IMG-LOGO
Internasional

Kuliah di Al-Azhar dan Aktif di NU Mesir

Sabtu 31 Agustus 2019 3:0 WIB
Bagikan:
Kuliah di Al-Azhar dan Aktif di NU Mesir
Ahmad Fariq Asybal di depan masjid Al-Azhar Mesir (IG Ahmad Fariq Asybal)
Jakarta, NU Online
Akhirnya tiba juga waktunya bagi Ahmad Fariq Asybal Aufa berangkat ke Negeri Kinanah setelah melewati penantiannya yang cukup panjang. Setahun memang terasa cukup lama untuk sebuah waktu yang ditunggu-tunggu kehadirannya. Tetapi, waktu panjang itu tentu tak disia-siakannya untuk berleha-leha.

“Masih terngiang kenangan itu, dimana saya berjuang mengurus pemberkasan, mempersiapkan untuk tes dan menunggu sampai ada setahun. Selama setahun menunggu saya isi dengan ngaji, menghafal Al-Quran, dan mematangkan persiapan saja,” katanya kepada NU Online pada Jumat (30/8).

Pria asal Pondok Pesantren Buntet, Cirebon, Jawa Barat itu telah mendarat dengan selamat di Bandara Internasional Kairo, Mesir, pada Rabu (28/8). Ia dan 28 orang lainnya langsung disambut oleh Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Mesir dan Pimpinan Cabang Istimewa (PCI) Gerakan Pemuda Ansor Mesir.

Fariq dan teman-temannya akan lebih memperdalam lagi berbagai ilmu pengetahuan agama salah satu kampus tertua di dunia, yakni Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir atas beasiswa kampus tersebut yang bekerjasama dengan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Mahasiswa kelahiran Desember 1997 itu sedianya tidak langsung mengikuti kuliah. Pasalnya, ia harus lebih dulu mengikuti sekolah bahasa yang disiapkan oleh kampus. Namun, ia sudah memiliki rencana untuk mengambil studi Aqidah Filsafat di Fakultas Ushuluddin.

“Rencananya kalau sudah kuliah, saya mau mengambil Fakultas Ushuluddin Jurusan Aqidah Filsafat,” ujarnya.

Keputusannya itu tentu saja bukan tanpa alasan dan latar belakang. Ia begitu dekat dengan paman sekaligus gurunya, yakni KH Ade M Nasihul Umam, yang juga menamatkan studinya di kampus yang kini ia tempati. Di matanya, sikap Kiai Ade membuat semua orang yang nyaman.

“Karena saya terinspirasi dari guru saya KH Ade Nasihul Umam. Beliau orang berakhlak mulia, bijaksana, sabar dan siapapun yang berada didekatnya selalu merasa nyaman,” ujarnya.

Filsafat, terangnya, memberikan perspektif luas dan mendalam atas suatu hal sehingga memberikan kebijaksanaan dalam bersikap. “Memandang segala hal dari banyak sisi yang membuat kita mengerti tentang apa arti kebijaksanaan,” katanya.

Sebelum berangkat ke Mesir, ia dan rekan-rekannya lebih dulu mengikuti pembekalan selama tiga hari, sejak Ahad hingga Selasa (25-27/8) di Pondok Pesantren Al-Tsaqafah, Ciganjur, Jakarta Selatan, yang diasuh oleh KH Said Aqil Siroj.

“Di situ, kami dibekali tentang bagaimana mahasiswa Indonesia Mesir (Masisir). Konon, Indonesia memiliki organisasi kekeluargaan terbanyak di sini (Mesir) dibandingkan negara lain,” jelasnya. 

Saat itu, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menyampaikan kepada para mahasiswa utusan PBNU bahwa Mesir merupakan kiblat keilmuan. “Mesir itu Kakbah fil ulum (Kabah dalam bidang keilmuan) karena di sana hampir semua ilmu berkembang, baik dari jalur kuliah atau jalur talaqi (mengaji),” kata Kiai Said kepada para peserta.

Pada kesempatan tersebut, para mahasiswa utusan PBNU itu juga ditekankan untuk turut menghidup-hidupi PCINU Mesir. Fariq jadi teringat dengan penggalan syiir yang dibuat oleh abahnya, KH Cecep Nidhomuddin, wa bil firqatin Nahdliyah qum wa ‘iz biha, bangun dan muliakanlah NU!.

Fariq berangkat dari Pondok Buntet Pesantren pada Sabtu (24/8) malam. Sebelum berangkat ke Jakarta, ia didampingi kedua pamannya, KH Ade Nasihul Umam dan KH Tb Ahmad Rifqi Chowas, shalat safar lebih dahulu di Masjid Agung Pondok Buntet Pesantren.
 
 
Pewarta: Syakir NF
Editor: Abdullah Alawi
Bagikan:

Baca Juga

Sabtu 31 Agustus 2019 23:0 WIB
Ikuti Pertukaran Pemuda Muslim di Taiwan, IPNU Kenalkan Batik sebagai Pakaian untuk Ibadah
Ikuti Pertukaran Pemuda Muslim di Taiwan, IPNU Kenalkan Batik sebagai Pakaian untuk Ibadah
Wakil Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama Achnaf Al-Asbahani di Meseum Nasional Sejarah Taiwan (Foto: Achnaf Al-Asbahani/NU Online)
Jakarta, NU Online
Wakil Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Achnaf Al-Asbahani menjadi salah satu peserta dalam kegiatan Taiwan Youth Exchange Program 2019 yang digelar pada 25-31 Agustus 2019 di Kota Taipei dan Tainan.

Dalam kegiatan tersebut, ia dan para peserta lainnya dari berbagai negara di Asia dikenalkan dengan kondisi Islam yang berkembang di negeri yang mencakup Kepulauan Taiwan, Kepulauan Pescadores, Quemoy, dan Kepulauan Matsu itu.

“Di Taiwan para pemuda Muslim dari berbagai negara saling berbagi informasi bagaimana kondisi Islam di negara masing-masing,” katanya kepada NU Online pada Jumat (31/8).

Achnaf menjelaskan bahwa meskipun minoritas, masyarakat Muslim mendapatkan tempat yang setara karena toleransi menjadi sikap masyarakat di sana. “Minoritas banget, tapi toleransi warga nya luar biasa,” katanya.

Ia menceritakan bahwa selama di negara tersebut, ada ruang khusus yang disediakan untuk melaksanakan shalat. “Kalau kita mau shalat, mereka kosongkan satu ruangan untuk tempat kita shalat,” ucapnya.

Pun saat makan. Ia mendapatkan perlakuan khusus dengan disiapkan alat-alat makan tersendiri. “Sarapan di hotel, kita (Muslim) selalu disiapkan piring dan alat-alat makan khusus untuk ambil makanan-makanan halal,” katanya.

Tidak hanya itu, para peserta juga berbagi kondisi perkembangan Islam di negerinya masing-masing. Achnaf tentu saja berkisah tentang keislaman Indonesia yang ramah nan sejuk. “Saya menyampaikan sejuknya Islam di Indonesia yang budaya lokal pun bisa diimplementasikan dalam beribadah,” jelasnya.

Ia mencontohkan batik sebagai salah satu budaya Indonesia. Pakaian yang khas Indonesia dengan memiliki motif unik dari masing-masing daerahnya itu sudah biasa digunakan oleh masyarakat Muslim di Indonesia untuk beribadah.

“Batik adalah budaya Indonesia, sedangkan Muslim Indonesia tak jarang menggunakan batik untuk shalat dan ibadah lainnya,” ceritanya.

Tentunya bagi muslim di luar Indonesia, hal itu sangat menarik mengingat tidak didapati di negara selain Indonesia. Dengan begitu, katanya, mereka tertarik berkunjung ke Indonesia untuk menyaksikan langsung bagaimana muslim di Indonesia.

Selain dikenalkan tentang keislaman di sana dan berbagai negara di Asia, ia dan peserta lainnya juga diajak mengunjungi istana presiden, masjid, dan kampus. Ia juga belajar beberapa teknologi yang digunakan oleh negara Taiwan dalam berbagai bidang, seperti pertanian, perkebunan, green house.
 
Pewarta: Abdullah Alawi
Editor: Kendi Setiawan
Sabtu 31 Agustus 2019 19:15 WIB
Indonesia-Jepang Pererat Kerja Sama Sektor Ketenagakerjaan
Indonesia-Jepang Pererat Kerja Sama Sektor Ketenagakerjaan
Menaker M Hanif Dhakiri dalam pertemuan bilateral dengan Governor of Ehime Prefecture Jepang Tokohiro Nakamura di Matsuyama, Sabtu (31/8).
Matsuyama, NU Online
Menteri Ketenagakerjaan M Hanif Dhakiri memberikan apresiasi atas kerja sama yang telah terjalin selama ini antara Ehime Prefecture Jepang dan Pemerintah Indonesia. Kerja sama ini diharapkan dapat tetap terjalin dengan baik dan terus ditingkatkan dengan area kerja sama yang baru di bidang ketenagakerjaan.
 
Saat ini pemerintah Indonesia telah melakukan kerja sama dengan Ehime Prefecture Jepang dalam beberapa bidang ketenagakerjaan antara lain pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) dan peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan vokasi. 
 
"Kerja sama ini akan terus kita jalin guna meningkatkan keterampilan anak muda Indonesia dan instruktur Balai Latihan Kerja (BLK),” kata Menteri Ketenagakerjaan M Hanif Dhakiri saat melakukan pertemuan bilateral dengan Governor of Ehime Prefecture Jepang Tokohiro Nakamura di Matsuyama, Sabtu (31/8).
 
Guna memperluas kerja sama peningkatan kapasitas dan kualitas kejuruan otomotif di BLK-BLK milik Kementerian Ketenagakerjaan dan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) lanjut Hanif maka dipandang perlu untuk pembicaraan kerja sama lebih lanjut dengan EHIME dan Japan Internasional Cooperation Agency (JICA).
 
"Kerja sama lebih lanjut dengan Ehime Toyota Motor dan JICA diharapkan dapat ditingkatkan untuk program sertifikasi kompetensi dan memberikan kesempatan bagi para instruktur-instruktur BLK berprestasi untuk praktik langsung di perusahaan Ehime Toyota Motor di Jepang," kata Hanif.
 
Selain itu, upaya meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi fokus pemerintah Indonesia saat ini juga terus digenjot. Salah satu caranya melalui kerja sama program pemagangan luar negeri.
 
"Saya tadi berbicara dengan Governor Ehime (pemerintah Jepang) untuk dapat mendorong perusahaan-perusahaan di Ehime Jepang memberikan kesempatan bagi para peserta pemagangan dari Indonesia," kata Hanif.
 
Kepala Biro Kerja Sama Luar Negeri Kemnaker Indah Anggoro Putri mengatakan saat ini pemerintah terus menggandeng perusahaan-perusahaan swasta untuk bekerja sama meningkatkan kompetensi dan mutu pelatihan kerja di BLK. 
 
"Hal ini dilakukan agar lulusan pelatihan sesuai dengan kebutuhan industri dan pasar kerja serta menjadi tenaga kerja terampil. Tenaga kerja terampil penting bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berkeberlanjutan juga untuk mengoptimalkan puncak bonus demografi pada 2035," kata Putri.
 
Pemerintah Indonesia dan Ehime Prefecture Jepang menjalin kerja sama antara lain dalam pengembangan kejuruan otomotif berstandar Toyota di BLK Bantaeng Tahap I (Januari 2016  hingga Juli 2018); pengembangan kejuruan otomotif berstandar Toyota di BLK Bantaeng Tahap II (Juli 2019-Agustus 2022). Kemudian, pemagangan di berbagai bidang yaitu agriculture, fishery, construction, food manufacturing, textile, machinery, dll; peningkatan SDM dan bidang lainnya, kerja sama antara Ehime Prefecture dengan Provinsi Sulawesi Selatan. 
 
Kerja sama program pelatihan teknisi otomotif di BLK melatih angkatan pertama selama dua tahun dengan materi ajar yang berstandar internasional. Total peserta pelatihan angkatan pertama sebanyak 16 orang dengan rincian enam instruktur dan sepuluh pencari kerja. Program pelatihan ini dilanjutkan dengan melatih peserta pelatihan angkatan kedua yang rencananya akan melatih 50 orang instruktur kejuruan otomotif yang berasal dari 13 BLK milik Kemnaker.
 
Hadir pada pertemuan bilateral ini yaitu Konsul Jenderal RI di Osaka Mirza Nurhidayat, Dirjen PHI dan Jamsos Haiyani Rumondang, Kepala Biro Kerja Sama Luar Negeri Indah Anggoro Putri.
 
Red: Kendi Setiawan
Sabtu 31 Agustus 2019 18:15 WIB
Manfaatkan Waktu di Madinah, Jamaah Haji Indonesia Gelar City Tour
Manfaatkan Waktu di Madinah, Jamaah Haji Indonesia Gelar City Tour
Masjid Quba Madinah (foto: moeslimchoice.com)
Madinah, NU Online
Menyegarkan suasana sekaligus menambah ibadah dan pengalaman selama di Madinah, Jamaah haji berkesempatan melaksanakan kegiatan berkeliling kota yang menjadi tempat hijrahnya Nabi Muhammad SAW tersebut.
 
Kegiatan yang difasilitasi oleh pemerintah Indonesia bekerjasama dengan maktab ini menuju beberapa titik kunjungan di antaranya Masjid Quba, Masjid Qiblatain, Jabal Uhud, dan Kebun Kurma.
 
Jurnalis NU Online, Muhammad Faizin, berkesempatan ikut dalam kegiatan yang dinamakan city tour tersebut bersama rombongan jamaah haji kloter JKG 51, Sabtu (31/8).
 
 Berdasarkan pantauan, para jamaah sangat menikmati kunjungan tersebut. 
Seperti kunjungan ke Masjid Quba yang berjarak sekitar 10 kilometer dari Masjid Nabawi. Sesampainya di masjid yang pertama kali dibangun oleh Nabi Muhammad ini, para jamaah langsung memasuki masjid dan melaksanakan shalat tahiyatul masjid serta shalat sunnah lainnya.
 
"Semoga kita mendapat keberkahan dengan mengunjungi masjid yang dibangun Rasul ini," harap Ahmad, jemaah yang ikut serta dalam rombongan tersebut.

Selain melaksanakan ibadah, sebagian jamaah juga mengabadikan momen berada di tempat bersejarah tersebut dengan berfoto dan membeli berbagai jenis cinderamata dan oleh-oleh khas Arab.
 
Sementara pada kunjungan ke kebun kurma, para jamaah berkesempatan melihat secara langsung proses penanaman dan pemanenan buah kurma. Jamaah juga berkesempatan memetik dan menikmati sendiri kurma langsung dari pohon.
 
"Ini baru pertama kali saya melihat dan memetik langsung buah kurma dari pohonnya. Kalau di Indonesia bisa tumbuh tapi saya belum pernah lihat yang berbuah," kata Warsito, salah satu jamaah kloter tersebut.
 
Jamaah juga berkesempatan melihat berbagai jenis kurma yang semua sudah disediakan oleh pemilik kebuh untuk dibeli dan menjadi oleh-oleh untuk keluarga di tanah air. Di antara jenis kurma yang disediakan seperti Kurma Azwa, Sukari, khidri, safawi, dan lain-lain.
 
Fasilitas city tour ini merupakan bentuk pelayanan kepada jamaah di samping akomodasi dan hotel yang representatif. Untuk di Madinah, jarak hotel dengan masjid relatif lebih dekat dibanding saat berada di Makkah.
 
Di Madinah, jarak hotel dan Masjid Nabawi bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Jamaah selalu terlihat berbondong-bondong menuju dan memenuhi Masjid Nabawi untuk melakukan sunnah Arbain (shalat jamaah 40 waktu secara berturut-turut di Masjid Nabawi). 
 
Mereka juga tidak ketinggalan melakukan ziarah ke makam Rasulullah dan masuk ke area Raudhah. Jamaah haji berada di Kota madinah antara 8 sampai 10 hari. 
 
Bagi jamaah haji Indonesia gelombang pertama akan langsung menuju Madinah dulu sebelum ke Makkah. Bagi jamaah gelombang kedua, Kota Madinah menjadi tempat kunjungan kedua setelah melaksanakan rangkaian ibadah haji di Kota Makkah. 
 
Pewarta: Muhammad Faizin
Editor: Muiz
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG