IMG-LOGO
Nasional

DKI-Jabar, Provinsi dengan Pelanggaran Kemerdekaan Beragama Tertinggi 2018

Kamis 5 September 2019 17:30 WIB
Bagikan:
DKI-Jabar, Provinsi dengan Pelanggaran Kemerdekaan Beragama Tertinggi 2018
Direktur Eksekutif Wahid Foundation, Mujtaba Hamdi saat memaparkan hasil Laporan Tahunan KKB di Indonesia Wahid Foundation 2018. (A Rahmad Ahdori/NU Online)
Jakarta, NU Online
Provinsi DKI Jakarta dan Jawa Barat (Jabar) menjadi daerah dengan pelanggaran kemerdekaan beragama/berkeyakinan (KKB) tertinggi di Indonesia sepanjang 2018. Dari 26 wilayah yang terekam, DKI Jakarta menjadi provinsi dengan pelanggaran KKB tertinggi dengan 32 peristiwa, disusul Jabar 26 peristiwa, Jawa Timur 17 peristiwa, dan Banten 16 peristiwa.
 
Data tersebut diperoleh dari Laporan Tahunan KKB di Indonesia Wahid Foundation 2018 yang dirilis di Kampus Universitas Indonesia Salemba, Jakarta Pusat, pada Kamis (5/9). Temuan dan data tersebut dikumpulkan berdasarkan peristiwa, waktu, lokasi, tindakan pelanggaran, aktor dan korban. Selain menggunakan pendekatan kuantitatif, laporan juga menggunakan analisis kualitatif dengan menyorot kasus-kasus menonjol yang muncul dan menjadi tren 2018. 
 
Laporan menggunakan metode berbasis peristiwa (event based methodology), pendekatan yang sudah sering digunakan oleh pemantauan situasi Hak Asasi Manusia (HAM). Kasus-kasus pelanggaran terjadi dicatat dan dihitung berdasarkan kategori yang sudah ditetapkan. 
 
Dalam laporan yang dirilis Wahid Foundation dan Rumah Perdamaian Universitas Indonesia (UI) di Kampus UI Salemba, Jakarta Pusat, Kamis (5/9) tersebut, salah satu faktor penting mengapa pelanggaran KKB paling tinggi terjadi di DKI adalah karena DKI sedang tumbuh menjadi wilayah yang semakin tidak ramah terhadap perbedaan dan keragaman.
 
“Jika merujuk data di mana pemidanaan berdasarkan agama atau keyakinan dan ujaran kebencian sebagai dua bentuk tindakan terbanyak, ini menandakan bahwa pertumbuhan tersebut menjalar menyebar baik di aktor negara maupun swasta,” tulis Wahid Foundation dalam Laporan Tahunan KBB-nya. 
 
Sementara dalam laporan tersebut, Jawa Barat dinilai menjadi daerah paling ‘panas’ dalam 10 tahun terakhir. Salah satu penyebabnya adalah belum berhasilnya pengarusutamaan moderasi, toleransi, dan inklusi yang dilakukan berbagai pihak. 
Selain itu, pengarusutamaan moderasi belum dapat mengimbangi penyebaran intoleransi di level akar rumput yang melibatkan berbagai aktor, baik individu maupun kelompok. 
 
“Ini berdasarkan untuk tahun 2018 kita memantau di 26 dari 34 provinsi, jadi hampir keseluruhan provinsi,” kata Direktur Eksekutif Wahid Foundation, Mujtaba Hamdi, saat memaparkan hasil Laporan. 
 
Hamdi menjelaskan, pada 2018 DKI dan Jawa Barat tetap menjadi daerah dengan kasus tertinggi dalam hal pelanggaran KKB, sama dengan laporan yang dirilis 2017 lalu. Disusul Jawa Timur, Banten, Aceh, Sumatera, Jambi dan Riau. 
 
“Ini 10 wilayah tertinggi, sementara tindakan tertinggi, yaitu pemidanaan atau sering disebut kriminalisasi, penyesatan, pelarangan aktivitas, ujaran kebencian. Ujaran kebencian ini tema utama tahun sebelumnya (2017). Ini menjadi PR yang kita fokuskan karena temuan yang konsisten,” ujarnya. 
 
Kontributor: Abdul Rahman Ahdori
Editor: Muchlishon
 
Bagikan:
Kamis 5 September 2019 21:30 WIB
Habib Luthfi ke Banser: NKRI Harga Mati Tidak Main-main
Habib Luthfi ke Banser: NKRI Harga Mati Tidak Main-main
Habib Luthfi di acara Ansor Kendal, Jateng
Kendal, NU Online
Rais 'Aam Idarah Aliyah Jamiyah Ahlit Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyah (JATMAN) Habib Lthfi bin Yahya mengajak kepada Barisan Ansor Serbaguna (Banser) untuk senantiasa merawat sejarah bagaimana negara ini didirikan oleh para pendahulu.
 
"Kepada kalianlah negara ini harus dirawat, hal ini sesuai amanah para pendiri untuk diisi dengan berbagai pembangunan fisk dan no fisik," tegasnya. 
 
Hal itu disampaikan Habib Luthfi bin Yahya yang juga Panglima Besar Banser saat mengisi taushiyah pada penutupan Kemah Kebangsaan yang dihelat Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Kendal, Jawa Tengah  di Pesantren Darussalam, Meteseh, Boja, Kabupaten Kendal, Rabu (4/9) malam.
 
Menurutnya, sejarah merupakan ruh nasionalisme yang harus dipelajari oleh setiap generasi. Karena itu, sejarah sebagai obor nasionalisme jangan sampai terputus.
 
“Bagi kader Ansor dan Banser, NKRI harga mati itu tidak main-main. Tanamkan dan amalkan karena kelak akan dimintai pertanggungjawaban,” ujar Habib Luthfi.
 
Usai memberikan taushiyah, Habib Luthfi memberikan ijazah khusus kepada para kader Ansor dan Banser yang telah berikrar setia pada NKRI.
 
Wakil Gubernur Jawa Tengah H Taj Yasin Maimoen yang turut hadir berpesan agar seluruh kader Ansor dan Banser menjadi pelopor penebar semangat persatuan dan kesatuan.
 
"Ansor dan Banser harus jadi pelopor menebarkan semangat persatuan dan kesatuan di manapun kalian berada, apalagi saat ini tengah marak provokasi bernuansa SARA," tegasnya.
 
Putera dari kiai kharismatik KH Maimoen Zubair (alm) ini juga berharap, perang saudara di Suriah dan beberapa negara muslim dapat menjadi pelajaran bagi masyarakat di tanah air agar tidak mudah termakan isu yang sengaja diciptakan untuk memecah belah.
 
"Kegiatan ini dapat menjadi sarana untuk menumbuhkan kecintaan kepada negara dan sekaligus merekatkan rasa persatuan dan kesatuan seluruh elemen masyarakat," pungkasnya.
 
Sekretaris Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Kendal, KH Izzudin Abdussalam menuturkan, Kemah Kebangsaan dapat menjadi momentum bagi kader Ansor dan Banser untuk menguatkan kembali rasa cinta tanah air yang telah dicontohkan oleh ulama dan para kiai.
 
Ketua PC GP Ansor Kendal Muhammad Ulil Amri mengatakan, kegiatan kemah kebangsaan bertujuan untuk peningkatan kapasitas dan sekaligus sebagai ajang konsolidasi seluruh jajaran pengurus.
 
Dijelaskan, kegiatan tingkat kabupaten ini diikuti kepala kesatuan dari 286 ranting di tingkat desa dan 20 anak cabang di tingkat kecamatan.
 
“Kami siap mengemban amanah dari ulama dan para kiai untuk terus berkhidmah menjaga keutuhan NKRI. Seluruh kepala kesatuan telah diinstruksikan untuk meneruskan kepada seluruh jajarannya menyikapi situasi kebangsaan terkini. Kami pastikan Ansor Kendal solid dan bergerak di bawah satu komando dari pimpinan pusat,” tuturnya. 
 
Kontributor: Samsul
Editor: Muiz
Kamis 5 September 2019 19:30 WIB
Penegakan Tindak Pidana Korupsi Dianggap Berhasil Jika Keuangan Negara Terselamatkan
Penegakan Tindak Pidana Korupsi Dianggap Berhasil Jika Keuangan Negara Terselamatkan
Dekan Fakultas Hukum Universitas Jember, Jawa Timur Nurul Ghufron mengatakan, indikator keberhasilan dalam penegakan hukum terhadap kasus korupsi bukan pada seberapa banyak koruptor yang tertangkap, melainkan seberapa besar keuangan negara yang terselamatkan. (Husni Sahal/NU Online)
Jakarta, NU Online
Dekan Fakultas Hukum Universitas Jember, Jawa Timur Nurul Ghufron menjelaskan, kelahiran Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 adalah agar tidak terjadi kerugian pada keuangan negara.

Sehingga, kata Ghufron, indikator keberhasilan dalam penegakan hukum terhadap kasus korupsi bukan pada seberapa banyak koruptor yang tertangkap, melainkan seberapa besar keuangan negara yang terselamatkan.

“Baik (caranya) mau pemberantasan maupun pencegahan,” kata Ghuforn ketika menjadi pembicara pada Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan Perkumpulan Pengusaha dan Profesional Nahdliyin (P2N) di Lantai 5, Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Kamis (5/9). Diskusi tersebut mengusung tema ‘Penegakan Hukum dan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi’.

Menurut Ghufron, kalau pencegahan lebih menguntungkan dalam mengembalikan keuangan negara, maka pencegahan harus lebih didahulukan dari pada cara lain. Hukum dibentuk oleh legislator memiliki tujuan.

“Kita berproses hukum itu tidak untuk main-main. Tidak untuk memenuhi Cipinang, tidak untuk memenuhi Lapas, tapi kalau menegakkan hukum untuk tindak pidana korupsi itu untuk melindungi dan mengembalikan kerugian negara,” ucapnya.

Oleh karena itu, katanya, tidak boleh memunculkan anggapan ‘jika hukum ditegakkan, maka 100 persen keuangan negara juga akan kembali kepada negara’. Sebab, terjadinya penegakan hukum tidak serta merta atau 100 persen keuangan negara kembali.

Ia mencontohkan kasus korupsi jembatan. Menurutnya, jika pun keuangan negara yang dikorupsi oleh koruptor itu bisa kembali, tapi tidak akan dapat mengembalikan kerugian waktu dan membuat jembatan bertahan lama.

“Itu tidak bisa terkembali secara full walaupun kemudian sudah OTT atau sudah dilapaskan,” ucapnya.

Sebelumnya, Ketua P2N Irnanda Laksanawan juga menyoroti pentingnya pencegahan terhadap tindak pidana korupsi. Ia menyatakan demikian karena dalam pandangannya, persoalan korupsi seperti sebuah tontonan melalui publikasi media.

“Bagaimana ke depan, korupsi bukan untuk dipertontonkan maupun dijebak pada saat mereka mengadakan hal yang salah, tetapi kalau bisa (yang harus dilakukan) lebih pada pencegahan,” kata Irnanda.

Diskusi yang dimoderatori Witjaksono ini juga dihadiri dua pembicara lain, yakni Anggota Komisi III DPR RI Arsul Sani, dan Advokat Bambang Sri Pujo.
 
Pewarta: Husni Sahal
Editor: Muchlishon
Kamis 5 September 2019 19:0 WIB
Tujuh Rekomendasi Wahid Foundation Terkait Temuan Pelanggaran Kemerdekaan Beragama
Tujuh Rekomendasi Wahid Foundation Terkait Temuan Pelanggaran Kemerdekaan Beragama
Laporan Tahunan Kemerdekaan Beragama/Berkeyakinan di Indonesia 2018. (Ilustrasi: Abdul Rahmad Ahdori/NU Online)
Jakarta, NU Online
Wahid Foundation merekomendasikan tujuh poin kepada pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) atas temuan pelanggaran kemerdekaan beragama dan berkeyakinan (KBB) di Indonesia sepanjang 2018. Rekomendasi tersebut dinilai penting dan harus disikapi agar praktik toleransi terwujud serta dapat mencegah adanya konflik di masyarakat. 

Tujuh poin penting rekomendasi yang diajukan Wahid Foundation itu antara lain: 

Pertama, mendesak presiden dan pemerintah pusat merealisasikan visi melawan intoleransi dengan mendorong berbagai kementerian dan lembaga negara melaksanakan pengarusutamaan toleransi dan jaminan perlindungan hak atas KBB dalam rencana pembangunan jangka menengah dan nasional IV 2020-2025.

Kedua, mendesak Presiden Joko Widodo mengambil langkah konkret dan permanen guna menyelesaikan warisan kasus lama dan baru terkait pelanggaran KBB.

Ketiga, mendesak pemerintah dan DPR memaksimalkan fungsi pemantauan, pengawasan, dan evaluasi secara lebih ketat terhadap pelaksanaan UU Pemerintah Daerah terkait kebijakan pemerintah-pemerintah daerah menangani isu-isu keagamaan.

Keempat, mendesak Kementerian Agama (Kemenag), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) serta Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) untuk mengarusutamakan pendidikan toleransi, moderasi, beragama dan penghormatan hak beragama dan berkeyakinan dalam kurikulum di berbagai tingkatan termasuk di berbagai ekstrakurikuler.

Kelima, mendesak pemerintah dan DPR merevisi atau mencabut sejumlah peraturan perundang-undangan yang diskriminatif di tingkat pusat maupun daerah.
 

Keenam, mendesak pemerintah dan terutama Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) untuk meninjau berbagai kebijakan daerah bernuansa agama yang membatasi hak beragama dan diskriminatif.

Ketujuh, mendorong pemerintah pusat memberi apresiasi dan penghargaan kepada pemimpin daerah yang berhasil meningkatkan kualitas perlindungan hak atas KBB dan pelayanan publik non diskriminatif.

Selain tujuh rekomendasi tersebut, Direktur Utama Wahid Foundation, Yenny Zannuba Wahid, memberikan beberapa catatan yang mesti disikapi oleh semua pihak. Diantaranya penyelesaian kasus jamaah Syiah di Sampang, Jawa Timur. 
 
“Seperti pemulihan jamaah Syiah di Sampang yang sampai sekarang anaknya masih sulit, hidup di pengungsian dan sebagainya,” ujarnya saat Peluncuran Laporan Tahunan Kemerdekaan Beragama Berkeyakinan di Indonesia Tahun 2018 di Kampus Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta Pusat, Kamis (5/9).

Sementara Direktur Eksekutif Wahid Foundation, Mujtaba Hamdi, mendesak agar pemerintah merevisi atau membatalkan peraturan daerah yang potensial melanggar kemerdekaan beragama/berkeyakinan. 

“Patokan kita adalah konstitusi. Konstitusi Pasal 28, 29 telah menegaskan negara punya kewajiban untuk melindungi kemerdekaan kebebasan setiap warga untuk menjalankan agama dan keyakinannya masing-masing,” ucapnya

Kontributor: Abdul Rahman Ahdori
Editor: Muchlishon
 
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG