IMG-LOGO
Esai

Utak-atik Gatuk Singkatan Haji

Kamis 22 Agustus 2019 17:30 WIB
Bagikan:
Utak-atik Gatuk Singkatan Haji
Oleh Abdullah Alawi

Orang Sunda menyebut ibadah haji diawali dengan munggah. Munggah artinya naik. Jadi munggah haji atau naik haji. Ibadah lainnya, yaitu puasa, orang Sunda menyebut awal puasa dengan munggahan, artinya naik juga. Pertanyaannya naik apa atau kemana? Kenapa disebut naik? 

Saya tidak tahu jawaban pastinya kenapa orang Sunda menyebut naik untuk ibadah rukun Islam itu. Namun, apa salahnya mencoba merekatafsirkannya, paling tidak secara harfiah. Untuk malaksanakan ibadah haji, mau tidak mau, orang Sunda harus menaiki kapal laut atau sekarang pesawat terbang. Barang langka untuk melaksanakannya dengan jalan kaki. 

Lalu bagaimana dengan naik pada ibadah puasa? Menurut saya, itu harapan supaya amal ibadah dan hal-hal kebaikan lainnya lebih naik atau meningkat di bulan Ramadhan. Saya kira, ibadah haji pun seharusnya tidak hanya naik pesawat terbang atau kapal laut saja, tapi naik pula dalam ibadah dan sisi positif lainnya. Haji yang demikian, dalam istilah agama disebut haji mabrur. Setelah berhaji, naik atau meningkat kebaikannya.  

Baik dan tidaknya, ibadah haji seseorang tentu Allah SWT yang paling mengetahui. Namun, masyarakat sekitarnya turut serta menilai. Muncullah kategori-kategori haji yang tidak tercantum dalam kitab-kitab fiqih. 

Komaruddin Hidayat, dalam Pengantar Orang Batak Naik Haji karya Baharuddin Aritonang mengungkapkan sindiran tentang orang naik haji yang tidak serius. Ia menyebut haji tomat, artinya berangkat haji dengan niat untuk bertobat, tapi ketika pulang, malah kumat. 

Di dalam masyarakat Sunda, ada beberapa istilah –lebih tepatnya singkatan atau akronim- yang mendeskripsikan haji demikian, misalnya haji dul majid, artinya haji yang kedul (malas) ke masjid. Di dalam masyarakat Jawa ada istilah haji tamatu, haji tangi mangan turu (bangun, makan, dan tidur). Yang paling parah adalah haji dul kahfi, haji ngawadul ka Mekkah teu nepi (mengaku pergi haji, padahal ke Mekkah saja tidak sampai).

Istilah-istilah haji lain berdasarkan keberangkatannya bisa diabsen di sini satu per satu: haji kosasih ongkos dapat dikasih, haji abdidin atau haji atas biaya dinas, haji wahyu atau haji mergo sawahe wis payu, haji mansur, haji karena halaman kena gusur, haji modin atau bisa haji syukuran dapat mobil dinas. Ada juga haji temus atau haji tenaga musiman. Haji ini, menurut Komaruddin Hidayat, biasa dilakukan oleh mahasiswa Indonesia yang berada di Timur Tengah.  

Singkatan-singkatan yang mendsekripsikan ibadah haji tersebut seolah melengkapi singkatan yang dikeluarkan Departemen Agama RI. Tentu saja, ini singkatannya resmi dan serius. Saya mendapatkan singkatan-singkatan tersebut dari sebuah situs Kemenag Sleman, sebagai berikut:

TKHI: Tim Kesehatan Haji Indonesia adalah pelaksana pengamanan kesehatan bagi jemaah haji Indonesia selama di perjalanan dan di Arab Saudi. TKHI bertugas memeriksa kesehatan jasmani jemaah haji, membina kesehatan jemaah haji, melayani keluhan kesehatan jemaah haji, mengamati penyakit jemaah haji dan menyehatkan lingkungan di sekitar jemaah haji.

TPHI: Tim Pemandu Haji Indonesia, TPHI merupakan petugas operasional yang menyertai jemaah. TPHI bertugas sebagai ketua kloter, memandu serta membina jemaah haji.

TPIH adalah Tim Pembimbing Ibadah Haji, TPIH merupakan petugas operasional yang menyertai jemaah haji. TPIH bertugas memberikan bimbingan-bimbingan mengenai perhajian kepada jemaah haji.

TPHD: Tim Petugas Haji Daerah adalah tim yang kewenangan penunjukkanya ada di Kepala Daerah (Bupati/Walikota/Gubernur)

TKHD: Tim Kesehatan Haji Daerah, adalah tim kesehatan yang kewenangan penunjukkanya ada di Kepala Daerah (Bupati/Walikota/Gubernur)

PPIH: Panitia Penyelenggara Ibadah Haji. Menteri membentuk Panitia Penyelenggara Ibadah Haji di tingkat pusat, di daerah yang memiliki embarkasi, dan di Arab Saudi.

KPHI: Komisi Pengawas Haji Indonesia, terdiri atas 9 (sembilan) orang anggota, yaitu unsur masyarakat 6 (enam) orang dan unsur pemerintah 3.

KLOTER: Kelompok terbang adalah pengelompokan jemaah haji berdasarkan jadwal keberangkatan penerbangan ke Arab Saudi.

Saat ini, ratusan ribu jamaah haji Indonesia pulang ke Tanah Air. Mereka akan kembali ke masyarkatnya dengan segala aktivitasnya. Tentu saja kita berharap mereka mabrub, bukan tamatu atau atau dulmajid.
 
 
Penulis adalah Redaktur NU Online
Tags:
Bagikan:

Baca Juga

Kamis 22 Agustus 2019 14:0 WIB
Ma’had Aly Pencetak Kader Ulama Warisan KH As’ad Syamsul Arifin
Ma’had Aly Pencetak Kader Ulama Warisan KH As’ad Syamsul Arifin
KH Raden As'ad Syamsul Arifin. (Dok. NU Online)
Oleh Hilmi Ridho

KH Raden As’ad Syamsul Arifin merupakan pengasuh kedua pesantren Salafiyah Syafi`iyah Sukorejo Situbondo (1951-1990), setelah ayahandanya KH R. Syamsul Arifin. Banyak kalangan menyebutnya sebagai ulama kharismatik, pemimpin umat yang bijaksana, pejuang maupun negarawan, serta sederetan sebutan lain. Umur beliau sepanjang 96 tahun itu diperuntukkan hanya semata-mata mengabdi demi kepentingan pesantren, bangsa, negara, dan agama menuju baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur. 

Beliau lebih dikenal dengan ulama kharismatik, wibawanya tidak terbatas hanya dikalangan santri dan pesantren saja, akan tetapi meluas sampai pada masyarakat, khususnya di daerah Jawa Timur. Bahkan para pejabat daerah maupun pemerintah pusat tampak simpati dan santun terhadap beliau. Sebagai santri senior Hadlratussyekh KH Hasyim Asy`ari pendiri Nahdlatul Ulama, sangat konsis melanjutkan dan menegakkan  prinsip  Amar Ma`ruf & Nahi Munkar baik di dalam ataupun di luar NU. Penghormatan beliau terhadap guru yang satu ini sangat luar biasa. Hal ini bisa dibuktikan dengan sikap rendah diri beliau terhadap keturunan KH Hasyim Asy`ari.

Setelah KHR. Syamsul Arifin meninggal dunia pada tahun 1951 M, Kiai As`ad sebagai putra sulung segera menggantikan posisi ayahnya sebagai pengasuh. Sejak itulah, kyai As`ad mencurahkan semua perhatiannya ke pesantren, meskipun sejak 1925 M sudah terlibat ikut mengurusinya. Bahkan bisa dikatakan tahun 1951 M itu merupakan tahun kembalinya kyai As`ad ke pesantren. Selama memimpin pondok pesantren, banyak pihak yang mengakui Kiai As`ad memiliki banyak ide untuk memajukan lembaga pesantren tersebut. Beberapa ide beliau antara lain; mendirikan Universitas Ibrahimy, mendirikan Sekolah Umum, dan mendirikan Lembaga Pendidikan Tinggi Keagamaan yang dikenal dengan Ma`had Aly.

Ketika muncul kekhawatiran terjadinya kelangkaan kader ulama dan muballigh yang mumpuni, Kiai As`ad pun ikut gelisah memikirkannya. Beliau kemudian tak henti-hentinya menghubungi beberapa ulama untuk memecahkan masalah kelangkaan kader ulama tersebut, ditambah munculnya berita-berita mengenai wafatnya ulama sepuh dan ulama kharismatik.

Berkenaan dengan hal itu, maka pada tahun 1990 M, pondok pesantren Salafiyah Syafi`iyah Sukorejo membuka sebuah lembaga pendidikan tingkat tinggi keagamaan yang bernaung di bawah pondok pesantren Salafiyah Syafi`iyah Sukorejo Situbondo. Lembaga tinggi itu diberi nama al- Ma`hadul `Aliy Li `Ilmail Fiqh Wa Ushulihi yang bertujuan untuk mencetak kader-kader ulama dan faqih zamanih. Lembaga inilah yang senantiasa menjadi obsesi beliau hingga akhir hayatnya. Bahkan, seminggu sebelum Kiai As`ad berpulang ke rahmatullah, beliau masih sempat menitipkan lembaga tersebut kepada KH Ali Yafie dan Dr Fahmi Saifuddin.

Ketika kedua tokoh itu mengunjungi kediaman Kiai As`ad di Situbondo, beliau berwasiat agar NU tetap dijaga jangan sampai menyimpang dari khittah 1926, dan juga pondok pesantren yang berada dibawah naungan NU jangan sampai menyimpang dari ajaran salaf dan kebijaksanaan NU hendaknya selalu didasarkan pada hukum fiqih. Selain NU, Kiai As`ad  juga menitipkan Ma`had Aly, “jika saya dipanggil oleh Allah SWT dalam waktu dekat ini, saya titipkan kelangsungan Ma`had Aly ini kepada sampean,” tuturnya. 

Wasiat beliau hakikatnya meminta agar NU sudi menjaga kelangsungan pendidikan tinggi ilmu fiqih itu, baik dari segi pendanaannya maupun pengadaan dosennya. Harapan beliau lembaga tersebut mampu mencetak kader-kader ulama tangguh yang mempunyai kepekaan dan kepedulian terhadap masalah-masalah sosial kemasyarakatan yang diimbangi dengan pengetahuan tentang Islam secara menyeluruh dan mendalam.

Ma`had Aly Situbondo lahir sebagai berkah dari kegelisahan beberapa kiai nahdliyyin yang sempat bertemu beberapa kali di pondok pesantren Salafiyah Syafi`iyah Sukorejo Situbondo. Kegelisahan tersebut ialah tentang semakain merosotnya kualitas alumni pesantren dalam bidang ilmu-ilmu agama. Sementara kehadiran perguruan tinggi umum di pondok pesantren tak mampu membendung kemerosotan pondok pesantren itu sendiri, karena kenyataannya perguruan tinggi umum lebih berorientasi pada formalitas daripada kualitas, sehingga pola rekrutmen mahasisiwanya lebih dititikberatkan pada syarat-syarat formal seperti ijazah dibandingkan syarat-syarat substansial.

Langkah yang diambil oleh KHR. As`ad Syamsul Arifin dalam mendirikan Ma`had Aly tentu bukanlah tanpa alasan, beliau mendirikan lembaga pendidikan tinggi tersebut karena sebagai bentuk respon terhadap pesan gurunya, KH Hasyim Asy’ari Jombang, agar setelah pulang kampung banyak melahirkan fuqahâ’, hal inilah yang menjadi alasan utama berdirinya Ma`had Aly Salafiyah Syafi`iyah Situbondo.

Ketika awal berdirinya Ma`had Aly, Kiai As`ad sendiri yang langsung menjadi Mudir (direktur) Ma`had Aly. Bukan hanya itu, beliau juga meminta agar pengajian yang diasuh oleh para kyai untuk santri Ma`had Aly angkatan pertama disambungkan langsung ke kediaman beliau, yaitu di asarama Ma`had al-Qur`an. Setelah Ma`had Aly berdiri kurang lebih lima belas hari, tepatnya pada hari sabtu 04 Agustus 1990, kyai As`ad dipanggil oleh Allah SWT untuk selamanya. Kepemimpinan tertinggi Ma`had Aly dipegang oleh KH Abdul Wahid Zaini, paiton probolinggo. Kurang lebih menjabat selama tiga tahun, atas pertimbangan usia dan kesehatan, kyai Wahid Zaini mundur sebagai Mudir dan digantikan oleh kyai Ach. Hariri Abdul Adhim.

Kyai Hariri dibantu KH Afifuddin Muhajir sebagai Naib Mudir I (wakil direktur I), dan alamarhum al-Maghfurlah KH Hasan Basri, sebagai Naib Mudir II. Perpindahan kepemimpinan Mudir tersebut, bukanlah pemilihan sembarangan, akan tetapi kepemimpinan kyai Ach. Hariri Abdul Adhim sudah disematkan oleh kyai As`ad jauh sebelum peresmian Ma`had Aly, beliau berkata, “engkok akhebeyeh Ma`had Aly, se Ngorengnah edina` Hariri ben Khofi”, terjemahannya, “Saya mau mendirikan Ma`had Aly yang akan menangani adalah Hariri (KH Ach. Hariri Abdul Adhim) dan Khofi (KH Afifuddin Muhajir).”

Warisan Kiai As`ad ini sangat memberikan dampak positif bagi lembaga-lembaga pendidikan lainnya, hal itu terbukti banyaknya pesantren yang juga mendirikan pendidikan tinggi keagamaan Ma`had Aly, hingga saat ini setidaknya sudah berdiri 35 Ma`had Aly di Indonesia, namun Ma`had Aly situbondo tetap menjadi founding father. 

Keinginan Kiai As`ad dalam mencetak kader ulama bukanlah fiktif belaka, hal ini bisa dibuktikan dengan kemampuan Ma`had Aly Situbondo yang sudah meluluskan sembilan angkatan  terhitung sejak tahun 1990-2019 dengan rata-rata mahasiswa 35-40 orang. Pada tahun 2003 yang lalu, Ma`had Aly Situbondo ditunjuk oleh Direktorat Pekapontren Kementrian Agama RI menjadi Pilot Project penyelenggara Ma`had Aly se-Indonesia. Ma`had Aly mendapatkan SK penyetaraan dengan program S2 (Magister Hukum Islam) di lingkungan PTAI dari Dirjen Kelembagaan Agama Islam Kementerian Agama RI.

Hingga beberapa tahun terakhir ini Ma`had Aly Situbondo sering menerima kunjungan dari sejumlah pesantren dan perguruan tinggi. Mereka mengunjungi Ma`had Aly dengan beragam dan maksud tujuan. Ada yang melakukannya dengan maksud studi banding, ada pula yang datang dengan tujuan penelitian ilmiah, baik menyangkut kurikulum, manajemen pengolahan, manajemen pembiayaan dan lain sebagainya. Mereka meneliti dengan berbagai pendekatan dan latar belakang yang berbeda.

Sebagian ada yang melakukan penelittian secara individu, serta tidak sedikit pula yang melakukannya secara kolektif. Mereka yang datang dari pondok pesantren rata-rata meneliti dalang rangka pendirian Ma`had Aly atau ingin mengembangkan manajemen pembelajarannya di pondok pesantren yang mereka bina. Sedangkan mereka yang datang dari lingkungan kampus umumnya meneliti atas tugas akademik dari perguruan tinggi masing-masing. Mereka ada yang datang atas sponsor penelitian kompetetif PTAI Kementerian Agama RI, di samping ada juga yang meneliti untuk penulisan tesis program pascasarjana, baik untuk program magister maupun doktoral, dari berbagai perguruan tinggi Islam.

Sampai saat ini Ma`had Aly Situbondo menjadi lembaga pendidikan tinggi keagamaan yang eksis dengan konsentrasi fiqih dan ushul fiqih, lembaga ini sudah berkembang sangat pesat sejak diakui oleh Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama. Ma`had Aly Situbondo memiliki dua jenjang pendidikan, yaitu Ma`had Aly Marhalah Ula (M1) untuk strata I (S1) dan Ma`had Aly Marhalah Tsaniyah (M2) untuk program strata 2 (S2). 

Ma`had Aly menargetkan lulusannya mampu menjadi penerus ulama dalam menjawab masalah-masalah fiqhiyyah yang terjadi di tengah-tengah masyarakat dengan modal kemampuan dalam membaca teks-teks Arab dan keterampilannya dalam menelusuri jawaban masalah di dalam kitab-kitab turats karya ulama zaman dahulu. Salam Takzim kami, Kiai As’ad Syamsul Arifin. Warisanmu akan selalu kami jaga.
 
 
Penulis adalah santri Ma`had Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo
 
Sumber rujukan:
Hasan Basri, Choirul Anam (Ed), K.H.R. As`ad Syamsul Arifin Riwayat Hidup dan Perjuangannya, Surabaya: Fikri Print, t.th.
Ach. Muhyiddin Khatib, dkk, Suluk K.H. Achmad Hariri Abdul Adhim Pilar Spiritualitas Ma`had Aly Salafiyah Syafi`iyah Situbondo, Situbondo: Tanwirul Afkar, 2018.
Rabu 21 Agustus 2019 14:30 WIB
Haji dalam Sastra Sunda
Haji dalam Sastra Sunda
Ilustrasi: Jemaah haji Indonesia tahun 1948 tiba di Tanjung Priok. (Foto: KITLV)
Oleh Abdullah Alawi
 
Haji juga manusia. Ya, mereka manusia pada umumnya, meski sudah menginjak tanah suci, menciu Hajar Aswad dan berziarah ke Tanah Suci Makkah. Di dalam literatur klasik Islam pun ada haji mabrur dan mardud. Artinya, ada orang yang setelah berhaji perangai dan ibadahnya makin baik, ada yang malah lebih buruk.  

Di dalam sastra Sunda, penggambaran sosok haji juga demikian. Ada pengarang yang menampilkan citra haji yang negatif dan dan yang positif. Bahkan menurut pengamat sastra Sunda Hawe Setiawan, keduanya bisa disebut sebagai ekstrem baik dan ekstrem buruk.  

Penggambaran haji seperti itu misalnya tampak dalam karya Sayudi berjudul Madraji: Carita Pantun Modern (1983). Di dalam karya karya yang dipengantari Wing Kardjo tersebut ada dua sosok haji yang sama-sama bertabiat buruk, Haji Umar dan Haji Syukur. 

Penggambaran sosok Haji Umar yang buruk bisa dilihat dalam deskripsi sebagai berikut:

“Taya dua Haji Umar katelahna nu boga adat fidunya, haji keling taya tanding, sarakah mamawa lurah, sakait jeung juru tulis.” 

Di dalam karya tersebut, Haji Umar adalah seorang haji yang melakukan kongkalikong dengan pejabat. Tak hanya itu, ia juga seorang haji yang materialistis. 

Haji lain, dalam karya tersebut, Haji Syukur, meski namanya bagus, tapi berlainan dengan tabiatnya. Berikut penggambarannya:

“Sambian maluruh catur, laku Ki Haji Syukur nu racak tapak pangupat, nu ledug tapak penyebut, anyar jegud benang munjung, pajar teu modalan, Kang Haji kaintip nyegik,” kutipnya. 

Terjemah bebasnya: Haji Syukur seorang yang banyak digunjing orang, kaya mendadak karena dia seorang yang memuja babi.

Menurut Hawe, penggambaran tersebut sangat kontradiktif karena Haji Syukur beribadah dengan harta buah dari cara yang tidak Islami. 

Dalam istilah sekarang, sesorang yang melakukan korupsi uang rakyat. Kemudian uang tersebut digunakan untuk berhaji.

Hal senada, dalam karya sastra Indonesia. Citra buruk haji, bisa ditemukan di beberapa karya Pramudya Ananta Toer, terutama di novel Arus Balik. Di novel itu penulis menceritakan seorang keturunan Syahbandar yang berhidung melengkung. 

Kalau kita runut ke belakang, penggambaran haji yang demikian, muncul dalam karya-karya sastra Belanda, misalnya pada novel De Stille Kracht (Tenaga Tersembunyi) karya Louis Couperus. Penulisnya, sekitar tahun 30-an pernah ke Indonesia (waktu itu Hindia Belanda). 

Di novel itu ada tokoh hantu haji. Tentu saja, penggambaran seperti itu turut serta dalam upaya memperburuk citra haji pribumi yang dalam waktu bersamaan mencerminkan ketakutan kolonialisme terhadap Islam. 

Namun, tentu saja ada haji yang dicitrakan sangat baik. Hal itu bisa dilihat dalam karya Syarif Amin, berjudul Nyi Haji Saonah. 

Novel tersebut merupakan cerita cinta. Di dalam novel tersebut ada dua haji, yaitu Haji Saonah dan suaminya, Haji Siroj. 

Berikut gambaran Haji Siroj: ‘Ari parung pasanggrok di jalan eta manehna dina sado, kuring leumpang, Haji Siroj meni sok dongko-dongko bae bari nyekelan ples teh. Jelema handap asor kasebut beungharna’,” ungkapnya.  

Terjemahan bebas penggambaran tersebut: “Ketika bertemu di suatu jalan, dia (Haji Siroj) sedang menaiki sado. Sementara saya berjalan kaki. Melihat saya, Haji Siroj memberi hormat dengan membungkukkan badannya. Ia seorang haji yang kaya berperangai rendah hati.

Di novel itu, Haji Siroj adalah sosok kaya raya yang nyantri. Kekayaannya merupakan hasil dari bisnis halal yang tidak membuatnya angkuh, melainkan rendah hati.
 

Penulis adalah pengkaji sejarah Sunda
Kamis 15 Agustus 2019 13:30 WIB
Berpikir Kritis dan Menjaga Kebersamaan Merupakan Cara Melawan Ajaran Radikalisme Kekerasan
Berpikir Kritis dan Menjaga Kebersamaan Merupakan Cara Melawan Ajaran Radikalisme Kekerasan
Ilustrasi terorisme

Oleh Ahmad Rozali

 

Beberapa hari ke depan, pada 17 Agustus 2019, bangsa Indonesia memasuki usia ke-74 tahun Kemerdekaanya. Di usia tersebut Indonesia telah mengalami berbagai kemajuan, baik dari aspek ekonomi, demokrasi, kebudayaan dan seterusnya.

 

Namun begitu, seiring kemajuan yang kita capai, tantangan juga berubah. Salah satu tantangan paling nyata saat ini adalah menguatnya paham dan aksi radikalisme dan terorisme. Paham radikalisme kekerasan, jika dilihat dari perkembangannya terdiri atas dua tipikal, pertama yang tumbuh dan berkembang dari ideologi di dalam negeri dan yang kedua dari luar negeri atau kerap disebut dengan gerakan transnasional.

 

Beberapa waktu lalu, dalam sebuah diskusi yang digelar Wahid Foundation di Jakarta, terdapat paparan menarik tentang pendekatan sejumlah negara dalam menangani kasus terorisme dan radikalisme di berbagai negara seperti Mesir, Turki, dan Kanada oleh Syafiq Hasyim, intelektual muda NU yang sedang menempuh karir akademiknya di RSIS-Nanyang Technological University, Singaporea 

 

Syafiq memaparkan bagaimana perbedaan pola penanganan yang terjadi di setiap negara-negara tersebut, serta penanganan yang dilakukan di tanah air. Dari semua paparannya, ada yang menarik saat Syafiq menjelaskan bagaimana Turki melakukan penanganan terhadap aksi radikalisme dan terorisme di negaranya.

 

Untuk menekan aksi radikalisme kekerasan, Turki meningkatkan kemampuan berpikir kritis melalui menghidupkan perdebatan publik. Dan itu dipercaya berdampak langsung melahirkan narasi yang mengkonter ajakan pada radikalisme kekerasan.

 

Paparan Syafiq tepat sekali. Sebab, sejauh ini, aksi radikalisme terutama terorisme dikalukan karena keyakinan pada sesuatu yang diluar nalar. Masuknya pemahaman pada seorang pelaku teror seringkali diterima melalui doktrin, sehingga si pelaku aksi teror kehilangan akan sehat dan melakukan kerusakan, bahkan menghilangkan nyawa orang lain demi keyakinan mereka.

 

Namun begitu, selain melakukan pendekatan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis, Turki juga menyasar komunitas-komunitas dalam masyarakat dengan pendekatan lunak seperti dukungan terhadap keluarga, konsultasi keagamaan, hingga advokasi pada kelompok rentan.

 

Sebab secara umum, penguatan budaya juga faktor penting melawan paham terorisme radikal yang sifatnya suka mencerabut pelaku dari akar budayanya. Sederhananya, orang yang memiiki akar kebudayaan, tradisi dan kultur yang kuat akan sulit untuk ‘dijadikan’ peklaku kekerasan apalagi teroris.

 

Hal ini senada dengan statemen Prof Hamdi Muluk, Guru Besar Psikologi Politik dari Universitas Indonesia. Kita juga beruntung karena telah memiliki akumulasi kebudayaan, kultur dan tradisi yang kuat Indonesia yang telah dibingkai dalam nilai Pancasila.

 

“Sebagai sebuah bangsa, kita sebenarnya punya modal sosial yang cukup besar yaitu Pancasila, Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 dan Bhinneka Tunggal Ika. Apa yang sudah diwariskan dari para founding fathers kita itu adalah modal yang besar, termasuk didalamnya bahasa persatuan. Dan itu sudah berhasil kita lewati, karena sampai hari ini kita tidak terpecah dan masih tetap utuh yang tentunya semua itu adalah sebuah modal sosial yang besar dan tangguh untuk bisa maju”.

 

Memiliki modal sosial menjadi sangat krusial sebagai modal memajukan sebuah negara. Dan modal sosial demikian hanya bisa dipupuk dengan rasa nasionalisme, melalui membangun kohesi sosial.

 

Hampir tidak mungkin ada negara bisa maju, jika modal sosialnya rendah. Indonesia sendiri bisa berdiri, menurut Hamdi, dikakarenakan modal sosial yang tingg yang terbangun dari berbagai suku, yang dalam istilah jaman dulu semacam Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatra dan sebagainya.

 

Kedua poin besar yang dipaparkan Syafiq Hasyim dan Hamdi Muluk tentu sudah dilakukan sebelumnya baik melalui program pemerintah maupun aktivitas masyarakat. Namun masih bisa kita tingkatkan melalui program yang lebih baik, sehingga ajakan-ajakan yang untuk melakukan aksi kekerasan akan secara otomatis tertolak karena ketidakrasionalannya dan karena kebertentangannya terhadap nilai kebersamaan dan kebudayaan.

 

Penulis adalah redaktur NU Online

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG