IMG-LOGO
Daerah

Meriahnya Agenda Hari Santri 2019 di Kabupaten Pringsewu

Sabtu 7 September 2019 13:0 WIB
Bagikan:
Meriahnya Agenda Hari Santri 2019 di Kabupaten Pringsewu
Kirab Hari Santri 2018 Bersama Bupati dan Wakil Bupati Pringsewu (Foto: Faizin/NUO)

Pringsewu, NU Online

Satu bulan jelang puncak Hari Santri yang jatuh pada tanggal 22 Oktober 2019, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Pringsewu, Provinsi Lampung sudah mempersiapkan berbagai jenis kegiatan untuk memeriahkannya. Perlombaan, pentas seni, dan berbagai kreativitas santri siap digelar oleh panitia.

 

Ketua Hari Santri PCNU Kabupaten Pringsewu KH Munawir mengungkapkan bahwa kemeriahan dan syiar Hari Santri harus terus senantiasa digaungkan di tengah masyarakat. Hal ini untuk menunjukkan jati diri santri yang memiliki peran penting dalam mewujudkan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

 

"Santri saat ini harus mampu meneruskan dan mempertahankan peran pentingnya seperti yang telah dicontohkan para ulama dan santri terdahulu dalam perjuangan merebut kemerdekaan," tegas Katib Syuriyah PCNU Pringsewu ini melalui sambungan telepon dengan NU Online, Jumat (6/9).

 

Upaya meneruskan perjuangan santri di era saat ini adalah dengan mewujudkan rasa syukur serta meneruskan cita-cita luhur dengan memperkuat berbagai aspek kehidupan seperti agama, pendidikan, ekonomi, budaya, dan sebagainya. Oleh sebab itu agenda Hari Santri di Kabupaten Pringsewu berupaya untuk memperkuat aspek-aspek tersebut.

 

Pada tahun 2019, lanjutnya, Panitia Hari Santri akan menggelar serangkaian kegiatan, di antaranya Santri Expo 2019 dan Food Festival yang digelar di Pendopo Pringsewu. Berbagai hasil kreativitas santri ditampilkan baik dalam bidang agama, seni, maupun ekonomi.

 

Agenda lain di antaranya: (1) Festival Anak Sholeh (FASI) yang menggelar cabang lomba mewarnai, tahfidz 30 juz dan dai cilik. (2) Festival Kitab Salaf dan Tahfidz yang memggelar musabaqah kitab fikih, hadits, hafalan nadzom, lalaran, dan tahfidzul quran. (3) Festival Seni Salaf yang akan menggelar lomba Hadrah, Rebana, dan Solo Song. (4) Festival Olah Raga dan Seni Islami yang menggelar lomba MTQ, Kaligrafi, Baca Puisi, Pidato Bahasa Indonesia, Tenis meja, Bulu tangkis. (5) Kemah santri. (6) Goes Sepeda Santri. (7) Wisuda Santri. (8) Halaqah Santri yang meliputi kegiatan Pendidikan Kader Penggerak NU (PKPNU) dan Seminar Aswaja. (9) Pringsewu Bershalawat. (10) Istighotsah di makam tokoh pejuang Pringsewu, KH Ghalib.

 

"Puncak kegiatan yakni upacara hari santri dan kirab budaya santri yang memang menjadi agenda utama Hari Santri setiap tahunnya," tambahnya.

 

KH Munawir mengungkapkan bahwa kegiatan Hari Santri saat ini terus mempertahankan dan meningkatkan kuantitas serta kualitas kegiatan seperti tahun-tahun sebelumnya.

 

"Alhamdulillah, setiap tahunnya Hari Santri di Kabupaten Pringsewu berlangsung meriah dengan puluhan agenda kegiatan. Semoga tahun ini berjalan sukses. Minta doanya. Dari Santri untuk Negeri. Santri Indonesia untuk Perdamaian Dunia," pungkasnya.

 

Pewarta: Muhammad Faizin

Editor: Aryudi AR

Bagikan:

Baca Juga

Sabtu 7 September 2019 23:30 WIB
Milenial NU Harus Jadi Inspirator di Tengah Masyarakat
Milenial NU Harus Jadi Inspirator di Tengah Masyarakat
Wakil Sekretaris PWNU Jatim, HA Hakim Jayli
Surabaya, NU Online
Generasi milenial Nahdlatul Ulama (NU) diharapkan mampu memberikan inspirasi kepada semua orang. Hal ini disampaikan Wakil Sekretaris Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, HA Hakim Jayli di hari pertama kegiatan NU Millenial Digital Camp, Jumat (6/9) malam.
 
Menurutnya, generasi milenial NU garus harus bisa membuat gerakan yang mana gerakan itu bisa menginisiasi semua orang. “Yakni gerakan yang tidak hanya menggerakkan warga NU saja, tapi gerakan yang bisa menggerakkan seluruh warga Indonesia,” jelasnya.
 
Pria yang menjabat sebagai Chief Executive Officer (CEO) TV9 Nusantara ini mengatakan bahwa dalam mewujudkan hal itu, generasi milenial NU harus bisa mewujudkan persatuan dan kolaborasi antar organ yang ada di NU.
 
Showu sufufakum, fainna fissufuwi tamamil harokah. Rapatkanlah barisanmu, sesungguhnya di dalam rapatnya barisan itu adalah kesempurnaan suatu pergerakan,” ujarnya.
 
“Jadi, marilah kita bekerjasama untuk kemajuan NU. Sebagaimana maksud tali yang ada di dalam logo NU yang maksudnya adalah persatuan. Karena jika NU bersatu, maka akan sulit untuk dikalahkan,” imbuhnya.
 
Dikatakan, perkembangan teknologi yang terjadi saat ini, khususnya di bidang internet juga harus bisa dimanfaatkan oleh generasi milenial NU. Menurut pria yang merupakan alumni Universitas Indonesia (UI) ini mengharapkan semua warga NU bisa mengikuti perkembangan ini sehingga bisa memanfaatkan situasi yang ada. 
 
“Anda bisa melihat hari ini bahwa media internet sudah menjadi media kita semua. Sekarang semua urusan berurusan dengan internet. Mulai bidang media, bisnis, transportasi, dan masih banyak lagi lainnya,” tukasnya.
 
“Internet membuat peta persaingan bisnis berubah. Jika tidak mengubah strategi bisnisnya, mereka akan bertekuk lutut,” tambahnya.
 
Islam yang asalnya menjadi inspirasi. Akan tetapi, sekarang ini telah dikecilkan oleh segelintir kelompok dan telah berubah menjadi sebatas identitas belaka. Akhirnya banyak fenomena yang sering disebut dengan hijrah, namun salah kaprah.
 
“Hijrah saat ini merupakan politik identitas yang dipakai sebagai mobilisasi suatu gerakan tertentu. Dan mobilisasi itu diatasnamakan agama untuk tujuan tertentu,” bebernya.
 
Hakim berpesan kepada para peserta kegiatan yang berlangsung pada Jumat (6/9) hingga Ahad (8/9) di gedung PWNU Jawa Timur ini untuk senantiasa bersikap hormat dan berkhidmat. Sebab keduanya bisa memberikan manfaat kepada siapapun yang melaksanakannya.
 
Bil hurmati intafa’u. Wa bil khidmati, irtafa’u. Dengan bersikap hormat, kita akan bermanfaat. Dengan berkhidmah, kita akan meningkat,” pungkasnya.
 
Kontributor: Ahmad Hanan
Editor: Muiz
Sabtu 7 September 2019 19:0 WIB
Rais NU Jember: Jadi Pengurus NU Harus Didasari Keikhlasan
Rais NU Jember: Jadi Pengurus NU Harus Didasari Keikhlasan
Rapat PCNU Jember pembentukan lembaga
Jember, NU Online 
Menjadi pengurus NU memang gampang-gampang susah. Gampang karena untuk menjadi pengurus NU tidak sulit. Tidak melalui proses yang ruwet. Susah karena untuk bekerja tidak sesederhana yang dibayangkan. 
 
Demikian diungkapkan Rais Syuriyah PCNU Jember, KH Muhyiddin Abdusshomad saat menyampaikan pengarahan dalam Rapat Pembentukan Kepengurusan Lembaga NU di aula PCNU Jember, Sabtu (6/9).
 
Menurut Kiai Muihyiddin, yang terpenting adalah tanamkan niat dalam hati bahwa menjadi pengurus NU adalah untuk meneruskan perjuangan para ulama, sehingga terasa ringan dalam bekerja namun tetap semangat.
 
“NU ini kan warisan para ulama, seperti KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbulllah, KH As’ad Syamsul Arifin, dan sebagainya. Jadi kita di NU untuk membantu meneruskan perjuangan mereka,” ucapnya.
 
Ia menegaskan, ketika para pengurus NU sudah memantapkan hati untuk  berkhidmah di NU, maka nawaitu untuk mengabdi dengan ikhlas harus didahulukan. 
 
Dikatakan, tugas pengurus NU sesungguhnya cukup banyak. Masyarakat butuh pendampingan dan pelayanan NU di berbagai bidang. Karena itu, butuh semangat dan kebersamaan untuk melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepada pengurus NU.
 
“Semuanya  harus dipikul bersama agar tidak terasa berat. Kalau sendiri-sendiri berat,” ungkapnya.
 
Ia berharap agar semangat untuk mengabdi di NU harus terus menggelora di jiwa para pengurus NU. Sebab tugas-tugas di NU itu sifatnya sukarela. Artinya tidak ada paksaan. Tidak ada sanksinya jika tidak dilaksanakan. Tapi kalau  punya semangat, maka semuanya terasa indah.
 
“Semangat itu adalah semangat mengabdi untuk kejayaan NU. Dan dari situ timbul untuk bekerja, memberikan pelayanan bagi  masyarakat. Inilah ladang pengabdian kita, dan nanti kita petik hasilnya di akhirat,” jelasnya.
 
Kiai Muhyiddin menegaskan, dewasa ini begitu banyak persoalan di masyarakat yang membutuhkan keterlibatan NU. Dari sisi akidah, masyarakat sudah lama disusupi ajaran-ajaran yang menyimpang. Para penyebar ajaran itu mempunyai semangat yang militan, bergerak ke sana ke mari tanpa kenal lelah meski sering ditolak oleh masyarakat. 
 
Dari sisi sosial, masyarakat juga mengalami persoalan keterbelakangan ekonomi dan pendidikan, banyak pengangguran, dan  sebagainya. “Itu semua beban sosial yang harus kita bantu mencari jalan keluarnya,” pungkasnya.
 
Pewarta: Aryudi AR 
Editor: Muiz
Sabtu 7 September 2019 17:30 WIB
Festival Gurun Sahara untuk Bentuk Karakter Siswa
Festival Gurun Sahara untuk Bentuk Karakter Siswa
Punakawan dalam festival gurun sahara, MAN 1 Kota Pekalongan, Jateng
Pekalongan, NU Online
Festival Gurun Sahara yang dihelat Madrasah Aliyah Negeri (MAN ) 1 Kota Pekalongan, Jawa Tengah merupakan festival untuk pertama kalinya  dilaksanakan tahun ini berbarengan dengan peringatan tahun baru Islam 1441 hijriyah.  
 
Kepala MAN 1 Kota Pekalongan H Ahmad Najid mengatakan, Festival Gurun Sahara dihelat dalam rangka menyambut 1 Muharram 1441 H. Dan ini merupakan momen yang tepat untuk menggali potensi peserta didik selama siswa belajar berbahasa Arab, sekaligus mengasah anak untuk tampil dan menunjukkan potensi yang dimiliki. 
 
“Pembentukan karakter itu sangat penting bagi peserta didik. Karena dengan itu peserta didik akan mempunyai jati diri, dan tentunya mempunyai akhlakul karimah dan sikap tawadlu kepada siapapun khususnya guru,” ungkapnya pada pembukaan festival, Rabu (4/9) malam. 
 
Dikatakan, dalam festival tahun ini ada beberapa kegiatan yang dilaksanakan, yakni lomba Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ), lomba pidato, lomba melukis,  dan pertunjukan seni berbahasa Arab.
 
“Peserta tak hanya ikut arus hijrah yang sedang tren sekarang ini. Hijrah boleh tetapi semangat hijrah itu untuk perubahan yang lebih dengan meningkatkan takwa, peningkatan inovasi, kreasi, dan prestasi yang tentunya tetap dilandasi akhlakul karimah,” ujarnya.
 
Menurut Najid, program ‘Festival Gurun Sahara’ sangatlah penting dan dibutuhkan. Karena selama ini peserta didik belajar Bahasa Arab perlu ada wadah untuk menampung kemampuan mereka. “Nah, inilah wadah yang tepat,” tegasnya.
 
Ia juga mengingatkan kepada peserta didik, walaupun kita belajar bahasa Arab tetapi tidak semua yang kita lakukan harus kearab-araban. "Kita harus punya jati diri. Kita harus bangga dan bersyukur sebagai bangsa Indonesia yang dikaruniai bangsa yang mempunyai berbagai budaya dan bahasa yang Beragam,” ungkap Najid. 
 
Wakil Kepala Bidang Kesiswaan Najibul Mahbub kepada NU Online, Sabtu (7/9) mengatakan, kegiatan yang dilaksanakan sehari penuh di komplek MAN 1 Kota Pekalongan sangat diminati oleh peserta didik. 
 
“Beberapa penampilan yang diusung oleh beberapa kelas mampu memukau penonton. Ada musikalisasi puisi dari kelas XII Agama, Baca Puisi, Pidato Bahasa Arab,  Vokal Group, sampai dengan Pementasan Fir'aun dan Punakawan pun hadir dalam pementasan tersebut," paparnya. 
 
Tak hanya itu lanjutnya, beberapa cabang lomba dilaksanakan secara terpisah di beberapa tempat diikuti oleh seluruh perwakilan kelas.  Festival yang digagas oleh guru-guru MAN 1 ini mendapatkan respons dan suport yang positif dari civitas MAN 1 Kota Pekalongan. 
 
“Semoga tahun depan kegiatan ini bisa dilaksanakan lagi,” pungkas penggagas kegiatan Hj Rufaiyah dan Nida.

Pewarta: Muiz
Editor:  Musthofa Asrori
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG