IMG-LOGO
Daerah

Lewat Formasi, Madrasah NU Ini Tingkatkan Silaturahim

Ahad 8 September 2019 2:0 WIB
Bagikan:
Lewat Formasi, Madrasah NU Ini Tingkatkan Silaturahim
Penampilan peserta didik MINU KH Mukmin Sidoarjo pada acara Formasi. (Foto: NU Online/Moh Kholidun)
Sidoarjo, NU Online
Setiap orang tua selalu mendambakan putra-putrinya menjadi shalih dan shalihah, sukses dan mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Hal itu bisa dilakukan dengan banyak hal.
 
Di Sidoarjo, Jawa Timur, Forum Komunikasi Wali Siswa (Formasi) Madrasah Ibtidaiyah Nahdlatul Ulama (MINU) KH Mukmin Sidoarjo, mengadakan kegiatan doa bersama dan istighotsah, di halaman madrasah setempat, Sabtu (7/9).
 
“Selain untuk mendoakan anak-anak agar diberikan kemudahan dalam proses belajar mengajar, kegiatan ini juga bertujuan untuk mendoakan para pendahulu NU, wali siswa dan bapak ibu guru,” kata Anita Kuswahyuni. 
 
Kegiatan ini rutin diadakan setiap tiga bulan sekali, menjelang Penilaian Tengah Semester (PTS) dan Penilaian Akhir Semester (PAS).
 
"Pertama, tujuannya adalah untuk mendoakan anak-anak, supaya dalam proses belajar mendapatkan ilmu yang berkah, manfaat dunia akhirat, berprestasi. Serta masing-masing wali siswa, guru-guru, ulama pendahulu dari NU dan ibu-ibunya juga mendapatkan ilmu," kata Ketua Formasi tersebut kepada NU Online.
 
Menurutnya, kegiatan ini juga bertujuan untuk menjalin silaturahim antarwali siswa, yang setiap hari tidak pernah ketemu. Pihaknya berharap, melalui doa bersama dan istighotsah ini, para putra-putri mampu meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
 
"Semoga kita semua secara bersama-sama semakin meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Semakin termotifasi dengan apa yang didapatkan di sekolah, sehingga bisa diteruskan di rumah masing-masing untuk senantiasa mendoakan putra-putrinya," ujar Anita.
 
Sementara itu, Nurul Hamamah mengapresiasi kegiatan yang digagas oleh Formasi ini. Pasalnya, orang tua bisa terlibat langsung untuk memberikan pendampingan kepada anak-anaknya, serta dapat menjalin komunikasi dengan pihak sekolah.
 
"Agar komunikasi antarsekolah dengan wali murid terjalin dengan baik dan tidak ada miss komunikasi. Sekolah tidak akan bisa berjalan dengan baik jika tidak ada dukungan dari wali siswa, baik dalam pembelajaran ataupun lainnya," kata Kepala MINU KH Mukmin tersebut.
 
Dirinya menjelaskan, Formasi merupakan bentukan dari komite sejak 2008 silam. Dengan dibentukanya forum ini, program orang tua siswa maupun madrasah bisa berjalan baik.
 
"Sejak berdirinya forum wali siswa, banyak kegiatan yang dilakukan. Terutama istighotsah yang dilaksanakan setiap tiga bulan sekali,” jelasnya. 
 
Seiiring berjalannya waktu, akhirnya tercetus untuk mengadakan ngaji rutin yang dilaksanakan setiap Kamis siang dan Jumat pagi untuk wali siswa. 
 
“Mereka belajar membaca Al-Qur'an dan mengaji ilmu fiqih yang disampaikan oleh perwakilan guru MINU KH Mukmin," urainya.
 
Dengan adanya program yang sudah dijalankan wali siswa, mampu meningkatkan kualitas pendidikan maupun agama. Karena wali siswa bersentuhan langsung dalam mendampingi putra putrinya belajar, seperti mengaji Al-Qur’an. 
 
“Yang mana setiap harinya orang tua belum bisa mendampingi mengaji di rumah setelah maghrib, akan tetapi dengan program yang sudah berjalan ini, semuanya dapat berlangsung dengan baik,” tandasnya.
 
Istighotsah dan doa bersama tidak hanya dilakukan jelang ujian, tapi juga dilakukan untuk mendoakan siswa, keluarga, kemajuan dan keberkahan pendidikan yang ada di MINU KH Mukmin.
 
"Sesuai program yang ada, tidak hanya dilakukan ketika PTS dan PAS, kami juga melakukan kerja kelompok guru atau KKG, memberikan pembinaan, pelatihan kepada bapak ibu guru,” katanya. 
 
Hal ini tidak lain untuk meningkatkan mutu guru dan kemandiriannya. Sehingga kinerja dan keiinginan guru untuk memberikan pendidikan kepada anak-anak, para guru yang berlandaskan Aswaja dapat tercapai.
 
Dari pantauan media ini di lokasi, ratusan orang tua siswa dengan khusu dan khidmat membaca istighotsah dan doa bersama.
 
Acara ini juga dimeriahkan menampilkan beragam kreatifitas anak-anak seperti paduan suara, al-banjari, istighotsah, doa bersama serta ceramah agama yang disampaikan Ustadzah Chasibatun Ni'mah dari Sidoarjo, atau yang biasa dikenal Bu Nyai Cecep. 
 
 
Pewarta: Moh Kholidun
Editor: Ibnu Nawawi
Bagikan:

Baca Juga

Ahad 8 September 2019 23:0 WIB
Ketika Bola Menyatukan Kiai, Santri, dan Masyarakat Umum
Ketika Bola Menyatukan Kiai, Santri, dan Masyarakat Umum
Dewan Pembina Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (YLPI) Buntet Pesantren KH Amiruddin Abkari saat menendang bola di Lapangan Blodog Berdebu, Buntet Pesantren, Cirebon, Jawa Barat, Sabtu (7/9). (Buntet Pesantren/Mahdi)
Cirebon, NU Online
Sepak bola bukan sesuatu yang asing bagi segenap masyarakat pesantren. Di beberapa pesantren di Cirebon, Jawa Barat, para santri biasa memainkannya saban Jumat ketika pengajian tengah libur. Mereka beradu memperebutkan dan memasukkan benda bundar itu ke gawang lawan.
 
Namun, bukan hanya santri saja yang menggemari permainan tersebut. Para kiai juga punya ketertarikan yang sama pada olahraga itu.
 
Hal tersebut terbukti ketika para kiai di Pondok Buntet Pesantrenberkumpul di Lapangan Sepak Bola Blodog Berdebu pada Sabtu (7/9) sore. Mereka bermain melawan tim dari kelompok masyarakat umum yang terdiri dari tukang becak, pedagang, pegawai, guru, dan sebagainya. Keragaman profesi itu menjadikannya disebut sebagai tim gado-gado.
 
Para kiai tersebut mengenakan kaos seragam abu-abu bertuliskan 'Reunion Football Team' di bagian dadanya. Sebagian dari mereka juga mengenakan peci, ada pula yang memakai topi karena silau dengan mentari yang masih terik. Beberapa di antaranya lagi membebaskan kepalanya dari penutup. Tetapi semuanya bercelana panjang. Sementara itu, tim gado-gado mengenakan seragam warna merah dengan tulisan dada yang sama.
 
Demi memeriahkan kegiatan itu, para nyai, istri kiai, juga turut hadir di pinggir lapangan bersama putra-putri dan santri-santri. Mereka menggelar tikar untuk duduk memberikan semangat dan juga tempat istirahat ketika para kiai kelelahan.
 
Acara tersebut semakin meriah dengan teriakan para santri. Bukan yel-yel yang biasa digaungkan oleh para penggemar klub di stadion-stadion sepak bola, tetapi mereka menyuarakan nazaman Alfiyah ibn Malik guna mengobarkan semangat para kiainya itu.
 
Berkat dukungan ibu-ibu nyai dan santri-santri, para kiai itu berhasil mengalahkan tim lawan dengan skor 4-2.
 
Adapun para kiai yang mengikuti kegiatan tersebut antara lain Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sekaligus Ketua Umum Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (YLPI) Buntet Pesantren KH Adib Rofiuddin Izza, KH Amiruddin Abkari, KH Mufid Dahlan, KH Aris Ni’matullah, KH Mustahdi Abdullah Abbas, KH Muhammad Abdullah Abbas, KH Imron Rosyadi, KH Iwan Sofyan Ibadi, KH Anas Asaz, KH Agus Nasrullah, dan KH Edi Khumaedi.
 
Kegiatan yang diinisiasi oleh masyarakat muda Buntet Pesantren itu merupakan puncak dari rangkaian turnamen sepakbola antarpondok di Buntet Pesantren dalam rangka menyambut Hari Kemerdekaan ke-74 Republik Indonesia.
 
Pewarta : Syakir NF
Editor : Kendi Setiawan
Ahad 8 September 2019 22:30 WIB
Ansor Diminta Usulkan Sultan Agung Jadi Nama Bandara Baru DIY
Ansor Diminta Usulkan Sultan Agung Jadi Nama Bandara Baru DIY
jajaran PC Ansor Purworejo, Jateng
Purworejo, NU Online
Wakil Rais Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah KH Achmad Chalwani Nawawi meminta GP Ansor untuk mengusulkan nama Sultan Agung Hanyokrokusumo diabadikan menjadi nama Bandara Baru Yogyakarta.  
 
Permintaan itu disampaikan dalam diskusi interaktif 'Membaca dan Meneladani Pahlawan Nasional Pangeran Diponegoro Bendoro Raden Mas Ontowiryo: Kepemimpinan dan Religiusitasnya dalam Perjuangan Perang Jawa', Sabtu (7/9) malam di Masjid Santren, Bagelen Purworejo.
 
“Saya sering bilang pada teman-teman Yogya, cobalah untuk usul ke Ngarso Dalem bandaranya itu dinamai Sultan Agung, biar tidak kepaten obor (kehilangan jejak sejarah, red),” ungkap Kiai Chalwani, di depan puluhan Pengurus PAC dan PC GP Ansor Kabupaten Purworejo.
 
“Kalau namanya Yogyakarta Internastional Airport (YIA) ya nggak jelek, tapi kan nggak ada nilai sejarahnya itu,” imbuhnya.
 
Lebih lanjut, Mursyid Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah itu mengungkapkan bahwa di Jawa ini belum ada bandara yang namanya sultan.
 
“Di Kalimantan sudah ada, di Sumatera sudah ada, di Ternate sudah ada, tapi Jawa belum ada. Apa salahnya (nama) Sultan Agung? orang yang lain pakai nama pahlawan semua. Semarang Ahmad Yani, Solo Adisumarmo, Surabaya Juanda, Bandung Husein Sastranegara. Apa salahnya (kalau Yogya memakai nama) Sultan Agung? Kalau perlu cabang Ansor se-Indonesia kompak, syukur-syukur PBNU, mau mengirim surat kepada Sultan, usul agar nama bandara diganti Sultan Agung Hanyokrokusumo. Biar anak cucu kita tidak kehilangan jejak sejarah,” pintanya.
 
Menurut Pengasuh Pesantren An-Nawawi Berjan Purworejo ini, nama Sultan Agung Hanyokrokusumo tepat dijadikan nama bandara. Jasa-jasa dan tinggalan Sultan Besar Mataram Islam itu, masih dirasakan oleh masyarakat sampai kini.
 
“Nama-nama Bulan Jawa (Kalender Islam-Jawa, red) ini kan yang memberi Sultan Agung. Sudah tahu kita dan itu diambil dari Al-Qur'an semua. Termasuk nama-nama hari. Hari itu kan dari Qur'an. Dulu kan Belanda mengganti Ahad jadi Minggu, ketahuan Sultan Agung. Minggu itu dari pendeta: Santo Dominggus. Maka Ansor kalau bikin surat jangan Minggu Kliwon, tapi Ahad Kliwon,” jelasnya.
 
Selain Kiai Chalwani, hadir sebagai narasumber dalam diskusi interaktif ini adalah Ki Roni Sodewo, Ketua Patra Padi (Paguyuban Trah Pangeran Diponegoro) dari Wates Kulonprogo DIY, dan Ki Sudarto (Budayawan, Sastrawan dan Dalang ) dan Loano Purworejo.
 
Ketua Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Purworejo HM Haekal kepada NU Online menjelaskan, diskusi interaktif ini merupakan rangkaian acara yang digelar menjelang konferensi cabang. Tujuannya adalah mengangkat sejarah dan kearifan lokal. 
 
“Kita ingin semangat nasionalisme dan spiritualisme Pangeran Diponegoro menjadi nilai-nilai yang dipegang segenap kader Ansor khususnya dan generasi muda pada umumnya. Dan Bagelen serta Purworejo ini juga terkait erat hubungannya dengan perjuangan Sang Pangeran,” tandas Haekal.
 
Kontributor: Ahmad Naufa
Editor: Muiz
Ahad 8 September 2019 17:0 WIB
Kenangan Romo Kepala Gereja Katolik akan Sosok Gus Dur
Kenangan Romo Kepala Gereja Katolik akan Sosok Gus Dur
KH Abdurrahman Wahid. (Foto: NU Online)
Surabaya, NU Online
KH Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur merupakan Presiden Indonesia keempat yang juga mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Sosok Gus Dur dilahirkan pada 7 September 1940 dan wafat pada 30 Desember 2009. Kelahirannya banyak diperingati di sejumlah kawasan sebagai bukti kecintaan dan kerinduan akan sosok dan kiprahnya. 
 
Sebagai sosok yang dikenal sebagai bapak pluralitas Indonesia, Gus Dur juga dirindukan oleh penganut agama lain, termasuk Katolik. Bahkan Romo Fransiscus Hardi Aswinarno, mengaku Gus Dur adalah tokoh yang sangat inspiratif.
 
“Gus Dur itu orangnya sangat bijaksana, dia orang yang mengagumkan. Meskipun menjabat sebagai presiden, bukan militeristik,” kata Romo Kepala di Gereja Katolik Paroki Surabaya ini, Ahad (8/9).
 
Pernyataan dari Romo Kepala Geraja itu bukan tanpa fakta. Pasalnya, hanya satu presiden yang pernah berkunjung ke gerejanya tersebut hingga saat ini, yakni ketika Gus Dur masih menjabat sebagai presiden.
 
“Hanya Gus Dur yang ke sini. Jadi setelah Gus Dur itu meresmikan masjid sebelah (masjid nasional Al-Akbar Surabaya, red), dia langsung ke sini untuk meresmikan gereja ini di hari yang sama,” kenangnya.
 
Tidak hanya itu, hubungan Gus Dur dengan umat Katolik juga dibuktikan dengan pengangkatan Romo Eko Budi Susilo yang nota bene merupakan Wakil Uskup di Indonesia sebagai anggota dari keluarganya.
 
“Jadi, Gus Dur itu orangnya memang benar-benar orang ramah, pluralismenya tidak perlu diragukan lagi, ini wakil uskup kami sudah diangkat sebagai keluarga. Kami kagum kepadanya dan kami sangat merindukannya,” ungkap kepala gereja berdarah Jawa tersebut.
 
Lebih dari itu, ia menganggap bahwa Nahdlatul Ulama (NU) dan Katolik merupakan wadah agama yang sama-sama menekankan toleransi terhadap para pengikut. Pasalnya Indonesia merupakan negara majemuk yang terdiri dari banyak suku dan agama.
 
“Kami umat Katolik dengan NU kalau berbicara soal nusantara, sama. Kami adalah saudara sesama manusia, dan kami sama-sama tidak menyukai kekerasan. Kami cinta damai sama dengan NU dengan Islam Nusantaranya,” paparnya.
 
Kerinduannya terhadap sosok Gus Dur sampai saat ini terus tertanam dengan merindukan pemimpin Indonesia bisa mewarisi semangatnya dalam berbangsa dan beragama, utamanya dalam segi pluralisme.
 
“Rindu sosok seperti Gus Dur sebagai presiden, tentunya ada. Dan semangat perjuangannya sudah tertanam dalam diri anak-anaknya,” tandasnya.
 
 
Pewarta: Ali Ya’lu
Editor: Ibnu Nawawi
 
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG