IMG-LOGO
Risalah Redaksi

Memperluas Ruang Para Ahli Non-Agama di Lingkungan NU

Ahad 25 Agustus 2019 19:45 WIB
Bagikan:
Memperluas Ruang Para Ahli Non-Agama di Lingkungan NU
Keragaman keahlian dalam kepengurusan NU akan memunculkan banyak perspektif saat mengambil kebijakan tertentu yang menyangkut masyarakat. (Ilustrasi: NU Online/Mahbib)
Sebagai sebuah organisasi agama, sesuatu yang normal jika para aktivis yang menggerakkan dan menghidupi organisasi NU ini merupakan orang-orang yang memiliki latar belakang pengetahuan agama yang sangat kuat. Mereka adalah para ulama, kiai, ustadz, serta para aktivis yang memahami ilmu-ilmu agama dengan sangat baik dan kemudian mendakwahkan pengetahuannya untuk kebaikan bersama. Setelah para ahli ilmu agama, urutan selanjutnya adalah orang-orang berlatar belakang sosial humaniora.
 
Seiring dengan berkembangnya masyarakat dan semakin kompleksnya kehidupan, dakwah tidak cukup mengandalkan pengetahuan agama saja. Ada aspek-aspek lain yang menyertai untuk menunjang keberhasilan proses dakwah tersebut. Misalnya, menyampaikan pesan bahwa masyarakat perlu mengembangkan usaha perekonomian tidak cukup dengan dalil-dalil agama terkait dengan baiknya beraktivitas ekonomi dan kewirausahaan, melainkan harus mengarah sampai pada implementasinya seperti bagaimana produksi yang baik, pelayanan, pemasaran, pendanaan, dan lainnya. Masing-masing aspek tersebut memiliki disiplin ilmunya sendiri-sendiri yang harus ditekuni jika ingin menguasainya dengan baik. 
 
Keberadaan para ahli non-agama menjadi semakin penting ketika ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang dengan cepat. Banyak kebijakan didasarkan pada riset untuk meningkatkan akurasi keberhasilannya. Kebijakan tidak lagi didasarkan pada perkiraan sebagaimana kebiasaan di masa lalu. Sulit untuk berhasil seorang kiai berceramah di mana-mana tentang haramnya riba tanpa memberikan solusi yang konkret soal persoalan pendanaan yang dihadapi umat.
 
Pendekatan multidisipliner ini juga relevan dalam organisasi agama. NU memaknai dakwah dan pemberdayaan masyarakat bukan sekedar menggelar ceramah di panggung, majelis taklim, atau kini di media sosial. Model ceramah seperti itu tidak akan memadai untuk melakukan perubahan karena sebauah transformasi ke arah baru membutuhkan tindakan nyata. Di sinilah para ahli non-agama mengambil peran seperti para ekonom, teknolog, ahli kesehatan, dan lainnya. 
 
Upaya untuk memperluas dakwah dalam berbagai perspektif ini dapat dilakukan dengan memberikan komposisi yang lebih luas para ahli non-agama dalam struktur kepengurusan NU dari tingkat pusat sampai ke daerah. Juga dalam kepengurusan di lingkungan badan otonom NU. Selama ini para pengurus yang berkiprah di NU sebagian besar berlatar belakang ilmu agama atau sosial humaniora lainnya. Mereka yang berlatar belakang sains atau teknologi masih minoritas.  Sebetulnya tak kurang warga NU yang memiliki keahlian bidang ini. Tinggal bagaimana memberikan afirmasi dalam kepengurusan agar mereka bisa mewarnai kebijakan dan program-program NU. Karena berlatar belakang keluarga NU, danyak di antaranya memiliki pengetahuan agama yang baik.
 
Keragaman keahlian dalam kepengurusan NU akan memunculkan banyak perspektif saat mengambil kebijakan tertentu yang menyangkut masyarakat. Hasilnya tentu akan semakin komprehensif jika dibandingkan dengan sekedar pendekatan agama atau sosial humaniora saja. Dan selanjutnya lebih memiliki kemungkinan berhasil diimplementasikan. Apalagi mengingat saat ini, domain teknologi semakin dominan dalam perkembangan kehidupan. Bahkan dalam konteks dakwah dalam bentuk orasi, penggunaan teknologi semakin penting. Para ustadz yang sukses berdakwah di media sosial menggunakan memanfaatkan keahlian para ahli dalam bidang penyiaran.
 
Sejauh ini sudah terdapat badan otonom Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) yang menjadi tempat berkumpulnya para intelektual NU. Mereka dapat memberikan masukan-masukan terhadap berbagai kebijakan NU di tingkat pusat maupun daerah, sesuai dengan tingkat kepengurusannya. Potensi besar yang sudah terkumpul ini waktunya untuk dimaksimalkan. Bisa saja para ahli tersebut secara proaktif memberi masukan terhadap kebijakan tertentu atau NU meminta mereka mengkaji isu tertentu.
 
Organisasi NU yang bergerak dalam bidang pengaderan seperti IPNU-IPPNU, PMII atau KMNU yang selama ini masih didominasi oleh pelajar atau mahasiswa dengan latar belakang ilmu agama dan sosial humaniora. Sudah waktunya mereka mengembangkan sayapnya untuk menggarap para pelajar dan mahasiswa di lingkungan ilmu-ilmu eksakta. Jika tidak, mahasiswa dari jurusan eksakta yang ingin belajar agama akhirnya diambil oleh kelompok-kelompok lain yang mengajarkan Islam tekstual. Akhirnya pandangan agamanya menjadi kaku karena memandang ilmu agama sebagaimana sains yang serba terukur dan pasti.
 
Demikian pula, santri-santri yang kini masuk ke perguruan tinggi dapat diarahkan untuk mengambil jurusan-jurusan non-agama atau sosial humaniora yang saat ini sudah sangat banyak yang memiliki kompetensi di bidang tersebut di lingkungan NU sementara bidang-bidang baru tersebut masih membutuhkan tenaga yang lebih banyak. Mereka harus terus didampingi selama belajar di perguruan tinggi agar tetap dekat dengan ajaran NU dan nantinya ketika selesai sekolah, tetap mengabdikan diri kepada umat dan masyarakat melalui NU. 
 
Hal yang sama juga harus diarahkan dalam pengembangan program studi di lingkungan perguruan tinggi Nahdlatul Ulama. Program terkait yang bersentuhan dengan teknologi perlu mendapatkan perhatian lebih banyak. Dalam sepuluh tahun terakhir, Nahdlatul Ulama mendirikan puluhan perguruan tinggi baru yang kini sedang dalam tahap pengembangan. 
 
Perubahan-perubahan ini mungkin saja menimbulkan ketidaknyamanan karena keluar dari zona nyaman kompetensi yang selama ini digeluti dan telah memiliki habitat bagus untuk berkembang. Tetapi hasilnya akan dinikmati 20-30 tahun ke depan ketika pelajar dan mahasiswa tersebut sudah menduduki posisi strategis di lembaganya berkarier atau sudah berhasil dalam berwirausaha. 
 
Ini merupakan strategi jangka panjang yang hasilnya tak dinikmati secara instan. Kelompok pengusung khilafah yang sempat berkembang juga menyasar para mahasiswa eksakta di beberapa universitas negeri favorit sebagai sarana dakwahnya 30-40 tahun lalu. Para aktivis khilafah yang mendominasi wacana saat ini telah direkrut sejak mahasiswa sehingga kini menjadi militan. Beberapa di antaranya kini masuk dalam institusi negara atau badan usaha milik negara dan mencoba mengubah ideologi negara. Insyaallah NU akan mampu melayani masyarakat dengan lebih baik melalui pelibatan para ahli dalam berbagai bidang. (Achmad Mukafi Niam)
 
Bagikan:

Baca Juga

Ahad 18 Agustus 2019 20:0 WIB
Kualitas SDM Kunci Kemajuan Bangsa
Kualitas SDM Kunci Kemajuan Bangsa
Ilustrasi (U-Report)
Sejumlah lembaga internasional meramalkan Indonesia akan menjadi negara maju dengan perekonomian besar di dunia, mengalahkan beberapa negara yang sekarang ini berkuasa di dunia. Tentu saja, optimisme ini harus didukung tetapi tidak dengan bertopang dagu karena untuk mencapai prestasi di tengah-tengah persaingan antarbangsa yang sangat ketat ini, butuh kerja yang keras diiringi inovasi dan kreativitas. 
 
Apa yang kita capai saat ini tentu jauh lebih baik dibandingkan ketika kondisi di awal-awal kemerdekaan, apalagi ketika masih di masa kolonialisme. Tentu saja perjuangan para pendiri bangsa yang telah mengorbankan nyawa dan harta tak akan sia-sia jika kita terus memperbaiki kondisi bangsa. Tak ada kata selesai dalam perjuangan. Masing-masing zaman memiliki bentuk perjuangannya sendiri-sendiri. Zaman kemerdekaan, perjuangan fisik dan kemampuan diplomasi menjadi penentu kemenangan kita melawan kolonialisme. Perjuangan kini adalah dengan membangun bangsa, dengan mendidik generasi muda, dengan memunculkan inovasi baru. Dan tentu saja dengan menahan diri untuk tidak melakukan korupsi serta tindakan-tindakan buruk lainnya yang selama ini masih menjadi masalah bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. 
 
Indonesia menjadi sebuah negara maju dan kuat di masa mendatang tak akan muncul bagaikan sulapan. Ada banyak prasyarat untuk mencapai hal tersebut. Kadang, kita terbuai dengan pujian orang luar yang mungkin saja sekedar basa-basi untuk menyenangkan tuan rumah. Dan kemudian kita berleha-leha, berharap ramalan tersebut datang dengan sendirinya. 
 
Bagaimana mungkin Indonesia bisa maju jika tidak memiliki infrastruktur yang baik yang membuat pergerakan manusia dan distribusi barang serta jasa berlangsung secara efisien. Beruntung, sektor ini mendapat perhatian serius selama lima tahun terakhir. Tetapi masih banyak kerja-kerja infrastruktur yang belum selesai atau belum disentuh sama sekali mengingat luasnya Indonesia dan keterbatasan anggaran.  Pembangunan infrastruktur harus tetap dilanjutkan.
 
Sebuah negara maju tak mungkin tanpa manusia-manusia hebat yang mengelolanya. Karena itulah dalam peringatan 74 tahun Indonesia merdeka, temanya adalah SDM unggul, Indonesia Maju. Tentu sangat tepat dalam pengambilan tema ini mengingat kemajuan bangsa ditentukan oleh kualitas SDM yang dimiliki. Beberapa negara maju di Asia seperti Jepang, Korea atau Taiwan minim sumber daya alam, tetapi mereka unggul dalam sumber daya manusianya. 
 
Kesadaran tentang pentingnya SDM sudah muncul sejak lama. Bahkan anggaran pendidikan secara khusus disebut sebesar 20 persen dari APBN. Tetapi rupanya besarnya anggaran tersebut kurang berdampak signifikan terhadap peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia. Baru-baru ini Menteri Keuangan Sri Mulyani mengeluhkan ketidaktepatan penyaluran anggaran pendidikan sehingga dampaknya kurang maksimal dalam peningkatan kualitas. 
 
Belum lagi terjadinya brain drain, yaitu perginya tenaga ahli, pemikir, dan intelektual ke negara lain yang lebih maju karena negara kurang memberi ruang bagi tenaga-tenaga bagus tersebut untuk mengaktualisasikan dirinya. Tentu saja, ini sebuah kehilangan besar, apalagi jika tenaga-tenaga potensial tersebut bisa pintar karena dibiayai oleh negara melalui sejumlah skema beasiswa. Para penerima beasiswa sudah seharusnya berkewajiban untuk mengabdikan dirinya kepada bangsa yang telah membuat mereka menjadi ahli dalam bidang tertentu. Situasinya tidak bisa dibandingkan dengan negara maju yang semuanya sudah tertata dengan baik dan tersedia beragam fasilitas yang memadai. 
 
Di sisi lain, negara juga berkewajiban untuk memberi kepastian karir atau memunculkan lingkungan yang memungkinkan orang-orang terbaik bisa berkembang melalui sistem meritokrasi. Era ketika PNS dalam periode tertentu naik pangkat secara otomatis sudah waktunya diakhiri karena harus didasarkan pada peningkatan kinerja dan keahlian. Presiden Joko Widodo telah menandatangani Peraturan Pemerintah No 30 tahun 2019 yang akan memecat ASN yang kinerjanya buruk. Itu sesuatu yang normal mengingat PNS digaji dengan uang pajak yang dibayarkan oleh rakyat. Sudah seharusnya mereka bekerja dengan baik karena banyak orang berkeinginan menjadi PNS. 
 
Kita berharap dalam periode kedua pemerintahan Joko Widodo ini, peningkatan kualitas SDM benar-benar menjadi perhatian. Berbagai indikator internasional masih menempatkan Indonesia dalam posisi medioker, baik di pendidikan dasar dan menengah maupun pendidikan tinggi. Dan tidak ada yang bisa dicapai dengan instan untuk meraih kualitas pendidikan yang bagus. 
 
Sarana belajar saat ini sesungguhnya jauh lebih mudah dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya. Berbagai tutorial dan sarana pembelajaran bisa dengan mudah didapat di internet. Baik yang sifatnya gratis atau berbayar. Artinya, tugas pemerintah menyediakan sarana dan prasarana pendidikan seharusnya lebih ringan. Sebagian kerjanya berubah menjadi memotivasi dan mengarahkan masyarakat untuk memaksimalkan internet sebagai sarana belajar. 
 
Bukan hanya Indonesia yang menyadari pentingnya kualitas pendidikan, semua negara juga memberi prioritas terhadap pendidikan. Indonesia tentu meraih kemajuan dalam pendidikan, tetapi negara lain bisa saja meraih kemajuan yang lebih tinggi. Jadi ukuran yang kita gunakan tidak hanya ukuran internal, yaitu capaian kita dibandingkan dengan periode sebelumnya, tetapi juga ukuran eksternal, yaitu  capaian kemajuan kita dibandingkan dengan negara lainnya. 
 
Kualitas SDM semakin krusial ketika teknologi mengambil alih pekerjaan-pekerjaan yang sebelumnya dilakukan oleh otot manusia. Yang tersisa adalah pekerjaan berbasis pengetahuan yang mengandalkan inovasi, kreativitas dan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Hal-hal tersebut bisa didapat melalui proses pendidikan dan pelatihan. Kualitas SDM adalah kunci kemajuan bangsa. (Achmad Mukafi Niam)
 
Ahad 11 Agustus 2019 11:0 WIB
Menahan Diri dari Keserakahan Mengeksploitasi Alam
Menahan Diri dari Keserakahan Mengeksploitasi Alam
Ilustrasi
Betapa manusia hari ini sedemikian rakusnya mengeksploitasi alam. Banyak hewan dan tumbuhan punah karena hutan-hutan ditebangi untuk memenuhi nafsu keserakahannya yang tidak ada habis-habisnya. Sesungguhnya, alam telah banyak berkorban untuk manusia. Kini saatnya manusia menahan diri dengan mencukupkan apa yang ada dan melestarikan alam untuk generasi selanjutnya. Itulah pengorbanan penting yang layak kita lakukan saat ini.
 
Umat Islam selama ini terlalu menekankan ibadah yang sifatnya individual seperti menjalankan beragam shalat dan puasa sunnah, membaca Al-Qur’an, doa-doa dalam berbagai aktivitas, dan lainnya. Tetapi ibadah sosial atau dosa sosial kurang mendapatkan penekanan. Betapa kita melihat orang yang rajin beribadah mahdhah, ternyata tanpa merasa bersalah melanggar norma-norma masyarakat. Menyerobot antrean, membuang sampah sembarangan, menerobos lampu lalu lintas, dan lainnya. Dan termasuk di antaranya mengeksploitasi alam. 
 
Ibadah sosial adalah ibadah yang memiliki dampak kebaikan secara langsung kepada masyarakat luas. Demikian pula dosa sosial.  Menjalankan ibadah sosial dan menghindari dosa sosial inilah yang tampaknya perlu ada peningkatan kesadaran. Hal ini mengingat semakin kompleksnya kehidupan masyarakat akibat perkembangan teknologi. Kejadian di satu negara dengan mudah dikabarkan ke seluruh dunia dan mendapat respon dengan cepat dari wilayah lainnya. Perilaku satu orang atau sekelompok manusia bisa dengan cepat ditiru, yang bisa menghasilkan kebaikan atau keburukan.
 
Ibadah kurban setiap bulan Dzulhijjah merupakan salah satu ibadah sosial. Daging kurban yang dibagikan kepada masyarakat akan memberikan kebahagiaan kepada mereka yang selama ini jarang makan daging dan meningkatkan kualitas gizi yang selama ini mereka konsumsi. Tentu saja, ini merupakan hal yang baik, tetapi tidak lagi cukup. Yang perlu mendapatkan perhatian bersama karena memiliki dampak luas dan berpengaruh jangka panjang kepada seluruh kehidupan salah satunya adalah eksploitasi alam. Dampaknya telah kita rasakan sekarang berupa perubahan iklim. Berbagai bencana telah timbul karena hal ini seperti banjir di satu wilayah dan kekeringan berkepanjangan di wilayah lainnya. 
 
Pembukaan lahan-lahan baru yang sebelumnya menjadi habitat hewan liar menyebabkan terancamnya kepunahan hewan dan tumbuhan endemik di daerah tersebut. Macan tutul di Jawa kini menghadapi kepunahan. Gajah berkonflik dengan manusia yang menyerbu daerah yang sebelumnya menjadi tempatnya mencari makan. Kisah-kisah tentang hewan tertentu yang di ambang kepunahan atau yang sudah punah tak ada habisnya. Beberapa mungkin bisa diselamatkan, tetapi sebagian lainnya mungkin hanya soal waktu saja untuk benar-benar musnah dari muka bumi. 
 
Para pemimpin negara berulang kali berunding untuk menyepakati pembatasan emisi karbon. Namun negara-negara besar saling ngotot untuk mempertahankan posisinya demi berjalannya industri dalam negeri mereka. Para politisi ingin tetap berkuasa dengan tetap menjaga pertumbuhan ekonomi negaranya, sekalipun hal tersebut harus mengorbankan udara bersih karena industri yang polutif.
 
Iklim di dunia merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dibatasi oleh teritori politik. Udara bergerak bebas dari satu kawasan ke kawasan lainnya menurut hukum alam. Air laut bergerak dari satu samudera ke samudera lainnya mengikuti sebuah mekanisme yang telah berjalan. Dibutuhkan kerja sama semua pihak untuk saling menjaga alam ini. Pelanggaran yang dilakukan di satu wilayah demi keuntungannya sendiri akan menimbulkan efek kerusakan di seluruh permukaan bumi. 
 
Bahkan, perilaku individual kita patut untuk direfleksikan. Betapa jalanan di Jakarta dan kota-kota besar lainnya dipenuhi oleh mobil-mobil pribadi yang hanya ditumpangi oleh satu atau dua orang, sementara kapasitasnya empat sampai enam orang. Betapa pula banyaknya sampah makanan yang tidak dihabiskan dari pesta-pesta yang diselenggarakan oleh orang-orang kaya, sementara di sisi lain, pemerintah juga kesulitan menyediakan tempat pembuangan dan pemrosesan sampah. 
 
Kelas menengah dengan uang yang dimilikinya merasa berhak membeli apa saja dan memperlakukan sumber daya alam ini sekehendak hatinya. Merasa telah membayar dan kemudian boleh sekehendak hatinya atas barang yang dibelinya. Toh, uang-uangnya sendiri untuk membeli. Dan dengan kekuatan politiknya, menekan para politisi untuk menyediakan dan mempertahankan kenyamanan-kenyamanan yang selama ini mereka nikmati, atau tidak memilihnya lagi. 
 
Ancaman kelestarian alam baru muncul belakangan ini. Penguasaan teknologi mengakibatkan manusia mampu menguasai alam dan mengekploitasinya. Kondisi inilah yang belum ada pada abad ke-6 Masehi ketika Rasulullah hidup. Saat di mana manusia masih sangat tergantung pada alam. Tetapi nafsu dan keserakahan yang menyertai perilaku manusia terhadap alam bisa menghancurkan manusia itu sendiri. Berbagai bencana alam akibat perubahan iklim menjadi salah satu buktinya. Di sinilah ajaran agama memiliki peran menjaga perilaku manusia.
 
Idul Adha, sudah saatnya dimaknai bukan hanya momen berbagi kepada orang-orang yang selama ini terpinggirkan. Berkurban bagi kelompok elit adalah bukan hanya menyembelih hewan kurban, tetapi juga mencukupkan diri atas apa yang mereka nikmati saat ini dengan tidak mengekploitasi alam. Sesungguhnya banyak di antara mereka yang terpinggirkan dan menderita karena keserakahan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok yang menguasai sumber daya ekonomi, politik, pengetahuan atau lainnya membuat mereka tidak berdaya. (Achmad Mukafi Niam)
 
Sabtu 3 Agustus 2019 20:45 WIB
Memberi Ruang Kelompok Disabilitas untuk Mengabdi dan Berkreasi
Memberi Ruang Kelompok Disabilitas untuk Mengabdi dan Berkreasi
Ilustrasi dari sampul buku "Fiqih Penguatan Penyandang Disabilitas" terbitan LBM PBNU
Kegagalan drg Romi Syofpa Ismael menjadi PNS di Kabupaten Solok Selatan menjadi perhatian publik dikarenakan kondisinya sebagai penyandang disabilitas, sekalipun ia lulus dengan nilai terbaik dalam ujian tersebut. Kemauannya untuk bersuara mampu menarik perhatian publik sampai akhirnya pemerintah mengembalikan haknya sebagai PNS, tetapi banyak orang dengan kondisi yang sama dengannya tak mampu bersuara. Mereka hanya bisa pasrah menjalani nasib.

Menjadi penyandang disabilitas merupakan tantangan yang berat karena banyaknya tekanan yang harus dihadapi, serta kebijakan dan fasilitas yang kurang mendukung. Apa yang dialami oleh drg Romi hanya sebagian dari masalah yang dialami oleh para penyandang disabilitas. Dengan segala keterbatasannya, mereka harus bersaing dengan orang-orang yang memiliki fisik sempurna. Sementara jumlah ketersediaan pekerjaan yang ada jauh lebih kecil dibandingkan dengan jumlah pelamar. Dengan demikian, jika tidak diberlakukan afirmasi khusus, akan susah bagi para penyandang disabilitas untuk mengakses pekerjaan sesuai dengan keahlian atau ketrampilan yang mereka miliki. Sayangnya, belum banyak yang menyediakan jalur afirmasi ini. 
    
Ketidaksempurnaan fisik pada sebagian orang merupakan bawaan lahir. Namun, ketidaksempurnaan tersebut bisa menjadi pendorong untuk mengukir prestasi dan memberi kontribusi kepada kemajuan ilmu pengetahuan dan perbaikan kehidupan manusia. Banyak kisah inspiratif yang dilakukan oleh mereka, salah satunya adalah kreativitas dari Anjas Pranomo, mahasiswa penyandang disabilitas di Universitas Brawijaya Malang yang mampu menciptakan sejumlah aplikasi yang diperuntukkan bagi kelompok disabilitas. 

Keberadaan penyandang disabilitas sudah ada sejak zaman dahulu. Abdullah ibn Ummi Maktum merupakan sahabat Rasulullah yang sejak lahir mengalami kebutaan. Ia menjadi salah satu muadzin bersama Bilal. Bahkan surat Abasa ayat pertama hingga enam belas diturunkan terkait dengannya. Hal ini menunjukkan adanya perintah untuk memperlakukan mereka dengan sebaik-baiknya.

Nahdlatul Ulama telah membahas masalah disabilitas dalam munas yang berlangsung di Lombok pada tahun 2017. Dalam keputusan tersebut, Islam memandang bahwa semua manusia memiliki kedudukan setara, termasuk para penyandang disabilitas. Yang membedakan manusia satu dengan lainnya adalah tingkat ketakwaannya. 

Dalam Islam, disabilitas dipandang sebagai sebuah ujian, tinggal bagaimana mereka memandang kondisinya. Penyandang disabilitas juga memiliki kewajiban untuk menjalankan ibadah dan memiliki hak atas fasilitas publik, karena itu NU mendorong fasilitas ibadah dan dan fasilitas publik ramah terhadap kebutuhan kelompok disabilitas. 

Kelompok disabilitas menghadapi banyak tantangan berat di Indonesia mengingat banyak fasilitas publik belum memberikan dukungan agar mereka dapat mengakses dengan mudah tanpa bantuan orang lain. Susah sekali bagi mereka untuk pergi dengan transportasi publik seperti bus umum atau kereta. Fasilitas untuk mereka belum tersedia secara komprehensif. Di stasiun atau terminal sudah tersedia kursi khusus untuk kelompok disabilitas tetapi akses untuk menuju tempat ini bukan hal yang mudah. 

Tempat ibadah juga belum ramah bagi penyandang disabilitas. Sebagian besar masjid tampaknya belum menyediakan jalur khusus bagi pengguna kursi roda. Bahkan dikabarkan beberapa masjid menolak pengguna kursi roda masuk di dalamnya karena kekhawatiran lantai masjid terkena najis dari roda-roda yang memutari beragam benda di jalanan.

Akibatnya, banyak penyandang disabilitas yang hanya terdiam di rumah karena lingkungan yang kurang mendukung akses mereka. Mereka menjadi orang yang terlupakan dari masyarakat. Bahkan banyak keluarga yang menganggapnya sebagai sebuah beban. Hal ini tentu saja semakin menambah tekanan psikologis. Mereka adalah makhluk yang membutuhkan dukungan sosial dan mental seperti manusia biasa lainnya. 

Saat ini sudah terdapat kebijakan sekolah inklusi, yaitu menyatukan tempat pendidikan bagi siswa normal dan siswa yang memiliki kebutuhan khusus. Hal ini merupakan sebuah kemajuan yang layak diapresiasi. Namun, masih banyak tantangan yang harus dihadapi seperti ketersediaan guru yang mampu memahami dan mengajar siswa dengan kebutuhan khusus tersebut. Pola pendidikan dengan mengarahkan mereka untuk mandiri sangat penting. Menanamkan nilai bahwa mereka juga mampu mandiri dan melakukan sesuatu yang bermakna. Bukan dengan membuat mereka selalu tergantung kepada pihak lainnya. 

Perilaku masyarakat juga cukup beragam. Ada yang bersedia membantu dengan sukarela tetapi tak jarang, banyak yang cuek atau bahkan menyerobot fasilitas umum yang seharusnya diperuntukkan bagi mereka. Dalam budaya tertentu, perlakuan buruk terhadap disabilitas bisa mengakibatkan kualat. Karena itu, mereka memperlakukan penyandang disabilitas dengan baik. Orang takut keluarga atau keturunannya mengalami hal yang sama. Tetapi keyakinan ini didasarkan pada ketakutan, bukan upaya untuk memberdayakan mereka. 

Menumbuhkan kesadaran bahwa kelompok disabilitas merupakan bagian dari masyarakat kita dan kemudian mendorong serta memfasilitasi mereka untuk berkembang sesuai dengan bakat dan minatnya akan mampu menumbuhkan kepercayaan diri sekaligus membuat mereka mampu mandiri dan berkembang. Sejarah membuktikan, keterbatasan fisik tidak menghalangi mereka untuk berprestasi dan memberi kontribusi yang besar kepada masyarakat dan peradaban dunia. Dengan adanya perkembangan pendidikan, infrastruktur, dan teknologi tentu semakin besar peluang mereka untuk berkreasi. (Achmad Mukafi Niam)
 
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG