IMG-LOGO
Trending Now:
Humor

Dempul Kapal Angkatan Laut

Sabtu 31 Agustus 2019 15:0 WIB
Bagikan:
Dempul Kapal Angkatan Laut
Ilustrasi Gus Dur.
Suatu saat Muhammad AS Hikam sowan menemui Gus Dur. Sampai di kediaman, Hikam mengetahui Gus Dur sedang beri’tikaf.

Seketika itu, Hikam langsung menyimpuhkan diri di belakang Gus Dur. Mengetahui ada orang hendak menemuinya, Gus Dur menengok dan membalikan badan.

Obrolan berjalan ringan dan santai. Presiden ke-4 RI dan mantan menterinya itu membincang persoalan kebangsaan yang seolah tak ada habisnya.

Sampailah obrolan tentang kekuatan pertahanan Indonesia. Gus Dur tidak memungkiri bahwa kekuatan pertahanan nasional harus terus dikembangkan.

“Tapi kata TNI persenjataan kita itu kuat lho, Gus,” sergah Hikam.

“Kuat apanya? Kang, kalau misalnya perang di laut, kapal angkatan luat kita belum sampai ditembak pun sudah tenggelam. Tahu sampean kenapa?” kata Gus Dur sambil nyengir.

“Kenapa, Gus?”

“Karena keberatan dempul untuk nambal kapal-kapal kita,” jawab Gus Dur terkekeh. (Fathoni)

*) Disarikan dari buku "Gus Durku, Gus Dur Anda, Gus Dur Kita" (Muhammad AS Hikam, 2013)
Tags:
Bagikan:

Baca Juga

Kamis 29 Agustus 2019 16:45 WIB
Kementerian Keuangan dan Kementerian Angkatan Laut
Kementerian Keuangan dan Kementerian Angkatan Laut
Bendera Liberia. (via apkpure.com)
Pada suatu hari, Negara Liberia mendapat surat dari Pemerintah Swiss untuk menjalin MoU. Penjajakan kerja sama antara keduanya menghasilkan keputusan bahwa Swiss meminta bantuan Liberia untuk membentuk Kementerian Angkatan Laut.

Swiss meminta kesediaan para pakar departemen pertahanan Liberia untuk untuk mendirikan Kementerian Angkatan Laut di negaranya.

Pemerintah Liberia agak bingung karena Swiss sama sekali tidak memiliki wilayah kelautan. Akhirnya, Liberia mengirimkan surat yang mempertanyakan hal tersebut.

Tak disangka, jawaban Pemerintah Swiss cukup menggelikan: "Bukankah Liberia juga memiliki Kementerian Keuangan?"

Liberia merupakan salah satu negara termiskin di dunia. Tahun 2010 lalu, 80 persen penduduk Liberia memiliki pendapatan kurang dari $ 1.25 per harinya. PDB per kapita Liberia tercatat hanya sebesar $ 454,30. (Fathoni)
Rabu 28 Agustus 2019 22:20 WIB
Saat Bendera Belanda Berkibar di Papua
Saat Bendera Belanda Berkibar di Papua
Ilustrasi Pulau Papua (ist)
Lewat strategi diplomasi ‘Cancut Tali Wondo’ yang diinisiasi oleh KH Abdul Wahab Chasbullah, pada 1961 Irian Barat (kini Papua) berhasil dibebaskan dan dikembalikan ke pangkuan Republik Indonesia dari penjajahan Belanda.

Beberapa tahun silam setelah perjuangan besar tersebut, bendera Belanda kembali berkibar di salah satu rumah warga di Irian Jaya (kini Papua) tepatnya pada 7 Juli 1998.

Mengetahui hal itu, pihak keamanan segera menuju lokasi di mana bendera Belanda berkibar. Setelah dicek ternyata bendera tersebut dikibarkan oleh warga Irian Jaya bernama Jhon Wanggai.

Tiga polisi kemudian menuju rumah Jhon Wanggai. Wanggai terlihat tenang, tak panik. Pria berusia 39 tahun itu berprofesi sebagai advokat.

"Ada apa ini?" kata Wanggai.

"Saudara mengibarkan bendera Belanda. Saudara kami tangkap," kata seorang polisi sambil menarik tangan Wanggai.

Wanggai menampik tarikan tangan polisi. "Bapak polisi ini kurang kerjaan, eh? Saya memang mengibarkan bendera Belanda, karena saya pendukung kesebelasan Belanda. Lihat tuh!” ucapnya.

Ternyata Wanggai menunjuk kepala suku setempat yang rumahnya berjarak 200 meter ke arah bawah.

"Itu bendera Brasil berkibar," tegas Wanggai.

"Ooh..Demam Piala Dunia," kata polisi malu.

Pada 7 Juli 1998, Timnas Belanda memang bertemu dengan Tim Samba Brasil di babak perempat final Piala Dunia 1998 di Perancis. Warga dunia menikmati pertandingan tersebut, termasuk di Papua. (Ahmad)
Selasa 27 Agustus 2019 19:30 WIB
Indonesia dan Peru soal Pindah Ibu Kota
Indonesia dan Peru soal Pindah Ibu Kota
Bendera Peru dan Republik Indonesia. (ist)
Wacana pemindahan ibu kota negara oleh pemerintah memunculkan banyak reaksi dari masyarakat Indonesia di seluruh daerah. Ada yang pro, tidak sedikit pula yang kontra dengan program tersebut.

Di sudut sebuah desa di Madura, Jawa Timur, dua pemuda bernama Idin dan Jamal ikut membincang persoalan pemindahan ibu kota.

“Kenapa sih ibu kota harus pindah segala?” tanya Idin mengawali perbincangan.

“Itu bagus, biar ada pemerataan pembangunan,” jawab Jamal diplomatis.

“Loh, emang untuk meratakan pembangunan harus pindah ibu kota?” Idin terus berusaha kritis.

“Emang kenapa sih Din? Indonesia hanya punya satu ibu kota jadi gampang memindahkannya. Coba bayangkan dengan negara Peru,” Jamal mulai keki.

“Emang ada apa dengan Peru?” Idin penasaran.

“Mereka punyai ibu kota Lima,” seloroh Jamal. (Fathoni)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG