IMG-LOGO
Fragmen

Instruksi KH Wahab Chasbullah saat Belanda akan Kembali Menduduki Indonesia

Ahad 18 Agustus 2019 6:50 WIB
Bagikan:
Instruksi KH Wahab Chasbullah saat Belanda akan Kembali Menduduki Indonesia
KH Wahab Chasbullah (Dok. Perpustakaan PBNU)
Indonesia memang sudah merdeka pada 17 Agustus 1945. Saat itu, Sukarno memproklamasikan negara yang tengah mengalami kekosongan pemerintahan akibat kekalahan Jepang atas sekutu itu di Jakarta pada pukul 10.00 pagi. Hal itu ia tetap lakukan meski dalam keadaan sakit.

Baru saja mengumumkan kemerdekaannya, tentara Jepang pun mendatanginya. Dalam Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat (2000), Bapak Proklamasi itu menceritakan, mereka mengingatkan dirinya bahwa proklamasi kemerdekaan tidak bisa diterima karena dalam perjanjian Jepang dengan pihak sekutu, pemerintahan harus diserahkan sepenuhnya kepada sekutu. Saat itu Belanda (NICA) membonceng tentara sekutu untuk kembali menduduki Indonesia.

Sukarno yang baru saja dibangunkan dari pembaringannya itu menjawab bahwa proklamasi kemerdekaan sudah dilakukan. Seorang tentara Jepang maju seakan mengancam dengan tangannya naik ke pinggang. Tetapi, ia melihat ratusan wajah yang tengah bersiap dengan senjata seadanya, bambu runcing, kapak, sabit, di sekeliling rumah tersebut.

KH Saifuddin Zuhri dalam Berangkat dari Pesantren (1985) mencatat, pada mulanya pemerintah Jepang merencanakan tanggal 19 Agustus 1945 sebagai hari sidang pertama Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Namun, manusia hanya berencana, Allah SWT yang memutuskan. Mengutip pernyataan Kiai Ahmad Syatibi di Gedung Waqfiyah NU Sokaraja, Kiai Saifuddin mengungkapkan bahwa segala yang direncanakan manusia tidak bisa mengoyak takdir Ilahi.

Rencana tanggal 19 Agustus 1945 itu telah kedahuluan takdir Allah. Jepang bertekuk lutut pada Sekutu pada tanggal 14 Agustus 1945 melalui pernyataan resmi Kaisarnya. Kemudian, Sekutu pun mengumumkan kemenangannya. Tetapi, Indonesia pun tak mau menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Kiai Saifuddin menyebutnya sebagai wa yaumaidzin yafrohul mukminun, “Pada hari itu, orang-orang Mukmin bersuka cita.”

Ketidaksetujuan sekutu akan proklamasi itu dibuktikan dengan kehadirannya kembali ke tanah yang pernah ia kuasai ratusan tahun. Mereka kembali akan mengerahkan upayanya untuk merebut tanah jajahannya. Belanda dan Inggris pada tanggal 24 Agustus 1945 membuat kesepakatan yang dikenal sebagai Civil Affairs Agreement untuk kembali berkuasa. Pada tanggal 10 September 1945, Jepang mengumumkan penyerahan pemerintahan kepada Sekutu.

Tentu saja, hal itu berarti menganggap pemerintah Indonesia tidak ada. Sejak tanggal 16 September 1945, serombongan orang Belanda di bawah pimpinan Van Der Plas, bekas Gubernur Hindia Belanda di Surabaya, ikut mendarat dengan kapal perang Inggris ‘Cumberland’ yang dipimpin oleh Laksamana Muda W.R. Patterson mewakili Laksamana Lord Luis Mountbatten, Panglima Sekutu di Asia Tenggara.

Para kiai yang mengetahui peristiwa demikian bakal terjadi tentu tidak tinggal diam. Mereka langsung membuat gerakan. KH Saifuddin Zuhri sendiri menceritakan bahwa dirinya menggelar rapat Konsul NU daerah Kedu di kediaman mertuanya yang juga ia tinggali di Purworejo pada akhir bulan September 1945.

Ia menggelar kegiatan tersebut atas perintah dari KH Abdul Wahab Chasbullah saat mengikuti penggemblengan di Jombang sejak tanggal 9 Agustus 1945 sampai lepas merdeka. Saat itu, Kiai Wahab datang bersama anaknya, Muhammad Wahib, dan langsung menaiki podium guna menyampaikan pidato. Kiai Wahab meminta kepada 200 Nahdliyin yang mengikuti pelatihan tersebut agar lekas kembali ke daerah masing-masing guna mempertahankan kemerdekaan Indoneisa.

“Saya instruksikan saudara-saudara segera pulang ke daerah-daerah untuk menyusun perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Allahu Akbar wa lillahil hamdu!”

Saat itu, Kiai Wahab meneriakkan takbir mengabarkan kemerdekaan Indonesia. Menggemalah takbir berulang-ulang dalam acara itu. Ia juga menyebut bahwa kemerdekaan itu betul-betul sebagai pertolongan Allah SWT. “Bi nashrillahi yanshuru man yasyaa’ wa huwal Azizur Rahim, dengan pertolongan Allah, Dia menolong siapa saja yang dikehendaki-Nya, Allah Maha Perkasa lagi Maha Penyayang,” katanya.

Pelatihan itu diisi dengan berbagai penguatan spiritual yang dipimpin langsung oleh Kiai Wahab. Ia memberikan ijazah doa Hizbur Rifai dan Shalawat Kamilah dengan segala cara dan tatakramanya. Kedua wirid itu dipilih karena dinilai sangat tepat di tengah situasi yang berkecamuk mengingat saat itu para peserta juga diingatkan bakal terjadi perjuangan yang hebat. Karenanya, bekal kekuatan lahir dan batin harus betul-betul disiapkan pada kegiatan tersebut.

Selain Kiai Wahab, kegiatan itu juga diisi oleh Hadhratussyekh KH Hasyim Asy’ari, KH Bisri Syansuri, KH Sahal Mansur, KH M. Dahlan, KH Thohir Bakri, KH Ahmad Munif Bangkalan, KH Abdul Jalil Kudus, dan lain-lain. (Syakir NF)
Tags:
Bagikan:

Baca Juga

Ahad 18 Agustus 2019 12:0 WIB
NU Berdiri untuk Kemerdekaan Indonesia
NU Berdiri untuk Kemerdekaan Indonesia
Logo Nahdlatul Ulama
Pada tahun 1926, di Surabaya, para kiai pesantren Ahlussunah wal Jamaah (Aswaja)  mendirikan jamiyah (organisasi) bernama Nahdlatul Ulama, kebangkitan para ulama. Sebelum organisasi itu berdiri, para tokohnya lebih dahulu mendirikan tiga pilar penyangga utama, yaitu Nahdlatul Wathan pada tahun 1914, Tashwirul Afkar pada tahun 1918, dan Nahdlatut Tujjar tahun 1924.

Pada saat mendirikan NU, para kiai mendiskusikan nama organisasi yang akan dibentukknya. Salah seorang kiai mengusulkan nama Nuhudlul Ulama yang berarti kebangkitan ulama. Namun, KH Mas Alwi Abdul Aziz mengusulkan Nahdlatul Ulama. Kiai Alwi berpandangan, konsekuensi dengan menggunakan kata nahdlatul adalah kebangkitan yang telah terangkai sejak berabad-abad lalu. Bukan kebangkitan yang tiba-tiba sebab ulama Aswaja memiliki sanad keilmuan dan perjuangan sama dengan ulama-ulama sebelumnya. 

Menurut Choirul Anam pada buku Pertumbuhan dan Perkembangan NU, paling tidak, kebangkitan ulama NU merupakan kelanjutan dari gerakan Wali Songo dan ulama penyebar Islam lainnya di Nusantara. Selama ratusan tahun, perjuangan tersebut turun-temurun, sambung-menyambung, bergerak mempertahankan Islam di Nusantara. 

Masih di buku yang sama, Choirul Anam mengatakan, karena keadaan terus berubah, tantangannya pun berbeda, karena itu, cara para kiai Aswaja bergerak dalam mempertahankan dan menyebarkan Islam pun berubah juga. Jika sebelumnya hanya melalui pesantren dan bergerak sendiri-sendiri, para kiai mencoba dengan mendirikan organisasi. 

“Ini hanyalah persoalan cara, tapi intinya adalah mempertahankan Islam itu sendiri. Buktinya, pesantren dipertahankan, organisasi dijalankan,” tulis Choirul Anam di buku itu.  

Tantangan baru tiada lain adalah penjajahan bangsa Eropa mulai Portugis, Spanyol, Belanda, dan Inggris, serta terakhir bangsa Asia (Jepang). Mereka tidak hanya mengeruk kekayaan alam di Nusantara, tetapi menyebarkan agama dan budaya mereka dengan begitu masif karena terorganisir dengan baik. 

Dengan demikian, motif para kiai mendirikan organisasi adalah untuk menahan persebaran agama dan budaya yang dibawa penjajah. Pada saat yang sama, berusaha lepas dari belenggu penjajahan (nasionalisme).

Motif mempertahankan agama ini tiada lain adalah tetap berlangsung ajaran, pemikiran, praktik Islam Ahlussunah wal Jamaah dengan mazhab empat. Hal ini merupakan penegasan dari perkembangan saat itu. Di Timur Tengah muncul paham baru yang menggagas pembaruan dalam Islam dengan slogan kembali pada Al-Qur’an dan hadits dan antitaqlid kepada mazhab empat. 

Di Arab Saudi muncul pula paham Wahabi. Paham tersebut semakin kuat dan masif ketika disokong kekuasaan. Sejak Ibnu Saud, Raja Najed menaklukkan Hijaz (Makkah dan Madinah) tahun 1924-1925, aliran Wahabi sangat dominan di tanah Haram. Kelompok Islam lain dilarang mengajarkan mazhabnya, bahkan tidak sedikit para ulama yang dibunuh.  Paham-paham tersebut juga mendapat pengikut kuat di Nusantara yang mengampanyekan antibidah di mana-mana. Taqlid adalah penyebab kemunduran, melarang tahlilan, dan tradisi-tradisi keagamaan lain yang jelas-jelas memiliki dasar dari ajaran Islam sendiri, yang selama ini dilakukan paham Ahlussunah wal Jamaah.  

Para ulama Ahlussunah wal Jamaah di Nusantara, risau dengan kebijakan Arab Saudi tersebut. Mereka kemudian merencanakan untuk mengirimkan utusan ke Tanah Suci Mekkah, menemui penguasa saat itu untuk meminta menghentikan kebijakan itu. Rencana untuk mengirim utusan dilaksanakan di kediaman KH Wahab Chasbullah di Kertopaten, Surabaya pada16 Rajab 1344 H bertepatan dengan 31 Januari 1926, untuk membentuk Komite Hijaz yang kemudian melahirkan Nahdlatul Ulama.

Sementara motif kedua berdirinya NU adalah nasionalisme atau membebaskan diri dari belenggu penjajahan. 

Choirul Anam menjelaskan melalui rekam jejak KH Wahab Chasbullah yang sejak muda terlibat di Sarekat Islam (SI), Indonesische Club, mendirikan Nahdlatul Wathan, Tashwirul Afkar, Syubanul Wathan dan mengadakan kursus masail diniyah bagi pemuda pembela mazhab merupakan gerakan nasionalisme.  

Menurut Anam, sehari sebelum pertemuan Kertopaten, terjadi dialog antara KH Wahab Chasbullah dengan KH Abdul Halim Leuwimunding.

"Apakah organisasi yang akan didirikan para kiai itu memiliki tujuan kemerdekaan?"

"Iya, umat Islam menuju ke jalan itu. Umat Islam tidak leluasa sebelum negara kita merdeka," jawab Kiai Wahab.

Ahmad Mansur Suryanegara dalam bukunya Api Sejarah mengatakan: Apabila diperhatikan, nama Nahdlatul Ulama yang berarti kebangkitan ulama, sejalan dengan kondisi perjuangan umat Islam saat itu, yakni sedang dalam perjuangan membangkitkan kesadaran nasional. 

Pada halaman selanjutnya di buku tersebut Ahmad Mansur Suryangera mengatakan, NU sebagaimana organisasi yang didirikan sezaman berkeinginan menegakkan kembali umat Islam sebagai mayoritas. (Abdullah Alawi)
 
Ahad 18 Agustus 2019 8:15 WIB
KH Hasyim Asy’ari Penentu Tanggal Kemerdekaan RI?
KH Hasyim Asy’ari Penentu Tanggal Kemerdekaan RI?
Hadhratussyekh KH Muhammad Hasyim Asy'ari.
Pertaruhan jiwa dan raga bangsa Indonesia selama selama menghadapi penjajah puncaknya terjadi ketika kemerdekaan rakyat Indoensia akan diproklamasikan. Mereka melalui sejumlah penjajahan, baik oleh Belanda, Jepang, dan tentara sekutu yang dibonceng NICA (Belanda) untuk kembali melakukan agresi militer.

Kesempatan kembali menduduki Indonesia dilakukan Belanda ketika sekutu berhasil mengalahkan Jepang pada 1945. Jepang sendiri pertama kali datang ke Indonesia pada tahun 1942. Saat Nippon mengaku sebagai saudara tua sehingga sebagian masyarakat Indonesia terkecoh. Namun, makin hari Jepang justru menampakkan belangnya sebagai negara yang juga ingin menjajah Indonesia.

Keberhasilan sekutu mengalahkan Jepang memiliki konsekuensi bahwa negeri jajahan Jepang kembali ke pelukan sekutu, termasuk Indonesia. Namun, para tokoh pergerakan nasional, para pemuda, dan ulama tergerak untuk segera memproklamasikan kemerdekaan karena terjadi kekosongan kekuasaan administrasi. Para pemuda berperan aktif menggerakkan dan mendorong Soekarno dan Hatta agar segera memproklamasikan kemerdekaan.

Walau Soekarno sempat merasa bimbang memikirkan perjanjian Jepang dan seukut itu, tetapi pada akhirnya sepakat untuk memproklamasikan kemerdekaan. Sesuai tradisinya setiap hendak melaksanakan hal-hal penting, Soekarno meminta nasihat ulama. Ia meminta nasihat sekaligus restu pendiri NU KH Hasyim Asy’ari terkait waktu dan tanggal kemerdekaan yang tepat.

Meminta nasihat terjadi ketika Bung Karno, dan kawan-kawan hendak memproklamasikan kemerdekaan bangsa dan negara Indonesia. Beberapa hari sebelum proklamasi kemerdekaan, Bung Karno sowan Kiai Hasyim Asy’ari.

Kiai Hasyim Asy’ari memberi masukan, hendaknya proklamasi dilakukan hari Jumat pada Ramadhan. Jumat itu Sayyidul Ayyam (penghulunya hari), sedangkan Ramadhan itu Sayyidus Syuhrur (penghulunya bulan). Hari itu tepat 9 Ramadhan 1364 H, bertepatan dengan 17 Agustus 1945 kemerdekaan Indonesia diproklamasikan.

Hal itu sesuai dengan catatan Aguk Irawan MN dalam Sang Penakluk Badai: Biografi KH Hasyim Asy’ari (2012) yang menyatakan bahwa awal Ramadhan, bertepatan dengan tanggal 8 Agustus, utusan Bung Karno datang menemui KH Hasyim Asy’ari untuk menanyakan hasil istikharah para kiai, sebaiknya tanggal dan hari apa memproklamirkan kemerdekaan? Dipilihlah hari Jumat (sayyidul ayyam) tanggal 9 Ramadhan (sayyidus syuhur) 1364 H tepat 17 Agustus 1945, dan lihatlah apa yang dilakukan Bung Karno dan ribuan orang di lapangan saat itu, dalam keadaan puasa semua berdoa dengan menengadahkan tangan ke langit untuk keberkahan negeri ini. Tak lama dari itu, sahabat Mbah Hasyim semasa belajar di Mekkah (Hijaz) yang memang selama itu sering surat-menyurat, Syekh Muhammad Amin Al-Husaini, mufti besar Palestina untuk pertama kali memberikan dukungan pada proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Keterangan tersebut menunjukkan bahwa pemilihan hari kemerdekaan Indonesia dikonsultasikan terlebih dahulu kepada KH Hasyim Asy’ari. Lalu Kiai Hasyim mengumpulkan para ulama secara bersama-sama untuk melakukan munajat kemudian istikharah agar Allah memberi petunjuk hari yang tepat.

Maka setelah para ulama memusyawarahkan hasil istikharahnya, dipilihlah tanggal 9 Ramadhan 1364 H yang secara kebetulan itu pada hari Jumat tanggal 17 Agustus 1945. Angka Sembilan adalah simbol numerik tertinggi, hari Jumat adalah penghulu atau raja-nya hari dalam sepekan dan Ramadhan adalah rajanya bulan dalam setahun.

Adapun naskah proklamasi disusun dinihari jelang 17 Agustus 1945, di rumah Laksamana Tadashi Maeda (kini Jalan Imam Bonjol Nomor 1). Penyusunan teks Proklamasi dilakukan oleh Soekarno, M. Hatta, Achmad Soebardjo dan disaksikan oleh Soekarni, B.M. Diah, Sudiro (Mbah) dan Sayuti Melik. Beberapa orang Jepang, selain Maeda, juga ada di sana.

Di antara peristiwa besar tersebut, sebelumnya para tokoh pergerakan nasional dan juga para ulama jauh-jauh hari telah mempersiapkan dasar negara yang akan menjadi pijakan Indonesia merancang Undang-Undang. Seperti dasar negara Pancasila yang pertama kali dimunculkan pada 1 Juni 1945.

Hal itu menunjukkan rekam jejak perjuangan panjang bangsa Indonesia yang terus berupaya meraih kemerdekaan setelah pertarungan fisik dan senjata yang kerap kali terjadi. Para tokoh pergerakan nasional, termasuk para ulama pesantren berjuang mempersiapkan diri untuk menjadi sebuah negara dengan merancang dasar negara. Di sini KH Wahid Hasyim berperan besar.

Fakta ini membantah klaim Belanda yang mengatakan bahwa proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia pada 17 Agustus 1945 adalah bentukan Jepang. Padahal sudah diperjuangkan dan telah dipersiapkan secara matang oleh para tokoh bangsa. Perlu diketahui bahwa hingga saat ini, Belanda hanya mengakui penyerahan kedaulatan pada 27 Desember 1949.

Peran NU dalam mempersiapkan berdirinya negara bangsa bahkan dilakukan lima tahun sebelum proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 dengan resmi menunjuk Soekarno dan Mohammad Hatta untuk memegang tampuk kepemimpinan nasional dalam Muktamar ke-15 NU pada 15-21 Juni 1940 di Surabaya, Jawa Timur.

Selain sejumlah problem bangsa, dalam Muktamar ini, NU membahas sekaligus memutuskan perihal kepemimpinan nasional. Keputusan ini berangkat dari keyakinan NU bahwa kemerdekaan bangsa Indonesia akan segera tercapai. (Choirul Anam, Pertumbuhan dan Perkembangan NU, 2010)

Hal itu ditindaklanjuti dengan menggelar rapat tertutup guna membicarakan siapa calon yang pantas untuk menjadi presiden pertana Indonesia. Rapat rahasia ini hanya diperuntukkan bagi 11 orang tokoh NU yang saat itu dipimpin oleh KH Mahfudz Shiddiq dengan mengetengahkan dua nama yaitu Ir. Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta. Rapat berkahir dengan kesepakatan Soekarno calon presiden pertama, sedangkan Mohammad Hatta yang ketika itu hanya mendapat dukungan satu suara, sebagai wakil presiden.

Pembahasan calon presiden pertama dalam Muktamar ke-15 NU tersebut menunjukkan kematangan NU dalam mengkaji masalah-masalah sosial-politik kala itu. Bahkan, ketika peneguhan negara pasca-Proklamasi Kemerdekaan kembali mendapat gangguan penjajahan maupun pemberontakan, NU tegas mempertahankan konsep kepemimpinan nasional berbasis negara bangsa. (Fathoni)
Rabu 14 Agustus 2019 21:0 WIB
Kiai Wahid Hasyim Perkuat Pengetahuan Jemaah Haji Indonesia
Kiai Wahid Hasyim Perkuat Pengetahuan Jemaah Haji Indonesia
KH Abdul Wahid Hasyim
Persoalan haji dan segala macam yang berkaitan dengannya baru diurus oleh Kementerian Agama sejak tanggal 16 Januari 1950 atas dasar penyebutannya dalam rencana usaha Program Politik Kementerian Agama Republik Indonesia Serikat (RIS). Hal itu diawali dengan penyerahan kedaulatan kepada Kabinet RIS dengan KH Abdul Wahid Hasyim sebagai menteri agamanya.

Atas dasar usulan dari Kongres Muslimin Indonesia, Kiai Wahid menandatangani Panitia Perbaikan Perjalanan Haji Indonesia sebagai satu-satunya lembaga resmi yang diakui oleh pemerintah untuk melakukan upaya perbaikan ibadah haji. Sebagai negeri yang baru berdiri, Indonesia saat itu serba kekurangan. Hal yang paling menjadi sorotan Kiai Wahid adalah persoalan kualitas sumber daya manusianya yang berangkat haji.

Hal tersebut ia tuliskan secara jelas yang termaktub dalam buku Mengapa Saya Memilih Nahdlatul Ulama? Ia menjelaskan bahwa orang yang berangkat haji dari Indonesia pada umumnya merupakan orang lapisan bawah masyarakat. Mereka terdiri dari petani kecil atau pertengahan dan juga pedagang kecil, perdagangan yang dilakukan hanya oleh perseorangan saja, tidak berbentuk dalam perseroan terbatas.

Di samping itu, kecerdasan dan pengetahuan mereka masih sangat sederhana baik tentang pengetahuan agama maupun pengetahuan umumnya. Tak ayal, kehadiran mereka tidak begitu menarik banyak orang mengingat obrolannya yang sederhana dan pengaruh psikologisnya sebagai orang yang biasa, menurutnya, terlampau tawadu sehingga terkesan merendahkan diri di hadapan orang lain.

Minimnya pengetahuan membuat mereka mudah tertipu. Kiai Wahid menceritakan bahwa ada seseorang yang membeli Ka’bah karena ada penawaran yang datang padanya. Ada pula yang enggan menuju ke Arafah sebagai tempat berkumpulnya ribuan orang dan tempat inti berhaji. Kita tentu ingat sebuah hadis al-hajju Arafah, haji itu ya Arafah. Nabi menyebut demikian karena saking intinya haji di situ. Tetapi, orang tersebut enggan ke sana karena ia mengiranya Eropa. Meskipun ia dijelaskan panjang kali lebar bahwa Arafah bukanlah Eropa, tetapi orang tersebut tetap pada  pendiriannya enggan beranjak ke sana. Hal tersebut menjadi preseden yang sangat buruk bagi jemaah haji Indonesia saat itu.

Sementara itu, penduduk Indonesia yang terpelajar dan berpengetahuan luas saat itu masih kurang dalam persoalan ekonominya. Kondisi keuangannya tidak mencukupi untuk memberangkatkan dirinya pergi menunaikan rukun Islam kelima tersebut.

Dari peristiwa tersebut, dapat disimpulkan adanya dua persoalan pelik dalam haji Indonesia, yakni kurangnya pengetahuan agama dan umum para jemaah haji dan kurangnya orang berpengetahuan yang berhaji. Dalam hal ini, Kiai Wahid mengungkapkan empat kemungkinan rencana yang akan dilakukannya.

Pertama, membiarkannya saja mengingat hal tersebut merupakan urusan personal masing-masing warga. Hal demikian tentu saja tidak akan ia lakukan mengingat akan memperkeruh hubungan antarnegara karena berbagai keburukan yang dilakukan oleh mereka. Kiai Wahid juga memikirkan ke depannya agar tidak mengulang-ulang berbagai perilaku negatif yang merugikan secara personal maupun komunal bangsa. Kedua, mengajak masyarakat terpelajar yang mengaku Islam untuk berangkat haji. Tetapi, hal ini menurutnya, cukup sulit mengingat mengubah pandangan orang yang sudah berurat akar, hanya Tuhan saja yang dapat berkuasa menjalankannya.

Ketiga, menghentikan orang-orang berangkat haji secara sementara guna meningkatkan kompetensi umat Islam lebih dulu agar pantas berkomunikasi dan berinteraksi dengan masyarakat dunia. Namun, hal ini jelas-jelas bertentangan dengan UUD yang menjamin kebebasan beragama bagi segenap bangsa Indonesia.

Keempat, berikhtiar untuk meningkatkan kompetensi dan pengetahuan para calon haji dan mengatur perjalanannya sedemikain rupa agar mereka dapat berinteraksi dan berkomunikasi secara baik dengan masyarakat internasional sehingga diharapkan tidak lagi terjadi hal buruk dan mengecewakan.

Melalui rencananya yang keempat itu, kita ketahui sampai saat ini setiap calon jamaah haji wajib mengikuti program manasik haji atau pelatihan menunaikan ibadah haji. Setiap pekan beberapa bulan sebelum pemberangkatan biasanya para calon jemaah haji itu mengikuti pembekalan oleh para kiai ataupun panitia penyelenggara di ibadah haji dalam hal ini diwakili oleh kelompok bimbingan ibadah haji (KBIH) di berbagai tempat.

Setidaknya melalui program tersebut, calon jamaah haji mengetahui rukun haji, wajib haji, dan berbagai kesunnahan dalam melaksanakan ibadah tersebut. Mereka juga mengetahui langkah-langkah melaksanakan rukun Islam kelima itu. Keberangkatan mereka tidak dengan kepala kosong.
pembekalan itu tentu saja tidak lagi membuat peristiwa yang diceritakan oleh ayah gus dur dalam bukunya tersebut terulang kembali. sebab para jemaah haji sudah mengetahui bahwa Arafah bukanlah Eropa dan Ka'bah adalah milik semua.

Hal tersebut diperkuat dengan berbagai persyaratan melaksanakan ibadah haji berdasarkan Surat Edaran Menteri Agama tanggal 27 Maret 1950 No.A/III/1/648, yakni sebagai berikut.

1. Warga negara Indonesia Muslim, laki-laki maupun perempuan, yang sudah akil balig dan belum berhaji,
2. Berpengetahuan minimum dari agama Islam (rukun lima), serta mengamalkannya, termasuk ibadah haji.
3. Mempunyai bekal yang cukup untuk pergi dan pulang, dan untuk menjamin orang (keluarga) yang ditinggalkan di rumah yang menjadi tanggungan nya selama dalam perjalanan. dalam hal ini tidak sekali-kali diperbolehkan seorang pelamar calon haji menjual suatu yang menjadi pergantungan hidupnya,
4. Nyata tidak tersangkut dalam urusan polisi baik kriminal maupun sipil,
5. kamu adalah yang menghubungi matrix dalam perjalanan tidak minum tidak pula sedang menyusui anak kecil,
6. sehat badannya dari penyakit yang menular atau penyakit tidak bisa diharap sembuhnya, serta sehat pikiran dan ingatannya,
7. Orang sudah lanjut (tinggi) usianya akan tetapi masih kuat menolong dirinya sendiri dalam perjalanan artinya orang yang sudah tua rapuh tidak boleh,
8. Yang tidak buta huruf, bisa membaca huruf Arab tidak termasuk buta huruf, tetapi mereka ini dianjurkan supaya selepas mungkin dalam waktu terluang belajar juga huruf latin.

(Syakir NF)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG