IMG-LOGO
Internasional

Diklat Ansor di Taiwan; Semakin Banyak Masyarakat Ingin Jadi Ansor

Senin 2 September 2019 16:45 WIB
Bagikan:
Diklat Ansor di Taiwan; Semakin Banyak Masyarakat Ingin Jadi Ansor
GP Ansor PCINU Taiwan melaksanakan Diklat Terpadu Dasar (DTD) angkatan kedua, 1-2 September 2019 (Foto: Faisal Attamimi)
Jakarta, NU Online
Gerakan Pemuda Ansor semakin diminati oleh masyarakat. Hal itu ditandai dengan banyaknya anggota masyarakat yang ingin tergabung menjadi anggota Ansor Banser. Tak hanya di dalam negeri, namun juga di luar negeri.
 
Ketua PP GP Ansor yang juga Korwil XI Sulteng-Gorontalo, Faishal Attamini menilai dengan banyaknya para pemuda yang masuk menjadi anggota Ansor Banser menandakan semangat para pemuda untuk tetap setia mempertahankan NKRI dan Pancasila semakin meningkat.
 
"Dan sekaligus bentuk perlwanan terhadap terorisme dan radikalisme yang ingin mengubah NKRI dan Pancasila," kata Faishal yang turut diundang menjadi pemateri pada Diklat Terpadu Dasar anggkatan kedua Ansor Taiwan.
 
DTD yang berlangsung pada 1-2 September 2019 bertempat di Taichung, diikuti 77 peserta.
 
Menurut Faishal, Diklat GP Ansor Taiwan didukung oleh Ketum GP Ansor, H Yaqut Cholil Qoumas dengan mengirim instruktur nasional. Selain Faishal, Diklat tersebut dihadiri narasumber Musova Mahmudi, Wasekjen GP Ansor Bidangi Kaderisasi.
 
Faizal Attamimi, mengatakan Senin (2/9) semangat antusiasme peserta dalam bergabung menjadi Anggota Ansor Banser di Taiwan, umumnya adalah dari Pekerja Migran Indonesia itu sangat kuat.
 
"Sehingga PCI GP Ansor Taiwan dapat menyelenggarakan dua kali DTD dalam satu tahun ini," kata Faisal dalam keterangan pers yang diterima NU Online.
 
PCINU Taiwan selalu memberikan dukungan maksimal terhadap aktivitas GP Ansor dan Banon dan lembaga lainnya yang sudah terbentuk di Taiwan.
 
Sebelumnya diberitakan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) mendeklarasikan kepengurusan Pimpinan Cabang Istimewa Taiwan. Pelajar akan menjadi bagian bagi Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Taiwan yang sudah berdiri sejak 2007 lalu. 
 
Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Pimpinan Pusat (PP) IPNU, Achnaf Al- Ashbahani mendeklarasikan PCI IPNU Taiwan bersama sepuluh pelajar yang sedang menempuh pendidikan di Taipe, Taiwan. 
 
"Deklarasi PCI IPNU Taiwan ini untuk memperkuat generasi NU di Taiwan,” kata Achnaf Al Ashbahani, Sabtu (31/8).
 
Menurut Achnaf, IPNU sudah saatnya memperkuat generasi di seluruh cabang istimewa yang ada di luar negeri. Setelah Arab Saudi dan Korea Selatan, kini Taiwan telah mendeklarasikan cabang istimewa di luar negeri. 
 
"IPNU akan terus go internasional. IPNU sebagai bagian kader di lingkungan NU juga harus turut serta membesarkan IPNU di tingkat Internasional," ungkap Achnaf.

"Dengan adanya PCI IPNU di Taiwan semoga bisa menjadi kader atau generasi yang bisa melanjutkan perjuangan Ahlussunnah wal-Jamaah di Taiwan," katanya.
 
Rais PCINU Taiwan, Agus Susanto saat menghadiri deklarasi IPNU Taiwan berharap keberadaan badan otonom baru tersebut turut menguatkan perjuangan. 
 
Dengan demikian PCINU Taiwan kini memiliki badan otonom Muslimat NU, Fatayat NU, Ansor, PMII IPNU.
 
Red: Kendi Setiawan
 
Bagikan:

Baca Juga

Senin 2 September 2019 19:15 WIB
Pemerintah Arab Saudi Cairkan Santunan Korban Crane 2015
Pemerintah Arab Saudi Cairkan Santunan Korban Crane 2015
Dubes RI Agus Maftuh dan Raja Salman
Riyadh, NU Online
Jamaah haji asal Indonesia yang menjadi korban musibah jatuhnya crane pada musim haji 2015 di komplek Masjidil Haram Makkah mendapat santunan dari Pemerintah Kerajaan Saudi Arabia (KSA).
 
Siaran Pers Kedutaan Besar RI untuk KSA yang diterima NU Online menyebutkan,  Dubes RI untuk KSA Agus Maftuh Abegibriel mengatakan santunan itu berupa cek senilai 6,133 juta Dollar Amerika setara dengan 23 Juta Riyal.
 
"Cek diserahkan oleh Penasehat Hukum Deputi Konsuler Kementerian Luar Negeri Kerajaan Arab Saudi, Mohammad Alshammeri kepada Kordinator Perlindungan Warga KBRI Riyadh Raden Ahmad Arief di Kantor Kementerian Luar Negeri, Riyadh Arab Saudi pada penghujung Agustus kemarin," ujar Agus Maftuh di Riyadh, Senin (2/9).
 
Dijelaskan, setelah penyerahan santunan itu, Kedubes RI di Riyadh langsung mengirim surat ucapan terima kasih kepada Raja Salman dan Putra Mahkota Muhammad bin Salman (MBS).
 
Surat yang sama lanjutnya, juga dikirimkan kepada Gubernur Makkah Pangeran Khalid al-Faisal dan berbagai kementerian terkait di KSA, mulai Kementerian Luar Negeri, Kementerian Dalam Negeri KSA, Kementerian Kesehatan KSA, dan  Kementerian Keuangan KSA atas dukungannya dalam merealisasikan santunan korban crane ini.
 
Dia menambahkan, cek-cek tersebut terdiri 35 lembar, meliputi dua nominal pertama, 133.333 Dolar Amerika (setara 500 ribu Riyal) atau Rp1,8 Miliar untuk korban luka berat dan kedua, nominal 266.666,66 Dolar Amerika (setara 1 Juta Riyal) atau Rp3,7 Miliar untuk korban meninggal dan korban cacat permanen. 

"Satu buah cek untuk korban luka berat masih perlu pencocokan data paspor dan secepatnya akan direalisasikan sehingga total menjadi lengkap 36 cek," jelas Maftuh. 
 
KBRI Riyadh ujarnya, juga sudah menyampaikan detail laporan kepada Kementerian Luar Negeri RI selanjutnya akan dilakukan kordinasi dengan Kementerian Agama RI untuk finalisasi administratif terkait penyampaian dana santunan kepada para korban luka berat dan cacat permanen serta para ahli waris korban meninggal dunia. 
 
Dalam beberapa nota diplomatik yang diterima KBRI Riyadh dari Kementerian Luar Negeri KSA dijelaskan bahwa sebenarnya penyelesaian pembayaran santunan Raja Salman untuk para WNI yang menjadi korban baru akan diberikan setelah selesainya proses fatwa waris dari masing-masing korban meninggal. 
 
 
"Namun akhirnya KSA memutuskan untuk memberikan kemudahan-kemudahan dengan merealisasikan penyerahan cek tersebut sebelum selesainya finalisasi fatwa waris yang sekarang masih dipersiapkan oleh Kementerian Agama RI," ungkapnya.
 
Penyelesaian cek untuk Indonesia diberikan pertama oleh Arab Saudi sebelum negara-negara yang lain. “Alhamdulillah, semua dilancarkan oleh Allah,” tegas Dubes yang juga staf pengajar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. 

Sebagaimana diketahui, musibah jatuhnya alat berat crane di Masjidil Haram  terjadi pada Jumat 11 September 2015 menewaskan lebih dari 100 orang dan mencederai lebih 200 orang. 
 
Jamaaah haji yang menjadi korban musibah crane berasal dari Indonesia, Pakistan, India, Bangladesh, Malaysia, Turki, Aljazair, Iran, Irak, Libia, Afghanistan, dan Mesir.

Perjalanan kasus musibah robohnya crane di Masjidil Haram ini memakan waktu yang cukup panjang. Kerajaan Arab Saudi sangat serius dalam menerjunkan tim pencari fakta untuk melakukan verifikasi yang detail terkait musibah tersebut. 
 
Pemerintah Kerajaan Saudi pernah juga menetapkan 13 tersangka dalam kasus ini termasuk Kontraktor Bin Ladin. Namun dalam sidang Mahkamah pada Oktober 2017, Hakim dengan sebelumnya membacakan 108 halaman naskah putusan, memutuskan bahwa tidak unsur pidana dalam kasus ini. Akhirnya 13 tersangka dibebaskan dari tuntutan hukum dan Kerajaan Saudi memutuskan bahwa ambruknya crane adalah murni bencana alam akibat badai besar yang terjadi di Makkah pada tahun 2015 tersebut.  

Berdasarkan fakta persidangan tersebut, Dubes RI Agus Maftuh Abegebriel menyebut cek senilai 6,13 Juta Dolar tersebut bukan sebagai diyat ataupun ganti rugi namun merupakan murni santunan dan perhatian besar Raja Salman terhadap para korban musibah robohnya crane di dekat Shafa tersebut.
 
Editor: Muiz
Senin 2 September 2019 15:15 WIB
Jika di Makkah Ada Pemakaman Ma'la, di Madinah Ada Baqi
Jika di Makkah Ada Pemakaman Ma'la, di Madinah Ada Baqi
Komplek pemakaman Baqi di Madinah, Arab Saudi (foto: NU Online/Muhammad Faizin)
Madinah, NU Online
Jika di Kota Suci Makkah Arab Saudia ada pemakaman Ma'la yang merupakan makam keluarga Nabi Muhammad SAW termasuk istri pertama nabi, Sayyidah Siti Khadijah, maka di Kota Madinah ada Pemakaman Baqi', tempat dimakamkannya para keturunan nabi, sahabat, dan para syuhada.
 
Makam Baqi berada sekitar 500 meter di sebelah Barat Daya Masjid Nabawi. Makam baqi menjadi salah satu di antara tempat favorit yang dikunjungi jamaah selain Makam Nabi Muhammad dan Raudhah.
 
Pemakaman Baqi cukup luas yakni sekitar 174.962 meter persegi dan dikelilingi pagar tinggi. Sebelum memasuki dan berziarah ke makam yang hanya ditandai dengan batu-batu ini, jamaah disambut dengan baliho berisi tata cara ziarah kubur yang sudah ditentukan oleh Pemerintah Arab Saudi. 

Tentara keamanan Arab Saudi pun berjaga-jaga di gerbang dan di dalam pemakaman diperalati dengan pentungan layaknya petugas satpam.
 
Kontributor NU Online, Muhammad Faizin dari Madinah melaporkan, memasuki pintu gerbang terlihat hamparan pasir dan batu sebagai penanda makam. Tampak sebagian makam ada yang terlihat istimewa dengan ukuran nisan lebih besar serta terlihat dibangun menggunakan semen.
 
Ada sekitar 10 ribu sahabat termasuk para syuhada Perang Badar dan Uhud dan keluarga Nabi Muhammad SAW yang dimakamkan di tempat tersebut seperti Siti Aisyah, Fatimah az-Zahra, Ruqayyah, Zainab, dan Ummi Kultsum, Usman Bin Affan, Abbas bin Abd al-Muthalib, dan para cucu Nabi. 
 
Salah satu jamaah haji asal Indonesia, Mubalighin Adnan yang berziarah ke makam tersebut berharap keberkahan akan didapatnya dengan berdoa di makam para keturunan nabi.
 
"Alhamdulillah habis shalat Subuh bisa ziarah di makam para sahabat putra putri Rasulullah dan orang-orang shaleh di Makam Baqi, semoga tambah berkah," harapnya, Senin (2/9).
 
Di sela-sela hilir mudik jamaah di gang-gang pemakaman, petugas kebersihan dan penggali kubur bekerja di bawah terik sinar matahari. Petugas kebersihan bekerja mengumpulkan dan menggunduk-gundukkan pasir dan batu di atas makam yang tercecer. Petugas gali menggali beberapa makam yang akan diisi kembali dengan jenazah baru.
 
Sebelum dimakamkan di Baqi, jenazah akan dishalatkan dulu di Masjid Nabawi dan kemudian dibawa menuju peristirahatan terakhir. Tidak ada nama di setiap makam di Baqi. Hanya batu nisan dan gundukan pasir menjadi tanda, karena memang peraturan dan paham Arab Saudi yang menetapkan seperti itu. 
 
Kontributor: Muhammad Faizin
Editor: Muiz
Ahad 1 September 2019 22:30 WIB
Masuk Raudhah, Antara Perjuangan dan Keberuntungan
Masuk Raudhah, Antara Perjuangan dan Keberuntungan
Antrian di Raudhah (Foto: NU Online/ Muhammad Faizin)
Madinah, NU Online
Selain berziarah ke Makam Nabi Muhammad SAW, tak lengkap rasanya bila sudah datang ke Masjid Nabawi tapi tak masuk dan beribadah di Raudhah. Sebuah tempat yang sangat istimewa antara Makam Nabi Muhammad SAW dan Mihrab (tempat khutbah nabi) dengan lebar 22 x 15 meter.
 
Setiap waktu terlihat para jamaah berdesak-desakan ingin masuk tempat yang oleh nabi ditegaskan dalam haditsnya “Tempat yang di antara rumahku dan mimbarku adalah raudhah (taman) di antara taman-taman surga.” (HR. Bukhari).

Tidak mudah masuk ke Raudhah, selain harus berebut dengan jamaah dari berbagai penjuru dunia, jamaah juga harus pintar memilih waktu dan lokasi antrian. Sistem buka tutup sekatan dari kain terpal plastik diberlakukan oleh pihak masjid untuk menggilir jamaah.
 
"Saya harus ngantri dari jam 2 malam. Sambil ngantuk-ngantuk, desak-desakan sama orang yang badannya besar-besar," kata Jamingan, jamaah haji Indonesia kloter JKG 51 menceritakan kepada NU Online tentang perjuangan masuk Raudhah, Ahad (1/9) di Madinah.
 
Setelah antrian cukup lama akhirnya, Jamingan bisa masuk ke Raudhah. Ia tidak mau ketinggalan momen spesial tersebut. Shalat-shalat sunnah dan doa dipanjatkan di tempat mustajabah tersebut. Walau berhimpit-himpitan, karena lokasi yang hanya bisa menampung puluhan jamaah, Katiman merasa puas.
 
"Marem, mantep mas, doa di Raudhah. Kayaknya langsung di hadapan yang memberi," ungkap jamaah dari Pringsewu, Lampung ini tentang pengalaman pertama kali masuk Raudhah.
 
Perjuangan berat juga harus dilakukan oleh Abidi Koid, jamaah haji asal Bangkalan, Madura. Ia harus mempersiapkan diri dengan bangun tengah malam untuk masuk dalam antrian.
 
"Saya mulai antri jam 12, setelah dua jam antri saya bisa masuk sekitar jam dua pagi," katanya di Masjid Nabawi sesaat sebelum shalat dzuhur, Ahad (1/9).
 
Saat berada di Raudhah, ia pun hanya bisa mendapat kesempatan sekitar sepuluh menit. Ia gunakan waktu tersebut untuk dua kali shalat sunnah.
 
Perjuangan dua orang jamaah tersebut juga dialami jamaah yang ingin masuk Raudhah. Masing-masing memiliki cara tersendiri serta keberuntungan masing-masing. Kenapa ada yang beruntung? Karena memang ada sebagian jamaah yang tak perlu antri. Pasalnya, saat berada di samping sekatan, tiba-tiba sekatan dibuka oleh laskar yang berjaga 24 jam.
 
Sementara keberuntungan lainnya yakni jika anda bisa masuk ke Raudhah dan setelah itu adzan berkumandang, maka anda akan bisa berlama-lama di Raudhah. Pasalnya, antrian tidak akan dibuka dan akan dibuka setelah shalat jamaah selesai dilaksanakan. 
 
Kontributor: Muhammad Faizin 
Editor: Muiz
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG