IMG-LOGO
Nasional

RMI PBNU Bahas Peta Jalan Islam Wasathiyah


Senin 19 Agustus 2019 13:00 WIB
Bagikan:
RMI PBNU Bahas Peta Jalan Islam Wasathiyah
Seminar oleh Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PBNU, Senin (19/8).
Jakarta, NU Online
Ratusan Pimpinan Pesantren dari Jakarta, Jawa Barat dan Banten menghadiri kegiatan Seminar bertajuk Peta Jalan Islam Washatiyah untuk Islam Indonesia dan Dunia: Kontribusi Pesantren di Gedung PBNU di Kramat Raya, Jakarta Pusat, Senin (19/8). Seminar diselenggarakan oleh Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). 

Hadir pada kegiatan tersebut Kepala Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama Abdurahman Mas’ud, Ketua RMI PBNU KH Abdul Ghofarrozin (Gus Rozin), Kepala Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Balitbang Diklat Kemenag, Amsal Bakhtiar. 

Dalam sambutannya, Abdurahman Mas’ud mengatakan jati diri Pesantren adalah Islam Wasathiyah, hampir seluruh Pesantren di Indonesia memahami secara mendalam dalil-dalil gagasan Islam wasathiyah, baik dalil ayat Al-Qur’an maupun Hadits. Sehingga, sangat wajar jika karakter Pesantren adalah Islam wasathiyah. 

“Esensi pesantren ya wasathiyah,” katanya dihadapan peserta seminar. 

Islam washatiyah kata Alumnus Islamic Studies, Universitas California, AS, tahun 1997 ini adalah Islam yang mengusung arus moderasi beragama. Hal ini dinilai penting apalagi bagi Pesantren, kedudukan Radikalisme harus menjadi tantangan agar Islam Indonesia tetap pada nilai-nilai moderat. 

“Apalagi kan jumlah pesantren ini banyak sekali, tapi baru beberapa persen yang terdaftar di Kemenag. Pesantren yang tidak terdaftar di Kemenag itu Pesantren abal-abal,” ujarnya. 

Kemenag kata dia, telah banyak melakuan penelitian terkait pesantren, di antaranya penelitian mengenai naskah kitab kuning yang dikaji di pesantren dan fenomena pesantrennya. Bahkan penelitian itu sudah dilakukan sejak beberapa tahun yang lalu.

Sementara itu, Gus Rozin menuturkan, Islam Wasathiyah yang dibicarakan pada seminar kali ini yaitu terkait Ahlusunah wal Jamaah An-Nahdliyah. Juga membahas bagaimana posisi pengembangan pesantren untuk puluhan tahun ke depan. 

Ia meyakini hadirnya Pesantren di Indonesia telah memperkuat Islam Indonesia atas dasar itulah kata Gus Rozin, tidak menuntut kemungkinan Islam Indonesia akan menjadi rujukan utama Islam dari berbagai belahan dunia. 

“Bukan tidak mungkin Islam di Indonesia akan jadi rujukan Islam dunia,” katanya. 

Menurut Gus Rozin, konsep Islam di Indonesia banyak disyukuri umat Islam dunia karena dinamikanya yang tidak memunculkan perpecahan. Sementara umat Islam Indonesia sendiri masih ada yang tidak mensyukuri nikmat tersebut itu dibuktikan masih ditemukannya radikalisme beragama. (Abdul Rahman Ahdori/Fathoni)
Bagikan:

Baca Juga

IMG
IMG