IMG-LOGO
Internasional

Sejumlah Hal yang Perlu Diperhatikan Jemaah Haji saat di Madinah


Kamis 22 Agustus 2019 13:00 WIB
Bagikan:
Sejumlah Hal yang Perlu Diperhatikan Jemaah Haji saat di Madinah
Masjid Nabawi di Madinah. (Foto: Destination KSA)
Makkah, NU Online
Saat ini jemaah haji Indonesia sudah memasuki tahap pemulangan ke tanah air untuk gelombang pertama dan berangkat ke Madinah untuk gelombang kedua. Pemulangan ke tanah air sudah dimulai pada 17 Agustus 2019 dan keberangkatan ke Madinah sudah dimulai pada 21 Agustus 2019.

Bagi para jemaah haji gelombang kedua yang akan berada di Madinah, Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Widyawati berpesan beberapa hal terkait masalah kesehatan agar selama di Madinah dapat melaksanakan ibadah dengan lancar dan nyaman.

"Pertama, wajib mengenali situasi Kota Madinah. Suhu rata-rata di Madinah sedikit lebih panas dibandingkan Makkah. Terutama di sore hari. Kelembabannya juga rendah. Maka dari itu jemaah dianjurkan untuk selalu menggunakan alat pelindung diri (APD) jika beraktivitas di luar hotel," pesannya dalam rilis yang diterima NU Online, Rabu (21/8).

Kedua, lanjutnya, jemaah harus memperhatikan kondisi tubuh masing-masing. Setelah sekitar satu bulan lamanya berada di Makkah untuk melaksanakan rukun dan wajib haji di Armuzna yang menguras tenaga, jemaah diimbau untuk mengurangi aktivitas ibadah sunnah 

Ketiga, para jemaah haji hendaknya lebih peduli dengan anggota kloternya karena beberapa jemaah ada yang sudahmulai mengalami kejenuhan dan kerinduan kepada keluarganya sehingga ingin segera pulang ke tanah air. Sesama rekan atau teman sekamar harus saling memberi perhatian, memberi hiburan, mengajak makan atau beribadah bersama-sama.

Keempat, selama perjalanan menuju Madinah yang ditempuh dalam waktu 5-6 jam, para jemaah diimbau untuk melakukan peregangan dalam bus setiap dua jam sekali untuk menghindari rasa pegal atau kesemutan.

"Caranya dengan menggerakkan jemari, kepala dan kaki ke kiri dan kanan dalam delapan hitungan. Gerakan peregangan bisa dilakukan sambil duduk. Peregangan seperti ini juga bisa dilakukan di pesawat saat perjalanan menuju tanah air. Dengan peregangan ini, aliran darah akan lebih lancar dan tubuh akan terasa lebih segar," jelasnya.

Kelima, saat tiba di Madinah, jemaah haji diimbau menghapalkan nama atau nomor hotelnya serta nomor pintu masuk-keluar Masjid Nabawi. Diusahakan para jemaah selalu pergi bersama-sama regu atau rombongannya dan tidak meninggalkan jemaah lansia.

"Apabila lupa atau butuh bantuan lainnya, dapat mencari petugas di sektor khusus di Masjid Nabawi yang letaknya di pintu 21. Jika tidak mampu (beribadah di Nabawi) jangan paksakan diri," imbuhnya.

Keenam, jemaah harus tetap waspada dengan penyakit yang menjadi perhatian dunia yakni MERS-CoV saat bersama-sama jemaah lain dari berbagai penjuru dunia. Penyakit saluran pernapasan ini hanya ditemukan di kawasan timur tengah dan berisiko terbawa ke Indonesia melalui jemaah haji yang tertular di Arab Saudi. 

"Salah satu cara pencegahannya dengan disiplin menggunakan masker. Jangan lupa pula untuk rajin mencuci tangan pakai sabun," pesannya.

Nantinya saat kembali ke Indonesia, jemaah akan melalui thermal scanner (pemindai suhu tubuh) di bandara debarkasi. Jika didapati suhu tubuh seseorang di atas 38 derajat celsius, ia akan diperiksa dan diobservasi oleh petugas terlebih dulu sebelum keluar bandara. Jemaah dengan kondisi tersebut dicurigai terkena penyakit menular dari Arab Saudi.

Selain itu berdasarkan pengalaman, suhu tubuh tinggi tidak selalu karena mengidap penyakit tetapi bisa juga akibat kekurangan cairan atau mengalami dehidrasi. "Sering minum selama dalam pesawat agar suhu tubuh tidak meningkat,” pesannya.

Setelah sampai di bandara, jemaah haji akan menerima Kartu Kewaspadaan Kesehatan Jemaah Haji (K3JH). K3JH merupakan kartu yang diisi oleh jemaah haji untuk mencatat gejala-gejala penyakit yang mungkin timbul selama 21 hari setelah pulang menunaikan ibadah haji. 

"Gejala itu diantaranya sakit demam, batuk, sesak napas, diare, perdarahan dan kaku kuduk. Saat menerimanya, jemaah tidak perlu bingung, langsung masukan K3JH ke tas paspor dan jangan sampai hilang. Kartu tersebut berguna untuk memantau status kesehatan jemaah haji selama 21 hari pasca kedatangan dari tanah haram oleh tenaga kesehatan di puskesmas terdekat," terangnya.

Bilamana dalam 21 hari jemaah haji mengalami gangguan kesehatan, maka disilakan berobat ke puskesmas terdekat dengan membawa K3JH. Kalaupun tetap sehat, kembalikan K3JH ke puskesmas setelah hari ke-21.
 
 
Pewarta: Muhammad Faizin
Editor: Fathoni Ahmad
Bagikan:

Baca Juga

IMG
IMG