IMG-LOGO
Trending Now:
Opini

Majelis Taklim Kitab Kuning, Pesantren Besar di Jakarta

Kamis 5 September 2019 5:0 WIB
Bagikan:
Majelis Taklim Kitab Kuning, Pesantren Besar di Jakarta
Ilustrasi: google plus
Oleh Rakhmad Zailani Kiki
Dari tahun 2016 hingga 2018, Jakarta Islamic Centre (JIC) melakukan riset majelis taklim kitab kuning di Jakarta.  Untuk riset majelis taklim kitab kuning konvensional di DKI Jakarta dilakukan oleh JIC dari tahun 2016 sampai tahun 2017 dengan jumlah 234 majelis taklim kitab kuning.

Adapun untuk kajian majelis taklim kitab kuning online, riset dilakukan pada tahun 2018 dengan jumlah 9 majelis taklim kitab kuning online yang terbaik di medianya masing-masing. Dikarenakan beberapa keterbatasan, tentu belum semua majelis taklim kitab kuning di wilayah Provinsi DKI Jakarta masuk dalam kajian ini.

Hasil kajian ini-dengan mengkaji 234 majelis taklim kitab kuning yang tersebar di lima wilayah kota dan satu kabupaten Provinsi DKI Jakarta dengan 111 kitab kuning dari berbagai disiplin ilmu keislaman-telah dapat mewakili seluruh majelis taklim kitab kuning tersebut.

Riset yang dilakukan JIC ini dalam ruang lingkup majelis taklim kitab kuning yang diselenggarakan dan atau difasilitasi oleh masyarakat. Bukan yang diselenggarakan atau difasilitasi oleh pimpinan atau pejabat pemerintahan. Maka, majelis taklim kitab kuning yang diadakan dan atau difasilitasi di rumah Gubernur DKI Jakarta, di rumah Wakil Gubernur DKI Jakarta atau rumah Sekretatis Daerah DKI Jakarta juga di kantor atau rumah walikota dan bupati tidak termauk dalam kajian atau riset ini.

Adapun riset ini menghasilkan minimal tujuh kesimpulan, yaitu sebagai berikut: 

Pertama, dari penjelasan hasil kajian ini diketahui bahwa hampir semua disiplin ilmu keislaman diajarkan di majelis taklim-majelis taklim kitab kuning di Jakarta. Walau ada disiplin ilmu keislaman yang belum terlihat diajarkan, seperti ilmu falak (astronomi Islam), namun bukan berarti ilmu falak tidak diajarkan sama sekali di majelis taklim kitab kuning tersebut.

Mengingat kekhasan dan butuh persyaratan khusus bagi peserta didiknya, umumnya di Jakarta, ilmu falak tidak diajarkan secara klasikal, tetapi secara personal atau kelompok terbatas sehingga tidak terjangkau dalam kajian ini.

Kedua, dari penjelasan hasil kajian ini diketahui bahwa kitab tafsir yang paling populer atau banyak digunakan oleh majelis-majelis taklim kitab kuning di Jakarta adalah Tafsir Jalalain. Sedangkan kitab fiqihnya yang paling populer adalah Safinatun Naja dan Fathul Qarib. Sedangkan untuk kitab tasawufnya yang paling populer adalah Ihya Ulumiddin dan Al-Hikam.

Ketiga, kitab-kitab karya ulama Nusantara, baik yang ditulis dalam aksara Arab, Arab Melayu atau Latin, masih cukup mendominasi sebagai sumber bahan ajar kitab kuning di DKI Jakarta, yaitu Kitab Riyadhul Badi`ah, Tafsir Munir, Kasyifatus Saja syarh Safinatun Naja, Nashaihul ‘Ibad, Tanqihul Qaul, dan Uqudul Lujain karya Syekh Muhammad Nawawi Al-Jawi Al-Bantani; Hidayatus Salikin dan Sairus Salikin karya Syekh Abdus Shamad Al-Palimbani; dan Kitab Sifat Dua Puluh, Irsyadul Anam, dan Tujuh Faedah karya Habib Utsman bin Yahya, dan Safinatun Naja karya Syekh Salim bin Sumair Al-Hadhrami.

Ada pula karya-karya ulama Nusantara yang ditulis oleh ulama era tahun 70-an sampai tahun 2000-an yang juga menjadi sumber bahan ajar di beberapa majelis taklim kitab kuning di DKI Jakarta saat kajian ini dilakukan dari tahun 2016 sampai dengan tahun 2018. Salah satunya adalah Kitab Miftahus Shudur yang merupakan kitab tasawuf karya Syekh KH Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin (Abah Anom), Kitab Misbahuz Zhulam yang merupakan kitab fiqih hadits karya Syekh KH Muhammad Muhadjirin Amsar Ad-Dary, Kitab Imam Syafi’i fi Madzhabaihi: Al-Qadim wal Jadid yang merupakan kitab fiqih karya Syekh Dr Ahmad Nahrawi Abdus Salam; Kitab Silsilatul Haramain yang merupakan kitab kumpulan wirid dan tawasul karya KH Abdul Hannan, Cirebon; Taysir Musykilat fi Qira'atil Ayat karya KH Abdul Hanan Said; dan Kitab Mirats yang merupakan kitab hadits (hadits qudsi) karya KH Abdurrahmin Radjiun bin Muallim Radjiun Pekojan.
 
Keempat, hampir semua kitab yang diajarkan di majelis taklim-majelis taklim kitab kuning di Jakarta yang telah dikaji mencerminkan ortodoksi Islam di Nusantara, yaitu akidahnya Asy`ari dan Maturidi, fiqihnya bermadzhab Syafi`i dan tasawufnya Imam Al-Ghazali dan Junaidi Al-Baghdadi.

Kelima, hasil kajian ini juga menunjukkan sanad atau silsilsah keilmuan dari sebagian pengajar majelis taklim kitab kuning di Jakarta memiliki ketersambungan dengan ulama Betawi, yaitu dengan KH Noer Ali, KH Abdullah Syafi`i; KH Hasbiyallah; Guru Hasan Murtoha Cawang; Muallim Thabrani Paseban; Guru Asmat; Muallim KH M Syafi‘i Hadzami; KH Rasyid Ramli (Muallim Rasyid Kampung Mangga); KH Abdul Hanan Said; Syekh Dr Nahrawi Abdus Salam; Syekh KH Muhammad Muhadjirin Amsar Ad-Dary; KH Abdurrahim Radjiun bin Muallim Radjiun Pekojan dan lain-lain yang sebagian besar bersanad kepada Guru Marzuqi bin Mirshod Muara, Guru Mughni Kuningan, Guru Manshur Jembatan Lima, Guru Madjid Pekojan, Guru Mahmud Romli yang juga bersanad kepada Habib Ali Kwitang dan Habib Ali Bungur.

Adapun Habib Ali Kwitang bersanad kepada Habib Utsman bin Yahya, Mufti Betawi.  Dengan demikian, dari hasil kajian ini, sanad ulama Betawi masih terus tersambung dan terjaga melalui pembelajaran atau pengajian di sebagian majelis taklim kitab kuning di Jakarta.

Keenam, sebagian para pengajar majelis taklim kitab kuning di Jakarta-baik dirinya sendiri atau gurunya-tersambung kepada Syekh Yasin Al-Fadani yang nama lengkapnya beserta gelarnya adalah Syekh Muhammad Yasin bin Muhammad Isa Al-Fadani. Perjalanan hidupnya dalam menuntut imu dipergunakannya untuk memburu sanad, silsilah periwayatan hadits dan ijazah ilmu atau kitab, sehingga dirinya digelari Al-Musnid Ad-Dunya (pemilik sanad terbanyak di dunia).

Gelar itu diberikan kepadanya karena dirinya dipandang sebagai orang yang paling banyak memiliki sanad, bukan hanya di Makkah dan Timur Tengah, tetapi juga di dunia. Gelar Al-Musnid Ad-Dunya didapat Syekh Yasin Al-Fadani lantaran bukan hanya karena banyaknya guru yang mencapai 700 orang, tetapi lebih dilihat pada kepakarannya dalam bidang yang dia geluti.

Ketujuh, dari penjelasan hasil kajian ini diketahui bahwa sampai saat ini, Jakarta tetap menjadi “pesantren besar” bagi umat Islam.  Seratus sebelas kitab yang diajarkan di majelis taklim-majelis taklim kitab kuning di Jakarta, jika diikuti oleh seseorang secara sistematis, maka sudah cukup untuk menjadikan dirinya ulama terkemuka pada disiplin ilmu keislaman tertentu, sebagaimana para ulama terdahulu di Betawi, sebagai contoh Muallim KH M Syafi‘i Hadzami atau KH Abdurrahman Nawi yang merupakan ulama hasil didikan majelis taklim-majelis taklim kitab kuning yang dulu juga tersebar di seluruh wilayah Jakarta.
 

Rakhmad Zailani Kiki, Peneliti di Jakarta Islamic Centre dan Sekretaris RMI NU (asosiasi pesantren NU) DKI Jakarta.
Bagikan:
Rabu 4 September 2019 5:0 WIB
Makna Hijrah dari Masa Kenabian ke Era Media Sosial (bagian 3)
Makna Hijrah dari Masa Kenabian ke Era Media Sosial (bagian 3)
ilustrasi: pixabay
Oleh Ahmad Makki

Di Indonesia perumusan wacana hijrah dimulai oleh Agus Salim, sebagai jargon perlawanannya terhadap pemerintah kolonial Belanda. Hijrah baginya berarti menolak kerja sama (nonkooperasi) dengan pihak kolonial (M. C. Ricklefs, A history of modern Indonesia since c.1200 (3rd ed.), [London, Palgrave: 2001 M], halaman 221; Bachtiar Effendy, Islam dan negara: transformasi gagasan dan praktik politik Islam di Indonesia (Edisi digital ed.), [Jakarta: Democracy Project.Tangkilisan: 2011 M], halaman 77); dan Friend, 2009, dalam Tangkilisan, 2015, halaman 146).

Rumusan Salim ini berpengaruh kuat di kalangan Partai Sjarikat Islam Indonesia (PSII), hingga dijadikan garis kebijakan partai. Kartosoewirjo yang merupakan salah satu kader PSII merumuskan kembali wacana hijrah sebagai landasan visinya tentang Negara Islam Indonesia (NII).

Sampai suatu saat Kartosewirjo yang dikenal sebagai pemuda tidak kenal kompromi ini kecewa kepada garis perjuangan PSII. Ia keluar dan mendirikan Komite Pembela Kebenaran. Wacana hijrah yang pernah ditulisnya sebagai brosur perjuangan PSII diendapkannya dalam ingatan. Ketika ia memproklamasikan berdirinya NII pada 7 Agustus 1949 M di Tasikmalaya, wacana hijrah kembali muncul dan menjadi bagian penting dari doktrin NII.

Konsep hijrah NII didasarkan atas pemahaman Surat Al-Balad ayat 10 dalam Al-Qur’an yang memuat kata “al-najdayn”. Dalam Al-Qur’an terjemahan Kementerian Agama, kata tersebut diartikan sebagai “dua jalan” sebagaimana berikut, “[d]an Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan” (Website Al-Qur'an Kementerian Agama, n.d.). Tetapi dalam pemahaman NII, kata tersebut diartikan sebagai “dua negeri”; negeri batil dan negeri hak (S. Hadi, S, Negara Islam Indonesia: konsepsi shajarah thayyibah dalam konstruk Negara Islam, [Journal of Qur'an and Hadith Studies, 2(1), 87-104.Shaw & Bandara: 2018 M], halaman 9-10).

Negeri batil adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang diproklamasikan Sukarno-Hatta. Sedangkan NII yang diproklamasikan Kartosoewirjo pada 7 Agustus 1949 M dengan nama Negara Karunia Allah-Negara Islam Indonesia (NKA-NII), adalah negeri hak. Maka seorang anggota yang sudah berbaiat wajib melakukan hijrah jasmani dan rohani, dari NKRI kepada NKA-NII. Hijrah ini hanya boleh dilakukan oleh orang yang sudah berbaiat menjadi anggota NII, dan wajib dilanjutkan dengan melakukan jihad, baik harta maupun nyawa, untuk mendirikan negara Islam (Lihat Hadi, 2013).

Pada abad ke-21 M wacana hijrah digunakan secara intensif sebagai strategi rekrutmen oleh organisasi teror internasional ISIS (Shaw & Bandara: 2018: 9-10; Uberman & Shay, 2016: 16). Wacana hijrah secara intensif dikampanyekan secara daring melalui berbagai platform media sosial. Tetapi salah satu ujung tombak propagandanya adalah Dabiq, sebuah majalah daring yang diterbitkan oleh Al-Hayat Media Center (Uberman & Shay, 2016: 16).

Di Indonesia saat ini wacana hijrah yang menjadi bagian dari perbincangan sehari-hari mulai populer pada tahun 2014. Pemicunya adalah film biopik Hijrah Cinta yang memotret kisah hidup almarhum Ustadz Jefri Al-Buchori. Lewat dokumentasi Google Trends Indonesia kita bisa menelusuri bahwa selepas film tersebut minat kepada kata hijrah memang menurun, tapi tidak pernah sampai jatuh ke level normal sebelumnya. Bahkan secara gradual terjadi peningkatan dari tahun ke tahun.

Peningkatan tren tersebut banyak dibantu oleh publikasi berbagai media daring tentang gejala para selebritas yang memutuskan untuk menekuni gaya hidup religius dan menyebutnya sebagai hijrah (Putri R. D., 2018). Belakangan penetrasi wacana hijrah merasuk ke berbagai platform media sosial yang populer di Indonesia.

Sebelum tren wacana hijrah, pada umumnya perubahan gaya hidup menjadi religius kerap disebut sebagai taubat, atau mendapat hidayah. Sebagai perbandingan, kisah hidup Ustadz Jefri Al-Buchori bisa menjadi contoh sempurna sebagai inspirasi wacana hijrah seperti kerap digambarkan saat ini. Meski begitu semasa hidupnya Buchori tidak pernah dinarasikan melakukan hijrah, meski masa lalunya kerap direproduksi dalam profilnya di berbagai media (lihat Fathiyah, 2013; KapanLagi, n.d.; Samantha, 2005; Redaksi eramuslim, 2013).

Demikian gambaran umum pemaknaan wacana hijrah dari masa ke masa. Masing-masing tokoh dan era bisa memiliki rumusannya masing-masing yang saling berbeda, bahkan bisa bertentangan di sana-sini.
 

Ahmad Makki, Praktisi Media Digital, Kandidat Master Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia.
Selasa 3 September 2019 16:0 WIB
Ekosistem Halal: Menjanjikan tapi Menantang
Ekosistem Halal: Menjanjikan tapi Menantang
Sangat beralasan, Indonesia optimistis membangun ekosistem halal. (Ilustrasi: NU Online)
Pada acara World Halal Conference 2018 di Kuala Lumpur, ada pernyataan menarik bahwa halal telah menjadi semacam ekosistem, selain sebagai industri. Produk halal telah menjadi bagian bisnis dunia yang nilainya sangat besar dan menjanjikan, bukan saja untuk masyarakat muslim tetapi juga non-muslim. Bukan hanya menjadi pusat perhatian negara-negara Islam (islamic countries) tetapi juga negara-negara “sekuler” atau minoritas Muslim. 
 
Malaysia, sejak awal telah mengukuhkan diri sebagai pusat produk halal dunia. Berbagai event dan halal expo diselenggarakan, misalnya Malaysia International Halal Showcase (MIHAS) tiap tahunnya sejak 2013. Event ini merupakan ajang promosi bagi industri halal Malaysia dan berbagai negara dunia. Tidak sekedar itu, Malaysia meneguhkan sebagai destinasi halal dengan memperkenalkan lembaga riset dan pelatihan halal melalui universitas.  Salah satunya adalah INHART (International Institute for Halal Research and Training) yang dimiliki kampus IIUM (International Islamic University Malaysia)yang memberikan pendidikan, penelitian, pelatihan, dan konsultasi kelas dunia yang berkaitan dengan industri halal.
 
Selain Malaysia, Jepang menjadi salah satu negara yang paling berambisi menjadi pusat dan role model produk halal dunia. Pemerintah Jepang sangat gencar membangun berbagai fasilitas untuk mengembangkan bisnis produk halal, mulai dari restoran halal hingga fasilitas ibadah seperti mushala di tempat-tempat umum, misalnya bandara. Jepang sudah mendeklarasikan tempat-tempat yang mempromosikan produk halal. Satu kota di Jepang, yaitu Fuji, sudah mendeklarasikan diri sebagai kota halal. 
 
Penuturan kawan yang mukim di Jepang, saat ini makin mudah menemukan toko yang menyediakan bahan-bahan halal misalnya daging, sosis, nugget. Restoran yang memampang label halal juga makin banyak dilihat di berbagai sudut kota. Jenis produk makanan halal yang diminati oleh konsumen Jepang adalah daging. Kantor perwakilan Indonesia di Tokyo melaporkan bahwa Jepang hanya mampu memenuhi sekitar 40 persen dari kebutuhan dalam negeri, sehingga ekspor makanan dan produk daging halal ke negeri Kincir Angin ini diperkirakan akan terus tumbuh membaik.
 
Pasar produk makanan dan minuman halal di Jepang ditaksir akan terangkat terkait digelarnya Olimpiade Musim Panas pada 2020 mendatang. Data Brand Research Institute menyebutkan sekitar 750 ribu wisatawan Muslim akan berkunjung ke Jepang saat Olimpiade digelar (dikutip dari Tirto.id).
Peluang bisnis makanan halal kini cukup menjanjikan di negara-negara minoritas Muslim seperti Jepang, Korea Selatan, Cina, Australia, Perancis, Amerika Serikat,Eropa, dan lainnya. Kenapa ini terjadi? Tampaknya pasar atau konsumen halal tak melulu warga asing Muslim, tapi pertumbuhan penduduk Muslim di negara tersebut turut memicu kebutuhan akan kosumsi halal.
 
Sebagai gambaran, populasi Muslim dunia diperkirakan mencapai 2,2 milyar jiwa pada tahun 2030 atau 23 persen populasi dunia. Dari jumlah itu terbanyak berada di Asia Pasifik, lalu Timur Tengah, Afrika Sub Sahara, Eropa hingga Amerika Utara dan Latin. Populasi diperkirakan akan bertambah menjadi 29 persen populasi dunia hingga 2050. 
 
Penelitian Pew Research Centre mengungkapkan lebih dari 20 persen populasi Muslim di dunia tinggal di negara-negara minoritas Muslim, terutama di negara-negara Barat. Pergolakan politik dan bentrokan etnis di beberapa negara Muslim juga mengakibatkan migrasi orang-orang Islam ke negara-negara Barat, sehingga menambah populasi di negara minoritas Muslim. Populasi Muslim di Amerika Serikat misalnya, diperkirakan meningkat dua kali lipat dalam 20 tahun ke depan, dari 2,6 juta jiwa menjadi 6,2 juta jiwa pada 2030. Di Eropa, populasi Muslim diperkirakan akan tumbuh sebesar 33 persen selama 20 tahun ke depan, meningkat dari 44 Juta menjadi 58 juta jiwa pada 2030. Sedangkan Muslim Australia akan meningkat dari 2,2 persen menjadi 4,9 persen pada 2050 yang berarti satu juta lebih Muslim di Australia pada 2050, di salah satu kawasan Asia Pasifik ini.
 
Asia Pasifik sebagai kawasan terbesar populasi Muslim dunia menjadi pasar potensial produk dan makanan halal, tak kecuali di negara-negara minoritas Muslim.Tak heran kalauThailand telah mendeklarasikan sebagai pusat pangan halal.Saat ini Thailand menempatkan diri sebagai buffer zone makanan halal dunia. Jepang sangat aktif mendorong industri ekspor halal seperti obat-obatan, kosmetika, makanan dan minuman ke mancanegara. Korea Selatan sedang membangun destinasi wisata halal (halal tourism). Mereka tahu persis peluang sektor ini, dan menjadikan booming global halal sebagai keuntungan domestik. 
 
Eropa, sebagai kawasan populasi Muslim terbesar keempat dunia juga peluang produk halal yang menjanjikan. Permintaan produk halal di pasar Eropa meningkat rerata 15 persen per tahun. Di Perancis, pasar daging mempunyai permintaan tertinggi di antara makanan halal lainnya. 
 
Ekosistem Halal Indonesia: Tren yang Menantang
Berbagai layanan berbasis syariah dewasa ini makin meluas dan menjadi salah satu tujuan Indonesia dalam mengembangkan bisnis halal. Dalam ekosistem ini, produk halal meliputi pasar yang luas, tidak hanya identik dengan makanan dan minuman (mamin), tapi telah menyentuh hampir semua lahan bisnis yang ada, mulai dari bahan dasar makanan, produk dan pelayanan kesehatan, kosmetik dan kebutuhan pribadi, properti, hotel,travel, media, pendidikan, dan jasa keuangan. Memperkuat ekosistem ini, Indonesia bahkan telah menetapkan 10 sektor yang secara ekonomi dan bisnis berkontribusi besar dalam industri halal, yakni industri makanan, wisata dan perjalanan, pakaian dan fesyen, kosmetik, finansial, farmasi, media dan rekreasional, kebugaran, pendidikan, dan seni budaya.
 
Optimisme Indonesia membangun ekosistem halal dikarenakan banyak sebab. Indonesia dengan penduduk beragama Islam terbesar di dunia membawa keuntungan tersendiri sebagai pangsa pasar halal yang sangat potensial dan menantang. Jumlah penduduk beragama Islam mencapai 209,1 juta jiwa atau 87,2 persen dari total penduduk Indonesia. Atau 13,1% dari seluruh umat Muslim di dunia. Dari hitungan kasar ini saja, permintaan akan produk dan jasa halal dipastikan akan terus meningkat. Tak heran kalau Agus Yuliawan, Pemerhati Ekonomi Syariah, menyatakan, “Kalau mau jujur, industri halal yang benar-benar halal [hanya] ada di Indonesia. Kenapa? Karena proses pembuatannya dilakukan oleh orang-orang Muslim, begitu juga dalam delivery-nya juga orang Muslim, bahkan pengkonsumsinya adalah orang-orang Muslim.” 
 
Agus pantas optimis karena dengan modal penduduk muslim, Indonesia adalah ceruk pasar halal itu sendiri. Artinya dengan ‘keuntungan demografik’ ini Indonesia harusnya menjadi peluang dalam pengembangan Industri halal dunia. Bahkan hanya bermain pada local market saja, sebenarnya cukup bagi Indonesia untuk memenangkan persaingan industri halal dunia. Apakah itu beralasan? Ya, potensi ke arah sana sangat menjanjikan. Market share perbankan syariah sudah di kisaran 5,7 persen, meski masih kalah jauh dari market share perbankan konvensional yang berada di 94,3 persen. Islamic finance di Indonesia memang masih di bawah perbankan konvensional. Tapi pertumbuhan perbankan syariah pada Juli 2018 mencapai 14,6 persen secara tahun ke tahun (year on year/yoy).Sementara itu, pertumbuhan bank-bank konvensional Indonesia pada periode yang sama hanya tumbuh 8,9 persen.
 
Kesadaran masyarakat Indonesia terhadap halal (halal awareness) dan tumbuhnya halal life style di kalangan anak muda dan perkotaan menjadi peluang baru pertumbuhan perbankan syariah dan industri halal. Dampak ikutan (nurturant effect) dari kecenderungan ini adalah peluang pengembangan halal ekosistem di Indonesia makin baik dan variatif. Ada halal foodislamic fashionislamic tourismislamic education, haji dan umrah, zakat, sedekah hingga wakaf (islamic philanthropy). Pertumbuhan ekosistem halal ini mendongkrak pertumbuhan pangsa pasar perbankan syariah. Halal food punya potensi Rp2.300 triliun, islamic fashion mempunyai potensi hingga Rp190 triliun.Sementara islamic tourism kisaran Rp135 triliun, potensi haji dan umrah sebesar Rp120 triliun, dan pendidikan memiliki potensi Rp40 triliun. Potensi itu belum mencakup seluruh pendapatan seperti Dana Pihak Ketiga (DPK), pembiayaan, dan transaksi bank lainnya yang berasal dari nasabah muslim.
 
Perkembangan ekosistem halal tak lepas dari peran pihak perbankan. BNI Syariah, misalnya rutin menyelenggarakan International Islamic Expo. Tahun 2018 lalu, event ini melibatkan tak kurang 140 perusahaan domestik dan internasional dari berbagai bidang penunjang bisnis syariah.58 di antaranya adalah perusahaan luar negeri dari Timur Tengah, ASEAN, Eropa dan Asia Tengah yang bergerak di berbagai bidang. Mulai dari penyedia visa, katering, hotel, transportasi, telekomunikasi, paket wisata, dan akomodasi lainnya. Sementara, 25 perusahaan dalam negeri merupakan penyelenggara haji dan umrah resmi terdaftar di pemerintah yang juga menyediakan paket wisata halal.Tak hanya itu, sebanyak 45 perusahaan lainnya bergerak di sektor kuliner, kosmetik, fashion, maskapai, dan penunjang ekosistem halal lain. Ada Shafira dibidang fashion, Zoya main di kosmetik, Garuda Indonesia, Saudia dan Flynass untuk transportasi.
 
Ikon pariwisata halal (halal tourism) kini makin dikenal publik Indonesia. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, ceruk pariwisata Indonesia dikenal mancanegara. Seiring meningkat dan berkembangnya tren konsumen halal lifestyle, sektor pariwista tak hanya menawarkan rekreasi atau lokasi wisata, namun di dalamnya termasuk kuliner,penyediaan hotel yang ramah muslim (moslem friendly), layanan keuangan syariah, kebutuhan barang gunaan, fasilitas ibadah,hingga sektor riil. Perkembangan sektor ini ditengarai memperkuat pertumbuhan industri halal di Indonesia. Menyadari potensi besar sektor ini, Kementerian Pariwisata menetapkan 10 rekomendasi destinasi wisata halal Indonesia, yakni Lombok, Jakarta, Batam, Aceh, Jawa Barat, Yogyakarta, Sumatera Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah dan Sulawesi Selatan.
 
Semua eksplorasi terhadap wisata halal tanah air kira-kira akan tergambar seperti ini: niat pelesir dengan bismillah; bersama anggota keluarga yang sakinah; sewa kendaraan mewah atau naik pesawat dengan layanan wah; membayar semua ongkos dan transaksi di bank syariah; berpakaian dengan mode fashion muslim terbaru meski harganya murah; menginap di hotel yang penuh berkah; di sela perjalanan shalat di masjid berarsitektur unik dan indah; dan tentunya mencicipi makanan halal khas Nusantara yang nikmat di lidah. Hehe…
 
Animo dan minat masyarakat Muslim menyelenggarakan haji dan umrah atau wisata religi juga memunculkan optimisme bagi perkembangan industri pariwisata halal yang terus bergeliat di tanah air. Perbaikan regulasi, pengawasan, pembiayaan, dan pelayanan yang dilaksanakan Kementerian Agama melalui Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah berimplikasi positif bagi pembenahan industri yang memadukan unsur religi dan wisata ini. Jemaah haji Indonesia sebanyak 231.000 (tahun 2019) adalah jumlah terbesar jemaah haji di dunia. Ada informasi bahwa Arab Saudi akan menambah kembali kuota haji Indonesia sampai 250.000 jemaah. 
 
Bisnis umrah tak kalah menggiurkan. Jemaah umrah tercatat tak kurang 1,1 juta pada tahun 2018, dan ada tren naik pada tahun berikutnya. Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) maupun Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK) biasanya memadukan perjalanan suci ini dengan berbagai fasilitas tambahan seperti makanan halal atau paket wisata ke negera lain (Turki, Jedah, Mesir, Palestina). Belum lagi kalau mereka menawarkan paket wisata religi di tanah air yang destinasinya tak kalah dengan negara lain. Misalnya ziarah Wali Songo yang digemari oleh masyarakat muslim Jawa dan Kalimantan. Kini ziarah seperti ini melibatkan sektor-sektor bisnis yang krusial: travel agenttiketing, transportasi, edukasi, kuliner, pembimbing ziarah, dan berkecambahnya ekonomi sektor riil di kalangan masyarakat sekitar lokasi ziarah. Masjid-masjid bersejarah dan berarsitektur indah di berbagai kota menjadi incaran para pelancong yang ingin memuaskan dahaga spiritual. Kuburan atau makam wali dan penyebar agama Islam tak pernah sepi dari ziarah setiap hari. Artefak-artefak kebudayaan termasuk didalamnya museum tak luput dari jepretan wisman yang segera diunggah via media sosial. 
 
Berjalan berkelindan dengan itu, market islamic/moslemfashion terus menanjak. Saat ini Indonesia jadi kiblat islamic fashion dunia. Desainer-desainer busana muslim Indonesia memiliki market cukup besar di Asia bahkan dunia, termasuk di Uni Emirat Arab. Di sektor ini, menurut laporan State of the Islamic Economy Report, 2019 menempatkan Indonesia sebagai negara kedua tertinggi setelah UEA (Uni Emirat Arab).
 
Kementerian Perindustrian menyebutkan tahun 2018-2019 pengembangan industri fashion muslim dilakukan dengan melibatkan sebanyak 656 pelaku IKM fesyen dan 60 desainer. Dengan tujuan mewujudkan Indonesia sebagai kiblat fashion muslim dunia, baru-baru ini dihelat Muslim Fashion Festival Indonesia (MUFFEST) 2019 di Jakarta. Menariknya, MUFFEST 2019 menggaungkan tawaran trend fashion Muslim 2020 yang diarahkan sebagai identitas busana muslim Indonesia. 
 
Satu sektor lagi yang tengah digenjot pemerintah adalah kawasan industri halal. Kementrian bersama Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengembangkan kawasan industri halal untuk memperluas jangkauan produk makanan dan minuman, kosmetik, ekonomi kreatif, dan garmen. Selaras dengan model ini, beberapa waktu lalu Presiden Jokowi meresmikan Halal Park sebagai embrio dari proyek halal district, di Kompleks Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta.Menurut inisiatornya, Diajeng Lestari,Halal District ini rencananya akan menjadi pusat gaya hidup halal di Indonesia, selain ekosistem bagi para pelaku bisnis yang bergerak di industri halal. Industri yang dilibatkan dalam proyek ini mulai dari mode, makanan dan minuman, pariwisata, perbankan, hingga financial technology (fintech) syariah.
 
"Halal District akan menjadi ekosistem industri halal di Indonesia, bukan hanya tempat jual-beli saja. Di sini, para pelaku industri bisa saling bertemu dan bersinergi. Nantinya juga akan ada co-working space, ada layanan peer-to-peer landing berbasis syariah, wisata halal, semuanya bisa saling berkolaborasi," kata Diajeng Lestari yang juga merupakan founder dan CEO Hijup.
 
Meski baru, konsep Halal Park sebenarnya banyak dicontohkan beberapa negara mode dunia, misalnya Milan, Italia yang membangun Fashion District. Wisatawan yang datang ke Milan bisa tahu kemana mereka harus pergi bila ingin berbelanja produk fashiondengan kualitas terbaik. Kira-kira nantinya Halal Park akan menjadi pusat untuk menemukan produk-produk halal dan berbasis syariah. Konsep yang realistis karena ekosistem halal sudah mewabah kemana-mana. Market halal Indonesia termasuk salah satu terbesar. Sehingga dari sisi produktivitas,inisiasi halal park ataupun kawasan industri halal lebih memberi jalan lempang bagi hilirisasi berbagai produk halal yang sudah ada segmennya masing-masing. Ekosostem yang dibangun tuntas: dari hulu ke hilir.Stimulus ke pelaku usaha yang bergerak di berbagai sektor halal dilakukan melalui halal supply chain management yang memadai, sisi hilir digarap melibatkan multi-stakeholder halal melalui pembangunan berbagai sarana seperti halal district dan semacamnya. 
 
Kalau kita berhasil memadukan ini, optimis semua kekuatan untuk mengangkat industri halal Indonesia ke tingkat dunia akan terlaksana. Sebagai motor pertumbuhan ekonomi, ladang kreativitas dan produktivitas generasi muda, dan mengangkat industri halal sebagai sumber kesejahteraan umat seperti harapan Presiden Jokowi, bukan hanya silat lidah atau isapan jempol.
 

Mastuki HS, Penulis adalah Kepala Pusat Registrasi dan Sertifikasi Halal, BPJPH.
 
Selasa 3 September 2019 12:30 WIB
Moderatisme KH Hasyim Muzadi dan KH Afifuddin Muhajir
Moderatisme KH Hasyim Muzadi dan KH Afifuddin Muhajir
KH Hasyim Muzadi dan KH Afifuddin Muhajir. (Ilustrasi: Kamal)
Oleh Hilmi Ridho

Islam sebagai agama terakhir memiliki banyak ciri khas yang membedakannya dari agama lain, ada tiga ciri khas agama Islam yang paling menonjol yaitu tawasuth, ta’adhul, dan tawazun. Tiga ungkapan tersebut dapat disatukan menjadi wasathiyyah (moderasi). Akhir-akhir ini banyak muncul kalangan yang mengatasnamakan Islam, namun ideologi dan aksinya tidak mencerminkan Islam Rahmatan lil ‘Alamin, ada yang ekstrem kanan, dan ada pula ekstrem kiri. Keduanya saat ini lebih dikenal dengan gerakan radikalisme dan liberalisme.

Islam yang sejatinya memiliki prinsip mengasihi kepada penganutnya, kini tercoreng dengan kehadiran dua aliran itu. Untuk membendung gerakannya agar tidak menjadi parasit, pesantren sebagai lembaga pendidikan keagamaan menanamkan karakter moderat kepada santrinya, supaya tidak terjerumus sebagai penganut dua aliran mainstream. Tak hanya berbekal ilmi pengetahuan, tapi juga aksinya dalam memberantas ideologi radikal dan liberal sampai ke akar-akarnya, hal inilah yang dilakukan KH Ahmad Hasyim Muzadi dalam beberapa kesempatan.

Semenjak masih aktif memimpin NU sebagai Ketua Umum PBNU sampai setelah tidak lagi menjabat, Kiai Hasyim Muzadi masih menggawangi ICIS (International Confrence of Islamic Scholars), beliau gunakan kesempatan itu untuk mendakwahkan Islam moderat ke berbagai belahan dunia. Dengan jabatan itu beliau menggelar beberapa kali sarasehan ulama pesantren dan cendikiawan internasioanl yang bertempat di Jakarta dan satu kali di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo Jawa Timur dengan tema besar Mengokohkan kembali Islam Rahmatan lil 'Alamin, aksi itu beliau kembangkan dari satu kota ke kota lain sebagai manifestasi dalam pemberantasan gerakan radikalisme dan liberalisme.

Salah satu acara sarasehan ulama pesantren dan cendikiawan beliau tempatkan di Pondok Pesantren Al-Hikam Depok, Jawa Barat. Dalam kegiatan itu menghasilkan maklumat kebangsaan untuk perbaikan bangsa dan negara. Indonesia memang sudah merdeka secara fisik dari penjajahan, akan tetapi secara ideologi Indonesia masih terbelenggu dengan penjajahan. Mengapa demikian? Benih-benih pemikiran statis dan jumud, menjadi penyebab mudahnya penjajahan secara ideologi, hal itu tak bisa terbantahkan mengingat munculnya terorisme yang ingin menjadikan Indonesia sebagai negara khilafah Islam.

Gerakan ini hanya didukung oleh kelompok ekstremis, upaya pendirian khilafah Islam lahirkan banyak teroris. Indikasi Islam ekstrem adalah kelompok yang meyakini dirinya sebagai satu-satunya kebenaran, meyakini yang ia tempuh sebagai agama bukan lagi sekadar teori pemahaman. Semenatara nilai-nilai yang harus dipedomani umat Islam adalah nilai moderat Al-Qur’an dan keislaman bukan nilai-nilai kemanusiaan murni.

Dalam kesempatan lain, Kiai Hasyim Muzadi menyampaikan bahwa Islam Rahmatan lil ‘Alamin sangat relevan dengan kondisi global yang anti damai, penuh kekerasan dan bahkan mendukung radikalisme. Ironisnya, kondisi global ini seolah diamini dengan dogma yang pro-kekerasan dan anti damai tersebut. Agama diangankan sebagai penebar kekerasan, radikalisme, penyokong perang dan seterusnya, stigma negatif agama terlanjur merebak kemana-mana.

Beliau menambahkan tugas utama kita adalah menyebarkan Islam Rahmatan lil ‘Alamin ke seantero dunia, Islam harus mampu menebarkan kasih sayang pada seluruh makhluk di bumi, Islam hadir membawa misi keselamatan, ketentraman, dan kedamaian hidup, Islam harus menorehkan harapan damai dan keselamatan pada manusia di bumi tanpa melihat jenis kelamin, tempat tinggal, suku, agama, aliran, dan yang lainnya.

Melalui aksinya di kancah politik, Kiai Hasyim Muzadi banyak menyampaikan pesan-pesan tentang moderasi Islam yang harus dikedepankan. Seperti konfrensi internasional yang diadakan di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo, beliau berharap konfrensi tersebut menghadirkan konsep perdamaian diberbagai belahan dunia. Oleh karenanya, diperlukan para umana' dan cendikiawan Muslim untuk membimbing dan membina umat Islam dengan cara menyebarkan pemikiran Islam yang moderat untuk membentuk generasi yang konstruktif, sehingga dapat menyelesaikan masalah perbedaan dengan cara dialog.

Adapun KH Afifuddin Muhajir, kiai yang satu ini lebih banyak berperan di belakang layar, artinya lebih banyak menyebarkan Islam Rahmatan lil ‘Alamin melalui pemikirannya yang tertuang dalam karya-karyanya. Seperti bukunya yang berjudul Membangun Nalar Islam Moderat: Kajian Metodologis dan Fiqih Tata Negara. Dalam salah satu karyanya, beliau menyampaikan bahwa moderasi adalah jalan tengah di antara dua hal yang berbeda.

Dengan demikian, menurutnya yang dimaksud moderasi adalah setiap pola pikir, pola bertindak, dan berperilaku yang memiliki tiga komponen ciri khas Islam yaitu, tawasuth, ta’adhul, dan tawazun. Watak moderasi melekat semenjak agama Islam lahir, dan akan terus melekat sampai hari kiamat nanti. Setelah terjadi perpecahan dalam tubuh umat Islam, sifat moderasi lengket dengan golongan yang bernama Aswaja (Ahlussunnah wal Jama'ah).

Dalam kesempatan menjadi narasumber seminar internasional Conflict and Democratization Process in the Middle East (Konflik dan Proses Demokratisasi di Timur Tengah) di Pondok Pesantren Al-Hikam, Depok, Jawa Barat, Katib Syuriah PBNU itu menyampaikan sebuah makalah yang berjudul Moderasi dan Manifestasinya dalam Negara Pancasila, dalam makalah tersebut terdapat sebuah kesimpulan bahwa ada tiga pengertian tentang moderasi.

Pertama, moderasi adalah jalan tengah di antara dua hal yang berlawanan. Kedua, memadukan di antara dua hal yang diperlukan. Ketiga, moderasi artinya juga realitas meletakkan sesuatu pada tempatnya. Kesimpulan makalah itu menunjukkan bahwa Islam tidak menutup mata dari situasi dan kondisi yang pasti dialami oleh manusia, seperti sifat manusia yang tidak selalu kuat dan tidak selalu lemah. Pada dasarnya Islam sangat idealis, akan tetapi dalam kondisi tertentu Islam tidak segan untuk turun ke bumi realitas.

Dalam waktu lain, Kiai Afifuddin Muhajir menyampaikan bahwa Islam itu moderat dan indah, akan menjadi menjadi tambah indah kalau disampaikan, diajarkan, dan didakwahkan dengan cara yang indah pula. Sebaliknya, Islam akan tercoreng bila diajarkan dan didakwahkan dengan cara yang tidak baik. Salah satu manifestasi dari keindahan Islam adalah toleransi. Toleransi tentu berbeda dengan justifikasi. Islam berada di antara radikalisme dan liberalisme, artinya Islam tidak radikal dan liberal.
 

Penulis adalah santri di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, Situbondo
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG