IMG-LOGO
Wawancara

Virtual Reality Haji Berikan Pengalaman Personal Calon Jemaah Haji

Kamis 22 Agustus 2019 13:30 WIB
Bagikan:
Virtual Reality Haji Berikan Pengalaman Personal Calon Jemaah Haji
Ketua Dewan Pembina DPP HPN H As'ad Said Ali dan Ketua Umum DPP HPN H Abdul Kholik.
Kehadiran Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN) menjadi angin segar bagi perkembangan NU ke depannya. Pergerakannya yang dilakukan tidak hanya untuk personal masing-masing anggota, tetapi juga untuk Nahdliyin secara umum dan NU secara organisasinya. Sebagaimana diketahui bersama, sebelum NU betul-betul lahir, para pendirinya sudah menghidupkan Nahdlatut Tujjar, sebuah organisasi pengusaha di masa silam.

Relasi yang kuat membuat HPN terus melakukan upaya-upaya peningkatan kompetensi masyarakat Indonesia secara umum, tidak hanya bagi warga NU. Di tengah era yang serba digital ini, tentu saja teknologi tak dapat dipisahkan lagi dari kehidupan nyata.

Berbagai fasilitas dan pelayanan dasar sudah menggunakan teknologi terbaru. Ponsel seakan sudah bukan lagi kebutuhan sekunder apalagi tersier, melainkan sudah menjadi kebutuhan primer. Tanpanya, kehidupan manusia masa kini akan terhambat.

Teknologi pun terus mengalami perkembangan seolah-olah tidak lagi bisa dihentikan. Ia terus melaju seiring berjalannya waktu. Tak ayal HPN sebagai organisasi yang berupaya mewujudkan cita-cita bangsa juga tidak tinggal diam saja. Saat ini, HPN tengah berupaya untuk mengembangkan teknologi Virtual Reality (VR) di bidang keagamaan, kebangsaan, dan kebudayaan.

Untuk merealisasikan hal itu, HPN menggandeng Kovee Jaya Indonesia, sebuah anak perusahaan perusahaan telekomunikasi dari Korea Selatan, yang baru membuka cabangnya di Indonesia ini. Keduaya, HPN dan Kovee Jaya Indonesia, sudah melakukan penandatanganan kerja sama atau biasa disebut Memorandum of Understandin (MoU) pada Kamis (15/8/2019) lalu.

Kerja sama tersebut bisa terlaksana berkat tangan dingin Ketua Dewan Pembina DPP HPN H As’ad Said Ali. Jurnalis NU Online Muhammad Syakir NF berkesempatan menemuinya usai penandantanganan kerja sama tersebut di Gedung Graha Aktiva, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta.

Bagaimana latar belakang kerja sama tersebut?

Kita pernah ke Korea. Mereka kenal kita. Mereka punya proyek ditawarkan kepada HPN. Makanya yang menangani HPN.

Apa yang diharapkan dari kerja sama itu?    

Harapan bahwa transformasi teknologi itu bisa kita kuasai, kita manfaatkan, untuk kepentingan orang-orang NU, orang NU, jamaah Nahdlatul Ulama.

Untuk apa kerja sama dengan pihak Korea itu dilakukan?

Bukan hanya sekedar memanfaatkan teknologi untuk kepentingan dakwah tapi mendatangkan hasil pada para pengusahanya

Bagaimana mengenai persoalan keuntungan dari kerja sama itu?

Tentunya hasilnya itu sebagian adalah disumbangkan kepada NU dalam hal ini PBNU, bukan kepada saya. Saya hanya mendorong tugasnya. Sebagai kader (harus) seperti itu, kecuali untuk kepentingan atau terlalu lama dalam maupun di luar struktur. Inilah yang harus dikembangkan di dalam Nahdlatul Ulama dari orang NU untuk NU.

Kenapa Bapak mengusulkan konten VR pertama yang akan dibuat ini tentang haji?

Yang kita harapkan dengan pertama tadi, yang pertama tadi, kalau disetujui itu akan memanfaatkan banyak orang dakwah kita karena susah kalau orang ingin mengajarkan orang manasik haji, manasik umroh itu. Walaupun ada hurufnya, ada bukunya, tapi tetap nggak bisa. Saya yang sudah empat tahun ke sana juga kayak gitu lagi. Walaupun saya sudah hampir hafal tapi ya tetep kalau sudah dua tahun tidak pergi lagi ke sana ya baru lagi.

Selain untuk membangun dakwah, juga bagaimana mendatangkan maslahat material kepada para saudagar. Ini strategi ya. Ini masalah bisnis jadi manfaat ekonominya yang kita dahulukan itu yang lainnya akan menyusul biaya-biaya dari sini. Siapa tahu pemerintah sana memberikan kemudahan dengan mendukung pembiayaan saya yakin pt-nya akan membiayai.

Itu kan simpel sekali kok kalau itu kan itu pintu Masjid Haram itu kan an-nahl banyak sekali kalau kita bisa visual kan masuk sini ini kan departemen Agama juga akan bisa memanfaatkannya. Sekalian untuk diplomasi kira-kira itulah. (*)

Selain dengan Ketua Dewan Pembina HPN, saat itu juga di sampingnya ada Ketua Umum DPP HPN H Abdul Kholik. Dalam kesempatan tersebut, NU Online juga mengajukan beberapa pertanyaan terkait penerimaan HPN atas usulan kerja sama dan usulan konten pertama dari Ketua Dewan Pembinanya.

Kenapa HPN menerima kerja sama tersebut?

Ini kesempatan bagus bagi hpn karena untuk berbisnis sekaligus beribadah dunia wal akhiroh. Isinya dapat kita kan nanti ingin melaksanakan ini dengan style bisnis supaya suistanable berjalan terus berkelanjutan lagi tuh tidak berhenti pada satu project terus selesai seperti yang disampaikan oleh Kiai As’ad

Bagaimana Anda melihat dan menerima usulan haji sebagai konten VR pertama yang digarap?

Kita mulai dari yang paling komersil dulu. Kemudian kita nanti bisa dapat modal bisa kita mundur ke belakang ke soal shalat, ke soal yang lain-lain, naik jadi ada aspek bisnisnya tapi juga ada aspek ibadahnya. Saya kira ini adalah merupakan maksud saya untuk dilaksanakan dan mudah-mudahan projek pertama ini akan menjadi visual reality pertama di manasik. Saya kira bukan hanya di Indonesia, tapi juga di dunia belum ada soal reality seperti itu.

Apa yang akan diberikan melalui teknologi VR ini?

Dulu saya pernah lihat gambar yang besar-besar tiga dimensi itu rasanya senang banget. Apalagi Ini bisa memberikan personal experience kepada para calon jemaah haji karena banyak loh kadang-kadang orang kampung yang baru ke luar negeri. Dengan visual reality ini Insyaallah akan lebih dipahami.

Kenapa VR bisa lebih bisa memberikan pemahaman?

Kalau di mana sih ketukan dimulai dari garis lampu hijau, pada waktu itu, kita tidak punya bayangan mana ini lampu hijaunya. Kalau itu (menggunakan VR), bisa tahu Hijir Ismail yang mana sih, di mana Raudlah, Multazam di mana, insyaallah dengan ini akan lebih mudah.

Saya kira ini hal yang baik dan yang salah hasilnya tentu saja akan dikembalikan lagi kepada umat tapi nanti kepada para pelaku usahanya tentu saja mereka berhak mendapat manfaat bisnis karena HPN tujuannya untuk menghidupkan bisnis kaum Nahdliyin. (*)
Tags:
Bagikan:

Baca Juga

Kamis 15 Agustus 2019 14:0 WIB
Ulama Wafat Membawa Serta Seluruh Ilmunya
Ulama Wafat Membawa Serta Seluruh Ilmunya
Rais Syuriyah PBNU KH Ahmad Ishomuddin
Mustasyar PBNU KH A. Mustofa Bisri memuat sebuah kaligrafi di Instagramnya, Mautul alim, mautul alam. Kaligrafi itu diunggah saat wafatnya Mustasyar PBNU KH Maimoen Zubair Selasa (6/8) lalu. Tiga hari kemudian, melalui media sosial sama, kiai tersebut mengunggah fotonya di tengah jalan saat menunggangi sepeda motor di antara truk-truk. Foto tersebut diberi keterangan sebagai perjalanan menuju tahlilan hari ketiga Kiai Maimoen Zubair. 

Ya, meninggalnya kiai yang akrab disapa Mbah Moen di Tanah Suci Makkah itu, tak hanya kehilangan bagi kiai, tetapi bagi NU, santri, umat, dan bangsa ini. Beragam kalangan mengungkapkan belasungkawa. 

Selepas kepergian Mbah Moen, dua hari kemudian, NU kembali kehilangan salah seorang Pengurus PBNU, yaitu H Sulton Fatoni dalam usia muda. Selang seminggu, lagi-lagi NU salah seorang kiainya, yakni pengsuh pesantren Gedongan, Cirebon, KH Mukhlas Dimyati. Di dalam seminggu tersebut meninggal pula rais syuriyah di salah satu kecamatan Garut dan Tegal.

Meninggalnya para alim, menurut Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar adalah kegelapan mautul ‘alim mautul alam berarti kematian seorang yang alim sema dengan kematian alam. Dalam satu riwayat, kata kiai asal Surabaya ini, seandainya tidak ada ulama atau orang alim, manusia seperti hewan. 
 
“Siapa yang menunjukkan benar salah, tatakrama hidup. Kalau tidak ada ulama, tak ada bedanya dengan hewan,” katanya di Gedung PBNU, Jakarta, Kamis (8/8) malam. 

Menurut Kiai Miftah alim dalam ungkapan tersebut terutama mereka dalam penguasaan ilmu agama. Namun demikian, sebetulnya, alim dalam ilmu agama dan umum tidak seharusnya ada dikotomi. Seharusnya orang alim ilmu agama itu mengerti ilmu umum. 

“Ilmu umum itu hasil dari peneleahan terhadap ayat-ayat kauniyah, kejadian alam, ada gempa, gerhana, hujan, semuanya itu ilmu. Hanya orang membedakan disebut umum karena rasulullah tidak membawanya secara ditetapkan sebagai salah syariat, ahkamus syar’i,” jelasnya. 
 
Kiai yang lebih muda, seorang Rais Syuriyah PBNU KH Ahmad Ishomuddin mengurai lebih panjang tentang kalimat mautul alim, mautul alam itu kepada Abdullah Alawi dari NU Online. Berikut petikannya:    

Meninggalnya Mbah Moen, seorang ulama besar, kit mengingat ungkapan mautul ‘alim mautul alam. Bagaimana penjelasannya? 

Iya, jadi kullu nafsin dzaiqatul maut, setiap jiwa akan merasakan kematian, siapa saja, termasuk di dalamnya para nabi, rasul, dan para penggantinya yakni para ulama. Kita mengetahui bahwa para nabi, para rasul yang digantikan warasatul anbiya, yakni para ulama itu karena mereka memilki ilmu, ilmu agamanya, bukan hanya ilmunya, tapi akhlaknya. 

Jadi, wafatnya ulama membawa serta ilmu yang dimilikinya. Belum tentu kemudian ulama yang sangat hebat seperti Kiai Haji Maimoen Zubair itu digantikan oleh orang-orang yang setara di kemudian hari. Belum tentu. Tetapi mungkin juga muncul ulama-ulama yang barangkali di sisi-sisi yang lain memiliki kehebatan ilmu misalnya, amal dan karena itu kita tidak boleh pesimis. 

Ya, tentu saja mautul ‘alim mautul alam karena ilmu merupakan cahaya di alam semesta ini, menerangi, cahaya petunjuk yang menerangi orang dari kegelapan kepada alam yang terang benderang, jadi mautul 'alim, mautul alam. Kematian orang berilmu ibarat kematian alam karena orang yang berilmu menerangi, memberi petunjuk kepada orang-orang yang perlu diberi petunjuk. Orang-orang yang perlu diberi petunjuk itu ketika tidak ada ilmu dengan kematiannya orang alim, terjadinya kegelapan. Itu yang dimaksud mautul 'alim, mautul alam. 

Jenengan tadi menyebutkan jangan pesimis pasti pengganti-penggatinya. Jadi, akan tumbuh orang-orang seperti Mbah Moen?

Merupakan sunatullah bahwa sesuatu yang hilang itu selalu ada penggantinya meskipun penggantinya itu tidak seimbang bagaimana seorang Mbah Maimoen Zubair seorang yang berusia 90 tahun lebih akan digantikan orang muda. Tentu dari sisi pengalaman dan ilmu akan sangat jauh. Butuh waktu yang panjang untuk menjadi orang yang setara dengan Mbah Maimoen Zubair. Artinya bahwa orang-orang berikutnya harus meniru apa yang dilakukan Mbah Maimoen bagaimana memperoleh ilmu, bagaimana berguru kepada banyak orang, bagaimana mengamalkan apa yang sudah dikuasai karena ilmu tanpa amal ibarat pohon yang tiada buah, tidak bisa dinikmati. Orang-orang berikutnya harus melanjutkan agar ada pengganti-pengganti yang lebih banyak. 

Apakah keinginan untuk ada pengganti Mbah Moen itu dibiarkan secara alamiah atau mendasainnya atau merekayasanya agar tercipta? 

Penting melakukan rekayasa, makanya perhatian kepada lembaga pendidikan pesantren itu harus dilakukan. Para santri itu harus ditingkatkan kualitas ilmu dan amalnya. 

Bagaimana rekayasanya untuk upaya itu? 

Saya kira banyak ahli-ahli pendidikan pesantren, para kiai yang membikin metode-metode yang cukup bagus. Semua pendidik pesantren yang menekuni metode-metode pengajaran saya kira mereka berkreasi bagaimana ilmu bisa disampaikan lebih sistematis dan lebih dipahami oleh para santri. 

NU sebagai lembaga ulama, kebangkitan ulama, apa yang harus dilakukan secara organisasi untuk menciptakan para ulama lebih banyak lagi?

Nahdlatul Ulama itu kan kebangkitan para ulama. Tentu saja memilikit tugas antara lain memerhatikan dan meningkatkan kualitas ilmu di masyarakat Nahdliyin khususnya dan warga negara Indonesia pada umumnya. Dan itu terus-menerus dilakukan oleh organisasi. NU didirikan dulu dengan tiga pilar yang kuat yakni Tashwirul Afkar, itu di bidang pendidikan dan pemikiran. Saya kira yang seperti itu harus menjadi program yang terus-menerus oleh setiap organisasi di setiap tingkatan mulai PBNU sampai tingkat ranting untuk memberikan pendidikan yang cukup kepada warganya. 

Kemudian ada juga Nahdlatut Tujjar, kelompok pedagang. Ini artinya NU juga harus bergerak di bidang ekonomi karena ekonomi akan menopang pendidikan. Kemudian Nahdlatul Wathan, perhatian kepada tanah air. Ketiga itu saling menopang. Negara aman menjamin berlangsungnya kegiatan ekonomi. Ekonominya baik, pendidikan juga menjadi baik. Itu menjadi program kerja yang harus diperhatikan oleh NU dari tingkat pendidikan di rumah, sekolah, mulai yang paling bawah sampai tertinggi untuk meningkatkan kualitas-kualitas ilmu yang saya kira harus, karena adanya orang-orang yang wafat. Jangan sampai alam menjadi gelap gara-gara seorang alim meninggal, semua dalam kebodohan. 

Bahkan di dalam kitab Li Madza Taakharal Muslimun wa Taqaddama Ghairuhum (Mengapa Umat Islam Undur, dan Non-Muslim Maju) yang ditulis pemikir Mesir yang ditulis Amir Syakib Arselan karena dua hal. Umat Islam mundur karena situasi al-jahil ‘anil Islam. Orang Islam itu tidak mengenal ajaran Islam. Tidak mengerti ilmuanya beragama itu. Agama harus memberi manfaat kepada kemanusiaan, mengerti tentang kebersihan. Harus bersih tubuhnya, tempatnya, lingkungannya. Itu tidak dipraktikkan karena jahil 'anil Islam. Seperti orang memakai jam bagus, tetapi tidak disiplin (waktu). Yang kedua, sebab umat Islam mundur itu karena mutajahil 'anil Islam. Orang yang berilmu tidak mengamalkan ajaran agama Islam. Ilmunya sekadar ilmu, dipelajari, tetapi tidak untuk landasan untuk amal sehingga orang Islam menjadi tidak rasional. Kondisi mutajahil ‘anil Islam. 

Nah, situasi ini ketika orang yang sesungguhnya berilmu dan mengamalkannya wafat, gelaplah dunia ini. oleh karena itu, situasi dua hal ini harus dihilangkan supaya orang Islam menjadi lebih maju. Disimpulkan dalam dua hal, yaitu al-jahil ‘anil Islam, orang Islam tidak kenal Islam, tidak belajar ilmunya, oleh karena itu tidak mengamalkannya, dan yang kedua al-mutajahil ‘anil Islam, pura-pura tidak tahu dengan ajaran Islam. 

Punya pengalaman pribadi terkait keilmuan Mbah Moen? 

Mbah Moen orang paripurna di dalam dua hal. Pertama, sangat mendalam ilmu agamanya. Kedua, sangat luas wawasan kebangsaannya. Dua hal ini yang tidak banyak di negeri kita. Nasionalis tidak mengerti agama, tidak religius. Yang religius, tidak mengerti wawasan kebangsaan. Oleh karena itu banyak orang yang beragama cenderung membenturkan agama dengan negara. Mbah oen tuntas dalam dua hal ini. Ilmu agamnya ‘allamah, sangat berilmu, faqih, orang yang sangat mengerti hukum agama. Kemudian mufasir, beliau pandai menafsirkan karena beliau syarat-syarat ilmiah penafsiran maupun syarat kepribadian, beliau kuasai. Dan itu menjadi modal besar para santrinya. Kita juga banyak belajar dari beliau, apalagi beliau aktif di NU sampai menjadi mustasyar di PBNU, sampai wafatnya. 

Bagaimana beliau bergulat dalam kitab kuning, tapi mampu menempa diri menjadi seorang nasionalis sejati?

Ya, itu karena kearifan beliau. 

Kitab kuning memmberi ruang kemungkinan seseorang menjadi nasionalis sejati? 

Iya. Beliau, Kiai Maimoen, karena kealiman, karena kedalaman ilmu dan luas wawasannya, mampu mengkontekstualisasikan kitab-kitab kuning untuk kondisi-kondisi kekinian. Ada di dalam kuning hal-hal yang umpamanya tidak bisa diterapkan karena situasinya tidak memungkinkan seperti, Mbah Moen membaca dong kitab-kitab fiqih bab jihad, tetapi dalam situasi damai, tidak mungkin diterapkan di Indonesia. Mbah Moen tidak seperti orang-orang yang baru belajar agama, ketemu tentang bab jihad, mereka kemudian ingin berjihad, padahal situasinya tidak memenuhi persyaratan. Di kitab-kitab kuning, misalnya di kitab hadits itu ada kata khilafah sebagai sebuah sistem pemerintahan pada masa lalu dalam sejarah Islam. Mbah Moen dan kiai-kiai lain tidak tertarik untuk mengubah NKRI menjadi sistem khilafah sebagaimana diupayakan oleh Hizbut Tahrir misalnya. Nah, itu bukti bahwa beliau orang yang bijak, mampu mengkontekstualisasikan apa yang tertera di dalam kitab lama yaitu, nilai-nilai yang relevan. 

Apakah memaksakan teks pada kondisi yang tidak memenuhi syarat itu tidak bijak?

Itu tidak bijak. Ketika menerapkan apa saja yang tidak sesuai, misalnya perang dalam situasi damai, itu kan membuat kekacauan. Itu bukan bijaksana. Itu kezaliman. 

Kalau khilafah itu dianggap kewajiban dalam setiap kondisi bagaimana? 

Itu kekeliruan. Pasti kekeliruan. Mbah Moen buktinya tidak berpendapat seperti itu. Kalau umpamanya khilafafh itu tidak diterapkan sebagai kekeliruan, tentu kiai-kiai NU yang lebih dahullu memperjuangkan NKRI menjadi khilafah. Tetapi tidak satu pun kiai NU yang membaca tentang khilafah, kemudian ingin mengubah NKRI karena mereka paham wawasan kebangsaan. Karena mengubah NKRI menjadi khilafah itu akan menimbulkan kontrversi, perbenturan antarpenduduk Indonesia.    

Pengalaman intens dan berkesan secara pribadi dengan Mbah Moen apa saja?

Ya banyak. Beliau guru saya. Saya pernah mesantren di Sarang meskipun sebentar. Beliau ulama sepuh yang sangat saya kagumi. Tutur katanya, tindak-tanduknya membuat hati kita dingin. Ilmunya sangat mendalam. Contoh di muktamar Jombang 2015, beliau mengutus putranya menanyakan kepada saya, bagaimana situasi muktamar kali ini, ya alhamdulillah aman semua persoalan bisa diatasi. Disuruh siapa kata saya, “abah menanyakan,” katanya. Mbah Moen menyuruh putranya menanyakan hal itu kepada saya. Yang lain, ketemu beliau saya selalu meminta didoakan, Mbah, minta didoakan, termasuk saya meminta doa untuk anak saya. Di muktamar itu, “mana putranya,” tanya Mbah Moen. Saya tunjukkan fotonya, terus didoin terus ditiup...”puah...”
Kamis 15 Agustus 2019 8:25 WIB
Masjid Istiqlal Buka Akses untuk Penyandang Disabilitas Itu Revolusioner
Masjid Istiqlal Buka Akses untuk Penyandang Disabilitas Itu Revolusioner
Bahrul Fuad (Cak Fuad)
Ada yang berbeda pada pelaksanaan ibadah shalat Idul Adha 1440 H, Ahad (11/8/2019) di Masjid Istiqlal Jakarta. Pasalanya, deretan difabel ikut serta pada ibadah tahunan itu. Mereka terlihat shalat di masjid, bahkan di baris pertama dengan posisi duduk di kursi roda.

Bagi anggota tim penulis buku Fiqih Penguatan Penyandang Disabilitas, Bahrul Fuad, pengelola Masjid Istiqlal yang membuka akses kepada penyandang disabilitas, sehingga mereka bisa menunaikan shalat Idul Adha secara berjamaah di dalam masjid merupakan peristiwa revolusioner dan bersejarah.

Cak Fuad, demikian pria ini kerap disapa, mengungkapkan ceritanya dalam wawancara yang dilakukan oleh Jurnalis NU Online, Husni Sahal, Rabu (14/8) di Gedung PBNU Jalan Kramat Raya Jakarta.

Lalu bagaimana respons lengkap pria yang sedang mengambil Program Doktoral Departemen Sosiologi Universitas Indonesia (UI) ini? Berikut petikan wawancaranya. 

Bagaimana Cak Fuad mengomentari dibukanya akses Masjid Istiqlal bagi penyandang disabilitas ini?

Kemarin itu (dibukannya akses Shalat Idul Adha bagi difabel) merupakaan sebuah gerakan revolusiner, dalam hal fiqih dan kebudayaan. Dalam hal fiqih, selama ini kan sering kali kursi roda, tongkat yang digunakan difabel dilihat atau dipandang sebagai barang yang membawa najis, sehingga sering kali teman-teman difabel pengguna kursi roda, pengguna tongkat, dia harus meninggalkan alat-alatnya di luar masjid dan juga pengguna tongkat itu dia harus meninggalkan tongkat-tongkat itu di luar masjid dan dia harus masuk ke masjid dengan merangkak. 

Selama ini juga temen-teman yang tuli, disabilitas tuna rungu belum pernah kalau khutbah bisa mengikuti isinya secara penuh, tapi kemarin di Istiqlal, panitia menyediakan layar besar dua kemudian disebar dengan layar TV LCD. Itu yang isinya pertama adalah gambar khotib dan satunya juru Bahasa isyarat. Teman-teman semua merasa gembira.

Jadi ini adalah sebuah revolusi dalam hal fiqih tadi karena kami ini kan orang-orang yang (selama ini) dianggap maridh, orang sakit, sehingga pendekatannya rukhsah. Kalau kamu tidak bisa mendengarkan shalat, kamu tetap sah meskipun kamu tidak bisa mendengarkan khutbah, tapi kan kemarin tidak. Bagaimana pemenuhan hak mereka juga ingin mendengarkan khutbah itu juga penting. Sehingga fiqih ini yang kemudian memberikan solusi terhadap itu.

Kemarin juga gitu itu Kursi roda bisa masuk ke shaf terdepan dengan pejabat VIP dan ini menjadi sesuatu luar biasa. Artinya bahwa Selama ini belum pernah terjadi orang shalat dengan menggunakan kursi roda. Kalau kursi biasa kan umum disediakan masjid, tapi ini kursi roda digunakan orang dari rumah, lewat jalan, kemudain wudlu dan masuk ke dalam masjid dan di atas karpet. Nah ini kan sesuatu yang belum terjadi selama ini.

Kalau revolusi kebudayannya, artinya ya bahwa teman-teman difabel yang selama ini dianggap sebagai kelompk nomor dua, second line di dalam kelompok masyarakat, pada shalat id kemarin diposisikan sejajar dengan masyarakat yang lain dalam strata kemasyarakatan, dalam hal ibadah, sehingga tidak lagi ‘oh kamu difabel harus dibelakang’.

Kita mempunyai kesempatan yang sama. Kalau di dalam aturan shalat berjamaah itu kan siapa yang datang duluan ini di shaf duluan. Nah ini kan terjadi karena temen-teman difabel ini berangkat dari rumah jam 3 (pagi), jadi nyampe di Istiqlal sebelum subuh. Jadi dia di shaf paling depan, haha...

Dan bagaimana orang juga tidak lagi memandang teman-teman difabel dengan penuh stigma negatif misalkan ‘oh difabel kasihan, ditolong’. Jadi ketika kemarin itu terjadi interaksi yang biasa saja. Tidak kemudian orang melihat kami dengan penuh haru, kasian, bersikap yang berlebihan. Tapi ya mereka dibiarkan saja, wajar-wajar saja, karena memang kami dipandang sebagai anggota masyarakat yang punya hak yang sama. Ini saya pikir mengubah kebudayaan kita berinteraksi secara setara.

Kalau respons dari temen-temen difabel yang lain sendiri gimana?

Pada waktu itu banyak yang WA saya. Dia (para difabel) nangis di dalam itu karena baru pertama kali dia merasa bisa shalat di dalam masjid pakai kursi roda. Jadi rasa haru, rasa dimanusiakan itu terjadi dan mereka dengan tulus nangis, rasa syukur. Aku dewek yo waktu konco-konco (aku sendiri saat teman-teman) shalat, itu mulai abis subuh takbiran, kemudian shalat id, aku yo rada terenyuh (saya ya agak terharu), terharu melihat temen-temen.

Begitu antusias temen-temen dari Bogor berangkat jam 3 (pagi), bayangkan. Jadi, mereka antusias karena selama ini kan yang tidak kita dapatkan itu adalah di-wongke, dimanusiakan. Kita itu sebenarnya tidak suka juga dimanja, kemudian dipandang sebagai orang luar biasa, itu kita gak nyaman. Tapi kita itu sebenarnya yang kita ingin itu sederhana: di-wongke, dimanusiakan. Menempatkan dia, siapa yang datang di masjid pertama kali maka menempati shaf pertama. Itu kan di manusianya.

Bagaimana ceritanya Pengelola Masjid Istiqlal sampai mau memberikan akses kepada difabel itu?

Ya sebenarnya awalnya kan dari buku Fiqih Penguatan Penyandang Disabilitas, terus kemudian kita dengan P3M, dengan LBM NU Kang Sarmidi, dengan Lakpesdam dan Bimas Islam kita bertemu, kemudian kita sharing tentang buku itu pada FGD yang di Bogor. Kemudian itu disambut baik, ditindaklanjuti lagi di Jakarta di Mention Hotel itu, kemudian ada (pihak) Istiqlal. Kita tekan saja. Gimana kalau besok kita coba.

Awalnya Istiqlal ragu-ragu, kita belum pernah, sumber daya, SDM gak siap, dananya dan lain sebagainya. Pada akhir penutupan, Pak Dirjen Bimas Islam, Pak Muhammadiyah Amin hadir terus dilaporin sama Bu Azizah (Kasubdit Bina Paham Keagamaan dan Penanganan Konflik Sosial Keagamaan Ditjen Bimas Islam). Kemudian Pak Dirjen bilang, ‘Wah ini gimana ini, harus ini, saya setuju.

Pokoknya besok shalat id harus akses untuk temen-temen disabilitas, dan ini sudah menjadi instruksi dari pak presiden. Mau gak mau, pokoknya besok shalat ied harus mengundang temen-temen disabilitas sebanyak mungkin’. Istiqlal kan gak bisa nolak karena Istiqlal di bawah Bimas Islam, haha...

Sepengetahuan Cak Fuad, pelayanan terhadap difabel ini baru di Masjid Istiqlal atau sebelumnya sudah ada di masjid-masjid lain?

Sebelumnya sudah ada di Masjid El-Syifa di Ciganjur, Jakarta Selatan. Sebenarnya sudah beberapa kali dan itu menjadi model. Cuma kalau Istiqlal ini kan beda. Istiqlal ini kan bisa ditonton seluruh Indonesia dan menjadi rujukan dari masjid-masjid yang ada di Indonesia, sehingga momen kemarin itu sebenarnya penting untuk sosialisasi dan mendorong masjid-masjid yang lain di Indonesia juga melakukan hal yang sama.

Lalu, soal akses dari Masjid Istiqlal untuk difabel itu hanya untuk Shalat Idul Adha juga atau tidak?

Kita harapkan ini menjadi titik awal. Kelanjutnya ya ketika jumatan, shalat rawatib ya harus dilakukan seperti itu, aksesnya dibuka. Makanya kan besok hari Senin, saya mau sowan ke Profesor Nasaruddin, Imam Besar Masjid Besar Istiqlal. Pertama, aku mau mengucapakan terima kasih. Kedua mau menyerahkan buku fiqih disabilitas itu. Ketiga, saya minta untuk ini terus dikawal, didorong supaya menjadi gerakan bersama, gerakan masif di seluruh Indonesia. 

Dan harus diingat bahwa pemantiknya itu adalah buku Fiqih Penguatan Penyandang Disabilitas. Itu yang orang mungkin sering kali gak ngeh, Kenapa ini bisa terjadi? Karena ada buku fiqihnya ini. Yang awalnya di pra-Munas Purwakarta (2017) sudah menyampaikan itu, dan berdebat dengan para kiai pada waktu itu. 

Kemudian di Purwakarta saya mendapatkan dukungan dari Kiai Ishomuddin, Kiai Imam Aziz, dan Kiai Moqsith. Tiga tokoh ini yang mendorong sampai munas Lombok. Di Munas Lombok ini, kemudian terjadi lagi perdebatan karena kan nyuwun sewu, kiai-kiai sepuh melihat difabel dalam kerangka berpikir ini adalah orang-orang, umat yang mendapat ujian, orang yang mendapat cobaan, orang sakit, maka sikap-sikap yang berkembang itu adalah kashian, kemudian lebih kepada hal-hal yang sifatnya memaklumi.

Sehingga kan pendekatan fiqih yang digunakan juga rukhsah, makanya kan para kiai pada waktu itu kan ‘loh kenapa, gak papa kalau tempat wudlunya gak akses gak papa, kamu tayamum aja trus shalat, gak masalah. Itu udah ada di fiqihnya’. Tapi kan kalau kemudian kami, difabel selalu mengunakan rukhsah sampai kapan tempat wudlu di PBNU (Misalnya) ini diperbaiki, gitu, dibuat akses hahahaha. Kalau misalkan ‘gak ap-apa yang tuli itu gak mendengarkan khutbah shalat Jumatnya tetap sah karena itu kan keadaan itu darurat’.

Tapi sampai kapan temen-temen tuli itu bisa tahu isi khutbahnya. Kemudian masjid meyediakan fasilitas itu, kan gak pernah terjadi nantinya, makanya saya selalu bilang, fiqih penguatan disabilitas ini bukan hanya sebagai petunjuk bagi teman-teman difabel melakukan ibadah, bukan itu, itu sudah masuk dalm fiqih ibadah, tapi fiqih disabilitas ini lebih kepada penekanan keluar. Jadi ini sebagai alat untuk mendorong pihak-pihak penyedia layanan untuk kemudian menyediakan fasilitas.

Jadi tentang akses pada shalat rawatib dan Jumatan belum diobrolin dengan pihak Masjid Istiqlal?

Belum, tapi Senin nanti aku sowan untuk ngobrolin itu. advokasi itu kan harus dikawal terus, gak boleh putus-putus. (*)
Senin 5 Agustus 2019 17:0 WIB
Remy Sylado: Ciri Orang NU Itu Mencari Teman, Bukan Musuh
Remy Sylado: Ciri Orang NU Itu Mencari Teman, Bukan Musuh
Remy Sylado saat di Gedung PBNU (dok NU Online)
Remy Sylado merupakan seorang yang serbabisa. Ia dikenal sebagai sastrawan, wartawan, bisa bermain musik, melukis, dan teater. Selain sebagai pelaku dalam bidang-bidang itu, dia juga termasuk pengamatnya. 

Salah satu keunikan dia adalah kerap mengganti namanya. Remy Sylado sendiri adalah nama samaran atau nama pena yang kemudian menjadi beken hingga sekarang. Kadang namanya sering berupa angka-angka yaitu 23761. Angka itu bisa dibaca re mi si la do. Ia juga pernah menggunakan nama pena Alif Danya Munsyi. Sementara nama aslinya Yapi Panda Abdiel Tambayong. 

Remy Sylado lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, 12 Juli 1945. Masa kecilnya ia habiskan di Jawa seperti Semarang, Solo, Yogyakarta, Bandung. Dan sekarang tinggal di Bogor, Jawa Barat. 

Akhir bulan lalu, ia bersama sahabat-sahabatnya bersilaturahim ke PBNU. Tujuannya akan mengundang Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj untuk hadir ke acaranya di akhir Agustus ini. 

Sebelum bertemu Kiai Said, Abdullah Alawi dari NU Online berbincang dengannya terkait beragam hal, mulai bahasa dan sastra, musik, dan orang-orang NU yang pernah dikenalnya. Tentu saja dia mengenal dan mengingat dua tokoh besar NU yang telah tiada, yaitu KH Abdurrahman Wahid dan H Mahbub Djunaidi. 

Salah satu kenangannya dengan Gus Dur adalah saat menjadi pembicara dalam pameran lukisan. Di sisi lain, Gus Dur juga pernah mampir ke kantornya di Rawamangun. Dengan seketika, ia menyuruh anak buahnya untuk mewawancarainya. 

Sementara dengan Mahbub Djunaidi, yang diingat Remy adalah pembelaannya. Mahbub Djunaidi pernah membela dia saat tersangkut kasus hukum atas tuduhan menghina Gubernur Jawa Barat di era Orde Baru. Mahbub Djunaidi sebagai wartawan senior membelanya dalam bentuk tulisan.

“Saya masih simpan dua artikel Mahbub Djunaidi yang membela saya itu,” katanya.     

“Kartu pers saya yang pertama itu kan Mahbub yang tanda tangan, tahun 66, dia Ketua PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) waktu itu kan. Terus sekjennya itu JS Hadis, orang Padang. Istrinya orang Manado,” lanjutnya.  

Mahbub Djunaidi, menurut dia, menulis di Pikiran Rakyat sebanyak dua kali dalam upaya membelanya. Salah satu tulisannya dimuali dengan kalimat, tidak ada larangan seorang wartawan senior membela wartawan junior.

“Tahun 66 kan pers nasional kita itu diseragamkan oleh Suharto,” katanya. 

Di tengah perbincangan, NU Online mempersilakan meminum air mineral yang ada di meja ruang tunggu Ketum PBNU. 

“Dari tadi minum air putih melulu, kalau kopi boleh,” katanya. 

Segera kami mencarikan kopi untuknya. Kemudian berbincang lagi dengan ragam tema. Berikut ini salah satu perbincangan dengan fokus kesannya dengan orang NU.

Bisa cerita saat bergaul atau bertemu dengan orang NU? 

Penerbit saya yang di Bandung itu, orang NU punya. Faiz Mansur, dari Pesantren Tegalrejo. Teman saya justru dari orang-orang NU semuanya. 

Apa kesan bergaul dengan orang NU, kiai, dan pesantren? 

Terbuka itu. Jadi, saya rasa, yang persis gambaran yang diciptakan dalam wayangnya Sunan Kalijga, nala gareng, cari teman toh. Orang NU tuh nala gareng, cari teman, bukan cari musuh. Saya rasa itu. 

Bisa sebut orang NU yang pernah yang punya hubungan dalam suatu kegiatan? 

Ya kemarin Gus Mus yang buka acara ulang tahun saya (12 Juli), saya yang minta, saya telepon dia. Di Madura ada satu lagi, Zawawi Imron. 

Bagaimana tentang Pak Kiai Zawawi Imron? 

Kalau lagi ngobrol begini, dia ambil pena, kemudian sket-sket begitu...hehe

Pernah kenal Mahbub Djunaidi? 

Dia pernah menulis di majalah saya dulu, majalah Top. Bandung sekarang jadi kota bakso. Tahun 70-an itu lagi banyaknya bakso di Bandung. Padahal dia sendiri tinggalnya di Bandung. 

Apa kesan tentang Mahbub Djunaidi? 

Waktu saya diadili kasus delik pers, Mahbub Djunaidi yang membela saya di pengadilan. 

Waktu itu Pak Mahbub sudah di NU ya?

Sudah. Kartu pers saya yang pertama itu kan Mahbub yang tanda tangan, tahun 66, dia Ketua PWI waktu itu kan. Terus sekjennya itu JS Hadis. Kenal? Orang Padang. Istrinya orang Manado. 

Itu pembelaan Mahbub Djunaidi bagaimana? 

Saya dipersalahkan karena  dituduh menghina Gubernur Jawa Barat. Mahbub Djunaidi nulis di PR sampai dua kali itu. Dua kali dia bela saya. Dia nulis di PR. Tidak ada larangan seorang wartawan senior membela wartawan junior, itu bunyi pertama kalimat pembelaannya. Waktu itu tanda tangan kartu pers PWI itu memang dia yang tanda tangan. Tahun 66 kan pers nasional kita itu diseragamkan oleh Suharto. Semua surat kabar yang cenderung ke politik tertentu itu harus memakai nama dari partai tertentu. Jadi misalnya Duta Masyarakat, NU punya yang di Jakarta, di seluruh Indonesia harus menggunakan Duta Masyarakat edisi misalnya, edisi Jawa Tengah, edisi Jawa Tengah. Di Jawa Barat edisi Jawa Barat. Waktu itu begitu. 

Alasan Mahbub Djunaidi membel itu apa ya kira-kira? 

Karena tidak sesuai dengan akal sehat. Iya. Hebat itu. 

Dia dijuluki orang sebagai pendekar pena. Memangnya keterampilan berbahasanya bagaimana? 

Oh iyalah, bahasanya kan mengalir betul. Plastis bahasanya. Sekarang yang bisa bahasa yang plastis begitu kan sekarang cuma Goenawan Mohamad.

Di NU kan ada Lesbumi. Pernah ada cerita terkait lembaga itu atu tokohnya? 

Iya, waktu Lesbumi didirikan saya jumpa dengan Usmar Ismail di Semarang.

Bagaimana kok dia mau jadi pemimpin lembaga kesenian NU?

Ya, waktu itu kan dia sudah dikenal sastrawan, orang film. Tetapi dia ingin kembali lagi mengingatkan bahwa diri dia itu sastrawan. Pas ketemu di Semarang itu dia meresmikan Lesbumi di Jawa Tengah. Saya dari koran tempo waktu itu. Saya datang ke acara. Ya itu, dia ingin kembali berpikir sebagai sastrawan. 
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG