IMG-LOGO
Daerah

Obat Segala Penyakit adalah Yakin Disembuhkan Allah SWT

Jumat 6 September 2019 8:0 WIB
Bagikan:
Obat Segala Penyakit adalah Yakin Disembuhkan Allah SWT
Suasana ruqyah massal di Pesantren Hidayatul Muhsinin, Kota Baru, Pontianak. (Foto: NU Online/Siti Maulida)
Pontianak, NU Online
Pondok Pesantren Hidayatul Muhsinin, Jalan Perdamaian, Kota Baru, Pontianak, Kalimantan Barat mengadakan ruqyah massal. Kegiatan diselenggarakan bersama Ketua Dewan Pembina Pusat Jamiyah Ruqyah Aswaja (JRA), Gus Allama Al’Alaudin Siddiqi. Acara dipusatkan di masjid pesantren setempat, Kamis (5/9).
 
Gus Allaudin memberikan arahan terkait pengertian ruqyah pada peserta. “Ruqyah adalah pengobatan melalui media Al-Qur’an. Pengobatan ini merupakan pengobatan tanpa modal materi hanya bermodalkan yakin bahwa yang menyembuhkan segala penyakit hanyalah Allah SWT,” katanya di hadapan peserta.
 
Dengan kelebihan yang dimiliki, dirinya mengajak peserta ruqyah untuk terlebih awal menyadari bahwa penyakit dan obat penawarnya adalah Allah SWT.
 
“Jadi, sebelum diruqyah, kalian harus yakin dulu bahwa yang menyembuhkan segala penyaki hanyalah Allah, karena yakin adalah syarat sebelum ruqyah,” ungkapnya.
 
Acara ruqyah diawali dengan pembacaan tahlil yang dipimpin oleh salah satu santri Pondok Pesantren Hidayatul Muhsinin. Para peserta mengalami beberapa reaksi ketika diruqyah. Mulai dari muntah-muntah, menangis hingga kerasukan jin.  
 
Ruqyah berlangsung dari pukul 9 pagi hingga menjelang dzuhur. Setelah dzuhur diadakan ruqyah tahap kedua khusus untuk peserta yang memiliki penyakit gangguan makhluk halus.
 
Peserta ruqyah meliputi santri dan santriwati Pondok Pesantren Hidayatul Muhsinin, pelajar dari semua tingkatan sejak SD, MTs, dan MA. Termasuk sejumlah alumni, mahasiswa dan mahasiswi, serta warga di sekitar pesantren.
 
Mereka sangat antusias mengikuti ruqiyah dengan datang lebih awal sebelum kegiatan digelar.
 
Pengobatan ruqyah meliputi cara medis dan non medis. Pengobatan medis seperti penyakit mag, asam lambung insomnia, vertigo, darah tinggi, reumatik, Stroke, gatal-gatal, infeksi saluran pernafasan dan asma.
 
Sedangkan pengobatan nonmedis meliputi penyakit hati antara lain, sering emosi, pundak berat, pusing, mimpi buruk, lupa rokaat shalat, penyakit yang berpindah-pindah, kenakalan remaja, sulit mendapatakan jodoh, sering kesurupan, dan penyakit hati lain.
 
Pewarta:  Siti Maulida
Editor: Ibnu Nawawi
 
Bagikan:

Baca Juga

Jumat 6 September 2019 20:30 WIB
Muslimat NU Jatim Segera Miliki Layanan Klinik di Setiap Cabang 
Muslimat NU Jatim Segera Miliki Layanan Klinik di Setiap Cabang 
PW Muslimat NU Jatim melakukan kerja sama dengan sejumlah kalangan. (Foto: NU Online/Lina)
Surabaya, NU Online
Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) II Pimpinan Wilayah (PW) Muslimat NU Jawa Timur menggandeng Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, Tokopedia, dan CV Berkah Aswaja untuk bersinergi bersama dalam meningkatkan pelayanan umat.
 
Ketua PW Muslimat NU Jatim, Hj Masruroh Wahid mengatakan kerja sama ini diperlukan supaya meningkatkan pelayanan dan kemudahan bagi setiap kader. 
 
“Tidak hanya itu, dalam waktu dekat akan mendirikan klinik di setiap kepengurusan Pimpinan Cabang (PC) Muslimat NU di kabupaten dan kota se-Jawa Timur,” katanya, Jumat (6/9). 
 
Dirinya bersama pengurus yang lain ingin memastikan semua Muslimat NU di daerah tidak terkendala saat mengakses pelayanan kesehatan. 
 
“Maka ke depan kami ingin setiap cabang memiliki layanan klinik yang berbasis keanggotaan BPJS. Bentuk one cabang one klinik diharapkan bisa dimanfaatkan masyarakat utamanya anggota Muslimat NU," jelasnya. 
 
Lebih lanjut, perempuan asal Mojoagung, Jombang tersebut memaparkan bahwa peran Muslimat NU di Jawa Timur tidak sekadar melayani agama saja. “Juga pendidikan, ekonomi dan kesehatan yang dinilai masih menjadi problem di Jawa Timur,” ungkapnya. 
 
Menurutnya, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Jawa Timur masih di peringkat ke 15, hal ini tidak sesuai dengan tekad provinsi ini yang membangun dengan semangat Cettar. Cetar sendiri adalah Program Nawa Bhakti Satya yang diperas atau dirangkum untuk 99 hari pertama kerjanya. Rinciannya yaitu Cepat, Efektif, Tanggap, Transparan, dan Responsif. 
 
"Muslimat NU ingin mengangkat IPM Jawa Timur yang hari ini masih di strata tingkat 15 dari 34 provinsi. Padahal Jawa Timur ini Cettar. Kalau sampai pusat menunjuk Jatim sebagai projek 4.0 itu berarti penjabat kita bisa. Masak ya IPM nya tetap seperti itu," jelasnya. 
 
Keinginan untuk membantu  meningkatkan IPM Jawa Timur melalui kerja sama dengan BPJS Kesehatan, Tokopedia, dan Berkah Aswaja, diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan dan pelayanan di masyarakat. 
 
"Maka, Muslimat NU sebagai organisasi yang besar, anggotanya besar terutama di pedesaan secara ekonomi perlu dibantu, secara pendidikan perlu ditingkatkan, secara kesehatan juga perlu diberi akses pelayanan yang memadai,” harapnya. 
 
Dengan aneka kerja sama tersebut diharapkan cita-cita bagi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat.
 
“Saya yakin jika kerja sama ini berjalan, maka IPM Jatim juga merangkak ke atas atau mengalami peningkatan," tandasnya. 
 
Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) II Pimpinan Wilayah (PW) Muslimat NU Jawa Timur diselenggarakan di kantor Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, jalan Masjid al-Akbar Timur, 9 Surabaya. 
 
 
Pewarta: Lina
Editor: Ibnu Nawawi
 
Jumat 6 September 2019 20:0 WIB
Kepengurusan Masyarakat Ekonomi Syariah di Bangkalan Terbentuk
Kepengurusan Masyarakat Ekonomi Syariah di Bangkalan Terbentuk
Tim Formatur Pengurus Daerah Masyarakat Ekonomi Syariah di Bangkalan. (Foto: NU Online/Panitia)
Bangkalan, NU Online
Pulau Madura, Jawa Timur yang meliputi empat kabupaten yakni Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep dikenal memiliki masyarakat yang religius. Keberadaan ekonomi syariah diharapkan menjadi bagian tidak terpisahkan dari warga setempat.
 
Untuk mendukung hal itu, sebentar lagi akan terbentuk dan dideklarasikan Pengurus Daerah (PD) Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) di Bangkalan. 
 
Tim formatur Pengurus Daerah (PD) Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Bangkalan telah berhasil membentuk struktur kepengurusan. Hal tersebut setelah sebelumnya melakukan komunikasi dan konsolidasi dengan banyak pihak. 
 
Komposisi di kepengurusan tersebut tentu saja mempertimbangkan ketokohan dan kapasitas yang bersangkutan. Diharapkan dengan terbentuknya kepengurusan, akan membawa perubahan yang lebih baik di salah satu kota di Pulau Madura tersebut.
 
“Sejumlah tokoh masyarakat kami posisikan sebagai pembina maupun dewan pakar bagi PD MES Kabupaten Bangkalan,” kata Luthfi Riadi, Kamis (5/9).
 
Secara lebih rinci, pria yang juga sebagai Ketua Tim Formatur tersebut menjelaskan bahwa ada beberapa nama sebagai dewan pembina.
 
“Mulai Rektor Universitas Trunojoyo Madura atau UTM, MUI atau Majelis Ulama Indonesia, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, anggota DPRD dan tokoh masyarakat dari kalangan pengasuh pesantren,” kata alumnus pascasarjana Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim, Malang tersebut.
 
Sedangkan di jajaran dewan pakar ada Nizarul Alim yang merupakan guru besar bidang akuntansi syariah. 
 
“Juga ada Kepala Program Studi atau Kaprodi Ekonomi Syariah sejumlah kampus di Bangkalan, serta kalangan praktisi lembaga keuangan syariah,” ungkapnya.
 
Luthfi Riadi yang sekaligus didaulat sebagai Ketua Umum PD MES Bangkalan mengemukakan bahwa sudah saatnya MES berdiri di Bangkalan. 
 
“Tujuan kami ingin memasyarakatkan ekonomi syariah dan mensyariahkan ekonomi masyarakat,” kilahnya. Dalam pandangannya, masyarakat Bangkalan hendaknya sadar akan ekonomi syariah.
 
Untuk kelengkapan kepengurusan yang lain, dalam pengurus harian dan kepala departemen rata-rata diisi kalangan dosen muda ekonomi syariah di Kabupaten Bangkalan.
 
“Hal tersebut tentu agar mereka dapat langsung bisa bekerja dan memetakan persoalan jangka pendek, menengah dan panjang bagi pengembangan dan ekonomi syariah,” urainya.
 
Menurut Luthfi, saat ini tim formatur fokus pada persiapan deklarasi dan pelantikan.
 
“Sambil lalu menunggu proses surat keputusan dari pengurus pusat,” tandas Ersya, Ketua I dan dosen ekonomi syariah di UTM.

Editor: Ibnu Nawawi
Jumat 6 September 2019 19:0 WIB
Pesantren Bahrul Ulum Jombang Bekali Santrinya Wawasan Kebangsaan
Pesantren Bahrul Ulum Jombang Bekali Santrinya Wawasan Kebangsaan
Pembekalan wawasan kebangsaan santri Bahrul Ulum Jombang, Jatim
Jombang, NU Online
Pengasuh Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang Jawa Timur KH Ahmad Hasan melakukan pembekalan kepada ratusan santri asrama As-Sa'idiyyah 2 Pesantren Bahrul Ulum tentang wawasan kebangsaan untuk generasi milenial dalam menjawab tantangan zaman.
 
Dalam paparannya Kiai Hasan berpesan tentang tugas santri mengisi kemerdekaan RI dengan serius. Serius dalam arti berusaha keras dengan usaha nyata dan berdoa.
 
"Tidak ada orang yang berhasil tanpa adanya perjuangan dan doa. Para santri ini merupakan generasi penerus bangsa," katanya, Kamis (5/09).
 
Dikatakan, santri milenial sebagai generasi penerus yang dapat mendukung perjuangan bangsa ini. Oleh karenanya, santri harus multitalenta dan bisa bergaul di dunia Internasional.
 
"Santri adalah pelajar plus dengan ilmu pengetahuan keagamaan yang dimilikinya merupakan bekal yang dapat digunakan untuk bergaul di dunia Internasional," tegasnya.
 
Lebih lanjut Kiai Hasan menerangkan, kemerdekaan Indonesia akan tetap bertahan dengan segenap bangsa Indonesia ini memiliki semboyan dan juga berpegangan teguh untuk UUD 1945, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI. 
 
"Kalau kita bersatu, maka kita akan teguh, bercerai kita runtuh. Maka kita akan kuat disertai dengan jiwa nasionalisme yang kuat pula," jelasnya.
 
Kiai Hasan mengatakan, Indonesia itu layaknya orkestra, yakni dari beragam alat musik yang berbeda dan lambang bunyi yang tentunya juga berbeda, akan tetapi jika disatukan akan menjadi suatu instrumen yang sangat indah dan baik untuk di dengar. 
 
"Negara Indonesia, yang memiliki ragam suku, budaya, adat, ras, dan agama akan tetapi Indonesia bisa bersatu di dalam satu bangsa secara damai," tambah Kiai Hasan
 
Lebih lanjut, ia jelaskan  santri Indonesia ke depannya wajib menanamkan rasa cinta tanah air dan perbedaan sejak dini yakni dengan cara mengajarkan makna wawasan kebangsaan terhadap teman, saudara, anak, dan cucu kita.
 
"Ajaran ini sesuai dengan pemikiran dari pendiri sekaligus penggerak Nahdlatul Ulama KH Abdul Wahab Hasbullah. Kiai Wahab dari dulu mengajarkan santrinya untuk mencintai negara dan bangsa. Kebangsaan dan keagamaan tidak saling bertentangan," paparnya.
 
"Dengan begitu santri sekarang ini harus bisa bersatu dalam kedamaian dan semoga Indonesia dijadikan sebagai baldatun tayibatun wa rabbun ghafur," imbuhnya.
 
Ketua asrama As-Saidiyah Abdurrahman Haris menjelaskan bahwa ia yakin santriwan dan santriwati pesantren yang di bawah naungan NU memiliki keimanan yang kuat dan jiwa nasionalisme yang tinggi. 
 
"Kami berharap, santri ikut andil dalam membangun karakter bangsa Indonesia, jadilah generasi penerus bangsa yang dijauhkan dari hal-hal yang negatif," pungkasnya.

Kontributor: Syarif Abdurrahman
Editor: Muiz
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG