 7 UU No 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan menyatakan, Dalam keadaan tertentu pengibaran dan/atau pemasangan Bendera Negara dapat dilakukan pada malam hari.
 
Pengibaran bendera yang dilaksanakan pada malam hari tidak serta-merta formalitas semata. Pihak pengasuh telah mempertimbangkan beberapa hal. Antara lain, pengibaran bendera yang dilaksanakan malam hari dimaksudkan agar santri bisa tetap mengikuti agenda pesantren dalam merayakan kemerdekaan.
 
“Karena keesokan harinya (Sabtu-red) para santri melaksanakan pengibaran bendera di sekolah yang terdapat di lingkungan pondok pesantren,” ungkap Iid.
 
Usai musyawarah digelar pengurus, akhirnya para santri yang menunggu keputusan asatidz diminta menuju halaman pesantren dilanjutkan berbaris. Upacara kemudian berlangsung khidmat.
 
Upacara bendera di Ribath Al-Hamidiyyah tidak jauh berbeda dengan upacara pada umumnya. Namun, yang menjadi ciri khas yaitu menyanyikan mars Syubbanul Wathon ciptaan KH Abdul Wahab Chasbullah. Lagu tersebut merupakan manifestasi kecintaan kaum santri kepada negeri.
 
“Demikianlah sekilas euforia perayaan kemerdekaan di Ribath Al-Hamidiyyah Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang,” pungkasnya. (Rachmi/Musthofa Asrori)
 
Ahad 18 Agustus 2019 20:15 WIB
Semarak Agustusan Perlu Dibarengi Kesadaran Makna Kemerdekaan
Semarak Agustusan Perlu Dibarengi Kesadaran Makna Kemerdekaan
Pengibaran bendera di kantor PWNU jatim.
Kendal, NU Online
Semarak masyarakat dalam menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan ke-74 Republik Indonesia tidak ubahnya serupa dengan tahun-tahun sebelumnya. Antusiasme masyarakat pada umumnya berbentuk aneka ragam perlombaan yang menarik. Pun demikian, sebagian golongan justru nyinyir atau menganggap kegiatan tersebut hanya hura-hura. 
 
Menurut salah satu pengasuh Pondok Pesantren Sabilunnajah Desa Penjalin Kecamatan Brangsong Kabupaten Kendal, Jawa Tengah yakni Kiai Mandzur Labib, perlombaan sebagai bentuk rasa syukur suka cita dan sarana untuk memperkokoh persatuan. Selain bersuka cita dalam lomba, masyarakat juga perlu mengerti substansi antara semarak Agustusan dalam perlombaan dan arti kemerdekaan.  
 
"Para santri dan masyarakat pada umumnya mengadakan kegiatan berbagai lomba untuk memeriahkan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan. Ini merupakan sebuah ungkapan rasa syukur atas anugerah yang telah diberikan, dan itu sesuai perintah Allah dalam Alquran Surat Ibrahim ayat 7 Juz 13," katanya, Ahad (18/8).
 
Gus Labib, sapaan akrabnya, melanjutkan, kegiatan perlombaan juga untuk mengenang jasa para pahlawan dan memupuk jiwa patriotisme generasi penerus bangsa. 
 
“Sebab, Syaikh Musthafa Al-Ghulayani dalam Idzatun Nasyiin menegaskan kemerdekaan adalah sebuah karunia Allah SWT. Karena itu, dalam kitab tersebut dijelaskan bahwa karunia berupa kemerdekaan diharapkan membuat manusia bisa memberi manfaat yang baik untuk dirinya sendiri dan juga orang lain,” terangnya. 
 
Menurutnya, orang yang merdeka dalam pengertian baru dan benar adalah dapat dilihat beberapa faktor. “Yakni orang yang murni pendidikannya, bersih jiwanya, berpegang teguh dengan sifat-sifat terpuji, menjauhkan diri dari sifat-sifat tercela, melepaskan diri dari segala bentuk ikatan perbudakan dan melaksanakan kewajiban yang menjadi kewajibannya," jelasnya.
 
Lebih lanjut Gus Labib mengingatkan, saat ini tinggal menikmati hasil perjuangan para pahlawan yang telah gugur. Namun bukan berarti tinggal diam ongkang-ongkang kaki, melainkan mempertahankan kemerdekaan justru lebih berat. 
 
Dia mencontohkan perjuangan setelah kemerdekaan yaitu memperjuangkan kemandirian ekonomi, mengejar ketertinggal dalam kemajuan teknologi dan lain sebagainya. 
 
"Nah, beberapa kewajiban yang harus dipenuhi oleh setiap generasi penerus bangsa Indonesia adalah meningkatkan jumlah orang-orang terpelajar yang bermoral tinggi dan baik, yang di dalam dirinya telah tertanam kuat cinta tanah air itu adalah bagian dari keimanan," tuturnya.
 
Gus Labib melanjutkan, dahulu para santri jarang yang sekolah formal, akan tetapi saat ini lulus S2 sudah biasa, bukan prestisius lagi. Sebab itu seperti yang diajarkan dalam kitab, upaya meningkatkan jumlah kaum terpelajar tidak akan terwujud kecuali dengan semangat jihad melawan kebodohan. 
 
"Harus berani mengorbankan harta dengan niat demi kemaslahatan umum, mencurahkan tenaga dan pikiran untuk mencerdaskan masyarakat melalui pengajian di musalla atau masjid, dan pesantren, atau bahkan membangun lembaga pendidikan formal yang dapat menghembuskan jiwa nasionalisme," urainya.
 
Menurut kiai muda yang pernah diamanahi sebagai Ketua Pengurus Wilayah (PW) Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU) Jateng ini, kesadaran nasionalisme sejak dini pada jiwa para pelajar dapat melahirkan gagasan mulia dan amal saleh. 
 
Lebih dari itu juga sanggup membangkitkan semangat menjadi dewasa untuk berkhidmat demi kepentingan negara yang berada di ambang kehancuran oleh ulah sebagian golongan masyarakat yang tidak bertanggung jawab yang tanpa sadar kejahatannya melebihi musuh bangsa yang sebenarnya. 
 
"Merdeka bukan berarti bebas semaunya sendiri, sehingga merasa bebas membahayakan dirinya sendiri dan orang lain," tegasnya.
 
Dicontohkannya, perilaku berfoya-foya, tindakan yang semena-mena, merusak tatanan kemasyarakatan dengan menyebarkan paham anti NKRI dan merasa paling benar sendiri dalam persoalan khilafiah sehingga menganggap kafir terhadap yang beda dengannya. 
 
Karena itu Gus Labib mengingatkan untuk meniru semangat perjuangan dari kisah Pangeran Diponegoro, seorang santri Kiai Ageng Besari yang nama aslinya Abdul Hamid.
 
"Pangeran Diponegoro membuat Belanda kocar kacir. Beliau salah satu teladan bagi para santri. Santri harus turut ambil peran dalam semua sendi kehidupan dalam menjaga keutuhan NKRI dan menyebarkan Islam yang damai apapun profesinya," tuturnya.
 
Untuk diketahui pula, Pesantren Sabilunnajah telah mendirikan Madrasah Tsanawiyah Plus Sabilunnajah. Saat ini, tengah dalam proses mendirikan sekolah kejuruan. (A Rifqi H/Ibnu Nawawi)
 
Ahad 18 Agustus 2019 19:45 WIB
Hadapi Era Milenial, Kader NU Tak Boleh Kehilangan Kepekaan
Hadapi Era Milenial, Kader NU Tak Boleh Kehilangan Kepekaan
Suasana pengajian dalam ‘Kajian Rutin ISNU Kalisat’ di halaman masjid Barokah, Kalisat, Sabtu (17/8) malam.

Jember, NU Online

Era milenial dengan ciri khas melubernya akses internet sesugguhnya telah memacu persaingan yang begitu ketat, khususnya di sektor lapangan kerja. Tanpa punya bekal yang cukup, jangan harap bisa berjaya. Bahkan bisa jadi era milenial akan menjadi kuburan bagi mereka yang kurang sigap.

 

Hal tersebut diungkapkan oleh Koordinator Bidang Organisasi dan Pengembangan SDM Pengurus Anak Cabang ISNU Kalisat, Kabupaten Jember Jawa Timur, Fauzan Adhim saat menjadi narasumber dalam Kajian Rutin ISNU Kalisat di halaman masjid Barokah, Kalisat, Sabtu (17/8) malam.

 

Menurutnya, tantangan masyarakat di era milenial adalah bagaimana bisa memenangkan persaingan ketat di tengah semakin menumpuknya sumber daya manusia yang berkualitas. Konstruksi berpikirnya adalah di mana ada peluang, di sana harus segera masuk.

 

“Siapa cepat dia dapat. Tak perlu berpikir panjang jika ada peluang. Sebab yang antre banyak,” ucapnya.

 

Dosen INAIFAS Kencong tersebut menambahkan, setidaknya ada dua kelompok tipe masyarakat dalam merespon tantangan era milenial ini. Pertama, masyarakat yang tahu tapi tak mau. Kedua, masyarakat yang mau tapi tak tahu. Kelompok pertama, mereka yang tahu tentang ketatnya persaingan dan peluang-peluang yang ada. Namun tidak mau berusaha untuk mengambil peluang itu.

 

“Faktornya bisa mancam-macam. Salah satunya karena dia mungkin sudah mapan hidupnya. Tapi orang seperti itu nanti akan menyesal, karena peluang tidak datang dua kali,” urainya.

 

Sedangkan kelompok kedua, mereka punya kemauan namun tidak punya kemampuan, tidak paham persoalan yang ada. Namun orang jenis ini tak tertutup kemungkinan kelak akan sukses. Sebab kuncinya adalah kemauan.

 

“Kalau punya kemauan, punya semangat yang tinggi, hal-hal teknis bisa dipelajari, apapun bisa dipelajari,” jelasnya.

 

Fauzan juga mengingatkan, agar bagaimanapun tantangan yang muncul di era milenial, kader NU tidak boleh hilang kepekaan sosialnya. Sebab tidak ada artinya jika ‘menang’ dalam persaingan tapi pada saat yang sama ia kehilangan jiwa sosialnya.

 

Dikatakannya, kader NU harus mampu memahami berbagai macam problem yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Lalu, berpijak pada pemetaan masalah tersebut, dia harus menggali berbagai macam potensi yang dimiliki oleh masyarakat sebagai modal utama untuk memberi solusi.

 

“Inilah sebenarnya makna terdalam dari peran pemuda sebagai agent of change. Atau dalam bahasa Al-Qur'an disebut liyundziru qawmahum idza raja'u ilayhim (agar memberi peringatan kepada kaumnya jika ia telah pulang)," pungkasnya.

 

Pewarta : Aryudi AR

 

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG