Muslimat NU Perkuat Media KIE untuk Germas dan Pencegahan Stunting

Muslimat NU Perkuat Media KIE untuk Germas dan Pencegahan Stunting
Tim Germas dan Pencegahan Stunting PP Muslimat NU dengan Kepala Balai Kesehatan Masyarakat Wilayah Magelang (UPT Dinkes Provinsi Jateng), Sigit Setya Boedi di Pesantren Al-Azhary Ajibarang, Banyumas, Jawa Tengah.
Tim Germas dan Pencegahan Stunting PP Muslimat NU dengan Kepala Balai Kesehatan Masyarakat Wilayah Magelang (UPT Dinkes Provinsi Jateng), Sigit Setya Boedi di Pesantren Al-Azhary Ajibarang, Banyumas, Jawa Tengah.
Banyumas, NU Online
Proses menggerakkan partisipasi umat dalam gerakan masyarakat hidup sehat (germas) dan pencegahan stunting dilakukan Pimpinan Pusat Muslimat NU dengan memperkuat media komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE). Ini menunjukkan bahwa proses orientasi dan mobilisasi perlu dikembangkan lebih lanjut melalui publikasi secara luas.

Pemberian Media Komunikasi Informasi dan Edukasi Germas dan Pencegahan Stunting dilaksanakan Muslimat NU pada 5 pondok pesantren dan 5 majelis taklim oleh Tim Germas PP Muslimat NU di Pondok Pesantren Modern Al-Azhary, Banyumas, Jawa Tengah, Jumat (30/8).

“Media KIE diharapkan dapat memberikan informasi lebih luas kepada masyarakat mengenai pentingnya Gerakan Masyarakat Hidup Sehat dan Pencegahan Stunting,” jelas Ketua Tim Germas Hj Erna Yulia Soefihara kepada NU Online lewat pesan singkatnya, Jumat (30/8) malam.

Media komunikasi, informasi, dan edukasi diberikan langsung oleh Erna Yulia Soefihara dan Kepala Balai Kesehatan Masyarakat Wilayah Magelang (UPT Dinkes Provinsi Jateng), Sigit Setya Boedi.

Sebelumnya, Ketua IV PP Muslimat NU Nyai Hj Aniroh Slamet Effendy Yusuf yang memimpin mobilisasi tersebut mengajak kepada pengasuh, santri, dan dewan asatidz untuk menggerakkan pola hidup sehat. Gerakan hidup sehat ini juga dalam rangka mencegah penyakit stunting kepada anak-anak.

“Dengan kegiatan ini diharapkan masyarakat khususnya Banyumas dan Indonesia sadar akan pentingnya cara hidup sehat dan sadar untuk bersama-sama mencegah stunting untuk menciptakan generasi penerus yang lebih baik dan sehat,” terang Aniroh.

Didampingi oleh Pengurus Muslimat lainnya, Nyai Aniroh juga mengajak kepada seluruh komponen untuk menandatangani komitmen bersama dalam rangka gerakan masyarakat hidup sehat (germas) dan pencegahan stunting dalam sebuah spanduk berukuran besar.

“Salam sehat!” kata Nyai Aniroh yang diikuti para santri dengan teriakan santri, “Sehat Indonesia”, “sehat dimulai dari saya”.

Germas juga diwujudkan dalam bentuk senam sehat yang diikuti oleh sekitar 300 santri Pesantren Al-Azhari di lapangan setempat.

Selain itu, senam sehat juga dihadiri perwakilan Bupati Banyumas, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, Pendamping Tim dari Promkes Kemenkes RI, pejabat Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas, Lurah Desa Lesmana, Kepala Camat Ajibarang, Perwakilan Muspika, Danramil, dan Polsek.

Dalam kegiatan ini PP Muslimat NU bekerja sama dengan Direktorat Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian RI.

Di antara kegiatan yang dilaksanakan ialah Senam Tera diikuti oleh sekitar 300 peserta, pemeriksaan kesehatan oleh Tim Germas PP Muslimat NU dan Puskesmas setempat, pemberian dana stimulan untuk mengembangkan kebun sehat kepada 5 pesantren, pemberian media komunikasi dan edukasi germas dan pencegahan stunting pada 5 pesantren dan 5 majelis taklim.

Sigit Setya Boedi, Kepala Balai Kesehatan Masyarakat Wilayah Magelang, Jawa Tengah dalam kesempatan tersebut mengatakan, masih tingginya kematian anak dimana salah satunya untuk mencegah stunting adalah menggalakkan germas yang bisa dilakukan mulai dari hal-hal kecil.

"Seperti mencuci tangan pakai sabun, makan sayur dan buah, olahraga, menguras bak mandi. Dibutuhkan kampanye sebagai upaya promotif preventif dalam rangka mengupayakan hidup sehat," kata Sigit.

Terkait hidup sehat untuk mencegah stunting, menurut badan kesehatan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) World Health Organization (WHO), stunting adalah kondisi gagal tumbuh. Ini bisa dialami oleh anak-anak yang mendapatkan gizi buruk, terkena infeksi berulang, dan stimulasi psikososialnya tidak memadai. Anak dikatakan stunting ketika pertumbuhan tinggi badannya tak sesuai grafik pertumbuhan standar dunia.

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan, 30,8 persen balita di Indonesia mengalami stunting. Angka ini turun jika dibandingkan data Riskesdas 2013, yakni 37,2 persen. Meski demikian, angkanya masih jauh dari target WHO yakni 20 persen.

Berangkat dari kondisi di atas, Pimpinan Pusat Muslimat NU terus menggalang kemitraan dan partisipasi masyarakat dalam upaya pencegahan stunting. Menggandeng Kementerian Kesehatan dan Dinas terkait, Muslimat NU intens melakukan kegiatan gerakan masyarakat hidup sehat (germas) dan pencegahan stunting di sejumlah daerah.

Program Germas dan Pencegahan Stunting PP Muslimat NU telah dilakukan di sejumlah daerah di antaranya, Kabupaten Hulu Sungai Utara di Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan di Makassar, Banten di Pandeglang dan Lebak, serta di Banyumas.

Pewarta: Fathoni Ahmad
Editor: Abdullah Alawi
BNI Mobile