Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Ansor Diminta Usulkan Sultan Agung Jadi Nama Bandara Baru DIY

Ansor Diminta Usulkan Sultan Agung Jadi Nama Bandara Baru DIY
jajaran PC Ansor Purworejo, Jateng
jajaran PC Ansor Purworejo, Jateng
Purworejo, NU Online
Wakil Rais Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah KH Achmad Chalwani Nawawi meminta GP Ansor untuk mengusulkan nama Sultan Agung Hanyokrokusumo diabadikan menjadi nama Bandara Baru Yogyakarta.  
 
Permintaan itu disampaikan dalam diskusi interaktif 'Membaca dan Meneladani Pahlawan Nasional Pangeran Diponegoro Bendoro Raden Mas Ontowiryo: Kepemimpinan dan Religiusitasnya dalam Perjuangan Perang Jawa', Sabtu (7/9) malam di Masjid Santren, Bagelen Purworejo.
 
“Saya sering bilang pada teman-teman Yogya, cobalah untuk usul ke Ngarso Dalem bandaranya itu dinamai Sultan Agung, biar tidak kepaten obor (kehilangan jejak sejarah, red),” ungkap Kiai Chalwani, di depan puluhan Pengurus PAC dan PC GP Ansor Kabupaten Purworejo.
 
“Kalau namanya Yogyakarta Internastional Airport (YIA) ya nggak jelek, tapi kan nggak ada nilai sejarahnya itu,” imbuhnya.
 
Lebih lanjut, Mursyid Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah itu mengungkapkan bahwa di Jawa ini belum ada bandara yang namanya sultan.
 
“Di Kalimantan sudah ada, di Sumatera sudah ada, di Ternate sudah ada, tapi Jawa belum ada. Apa salahnya (nama) Sultan Agung? orang yang lain pakai nama pahlawan semua. Semarang Ahmad Yani, Solo Adisumarmo, Surabaya Juanda, Bandung Husein Sastranegara. Apa salahnya (kalau Yogya memakai nama) Sultan Agung? Kalau perlu cabang Ansor se-Indonesia kompak, syukur-syukur PBNU, mau mengirim surat kepada Sultan, usul agar nama bandara diganti Sultan Agung Hanyokrokusumo. Biar anak cucu kita tidak kehilangan jejak sejarah,” pintanya.
 
Menurut Pengasuh Pesantren An-Nawawi Berjan Purworejo ini, nama Sultan Agung Hanyokrokusumo tepat dijadikan nama bandara. Jasa-jasa dan tinggalan Sultan Besar Mataram Islam itu, masih dirasakan oleh masyarakat sampai kini.
 
“Nama-nama Bulan Jawa (Kalender Islam-Jawa, red) ini kan yang memberi Sultan Agung. Sudah tahu kita dan itu diambil dari Al-Qur'an semua. Termasuk nama-nama hari. Hari itu kan dari Qur'an. Dulu kan Belanda mengganti Ahad jadi Minggu, ketahuan Sultan Agung. Minggu itu dari pendeta: Santo Dominggus. Maka Ansor kalau bikin surat jangan Minggu Kliwon, tapi Ahad Kliwon,” jelasnya.
 
Selain Kiai Chalwani, hadir sebagai narasumber dalam diskusi interaktif ini adalah Ki Roni Sodewo, Ketua Patra Padi (Paguyuban Trah Pangeran Diponegoro) dari Wates Kulonprogo DIY, dan Ki Sudarto (Budayawan, Sastrawan dan Dalang ) dan Loano Purworejo.
 
Ketua Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Purworejo HM Haekal kepada NU Online menjelaskan, diskusi interaktif ini merupakan rangkaian acara yang digelar menjelang konferensi cabang. Tujuannya adalah mengangkat sejarah dan kearifan lokal. 
 
“Kita ingin semangat nasionalisme dan spiritualisme Pangeran Diponegoro menjadi nilai-nilai yang dipegang segenap kader Ansor khususnya dan generasi muda pada umumnya. Dan Bagelen serta Purworejo ini juga terkait erat hubungannya dengan perjuangan Sang Pangeran,” tandas Haekal.
 
Kontributor: Ahmad Naufa
Editor: Muiz
BNI Mobile