IMG-LOGO
Daerah

Bangkitnya Sura Kami, Cara Pesantren Kaliopak Sambut Muharram

Sabtu 7 September 2019 14:0 WIB
Bagikan:
Bangkitnya Sura Kami, Cara Pesantren Kaliopak Sambut Muharram
null
Jakarta, NU Online
Guna menjaga keberlangsungan warisan kearifan tradisi dalam memuliakan bulan Muharram atau Sura, Pesantren Kaliopak Yogyakarta menggelar serangkaian acara yang dikemas dalam 'Bangkitnya Sura Kami'.
 
Ketua Panitia 'Bangkitnya Sura Kami', M Lutfi Firdaus mengungkapkan, agenda tersebut merupakan representasi dari wujud rasa syukur kepada Allah Swt, sekaligus representasi dari ide, gagasan serta etos umat Islam dalam menjaga syariat Kanjeng Nabi Muhammad.
 
Menurut Firdaus, tahun Hijriah yang disandarkan pada peristiwa hijrahnya Kanjeng Nabi Muhammad dari Makkah ke Madinah pada tahun 622 M diawali dengan bulan Muharram. Di dalam bulan Muharram terjadi peristiwa-peristiwa besar, seperti diselamatkannya nabi Musa dari kejaran raja Fir’aun, keluarnya Nabi Yunus dari perut ikan paus, disembuhkannya derita penyakit Nabi Ayub, dan masih banyak lainnya.
 
"Peristiwa-peristiwa itu menunjukkan tanda-tanda kebesaran Allah Swt dan signifikansi bulan Muharram bagi kehidupan keagamaan umat Islam, sehingga dalam bulan tersebut umat Islam dianjurkan untuk melaksanakan puasa sunah dan memperbanyak amal ibadah," kata Firdaus dalam siaran pers yang diterima NU Online, Sabtu (7/9).
 
Firdaus menyebutkan dalam kalender Sultan Agungan bulan Muharram disebut sasi Sura. Masyarakat Jawa memiliki banyak ragam tradisi untuk menyambut dan memuliakan bulan Sura ini. "Seperti halnya warga masyarakat Yogyakarta yang setiap malam 1 Sura mengikuti laku tapa bisu mengelilingi tembok Keraton Yogyakarta dan paginya diadakan upacara Grebeg Suro," imbuhnya.
 
Upacara -upacara yang dilaksanakan masyarakat Jawa merupakan wujud apresiasi atas keutamaan bulan Muharram. Inti dari ritus tersebut sebagai sarana untuk memupuk keimanan sekaligus menciptakan ruang sosialisasi sesama manusia.
 
Rangkaian 'Bangkitnya Sura Kami' diadakan dengan gelaran doa untuk keselamatan dan kebanggkitan umat Islam dalam menghadapi terjangan arus zaman dengan seluruh dinamikanya yang menantang. Acara pembukaan rangkaian acara dilaksanakan hari ini Sabtu (7/9) dengan Gelar Pameran Seni Rupa Lir-ilir yang dimeriahkan dengan parade musik shalawat dan pembacaan puisi.
 
Kemudian, di setiap akhir pekan diadakan ragam kegiatan seperti sarasehan dan diskusi dengan tajuk Islam Berkebudayaan. "Adapun acara puncak dilaksanakan pada Sabtu tanggal 28 September 2019 dengan pagelaran wayang kulit lakon Jumenengan Parikesit oleh Ki Dalang Sigit Wahyu Saputro," tutur Firdaus.
 
Menurutnya, pagelaran wayang ini sebagai penanda ditutupnya rangkaian kegiatan bulan syiar Muharam 1441 H. Suluruh kegiatan ini dilaksanakan di Komplek Pondok Pesantren Kaliopak, Klenggotan RT 04, Srimulyo, Piyungan, Bantul.
 
Red: Kendi Setiawan
Bagikan:

Baca Juga

Sabtu 7 September 2019 23:30 WIB
Milenial NU Harus Jadi Inspirator di Tengah Masyarakat
Milenial NU Harus Jadi Inspirator di Tengah Masyarakat
Wakil Sekretaris PWNU Jatim, HA Hakim Jayli
Surabaya, NU Online
Generasi milenial Nahdlatul Ulama (NU) diharapkan mampu memberikan inspirasi kepada semua orang. Hal ini disampaikan Wakil Sekretaris Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, HA Hakim Jayli di hari pertama kegiatan NU Millenial Digital Camp, Jumat (6/9) malam.
 
Menurutnya, generasi milenial NU garus harus bisa membuat gerakan yang mana gerakan itu bisa menginisiasi semua orang. “Yakni gerakan yang tidak hanya menggerakkan warga NU saja, tapi gerakan yang bisa menggerakkan seluruh warga Indonesia,” jelasnya.
 
Pria yang menjabat sebagai Chief Executive Officer (CEO) TV9 Nusantara ini mengatakan bahwa dalam mewujudkan hal itu, generasi milenial NU harus bisa mewujudkan persatuan dan kolaborasi antar organ yang ada di NU.
 
Showu sufufakum, fainna fissufuwi tamamil harokah. Rapatkanlah barisanmu, sesungguhnya di dalam rapatnya barisan itu adalah kesempurnaan suatu pergerakan,” ujarnya.
 
“Jadi, marilah kita bekerjasama untuk kemajuan NU. Sebagaimana maksud tali yang ada di dalam logo NU yang maksudnya adalah persatuan. Karena jika NU bersatu, maka akan sulit untuk dikalahkan,” imbuhnya.
 
Dikatakan, perkembangan teknologi yang terjadi saat ini, khususnya di bidang internet juga harus bisa dimanfaatkan oleh generasi milenial NU. Menurut pria yang merupakan alumni Universitas Indonesia (UI) ini mengharapkan semua warga NU bisa mengikuti perkembangan ini sehingga bisa memanfaatkan situasi yang ada. 
 
“Anda bisa melihat hari ini bahwa media internet sudah menjadi media kita semua. Sekarang semua urusan berurusan dengan internet. Mulai bidang media, bisnis, transportasi, dan masih banyak lagi lainnya,” tukasnya.
 
“Internet membuat peta persaingan bisnis berubah. Jika tidak mengubah strategi bisnisnya, mereka akan bertekuk lutut,” tambahnya.
 
Islam yang asalnya menjadi inspirasi. Akan tetapi, sekarang ini telah dikecilkan oleh segelintir kelompok dan telah berubah menjadi sebatas identitas belaka. Akhirnya banyak fenomena yang sering disebut dengan hijrah, namun salah kaprah.
 
“Hijrah saat ini merupakan politik identitas yang dipakai sebagai mobilisasi suatu gerakan tertentu. Dan mobilisasi itu diatasnamakan agama untuk tujuan tertentu,” bebernya.
 
Hakim berpesan kepada para peserta kegiatan yang berlangsung pada Jumat (6/9) hingga Ahad (8/9) di gedung PWNU Jawa Timur ini untuk senantiasa bersikap hormat dan berkhidmat. Sebab keduanya bisa memberikan manfaat kepada siapapun yang melaksanakannya.
 
Bil hurmati intafa’u. Wa bil khidmati, irtafa’u. Dengan bersikap hormat, kita akan bermanfaat. Dengan berkhidmah, kita akan meningkat,” pungkasnya.
 
Kontributor: Ahmad Hanan
Editor: Muiz
Sabtu 7 September 2019 19:0 WIB
Rais NU Jember: Jadi Pengurus NU Harus Didasari Keikhlasan
Rais NU Jember: Jadi Pengurus NU Harus Didasari Keikhlasan
Rapat PCNU Jember pembentukan lembaga
Jember, NU Online 
Menjadi pengurus NU memang gampang-gampang susah. Gampang karena untuk menjadi pengurus NU tidak sulit. Tidak melalui proses yang ruwet. Susah karena untuk bekerja tidak sesederhana yang dibayangkan. 
 
Demikian diungkapkan Rais Syuriyah PCNU Jember, KH Muhyiddin Abdusshomad saat menyampaikan pengarahan dalam Rapat Pembentukan Kepengurusan Lembaga NU di aula PCNU Jember, Sabtu (6/9).
 
Menurut Kiai Muihyiddin, yang terpenting adalah tanamkan niat dalam hati bahwa menjadi pengurus NU adalah untuk meneruskan perjuangan para ulama, sehingga terasa ringan dalam bekerja namun tetap semangat.
 
“NU ini kan warisan para ulama, seperti KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbulllah, KH As’ad Syamsul Arifin, dan sebagainya. Jadi kita di NU untuk membantu meneruskan perjuangan mereka,” ucapnya.
 
Ia menegaskan, ketika para pengurus NU sudah memantapkan hati untuk  berkhidmah di NU, maka nawaitu untuk mengabdi dengan ikhlas harus didahulukan. 
 
Dikatakan, tugas pengurus NU sesungguhnya cukup banyak. Masyarakat butuh pendampingan dan pelayanan NU di berbagai bidang. Karena itu, butuh semangat dan kebersamaan untuk melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepada pengurus NU.
 
“Semuanya  harus dipikul bersama agar tidak terasa berat. Kalau sendiri-sendiri berat,” ungkapnya.
 
Ia berharap agar semangat untuk mengabdi di NU harus terus menggelora di jiwa para pengurus NU. Sebab tugas-tugas di NU itu sifatnya sukarela. Artinya tidak ada paksaan. Tidak ada sanksinya jika tidak dilaksanakan. Tapi kalau  punya semangat, maka semuanya terasa indah.
 
“Semangat itu adalah semangat mengabdi untuk kejayaan NU. Dan dari situ timbul untuk bekerja, memberikan pelayanan bagi  masyarakat. Inilah ladang pengabdian kita, dan nanti kita petik hasilnya di akhirat,” jelasnya.
 
Kiai Muhyiddin menegaskan, dewasa ini begitu banyak persoalan di masyarakat yang membutuhkan keterlibatan NU. Dari sisi akidah, masyarakat sudah lama disusupi ajaran-ajaran yang menyimpang. Para penyebar ajaran itu mempunyai semangat yang militan, bergerak ke sana ke mari tanpa kenal lelah meski sering ditolak oleh masyarakat. 
 
Dari sisi sosial, masyarakat juga mengalami persoalan keterbelakangan ekonomi dan pendidikan, banyak pengangguran, dan  sebagainya. “Itu semua beban sosial yang harus kita bantu mencari jalan keluarnya,” pungkasnya.
 
Pewarta: Aryudi AR 
Editor: Muiz
Sabtu 7 September 2019 17:30 WIB
Festival Gurun Sahara untuk Bentuk Karakter Siswa
Festival Gurun Sahara untuk Bentuk Karakter Siswa
Punakawan dalam festival gurun sahara, MAN 1 Kota Pekalongan, Jateng
Pekalongan, NU Online
Festival Gurun Sahara yang dihelat Madrasah Aliyah Negeri (MAN ) 1 Kota Pekalongan, Jawa Tengah merupakan festival untuk pertama kalinya  dilaksanakan tahun ini berbarengan dengan peringatan tahun baru Islam 1441 hijriyah.  
 
Kepala MAN 1 Kota Pekalongan H Ahmad Najid mengatakan, Festival Gurun Sahara dihelat dalam rangka menyambut 1 Muharram 1441 H. Dan ini merupakan momen yang tepat untuk menggali potensi peserta didik selama siswa belajar berbahasa Arab, sekaligus mengasah anak untuk tampil dan menunjukkan potensi yang dimiliki. 
 
“Pembentukan karakter itu sangat penting bagi peserta didik. Karena dengan itu peserta didik akan mempunyai jati diri, dan tentunya mempunyai akhlakul karimah dan sikap tawadlu kepada siapapun khususnya guru,” ungkapnya pada pembukaan festival, Rabu (4/9) malam. 
 
Dikatakan, dalam festival tahun ini ada beberapa kegiatan yang dilaksanakan, yakni lomba Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ), lomba pidato, lomba melukis,  dan pertunjukan seni berbahasa Arab.
 
“Peserta tak hanya ikut arus hijrah yang sedang tren sekarang ini. Hijrah boleh tetapi semangat hijrah itu untuk perubahan yang lebih dengan meningkatkan takwa, peningkatan inovasi, kreasi, dan prestasi yang tentunya tetap dilandasi akhlakul karimah,” ujarnya.
 
Menurut Najid, program ‘Festival Gurun Sahara’ sangatlah penting dan dibutuhkan. Karena selama ini peserta didik belajar Bahasa Arab perlu ada wadah untuk menampung kemampuan mereka. “Nah, inilah wadah yang tepat,” tegasnya.
 
Ia juga mengingatkan kepada peserta didik, walaupun kita belajar bahasa Arab tetapi tidak semua yang kita lakukan harus kearab-araban. "Kita harus punya jati diri. Kita harus bangga dan bersyukur sebagai bangsa Indonesia yang dikaruniai bangsa yang mempunyai berbagai budaya dan bahasa yang Beragam,” ungkap Najid. 
 
Wakil Kepala Bidang Kesiswaan Najibul Mahbub kepada NU Online, Sabtu (7/9) mengatakan, kegiatan yang dilaksanakan sehari penuh di komplek MAN 1 Kota Pekalongan sangat diminati oleh peserta didik. 
 
“Beberapa penampilan yang diusung oleh beberapa kelas mampu memukau penonton. Ada musikalisasi puisi dari kelas XII Agama, Baca Puisi, Pidato Bahasa Arab,  Vokal Group, sampai dengan Pementasan Fir'aun dan Punakawan pun hadir dalam pementasan tersebut," paparnya. 
 
Tak hanya itu lanjutnya, beberapa cabang lomba dilaksanakan secara terpisah di beberapa tempat diikuti oleh seluruh perwakilan kelas.  Festival yang digagas oleh guru-guru MAN 1 ini mendapatkan respons dan suport yang positif dari civitas MAN 1 Kota Pekalongan. 
 
“Semoga tahun depan kegiatan ini bisa dilaksanakan lagi,” pungkas penggagas kegiatan Hj Rufaiyah dan Nida.

Pewarta: Muiz
Editor:  Musthofa Asrori
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG