IMG-LOGO
Opini

Makna Hijrah dari Masa Kenabian ke Era Media Sosial (Bagian 2)

Selasa 3 September 2019 0:0 WIB
Bagikan:
Makna Hijrah dari Masa Kenabian ke Era Media Sosial (Bagian 2)
Ilustrasi: RT.com
Oleh Ahmad Makki

Selepas era Nabi Muhammad, salah satu nama pembahas wacana hijrah Abdullah Al-Bathtal, atau dikenal sebagai Ibnu Bathtal (?-740 M). Ia menjelaskan bahwa, hijrah yang sempurna adalah meninggalkan apa yang dilarang atau diharamkan oleh Allah SWT…hal ini seperti jihad melawan hawa nafsu di mana dianggap lebih besar daripada jihad memerangi musuh (LBM PBNU, Tidak diterbitkan).

Tokoh lain adalah Abu Hanifah (699-767 M) yang merumuskan perbedaan antara “darul Islam” dan “darul harb.” (Ahmed  Khalil, Dar Al-Islam And Dar Al-Harb: Its Definition and Significance, dalam https://en.islamway.net/article/8211/dar-al-islam-and-dar-al-harb-its-definition-and-significanceUberman & Shay, [tanpa kota, tanpa penerbit: 2016], halaman 17).

Darul Islam dalam pengertian Hanifah adalah daerah yang memenuhi tiga kriteria; 1) aman dan damai bagi muslim, 2) dipimpin seorang Muslim, 3) berbatasan dengan negara muslim lainnya. Sementara darul harb adalah wilayah yang diperintah oleh nonmuslim dan bersikap jahat serta memerangi kelompok muslim di wilayahnya. Dengan demikian Hijrah adalah migrasi dari darul harb menuju darul Islam.

Hanifah berpendapat bahwa perintah hijrah fisik sebagaimana disebut dalam Al-Qur’an surat Al-Anfal ayat 72, sudah diaborsi (mansukh) lewat perkataan Nabi Muhammad bahwa, “tidak ada hijrah setelah Fathu Makkah, yang ada hanyalah jihad dan niat” (LBM PBNU, Tidak diterbitkan). Rumusan wacana hijrah Hanifah ini melahirkan oposisi biner antara darul harb dan darul islam, yang selanjutnya akan mempengaruhi beberapa pemikir sesudahnya.

Pendapat serupa disampaikan Al-Mawardi (972-1058 M) (1994, dalam (Khalil, 2016: 17). Ia mengatakan bahwa hijrah hanya menjadi kewajiban bagi muslim yang dihalangi untuk menjalankan ibadahnya.
 

Wacana hijrah juga dibahas oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyah (1292-1350 M), yang tampaknya dipengaruhi oleh pandangan Ibnu Bathtal dalam merumuskan dua macam hijrah; yakni hijrah jasmani dan hijrah hati. Hijrah jasmani berbentuk perpindahan fisik, berpindah dari satu negeri ke negeri yang lain. (Ibnu Qayyim Jauziyah, Bekal hijrah menuju Allah, (Sabaruddin, Trans.) [Depok, Gema Insani Press: 2002], halaman 13).

Yang paling penting adalah hijrah hati kepada Allah dan Rasul-Nya (Muhammad). Ini adalah praktik yang ditekankan Jauziyah dan disebut sebagai hijrah yang hakiki dan hijrah yang inti, sedangkan hijrah jasmani adalah cabang dari hijrah ini. (Ibnu Qayyim Jauziyah, Bekal hijrah menuju Allah, (Sabaruddin, Trans.) [Depok, Gema Insani Press: 2002], halaman 14).

Hijrah hati kepada Allah dan Rasul-Nya meliputi penyerahan diri kepada Allah, yang ditandai dengan perubahan dari rasa cinta; penyembahan; rasa takut dan meminta kepada entitas selain Allah, menjadi terpusat kepada Allah semata. Sementara penyerahan diri kepada Rasul-Nya berbentuk penyerahan jiwa sepenuhnya pada setiap masalah keimanan, bisikan hati, atau hukum terhadap berbagai kasus kepada sumber petunjuk dan pusat cahaya yang tercermin dalam setiap kata yang keluar dari mulut Rasulullah SAW. (Jauziyah, 2002: 21).

Hijrah kepada Allah dan Rasul-Nya merupakan fardhu ain (wajib bagi setiap individu) pada setiap waktu. Kewajiban ini tidak pernah terpisah dari diri seseorang dan hijrah itu adalah kehendak Allah terhadap hamba-Nya. (Jauziyah, 2002: 13).

Pada Nabi Muhammad hijrah dikaitkan dengan praktik fisik, pengorbanan harta, atau diasosiasikan dengan ibadah baku tertentu seperti haji. Sementara pada Jauziyah (2002) hijrah diabstraksi dan diintensifikasi menjadi penyerahan penuh-seluruh kepada Allah, mengindikasikan hijrah mesti menjadi sikap inheren dalam setiap momen hidup individu.

Tokoh selanjutnya yang merumuskan wacana hijrah adalah Muhammad Ahmad bin Sayyid Abdullah (1844-1885). Pada awalnya Hijrah dalam rumusan Ahmad mencakup 12 perilaku, (J. O. Voll, The Mahdi's concept and use of 'hijrah', [tanpa kota, Islamic Studies :1987], 35-36), yaitu kerendahan hati, kelembutan, mengurangi makan, mengurangi minum, kesabaran, menziarahi makam para Sayyid (gelar kepada keturunan Muhammad lewat jalur kedua cucunya, Hasan dan Husein) selama perjuangan mahdiyyah, keteguhan, kesopanan, mengimani dukungan Tuhan, menghindari rasa iri, tidak berbohong dan tidak mengabaikan sembahyang. Rumusan ini diperluas secara signifikan pascainsiden bentrokan pengikutnya dengan pasukan pemerintah. (J. O. Voll, 1987: 36).

Dalam versi perluasan, Ahmad menggambarkan dua jenis hijrah (J. O. Voll, 1987: 37). 1) migrasi dari satu tempat ke tempat lain karena agamanya mendapatkan tekanan. Ini dicontohkan dengan hijrah yang dilakukan Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad.

Jenis hijrah tersebut kerap dipakai untuk mengenalkan topik hijrah utama dalam rumusan Ahmad, yakni; 2) hijrah untuk jihad yang diasosiasikan sebagai migrasi dari kepemilikan harta-benda menuju jalan agama. Ahmad memerintahkan pengikutnya melakukan keduanya, dengan bermigrasi ke wilayah Jabal Qadir, Sudan (J. O. Voll, 1987: 36-38).

Voll (J. O. Voll, 1987: 33) menyebut hijrah dalam pemikiran Ahmad lebih terkait dengan konteks krisis, ketimbang orientasi kepada kehidupan rutin secara umum. Ini terkait konteks sosio-politik Sudan yang ketika itu dikuasai oleh Mesir dengan cara represif.

Cendekiawan Muslim selanjutnya yang membahas tentang wacana hijrah adalah dua tokoh yang dikenal sebagai tokoh konservatif, yakni Abul A’la al-Maududi (1903-1979) dalam Bukay dan Sayyid Qutb (1906-1966). Maududi (D. Bukay, Islam and the infidels: the politics of jihad, da'wah, and hijrah, [New Jersey, Transaction Publisher: 2016]) menyatakan bahwa seorang muslim hanya boleh tinggal di negara kafir (yang tidak memberlakukan syariat Islam) jika ia melakukan upaya untuk menegakkan kejayaan Islam di wilayah tersebut, atau jika hidup di bawah tekanan tirani yang korup. Di luar itu, muslim wajib tinggal di negara Islam (yang memberlakukan syariat Islam).

Untuk itu hijrah membuka atmosfer yang bebas dan murni untuk mengembangkan kejayaan dan kebenaran Islam. Hijrah adalah pelengkap bagi jihad untuk membantu penegakkan “hukum Allah,” yakni syariat Islam, melalui sistem khilafah (Maududi, dalam Bukay, 2016).

Qutb mengajukan pandangan yang beririsan dengan Maududi. Tapi ia menekankan hukum kekafiran bagi muslim yang tidak melakukan hijrah ke negara Islam karena keengganannya meninggalkan kenyamanan, atau takut menghadapi kesulitan dan kemalangan dalam pengasingan (Qutb dalam Bukay, 2016).

Sebelumnya didiskusikan tentang Hanifah yang merumuskan oposisi biner dalam wacana hijrah. Pengaruh dualisme tersebut terlihat pada pandangan Maududi dan Qutb. Yang membedakan, jika Hanifah menganggap hijrah fisik sudah tidak berlaku karena kondisi sudah aman, Maududi dan Qutb menghidupkannya kembali.

Jejak pengaruh Maududi dan Qutb ini akan terlihat dalam upaya perumusan wacana hijrah di Indonesia pada sekitar pertengahan abad ke-20 oleh SM Kartosoewirjo. (bersambung…)
 

Ahmad Makki, Praktisi Media Sosial, Kandidat Master Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia.
Tags:
Bagikan:

Baca Juga

Selasa 3 September 2019 16:0 WIB
Ekosistem Halal: Menjanjikan tapi Menantang
Ekosistem Halal: Menjanjikan tapi Menantang
Sangat beralasan, Indonesia optimistis membangun ekosistem halal. (Ilustrasi: NU Online)
Pada acara World Halal Conference 2018 di Kuala Lumpur, ada pernyataan menarik bahwa halal telah menjadi semacam ekosistem, selain sebagai industri. Produk halal telah menjadi bagian bisnis dunia yang nilainya sangat besar dan menjanjikan, bukan saja untuk masyarakat muslim tetapi juga non-muslim. Bukan hanya menjadi pusat perhatian negara-negara Islam (islamic countries) tetapi juga negara-negara “sekuler” atau minoritas Muslim. 
 
Malaysia, sejak awal telah mengukuhkan diri sebagai pusat produk halal dunia. Berbagai event dan halal expo diselenggarakan, misalnya Malaysia International Halal Showcase (MIHAS) tiap tahunnya sejak 2013. Event ini merupakan ajang promosi bagi industri halal Malaysia dan berbagai negara dunia. Tidak sekedar itu, Malaysia meneguhkan sebagai destinasi halal dengan memperkenalkan lembaga riset dan pelatihan halal melalui universitas.  Salah satunya adalah INHART (International Institute for Halal Research and Training) yang dimiliki kampus IIUM (International Islamic University Malaysia)yang memberikan pendidikan, penelitian, pelatihan, dan konsultasi kelas dunia yang berkaitan dengan industri halal.
 
Selain Malaysia, Jepang menjadi salah satu negara yang paling berambisi menjadi pusat dan role model produk halal dunia. Pemerintah Jepang sangat gencar membangun berbagai fasilitas untuk mengembangkan bisnis produk halal, mulai dari restoran halal hingga fasilitas ibadah seperti mushala di tempat-tempat umum, misalnya bandara. Jepang sudah mendeklarasikan tempat-tempat yang mempromosikan produk halal. Satu kota di Jepang, yaitu Fuji, sudah mendeklarasikan diri sebagai kota halal. 
 
Penuturan kawan yang mukim di Jepang, saat ini makin mudah menemukan toko yang menyediakan bahan-bahan halal misalnya daging, sosis, nugget. Restoran yang memampang label halal juga makin banyak dilihat di berbagai sudut kota. Jenis produk makanan halal yang diminati oleh konsumen Jepang adalah daging. Kantor perwakilan Indonesia di Tokyo melaporkan bahwa Jepang hanya mampu memenuhi sekitar 40 persen dari kebutuhan dalam negeri, sehingga ekspor makanan dan produk daging halal ke negeri Kincir Angin ini diperkirakan akan terus tumbuh membaik.
 
Pasar produk makanan dan minuman halal di Jepang ditaksir akan terangkat terkait digelarnya Olimpiade Musim Panas pada 2020 mendatang. Data Brand Research Institute menyebutkan sekitar 750 ribu wisatawan Muslim akan berkunjung ke Jepang saat Olimpiade digelar (dikutip dari Tirto.id).
Peluang bisnis makanan halal kini cukup menjanjikan di negara-negara minoritas Muslim seperti Jepang, Korea Selatan, Cina, Australia, Perancis, Amerika Serikat,Eropa, dan lainnya. Kenapa ini terjadi? Tampaknya pasar atau konsumen halal tak melulu warga asing Muslim, tapi pertumbuhan penduduk Muslim di negara tersebut turut memicu kebutuhan akan kosumsi halal.
 
Sebagai gambaran, populasi Muslim dunia diperkirakan mencapai 2,2 milyar jiwa pada tahun 2030 atau 23 persen populasi dunia. Dari jumlah itu terbanyak berada di Asia Pasifik, lalu Timur Tengah, Afrika Sub Sahara, Eropa hingga Amerika Utara dan Latin. Populasi diperkirakan akan bertambah menjadi 29 persen populasi dunia hingga 2050. 
 
Penelitian Pew Research Centre mengungkapkan lebih dari 20 persen populasi Muslim di dunia tinggal di negara-negara minoritas Muslim, terutama di negara-negara Barat. Pergolakan politik dan bentrokan etnis di beberapa negara Muslim juga mengakibatkan migrasi orang-orang Islam ke negara-negara Barat, sehingga menambah populasi di negara minoritas Muslim. Populasi Muslim di Amerika Serikat misalnya, diperkirakan meningkat dua kali lipat dalam 20 tahun ke depan, dari 2,6 juta jiwa menjadi 6,2 juta jiwa pada 2030. Di Eropa, populasi Muslim diperkirakan akan tumbuh sebesar 33 persen selama 20 tahun ke depan, meningkat dari 44 Juta menjadi 58 juta jiwa pada 2030. Sedangkan Muslim Australia akan meningkat dari 2,2 persen menjadi 4,9 persen pada 2050 yang berarti satu juta lebih Muslim di Australia pada 2050, di salah satu kawasan Asia Pasifik ini.
 
Asia Pasifik sebagai kawasan terbesar populasi Muslim dunia menjadi pasar potensial produk dan makanan halal, tak kecuali di negara-negara minoritas Muslim.Tak heran kalauThailand telah mendeklarasikan sebagai pusat pangan halal.Saat ini Thailand menempatkan diri sebagai buffer zone makanan halal dunia. Jepang sangat aktif mendorong industri ekspor halal seperti obat-obatan, kosmetika, makanan dan minuman ke mancanegara. Korea Selatan sedang membangun destinasi wisata halal (halal tourism). Mereka tahu persis peluang sektor ini, dan menjadikan booming global halal sebagai keuntungan domestik. 
 
Eropa, sebagai kawasan populasi Muslim terbesar keempat dunia juga peluang produk halal yang menjanjikan. Permintaan produk halal di pasar Eropa meningkat rerata 15 persen per tahun. Di Perancis, pasar daging mempunyai permintaan tertinggi di antara makanan halal lainnya. 
 
Ekosistem Halal Indonesia: Tren yang Menantang
Berbagai layanan berbasis syariah dewasa ini makin meluas dan menjadi salah satu tujuan Indonesia dalam mengembangkan bisnis halal. Dalam ekosistem ini, produk halal meliputi pasar yang luas, tidak hanya identik dengan makanan dan minuman (mamin), tapi telah menyentuh hampir semua lahan bisnis yang ada, mulai dari bahan dasar makanan, produk dan pelayanan kesehatan, kosmetik dan kebutuhan pribadi, properti, hotel,travel, media, pendidikan, dan jasa keuangan. Memperkuat ekosistem ini, Indonesia bahkan telah menetapkan 10 sektor yang secara ekonomi dan bisnis berkontribusi besar dalam industri halal, yakni industri makanan, wisata dan perjalanan, pakaian dan fesyen, kosmetik, finansial, farmasi, media dan rekreasional, kebugaran, pendidikan, dan seni budaya.
 
Optimisme Indonesia membangun ekosistem halal dikarenakan banyak sebab. Indonesia dengan penduduk beragama Islam terbesar di dunia membawa keuntungan tersendiri sebagai pangsa pasar halal yang sangat potensial dan menantang. Jumlah penduduk beragama Islam mencapai 209,1 juta jiwa atau 87,2 persen dari total penduduk Indonesia. Atau 13,1% dari seluruh umat Muslim di dunia. Dari hitungan kasar ini saja, permintaan akan produk dan jasa halal dipastikan akan terus meningkat. Tak heran kalau Agus Yuliawan, Pemerhati Ekonomi Syariah, menyatakan, “Kalau mau jujur, industri halal yang benar-benar halal [hanya] ada di Indonesia. Kenapa? Karena proses pembuatannya dilakukan oleh orang-orang Muslim, begitu juga dalam delivery-nya juga orang Muslim, bahkan pengkonsumsinya adalah orang-orang Muslim.” 
 
Agus pantas optimis karena dengan modal penduduk muslim, Indonesia adalah ceruk pasar halal itu sendiri. Artinya dengan ‘keuntungan demografik’ ini Indonesia harusnya menjadi peluang dalam pengembangan Industri halal dunia. Bahkan hanya bermain pada local market saja, sebenarnya cukup bagi Indonesia untuk memenangkan persaingan industri halal dunia. Apakah itu beralasan? Ya, potensi ke arah sana sangat menjanjikan. Market share perbankan syariah sudah di kisaran 5,7 persen, meski masih kalah jauh dari market share perbankan konvensional yang berada di 94,3 persen. Islamic finance di Indonesia memang masih di bawah perbankan konvensional. Tapi pertumbuhan perbankan syariah pada Juli 2018 mencapai 14,6 persen secara tahun ke tahun (year on year/yoy).Sementara itu, pertumbuhan bank-bank konvensional Indonesia pada periode yang sama hanya tumbuh 8,9 persen.
 
Kesadaran masyarakat Indonesia terhadap halal (halal awareness) dan tumbuhnya halal life style di kalangan anak muda dan perkotaan menjadi peluang baru pertumbuhan perbankan syariah dan industri halal. Dampak ikutan (nurturant effect) dari kecenderungan ini adalah peluang pengembangan halal ekosistem di Indonesia makin baik dan variatif. Ada halal foodislamic fashionislamic tourismislamic education, haji dan umrah, zakat, sedekah hingga wakaf (islamic philanthropy). Pertumbuhan ekosistem halal ini mendongkrak pertumbuhan pangsa pasar perbankan syariah. Halal food punya potensi Rp2.300 triliun, islamic fashion mempunyai potensi hingga Rp190 triliun.Sementara islamic tourism kisaran Rp135 triliun, potensi haji dan umrah sebesar Rp120 triliun, dan pendidikan memiliki potensi Rp40 triliun. Potensi itu belum mencakup seluruh pendapatan seperti Dana Pihak Ketiga (DPK), pembiayaan, dan transaksi bank lainnya yang berasal dari nasabah muslim.
 
Perkembangan ekosistem halal tak lepas dari peran pihak perbankan. BNI Syariah, misalnya rutin menyelenggarakan International Islamic Expo. Tahun 2018 lalu, event ini melibatkan tak kurang 140 perusahaan domestik dan internasional dari berbagai bidang penunjang bisnis syariah.58 di antaranya adalah perusahaan luar negeri dari Timur Tengah, ASEAN, Eropa dan Asia Tengah yang bergerak di berbagai bidang. Mulai dari penyedia visa, katering, hotel, transportasi, telekomunikasi, paket wisata, dan akomodasi lainnya. Sementara, 25 perusahaan dalam negeri merupakan penyelenggara haji dan umrah resmi terdaftar di pemerintah yang juga menyediakan paket wisata halal.Tak hanya itu, sebanyak 45 perusahaan lainnya bergerak di sektor kuliner, kosmetik, fashion, maskapai, dan penunjang ekosistem halal lain. Ada Shafira dibidang fashion, Zoya main di kosmetik, Garuda Indonesia, Saudia dan Flynass untuk transportasi.
 
Ikon pariwisata halal (halal tourism) kini makin dikenal publik Indonesia. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, ceruk pariwisata Indonesia dikenal mancanegara. Seiring meningkat dan berkembangnya tren konsumen halal lifestyle, sektor pariwista tak hanya menawarkan rekreasi atau lokasi wisata, namun di dalamnya termasuk kuliner,penyediaan hotel yang ramah muslim (moslem friendly), layanan keuangan syariah, kebutuhan barang gunaan, fasilitas ibadah,hingga sektor riil. Perkembangan sektor ini ditengarai memperkuat pertumbuhan industri halal di Indonesia. Menyadari potensi besar sektor ini, Kementerian Pariwisata menetapkan 10 rekomendasi destinasi wisata halal Indonesia, yakni Lombok, Jakarta, Batam, Aceh, Jawa Barat, Yogyakarta, Sumatera Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah dan Sulawesi Selatan.
 
Semua eksplorasi terhadap wisata halal tanah air kira-kira akan tergambar seperti ini: niat pelesir dengan bismillah; bersama anggota keluarga yang sakinah; sewa kendaraan mewah atau naik pesawat dengan layanan wah; membayar semua ongkos dan transaksi di bank syariah; berpakaian dengan mode fashion muslim terbaru meski harganya murah; menginap di hotel yang penuh berkah; di sela perjalanan shalat di masjid berarsitektur unik dan indah; dan tentunya mencicipi makanan halal khas Nusantara yang nikmat di lidah. Hehe…
 
Animo dan minat masyarakat Muslim menyelenggarakan haji dan umrah atau wisata religi juga memunculkan optimisme bagi perkembangan industri pariwisata halal yang terus bergeliat di tanah air. Perbaikan regulasi, pengawasan, pembiayaan, dan pelayanan yang dilaksanakan Kementerian Agama melalui Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah berimplikasi positif bagi pembenahan industri yang memadukan unsur religi dan wisata ini. Jemaah haji Indonesia sebanyak 231.000 (tahun 2019) adalah jumlah terbesar jemaah haji di dunia. Ada informasi bahwa Arab Saudi akan menambah kembali kuota haji Indonesia sampai 250.000 jemaah. 
 
Bisnis umrah tak kalah menggiurkan. Jemaah umrah tercatat tak kurang 1,1 juta pada tahun 2018, dan ada tren naik pada tahun berikutnya. Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) maupun Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK) biasanya memadukan perjalanan suci ini dengan berbagai fasilitas tambahan seperti makanan halal atau paket wisata ke negera lain (Turki, Jedah, Mesir, Palestina). Belum lagi kalau mereka menawarkan paket wisata religi di tanah air yang destinasinya tak kalah dengan negara lain. Misalnya ziarah Wali Songo yang digemari oleh masyarakat muslim Jawa dan Kalimantan. Kini ziarah seperti ini melibatkan sektor-sektor bisnis yang krusial: travel agenttiketing, transportasi, edukasi, kuliner, pembimbing ziarah, dan berkecambahnya ekonomi sektor riil di kalangan masyarakat sekitar lokasi ziarah. Masjid-masjid bersejarah dan berarsitektur indah di berbagai kota menjadi incaran para pelancong yang ingin memuaskan dahaga spiritual. Kuburan atau makam wali dan penyebar agama Islam tak pernah sepi dari ziarah setiap hari. Artefak-artefak kebudayaan termasuk didalamnya museum tak luput dari jepretan wisman yang segera diunggah via media sosial. 
 
Berjalan berkelindan dengan itu, market islamic/moslemfashion terus menanjak. Saat ini Indonesia jadi kiblat islamic fashion dunia. Desainer-desainer busana muslim Indonesia memiliki market cukup besar di Asia bahkan dunia, termasuk di Uni Emirat Arab. Di sektor ini, menurut laporan State of the Islamic Economy Report, 2019 menempatkan Indonesia sebagai negara kedua tertinggi setelah UEA (Uni Emirat Arab).
 
Kementerian Perindustrian menyebutkan tahun 2018-2019 pengembangan industri fashion muslim dilakukan dengan melibatkan sebanyak 656 pelaku IKM fesyen dan 60 desainer. Dengan tujuan mewujudkan Indonesia sebagai kiblat fashion muslim dunia, baru-baru ini dihelat Muslim Fashion Festival Indonesia (MUFFEST) 2019 di Jakarta. Menariknya, MUFFEST 2019 menggaungkan tawaran trend fashion Muslim 2020 yang diarahkan sebagai identitas busana muslim Indonesia. 
 
Satu sektor lagi yang tengah digenjot pemerintah adalah kawasan industri halal. Kementrian bersama Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengembangkan kawasan industri halal untuk memperluas jangkauan produk makanan dan minuman, kosmetik, ekonomi kreatif, dan garmen. Selaras dengan model ini, beberapa waktu lalu Presiden Jokowi meresmikan Halal Park sebagai embrio dari proyek halal district, di Kompleks Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta.Menurut inisiatornya, Diajeng Lestari,Halal District ini rencananya akan menjadi pusat gaya hidup halal di Indonesia, selain ekosistem bagi para pelaku bisnis yang bergerak di industri halal. Industri yang dilibatkan dalam proyek ini mulai dari mode, makanan dan minuman, pariwisata, perbankan, hingga financial technology (fintech) syariah.
 
"Halal District akan menjadi ekosistem industri halal di Indonesia, bukan hanya tempat jual-beli saja. Di sini, para pelaku industri bisa saling bertemu dan bersinergi. Nantinya juga akan ada co-working space, ada layanan peer-to-peer landing berbasis syariah, wisata halal, semuanya bisa saling berkolaborasi," kata Diajeng Lestari yang juga merupakan founder dan CEO Hijup.
 
Meski baru, konsep Halal Park sebenarnya banyak dicontohkan beberapa negara mode dunia, misalnya Milan, Italia yang membangun Fashion District. Wisatawan yang datang ke Milan bisa tahu kemana mereka harus pergi bila ingin berbelanja produk fashiondengan kualitas terbaik. Kira-kira nantinya Halal Park akan menjadi pusat untuk menemukan produk-produk halal dan berbasis syariah. Konsep yang realistis karena ekosistem halal sudah mewabah kemana-mana. Market halal Indonesia termasuk salah satu terbesar. Sehingga dari sisi produktivitas,inisiasi halal park ataupun kawasan industri halal lebih memberi jalan lempang bagi hilirisasi berbagai produk halal yang sudah ada segmennya masing-masing. Ekosostem yang dibangun tuntas: dari hulu ke hilir.Stimulus ke pelaku usaha yang bergerak di berbagai sektor halal dilakukan melalui halal supply chain management yang memadai, sisi hilir digarap melibatkan multi-stakeholder halal melalui pembangunan berbagai sarana seperti halal district dan semacamnya. 
 
Kalau kita berhasil memadukan ini, optimis semua kekuatan untuk mengangkat industri halal Indonesia ke tingkat dunia akan terlaksana. Sebagai motor pertumbuhan ekonomi, ladang kreativitas dan produktivitas generasi muda, dan mengangkat industri halal sebagai sumber kesejahteraan umat seperti harapan Presiden Jokowi, bukan hanya silat lidah atau isapan jempol.
 

Mastuki HS, Penulis adalah Kepala Pusat Registrasi dan Sertifikasi Halal, BPJPH.
 
Selasa 3 September 2019 12:30 WIB
Moderatisme KH Hasyim Muzadi dan KH Afifuddin Muhajir
Moderatisme KH Hasyim Muzadi dan KH Afifuddin Muhajir
KH Hasyim Muzadi dan KH Afifuddin Muhajir. (Ilustrasi: Kamal)
Oleh Hilmi Ridho

Islam sebagai agama terakhir memiliki banyak ciri khas yang membedakannya dari agama lain, ada tiga ciri khas agama Islam yang paling menonjol yaitu tawasuth, ta’adhul, dan tawazun. Tiga ungkapan tersebut dapat disatukan menjadi wasathiyyah (moderasi). Akhir-akhir ini banyak muncul kalangan yang mengatasnamakan Islam, namun ideologi dan aksinya tidak mencerminkan Islam Rahmatan lil ‘Alamin, ada yang ekstrem kanan, dan ada pula ekstrem kiri. Keduanya saat ini lebih dikenal dengan gerakan radikalisme dan liberalisme.

Islam yang sejatinya memiliki prinsip mengasihi kepada penganutnya, kini tercoreng dengan kehadiran dua aliran itu. Untuk membendung gerakannya agar tidak menjadi parasit, pesantren sebagai lembaga pendidikan keagamaan menanamkan karakter moderat kepada santrinya, supaya tidak terjerumus sebagai penganut dua aliran mainstream. Tak hanya berbekal ilmi pengetahuan, tapi juga aksinya dalam memberantas ideologi radikal dan liberal sampai ke akar-akarnya, hal inilah yang dilakukan KH Ahmad Hasyim Muzadi dalam beberapa kesempatan.

Semenjak masih aktif memimpin NU sebagai Ketua Umum PBNU sampai setelah tidak lagi menjabat, Kiai Hasyim Muzadi masih menggawangi ICIS (International Confrence of Islamic Scholars), beliau gunakan kesempatan itu untuk mendakwahkan Islam moderat ke berbagai belahan dunia. Dengan jabatan itu beliau menggelar beberapa kali sarasehan ulama pesantren dan cendikiawan internasioanl yang bertempat di Jakarta dan satu kali di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo Jawa Timur dengan tema besar Mengokohkan kembali Islam Rahmatan lil 'Alamin, aksi itu beliau kembangkan dari satu kota ke kota lain sebagai manifestasi dalam pemberantasan gerakan radikalisme dan liberalisme.

Salah satu acara sarasehan ulama pesantren dan cendikiawan beliau tempatkan di Pondok Pesantren Al-Hikam Depok, Jawa Barat. Dalam kegiatan itu menghasilkan maklumat kebangsaan untuk perbaikan bangsa dan negara. Indonesia memang sudah merdeka secara fisik dari penjajahan, akan tetapi secara ideologi Indonesia masih terbelenggu dengan penjajahan. Mengapa demikian? Benih-benih pemikiran statis dan jumud, menjadi penyebab mudahnya penjajahan secara ideologi, hal itu tak bisa terbantahkan mengingat munculnya terorisme yang ingin menjadikan Indonesia sebagai negara khilafah Islam.

Gerakan ini hanya didukung oleh kelompok ekstremis, upaya pendirian khilafah Islam lahirkan banyak teroris. Indikasi Islam ekstrem adalah kelompok yang meyakini dirinya sebagai satu-satunya kebenaran, meyakini yang ia tempuh sebagai agama bukan lagi sekadar teori pemahaman. Semenatara nilai-nilai yang harus dipedomani umat Islam adalah nilai moderat Al-Qur’an dan keislaman bukan nilai-nilai kemanusiaan murni.

Dalam kesempatan lain, Kiai Hasyim Muzadi menyampaikan bahwa Islam Rahmatan lil ‘Alamin sangat relevan dengan kondisi global yang anti damai, penuh kekerasan dan bahkan mendukung radikalisme. Ironisnya, kondisi global ini seolah diamini dengan dogma yang pro-kekerasan dan anti damai tersebut. Agama diangankan sebagai penebar kekerasan, radikalisme, penyokong perang dan seterusnya, stigma negatif agama terlanjur merebak kemana-mana.

Beliau menambahkan tugas utama kita adalah menyebarkan Islam Rahmatan lil ‘Alamin ke seantero dunia, Islam harus mampu menebarkan kasih sayang pada seluruh makhluk di bumi, Islam hadir membawa misi keselamatan, ketentraman, dan kedamaian hidup, Islam harus menorehkan harapan damai dan keselamatan pada manusia di bumi tanpa melihat jenis kelamin, tempat tinggal, suku, agama, aliran, dan yang lainnya.

Melalui aksinya di kancah politik, Kiai Hasyim Muzadi banyak menyampaikan pesan-pesan tentang moderasi Islam yang harus dikedepankan. Seperti konfrensi internasional yang diadakan di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo, beliau berharap konfrensi tersebut menghadirkan konsep perdamaian diberbagai belahan dunia. Oleh karenanya, diperlukan para umana' dan cendikiawan Muslim untuk membimbing dan membina umat Islam dengan cara menyebarkan pemikiran Islam yang moderat untuk membentuk generasi yang konstruktif, sehingga dapat menyelesaikan masalah perbedaan dengan cara dialog.

Adapun KH Afifuddin Muhajir, kiai yang satu ini lebih banyak berperan di belakang layar, artinya lebih banyak menyebarkan Islam Rahmatan lil ‘Alamin melalui pemikirannya yang tertuang dalam karya-karyanya. Seperti bukunya yang berjudul Membangun Nalar Islam Moderat: Kajian Metodologis dan Fiqih Tata Negara. Dalam salah satu karyanya, beliau menyampaikan bahwa moderasi adalah jalan tengah di antara dua hal yang berbeda.

Dengan demikian, menurutnya yang dimaksud moderasi adalah setiap pola pikir, pola bertindak, dan berperilaku yang memiliki tiga komponen ciri khas Islam yaitu, tawasuth, ta’adhul, dan tawazun. Watak moderasi melekat semenjak agama Islam lahir, dan akan terus melekat sampai hari kiamat nanti. Setelah terjadi perpecahan dalam tubuh umat Islam, sifat moderasi lengket dengan golongan yang bernama Aswaja (Ahlussunnah wal Jama'ah).

Dalam kesempatan menjadi narasumber seminar internasional Conflict and Democratization Process in the Middle East (Konflik dan Proses Demokratisasi di Timur Tengah) di Pondok Pesantren Al-Hikam, Depok, Jawa Barat, Katib Syuriah PBNU itu menyampaikan sebuah makalah yang berjudul Moderasi dan Manifestasinya dalam Negara Pancasila, dalam makalah tersebut terdapat sebuah kesimpulan bahwa ada tiga pengertian tentang moderasi.

Pertama, moderasi adalah jalan tengah di antara dua hal yang berlawanan. Kedua, memadukan di antara dua hal yang diperlukan. Ketiga, moderasi artinya juga realitas meletakkan sesuatu pada tempatnya. Kesimpulan makalah itu menunjukkan bahwa Islam tidak menutup mata dari situasi dan kondisi yang pasti dialami oleh manusia, seperti sifat manusia yang tidak selalu kuat dan tidak selalu lemah. Pada dasarnya Islam sangat idealis, akan tetapi dalam kondisi tertentu Islam tidak segan untuk turun ke bumi realitas.

Dalam waktu lain, Kiai Afifuddin Muhajir menyampaikan bahwa Islam itu moderat dan indah, akan menjadi menjadi tambah indah kalau disampaikan, diajarkan, dan didakwahkan dengan cara yang indah pula. Sebaliknya, Islam akan tercoreng bila diajarkan dan didakwahkan dengan cara yang tidak baik. Salah satu manifestasi dari keindahan Islam adalah toleransi. Toleransi tentu berbeda dengan justifikasi. Islam berada di antara radikalisme dan liberalisme, artinya Islam tidak radikal dan liberal.
 

Penulis adalah santri di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, Situbondo
Senin 2 September 2019 12:0 WIB
Mengimplementasikan Ajaran Sosial Religius Sunan Drajat
Mengimplementasikan Ajaran Sosial Religius Sunan Drajat
Makam Sunan Drajat. (via Kang Rudi)
Oleh Wahyu Eka Setyawan

Angka kemiskinan di Indonesia yang baru-baru ini diributkan banyak praktisi hingga akademisi, menjadi satu data yang menggambarkan realitas kekinian. Di mana memang cukup susah menempatkan kemiskinan dalam suatu hal yang baku. Tetapi di sini penulis ingin mengutip data yang disediakan oleh BPS, sebagai ilustrasi awal untuk menuju abstraksi tentang kemiskinan.

Pemerintah Indonesia melalui BPS menyebutkan jika angka kemiskinan di Indonesia telah menurun, dari angka 9.66 persen di tahun 2018 menjadi 9.41 persen di tahun 2019. Kategori miskin ini dikategorikan kepada masyarakat yang memiliki penghasilan di bawah 400-500 ribu rupiah per bulan, menurut BPS itu sudah sesuai dengan standar ekstrem kemiskinan Bank Dunia.

Di Jawa Timur sendiri tercatat kemiskinan berada di angka 10.85 persen di tahun 2018, dengan sebaran kemiskinan di perdesaan sebesar 15.2 persen, lalu di perkotaan sebesar 6.9 persen. Laju kemiskinan yang berhasil diturunkan masih dikisaran angka 72 ribu jiwa dari 39,29 juta total penduduk, jika mengacu pada data sensus penduduk BPS di tahun 2017. 

Lebih spesifik kita akan menuju tiga kabupaten di wilayah pesisir utara yang memiliki keterkaitan satu sama lainnya, yakni Bojonegoro, Tuban dan Lamongan. Berbicara tentang kemiskinan berdasarkan survei nasional BPS di tahun 2018, angka kemiskinan di Bojonegoro berada di angka 13.36 persen atau berada di kisaran angka 163.940 jiwa. Sementara di Tuban sendiri berada di angka 15.31 persen atau ada sekitar 196.000 jiwa, lalu di Lamongan angka kemiskinan berada di kisaran angka 14.42 persen atau ada sekitar 171.38 jiwa.

Kemiskinan di wilayah tersebut menjadi bukti, bahwa tugas utama umarah dan ulama sebagai penggerak umat ialah, turut serta memikirkan bagaimana kemiskinan ini bisa direduksi dan dieliminasi. Jika merujuk pada pemikiran Gus Dur tentang Al-Masholih Ar-Raiyah yang merupakan konsep kemaslahatan umat, di mana kesejahteraan adalah kunci menuju kehidupan yang sentosa. Tenang dalam menjalankan kehidupan keluarga, sosial dan religius, tanpa ada sedikitpun distraksi, itulah hakikat dari kesentosaan itu sendiri.

Ajaran Sosial-Religius Sunan Drajat

Raden Qosim atau familiar dikenal dengan sebutan Sunan Drajat merupakan anak kedua dari Sunan Ampel (Raden Rahmat). Beliau berdakwah di wilayah pesisir utara pulau Jawa, lebih spesifik di wilayah pesisir utara Lamongan, namun lebih dari itu ajarannya pun menyebar hingga di seluruh wilayah pulau Jawa. Sunan Drajat dikenal sebagai Wali Songo yang memiliki ajaran sosial-religius tinggi, dan tercatat bisa mengentaskan wilayah sekitar pantai utara terutama Paciran dari kemiskinan. Ajaran sosial-religius yang ia implementasikan menjadi nilai tersendiri jika kita telaah lebih dalam, sebagai bagian dari tadabur atas realitas yang ada.

Sunan Drajat dalam beberapa literatur memiliki beberapa ajaran yang dapat dikatakan erat kaitannya dengan ajaran tasawuf, karena memiliki kedalaman makna dan implikasi. Baik dalam kebatinan maupun yang berkorelasi dengan sisi realitas. Diskursus ajaran sosial-religius Sunan Drajat inilah yang seharusnya dielaborasi dan diimplementasikan dalam konteks terkini. Sebagai satu konstruksi filosofis yang realistis dalam upaya untuk mereduksi kemiskinan itu sendiri. Paling tidak dijadikan satu pijakan bergerak karena lillahi ta’ala, atau berdasarkan ketakwaan dan keimanan kepada Allah.

Sunan Drajat dengan nilai-nilai luhur ajaran yang dimilikinya, memiliki satu sisi menarik dalam ajarannya terkait sebuah ajakan untuk berbuat yang terbaik untuk umat. Catur Piwulang yang merupakan pitutur atau pesan-pesan luhur Sunan Drajat, merupakan salah satu ajaran sang sunan yang masih teridentifikasi dan telah diterjemahkan dalam berbagai perspektif. Namun secara harfiah dasar Catur Piwulang memiliki muatan atau isi kurang lebih sebagai berikut:

1. Wenehono teken marang wong kang wuto (berilah tongkat pada orang yang buta).
2. Wenohono pangan marang wong kang kaliren (berilah makan pada orang yang kelaparan).
3. Wenohono sandang marang wong kang wudo (berilah pakaian pada orang yang telanjang).
4. Wenohono payung marang wong kang kawudanan (berilah payung pada orang yang kehujanan).

Catur Piwulang dalam Konteks Terkini

Berangkat dari ajaran sosial-religius yang terekam dalam catur piwulang sebagai ajaran adiluhung Sunan Drajat. Maka dalam konteks kekinian dapat direlasikan dalam beberapa realitas, terutama nilai-nilai filosofis sebagai pijakan yang impementatif. Wenehono teken marang wong kang wuto atau berikanlah tongkat kepada orang buta. Secara sosial terkini makna tersebut sangat sesuai dengan situasi dan kondisi faktual, di mana kemiskinan menjadi satu problem yang memang harus diatasi bersama. 

Dalam situasi ini seorang yang pandai harus mampu memberikan pencerahan berupa penyebaran pengetahuan, baik dalam konteks kritik atas kebijakan atau alternatif-alternatif yang bisa disajikan untuk menanggulangi kemiskinan itu sendiri. Misal gagasan terkait pelatihan untuk usaha kecil dan menengah, khususnya di level rumah tangga perdesaan. Mencerahkan terkait tata guna serta tata kelola lahan, ketimpangan dan strategi terkait untuk mencapai kesejahteraan itu sendiri.

Wenehono pangan marang wong kang kaliren, berikanlah makan kepada orang kelaparan. Salah satu kebutuhan dasar manusia adalah makan dan minum. Tugas dari umara atau pemimpin di sini ialah senantiasa mengedepankan pangan dari umat itu sendiri. Berangkat dari problem seperti ketimpangan lahan, rusaknya lingkungan akibat dari tata kelola yang keliru mengakibatkan semakin terancamnya kebutuhan pangan. 

Sebab itu maka dalam menentukan tata kelola sudah seharusnya melibatkan umat, kondisi lingkungan hidup dan fokus mengedepankan kebutuhan umat seperti pangan. Wenehono sandang marang wong kang wudo, berikanlah pakaian kepada orang yang telanjang. Makna dari hal ini ialah orang-orang kaya tidak boleh tamak dan rakus, harus ingat bahwa harta adalah titipan Allah semata. Maka mereka harus adil dan tidak boleh secara serampangan mengambil hak-hak orang miskin dan lemah.

Wenehono payung marang wong kawudanan, berikanlah payung kepada orang yang kehujanan. Kita dipaksa agar selalu ingat bahwa hidup tidak sendiri, harus saling melindungi dan menghargai satu sama lainnya. Seorang pemimpin atau orang pandai harus mampu memayungi dan meneduhkan bagi orang membutuhkan. Ia harus mampu mendengarkan umat serta lingkungan hidupnya dan tidak menghianati umat itu sendiri. Semua yang ada di dunia merupakan titipan, manusia sebagai khalifah fil ardh harus bijak dan mementingkan umat itu sendiri. 

Kemiskinan salah satu penyebabnya ialah ketidaksinkronan antara kebijakan serta ketidakpekaan umara pada umatnya. Tidak mau mendengar, tidak mau mengedepankan kepentingan umat dan egois. Ajaran Sunan Drajat jika dikontektualisasikan sebagaimana cara pandang penulis, maka akan menjadi salah satu pengingat dan pedoman, bagaimana menjadi umara yang baik, serta menjadi dasar berpijak bagi umat, bagaimana seharusnya bersikap. Semua hal tersebut merupakan bagian dari istiqomah demi terwujudnya maslahah al-ammah atau kebaikan untuk semua orang.
 
 
Penulis adalah alumnus Psikologi Universitas Airlangga yang kini menempuh pendidikan lanjutan di bidang politik, Nahdliyin Muda
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG