Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Respons Perubahan Zaman, PMII Jangan Abaikan Bidang Spiritual

Respons Perubahan Zaman, PMII Jangan Abaikan Bidang Spiritual
Ketua PCNU Kota Surabaya, KH Achmad Muhibbin Zuhri saat menjadi narasumber dalam Sarasehan Mahasiswa NU ITS 2019 di Masjid As-Sa’adah Keputih Sukolilo, Surabaya. (Foto: NU Online/ Ahmad Hanan)
Ketua PCNU Kota Surabaya, KH Achmad Muhibbin Zuhri saat menjadi narasumber dalam Sarasehan Mahasiswa NU ITS 2019 di Masjid As-Sa’adah Keputih Sukolilo, Surabaya. (Foto: NU Online/ Ahmad Hanan)

Surabaya, NU Online

Perubahan zaman harus direspons oleh semua pihak, termasuk Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Bidang spritual tak boleh diabaikan sebagai bagian untuk mengimbangi perubahan zaman itu.

 

Demikian disampaikan oleh Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Surabaya, KH Achmad Muhibbin Zuhri saat menjadi narasumber dalam Sarasehan Mahasiswa NU ITS 2019 di Masjid As-Sa’adah Keputih Sukolilo, Surabaya, Selasa (3/9) malam.

 

Menurut Kiai Muhibbin, sudah saatnya kader-kader PMII merespons perubahan zaman ini dengan karya nyata yang bermanfaat bagi Indonesia dan Nahdlatul Ulama. Hal ini dikarenakan PMII merupakan sebuah organisasi yang mulia, namun ada syarat yang harus dipenuhi untuk mencapai hal itu, yaitu peningkatan spritualitas.

 

“Apabila organisasi ini melanjutkan atau mentransformasikan cita-cita dan gagasan para ulama, sedangkan ulama adalah waratsatul anbiya’ (penerus para Nabi). Maka insyaallah Anda semua yang ada di organisasi ini adalah orang-orang yang terpilih yang kehidupannya akan barokah di dunia dan akhirat,” jelasnya.

 

Oleh karena itu, Kiai Muhibbin berpesan agar para mahasiswa NU yang mengikuti kegiatan dengan tema Semangat Mahasiswa NU dalam Peningkatan Spiritual dan Aktualisasi Diri di Kampus Perjuangan ini jangan sampai menjadi mahasiswa biasa, namun harus menjadi mahasiswa yang memiliki keunggulan dan nilai tambah.

 

“Jangan jadi mahasiswa yang biasa, carilah nilai tambah. Jangan jadi mahasiswa yang berproses biasa. Sebab jika menjadi mahasiswa yang berproses biasa akan menjadi pribadi yang biasa pula. Untuk itu, berproseslah di PMII,” pesannya.

 

“Aktivitas kemahasiswaan akan membawa nilai lebih yang itu tidak mesti materi. Ia bisa situasi dan tantangan yang senantiasa berubah. Itu aktivis, beda dengan mahasiswa biasa,” tambahnya.

 

Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya ini mengajak kader PMII untuk merespon perubahan zaman yang ada. Untuk mempersiapkan hal ini, perlu adanya kesiapan mental dan spiritual yang harus dipersiapkan terlebih dahulu.

 

“Perubahan-perubahan yang ada saat ini harus kita antisipasi. Perubahan yang sangat besar itu memerlukan kesiapan mental dan spiritual. Jadi, kita boleh bercita-cita dan melakukan ikhtiar dzahiriyah. Maka, kita harus menanamkan Allahus shomad di dalam diri kita masing-masing,” tukasnya.

 

Dikatakan, dalam menyikapi hal ini, dirinya menekankan kepada kader PMII agar turut mengisi bidang spiritual dalam dakwahnya. Jika sampai tidak bergerak di sana, nantinya posisi itu akan diisi oleh mereka yang kurang memahami keagamaan yang mumpuni.

 

“Ketika PMII tidak bergerak di bidang spiritual, khususnya di bidang dakwahnya. Maka ruang itu akan diambil oleh orang lain, melalui organisasi-organisasi dakwah kemahasiswaan yang lain,” bebernya.

 

Ia melanjutkan, dalam menghadapi hal itu, para kader diharap untuk tidak sampai bosan dalam melakukan suatu kebaikan sehingga nilai keberkahan akan selalu melekat.

 

“Jangan bosan, sebab jadi orang baik itu tidak boleh bosan. Nanti akan hilang barokahnya. Sebab menjadi baik itu gampang, yang susah itu menjadi baik terus,” ungkapnya.

 

“Spiritualitas yang menjadi modal kita itu harus diteruskan. Sebab kebaikan jika tidak terus maka akan menjadi tidak baik. Sebaliknya, tidak baik yang tidak terus itu lebih baik daripada baik yang tidak terus,” imbuhnya.

 

Di akhir tausiyahnya, ia mengingatkan agar para kader PMII dan mahasiswa NU untuk menyeimbangkan dzikir dan fikir. Caranya adalah tidak melupakan dzikir di samping kegiatan belajar yang rutin dilakukan.

 

“Di samping itu, dengan cara itu kita akan menjadi seimbang, antara dzikir dan fikir. Inilah yang dinamakan dengan ulul albab. Sinaune kenceng, tapi wiridane ya kenceng. Yang semacam ini biasanya akan mendapatkan pertolongan dari Allah,” pungkasnya.

 

Acara yang digelar oleh PMII Komisariat Sepuluh November Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya ini iikuti oleh kader PMII dan mahasiswa baru yang berasal dari ITS, Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS), Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS), dan Universitas Hang Tuah Surabaya.

 

Kontributor: Ahmad Hanan

Editor: Aryudi AR

BNI Mobile