Rektor Inaifas Jember Ingatkan Takmir Masjid Pekerjaan Mulia

Rektor Inaifas Jember Ingatkan Takmir Masjid Pekerjaan Mulia
Rijal Mumazziq Z saat mengisi pengajian akbar di lokasi KKN Inaifas. (Foto: NU Online/Ibnu Nawawi)
Rijal Mumazziq Z saat mengisi pengajian akbar di lokasi KKN Inaifas. (Foto: NU Online/Ibnu Nawawi)
Jember, NU Online 
Menjadi takmir masjid, oleh sebagian orang masih dipandang sebelah mata. Sebab dari sisi finansial, tidak ada yang bisa diharapkan dari pekerjaan sampingan itu. Dari sisi gengsi, juga tidak ada yang dapat dibanggakan dari pekerjaan tersebut. 
 
“Namun jangan lupa, takmir masjid adalah pekerjaan mulia. Dan Nabi Muhammad sangat  memuliakan mereka,” tukas Rektor Institut Agama Islam Al-Falah Assunniyah (Inaifas), Kencong, Jember, Jawa Timur, Rijal Mumazziq Z, Selasa (3/9). 
 
Penegasan tersebut disampaikan saat memberikan tausiyah dalam pengajian akbar 'Membedah Fungsi Masjid Selain sebagai Pusat Keagamaan' di Dusun Congapan, Desa Karangbayat, Kecamatan Sumberbaru, Jember.
 
Menurutnya, bukti bahwa Nabi Muhammad sangat memuliakan takmir masjid bisa dilihat saat terjadi penaklukan kota Makkah atau fathu Makkah. Ketika itu, Rasulullah SAW mempercayakan dua hal penting kepada takmir Masjid Nabawi yang beliau sayangi. 
 
Pertama, Nabi Muhammad SAW memasrahkan Kota Madinah yang ditinggalkan sementara kepada Abdullah bin Ummi Maktum yang buta, namun bersuara merdu, punya ketajaman mata hati atau bashirah, dan bahkan menjadi asbabun Nuzul  Surat 'Abasa.
 
“Itu  adalah keputusan penting Nabi Muhammad SAW, yaitu seorang penyandang disabilitas yang juga seorang takmur masjid,  dipercaya menjadi pemimpin sebuah kota,” tuturnya.
 
Kedua, Nabi Muhammad SAW  memberikan peluang kepada takmir lainnya, yaitu Bilal bin Rabah untuk mengumandangkan azan di atas Kakbah. Ini adalah keputusan penting yang membuat beberapa orang yang baru masuk Islam sewot. Pasalnya Bilal adalah bekas budak. Mereka heran mengapa Rasulullah memberikan amanah kepada pria berkulit hitam itu untuk menaiki baitullah sekaligus melantunkan azan. 
 
“Tapi inilah wujud sikap egaliter Nabi Muhammad SAW yaitu memberikan peluang kepada para sahabat lintas etnis untuk bisa tampil sesuai dengan potensinya,” urainya.
 
Selain kepada Abdullah bin Ummi Maktum dan Bilal bin Rabah, Nabi  Muhammad juga memperhatikan Ummu Mahjan, seorang perempuan tua, berkulit hitam, berpenampilan sederhana, yang saban hari ikut membantu membersihkan Masjid Nabawi. 
 
Ketika tiga hari tidak menjumpai perempuan tua ini,  Nabi  Muhammad bertanya keberadaannya. Dijawab oleh para sahabat bahwa yang bersangkutan sudah wafat. 
 
"Mengapa kalian tidak memberitahukan hal itu kepadaku?" kata Rijal menir4ukan dialog Nabi Muhammad kepada para sahabatnya. 
 
Para sahabat tidak berani menjawab. Ummu Mahjan dinilai sebagai sosok yang tidak penting. Biasa-biasa saja, sehingga dianggap tidak penting kematiannya dikabarkan kepada Rasululllah. Raut muka Nabi mengguratkan kekecewaan karena para sahabatnya tidak memberitahukan kabar duka tersebut.
 
"Tunjukkan kepadaku di mana kuburannya!" lanjut Nabi  Muhammad 
 
Lalu para sahabat bergegas menunjukkan kuburannya kepada Rasulullah SAW. Setelah sampai di kuburnya, Rasulullah mendoakan Ummu Mahjan. 
 
Perlakuan Nabi  Muhammad terhadap ketiga takmir masjid itu luar biasa. Ibn Ummi Maktum, Bilal, dan Ummu Mahjan berasal dari kelompok yang termarginalkan: mantan budak, berkulit hitam, penyandang disabilitas dan seorang perempuan tua. 
 
“Tapi bagi Rasulullah, tidak ada bedanya. Semua sama. Berhak menjadi orang baik yang bertakwa, dan beliau memberikan peluang kepada mereka untuk berkreasi sesuai dengan potensinya,” tandasnya.
 
Pengajian akbar tersebut diselenggarakan oleh peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) Inaifas 2019 Posko 06 bersama masyarakat Dusun Congapan Desa Karagbayat.
 
 
Pewarta: Aryudi AR 
Editor: Ibnu Nawawi
 
BNI Mobile