IMG-LOGO
Daerah

Respons Perubahan Zaman, PMII Jangan Abaikan Bidang Spiritual

Kamis 5 September 2019 7:0 WIB
Bagikan:
Respons Perubahan Zaman, PMII Jangan Abaikan Bidang Spiritual
Ketua PCNU Kota Surabaya, KH Achmad Muhibbin Zuhri saat menjadi narasumber dalam Sarasehan Mahasiswa NU ITS 2019 di Masjid As-Sa’adah Keputih Sukolilo, Surabaya. (Foto: NU Online/ Ahmad Hanan)

Surabaya, NU Online

Perubahan zaman harus direspons oleh semua pihak, termasuk Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Bidang spritual tak boleh diabaikan sebagai bagian untuk mengimbangi perubahan zaman itu.

 

Demikian disampaikan oleh Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Surabaya, KH Achmad Muhibbin Zuhri saat menjadi narasumber dalam Sarasehan Mahasiswa NU ITS 2019 di Masjid As-Sa’adah Keputih Sukolilo, Surabaya, Selasa (3/9) malam.

 

Menurut Kiai Muhibbin, sudah saatnya kader-kader PMII merespons perubahan zaman ini dengan karya nyata yang bermanfaat bagi Indonesia dan Nahdlatul Ulama. Hal ini dikarenakan PMII merupakan sebuah organisasi yang mulia, namun ada syarat yang harus dipenuhi untuk mencapai hal itu, yaitu peningkatan spritualitas.

 

“Apabila organisasi ini melanjutkan atau mentransformasikan cita-cita dan gagasan para ulama, sedangkan ulama adalah waratsatul anbiya’ (penerus para Nabi). Maka insyaallah Anda semua yang ada di organisasi ini adalah orang-orang yang terpilih yang kehidupannya akan barokah di dunia dan akhirat,” jelasnya.

 

Oleh karena itu, Kiai Muhibbin berpesan agar para mahasiswa NU yang mengikuti kegiatan dengan tema Semangat Mahasiswa NU dalam Peningkatan Spiritual dan Aktualisasi Diri di Kampus Perjuangan ini jangan sampai menjadi mahasiswa biasa, namun harus menjadi mahasiswa yang memiliki keunggulan dan nilai tambah.

 

“Jangan jadi mahasiswa yang biasa, carilah nilai tambah. Jangan jadi mahasiswa yang berproses biasa. Sebab jika menjadi mahasiswa yang berproses biasa akan menjadi pribadi yang biasa pula. Untuk itu, berproseslah di PMII,” pesannya.

 

“Aktivitas kemahasiswaan akan membawa nilai lebih yang itu tidak mesti materi. Ia bisa situasi dan tantangan yang senantiasa berubah. Itu aktivis, beda dengan mahasiswa biasa,” tambahnya.

 

Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya ini mengajak kader PMII untuk merespon perubahan zaman yang ada. Untuk mempersiapkan hal ini, perlu adanya kesiapan mental dan spiritual yang harus dipersiapkan terlebih dahulu.

 

“Perubahan-perubahan yang ada saat ini harus kita antisipasi. Perubahan yang sangat besar itu memerlukan kesiapan mental dan spiritual. Jadi, kita boleh bercita-cita dan melakukan ikhtiar dzahiriyah. Maka, kita harus menanamkan Allahus shomad di dalam diri kita masing-masing,” tukasnya.

 

Dikatakan, dalam menyikapi hal ini, dirinya menekankan kepada kader PMII agar turut mengisi bidang spiritual dalam dakwahnya. Jika sampai tidak bergerak di sana, nantinya posisi itu akan diisi oleh mereka yang kurang memahami keagamaan yang mumpuni.

 

“Ketika PMII tidak bergerak di bidang spiritual, khususnya di bidang dakwahnya. Maka ruang itu akan diambil oleh orang lain, melalui organisasi-organisasi dakwah kemahasiswaan yang lain,” bebernya.

 

Ia melanjutkan, dalam menghadapi hal itu, para kader diharap untuk tidak sampai bosan dalam melakukan suatu kebaikan sehingga nilai keberkahan akan selalu melekat.

 

“Jangan bosan, sebab jadi orang baik itu tidak boleh bosan. Nanti akan hilang barokahnya. Sebab menjadi baik itu gampang, yang susah itu menjadi baik terus,” ungkapnya.

 

“Spiritualitas yang menjadi modal kita itu harus diteruskan. Sebab kebaikan jika tidak terus maka akan menjadi tidak baik. Sebaliknya, tidak baik yang tidak terus itu lebih baik daripada baik yang tidak terus,” imbuhnya.

 

Di akhir tausiyahnya, ia mengingatkan agar para kader PMII dan mahasiswa NU untuk menyeimbangkan dzikir dan fikir. Caranya adalah tidak melupakan dzikir di samping kegiatan belajar yang rutin dilakukan.

 

“Di samping itu, dengan cara itu kita akan menjadi seimbang, antara dzikir dan fikir. Inilah yang dinamakan dengan ulul albab. Sinaune kenceng, tapi wiridane ya kenceng. Yang semacam ini biasanya akan mendapatkan pertolongan dari Allah,” pungkasnya.

 

Acara yang digelar oleh PMII Komisariat Sepuluh November Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya ini iikuti oleh kader PMII dan mahasiswa baru yang berasal dari ITS, Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS), Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS), dan Universitas Hang Tuah Surabaya.

 

Kontributor: Ahmad Hanan

Editor: Aryudi AR

Bagikan:

Baca Juga

Kamis 5 September 2019 22:30 WIB
Wagub Jateng Berharap Ansor dan Banser Terus Jaga Semangat Persatuan
Wagub Jateng Berharap Ansor dan Banser Terus Jaga Semangat Persatuan
Wagub Jateng (kanan) foto ilustrasi (NU Online/Muiz)
Kendal, NU Online
Wakil Gubernur Jawa Tengah, H Taj Yasin Maimoen mengajak kepada kader Ansor dan Barian Ansor Serguna (Banser) untuk selalu tebarkan semangat persatuan di manapun berada.
 
“Kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana ukhuwah Islamiyah, tapi juga ukhuwah basyariyah. Menumbuhkan semangat gotong royong dan saling menopang satu sama lain. Inilah yang diajarkan oleh Rasulullah dan semangat ini pula yang mestinya kita tumbuhkan,” ujarnya.
 
Hal itu disampaikan saat Gus Yasin panggilan akrab Taj Yasin  menghadiri pengajian umum di acara penutupan Kemah Kebangsaan yang dihelat Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Kendal, Jawa Tengah  di Posantren Darussalam, Meteseh, Boja, Kabupaten Kendal, Rabu (4/9) malam.
 
Dikatakan, Ansor dan Banser itu didirikan untuk berkhidmah kepada ulama dan negara. Makanya pertama kali didirikan bernama Syubhanul Wathon yang berarti pemuda tanah air. Karena itu dirinya mengajak kader Ansor dan Banser untuk mencari barokah dengan melayani para kiai, masyarakat, dan negara.
 
Gus Yasin yang sebelumnya pernah menjabat sebagai Wakil Ketua PW Ansor Jateng, berpesan kepada kader Ansor dan Banser untuk terus menebarkan semangat persatuan dan kesatuan di tengah maraknya provokasi bernuansa SARA.
 
"Ansor dan Banser harus jadi pelopor menebarkan semangat persatuan dan kesatuan di manapun kalian berada, apalagi saat ini tengah marak provokasi bernuansa SARA," tegasnya.
 
Putera dari kiai kharismatik KH Maimoen Zubair (alm) ini juga berharap, perang saudara di Suriah dan beberapa negara muslim dapat menjadi pelajaran bagi masyarakat di tanah air agar tidak mudah termakan isu yang sengaja diciptakan untuk memecah belah.
 
"Kegiatan ini dapat menjadi sarana untuk menumbuhkan kecintaan kepada negara dan sekaligus merekatkan rasa persatuan dan kesatuan seluruh elemen masyarakat," pungkasnya.
 
Puncak penutupan kemah kebangsaan diisi taushiyah dari Panglima Besar Banser, Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan. Selain menyampaikan taushiyah tentang kebangsaan, Habib Luthfi juga memberikan ijazah khusus kepada Ansor dan Banser. 
 
Sekretaris Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Kendal, KH Izzudin Abdussalam menuturkan, Kemah Kebangsaan dapat menjadi momentum bagi kader Ansor dan Banser untuk menguatkan kembali rasa cinta tanah air yang telah dicontohkan oleh ulama dan para kiai.
 
Kontributor: Samsul
Editor: Muiz
Kamis 5 September 2019 20:30 WIB
Manusia Paling Mulia adalah yang Berilmu
Manusia Paling Mulia adalah yang Berilmu
KH Sa'dur Rokhim (baju batik)
Jombang, NU Online
KH Sa'dur Rokhim menyampaikan, tiada orang yang paling mulia di dunia ini kecuali orang yang membawa ilmu. Demikian nasihat singkat namun penuh makna saat dirinya baru tiba dari Tanah Suci Makkah di Pesantren Babussalam, Desa Kalibening, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Rabu (4/9).
 
Kiai yang kerap disapa Gus Rokhim ini sebelumnya melaksanakan ibadah haji selama satu bulan lebih di Tanah Suci, Makkah Al-Mukarromah. Saat kembali ke Pesantren Babussalam, Pengasuh Pondok ini disambut meriah oleh kurang lebih 1.000 santri dan beberapa masyarakat sekitar.
 
Kepada para santri, kiai dan masyarakat yang ikut serta menyambutnya, ia berpesan untuk terus belajar memperoleh ilmu yang banyak dan manfaat. "Terlebih di zaman sekarang yang kian maju dan tantangannya semakin komplit. Para santri khususnya, hendaknya kian melek akan perkembangan zaman yang ada," tandasnya.
 
Pengetahuan menurutnya seperti senjata yang paling diandalkan di segala bidang. "Jika hukum rimba mengatakan 'Siapa yang terkuat, dia yang bertahan'. Maka untuk zaman sekarang, ungkapan yang cocok adalah 'Siapa yang berpengetahuan, dialah yang berkuasa'," ucapnya.
 
Tak bisa dipungkiri, pengetahuan adalah hal paling utama untuk meraih kekuasaan. Pesatnya kemajuan teknologi dan informasi tidak bisa ditaklukkan dengan hanya duduk diam saja, apalagi bermalas-malasan.
 
"Sudah saatnya berfastabiqul khoirot, membakar hasrat untuk mencari dan menambah ilmu setiap harinya," imbuhnya.
 
Jika tidak, lanjut Gus Rokhim, maka bersiap-siaplah tergilas perubahan zaman. "Coba tanyakan pada diri sendiri setiap hari sebelum tidur, sudah nambah ilmu apa saja hari ini?. Dan coba rencanakan dengan jelas setiap setelah bangun tidur, hari ini saya akan melakukan apa saja?," ujarnya.
 
Dikatakan, begitu pentingnya ilmu sampai Allah SWT akan mengangkat derajat para pembawa ilmu, bisa disimak dalam surat Al-Mujadilah ayat 11. "Namun bisa ditelaah dengan sistematis ayat tersebut sebelum kemudian mengangkat derajat orang yang berilmu Allah SWT mendahulukan orang-orang yang beriman," jelasnya.
 
Maksudnya bagaimana? tambahnya, tentu ilmu yang dimaksud adalah ilmu yang membawa manfaat bagi diri sendiri, orang lain, juga lingkungan sekitar. Jika ilmu bisa diimplementasikan ke jalan yang benar, maka Allah SWT akan mengangkat derajat orang tersebut. 
 
"Namun, jika perwujudan ilmu tersebut pada hal yang buruk, alih-alih mendapatkan derajat mulia, ia justru akan terbawa pada kehinaan dan keburukan. Dan baik tidaknya perwujudan ilmu yang dimiliki seseorang tergantung setebal apa imannya," ungkapnya. 
 
Kontributor: Syamsul Arifin
Editor: Muiz
Kamis 5 September 2019 14:0 WIB
Tiga Pesan Agar Jadi Muslim yang Selalu Beruntung
Tiga Pesan Agar Jadi Muslim yang Selalu Beruntung
Salah satu kegiatan di Pesantren Al-Mizan, Cibolerang, Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat. (Foto: NU Online)
Majalengka, NU Online
Pondok Pesantren Al-Mizan yang berada di Desa Cibolerang, Kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat kedatangan tamu istimewa dari Solo, Jawa Tengah. Yang bersangkutan adalah KH Abdul Karim Ahmad (Gus Karim) seorang hafizh Al-Qur’an, Pengasuh Pesantren Al-Qur'aniyy Surakarta dan guru ngaji Presiden Joko Widodo. 
 
Meskipun kunjungan berlangsung singkat, masih berkenan memberikan taushiah dan  motivasi kepada  santri Al-Mizan Jatiwangi.
 
KH Abdul Karim Ahmad (Gus Karim) menjelaskan bahwa dalam kitab suci Al- Qur'an ada sebuah surat pendek yakni tiga ayat yang telah banyak dihafal oleh kaum Muslimin. Namun ironisnya, menurut para ulama hanya sedikit yang memahami dan melaksanakan. 
 
"Padahal surat ini memiliki kandungan makna yang sangat dalam, sampai-sampai Imam Asy-Syafi'i rahimahullah berkata, Seandainya setiap manusia merenungkan surat ini, niscaya hal itu akan mencukupi untuk mereka. Surat itu adalah Al 'Ashr yang dalam al-Qur'an merupakan surat yang ke-103,” katanya, Rabu (4/9).
 
Lebih lanjut dikemukakan bahwa dalam surat Al 'Ashr terkandung tiga poin penting yang seharusnya dicermati dan renungkan.
 
“Pertama, surat itu merupakan sebuah statemen Allah yang sangat serius karena diawali dengan kalimat penegasan atau sumpah, yaitu demi masa,” ungkapnya.
 
Sedangkan yang kedua, substansi surat itu adalah sebuah statemen dari Allah, bahwa manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Dan ketiga, manusia akan benar-benar merugi apabila tidak melakukan tiga hal, yaitu beriman, beramal shalih, dan saling menasihati antar sesama manusia.
 
“Kita diingatkan oleh Allah SWT bahwa yang namanya waktu itu adalah sangat luar biasa, waktu itu sangat berharga,” ungkapnya. 
 
Gus Karim bersyukur karena santriwan dan santriwati Al-Mizan masa mudanya digunakan untuk thalabul ilmi atau mencari ilmu. 
 
“Ini merupakan kesempatan dan kenikmatan yang luar biasa. Karena kita diberi waktu oleh Allah itu bukan 60 tahun, bukan 70 tahun, bukan 25 tahun. akan tetapi ada tiga macam waktu yang diberikan oleh Allah kepada kita, di antaranya waktu kemarin, waktu sekarang, dan waktu besok,” urainya. 
 
Waktu kemarin sudah berlalu, waktu besok belum tahu. “Berarti kita sebagai orang yang beriman diberi waktu oleh Allah hanya satu, yaitu waktu masa sekarang. Oleh karena itu, orang yang paling cerdas atau orang yang tidak akan mengalami kerugian adalah orang yang mampu menggunakan waktu masa sekarang,” tegasnya. 
 
Dirinya mengajak santri Al-Mizan harus bisa menggunakan waktu masa sekarang. “Karena masa sekarang inilah yang sangat menentukan. Dalam waktu yang singkat ini, gunakan sebaik-baiknya,” katanya. 
 
Dalam pandangannya, kalau bisa menggunakan waktu dengan baik, akan menjadi orang sukses. “Hal itu sebagaimana menjadi prinsip Pak Joko Widodo selaku Presiden RI, beliau mampu menggunakan waktu masa kini, tidak mau menengok ke belakang. kerja, kerja, kerja! itu adalah prinsipnya,” ungkapnya. 
 
Menurutnya, Jokowi menggunakan waktu dengan sangat baik. “Itu sejak saya kenal dari wali kota, gubernur, sampai menjadi Presiden Republik Indonesia. sehingga prestasinya selalu naik dan terus naik," pungkasnya.
 
 
Pewarta: Tata Irawan
Editor: Ibnu Nawawi
 
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG