IMG-LOGO
Daerah

Muslimat NU Jatim Segera Miliki Layanan Klinik di Setiap Cabang 

Jumat 6 September 2019 20:30 WIB
Bagikan:
Muslimat NU Jatim Segera Miliki Layanan Klinik di Setiap Cabang 
PW Muslimat NU Jatim melakukan kerja sama dengan sejumlah kalangan. (Foto: NU Online/Lina)
Surabaya, NU Online
Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) II Pimpinan Wilayah (PW) Muslimat NU Jawa Timur menggandeng Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, Tokopedia, dan CV Berkah Aswaja untuk bersinergi bersama dalam meningkatkan pelayanan umat.
 
Ketua PW Muslimat NU Jatim, Hj Masruroh Wahid mengatakan kerja sama ini diperlukan supaya meningkatkan pelayanan dan kemudahan bagi setiap kader. 
 
“Tidak hanya itu, dalam waktu dekat akan mendirikan klinik di setiap kepengurusan Pimpinan Cabang (PC) Muslimat NU di kabupaten dan kota se-Jawa Timur,” katanya, Jumat (6/9). 
 
Dirinya bersama pengurus yang lain ingin memastikan semua Muslimat NU di daerah tidak terkendala saat mengakses pelayanan kesehatan. 
 
“Maka ke depan kami ingin setiap cabang memiliki layanan klinik yang berbasis keanggotaan BPJS. Bentuk one cabang one klinik diharapkan bisa dimanfaatkan masyarakat utamanya anggota Muslimat NU," jelasnya. 
 
Lebih lanjut, perempuan asal Mojoagung, Jombang tersebut memaparkan bahwa peran Muslimat NU di Jawa Timur tidak sekadar melayani agama saja. “Juga pendidikan, ekonomi dan kesehatan yang dinilai masih menjadi problem di Jawa Timur,” ungkapnya. 
 
Menurutnya, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Jawa Timur masih di peringkat ke 15, hal ini tidak sesuai dengan tekad provinsi ini yang membangun dengan semangat Cettar. Cetar sendiri adalah Program Nawa Bhakti Satya yang diperas atau dirangkum untuk 99 hari pertama kerjanya. Rinciannya yaitu Cepat, Efektif, Tanggap, Transparan, dan Responsif. 
 
"Muslimat NU ingin mengangkat IPM Jawa Timur yang hari ini masih di strata tingkat 15 dari 34 provinsi. Padahal Jawa Timur ini Cettar. Kalau sampai pusat menunjuk Jatim sebagai projek 4.0 itu berarti penjabat kita bisa. Masak ya IPM nya tetap seperti itu," jelasnya. 
 
Keinginan untuk membantu  meningkatkan IPM Jawa Timur melalui kerja sama dengan BPJS Kesehatan, Tokopedia, dan Berkah Aswaja, diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan dan pelayanan di masyarakat. 
 
"Maka, Muslimat NU sebagai organisasi yang besar, anggotanya besar terutama di pedesaan secara ekonomi perlu dibantu, secara pendidikan perlu ditingkatkan, secara kesehatan juga perlu diberi akses pelayanan yang memadai,” harapnya. 
 
Dengan aneka kerja sama tersebut diharapkan cita-cita bagi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat.
 
“Saya yakin jika kerja sama ini berjalan, maka IPM Jatim juga merangkak ke atas atau mengalami peningkatan," tandasnya. 
 
Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) II Pimpinan Wilayah (PW) Muslimat NU Jawa Timur diselenggarakan di kantor Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, jalan Masjid al-Akbar Timur, 9 Surabaya. 
 
 
Pewarta: Lina
Editor: Ibnu Nawawi
 
Bagikan:

Baca Juga

Jumat 6 September 2019 20:0 WIB
Kepengurusan Masyarakat Ekonomi Syariah di Bangkalan Terbentuk
Kepengurusan Masyarakat Ekonomi Syariah di Bangkalan Terbentuk
Tim Formatur Pengurus Daerah Masyarakat Ekonomi Syariah di Bangkalan. (Foto: NU Online/Panitia)
Bangkalan, NU Online
Pulau Madura, Jawa Timur yang meliputi empat kabupaten yakni Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep dikenal memiliki masyarakat yang religius. Keberadaan ekonomi syariah diharapkan menjadi bagian tidak terpisahkan dari warga setempat.
 
Untuk mendukung hal itu, sebentar lagi akan terbentuk dan dideklarasikan Pengurus Daerah (PD) Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) di Bangkalan. 
 
Tim formatur Pengurus Daerah (PD) Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Bangkalan telah berhasil membentuk struktur kepengurusan. Hal tersebut setelah sebelumnya melakukan komunikasi dan konsolidasi dengan banyak pihak. 
 
Komposisi di kepengurusan tersebut tentu saja mempertimbangkan ketokohan dan kapasitas yang bersangkutan. Diharapkan dengan terbentuknya kepengurusan, akan membawa perubahan yang lebih baik di salah satu kota di Pulau Madura tersebut.
 
“Sejumlah tokoh masyarakat kami posisikan sebagai pembina maupun dewan pakar bagi PD MES Kabupaten Bangkalan,” kata Luthfi Riadi, Kamis (5/9).
 
Secara lebih rinci, pria yang juga sebagai Ketua Tim Formatur tersebut menjelaskan bahwa ada beberapa nama sebagai dewan pembina.
 
“Mulai Rektor Universitas Trunojoyo Madura atau UTM, MUI atau Majelis Ulama Indonesia, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, anggota DPRD dan tokoh masyarakat dari kalangan pengasuh pesantren,” kata alumnus pascasarjana Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim, Malang tersebut.
 
Sedangkan di jajaran dewan pakar ada Nizarul Alim yang merupakan guru besar bidang akuntansi syariah. 
 
“Juga ada Kepala Program Studi atau Kaprodi Ekonomi Syariah sejumlah kampus di Bangkalan, serta kalangan praktisi lembaga keuangan syariah,” ungkapnya.
 
Luthfi Riadi yang sekaligus didaulat sebagai Ketua Umum PD MES Bangkalan mengemukakan bahwa sudah saatnya MES berdiri di Bangkalan. 
 
“Tujuan kami ingin memasyarakatkan ekonomi syariah dan mensyariahkan ekonomi masyarakat,” kilahnya. Dalam pandangannya, masyarakat Bangkalan hendaknya sadar akan ekonomi syariah.
 
Untuk kelengkapan kepengurusan yang lain, dalam pengurus harian dan kepala departemen rata-rata diisi kalangan dosen muda ekonomi syariah di Kabupaten Bangkalan.
 
“Hal tersebut tentu agar mereka dapat langsung bisa bekerja dan memetakan persoalan jangka pendek, menengah dan panjang bagi pengembangan dan ekonomi syariah,” urainya.
 
Menurut Luthfi, saat ini tim formatur fokus pada persiapan deklarasi dan pelantikan.
 
“Sambil lalu menunggu proses surat keputusan dari pengurus pusat,” tandas Ersya, Ketua I dan dosen ekonomi syariah di UTM.

Editor: Ibnu Nawawi
Jumat 6 September 2019 19:0 WIB
Pesantren Bahrul Ulum Jombang Bekali Santrinya Wawasan Kebangsaan
Pesantren Bahrul Ulum Jombang Bekali Santrinya Wawasan Kebangsaan
Pembekalan wawasan kebangsaan santri Bahrul Ulum Jombang, Jatim
Jombang, NU Online
Pengasuh Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang Jawa Timur KH Ahmad Hasan melakukan pembekalan kepada ratusan santri asrama As-Sa'idiyyah 2 Pesantren Bahrul Ulum tentang wawasan kebangsaan untuk generasi milenial dalam menjawab tantangan zaman.
 
Dalam paparannya Kiai Hasan berpesan tentang tugas santri mengisi kemerdekaan RI dengan serius. Serius dalam arti berusaha keras dengan usaha nyata dan berdoa.
 
"Tidak ada orang yang berhasil tanpa adanya perjuangan dan doa. Para santri ini merupakan generasi penerus bangsa," katanya, Kamis (5/09).
 
Dikatakan, santri milenial sebagai generasi penerus yang dapat mendukung perjuangan bangsa ini. Oleh karenanya, santri harus multitalenta dan bisa bergaul di dunia Internasional.
 
"Santri adalah pelajar plus dengan ilmu pengetahuan keagamaan yang dimilikinya merupakan bekal yang dapat digunakan untuk bergaul di dunia Internasional," tegasnya.
 
Lebih lanjut Kiai Hasan menerangkan, kemerdekaan Indonesia akan tetap bertahan dengan segenap bangsa Indonesia ini memiliki semboyan dan juga berpegangan teguh untuk UUD 1945, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI. 
 
"Kalau kita bersatu, maka kita akan teguh, bercerai kita runtuh. Maka kita akan kuat disertai dengan jiwa nasionalisme yang kuat pula," jelasnya.
 
Kiai Hasan mengatakan, Indonesia itu layaknya orkestra, yakni dari beragam alat musik yang berbeda dan lambang bunyi yang tentunya juga berbeda, akan tetapi jika disatukan akan menjadi suatu instrumen yang sangat indah dan baik untuk di dengar. 
 
"Negara Indonesia, yang memiliki ragam suku, budaya, adat, ras, dan agama akan tetapi Indonesia bisa bersatu di dalam satu bangsa secara damai," tambah Kiai Hasan
 
Lebih lanjut, ia jelaskan  santri Indonesia ke depannya wajib menanamkan rasa cinta tanah air dan perbedaan sejak dini yakni dengan cara mengajarkan makna wawasan kebangsaan terhadap teman, saudara, anak, dan cucu kita.
 
"Ajaran ini sesuai dengan pemikiran dari pendiri sekaligus penggerak Nahdlatul Ulama KH Abdul Wahab Hasbullah. Kiai Wahab dari dulu mengajarkan santrinya untuk mencintai negara dan bangsa. Kebangsaan dan keagamaan tidak saling bertentangan," paparnya.
 
"Dengan begitu santri sekarang ini harus bisa bersatu dalam kedamaian dan semoga Indonesia dijadikan sebagai baldatun tayibatun wa rabbun ghafur," imbuhnya.
 
Ketua asrama As-Saidiyah Abdurrahman Haris menjelaskan bahwa ia yakin santriwan dan santriwati pesantren yang di bawah naungan NU memiliki keimanan yang kuat dan jiwa nasionalisme yang tinggi. 
 
"Kami berharap, santri ikut andil dalam membangun karakter bangsa Indonesia, jadilah generasi penerus bangsa yang dijauhkan dari hal-hal yang negatif," pungkasnya.

Kontributor: Syarif Abdurrahman
Editor: Muiz
Jumat 6 September 2019 13:0 WIB
Dianggap Ilegal, PMII Universitas Muhammadiyah Jember Berbaik Sangka
Dianggap Ilegal, PMII Universitas Muhammadiyah Jember Berbaik Sangka
Ketua  PMII Komisariat UMJ, Fendi Winata. (Foto: NU Online/Aryudi AR)
Jember, NU Online 
Kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Universitas Muhammadiyah Jember (UMJ), Jawa Timur merasa gundah atas isu yang mempersoalkan legalitas organisasi ekstra kampus tersebut di lingkungan UMJ. Pasalnya, tidak ada larangan mahasiswa mendirikan organisasi ekstra kampus di lingkungan internal perguruan tinggi di mana menjalani aktifitas kuliah. 
 
“Dan PMII Komisariat UMJ sudah lama berdiri. Jadi sesungguhnya tidak ada persoalan,” kata Ketua  PMII Komisariat UMJ, Fendi Winata kepada NU Online di Kampus UMJ, Kamis (5/9).
 
Menurutnya, saat ini mahasiswa lebih bebas untuk mendirikan organisasi ekstra kampus menyusul terbitnya Peraturan Menteri Riset dan Dikti nomor 55/2018 tentang Pembinaan Ideologi Bangsa dalam Kegiatan Kemahasiswaan di Perguruan Tinggi. 
 
Katanya, arah dari peraturan tersebut adalah untuk mendorong pimpinan perguruan tinggi membuka unit kegiatan mahasiswa,  yang kegiatannya adalah untuk pembinaan 4 pilar kebangsaan, yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia), dan Bineka Tunggal Ika.
 
“Jadi jelas, kami ingin berpartisipasi dalam pembinaan ideologi kebangsaan melalui kegiatan-kegiatan PMII di lingkungan UMJ. Secara implisit, peraturan itu mendorong adanya organisasi ekstra kampus untuk memberikan sumbangsih  terkait pembinaan ideologi, dan sebagainya,” jelasnya.
 
Oleh karena itu, Fendi menyatakan keinginannya untuk bertemu petinggi UMJ untuk mengklarifikasi status organisasi yang dipimpinnya di lingkungan kampus dimaksud. Sebab jika dibiarkan mengambang, akan berimplikasi tidak baik bagi masa depan PMII Komisariat UMJ.
 
“Saya husnudz dzan (baik sangka, red) saja kepada beliau-beliau,” ungkapnya.
 
Pemuda asal Banyuwangi itu menandaskan, sesungguhnya sejarah soal pertukaran organisasi di antara tokoh NU dan  Muhammadiyah cukup terang benderang. Misalnya, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsudin pernah menjadi anggota IPNU, dan persaudaraan Gus Dur dan Syafi’i Maarif juga cukup lengket.
 
“Bahkan info terbaru,  IMM sejak tahun 2018 sudah mendirikan Komisariat di Unisma (Universitas Islam Malang), perguruan tinggi swasta ternama punya NU,” terangnya.
 
Fendi berharap agar kondisi persaudaraan yang lengket itu juga bisa tumbuh subur di Jember, dan kelak bisa berimplikasi terhadap keguyuban warga NU dan Muhammadiyah. Dikatakannya, PMII dan IMM mempunyai tujuan yang sama, yaitu menebar Islam yang rahmatal lil’alamin.
 
“Jangan lupa juga, UMJ yang berdiri megah seperti sekarang ini mahasiswanya mayoritas anak orang NU,” pungkasnya.
 
 
Pewarta: Aryudi AR 
Editor: Ibnu Nawawi
 
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG