IMG-LOGO
Cerpen

Dalil Penggali Lubang

Sabtu 31 Agustus 2019 17:30 WIB
Bagikan:
Dalil Penggali Lubang
Lukisan Tukang Gali" karya Sudjana Kerton (lukisanku.id)
Oleh Abdullah Alawi 
 
Orang-orang masih berkutat dengan selimut di tempat tidur sebab dingin pagi di pedusunan kampung itu membuat mereka enggan menjemput hari. Tapi lain lagi dengan Jalu. Ia sudah mengambil pacul yang terletak di pojok dapur rumahnya. Beberapa saat, tangannya mengusap-usap dorannya yang sudah mengilap saking seringnya bersentuhan dengan telapak tangannya. Hampir tiap hari dia tak jauh dari benda itu di kebun atau di sawah. 

Kemudian dia pergi ke kebunnya setelah makan singkong bakar dan menghabiskan segelas kopi yang disuguhkan isterinya. Pacul dipanggulnya di pundak kanan. Di mulutnya terselip rokok kretek. Maka berhamburanlah asap yang acak kesana kemari dari mulutnya beradu dengan udara pagi. 

Ketika sampai di kebunnya, pacul itu langsung diayunkan ke tanah. Dia menggali. 

”Buat apa kamu menggali?” kata suara yang bersumber dari arah belakangnya.

”Untuk membikin lubang. Apa kamu tidak lihat?” jawabnya tanpa menoleh dari arah mana suara itu datang. Dia sudah hapal suara itu. Suara Sabri. Pemilik kebun di samping kebunnya. Sementara tangannya masih terus mengayunkan pacul. Menggali lubang.

”Buat apa lubang itu?”

“Yang jelas bukan untuk menguburmu.”

“Hmmm..., kalau bukan untuk menguburku, sekali lagi aku tanya, buat apa lubang itu?”

“Buat menanam pisang. Dan sekarang kamu jangan lanjutkan pertanyaan buat apa aku menanam pisang? Karena akan lelah aku menjawabnya. Kemungkinan-kemungkinannya terlalu banyak. Kalau aku menanam pohon pisang dan kemudian misalnya dia tumbuh dan menjadi besar, akan banyak kegunaan-kegunaan dan kemungkinannya. Daunnya bisa dipakai untuk pepes ikan, bungkus lontong, atau untuk bungkus apa saja yang bisa dibungkus oleh daun pisang. Gedebognya bisa dipakai tempat menancapnya anak wayang dalam pertunjukan wayang golek. Bisa juga dijadikan alas untuk memandikan orang mati. Jantungnya bisa dimakan kalau disayur. Getah yang diambil dari bonggolnya, katanya, bisa dijadikan obat saluran kencing atau disentri. Dan kamu pun tahu kalau membikin rumah, setandan pisang sering digantungkan bersama geugeus padi. Apalagi kalau sudah berbuah, buah itu bisa dimakan sendiri, dijual, dicuri, dimakan codot, atau bahkan busuk di pohon tanpa sepengetahuanku. Belum lagi kemungkinan-kemungkanan lain yang aku sendiri tak bisa mengabsennya 
satu per satu karena aku akan kelelahan. Oh ya, dan katanya lagi...”

“Sudah, sudah...!” Sabri memotong.

Tapi Jalu melanjutkan, ”Atau bahkan aku hanya menggali tanah ini. Dan tidak jadi menanam pisang karena aku keburu sakit atau mati. Atau aku berubah pikiran kemudian menggantinya dengan menanam pepaya, misalnya. Atau kalau pun aku sempat menamnya, bisa jadi tiba-tiba musim kemarau. Pisang yang kutanam tak bisa bertahan hidup. Apalagi kalau nanti dia telah tumbuh, menjadi besar. Aku tidak tahu apakah dia berbuah atau tidak, karena aku tak bisa membuahinya. Kewajibanku adalah, menanamnya bukan membuahinya. Aku cuma punya harapan agar dia berbuah. Ya, cuma sekadar harapan. Tak lebih!”

“Tapi kau telah menjawabnya sendiri semuanya. Dengan lengkap pula. Katanya kamu kelelahan. Bukankah itu telah menguras energimu? Kau telah bertanya dan sekaligus menjawab. Dua perbuatan. Masih mending kalau aku yang bertanya, dan kau cuma mejawab. Lagi pula kamu seolah yakin bahwa aku akan menanyakan manfaat pisang yang kau sebutkan tadi yang sebenarnya tak kuperlukan. Bukankah ada juga kemungkinan-kemungkinan lain selain itu. Misalnya, aku tidak bertanya lagi, dan aku langsung pergi. Atau hanya diam sambil merokok memperhatikan kamu menggali. Dan, kemungkinan-kemungkinan lain yang aku sendiri tidak mungkin mengurainya satu per satu karena aku juga takut kehabisan energi seperti kamu.”
***
Dan pisang yang ditanam Jalu itu tumbuh dan berkembang dengan cepat. Batangnya gemuk, daunnya hijau muda, dan mulus. Jalu memeliharanya dengan telaten. Dia menumpuk jerami yang sudah hampir membusuk di sekitar pohon pisang supaya air tidak cepat menguap. Hampir tak pernah terkena penyakit semacam ulat yang menyerang daun. Daun-daun kering yang sudah menjuntai karena tua dia tebas dengan golok. Ternyata musim kemarau yang dibayangkan dalam kemungkinan Jalu tidak datang. Hujan masih tetap turun meski sesekali. Padahal seharusnya sudah musim kemarau total menurut ahli prakiraan cuaca di BMG dan yang dituliskan pada pelajaran-pelajaran sekolah dasar. Dan kalau sudah lama membusuk bisa menjadi pupuk untuk kesuburan pisang. Sekarang setandan buah pisang masih muncul dari sela-sela pangkal pelepah daun. Buahnya besar-besar. Tinggal menunggu matang. 

“Bagaimana kalau pisang ini aku tawarkan pada tengkulak pisang? Pisang sebagus ini pasti dia mau. Duitnya bisa diambil sebagian sekarang,” kata Sabri sambil menyorongkan sebatang rokok kretek. Jalu langsung menerima dan kemudian membakarnya.

"Aku belum bisa menentukannya. Aku takut nanti tidak sesuai dengan kenyataan. Bisa jadi nanti malam, esok atau lusa, tiba-tiba ada angin puting beliung yang menghantam pohon ini hingga tumbang. Buahnya tanggal berpencaran dari tandan. Seperti semula, terlalu banyak kemungkinan-kemungkinannya. Lagi pula aku tidak suka jual-beli semacam itu.” 

Sabri terdiam sambil menghisap rokok kemudian memain-mainkan asapnya, “Ini pisang apa namanya?” tanyanya.

“Aku tidak tahu apa nama pisang ini. Aku hanya menanam dan tak sempat menanyakan pada siapa pun termasuk kepada orang yang memberi benih pisang ini. Aku tak sempat membayangkan sebelumnya bahwa suatu hari nanti akan ada orang yang bertanya mengenai nama pisang ini. Seandainya aku tahu akan ada yang bertanya seperti yang kau tanyakan tadi, pasti aku akan menanyakannya pada pemberi benih atau pada orang lain. Dalam pikiranku waktu itu yang penting menanam, kemudian memeliharanya, merawatnya, memberinya pupuk. Tak sempat memikirkan prihal namanya. Maafkan aku tak bisa menjawab pertanyaanmu.”

Sabri tersenyum kecut. Tapi dia berkata lagi, “Bagaimana kalau kamu sendiri yang menamainya. Ini kan pisang kamu. Jadi terserah kamu untuk menamainya. Misalnya kamu sebut saja pisang Jalu. Kamu akan terkenal. Pisang Jalu akan menjadi pembicaraan. Kalau aku yang menanmnya, aku juga mungkin akan menamainya Pisang Sabri.”

“Aku belum berpikir ke arah sana. Tentang hal ini, aku akan membicarakannya dengan pemberi benih pisang. Nanti akan aku beri tahu kamu hasilnya.”
***
“Sekarang kemana pisang ini?” tanya Sabri.

“Aku tidak tahu. Sama sekali tidak tahu! Ketika aku datang ke sini, buah pisang telah lenyap. Sementara gedebognya tidak runtuh. Di luar kebiasaan dalam prihal mengambil buah pisang. Di pangkalnya tidak ada bekas goresan golok atau sekurangnya benda tajam. Entah dengan cara apa si pencuri mengambilnya. Aku tidak tahu. Soal buah pisang ini, aku anggap saja dia bukan milikku. Sudah aku bilang sejak awal, aku tidak bisa menentukan akhir dari pisang ini. Kemungkinannya terlalu banyak. Tapi aku sudah bahagia karena aku bisa memeliharanya sampai besar. Sampai berbuah. Sebelumnya aku tidak pernah membayangkannya. Soal sampai ke mulutku atau tidak, atau sampai aku jual atau tidak, itu masalah lain.” 

Tiba-tiba Jalu menghunus golok. Sinar matahari beradu dengan ketajamannya.

“Lalu, sekarang apa yang kamu lakukan pada pohon sudah tanpa buah ini?”

“Aku mau menebangnya. Karena sepengetahuanku, pisang itu hanya berbuah untuk satu kali selama hidupnya.”

“Apakah tidak ada kemungkinan lain? Seperti sebelumnya yang begitu banyak kemungkinan,” tanya Sabri sambil mengasongkan sebatang rokok. Rokok kretek. Jalu langsung menerimanya. Kemudian Sabri menyalakan sebatang korek api. Jalu menyelipkan rokok itu di mulutnya. Nyala korek api di tangan Sabri membakar ujung rokok itu. Lalu Jalu menghisapnya dalam-dalam. Asap berhamburan di mukanya. Tapi itu tak jadi perhatiannya. Sabri melempar batang korek api yang sebagiannya sudah jadi arang.   

“Maksudnya bagaimana pertanyaanmu tadi?” Jalu balik bertanya.

“Misalnya, siapa tahu pisang ini mau berbalas budi kepada tuannya yang menanam, memelihara, memberi pupuk dan merawatnya hingga besar kemudian dia berbuah untuk kedua kalinya. Kemudian...”

“Belum tentu juga buah itu menjadi milikku, atau katakanlah bisa aku makan. "Jalu memotong kalimat Sabri, "tapi baiklah kalau kemungkinan itu ada, agar aku tak mati penasaran, aku tidak jadi menebang pisang ini. Meski sebenarnya tidak cerita ada pisang yang berbuah dua kali. Akan aku biarkan semaunya. Apakah dia berbuah lagi atau tidak, terserah dia. Atau mau mati membusuk pun dalam keadaan berdiri, terserah dia. Cuma sekarang aku mau memelihara anak pisang ini sampai besar. Menyiangi rumput di sekitarnya. Seperti aku memperlakukan pada ibunya dulu. Kewajibanku hanya memeliharanya. Berbuah atau tidak, sampai ke mulutku atau tidak, itu bukan kewajibanku. Karena banyak yang masuk ke mulut kita,  bukan kita yang menanam. Bahkan kita tidak pernah tahu asal-usul makanan itu. Tidak ada yang tahu persis tentang segala sesuatu. Tanah ini, pisang ini, dan bahkan aku sendiri.”

Sabri menggaguk-angguk. 

Kemudian Sabri pulang sambil senyum-senyum. Kembali dia mencabut sebatang rokok dari bungkusnya. Pisang Jalu yang sudah matang itu dia jual ke tengkulak dengan harga mahal. Dia mengambilnya dengan memakai tangga tadi malam. Dia bisa merokok untuk beberapa hari ke depan...
Ciputat, 2005
 
 
Penulis adalah Nahdliyin kelahiran Sukabumi, Jawa Barat
 
Bagikan:

Baca Juga

Ahad 28 Juli 2019 17:0 WIB
Sentimentalisme Orang Kalah
Sentimentalisme Orang Kalah
Lukisan karya Stephen Mitchell "The Lost Trail" (1stdibs.com)
Katanya aku ini adalah seorang pemenang. Aku adalah  pemenang dari jutaan sperma yang disusupkan ayah ke rahim ibuku, membuahi ovumnya. Aku bersama jutaan temanku berjuang keras membuahi. Aku berhasil. Sementara teman-temanku musnah. Kalah. Akulah pemenang. Aku pemenang di alam rahim. Ketika lahir pun aku menjadi pemenang dari perjudian nyawa yang rentan bagi seorang bayi. 

Tapi setelah lahir, kekalahan demi kekalahan dimulai. Aku tidak bisa menentukan diri sendiri. Aku tak bisa menamakan diriku sendiri. Nama yang kupakai –dan juga nama-nama orang lain- adalah nama yang pernah dipakai oleh orang-orang lain sebelumnya. Dan orang-orang sebelumnya itu memakai nama yang mirip atau bahkan sama dengan orang-orang sebelumnya pula. Begitu seterusnya. Ad infinitum. Aku tidak bisa mengucapkan kata-kataku sendiri karena kata-kata itu adalah kata-kata bikinan orang lain yang lebih dulu lahir. Aku tidak bisa melakukan perbuatanku sendiri karena perbuatan itu telah jauh dilakukan orang lain yang lebih dulu lahir dariku. Dan, jika ada keinginanku untuk melakuakan sesuatu yang berbeda, orang-orang sebelumku telah mengantisipasinya dengan norma. Yang tidak mengikutinya akan diberi label oleh orang-orang. Aku hanya mengulang dan mencontoh perbuatannya. Hidupku hanya mengulang orang lain. Aku tidak bisa menentukan diriku sendiri. Maka mungkin tak salah -mungkin juga tidak benar– jika aku menyimpulkan hidup ini hanya pengulangan-pengulangan belaka. Tentu saja orang lain boleh sepakat dan tidak sepakat denganku. Aku tidak bisa menentukan diri sendiri sepenuhnya.  Cuma sebagian kecil saja yang bisa kutentukan.

Aku melihat ibuku sedang menampi beras yang baru saja digiling di belakang rumahku. Dia kemudian memunguti antahnya kemudian dikumpulkan untuk makanan ciak yang bergerombol bersama induknya. “Bu, kenapa aku dilahirkan sedangkan aku tidak memintanya? Aku ingin masuk lagi di perut ibu, atau menjadi sperma ayah lagi. Aku tidak ingin keluar,” kataku sambil duduk di atas lesung samping ibuku. 

Ibu berhenti menampi  sebentar. Mukanya menatap ke arahku dengan tatapan yang tak kumengerti maksudnya. “Heh, Jalu kamu jangan berkata begitu. Doraka. Pemali. Itu sudah ada yang mengaturnya,” ibuku membentak. 

“Tapi aku tidak minta dilahirkan. Aku tidak ingin lahir. Kenapa aku dilahirkan tanpa perstujuanku sendiri sedang aku tidak bisa memilih.” 

Tiba-tiba ibu mlemparkan segenggam beras ke arah mukaku sambil berteriak. “Jaluuuuu…..tobatlah!!!”  Ibuku mencak-mencak. Aku kabur sebelum ibu bertambah marah.

Aku mendekati ayah yang sedang duduk di kursi di beranda. Di sela jari tangannya terselip sebatang rokok. Dia mengisapnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya ke udara dengan nikmatnya. Di sampingnya ada secangkir kopi yang masih mengepulkan asap. Dia menyeruput air kopi itu kemudian meletakkan di tempat semula. 

“Ayah, kenapa kau semprotkan spermamu ke rahim ibu, tanpa kau minta persetujuan dariku? Ayah sembarangan dan seenaknya saja menyemprotkan sperma. Setelah lahir kau seenaknya menamaiku Jalu. Aku tidak mau nama itu. Sekarang aku ingin kembali menjadi spermamu. Biarkanlah teman-temanku yang lahir. Aku tak sanggup.”

Ayah melotot dengan dahi berkerut. Dia kemudian melemparkan air kopi yang masih panas itu ke mukaku. Aku langsung ambil langkah seribu sebelum marah ayah bertambah.

Aku melihat orang yang sedang menggembala puluhan itik di sawah basah yang jeraminya sudah busuk belum dibajak. Dia memakai topi khas di film-film koboy, tangannya menggenggam cemeti panjang. Aku mendekatinya dari belakang. Mengendap-endap. Tanpa suara. Kemudian menendang bokongnya hingga terjatuh. Aku mengambil segenggam lumpur dan menyumbatkan ke mulutnya hingga dia tidak bisa berteriak meminta tolong. 

Kemudian aku memperkosa itik itu satu per satu hingga teler. Si gembala itu hanya memperhatikanku dengan tak bisa berbuat apa-apa sambil menahan rasa sakitnya. Tidak lama kemudian itik-itik itu bertelur masing-masing satu buah. Kemudian telur itu aku pecahkan satu per satu di hadapan si gembala itu. Kemudian aku berjingkrak-jingkrak karena hasratku terpenuhi. Aku orgasme bersama itik-itik itu. Terima kasih, ya itik.

Aku melihat isteri tetanggaku sedang menjemur kutang dan pakaiannya di depan rumahnya. Kemudian dia menjemur celana dalam bekas senggama tadi malam bersama tetangganya ketika suaminya ronda malam dan anak-anaknya tertidur pulas. Di celana dalam itu ada bekas spermanya. Kemudian aku datang ke hadapannya. 

“Kamu serong tadi malam bersama tetanggamu kan?” 

Dia kaget penuh ketakutan. Wajahnya pucat. Aku mengambill kutang itu dan merebut celana dalam yang hendak dijemur itu. Aku memakai kutang dan celana dalam itu di hadapannya. Matanya terbelalak. Mulutnya ternganga. Aku pergi.

Aku melihat anak-anak SD sedang belajar di ruangan kelas yang berdebu yang langit-langitnya sudah pada bolong. Mereka khusu dan tampak ketakutan di hadapan guru yang garang. Guru adalah teror bagi anak-anak itu. Aku masuk ke kelas itu dan merebut kapur tulis yang digenggam guru itu. Aku menghapus segala yang telah ditulisnya di papan tulis tersebut. Aku mengusir dia keluar. Aku ingin membebaskan anak-anak itu dari penjara yang dinamai sekolah oleh orang tuanya. 

Aku berkata begini kepada anak-anak yang masih di dalam kelas dan terbengong-bengong,” Anak-anak, sekarang silakan duduk dengan sesuka hatimu, sebisa kamu. Yang mau keluar silakan keluar, yang mau tetap duduk silakan duduk atau apa pun terserah kalian”. 

Anak-anak itu tidak ada yang keluar, tetapi mereka tidak tegang lagi. 

“Besok kalian tidak usah memakai pakaian seragam. Pakai saja pakaian yang kamu miliki dan kamu sukai. Atau tidak berpakaian pun tidak apa-apa. Terserah kalian.”

Kemudian aku menulis seperti ini di papan tulis itu, “Wati memperkosa Budi.” “Iwan mencekik ayah.” “Ibu meminum nasi.” “Andi dipukul anjing.” 

Kemudian aku melanjutkan, “2x3=40 10:12=32,5  4+5=O.”

Aku pergi ke sebuah rumah ibadah. Rumah ibadah yang bagus namun jarang diisi. Aku menggulung karpet penutup lantai keramiknya. Kemudian aku berak di setiap keramik itu sepuas-puasnya. Aku naik ke mimbar seperti seorang yang mau menyampaikan khotbah di hadapan ribuan jemaah. Kemudian aku menyalakan sebuah mikropon di mimbar itu. Aku kentut di mikropon itu berkali-kali.

Aku pergi ke sebuah warung untuk membeli jarum dan benang sambil telanjang bulat tanpa sehelai benang pun. Orang-orang sepanjang jalan melihatku dengan pandangan aneh. 

“Buat apa jarum dan benang itu?” tanya pemilik warung terheran-heran melihatku telanjang. 

“Buat menjahit mulutmu,” jawabku. Aku melihat mukanya pucat. Tubuhnya menggigil. Dia terkencing-kencing. Padahal aku hendak menjahit celanaku yang bolong di selangkangannya. 

Ketika sampai di rumah, aku tidak langsung menjahit celanaku. Aku mengambil gunting dari laci lemariku dan kemudian aku menggunting kemaluanku.

Tentu saja aku tidak melakukan semua itu. 
 
 
 
Sukabumi, 14 Maret  2005
 
Penulis adalah Nahdliyin kelahiran Sukabumi, kini tinggal di Bandung
Ahad 21 Juli 2019 9:0 WIB
Ajengan Muda
Ajengan Muda
"kyai Nasirun" lukisan karya Nasirun
Oleh Warsa Suwarsa 
 
Tahun 1943, kiai muda itu bersama istrinya pindah ke kampungku. Karena sebagai kiai, warga setempat menyambutnya dengan baik. Di pinggir mesjid ada sebuah lahan kosong, orang-orang kampung pun mengusulkan agar di lahan itu dibangun sebuah rumah, tempat kiai muda dan istrinya tinggal. Namun dengan alasan sederhana, kiai muda itu menolaknya, lahan kosong itu lebih baik digunakan untuk kepentingan masyarakat, misalkan  dibangun sebuah kobong  atau pondok pesantren. 

Waktu itu, di kampungku memang belum ada pondok pesantren, anak-anak dan para  remaja mengaji setelah Maghrib di surau atau di mesjid besar. Bangunan surau dan mesjid pun masih bida dikatakan sangat sederhana, dindingnya mengandalkan bilik bambu, panggung dengan lantai talupuh  di depannya ada kolam besar yang biasa digunakan orang-orang berwudlu atau mandi, airnya dari selokan dan sangat jernih.

Kiai muda dan istrinya datang bertepatan dengan awal musim cocok tanam. Keadaan kampungku dikelilingi oleh areal persawahan cukup luas. Jika dilihat dari atas seolah kampungku hanya berupa titik kecil ditengah lautan sawah. Sepanjang jalan tanah merah berderet pohon-pohon besar tumbuh di pinggirnya. Udara sudah pasti sangat sejuk, meskipun sampai bulan ini hujan belum turun juga. Ini sudah memasuki bulan November, para petani sering menatap langit di malam hari, seharusnya bulan ini bahkan bulan sebelumnya hujan sudah harus turun. Tapi entahlah, hujan belum juga turun. Jalan tanah merah itu meneburkan debu apalagi jika angin bertiup cukup kencang.

Pada pohon-pohon besar, pada dahan-dahan yang tertutup rimbunnya dedaunan, meski pun di siang hari akan terlihat lelawa bergelantungan, beristirahat. Malam akan semakin gelap karena rimbun dedaunan dan rapatnya batang pepohonan, benar-benar menutup kampungku. Jika purnama datang, cahayanya akan berusaha menerobos melalui celah-celah rimbunnya dedaunan itu. Sehabis isya, anak-anak akan bermain di halaman rumah sambil menyanyikan: Bulantok… bulantok… bulan sagedé batok! . Hingga mereka disuruh tidur oleh orangtuanya atau ditakut-takuti; awas ada sandékala .

Dan kiai muda bersama istrinya menempati salah satu rumah Wak Erpol, benar.. orangtua sebagai tetua kampung itulah mempersilakan agar kiai muda dan istrinya menempati salah satu rumahnya. Kedatangan kiai muda dan istrinya itu pun pada dasarnya atas saran Wak Erpol. Wak Erpol pada suatu hari datang ke salah satu pondok pesantren di Utara Sukabumi, memohon kepada Kiai Sepuh agar mengirimkan salah satu santrinya untuk mengajar dan mendidik warganya. Maka disuruhlah Wak Erpol menemui kiai muda itu. Begitu, kedatangan kiai muda dan istrinya pun disambut hangat oleh Wak Erpol.

Di kampungku, sebetulnya sudah ada orang yang bisa mengaji kemudian mengajar anak-anak, namun pikiran Wak Erpol lebih maju. Jika hanya mengajar alif ba ta saja itu masih belum cukup. Sebab anak-anak dan remaja harus diberi ilmu tambahan lain, ilmu agama agar mereka memahami ajaran dengan benar. Dan pilihan Wak Erpol adalah dengan meminta langsung kepada Kiai Sepuh di Utara Sukabumi agar mengirim salah satu santrinya itu mengajarkan ilmu-ilmu agama di kampungnya.
***
Maghrib itu menjadi berbeda dengan maghrib sebelumnya atau maghrib-maghrib sebelum-sebelumnya. Mesjid besar dipenuhi oleh orang-orang, membawa anak-anak mereka. Menyerahkan sepenuhnya kepada kiai muda agar anak-anak mereka diajari ilmu agama dan apa pun itu namanya, paling tidak anak-anak itu ketika sudah memasuki akil baligh mengetahui bacaan-bacaan sholat dan bisa mengaji Quran. Lebih afdol lagi jika kemudian anak-anak mereka menguasai ilmu-ilmu agama seperti kiai muda memahami agama setelah sepuluh tahun mondok di pesantren Kiai Sepuh. Maka pada malam itu juga setelah maghrib hingga isya dimulailah pengajian. Anak-anak mengaji bahkan orangtua mereka pun ikut mengaji juga.

Kiai muda itu hanya mengajarkan beberapa hal kepada anak-anak, kecuali mengajar bacaan-bacaan sholat dan praktik wudlu, juga mengajarkan agar anak-anak menghormati orangtua mereka.  Dan kepada para orangtua, kiai muda itu berpesan agar membimbing anak-anak mereka. Itu saja.
***
Jepang telah memasuki Sukabumi pada tahun itu. Orang-orang kampung yang biasa pergi ke pusat kota ramai bercerita, di pusat kota telah dijaga oleh tentara-tentara Jepang, militer Jepang itu memakai topi dan di belakang topi seperti dipasang kain saputangan juga dilengkapi oleh senjata-senjata dengan bayonet terhunus di ujungnya. Orang-orang kampung itu sering ke pusat kota untuk berjualan ke pasar. Mereka tahu lebih awal berita-berita dan kejadian dari orang kampung lainnya. Kedatangan Jepang ke negara ini pun - mereka tahu lebih awal dan diceritakannya kembali kepada orang-orang di kampung.

Semua orang kampung tahu, Jepang adalah sahabat, rumpun Asia, bahkan menurut berita, mereka lah yang telah mengusir  kompeni dari Tanah Air ini. Ya, mereka meyakini Cahaya Asia itulah yang akan membawa negara ini ke alam yang lebih baik, kemerdekaan.

“Mereka pendek, sama dengan kita. Tapi matanya tajam seperti tidak mau diganggu. Cara berdirinya kaku, ya seperti pohon-pohon itu. Benar-benar dingin dan tidak bisa diusik..”Kata salah seorang dari mereka, berkata  sehabis Ashar di teras mesjid. “Tapi entahlah, mereka baik atau jahat, aku tidak tahu… mudah-mudahan saja benar, mereka datang ke negara ini untuk mengusir kompeni-kompeni itu..!”Lanjutnya.

“Menurut, Kiai?”

“Tidak tahu. Tapi pikiran Saya hanya pada satu hal. Kenapa mereka datang jauh-jauh ke negara ini kemudian mempersenjatai diri dan memiliki tekad kuat untuk mengusir kompeni.”Kata kiai muda. “Guruku pernah berpesan, dulu.. Kompeni datang ke negara ini dengan cara baik-baik, tapi pada akhirnya ketika kesempatan untuk berbuat jahat itu terbuka, mereka pun akhirnya melakukan juga kecurangan-kecurangan, perampokan rempah-rempah di daerah Timur, ya daerah Timur entah apa namanya.”

“Kita harus bagaimana, Kiai?”kata orang bernama Acun.

Kiai muda itu menatap Acun.

“Ya, biasa saja. Kang Acun lakukan tugas-tugas hidup. Itu saja. Mau melawan Kompeni atau ikut menjadi tentara Jepang?”

“Tidak, saya tidak mau perang. Saya lebih senang menjadi seorang petani penggarap sawah. Tahun kemarin Saya ditawari jadi tentara Hizbullah, istriku melarang. Ya karena Saya juga tidak senang perang maka saya menolak tawaran itu.”Acun membetulkan kopiah hitamnya.

“Dan takut istri!”Gumam Oo.

*** 
Satu minggu kemudian.

“Kiai, bisa tidak berdoa kepada Allah agar hujan segera diturunkan. Agar hasil pertanian orang-orang kampung ini tetap bagus seperti musim sebelumnya?”Seorang petani bertanya pada saat pengajian.

“Ya, berdoa saja agar hujan segera turun.”

“Saya tiap hari berdoa, Kiai. Kenapa hujan tidak turun juga ya?”

“Wah, Saya tidak tahu itu.”

Doamu tidak didengar Alloh!” kata salah seorang jama’ah.

“Iya, mana mungkin doamu didengar oleh Yang Kuasa, setiap mau menanam padi, kamu itu pasti ngukus  dan memberi sesaji dulu kepada Dewi Sri. Itu namanya menduakan Tuhan, syirik itu!”

“Benar, kiai? Jika Saya melakukan hal itu sebelum menanam padi menjadi penyebab ditolaknya doa?”

“Tidak tahu..”

“Lho, kiai kok banyak tidak tahunya. Kiai ini kan tinggi ilmu agamanya.”

“Saya tidak tahu, kenapa doa kamu belum dikabul. “

“Perbuatan Saya, tentang syirik itu gimana, Kiai.?”

“Itu budaya. Asal jangan dicampur-campur dengan keyakinan saja. Asal tidak diyakini saja kalau yang memberikan rejeki dan yang menumbuhkan padi itu adalah siapa tadi? Dewi apa?”

“Dewi Sri.. Dewi Sri Pohaci…”

“Ya.. itu…!”

“Jadi boleh?”

“Boleh.”

“Wekkk… boleh tahu!”Orang itu mencibiri teman di sampingnya.

“Bukankah itu musyrik, Kiai?”

“Siapa bilang?”

“Ya kata pengajian-pengajian di kota itu… katanya orang-orang di kampung yang masih suka membakar kemenyan ketika akan menanam padi itu perbuatan jahiliyyah apa itu, itu menyekutukan Alloh!”

“Karena di kota sudah jarang sawah.”

“Jadi, kalau ada sawah orang kota pun akan melakukannya juga!”

“Musyrik itu jika kita meyakini. Kalau tidak meyakini hanya sebatas menjaga kebiasaan kenapa salah?”

“Tapi dia ini meyakini Dewi Sri pemberi dan penumbuh pohon-pohon padi…!”

“Eh, itu dulu.. itu dulu.. sekarang mah tidak!”

“Kalau masalah budaya dan kebiasaan lakukan saja. Tidak perlu kita memperdebatkannya, masing-masing memiliki pandangan dan alasan. Tidak perlu diperdebatkan.”
*** 

Tentara Jepang, orang menyebutnya Jepun atau Dai Nippon masuk juga ke kampungku pada tahun itu. Mendatangi rumah tetua kampung, Wak Erpol. Ada juru alih bahasa. Pimpinan tertinggi Jepun di Jakarta, memberikan perintah agar seluruh warga negara menghormati Kaisar mereka setiap pagi, saat matahari terbit. Orang-orang Jepun memiliki keyakinan, Kaisar mereka merupakan turunan Dewa Matahari. Negara ini akan merdeka dengan satu sarat, memberikan penghormatan kepada Kaisar setiap pagi, melakukan seikerei. Tapi ada nada ancaman juga, jika tidak melakukannya, maka kemerdekaan yang didambakan itu akan terbuang dan terbang begitu saja.

Sore itu juga Wak Erpol mengumpulkan masyarakat di mesjid besar.

“Bagaimana menurut, Kiai?”Tanya Wak Erpol setelah menjelaskan kedatangan tentara Jepun siang tadi.

“Saya akan menceritakan sebuah kisah kepada para bapak.”Kata Kiai muda itu menarik nafas. “Dulu, di tanah Jerusalem ada seorang pemuda bernama Elia, kita menyebutnya Ilyas.”

“Oh, nabi Ilyas?”

“Ya, hidup sekitar 500 atau 600 tahun sebelum diutus nabi Isa. Raja pada saat itu bernama Ahab, dia memiliki istri cantik seorang wanita keturunan bangsa Fenisia, Libanon. Atas permintaan istrinya yang bernama Izebel, Ahab diwajibkan mengganti Tuhan bangsa Israel dengan Tuhan bangsa Fenisia, tuhan bangsa Fenisia bernama Baal, dewa yang memberikan hujan dan kesuburan kepada orang-orang Kanaan dan Fenisia. Karena kecintaannya kepada Izebel, Ahab menyetujuinya. Dia membuat aturan, menekan agar seluruh masyarakat menyembah Baal dalam bentuk patung. Ahab mengatakan, hari ini sampai seterusnya adalah hari berakhirnya tuhan Israel, Tuhan Israel telah mati dan digantikan oleh Tuhan Baal, dewa pemberi hujan dan kesuburan tanah.

“Tokoh-tokoh agama dan orang-orang yang mengaku dirinya sebagai nabi dan para utusan Tuhan diberi dua pilihan. Menyembah Baal atau mati dengan cara dipenggal atau dipanah jantungnya oleh pasukan kerajaan. Suatu hari, Ilyas mendatangi Ahab, kemudian mengingatkan untuk tidak mengganti Tuhan bangsa Israel dengan Baal. Karena bagi Ilyas, Tuhan adalah Tuhan, Dia tidak akan memerintahkan manusai untuk saling membunuh dan saling serang, Dia tidak akan pernah mati apalagi digonta-ganti. Hal ini menjadi alasan bagi Ahab dan Izebel untuk tidak memberikan pilihan kepada Ilyas kecuali kematian.

“Ilyas dikejar oleh tentara-tentara Raja Ahab. Ilyas tidak takut dengan kematian tapi masih khawatir apakah dia akan bisa menjalani hidup, umurnya baru 23 tahun, tentu suatu saat dia harus hidup normal, berkeluarga. Dia tidak pernah mengaku sebagai nabi dan utusan Tuhan, meminta kepada Tuhan agar dirinya dijadikan Nabi pun tidak pernah, tapi kenapa dia menjadi nabi. Ilyas sendiri tidak tahu. Maka, kematian itu pun menjadi bukan hal menakutkan bagi Ilyas, karena keyakinan terhadap Tuhan sangat kuat, Tuhan telah menancap dalam dirinya. Dan Ilyas pun hidup, bisa hidup seperti biasa hingga Raja Ahab ditaklukkan oleh Raja lainnya. Ilyas selamat kemudian menetap disebuah bukit sebelum kenabiannya dilanjutkan oleh Eliasa atau Ilyasa..”

“Jadi kita harus menolak paksaan seikerei tentara Jepun itu?”

“Ada dua pilihan, melakukan seikerei atau kita tidak merdeka, kan?”

“Benar.. jadi lebih baik kita tidak merdeka?”

“Kenapa kita takut tidak merdeka? Ilyas saja tidak takut dengan kematian?”

“Kita tidak akan pernah melakukan seikerei itu… dan jangan pernah melakukannya!”Kata Wak Erpol.

Dan seluruh masyarakat pun menyetujuinya. Mereka memiliki anggapan, tidak merasa merugikan juga menguntungkan orang-orang Jepun itu.
*** 

Satu minggu kemudian, Kiai muda bersama tetua kampung itu ditangkap oleh tentara Jepang. Mereka dikirim ke kamp konsentrasi penjara di daerah Ubrug dengan alasan telah menghasud masyarakat menentang kebijakan pimpinan tertinggi Jepang, mereka menolak melakukan seikerei. Penangkapan itu, dalam benak tentara-tentara Jepang akan meluluhlantakkan tekad orang-orang kampung. Dan pada malam itu juga, beberapa rumah dibakar oleh tentara Jepang, ada gadis-gadis yang dibawa secara paksa. Sebagian besar warga kampung menghindar dan mengungsi ke daerah-daerah pinggiran Sukabumi. Hingga keadaan aman kembali, saat matahari kembali bersinar di ufuk Timur. [ ]
 
Sukabumi, Oktober 2013
 
Catatan
Kobong = asrama santri
Talupuh (Sunda) = Lantai dari bamboo biasa digunakan untuk rumah panggung
Bulantok… bulantok… bulan sagedé batok adalah lagu tradisional anak-anak di tatar Sunda saat purnama
Sandekala = Hantu dalam mitos orang Sunda
Ngukus = Membakar kemenyan pada pedupaan

Penulis adalah Guru MTs-MA Riyadlul Jannah, Cikundul)
Ahad 26 Mei 2019 9:0 WIB
Aku, Kamu, dan Kereta
Aku, Kamu, dan Kereta
Ilustrasi: Harian Analisa
Oleh Pamanah Rasa

“Aku ingin naik kereta...,” katamu suatu ketika. 

“Kapan?” tanyaku

“Sekarang!”

“Sekarang? 

“Ya. Sekarang!” 

“Belum pernah naik kereta ya?” 

“Belum pernah! Makanya aku ingin mencobanya sekarang. Dan tentunya bersamamu.” 

“Kamu tidak takut kereta tabrakan? Sekarang kan musim kereta tabrakan....”

“Asal bersamamu, tak apa-apa...”

Saat itulah aku mencuri pandang, menebak wajahmu. Entah kenapa aku ingin mencari persesuaian antara kata yanga diucapkan dengan raut wajahmu; mata itu, alis itu, hidung itu, bedak yang bercampur keringat dan tahi lalat di pipimu. Tapi aku tak bisa membacanya. 

Aku dan kamu pergi ke stasiun kereta.

Ternyata kereta yang ditumpangi itu sudah rongsokan. Tubuhnya sudah berkarat dan mengelupas. Pintu dan jendelanya sudah tidak berfungsi. Lantainya kotor tak terurus. Dindingnya penuh coret-moret. Maklum kereta ekonomi. Penghuninya adalah orang-orang kere. Muka mereka kemerahan karena dilumuri sisa keringat siang yang mengendap. 

Aku dan kamu berdiri dekat ambang jendela karena tak tersisa satu kursi pun. Penumpang lain pun banyak yang berdiri. 

Suara mesin lokomotif terengah-engah berpadu dengan suara pedagang asongan yang lalu-lalang menawarkan makanan ringan, ratap pengemis, suara pengamen dengan suara berat, dan suara orang yang bicara dengan temannya. Kamu kelihatan senang dengan suasana kereta seperti itu. Mungkin kamulah satu-satunya penghuni kereta yang menikmati suasana.  

Laju kereta berguncang-guncang. Penumpang oleng ke kiri dan ke kanan.  Kadang-kadang pundak mereka bersinggungan. Tubuhku dan tubuhmu pun beradu seirama dengan guncang kereta. Aku menggenggam tanganmu. Kamu menggenggam tanganku. Erat-erat. 

"Kemana tujuan kita?" tanyaku.

"Sudah kubilang kemana saja kereta ini pergi. Aku naik kereta bukan untuk pergi kemana, tapi ingin naik kereta saja, dan tentunya bersamamu. Itu tujuanku!” katamu tegas.

Aku tesenyum. 

“Ah, betina!” bisikku dalam hati. 

Kemudian aku tak banyak bicara. Sementara kamu terus membaca suasana kereta.  Tanganku dan tanganmu tetap saling menggenggam. Mungkin jemariku dan jemarimu yang bercakap...

Stasiun-stasiun terlampaui. Sawah-sawah, rumah-rumah, tiang-tiang listrik, telepon dan pohon-pohon melambai-lambai. 

Waktu menjelang senja. Matahari jingga di barat. Kereta ini seperti ingin menuju matahari jingga itu sebagai stasiun terakhir.

“Kereta tahun berapa ini?” tanyamu

“Ah, buat apa bertanya itu.” Jawabku.

“Kalau begitu, aku harus bertanya apa dong?”

Aku terdiam. Kamu terdiam.

“Hei, lihat coret-moret itu!” katamu sambil menunjuk dinding kereta yang penuh coret-moret warna-warni. Ada nama-nama sekolah, tulisan konyol, kalimat sindiran, karikatur, nama-nama group musik yang ditulis penggemar fanatiknya, nama-nama lain yang tak dikenal, dan tulisan-tulisan yang entah apa namanya.

“Iya, memang kenapa? “

“Tuliskan sesuatu untukku, untukmu, dan kereta...!” 

“Apa yang harus kutuliskan?”

“Terserah. Pokoknya tentang aku, kamu dan kereta!”

Aku berpikir sebentar. Aku ingat di tasku ada spidol besar. Kemudian aku menulis di dinding kereta itu seperti ini, “aku, kamu, dan kereta”.

“Tanggal berapa sekarang?” tanyaku.

“Tanggal 10 Maret,” jawabmu.

Kemudian aku menorehkan tanggal, bulan, dan tahun di bawah kata-kata itu.

Kamu memperhatikan tulisan yang baru saja kucipta. Aku tak bisa menebak pikiranmu. Beberapa orang penumpang juga ikut memperhatikan kata-kata itu. Mungkin mereka membacanya dalam hati. Tak lama kemudian mereka mengalihkan pandangan. Barangkali menyesal membaca tulisan itu karena bukan firman Tuhan, bukan sabda Nabi. 

Kemudian kamu meminjam spidolku. Kuperhatikan jemarimu mencipta huruf-huruf per huruf. Ternyata kamu menorehkan namaku dan namamu di bawah tulisan itu. Kamu tersenyum. Aku tersenyum. Kamu menatapku. Aku menatapmu. Dua bola mata saling pandang. Adu kekuatan. Tiba-tiba tanganmu mencubit perutku. Aku kegelian. Orang-orang memperhatikan. Tapi aku dan kamu tak mempedulikan mereka. Kereta ini serasa milik berdua. Bukan milik departemen perhubungan...

Kamu menyerahkan spidol itu. Kemudian aku langsung menyimpan kembali ke dalam tas.

Kereta berjalan merayap di jalan besi menyeret gerbong-gerbong. Seperti ular. Jika mendekati stasiun, kereta menjerit, melambat, kemudian berhenti. Beberapa penumpang turun. Tergesa-gesa. Takut terbawa ke stasiun lain. Beberap calon penumpang masuk. Tergesa-gesa. Takut ketinggalan. Ambang pintu jadi lahan berdesak-desakkan. Kadang ada yang kakinya terinjak. Orang tidak saling mengenal saling memaki. 

Stasiun-stasiun terlampaui. Sawah-sawah, rumah-rumah, tiang-tiang listrik, telepon dan pohon-pohon melambai-lambai. 

Di luar, orang-orang yang kebetulan melihat kereta melintas, sejenak memperhatikan. Padahal mereka tiap hari melihatnya. Tetapi selalu ada kekuatan yang memaksa mereka untuk melihat. Seperti ada sesuatu yang entah apa namanya yang membuat mereka untuk menoleh. Kereta hari ini seperti bukan kereta kemarin. Selalu terasa baru. Anak-anak berteriak. Meloncat-loncat. Mereka melambai-lambaikan tangannya. Padahal kereta tak mungkin berhenti dan tak akan memberi apa-apa. Penghuni kereta ada yang membalas sambil tersenyum. Anak-anak begitu senangnya. Setelah anak-anak jauh, orang yang membalas lambaian terdiam lagi seperti semula. 

****
Aku tak pernah menyangka jika kemudian kamu keranjingan naik kereta. Bukan untuk pergi ke suatu tempat, tetapi kereta itulah tujuanmu. Setelah sampai di stasiun terakhir, kembali lagi ke stasiun pertama. Kemudian kembali lagi.

Begitulah, kamu selalu ingin naik kereta. Dan, selalu ingin bersamaku. inilah yang membuatku bingung. Sebenarnya aku selalu ingin bersamamu, tapi bukan di kereta...

“Aku ingin naik kereta lagi,” katamu suatu ketika, “dan tentunya bersamu!”

Aku menemanimu dengan senang hati.

“Aku ingin naik kereta lagi. Kereta itu asyik,” katamu di lain waktu,“ dan tentunya bersamamu!” 

Aku menemanimu masih dengan senang hati.

“Luar biasa! Kereta itu benar-benar luar biasa. Aku ingin naik kereta.”

Aku masih bisa menamani.

“Ada waktu nggak untuk menemaniku naik kereta?” 

Aku tak bisa menolak permintaanmu 

“Temani aku naik kereta, ya!” 

Aku menolak dengan halus. Karena aku sudah bosan untuk menemanimu naik kereta.

“Nggak apa-apa, sekarang aku sendirian saja. Aku tahu, suatu saat pasti kamu menolakku. Dan inilah waktunya.” 

Kamu sekarang pergi sendirian. 

Tapi kemudian kamu punya keinginan lain yang membuatku tak kalah bingung juga. Aku harus mendengarkan ceritamu tentang kereta. Selalu saja ada yang kauceritakan tentang kereta. Tentang penumpang-penumpangnya, pengamen-pengamen, pengemis, pencopet, petugas pemeriksa karcis. Dan aku adalah pendengar setia. 

“Kereta adalah tempat belajar hidup,” katamu suatu waktu setelah bercerita tentang suasana kereta.

“Aku adalah kereta,” katamu di lain waktu, “Seandainya ada tempat bermukim, aku ingin tinggal di kereta. Dan bahkan kalau aku mati, ingin dikuburkan di kereta.” 

Begitulah kamu: kereta, kereta, kereta! 


Penulis adalah Nahdliyin, tinggal di Bandung
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG