Sejumlah Warga Asing Terkesima Budaya di Indonesia

Fazil Qowi Kakar (tengah) bersama PC LAZISNU Sidoarjo. (Foto: Mila/NU Online)
Fazil Qowi Kakar (tengah) bersama PC LAZISNU Sidoarjo. (Foto: Mila/NU Online), Sejumlah Warga Asing Terkesima Budaya di Indonesia
Fazil Qowi Kakar (tengah) bersama PC LAZISNU Sidoarjo. (Foto: Mila/NU Online), Sejumlah Warga Asing Terkesima Budaya di Indonesia
Sidoarjo, NU Online
Diane Butler, warga negara Amerika yang telah tinggal selama 18 tahun di Bali merasa sangat menikmati tinggal di Indonesia. Perempuan paruh baya yang menyelesaikan S3 di Universitas Udayana Bali ini hadir sebagai pembicara utama dalam kegiatan the 3rd Sosial Science, Humanities and Education Conference di Surabaya, Sabtu (31/8). 
 
“Kemajemukan budaya Indonesia dan kemampuan masyarakatnya untuk bisa lentur beradaptasi dalam keberagaman membuat saya begitu takjub,” katanya. 
 
Praktisi budaya yang masih memegang kewarganegaraan Amerika ini dengan semangat berbagi ide pemikirannya yang dikemas dalam presentasinya yang berjudul A Re-Turn to Place-based Practice of the Arts for Lifelong Learning and Creativity
 
Hal yang membuat dia kerasan tinggal di Indonesia adalah unsur keunikan budaya. “Adanya Poskamling tempat masyarakat berkumpul, bermasyarakat dan rehat sejenak menikmati hidup adalah sisi kehidupan yang tak pernah saya temukan di belahan dunia manapun,” ungkapnya kepada NU Online
 
Butler juga menyoroti bahwa budaya kearifan lokal hendaknya menjadi salah satu pijakan dalam pembangunan di Indonesia. Menurut dia, kemampuan untuk menerima pengaruh dari luar, memilih, mengolah dan menghasilkan identitas yang tidak bisa ditemukan di manapun adalah modal besar dari bangsa Indonesia untuk terus berkembang. 
 
“Hal ini senada dengan ide pemikiran tokoh besar bangsa, Gus Dur dengan ide untuk mempertahankan hal-hal baik dan mengadaptasi hal-hal yang lebih baik,” jelasnya.  
 
Lain halnya dengan Fazil Qowi Kakar. Mahahiswa  asing asal Afganistan yang berusia 19 tahun ini juga takjub dengan keluhuran nilai-nilai yang dimiliki NU. 
 
“Saya berterima kasih kepada NU yang telah membawa nilai-nilai  NU dan perdamaian di Afganistan. Di negara kami telah ada madrasah dan rumah sakit yang dibangun dengan bantuan Nahdlatul Ulama Indonesia.” ungkapnya dalam kegiatan pelatihan jurnalistik yang diadakan di Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Sidoarjo beberapa waktu lalu.
 
Menurutnya, kelebihan tersebut tidak ditemukan di tempat lain, sehingga membuat NU semakin terpatri di hati sejumlah warga dunia. 
 
 
Pewarta: Mila
Editor: Ibnu Nawawi 
 
BNI Mobile