Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Kisah Gus Dur dan Doa Sapu Jagat di Tanah Suci

Kisah Gus Dur dan Doa Sapu Jagat di Tanah Suci
KH Wafiyulah Ahdi (foto: dok NU Online)
KH Wafiyulah Ahdi (foto: dok NU Online)
Jombang, NU Online
Ketua Umum Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, KH Wafiyul Ahdi menceritakan peristiwa unik saat KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan ayahnya yang bernama KH Amanullah Abdurrahim melakukan rukun Islam kelima yaitu haji.
 
Peristiwa haji tersebut menurutnya terjadi pada pada 1993. Atau setahun jelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) 1994. Kala itu Gus Dur ditugasi oleh seorang kiai agar haji bersama sembilan orang. 
 
"Salah satunya dari sembilan orang itu adalah ayah saya, almarhum KH Amanullah Abdurrahim," kata Gus Wafi, Sabtu (24/8).
 
Kiai Wafi menambahkan, di antara yang berangkat haji tersebut yaitu Haji Masnuh asal Kabupaten Sidoarjo. Saat itu salah satu tujuan haji dari sembilan orang ini untuk kesuksesan acara Muktamar NU. Bahkan, mereka diberikan amalan khusus yang akan diamalkan di tanah suci.
 
"Demi mengamankan NU, sembilan kiai tersebut diberi amalan khusus yang harus diamalkan sebanyak sepuluh ribu kali pada saat wukuf di Arafah," tambahnya.
 
Saat itu menurut Kiai Wafi, di tengah wukuf tiba-tiba Gus Dur mengajak H Masnuh keluar dari tenda untuk bersandar di bawah pohon. Gus Dur lantas meminta H Masnuh melihat ke langit. Jika langit sudah membuka, agar memberi tahu Gus Dur dengan cara nepuk kakinya. 
 
"Saat itu penglihatan Gus Dur sudah mulai menurun, jadi ia minta bantun H Masnuh untuk melihat langit," bebernya.
 
Merasa takdzim dengan Gus Dur, H Masnuh akhirnya menurut saja dengan perintah Gus Dur. Ia terus melihat ke langit tanpa protes dan menanyakan maksud Gus Dur. Betapa kagetnya H Masnuh, selang beberapa menit kemudian ternyata benar langit lalu terbuka. 
 
"H Masnuh menceritakan ini kepada saya dengan menangis. Ini kesaksian dari saksi mata," ujar Kiai Wafi.
 
H Masnuh lalu memberi tahu Gus Dur bahwa langit sudah terbuka. "H Masnuh oleh Gus Dur diminta terus baca rabbana atina fiddunya hasanah wafil akhirati hasanah waqina adzabannar," tutur Gus Wafi. 
 
Kesaksian H Masnuh, ia terus membaca doa sapu jagat ini. Namun saat ia melirik Gus Dur, cucu KH M Hasyim Asy'ari itu terlihat membaca doa khusus. Sampai akhirnya langit yang awalnya terbuka kini tertutup kembali.
 
Masnuh kemudian ​​​​​​ memberitahukannya kepada Gus Dur. Gus Dur pun lantas mengakhiri doanya dan mengajak H Masnuh kembali ke tenda untuk istirahat. Anehnya, sesampainya di tenda, Gus Dur pun langsung tidur. Sementara kiai-kiai lainnya masih terus merapal doa. 
 
"Biarin yang lain berdoa. saya tidur aja wong langitnya sudah tutup," ucap Kiai Wafi meniru ucapan Gus Dur kepada H Masnuh saat itu.
 
Sejarah kemudian mencatat, pada Muktamar NU ke-84 tahun 1994 orde baru yang dipimpin Presiden Suharto mendorong Abu Hasan untuk maju sebagai calon ketua PBNU guna menghadang Gus Dur. Tapi hasilnya, Gus Dur tetap terpilih tanpa terbendung. H Masnuh menduga terpilihnya Gus Dur ada kaitannya dengan doa mereka saat haji dulu.
 
Kontributor: Syarif Abdurrahman 
Editor: Muiz
BNI Mobile