IMG-LOGO
Nasional
HUT KE-74 RI

Kasatkornas Banser: Sebagai Kader NU, Ansor dan Banser Harus Dinamis

Ahad 18 Agustus 2019 16:30 WIB
Bagikan:
Kasatkornas Banser: Sebagai Kader NU, Ansor dan Banser Harus Dinamis
Apel Kebangsaan GP Ansor dan Banser Rembang, Jateng
Rembang, NU Online
Kepala Satuan Koordinasi Nasional (Kasatkornas) Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Alfa Isnaini mengatakan, kader Ansor Banser harus menata diri dalam persaingan global. 
 
"Sebagaimana tema yang telah pilih yaitu Menjadi Roda Indonesia, cocok dengan tema sentral pada peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-74 Kemerdekaan Republik Indonesia yang ditetapkan oleh Presiden Republik Indonesia yakni, SDM Unggul Indonesia Maju," tandasnya.
 
Hal itu diungkapkan saat menghadiri Apel Kebangsaan yang dihelat Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Rembang, Jawa Tengah bertepatan dengan HUT RI  di lapangan Desa Pulo, Kecamatan Rembang, Sabtu (17/8) pukul 15.00 WIB.
 
Dikatakan, kader Pemuda Ansor dan Banser harus dinamis dan terus mempersiapkan diri dan kemampuannya agar dapat menjadi pelopor kemajuan pemuda Indonesia ke depan.
 
“Kepada seluruh peserta upacara apel kebangsaan Ansor dan Banser, kalian adalah tunas-tunas bangsa. Sebagai garda terdepan NU, hendaknya kalian mempersiapkan diri untuk meneruskan estafet kepemimpinan bangsa dan pembangunan," tegasnya.
 
Dijelaskan, tema sentral pada peringatan hari kemerdekaan hari ini adalah SDM Unggul Indonesia Maju, dengan ini GP Ansor khususnya Kabupaten Rembang menyebut bahwa Ansor Menjadi Roda Indonesia. 
 
"Artinya apa, artinya Ansor Banser untuk menyambut menjadi SDM yang maju harus menata diri, harus menata kemampuannya ke depan, sehingga bisa berputar menjadi penyangga dan mesin Indonesia yaitu Nahdlatul Ulama dan membawa apa yang disebut Indonesia maju ke depan sebagaimana yang diinginkan oleh Presiden Republik Indonesia,” katanya.
 
Lebih lanjut Alfa mengatakan, sebagai kader GP Ansor terus mengasah diri, terus belajar, dan tidak menutup diri kepada siapapun, serta terus mengikuti perkembangan teknologi agar tidak tertinggal.
 
“Sebagai roda harus dinamis, sebagai roda mobil yang bernama Indonesia yang mesinnya sudah baku, yaitu mesin Nahdlatul Ulama. Yang memiliki akidah ahlussunnah waljamaah, maka harus kita dinamis," tegasnya. 
 
Dsampaikan Alfa, Ansor Banser harus menata diri, Ansor Banser harus belajar, Ansor Banser tidak boleh menutup diri, harus membuka dengan pihak siapapun untuk belajar tentang teknologi, harus belajar tentang budaya. Dengan demikian, harapan negara bahwa SDM unggul dapat membawa Indonesia sudah bisa dimotori Gerakan Pemuda Ansor sebagai roda Indonesia.
 
"Di manapun sahabat tempatnya, sebagai roda ketika sahabat-sahabat dinamis, yang jadi guru jadilah guru yang dinamis, yang jadi pedagang jadilah pedagang yang dinamis, yang jadi birokrat jadilah birokrat yang dinamis, yang jadi politisi jadilah politisi yang dinamis, yang jadi pelajar mahasiswa jangan lupa bahwa ditampuk kepemimpinan ke depan Ada di pundak saudara," bebernya. 
 
Menurutnya, letak kedinamisan ke depan ini dipertaruhkan untuk Indonesia berkemajuan. Maka sadarlah bahawa kita sebagai roda harus dinamis, harus banyak belajar keilmuan untuk masa depan Indonesia.
 
Apel kebangsaan yang diikuti sekitar 2.500 peserta, juga dihadiri Ketua Pimpinan Wilayah GP Ansor Jawa Tengah H Shalahudin Ali. 
 
Apel kebangsaan merupakan rangkai kegiatan Konferensi Cabang (Konfercab) GP Ansor Kabupaten Rembang dilaksanakan tanggal 18 Agustus 2019, di Pesantren Ngisor Waru Desa Sugihan Kecamatan Kota, Kabupaten Rembang. (Asmui/Muiz)
Bagikan:

Baca Juga

Ahad 18 Agustus 2019 18:0 WIB
Dosen Unipdu Publikasikan Hasil Riset Jamu di Luar Negeri
Dosen Unipdu Publikasikan Hasil Riset Jamu di Luar Negeri
Wiwit Denny Fitriana (kanan) berpartisipasi pada SCIEMATHIC 2019.
Jombang, NU Online
Penggunaan jamu bagi perempuan usai melahirkan ternyata memiliki manfaat tinggi. Hal tersebut sebagaimana penelitian yang dilakukan dosen Fakultas Sains dan Teknologi (Saintek) Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu) Jombang, Jawa Timur.
 
Dosen dimaksud adalah Wiwit Denny Fitriana. Ia  mengenalkan tradisi warisan penggunaan jamu pada ibu setelah melahirkan (postpartum) sebagai antioksidan di tingkat internasional. Kegiatan dimaksud adalah SCIEMATHIC 2019 pada Selasa hingga Rabu (13-14/8). 
 
Kegiatan tersebut merupakan 5th International Conference on the Application of Science and mathematics yang diselenggaran oleh Universiti Tun Hussein Onn Malaysia (UTHM) sebagai tuan rumah. 
 
Tahun ini, SCIEMATHIC 2019 dihelat dengan tema Synergy Through Collaboration in Science and Mathematics & MoA Signing Ceremony
 
“Kegiatan bergengsi tersebut dihadiri oleh lebih dari 200 akademisi dan mahasiswa,” katanya, Ahad (18/8).
 
Pada kegiatan tersebut Wiwit Denny Fitriana memaparkan hasil risetnya yang berjudul the relationship of secondary metabolites: A study of Indonesian traditional herbal medicine (jamu) for post partum maternal care use
 
Dari hasil temuan riset ini menghasilkan komposisi jamu pospartum yang efektif sebagai antioksidan dan antibakteri. 
 
“Jamu ini telah diuji secara klinis terhadap hewan uji dan hasilnya aman untuk dikomsumsi,” jelasnya. 
 
Menurutnya, riset ini merupakan kolaborasi antara Unipdu Jombang dengan Departemen Kimia Fakultas Sains Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. 
 
“Semua diraih melalui program Penelitian Kerja sama antar Perguruan Tinggi atau PKPT oleh Ristekdikti tahun 2018 hingga  2019,” ungkapnya.
 
Sri Fatmawati selaku ketua pelaksana mitra mengemukakan bahwa riset yang telah dilakukan harus terus dikembangkan hingga menghasilkan jamu pospartum yang tersandarisasi. 
 
Dalam pandangannya, seluruh riset yang nyata-nyata memberikan nilai postif harus terus dilakukan dan selanjutnya juga diwartakan hingga ke dunia internasional. Apalagi nantinya akan turut mengenalkan potensi bangsa Indonesia di mata dunia. 
 
“Hasil riset ini juga dipublikasikan dalam jurnal internasional bereputasi sebagai upaya menjaga warisan leluhur Indonesia,” tandasnya. (Ibnu Nawawi)
Ahad 18 Agustus 2019 6:0 WIB
Kisah Kiai Hasyim Asy'ari dan Ibu-ibu Pemberi Uang
Kisah Kiai Hasyim Asy'ari dan Ibu-ibu Pemberi Uang
Refleksi 74 tahun Indonesia merdeka, pesantren Tebuireng, Jombang
Jombang, NU Online
Hadratus Syekh KH M Hasyim Asy'ari dikenal halayak sebagai gurunya para tokoh agama nusantara. Banyak kiai-kiai besar yang setelah belajar dengan Kiai Hasyim lalu menjadi tokoh besar. Sebut saja KH Abdul Wahab Hasbullah dan KH Bisri Syansuri, sepasang tokoh yang bahu membahu membesarkan Nahdlatul Ulama (NU).
 
Tangan dingin Kiai Hasyim lewat lembaga pendidikan bernama Pesantren Tebuireng telah mampu mengangkat derajat kaum santri. Sudah tak terhitung lagi alumni Tebuireng menjadi penggerak kehidupan beragama di tengah masyarakat.
 
Perhatian Kiai Hasyim dengan pendidikan menurut Mudir Pesantren Madrasatul Qur'an Tebuireng KH Musta'in Syafi'i memang sudah menjadi karakter dari Kiai Hasyim Asy'ari. 
 
"Hadratus Syekh KH Hasyim Asy'ari sangat memperhatikan keilmuan, pendidikan, dan sangat memerhatikan kepada lingkungan sekitar," katanya saat mengisi refleksi 74 tahun kemerdekaan Republik Indonesia di masjid Pesantren Putra Tebuireng, Jumat (16/8).
 
Diceritakan Kiai Musta'in, pada suatu hari ada ibu-ibu sowan (bertamu) ke Ndalem kesepuhan Kiai Hasyim. Tradisi di masyarakat Jawa saat itu bila bertamu ke rumah kiai, maka membawa hasil pertaniannya atau memberi uang dengan harapan pekerjaan dan hidupnya tambah berkah.
 
Tidak ingin menyakiti hati tamunya, kakek dari Gus Dur tersebut akhirnya menerima uang pemberian dari warganya. Namun, karena kecintaannya pada pendidikan dan umat, Kiai Hasyim mengembalikan uang itu kepada ibu-ibu yang bertemu Mbah Hasyim digunakan untuk pendidikan di kampungnya.
 
"Ada mak-mak sowan ke Ndalem, Hadratus Syekh diberi uang dan ia menerimanya, kemudian ia memberikan kembali untuk membangun tempat pendidikan putri di daerah asal ibu-ibu tadi," tambah dosen Ma'ahad Aly Tebuireng ini.
 
Kiai Mustain menjelaskan, bukti lain kepedulian Kiai Hasyim pada pendidikan terlihat saat aktif membantu santrinya mendirikan pesantren. Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo dan Lirboyo Kediri contoh kecil dari pesantren rintisan santri Kiai Hasyim.
 
Bentuk lain cinta Mbah Hasyim pada dunia pendidikan terlihat dari banyaknya kitab kecil yang dikarangnya untuk masyarakat umum. Seperti Kitab Adabul Alim Wal Muta'allim. Kitab kecil ini menjadi rujukan di banyak pesantren Indonesia.
"Sangat perhatiannya Mbah Hasyim terlihat dengan tidak menulis kitab yang tebal melainkan hanya kitab tipis-tipis yang disebut risalah agar mudah dipahami dan ringkas," ujarnya.
Mudir Pesantren Tebuireng bidang pondok, H Lukman Hakim meminta santri Tebuireng meneruskan perjuangan para pahlawan-pahlawan dahulu, khususnya KH Hasyim Asy'ari.
 
"Kita ini adalah para pejuang di kemudian hari. Dan perjuangan republik ini siapa yang mau meneruskan kalau bukan kalian. Siapa yang meneruskan perjuangan ini? ialah santri Tebuireng. Kalian-kalianlah yang nantinya melanjutkan perjuangan Mbah Hasyim Asy'ari. Bahkan kita tahu bahwa yang menyerukan kemerdekaan adalah beliau dengan resolusi jihad," pungkasnya. (Syarif Abdurrahman/Muiz
Sabtu 17 Agustus 2019 18:0 WIB
Apresiasi dari Masyarakat Lombok NTB kepada Jokowi Atas Penggunaan Adat Sasak
Apresiasi dari Masyarakat Lombok NTB kepada Jokowi Atas Penggunaan Adat Sasak
Presiden Jokowi gunakan pakaian adat sasak (foto: gaya.tempo.co)
Mataram NU Online
Hari ini dan kemarin lini masa media sosial, WA-WA group khusus di Lombok NTB dihebohkan dengan tampilan Presiden H Joko Widodo yang tampil menggunakan pakaian adat saat menyampaikan pidato kenegaraan di hadapan DPR-MPR RI di Jakarta, Jumat (16/08).
 
Pujian dan sanjungan bagi Jokowi datang dari masyarakat Lombok NTB yang telah menunjukkan kepada publik se-Nusantara atas penampilan yang tak terduga itu.
 
"Itulah indonesia, beliau (Jokowi) sebut nama pulau, nama kawasan, nama daerah bahwa simbol kepala negara telah dihadirkan menampilkan pakaian adat Nusantara," kata Ketua PCNU Kota Mataram Ustadz Fairuz Abadi kepada NU Online, Sabtu (17/08).
 
Dikatakan, rasa syukur dan bangga sebagai orang muslim sasak bahwa salah satu pakaian adat nusantara dari bumi lombok itu digunakan oleh kepala negara dan kepala pemerintahan dalam sebuah acara negara.
 
"Tentu kita sebagai orang Lombok merasa bangga soalnya di samping itu isyarat keberagaman saya kira diperlihatkan saat di Senayan," terangnya.
 
Lebih lanjut Sekretaris Dinas Kominfo NTB ini menjelaskan bahwa Presiden Republik Indonesia Jokowi menunjukkan kepada kita bahwa  Indonesia tidak akan pernah ada tanpa Lombok. 
 
"Jadi pemantik kita membangun bangsa ketika nanti kita membangun rasa keberagaman itu harus dimulai dari lokal wisdom, itu penting," tutup nya.
 
Majelis Adat Sasak (MAS) menilai penggunaan busana adat Sasak oleh Presiden Jokowi merupakan sebuah pesan simbolik yang penting.
 
Ketua Harian MAS H Lalu Bayu Windya mengatakan, khusus bagi warga Sasak di Lombok maupun Sasak Pengendon atau warga Sasak yang menjadi perantau dan diaspora, hal ini menjadi pesan simbolik yang penting. "Komunikasi simbolik ini penuh makna dan simpatik," kata pria yang akrab disapa Mamiq Bayu ini.
 
Bagi masyarakat adat seluruh nusantara, dengan semakin seringnya Presiden Jokowi tampil dengan busana kebanggaan daerah diharapkan menjadi pertanda yang kuat bahwa isu-isu kebudayaan tidak lagi menjadi isu pinggiran, tetapi akan dijadikan isu yang lebih diketengahkan.
 
Penggunaan baju adat Sasak pada pidato kenegaraan itu juga bermakna Presiden Jokowi menunjukkan kenegarawanannya. Meskipun kalah telak pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 di NTB, tetapi Presiden Jokowi tetap memperhatikan pembangunan di NTB.
 
"Presiden telah menunjukkan kenegarawanannya dengan tidak membedakan masa-masa kontestasi (Pilpres) dengan masa membangun," pungkasnya. (Hadi/Muiz)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG