IMG-LOGO
Trending Now:
Esai

Haji dalam Sastra Sunda

Rabu 21 Agustus 2019 14:30 WIB
Bagikan:
Haji dalam Sastra Sunda
Ilustrasi: Jemaah haji Indonesia tahun 1948 tiba di Tanjung Priok. (Foto: KITLV)
Oleh Abdullah Alawi
 
Haji juga manusia. Ya, mereka manusia pada umumnya, meski sudah menginjak tanah suci, menciu Hajar Aswad dan berziarah ke Tanah Suci Makkah. Di dalam literatur klasik Islam pun ada haji mabrur dan mardud. Artinya, ada orang yang setelah berhaji perangai dan ibadahnya makin baik, ada yang malah lebih buruk.  

Di dalam sastra Sunda, penggambaran sosok haji juga demikian. Ada pengarang yang menampilkan citra haji yang negatif dan dan yang positif. Bahkan menurut pengamat sastra Sunda Hawe Setiawan, keduanya bisa disebut sebagai ekstrem baik dan ekstrem buruk.  

Penggambaran haji seperti itu misalnya tampak dalam karya Sayudi berjudul Madraji: Carita Pantun Modern (1983). Di dalam karya karya yang dipengantari Wing Kardjo tersebut ada dua sosok haji yang sama-sama bertabiat buruk, Haji Umar dan Haji Syukur. 

Penggambaran sosok Haji Umar yang buruk bisa dilihat dalam deskripsi sebagai berikut:

“Taya dua Haji Umar katelahna nu boga adat fidunya, haji keling taya tanding, sarakah mamawa lurah, sakait jeung juru tulis.” 

Di dalam karya tersebut, Haji Umar adalah seorang haji yang melakukan kongkalikong dengan pejabat. Tak hanya itu, ia juga seorang haji yang materialistis. 

Haji lain, dalam karya tersebut, Haji Syukur, meski namanya bagus, tapi berlainan dengan tabiatnya. Berikut penggambarannya:

“Sambian maluruh catur, laku Ki Haji Syukur nu racak tapak pangupat, nu ledug tapak penyebut, anyar jegud benang munjung, pajar teu modalan, Kang Haji kaintip nyegik,” kutipnya. 

Terjemah bebasnya: Haji Syukur seorang yang banyak digunjing orang, kaya mendadak karena dia seorang yang memuja babi.

Menurut Hawe, penggambaran tersebut sangat kontradiktif karena Haji Syukur beribadah dengan harta buah dari cara yang tidak Islami. 

Dalam istilah sekarang, sesorang yang melakukan korupsi uang rakyat. Kemudian uang tersebut digunakan untuk berhaji.

Hal senada, dalam karya sastra Indonesia. Citra buruk haji, bisa ditemukan di beberapa karya Pramudya Ananta Toer, terutama di novel Arus Balik. Di novel itu penulis menceritakan seorang keturunan Syahbandar yang berhidung melengkung. 

Kalau kita runut ke belakang, penggambaran haji yang demikian, muncul dalam karya-karya sastra Belanda, misalnya pada novel De Stille Kracht (Tenaga Tersembunyi) karya Louis Couperus. Penulisnya, sekitar tahun 30-an pernah ke Indonesia (waktu itu Hindia Belanda). 

Di novel itu ada tokoh hantu haji. Tentu saja, penggambaran seperti itu turut serta dalam upaya memperburuk citra haji pribumi yang dalam waktu bersamaan mencerminkan ketakutan kolonialisme terhadap Islam. 

Namun, tentu saja ada haji yang dicitrakan sangat baik. Hal itu bisa dilihat dalam karya Syarif Amin, berjudul Nyi Haji Saonah. 

Novel tersebut merupakan cerita cinta. Di dalam novel tersebut ada dua haji, yaitu Haji Saonah dan suaminya, Haji Siroj. 

Berikut gambaran Haji Siroj: ‘Ari parung pasanggrok di jalan eta manehna dina sado, kuring leumpang, Haji Siroj meni sok dongko-dongko bae bari nyekelan ples teh. Jelema handap asor kasebut beungharna’,” ungkapnya.  

Terjemahan bebas penggambaran tersebut: “Ketika bertemu di suatu jalan, dia (Haji Siroj) sedang menaiki sado. Sementara saya berjalan kaki. Melihat saya, Haji Siroj memberi hormat dengan membungkukkan badannya. Ia seorang haji yang kaya berperangai rendah hati.

Di novel itu, Haji Siroj adalah sosok kaya raya yang nyantri. Kekayaannya merupakan hasil dari bisnis halal yang tidak membuatnya angkuh, melainkan rendah hati.
 

Penulis adalah pengkaji sejarah Sunda
Tags:
Bagikan:

Baca Juga

Kamis 15 Agustus 2019 13:30 WIB
Berpikir Kritis dan Menjaga Kebersamaan Merupakan Cara Melawan Ajaran Radikalisme Kekerasan
Berpikir Kritis dan Menjaga Kebersamaan Merupakan Cara Melawan Ajaran Radikalisme Kekerasan
Ilustrasi terorisme

Oleh Ahmad Rozali

 

Beberapa hari ke depan, pada 17 Agustus 2019, bangsa Indonesia memasuki usia ke-74 tahun Kemerdekaanya. Di usia tersebut Indonesia telah mengalami berbagai kemajuan, baik dari aspek ekonomi, demokrasi, kebudayaan dan seterusnya.

 

Namun begitu, seiring kemajuan yang kita capai, tantangan juga berubah. Salah satu tantangan paling nyata saat ini adalah menguatnya paham dan aksi radikalisme dan terorisme. Paham radikalisme kekerasan, jika dilihat dari perkembangannya terdiri atas dua tipikal, pertama yang tumbuh dan berkembang dari ideologi di dalam negeri dan yang kedua dari luar negeri atau kerap disebut dengan gerakan transnasional.

 

Beberapa waktu lalu, dalam sebuah diskusi yang digelar Wahid Foundation di Jakarta, terdapat paparan menarik tentang pendekatan sejumlah negara dalam menangani kasus terorisme dan radikalisme di berbagai negara seperti Mesir, Turki, dan Kanada oleh Syafiq Hasyim, intelektual muda NU yang sedang menempuh karir akademiknya di RSIS-Nanyang Technological University, Singaporea 

 

Syafiq memaparkan bagaimana perbedaan pola penanganan yang terjadi di setiap negara-negara tersebut, serta penanganan yang dilakukan di tanah air. Dari semua paparannya, ada yang menarik saat Syafiq menjelaskan bagaimana Turki melakukan penanganan terhadap aksi radikalisme dan terorisme di negaranya.

 

Untuk menekan aksi radikalisme kekerasan, Turki meningkatkan kemampuan berpikir kritis melalui menghidupkan perdebatan publik. Dan itu dipercaya berdampak langsung melahirkan narasi yang mengkonter ajakan pada radikalisme kekerasan.

 

Paparan Syafiq tepat sekali. Sebab, sejauh ini, aksi radikalisme terutama terorisme dikalukan karena keyakinan pada sesuatu yang diluar nalar. Masuknya pemahaman pada seorang pelaku teror seringkali diterima melalui doktrin, sehingga si pelaku aksi teror kehilangan akan sehat dan melakukan kerusakan, bahkan menghilangkan nyawa orang lain demi keyakinan mereka.

 

Namun begitu, selain melakukan pendekatan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis, Turki juga menyasar komunitas-komunitas dalam masyarakat dengan pendekatan lunak seperti dukungan terhadap keluarga, konsultasi keagamaan, hingga advokasi pada kelompok rentan.

 

Sebab secara umum, penguatan budaya juga faktor penting melawan paham terorisme radikal yang sifatnya suka mencerabut pelaku dari akar budayanya. Sederhananya, orang yang memiiki akar kebudayaan, tradisi dan kultur yang kuat akan sulit untuk ‘dijadikan’ peklaku kekerasan apalagi teroris.

 

Hal ini senada dengan statemen Prof Hamdi Muluk, Guru Besar Psikologi Politik dari Universitas Indonesia. Kita juga beruntung karena telah memiliki akumulasi kebudayaan, kultur dan tradisi yang kuat Indonesia yang telah dibingkai dalam nilai Pancasila.

 

“Sebagai sebuah bangsa, kita sebenarnya punya modal sosial yang cukup besar yaitu Pancasila, Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 dan Bhinneka Tunggal Ika. Apa yang sudah diwariskan dari para founding fathers kita itu adalah modal yang besar, termasuk didalamnya bahasa persatuan. Dan itu sudah berhasil kita lewati, karena sampai hari ini kita tidak terpecah dan masih tetap utuh yang tentunya semua itu adalah sebuah modal sosial yang besar dan tangguh untuk bisa maju”.

 

Memiliki modal sosial menjadi sangat krusial sebagai modal memajukan sebuah negara. Dan modal sosial demikian hanya bisa dipupuk dengan rasa nasionalisme, melalui membangun kohesi sosial.

 

Hampir tidak mungkin ada negara bisa maju, jika modal sosialnya rendah. Indonesia sendiri bisa berdiri, menurut Hamdi, dikakarenakan modal sosial yang tingg yang terbangun dari berbagai suku, yang dalam istilah jaman dulu semacam Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatra dan sebagainya.

 

Kedua poin besar yang dipaparkan Syafiq Hasyim dan Hamdi Muluk tentu sudah dilakukan sebelumnya baik melalui program pemerintah maupun aktivitas masyarakat. Namun masih bisa kita tingkatkan melalui program yang lebih baik, sehingga ajakan-ajakan yang untuk melakukan aksi kekerasan akan secara otomatis tertolak karena ketidakrasionalannya dan karena kebertentangannya terhadap nilai kebersamaan dan kebudayaan.

 

Penulis adalah redaktur NU Online

Rabu 14 Agustus 2019 20:45 WIB
Kenangan Memfoto Kaligrafi di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi
Kenangan Memfoto Kaligrafi di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi
Foto: pixabay
Oleh Didin Sirojuddin Ar
Kerajaan Arab Saudi mulai  tegas melarang kegiatan foto-fotoan di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Dari dulu pun, sebetulnya, aksi berfoto-foto atau pun selfy tidak diperkenankan. Saat berhaji tahun 1994, saya jarang  melihat jamaah terang-terangan pegang kamera apalagi  berfoto-foto di lingkungan Ka’bah. Bila ketahuan, askar langsung merampasnya tanpa ampun. Waktu itu, saya pun sengaja tidak membawa kamera karena tidak ingin terganggu saat ibadah.
Teknologi digital maju sedemikian pesat dan ledakannya menyeruak ke seluruh ufuk bumi. Sekarang, hampir seluruh jamaah haji memegang kamera digital. Nge-WA di mana-mana dan jepretan kamera membidik semua ruang di dua masjid. Bahkan jadi obyek jepretan yang paling dicari.

Saya menduga askar Haromain sudah tidak mampu menahan-nahan "aksi paparazzi" jamaah haji. Bagaimana melarang mereka jika semua memegang kamera? Dalam tiga kali umrah tahun-tahun terakhir, akhirnya,  saya juga  tidak mau ketinggalan.

Tangan rasanya  gatal tanpa jeprat-jepret di interna Masjid Nabawi dan Masjidil Haram, lebih-lebih Ka’bah yang indah. Tapi, tidak hanya foto-fotoan dengan background Ka’bah. Dengan sedikit "action", saya justru banyak menjepret kaligrafi interior masjid agung di Tanah Haram Makkah dan Madinah ini. Ternyata, ada catatan menarik dan sejarah  kaligrafi yang unik di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi yang menambah ilmu saya tapi penting pula diketahui jamaah haji dan umrah.

Adalah Abdullah Zuhdi dari Asitanah, Turki, yang berjasa menulis kaligrafi di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram. Pengajar khat di kampus Nur Usmaniyah ini diutus Sultan Abdul Majid ke Hijaz untuk menulisi kaligrafi dinding Masjid Nabawi.

Ketika bersafari ke Mesir, Pemerintah Mesir mengangkatnya menjadi guru khat di Madrasah Khudeiwiyah sampai wafatnya tahun 1296 H. Karena kerjanya bagus, ia ditugaskan menulis ayat-ayat Al-Qur’an dan lainnya di Ka’bah. Profesinya dilanjutkan oleh murid-murid dan generasi kaligrafer sesudahnya sampai sekarang.

Menarik sekali, kaligrafi yang terjepret di Masjid Nabawi didominasi khat Tsulus. Beberapa menggunakan Naskhi dan Kufi. Tapi yang paling menarik perhatian dan jadi "sasaran tembak" kamera saya adalah hadits Nabi SAW yang terletak berhadapan dengan Raudhah, tempat yang paling diperebutkan:

مابين بيتي ومنبري روضة من رياض الجنة

Artinya, "Yang berada di antara rumahku dan mimbarku adalah sebuah taman dari taman-taman surga."

Di Masjidil Haram, kaligrafi gaya Tsulus bertebaran menghiasi dinding. Tapi semuanya kalah pamor oleh kaligrafi di kiswah Ka’bah. Kiswah sendiri dan jamaah yang bergemuruh thawaf mengelilingi Ka’bah jadi sasaran tembak kamera yang paling menarik.

Sejak proses pembuatannya, Kiswah memang menarik: dibuat saban tahun dengan biaya sekitar 5 juta real selama 9 bulan sampai setahun penuh dengan bahan-bahan: kain sutra, benang emas, dan materi campuran lainnya. Pembuatannya melibatkan 200 perancang dan pekerja ahli dengan menghabiskan 9.600 pintal benang khusus hanya untuk tulisan segi tiga:

سبحان الله وبحمده، سبحان الله العظيم، ياحنان، يامنان، ياالله.

Kiswah, yang beberapa abad lamanya dibikin atas tanggungan pemerintah Mesir (sebelum akhirnya jatuh ke tangan pemerintahan Ibnu Saud),  adalah kelambu Ka’bah dari sutra yang dihias pertama kali oleh bangsa Himyar 2 abad sebelum hijrah. Tepatnya yang mula-mula mengelambui Ka’bah dengan kulit yang disamak adalah Abu Karbin As'ad, Raja Himyar, tatkala baginda kembali dari berperang (220 SH) dan kebetulan lewat di depan Ka’bah.

Sejak Islam lahir sampai Fathu Makkah, Rasulullah belum sempat mengiswahi Ka’bah karena belum ada kebebasan ibadah akibat konfrontasi dengan musyrikin Quraisy. Setelah seorang wanita membakarnya, barulah Rasulullah menggantinya dengan kain baru dari Yaman. Kecuali Abu Bakar, Umar, dan Usman, Ali tidak disebut-sebut pernah membikin kiswah, barang kali tidak sempat akibat pertentangan politik dengan Muawiyah dan fitnah di dalam negeri yang merajalela. Sebaliknya, Muawiyah sendiri mengiswahi Ka’bah dua kali setahun, Makmun tiga kali. Khalifah Makmunlah yang mula-mula membikin kiswah dari sutra putih bergambar.

Di zaman Fatimiyah diganti lagi dengan sutra putih, kemudian kuning, kemudian hijau, kemudian hitam, warna yang berlaku sampai sekarang.

Asyiiik... dah.  Tidak terasa kamera hape saya terus membidik huruf-huruf kaligrafi hitam “La ilaha illallah, Muhammadur Rasulullah” berulang-ulang  yang samar-samar  memenuhi body kiswah yang hitam anggun. Sambil mengklik tombol kamera, terbayang ingatan ke pabrik kiswah super modern yang dilengkapi peralatan dan komputer serba up to date.

Tahap pembuatan kiswah tersebut diawali dengan pencucian kain sutra putih yang didatangkan khusus dari Italia. Digosok berkali-kali dengan air mendidih dan sabun untuk mengikis debu dan zat kimia yang melekat. Dibeberkan hingga kering, lalu dicelup dengan warna biru nila dengan sedikit bumbu kimia untuk menguatkan warna. Dicelup lagi dengan warna hitam pekat. Sesudah kering dilipat dengan gelondongan kayu besar-besar ratusan batang. Pintalan benang yang ditargetkan berjumlah 9.870 gulung dibentangkan pada 8 buah sisir besi.

Kamera saya seakan diarahkan ke proses pembuatan kaligrafinya. Dimulai dari tahap penjahitan pada lengkung garis-garis ukur yang diguratkan sang direktur seniman. Apabila para pekerja menginjak pedal dengan telapak kakinya, maka bermunculanlah benang-benang sulam yang berkilauan. Nah, itulah kalimat-kalimat kaligrafi penghias kiswah. Indah sekali bukan?

Ka’bah memang dahsyat. Amalan untuk memuliakannya juga dahsyat. Satu kiswah, yang diolah oleh 200 seniman spesialisasi tenun, bordir dan pengisian, jahit dan seterusnya,  menghabiskan 875 m kain sutra. Untuk sabuk Ka’bah saja diperlukan 16 potong kain dengan panjang 61 m dan lebar 94 cm, berjarak 9 m dari permukaan tanah. Sepanjang sabuk itu bertuliskan, “bismillahir rahmanir rahim” disusul dengan ayat 197-199 Surat Al-Baqarah. Tulisan itu tampak dari arah Hijir Ismail.

Di sebelah barat antara Rukun Yamanisyah dan Hijir Ismail, kamera yang lengkeeet terus di tangan  membidik kaligrafi “bismillahir rahmanir rahim” disusul dengan ayat 96-97 Surat Ali Imran.

Di sebelah timur pada pintu Ka’bah tertulis “bismillahir rahmanir rahim” disusul dengan ayat 125-127 dan 128 surat Al-Baqarah. Juga terdapat sepotong kain sutera besar bertuliskan kata sanjungan:

صنعت هذه الكسوة فى مكة المكرمة وأهداهاإلى الكعبة المشرفة خادم الحرمين الشريفين (nama Raja) تقبل الله منه.
       
Kamera membidik juga 4 potong kain bersegi empat bertuliskan surat Al-Ikhlas yang digantungkan di setiap sudut Ka’bah. Sedangkan cadar pintu panjangnya 7 ½ m dan lebar 3 ½ m tampak anggun dengan ayat-ayat Al-Qur’an dalam pelbagai corak kaligrafi yang artistik.

Subhanallah, semuanya sangat memesona. Kamera juga serasa disorotkan kepada kaligrafer Abdullah Zuhdi yang berjasa merintis penulisan kaligrafi di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Duh sayang, yang terbidik hanya kata kenangan yang dikumandangkan para penyair:
 
مات رب الخط والأقلام قد #
نكست أعلامهاحزناعليه
وانثنت من حسرة قامتها # 
 بعد ما كانت تباهى فى يديه
ولذا قد قلت فى تاريخه #
 مات زهدى رحمة الله عليه

"Raja kaligrafi  meninggal dunia
Pena-pena 'lah menurunkan benderanya
Bersedih karena kepergiannya
Dan membungkuk layu meratapi  sosoknya yang tegap
Setelah dulu kejayaan di tangannya.
Karena itu, telah kukatakan dalam tarikhnya:
Zuhdi meninggal dunia
Semoga rahmat Allah terlimpah kepadanya."

Penulis adalah pendiri Lembaga Kaligrafi (Lemka) dan pengajar pada Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah.
Selasa 13 Agustus 2019 14:0 WIB
Sudahkah Masjid Memenuhi Hak Beribadah Kelompok Difabel?
Sudahkah Masjid Memenuhi Hak Beribadah Kelompok Difabel?
Saatnya fiqih berorientasi pada perwujudan kesetaraan dan pemberdayaan kelompok yang selama ini dikucilkan. Ilustrasi (news.de)
Oleh Bahrul Fuad 

“Saya shalat (Idhul Adha) benar-benar nangis, teringat (selama) 11 tahun saya shalat di rumah mengikuti TV di Istiqlal, dan hari ini saya berada di dalamnya…haru banget.”

Ini adalah salah satu kesan yang disampaikan oleh teman-teman difabel usai menjalankan ibadah shalat Idul Adha 1440 H di Masjid Istiqlal kemarin. Perasaan gembira, haru, dan penuh semangat mewarnai raut wajah sebagian jamaah difabel yang datang dari berbagai wilayah di Jabodetabek. Beberapa teman difabel dari Bogor bahkan rela patungan menyewa bus dan berangkat jam 03.00 pagi untuk menuju Masjid Istiqlal.

Salah seorang teman difabel pengguna kursi roda menyampaikan dia sangat terharu bisa masuk ke dalam Masjid Istiqlal karena selama ini dia hanya melihat masjid kebanggaan rakyat Indonesia itu dari luar pagar. Saat itu dia juga merasa sangat dimanusiakan bahwa dia bisa shalat berjamaah duduk di kursi rodanya di shaf depan sejajar dengan shaf jamaah lainnya. Selama ini jika dia shalat di masjid dekat rumahnya selalu meninggalkan kursi rodanya di luar kemudian merangkak masuk ke dalam masjid. 

Seorang sahabat tuli juga menyampaikan bahwa shalat Idul Adha minggu lalu sangat mengesankan baginya karena pertama kali dia bisa mengikuti isi ceramah Ustadz Yusuf Mansur dengan lengkap. Selama ini jika shalat Jumat atau shalat Id dia tidak pernah tahu isi khutbahnya. Bahkan jika dia bertanya pada orang di sampingnya tentang isi khutbah Jumat seringkali tidak mendapatkan informasi yang lengkap.

Pada kegiatan shalat Idul Adha 1440 H di Masjid Istiqlal kemarin adalah pengalaman pertama bagi pengurus masjid terbesar di Asia Tenggara ini. Badan Pelaksanaan Pengelolaan Masjid Istiqlal dengan didukung Bimas Islam Kementerian Agama berusaha semaksimal mungkin untuk memfasilitasi para jamaah difabel. Pintu Masuk Ar Rahman merupakan pintu yang ramah bagi difabel dibuka kembali dan dimanfaatkan secara maksimal. Pada pintu ini sudah tersedia tempat parkir khusus bagi difabel, tempat wudhu ramah difabel, ubin penuntun bagi difabel netra, dan juga lift khusus bagi difabel.

Selain itu pihak Istiqlal juga menyediakan dua layar berukuran besar dan beberapa layar TV monitor yang tersebar di beberapa sudut ruang Masjid Istiqlal yang menayangkan gambar Juru Bahasa Isyarat bagi saudara-saudara tuli pada saat khutbah berlangsung. Tak cukup itu, pihak Masjid Istiqlal juga mengerahkan para relawan dari Remaja Masjid Istiqlal dan Komunitas Pemuda Lintas Iman yang sudah bersiap sejak pukul 03.00 pagi untuk membantu teman-teman difabel yang akan menjalankan shalat Idul Adha.

Kegiatan Shalat Idul Adha 1440 H di Masjid Istiqlal yang ramah bagi difabel ini merupakan hasil dari proses advokasi yang cukup panjang sejak diterbitkannya buku Fiqih Penguatan Penyandang Disabilitas. Sosialaisasi dan diskusi tentang buku Fiqih Penguatan Penyandang Disabilitas tersebut intensif dilakukan dalam berbagai kesempatan. Begitu juga pendekatan dengan berbagai pihak yang berkepentingan juga dilakukan guna memastikan terwujudnya kesadaran atas hak dan kebutuhan khusus para difabel di bidang peribadatan. Banyak pihak terlibat dalam hal ini seperti TAF, PBNU, Lakpesdam NU, P3M, Yakkum, Bimas Islam Kementerian Agama, dan tentu BPP Masjid Istiqlal sebagai pelaksana.
Kami para difabel berharap pemenuhan hak dan kebutuhan khusus difabel dalam rangka menjalankan peribadatan terus dilakukan oleh Masjid Istiqlal dan seluruh masjid di Indonesia.

Praktik ajaran agama yang selama ini banyak dimanfaatkan untuk ibadah yang berorientasi pada keshalihan individual sudah saatnya kini bergeser pada keshalihan sosial yang berorientasi pada kemaslahatan umat. Akhir-akhir ini wacana keagamaan khususnya Islam di Indonesia banyak didominasi oleh diskusi tentang bagaimana berpakaian, takfir (saling menuduh kafir), dan perebutan kekuasaan. Padahal banyak persoalan yang membebani masyarakat kita belum banyak terselesaikan dengan baik, seperti akses pendidikan, akses kesehatan, akses ekonomi, dan termasuk akses menjalankan peribadatan bagi kelompok minoritas seperti difabel.

Oleh karena itu sudah saatnya kajian fiqih yang merupakan sarana untuk memahami syariat Islam dan sekaligus mengatur berbagai aspek kehidupan manusia mulai diarahkan pada hal-hal yang berorientasi pada perwujudan kesetaraan dan pemberdayaan kelompok masyarakat yang selama ini ditinggalkan dan dikucilkan.


Penulis adalah aktivis difabel; anggota tim penulis buku "Fiqih Penguatan Penyandang Disabilitas" terbitan LBM PBNU, P3M, PSLD Unibraw (2018)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG