IMG-LOGO
Internasional

Meriahkan HUT RI, LED Burj Khalifa Tampilkan Bendera Indonesia

Ahad 18 Agustus 2019 19:30 WIB
Bagikan:
Meriahkan HUT RI, LED Burj Khalifa Tampilkan Bendera Indonesia
LED Burj Khalifa menampilkan bendera Indonesia, merah-putih. (IG @kbriabudhabi.)
Dubai, NU Online
Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-74 Republik Indonesia (RI) juga terasa istimewa di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA).  Pasalnya, pada Sabtu (17/8) malam, LED lightshow di gedung tertinggi di dunia, Burj Khalifa, menampilkan warna merah-putih, yang merupakan warna bendera Indonesia.
 
Pertunjukan di Burj Khalifa pada pukul 20.40 malam waktu setempat tersebut merupakan bentuk dukungan dari UEA terhadap perayaan HUT kemerdekaan ke-74 Republik Indonesia, yang jatuh pada setiap 17 Agustus. 
 
Gedung dengan tinggi 828 meter tersebut berselimut merah-putih tersebut terekam dalam video yang diunggah Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) melalui akun Instagramnya. Meski durasinya kurang dari satu menit, namun pertunjukan cahaya tersebut menjadi momen istimewa bagi masyarakat Indonesia, terlebih mereka yang sedang berada di sana dan menyaksikan langsung.
 
"Atraksi light show di gedung tertinggi di dunia itu menarik atensi banyak orang, khususnya masyarakat Indonesia yang tinggal di UEA," tulis KBRI Abu Dhabi dalam akun Instagramnya @kbriabudhabi.
 
Akun tersebut juga menjelaskan, sejumlah orang begitu antusias dengan mengenakan baju berwarna merah dan putih, dan batik sebagai ciri khas Indonesia. Pertunjukkan itu dihadiri langsung oleh sejumlah warga Indonesia, Konsul Jenderal RI Dubai Ridwan Hasan dan sejumlah staf KBRI Abu Dhabi dan KJRI Dubai.
 
“Momen spesial yang membangkitkan rasa bangga sebagai anak bangsa yang tinggal di luar negeri, terutama di UEA,” lanjutnya. 
 
Selain di Burj Khalifa, LED merah putih juga ditampilkan di markas perusahaan minyak negara UEA, Adnoc. Ini adalah yang pertama kali bendera Indonesia ditampilkan di dua lokasi ikonik di Dubai tersebut. (Red: Muchlishon)
Bagikan:

Baca Juga

Ahad 18 Agustus 2019 22:0 WIB
Orang Berhaji Ibarat Pemuda Lepas Masa Lajangnya
Orang Berhaji Ibarat Pemuda Lepas Masa Lajangnya
Petugas Pembimbing Ibadah Haji Indonesia kelompok terbang (kloter) JKG 51 asal Pringsewu Lampung, H Akhyarullah, saat memberi pengarahan kepada jamaah haji. (Foto: Faizin/NUO)
Makkah, NU Online
Haji merupakan ibadah penyempurna keislaman seseorang. Oleh karenanya, ibadah ini disebut sebagai rukun Islam yang kelima. Jika orang sudah mampu melaksanakan kewajiban haji, maka hendaknya tidak menunda-nunda dengan berbagai alasan dan bersegera untuk melaksanakannya.
 
Menurut Petugas Pembimbing Ibadah Haji Indonesia kelompok terbang (kloter) JKG 51 asal Pringsewu Lampung, H Akhyarullah, proses haji ibarat seorang pemuda yang sudah waktunya menikah dan melepas masa lajangnya.
 
“Orang yang sudah berhaji itu seperti bujang yang sudah menikah. Jika sudah mampu disegerakan, dan jika sudah menikah harus ada perubahan kepribadian ke arah yang lebih baik,” katanya saat memberi pengarahan kepada para ketua rombongan kloter tersebut di Hotel Al Zaer Mashaer Raudhah, Makkah, Arab Saudi, Ahad (18/8).
 
Seseorang yang sudah berhaji, lanjut dia, harus mampu menjaga hati, tingkah laku, dan lebih baik dari sebelumnya seperti seorang bujangan yang sudah menikah. Segala sisi kehidupannya harus berupaya dimaksimalkan agar menjadi pribadi yang sempurna layaknya kesempurnaan Islam yang sudah didapatkannya.
 
Namun ia juga mengingatkan, agar setelah berhaji seseorang tidak membanggakan diri dengan 'kehajiannya'. Jangan dijadikan gelar 'haji' sebagai niatan untuk menaikkan harga diri dan status sosial di tengah masyarakat. Sebaliknya, jadikan pengalaman spiritual ini sebagai sarana menjaga diri dari tindakan-tindakan dosa.
 
Selain membahas masalah rangkaian rukun dan wajib ibadah haji yang telah dilewati, rapat koordinasi yang dihadiri oleh ketua kloter dan tim pembimbing haji daerah Kabupaten Pringsewu tersebut juga membahas beberapa agenda kloter ke depan.
 
Ketua kloter, H Hilal menjelaskan, kloter yang dipimpinnya tersebut sudah melaksanakan rangkaian Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) dengan baik. Kegiatan dilanjutkan dengan melaksanakan thawaf Ifadhah dan Sai untuk menyempurnakan rukun haji.
 
“Kloter JKG 51 akan meninggalkan Kota Makkah pada Kamis, 29 Agustus 2019,” jelasnya tentang kloter yang masuk gelombang penerbangan ke dua ini.
 
Di Madinah, para jemaah akan melaksanakan ziarah ke makam Rasulullah SAW sekaligus melaksanakan ibadah shalat berjamaah selama 40 waktu secara berturut-turut yang dinamai Arbain. 
 
“Kita dijadwalkan pulang ke Tanah Air pada Sabtu, 7 September 2019,” terangnya.
 
Terkait pemulangan jemaah haji gelombang ke dua ke Tanah Air akan dimulai pada Jumat, 30 Agustus 2019 langsung dari bandar udara Madinah. Sehingga seluruh jamaah haji Indonesia yang berjumlah sekitar 231.000 jamaah akan sudah berada di Tanah Air pada 17 September 2019. (Muhammad Faizin/Musthofa Asrori)
Ahad 18 Agustus 2019 17:30 WIB
HUT KE-74 RI
Obati Rindu Indonesia, Madrasah Darul Ma’arif Perth Gelar HUT Sendiri
Obati Rindu Indonesia, Madrasah Darul Ma’arif Perth Gelar HUT Sendiri
Para tokoh NU dan pengelola Madrasah Darul Ma’arif Perth berfoto bersama usai Peringatan HTU ke-74 RI di Kenwick Community Center

Perth, NU Online

Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-74 Republik Indonesia tidak hanya riuh di tanah air tapi juga menggema di mancanegara, termasuk di Asutralia. Di Western Australia, perayaan HUT Republik Indonesia yang mengusung tema Membentuk Manusia Unggul itu dipusatkan di Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Perth di Adelaide Terrace, Sabtu (17/8) malam. Seluruh ormas, termasuk perwakilan Nahdlatul Ulama juga menghadairi perayaan yang meriah tersebut.

 

Di luar itu, Madrasah Darul Ma’arif (MDM) NU juga tak ketinggalan. Mereka melaksanakan perayaan 17 Agustus 2019 secara terpisah, yaitu di Kenwick Community Center.

 

Warga NU di Perth cukup antusias menyambut peringatan HUT Indonesia tersebut. Sejak pagi, ratusan warga NU, termasuk anak-anak MDM NU telah memadati tempat perayaan. Kegiatan dimulai dengan pengajian rutin seperti biasa untuk anak-anak madrasah dan wali murid.

 

Setelah acara saremonial, panitia menggelar beberapa perlombaan, di antaranya adalah lomba balap kelereng untuk anak-anak kecil, lomba balap karung untuk semua umur, termasuk guru dan orang tua. Acara tersebut berlangsung sangat meriah. Kegembiraan terpancar di wajah mereka yang polos. Meskipun murid-murid MDM NU tidak hanya berasal dari anak-anak Indonesia, tapi juga dari mancanegara seperti Malaysia, Singapore, Libanon, Pakistan, dan Australia sendiri, namun mereka larut dalam perayaan 17-an Indonesia.

 

“Inilah barokah kemerdekaan. Mereka tetap mencintai Indonesia,” tukas Pembina MDM NU, Anshori Husnur Rafiq seperrti rilis yang diterima NU Online, Ahad (18/8).

 

Acara tersebut diakhiri dengan makan bersama dengan masakan khas Indonesia. Para wali murid ikut serta menyumbang berbagai macam makanan seperti pizza, ayam goreng tepung, dan turkish bread. Selain itu, ada yang membawa masakan tradisional Indonesia seperti cireng, bubur ketan hitam, aneka roti serta buah-buahan.

 

“Alhamdulillah lengkap. Rindu pada tanah air sepertinya terobati,” lanjut tokoh NU Perth tersebut.

 

Di tempat yang sama, Koordinator Kajian dan Diskusi NU Western Australia, Ridwan al-Makassary menegaskan, peran MDM NU sangat besar dalam membangun pondasi SDM (sumber daya manusia) yang qualfied, berakhlaq, dan beraroma Indonesia yang Aswaja (Ahlussunnah wal Jamaah). Sehingga dengan demikian, rintisan yang dilakukan NU Perth dengan membuat madrasah sesungguhnya adalah bagian untuk membentuk manusia unggul sebagaimana tema HUT RI kali ini.

 

“Dengan segala keterbatasannya, MDM Nahdlatul Ulama terus berupaya untuk memberikan sumbangsih bagi pembentukan pondasi SDM berjiwa NU,” pungkasnya.

 

Pewarta : Aryudi AR

Ahad 18 Agustus 2019 17:0 WIB
NKRI dan Pancasila Jadi Perbincangan Hangat di Canberra
NKRI dan Pancasila Jadi Perbincangan Hangat di Canberra
Peserta diskusi NGOPI (Ngaji on Particular Issue) di Canberra, Australia. 
Canberra, NU Online
Negara Kesaatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Pancasila merupakan jembatan menuju baldatun thayyibatun warabbun ghafur. Yakni negeri yang indah dengan mendapat kurnia dari Tuhan.
 
Demikian disampaikan Kiai M Noor Harisudin dalam pada acara NGOPI (Ngaji on Particular Issue) dengan tema Konsep Nasionalisme dalam Islam di Canberra, Australia, Sabtu (17/8). 
 
Acara yang dihelat oleh pengajian khataman Canberra yang diketuai Ustadz Katiman itu berlangsung gayeng dan seru. Peserta membludak memenuhi aula rumah Fuad Fanani, Hartadi dan Ale di Canberra.                                     
 
Konsep Nasionalisme dalam pandangan guru besar ushul fiqih di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember, Jatim tersebut, setara dengan NKRI dan Pancasila. Ketiganya adalah jembatan menuju cita-cita tersebut. 
 
"Dalam ilmu ushul fiqih, ini namanya fathu dzariah. Jalan menuju sesuatu yang baik yang itu dibuka selebar-lebarnya dalam Islam. NKRI, Pancasila, dan nasionalisme adalah jalan menuju cita-cita baik, yaitu baldatun thayyibatun warabbun ghafur," urai Dekan Fakultas Syariah IAIN Jember tersebut.                                                
 
Ormas arus utama di Indonesia seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah  menguatkan posisi NKRI dan Pancasila. Sebaliknya, pengusung wacana khilafah dan komunisme telah  melemahkan NKRI.  
 
"Misalnya NU menetapkan NKRI dengan darul Islam dalam arti wilayah Islam dimana orang-orang Islam dapat menjalankan agamanya dengan baik. Muhammadiyah menyebut NKRI dengan darul ahdi was syahadah,” terangnya. 
 
Sebagian ulama Indonesia mengatakan NKRI dengan darul mitsaq atau negara konsesus. Juga tentang Pancasila, ulama Indonesia mengatakan bukan hanya sesuai syariat, tapi bahkan syariat Islam itu sendiri. 
 
“Karena semua sila-silanya ada dasar Al-Qur'an haditsnya", ungkap Sekjen PP Keluarga Alumni Ma'had Aly Situbondo tersebut.                                                           
 
Demikian juga konsep nasioalisme karena termasuk sesuatu yang tidak memiliki nash atau ma la nassha fihi, maka harus dilihat sisi maslahah dan mafsadahnya. 
 
"Jika dilihat dari perspektif maqashidus syariah, maka nasionalisme  mengandung maslahah. Karena mengikat bangsa Indonesia untuk fokus pada NKRI dan bersama-sama membangun Indonesia menjadi negara yang berkeadilan dan sejahtera dalam ridla Allah SWT,” jelas Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Asosiasi Badan Penyelenggara Perguruan Tinggi Swasta se-Indonesia (ABPTSI) ini. 
 
Kalau hari ini ada sebagian kecil anak muda Indonesia yang cenderung  pro khilafah, maka menurut Prof Haris, adalah tugas kita semua untuk berdialog dan mengajak mereka kembali pada NKRI selain edukasi sejak dini. 
 
"Kita harus melakukan edukasi sejak dini bagaimana umat Islam bisa menjadi warga negara yang baik pada satu sisi. Dan pada sisi yang lain, dia juga seorang Muslim sejati,” ungkap Ketua Umum Asosiasi Penulis dan Peneliti Islam Nusantara tersebut.                                   
Sementara itu, Dani Muhtadi yang juga dosen Unes Semarang menyebut asal muasal nasionalisme. 
 
"Benedict Anderson menyebut imagined communities. Kita sesama anak bangsa tidak pernah ketemu, tapi kita sepakat dengan Indonesia. Inilah konsep nasionalisme yang dibangun di negeri ini," kata alumni Ph.D Northern Illinois University Amerika Serikat tersebut. 
 
Acara yang dimoderatori Mas Bas berlangsung hingga malam hari diselingi humor. Hal tersebut  yang juga membuat peserta diskusi merasa tidak jenuh. (Sohibul Ulum/Ibnu Nawawi)
 
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG