Di Tengah Berlimpahnya Informasi, Waspadai Matinya Hati

Di Tengah Berlimpahnya Informasi, Waspadai Matinya Hati
KH Zaimuddin Wijaya As’ad (kiri) bersama pimpinan Unipdu.
KH Zaimuddin Wijaya As’ad (kiri) bersama pimpinan Unipdu.

Jombang, NU Online

Saat ini orang dengan sangat mudah memperoleh informasi. Lewat gawai yakni smartphone atau telepon pintar yang selalu menyertai aktivitas, segala kabar dan informasi dapat diraih dengan mudah. Namun demikian, segala kurnia ini harusnya juga disertai dengan kewaspadaan tinggi.

 

Peringatan tersebut disampaikan oleh KH Zaimuddin Wijaya As’ad saat memberikan kuliah umum dalam acara Wisuda Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu) Peterongan, Jombang, Jawa Timur di kampus setempat, Ahad (25/8).

 

Gus Zuem, sapaan akrabnya, menyebutkan bahwa zaman sekarang jenjang pendidikan seseorang semakin tidak memiliki makna yang demikian penting.

 

“Sehingga Tom Nichols menulis buku The Death of Expertise atau matinya kepakaran memotret secara persis bahwa orang yang tidak pernah merasakan kopi Gayo bisa berpendapat secara kritis tentang bahaya kopi itu terhadap jantung,” ungkapnya.

 

Padahal, jangankan mereka mencicipi kopi tersebut, minum kopi pun tidak pernah. “Akan tapi pendapat mereka makin lama kian menjadi pendapat yang dianggap benar, karena makin banyak orang dengan gadget-nya membagikan postingan yang dianggap merupakan temuan mutakhir itu,” jelas Ketua Yayasan Unipdu tersebut.

 

Bila kondisinya sudah seperti itu, maka pendapat para ahli kopi yang berdasarkan penelitian, bahkan kajian ilmiah tentang manfaat kopi Gayo akan terkikis oleh pendapat awam atas dasar anggapan kabur bahkan hoaks. Celakanya, hal tersebut telah diamini orang banyak lewat gawai atau telepon pintar mereka.

 

“Nah, penyebab matinya kepakaran itu bukan karena berlimpahnya fasilitas internet berikut gadget-nya. Tapi lebih disebabkan oleh matinya hati akibat sepinya rasa empati, keringnya rasa kasih, suburnya egoisme dan lenyapnya pengharapan akan rahmat Tuhan,” urainya di hadapan pimpinan kampus dan wisudawan.

 

Karenanya, alumnus Fisipol UGM Yogyakarta ini berpesan kepada para wisudawan agar senantiasa menghidupkan hati. “Yakni dengan memperbanyak dzikir atau mengingat Allah secara intensif,” sarannya.
 

Lewat tradisi mengingat Allah SWT tersebut akan berdampak baik bagi seseorang yang hidup bergelimang informasi seperti saat ini.

 

“Dengan demikian mereka akan berfikir ribuan kali untuk menyebarkan kabar tidak jelas, apalagi membuatnya,” sergahnya.
 

Lantas apa lagi yang harus dilakukan agar bisa selamat di zaman yang serta mudah ini?

 

“Agar bisa terselamatkan dari dampak internet yang semakin mempersempit lapangan kerja formal, saya sarankan untuk kian mendekatkan diri kepada Sang Pemberi Kehidupan melalui sabar dan shalat,” ungkapnya seraya menyebutkan surat al-Baqarah ayat 153.

 

Di akhir sambutan, Gus Zuem berharap agar ilmu yang telah diperoleh para wisudawan bermanfaat. “Selamat untuk para alumni baru Unipdu Jombang, semoga sesedikit apapun yang kalian peroleh menjadi ilmu yang bermanfaat dan berkah untuk semuanya,” pungkasnya.

 

Pewarta: Ibnu Nawawi

Editor: Aryudi AR

 

 

BNI Mobile