IMG-LOGO
Trending Now:
Daerah

Rektor UNU NTB Berharap Mahasiswa Baru Tertular Keikhlasan Pendiri UNU

Kamis 29 Agustus 2019 21:0 WIB
Bagikan:
Rektor UNU NTB Berharap Mahasiswa Baru Tertular Keikhlasan Pendiri UNU
Kuliah Umum mahasiswa baru UNU NTB
Mataram, NU Online
Memasuki Tahun akademik 2019/2020,  Universitas Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara Barat (UNU NTB)  menggelar Taaruf Mahasiswa UNU (Taawanu) bagi mahasiswa baru tahun akademik 2019/2020 yang diadakan pada  Kamis (29/8) di Aula UNU NTB.  
 
Rektor UNU NTB Baiq Mulianah menyampaikan bahwa berdirinya UNU saat ini merupakan usaha keras dari pendiri-pendiri sebelumnya yang dengan ikhlas membangun UNU sehingga mahasiswa mendapatkan energi keikhlasan dengan belajar sungguh-sungguh dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
 
"UNU didirikan dan dibangun oleh para kiai dan ulama NU dengan penuh keikhlasan dan sungguh-sungguh, saya meminta kepada para mahasiswa baru mendapatkan keikhlasan dalam menuntut ilmu agar manfaatnya bisa dirasakan masyarakat," tegasnya.
 
Kepala Dinas Koperasi Dan UKM Provinsi Nusa Tenggara Barat H Lalu Saswadi yang juga hadir dalam sambutannya menegaskan bahwa emansipasi perempuan di  Lombok sangat signifikan efeknya. Selain itu juga peran perempuan dalam kegiatan perekonomian sangatlah penting.  
 
Lebih lanjut dikatakan, mahasiswa baru UNU NTB untuk terus meraih cita-cita dan mau berwirausaha kelak, karena peran kewirausahaan sangat mendorong perekonomian masyarakat.  
 
Direktur Social Trust Fund (STF) UIN Jakarta Amelia Fauzia menjelaskan bahwa kerjasama antara UIN Jakarta dengan UNU NTB adalah salah satu azaz dalam Tridharma Perguruan Tinggi berbasis riset. 
 
"Riset ini bukan sekedar riset tetapi merupakan riset aksi yang muaranya nanti adalah pemberdayaan perempuan secara terus menerus," ungkapnya
 
Penelitian ini dilaksanaakan pada 3 Provinsi dan salah satunya adalah NTB.  Ada 15 mahasiswa UNU NTB yang terpilih yang akan mengikuti pelatihan, ToT serta pendampingan langsung dari pakar. Harapanya Masyarakat yang didampingi mampu beradaptasi dengan perubahan khususnya dunia digital.   
 
Selanjutnya acara ditutup dengan kulaih umum oleh Dekan Pembangunan Pelajar dan Jaringan Komuniti Universiti Selangor Malaysia Prof H Amidi bin Abdul Manan. 
 
Ketua Panitia PMB dan pelaksana kegiatan Taawanu Junaidi dalam laporannya menjelaskan, mahasiswa baru saat ini bukan saja dari NTB tetapi juga dari luar daerah yaitu Bali, Jawa dan Timor Leste.  
 
Hadir pada acara tersebut adalah Ketua BPP UNU NTB, Katib Syuriah PWNU NTB, Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi NTB, Direktur Social Trust Fund (STF) UIN Jakarta.
 
Kontributor: Hadi
Editor: Muiz
Bagikan:

Baca Juga

Kamis 29 Agustus 2019 23:59 WIB
Rektor IAIN Bengkulu: Kritis Boleh, Tapi Harus Santun
Rektor IAIN Bengkulu: Kritis Boleh, Tapi Harus Santun
Ribuan mahasiswa baru IAIN Bengkulu ikuti Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) di kampus tersebut, Rabu (28/8). (Foto: Imam KA/NU Online)
Bengkulu, NU Online
Rektor IAIN Bengkulu Sirojuddin berharap agar mahasiswa baru menjadi orang-orang yang kritis. Akan tetapi, harus mempunyai konsep sehingga berguna untuk masyarakat.
 
“Sampaikanlah kritik dengan tanggung jawab dan akademis. Tetapi harus santun dan mengedepankan akhlakul kaimah,” kata Sirojuddin saat memberi sambutan pada pembukaan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) IAIN Bengkulu tahun Akademik 2019/2020, Rabu (28/8).
 
Mahasiswa baru, lanjut dia, merupakan calon pemimpin di masa mendatang. “Anda semua adalah calon-calon pemimpin di masa depan yang hari ini memulai babak baru menjadi mahasiswa. 3-4 tahun lagi akan memakai toga sebagai sarjana dan kelak bisa jadi akan menggantikan kami-kami menjadi pimpinan di kampus ini,” ujar Rektor.
 
Sirojuddin melanjutkan, untuk menjadi mahasiswaunggul harus berpegang dan berkomitmen pada Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu penelitian, pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat. “Belajar dan terus belajar menggali ilmu adalah kunci sukses menjadi insan akademik. Namun, jangan melupakan tugas sosial agar tidak menjadi intelektual di menara gading,” tandasnya.
 
Pesan lain dari Rektor IAIN yang sedang bersiap menjadi UIN adalah agar mahasiswa binaannya menjadi bagian dari penebar Islam rahmatan lil alamin. “Munculnya paham radikal dan intoleransi harus menjadi keprihatinan bersama dan Anda bertanggung jawab menjadi bagian penting untuk meng-counter mereka,” tegas doktor jebolan Universitas Brawijaya Malang ini. 
 
Mahasiswa, Elit Intelektual
Kasubdit Sarana, Prasarana, dan Kemahasiswaan Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Ditjen Pendidikan Islam Kemenag RI Ruchman Basori mengatakan, mahasiswa adalah kelompok elit intelektual yang telah berperan penting dalam setiap perubahan sosial politik di negeri ini.
 
“Munculnya kebangkitan nasional 1908, supah pemuda 1928, kemerdekaan 1945, fakta angkatan 1966 hingga perjuangan reformasi 1998, tidak lepas dari peran mahasiswa,” kata Ruchman.
 
Aktivis ’98 ini meminta agar potensi yang dimiliki mahasiswa di kampus dikembangkan betul sehingga kelak menjadi sosok sarjana yang dinanti kehadirannya oleh masyarakat. “Menjadi profesional saja tidaklah cukup. Tetapi, harus diimbangi dengan kepedulian sosial dan itu nanti akan dilatih dalam pelbagai organisasi kemahasiswaan di PTKI ini,” ujarnya.
 
Mantan Ketua Senat Mahasiswa IAIN Walisongo Semarang yang didaulat menyampaikan orasi Penguatan Moderasi Beragama dan Wawasan Kebangsaan ini berpesan kepada mahasiswa untuk waspada terhadap kelompok radikal dan intoleran yang bisa muncul dalam kehidupan kita termasuk dalam jagad media sosial kita.
 
Karenanya, ia meminta mahasiswa untuk berada di garda terdepan moderasi beragama di Indonesia. “Anda semua harus belajar Islam pada sumber-sumber keagamaan yang otoritatif, menjadi warga media sosial yang sehat, meng-counter kelompok-kelompok yang intoleran dan cara-cara kekerasan“, tegas kandidat doktor Universitas Negeri Semarang ini.
 
Kegiatan yang berlangsung tiga hari, Rabu-Jumat, 28-30 Agustus 2019 ini diikuti oleh 2.223 orang. Dua di antaranya mahasiswa asal India. Pemukulan empat bedug yang ditabuh bersama-sama oleh Rektor, Wakil Rektor III, Kasubdit Sarpras dan Kemahasiswaan, dan Wakil Ketua III STAIN Bengkalis Wira Sugiarto menandai dibuka resminya PBAK IAIN Bengkulu.
 
Turut hadir, Wakil Rektor I Zulkarnain Dali, Wakil Rektor II Moh Dahlan, Direktur Pascasarjana Rokhimin, para dekan, ketua lembaga, Ketua SEMA, Ketua DEMA, dan pimpinan organisasi mahasiswa (ormawa) lainnya serta segenap sivitas akademika kampus tersebut.
 
 
Kontributor: Imam Kusnin Ahmad
Editor: Musthofa Asrori
Kamis 29 Agustus 2019 23:15 WIB
Hadir di MAN 1 Kota Pekalongan, Habib Murtadho Yaman Ijazahkan ‘Ratibul Attas’
Hadir di MAN 1 Kota Pekalongan, Habib Murtadho Yaman Ijazahkan ‘Ratibul Attas’
Habib Murtadho bin Abu Bakar bin Thohir dari Hadramaut, Yaman (tengah)
Pekalongan, NU Online
Habib Murtadho bin Abu Bakar bin Thohir dari Hadramaut, Yaman dalam kunjungannya ke Indonesia, menyempatkan hadir bertemu guru dan pelajar di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Kota Pekalongan, Jawa Tengah, Kamis (29/8). 

Selain memberikan taushiyah, Habib Murtadho yang juga salah satu cicit Habib Abdullah bin Husein al-Hadhrami pengarang kitab Sullamut Taufiq, pengarang kasidah Ya Arhamar Rohimin, Salamullahi Ya Sadat, dan Ya Robbana’tarofna, memberikan ijazah Ratibul Attas untuk diamalkan seluruh civitas MAN 1 Pekalongan.

Kepala MAN 1 Kota Pekalongan H Ahmad Najid mengaku gembira Habib Murtadho berkenan hadir di MAN 1 Kota Pekalongan untuk memberikan wejangan kepada guru dan siswa sekaligus santri 'Darul Ulum'.

"Alhamdulillah, banyak manfaat yang diperoleh dari kunjungan Habib Murtadho dari Yaman kepada siswa dan santri Islamic Boarding School 'Darul Ulum'. Semoga ke depan para syekh dan habib dari dalam maupun luar berkenan untuk singgah dan memberikan ilmunya," ujarnya.

Dikatakan Najid, kedatangan Habib Murtadho ke MAN 1 Kota Pekalongan merupakan berkah yang luar biasa. “Semoga dengan kehadirannya dapat mendoakan dan memberikan pencerahan kepada Siswa MAN 1 Kota Pekalongan juga Santri Islamic Boarding School Darul Ulum," tuturnya.

Dalam tausiahnya, Habib Murtadho menyampaikan bahwa pencari ilmu adalah orang yang sangat beruntung, karena itu akan menjadi jalan bagi mereka untuk mendapat ridha dari Allah swt. 

"Ketika  kalian belajar umpamakan kalian seperti melihat HP, Ketika anda senang dengan bermain HP, bermain medsos, waktu bermain 4 jam bahkan sampai semalam pun tidak terasa bahkan mengantuk pun tidak," jelasnya.

Dikatakannya, pencari ilmu harus terlebih dahulu mencintai agar menerima ilmu menjadi mudah. Selain itu perlu diingat bahwa orang yang berilmu, hafal Al-Qur'an, dan sebagainya tetapi jika akhlaknya buruk, maka tidak ada gunanya. 

"Oleh karena itu kita senantiasa dituntut menjadi orang yang berilmu dan berakhlak mulia," pesan Habib Murtadho yang juga Pengasuh Pesantren Ad-Dien Tarim Hadramaut Yaman. 

Kepada NU Online, Wakil Kepala Bidang Kesiswaan Najibul Mahbub menjelaskan, dalam tausiah berbahasa Arab yang diterjemahkan Ustadz Fathul Ied, Habib Murtadho mengaku senang atas sambutan yang meriah dan luar biasa dari siswa siswi MAN 1 Kota Pekalongan dan mengucapkan terima kasih atas kesempatan yang diberikan.

Pewarta: Muiz
Editor: Muchlishon
Kamis 29 Agustus 2019 23:0 WIB
Heru Purnomo, Sukses Bertani tanpa Lahan
Heru Purnomo, Sukses Bertani tanpa Lahan
Heru Purnomo Setia Budi, petani asal Desa Pace, Kecamatan Silo, Kabupaten Jember, Jawa Timur sukses menjadi petani jagung meski tidak punya lahan sendiri. (Aryudi AR/NU Online)
Jember, NU Online 
Ingin sukses sebagai petani, tidak harus memiliki lahan. Sebab lahan bisa didapat dengan cara pinjam atau sewa. Inilah yang dilakukan oleh Heru Purnomo Setia Budi. Tokoh muda asal Desa Pace, Kecamatan Silo, Kabupaten Jember, Jawa Timur ini adalah asli petani. Meski pun petani, jangan dibayangkan dia punya sawah berhektare-hektare. Sebab dia petani biasa dengan sawah sekadarnya. Tapi boleh dikata dia pemuda yang sukses di desanya.

“Saya bukan tuan tanah. Saya bertani justru dapat dari menyewa untuk ditanami jagung dan sebagainya,” kata Heru kepada NU Online di kediamannya, Senin (26/8).

Menurut Heru, memiliki sawah memang penting. Namun itu bukan satu-satunya modal bagi petani untuk berusaha. Justru yang teramat penting adalah semangat untuk maju sebagai petani. Dengan semangat yang membara, segala cara bisa dilakukan. Jika lahannya didapat dari menyewa, maka tentu saja petani harus bekerja lebih keras lagi. Sebab kegiatan bertaninya dibatasi oleh waktu.

“Jadi lahan sewaan beda sekali dengan sawah milik sendiri. Kalau sawah milik sendiri, katakanlah misalnya tanamannya rusak, kita hanya rugi kerja dan modal bibit dan sebagainya. Tapi jika lahannya sewa, kita rugi modal dan rugi uang sewa sawah juga,” urainya.

Walaupun demikian, sebagaimana usaha yang lainnya, bertani juga tidak selamanya untung. Heru sendiri mengaku pernah beberapa kali rugi karena gagal panen. Namun dari kegagalan itu ia justru bisa belajar agar tidak mengalami kegagalan di masa berikutnya. Petani sejati tidak pernah menyerah terhadap kegagalan yang dialaminya.
 
“Jangan mudah menyerah. Kegagalan harus menjadi pupuk yang bisa menyuburkan semangat,” ucanya.

Wakil Ketua Ikatan Alumni Universitas Islam Jember (UIJ) itu pantas berkata demikian. Sebab ia telah membuktikan bahwa kegagalan yang dideritanya dalam bertani justru membuatnya semakin tertantang untuk bertani dengan lebih baik. Dan kenyataannya, dari kegiatannya bertani jagung itu, hidupnya berkecukupan. Ia yang awalnya hanya memiliki lahan kurang dari setengah hektar, kini ia menguasai lahan berhektare-hektare dengan sistem sewa jangka panjang. Lahan-lahan itu ditanami jagung.

“Kebetulan di desa saya, jagung cocok karena tanahnya agak kering. Tanaman lain seperti padi juga bisa sebenarnya,” urainya.

Sekretaris Himpunan Kerukunan  Tani Indonesia (HKTI) Cabang Jember itu mengaku bersyukur pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) RI terus menggelontorkan bantuan input, misalnya yang mereka terima benih jagung hibrida. Dikatakan Heru,  bantuan benih jagung (dan juga padi) tersebut sangat membantu meningkatkan produksi jagung nasional. Selain gratis, kualitas benih jagung tersebut cukup bagus.

Heru berharap agar semangat anak-anak muda untuk bertani tak pernah surut. Sebab bertani juga pekerjaan yang menjanjikan sekaligus membantu pemerintah menjaga stabilitas produksi pangan. Indonesia adalah negara agraris, maka sektor perhatian seharusnya menjadi prioritas pemerintah agar anak-anak di desa betah bertani, tidak lari ke kota untuk mencari penghidupan.

Jagung sendiri, sejak awal  merupakan makanan pokok orang desa. Namun saat ini peminat nasi jagung sudah berkurang jauh dibandingkan dengan dulu karena masyarakat lebih memilih nasi putih untuk dikonsumsi.

“Di dapur masyarakat biasanya masih tersimpan jagung kering untuk sewaktu-waktu dimasak sebagai campuran nasi putih. Selebihnya hasil panennya dijual,” ucap Heru.

Namun persoalannya bukan karena masyarakat mulai mengurangi konsumsi nasi jagung. Tapi harga jagung sangat fluktuatif, bahkan terkadang merugikan petani. Tak jarang masyarakat yang sudah begitu menggebu menanam jagung tapi akhirnya harus gigit jari lantaran harga jual jagung di bawah standar. 

“Akhirnya petani babak belur,” tuturnya.

Saat ini petani jagung tengah ‘berbunga-bunga.’ Pasalnya harga jual jagung di tingkat petani cukup menggembirakan, yaitu berkisar Rp 4.000/kilogram jagung pipil kering. Harga tersebut, menurut Heru, sangat wajar dan terjangkau baik untuk pengepul maupun petani sendiri. Sama-sama untung. 

Karena itu, lelaki kelahiran Jember 1 April 1974 ini menyambut baik langkah Kementan yang dengan tegas menolak rencana impor  jagung. Sebab impor jagung dikhawatirkan akan merusak stabilitas harga jagung di tingkat petani. Menurutnya, justru yang harus dilakukan adalah menggenjot produksi  jagung dalam negeri se-optimal mungkin dengan berbagai stimulan dan program yang terarah, agar pada saat yang sama juga tergiur untuk bertani jagung.

“Stimulan harus diberikan, apapun bentuknya agar masyarakat tidak malas untuk bertani (jagung),” ucapnya.

Sebagai negara agraris, tentu miris jika Indonesia masih kekurangan pangan, termasuk jagung. Semangat masyarakat untuk bertani harus terus digelorakan. Pemerintah tak boleh lalai untuk menggelontorkan paket stimulan sebagai salah satu pemicu gelora petani. Tanpa itu, bisa jadi ke depan Indonesia sebagai negara agraris hanya tinggal nama.
 
Pewarta: Aryudi AR
Editor: Muchlishon
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG