Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Kebebasan Beragama Saja Tak Cukup, Perlu Dibarengi Sikap Hormat

Kebebasan Beragama Saja Tak Cukup, Perlu Dibarengi Sikap Hormat
Pendiri FPCI Dino Patti Djalal saat diskusi publik bertema The First Abrahamic Circle: Understanding Interfaith at The Grasroots di Jakarta.
Pendiri FPCI Dino Patti Djalal saat diskusi publik bertema The First Abrahamic Circle: Understanding Interfaith at The Grasroots di Jakarta.
Jakarta, NU Online
Indonesia memang membebaskan warganya melaksanakan ibadah sesuai agama yang dianutnya masing-masing. Tak ada larangan untuk hal tersebut. Namun, pendiri Foreign Policy of Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal menilai kebebasan beragama saja tidak cukup.

Pasalnya, di beberapa daerah masih marak intoleransi dengan tidak menghormati atau bahkan mencela pemeluk agama lainnya. Melihat hal tersebut, Dino menyampaikan bahwa hal penting di sini adalah penghormatan.

“Dan yang paling penting adalah respek. Karena kebebasan beragama saja, tidak cukup. Buat apa bebas tetapi saling membenci jadi harus bebas dan saling menghormati,” ungkapnya saat diskusi publik bertema The First Abrahamic Circle: Understanding Interfaith at The Grasroots di Gedung Mayapada Tower 1 lantai 19, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Kamis (22/8).

Dino melihat bahwa akarnya adalah kurangnya pemahaman mereka terhadap agama lain sehingga timbul praduga dan penghakiman sepihak tanpa adanya landasan. 

“Kalau menurut saya yang kurang pemahaman. Saya sendiri juga sejujurnya dulu ada pandangan tertentu terhadap non-Muslim. Tapi begitu saya mengenal non-Muslim dan bersahabat dan bekerja dengan mereka hidup bersama mereka, pandangan itu berubah,” jelas Wakil Menteri Luar Negeri 2014 itu.

Oleh karena itu, Dino menginisiasi program 1.000 Abrahamic Circles yang merangkul tiga pemuka agama Ibrahim di setiap Circle-nya, yakni agama Islam, Yahudi, dan Kristen. Mereka selama tiga minggu mengikuti kegiatan dan tinggal di komunitas tiga agama tersebut secara berturut-turut masing-masing seminggu.

Circle pertama sudah hadir di Indonesia. Mengingat adanya kekurangpahaman itu, mereka bertekad akan menyebarkan pemahaman baru mereka terkait agama Islam, Yahudi, dan Kristen.

Ustaz Oji Fahrurroji, peserta 1.000 Abrahamic Circles pertama, menceritakan bahwa saat bertemu istri Rabbi Eliot Baskin dari Sinagog Emanuel Denver, Colorado, Amerika Serikat, menyampaikan bahwa dirinya dan mungkin banyak orang Islam Indonesia, berpandangan bahwa orang Yahudi mengatur negara Amerika. Dia, katanya, kaget. Pun dengan Rabbi Eliot sendiri.

“Itu semuanya tidak benar,” kata pengajar di Pondok Pesantren Jagat Arsy, BSD, Tangerang Selatan, Banten itu.

Selain Rabbi Eliot dari Amerika, Circle pertama itu juga diikuti oleh Pendeta Ryhan Prasad dari Gereja Khandallah Presbyterian, Wellington, Selandia Baru.

Adapun diskusi publik itu sendiri dihadiri oleh berbagai kalangan. Hadir pula Kepala Pusat Studi Al-Qur’an H Muchlis M Hanafi dan Sekretaris Pengurus Pusat Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD PBNU) KH Bukhori Muslim. 

Pewarta: Syakir NF
Editor: Abdullah Alawi
BNI Mobile